03 Mei 2018

Idola

IDOLA. Eike agak kesulitan mencari cara tepat menuliskan perbedaan idola dan kebenaran. Mengingat belakangan, idola dan kebenaran dianggap identik. Bahkan dalam politik, idola dilihat sebagai representasi kebenaran itu sendiri.

Padahal idola kadang mengecoh. Ia bahkan tidak pernah bermakna apa-apa selain empity: kekosongan.

Dalam ilmu sosial (sosiologi), ada teori dramaturgi yang diperkenalkan Erving Goffman. Teorinya membilangkan setiap manusia menarasikan dirinya berdasarkan peran yang ingin ia bangun di atas panggung. Dunia sosial adalah panggung dunia peran. Begitu pendakuan Goffman.

Sayangnya, manusia memiliki sisi yang sering ia sembunyikan di belakang panggung. Di atas panggung barangkali ia memainkan peran protagonis, tapi sebaliknya berbeda ketika di belakang panggung. Ia menjadi mahluk yang sama sekali berbeda dari perannya di atas panggung.

Idola adalah peran yang disesuaikan di atas panggung. Ia disusun, dibentuk dan direkayasa. Di hadapan sorot mata orang-orang, idola adalah persona yang mengidealkan ekspektasi orang banyak. Ia kasatnya sedang bermain peran sesuai harapan orang-orang yang melihatnya.

Ketika dibelah, dunia interaksi manusia ditopang melalui dua panggung peran. Pertama, Erving Goffman menyebutnya front stage; ia adalah sisi depan panggung. Ruang pertunjukkan yang disaksikan banyak orang. Di front stage inilah, setiap idola bermain peran. Ibarat teater; sang idola mempermainkan karakter ciptaan sebagai image. Kedua adalah back stage: ini adalah sisi panggung yang tersembunyi dari pantauan orang-orang. Di sisi inilah, peran berhenti dimainkan. Sang idola kembali kepada karakter dasarnya.

Akibat panggung depan dan panggung belakang sama sekali berbeda, maka ia sesungguhnya merepresentasikan dua sosok yang juga berbeda. Ia menampilkan dan menyembunyikan dua sosok sekaligus di atas panggung. Di atas panggung sang sosok menampilkan “aku ideal” sekaligus menyembunyikan “aku real” bersama-sama. Sementara di belakang panggung “aku real” menunda “aku ideal” yang banyak berperan di atas panggung.

Dua panggung ini dengan kata lain adalah medan kontradiktif yang menunda sekaligus mengacaukan peran sesungguhnya “aku ideal” dan “aku real”. Saling bertukarnya dua peran ini pada akhirnya mengacaukan juga siapa yang sebenarnya menjadi image sesungguhnya.

Itulah sebabnya kamus Meriram-Webster’s menguraikan sembilan makna idola sebagai representative or symbol of an object of worship (perwujudan atau simbol dari sebuah objek peribadatan). False god (tuhan palsu), a likeness of something (sesuatu yang menyerupai), retender (orang yang suka berpura-pura), impostor (penipu yang lihai), a form or appereance visible but without substance (bentuk atau penampilan yang terlihat namun tak bermateri), an enchanted phantom (momok, hantu, setan yang memesonakan), an object of extreme devotion (obyek yang sangat digemari), ideal (idaman), a false conception (konsep yang salah), fallacy (pikiran yang keliru).

Asal usul kata idola berasal dari bahasa Yunani eidolon yang berarti “image” atau “form”. Dalam filsafat Yunani, filsuf yang memandang rendah “image” adalah Platon. Dia menganggap, filsafat harus menangkap “isi” bukan “image”. Kebenaran hakiki dalam hal ini menurut Platon bukanlah “citra” atau “penampakan” benda-benda melainkan “substansi” benda itu sendiri.

Itulah sebabnya, di masa Platon hidup, dirinya memandang sinis pekerjaan seorang seniman. Seorang seniman, menurut Platon hanyalah orang-orang yang mempertunjukkan “image”, “citra” dan “bentu-bentuk” di atas panggung. Teater mereka hanyalah “menduplikasi” substansi dari segala sesuatu.

Alkisah, di masa hidup Nabi Musa, pengikutnya pernah “dikritik” Al Quran akibat menciptakan tuhan palsu berupa lembu emas. Kala itu, ketika Musa pergi selama 30 hari, seseorang bernama Samiri menciptakan patung lembu untuk mengembalikan keyakinan umat Musa kepada keyakinan sebelumnya. Singkat cerita tidak sedikit yang teperdaya ajakan Samiri untuk menyembah patung buatannya.

Konsep idola jika ditelusuri asal usulnya, ditemukan dari kisah umat Nabi Musa di atas. Di kisah itu, Tuhan direplika Samiri melalui patung lembu emas. Bahkan tidak sekedar direplika, lembu emas justru menjadi Tuhan itu sendiri. Momen ini juga diabadikan Al Quran untuk menarasikan suatu pengertian yang kelak disebut idolatry.

Idolatry dalam kisah Nabi Musa adalah pembendaan tuhan melalui pencitraan lembu emas. Tuhan diidentikan menjadi lembu emas. Pemujaan terhadapnya disebut pemberhalaan. Era kiwari, idolatry tidak sekedar memuja benda-benda, melainkan sosok minus pokok. Sosok tanpa pokok itulah yang disebut idola.

Dengan kata lain, ia adalah empity: kekosongan.

Tapi, sayangnya sudah dibilang sebelumnya, dunia sosial adalah dunia peran. Idola yang hari ini tampak di panggung-panggung hanyalah “bentuk-bentuk”, “citra-citra” semata. Dia bukanlah wakil absah dari suatu keyakinan. Ia, sekali lagi hanyalah kekosongan.

Lalu bagaimanakah keyakinan dapat dibuktikan keabsahannya sebagai suatu prinsip kebenaran? Dalam kitab Raudhah Al-Wa’idhin Imam Ali bin Abi Thalib menyeru: “Kebenaran tak dikenal dari orangnya (pelakunya). Kenalilah kebenaran maka kau akan mengenal pelakunya.”


12 April 2018

Ideologi

IDEOLOGI. Dua unsur penting ideologi: edios dan logos. Unsur pertama dari edios mengandaikan terbangunnya tatanan ide, gagasan, konsep pemikiran, atau sekumpulan cita-cita yang menjadi dasar harapan dari sekumpulan atau sekelompok masyarakat.

Sementara logos ditandai dari artinya sebagai kata atau ilmu yang secara sistematis menjadi basis rasional dari edios yang berfungsi sebagai sistem pengetahuannya.

Ideologi yang hanya menitikberatkan kepada unsur edios semata akan menjadi cita-cita utopis. Atau mungkin sekadar menjadi harapan kosong. Hanya sebatas angan-angan belaka.

Tanpa dasar logos, dia hanya menjadi sekumpulan visi tanpa realisasi. Cita-cita tanpa isi, bagai mimpi di siang bolong. Dia menggerakkan, tapi hanya sekadar bergerak.

Sebaliknya jika ia mengandalkan unsur logos saja, ia menjadi sains belaka. Ilmu an sich. Persis seperti kedudukan ilmu-ilmu positivistik yang tidak memiliki visi dan semangat. Dan mungkin saja gairah.

Ilmu tanpa edios, menjadi ilmu yang tak memiliki harapan, tanpa gelora dan cita-cita. Tanpa telos tertentu.

Malangnya, belakangan masyarakat banyak terkonfigurasi oleh ideologi-ideologi politik dan agama yang cacat. Ada ideologi yang hanya mengedepankan unsur edios, dan ada yang sebaliknya lebih mengedepankan unsur logos. Atau malah justru ada yang tanpa kedua-duanya.

Kelompok masyarakat yang mengonsumsi ideologi tanpa logos mudah diidentifikasi dari caranya mengampanyekan ide-idenya: janji-janji semata. Ibarat hidup di atas halimun, hanya mengandalkan surga-surga eskapisme. Jalan pelarian dengan mengandalkan imajinasi semata.

Sementara kelompok-kelompok kepentingan yang mengandalkan unsur logos semata hanya menjadi elit-elit masyarakat tanpa mampu mencium bau harapan-harapan terdalam masyarakatnya. Dia ibarat hidup di menara gading dengan kecanggihan ilmunya, tapi kaki-kakinya tidak pernah melangkah bersama di "tanah" sebenarnya.

Syahdan, ideologi tanpa logos akan menjadi penjual harapan-harapan semu. Hanya akan menjual doktrin-doktrin imajinasi yang membuat masyarakat ibarat katak yang hidup dalam tempurung.
Dan, jika tanpa edios, ideologi hanya menjadi pengetahuan minus inspirasi. Pengetahuan tanpa cita-cita dan tentu saja: cinta.

09 April 2018

Doxa


Platon adalah seorang filsuf dan matematikawan Yunani, penulis Philosophical Dialogues dan pendiri dari Akademi Platonik di Athena, sekolah tingkat tinggi pertama di dunia barat. Ia adalah murid Socrates. Pemikiran Platon pun banyak dipengaruhi oleh Socrates. Platon adalah guru dari Aristoteles.


DOXA. Doxa pertama kali diucapkan Platon dari antipodanya: episteme. Doxa dan episteme, bagi Platon dua kategori yang kontradiktif. Doxa, bagi Platon adalah jenis pengetahuan yang menyesatkan, atau opini yang tidak berbasis kebenaran. Sementara episteme, adalah tatanan ideal mengenai pengetahuan sejati. Bahkan, bagi Platon episteme adalah kebenaran itu sendiri.

Platon menarasikan doxa dan episteme melalui dua tatatanan dunia: intelligible world (dunia idea) dan visible world (dunia fisik). Melalui “pergerakan” jiwa manusia mampu mengakses tatanan intellegible world untuk menemukan pengetahuan sejati. Menurut Platon, jiwa sebelum disandera jasad, bebas bergerak di alam intelligible world. Menurut Platon, di alam visible world, jiwa mengalami keterbatasan akses akibat terbatasnya modalitas jasadiah ketika mengarahkan perhatiannya kepada alam dunia idea.

Bagi Platon, pengetahuan yang lahir dari dunia visible world bukanlah pengetahuan sesungguhnya tentang sesuatu. Ia hanyalah “replika” sesuatu yang berasal dari dunia intelligible world. Karena karakter ruang dan waktu dunia visible world, seluruh pengetahuan yang berasal dari sana hanyalah imitasi, semu, dan mudah lenyap.

Itulah sebabnya, untuk mengetahui sesuatu yang sesungguhnya manusia mesti membebaskan jiwa dari tatanan visible world. Platon menganjurkan perhatian manusia menuju tatanan intelligible world. Membebaskan jiwa dari doxa yang menjadi karakter visible world menuju episteme hakikat dari tatanan intelligible world.

Hanya di dalam intelligible world-lah pengetahuan sejati sebenarnya ditemukan.

Teori alegory of cave Platon adalah narasi yang paling banyak dirujuk untuk mengilustrasikan peran doxa dan episteme.

Manusia menurut Platon adalah mahluk yang terjebak alegori; pengetahuan yang masih samar-samar. Manusia bisa jatuh dan terjebak ke dalam “bayang-bayang” realitas jika dia tidak keluar melampaui “api” sebab bayang-bayang itu berasal. Manusia mesti membebaskan dirinya keluar dari mulut gua, menuju tepi batas dan merangkak naik menuju satu-satunya sumber segala cahaya di luar gua.

Doxa adalah bayang-bayang, pantulan api yang dikira pengetahuan yang benar. Sementara, episteme adalah sumber yang dilupakan dalam narasi “mahluk gua” Platon. Suatu sumber di mana perhatian mesti ditempatkan.

Kisah manusia gua Platon adalah kisah betapa jiwa manusia begitu rentan terperangkap alegori. Dia bisa jatuh dan mendera sakit akibat terjebak doxa. Atau sebaliknya, mengoptimalisasi jiwanya menuju episteme sebagai sumber kebenaran.

Teori alegory of cave Platon sebenarnya salah satu part dari teori pengetahuannya. Bagi Platon, sesungguhya jiwa manusia adalah manifes episteme. Dengan begitu dia menyimpan pengetahuan dalam dirinya semenjak asal. Namun, akibat jiwa mengalami “kejatuhan” ke dalam jasad. Seketika manusia kehilangan akses untuk mengetahui episteme segala sesuatu.

Melalui narasi inilah Platon sebenarnya mengingatkan, jalan pulang manusia menuju dunia sejati hanya mampu ditempuh melalui jalan pengetahuan. Kembalinya jiwa tidak seperti narasi yang dikembangkan agama-agama bahwa ia akan kembali dengan membawa amal-amalnya ke alam “pertanggung jawaban” akhirat. Bagi Platon, jiwa kembali hanya dengan satu syarat: episteme.

Dengan kata lain, dunia pasca kematian adalah dunia pengetahuan. Ia hanya bisa diakses dan ditempuh oleh satu-satunya modal yang dimiliki manusia: penalaran.

Itulah sebabnya, masih menurut Platon, bukan doxa, melainkan penalaran episteme, yang mampu mendudukkan kembali jiwa ke asalnya. Dunia pertama tempat jiwa-jiwa bercengkerama dengan hakikat ilmu-ilmu.

Malangnya, tidak semua jiwa manusia mampu menempuh dan mengakses dunia episteme. Bahkan ada jiwa-jiwa yang tak mampu kembali ke dunia episteme lantaran tidak memaksimalkan daya penalarannya. Akibatnya manusia justru bertungkuslumus di dalam doxa akibat sulit membedakan yang mana sebenarnya doxa dan yang mana sejatinya episteme. Dia akhirnya menjadi mahluk yang terjebak alegori, atau karena minimnya penalaran ia bahkan jatuh disekap doxa.

Doxa banyak mengalami transformasi di dalam pengalaman masyarakat modern. Iman agama yang sebelumnya dianggap doxa akibat bersandar kepada mistisme dan mitos mengalami pasang surut lantaran evolusi pemikiran manusia melalui momentum renaisance. Seketika seluruh artikulasi pengalaman manusia mesti diterjemahkan melalui pendekatan sains.

Dalam tinjauan sains, doxa adalah seperangkat pemahaman yang tidak memiliki bukti-bukti empiris. Dia opini yang berkembang tanpa melibatkan penyelidikan kritis. Atau keyakinan umum yang dipegang begitu saja tanpa diketahui sumber dan bagaimana dia mesti diyakini.

Diskursus marxian menyinonimkan doxa dengan false consciousness (kesadaran palsu). Kesadaran palsu dicurigai pemikir marxian sebagai “wacana” yang dikembangakan elit masyarakat borjuis untuk mengibuli masyarakat umum. Kesadaran palsu karena demikian dia bersifat ideologis.

Kesadaran palsu bekerja melalui dua modus pengalaman manusia: politik dan ekonomi. Melalui politik doxa berkembang menjadi ideologi. Sementara melalui interaksi ekonomi masyarakat, doxa berperan dalam membentuk pasar. Ideologi dan pasar adalah dua modus pengalaman yang berkembang dan membentuk struktur kapitalisme modern.

Itulah sebabnya, kapitalisme adalah produk pemikiran yang paling dicela pemikir marxisme. Hal ini karena secara politik kapitalisme menjadi sumber berkembangnya praktik-praktik penjarahan di muka bumi. Melalui modus pasar bebas, kapitalisme membelah masyarakat menjadi dua tatanan: proletar dan borjuis. Kapitalisme-lah satu-satunya ideologi yang sampai hari ini masih bertahan akibat mampu menyembunyikan praktik penindasan atas nama hak-hak asasi individu.

Belakangan, doxa berkembang pesat di dalam struktur masyarakat informasi. Doxa dalam era kiwari mudah dikenali dengan nama hoaks. Hoaks adalah pemahaman khas dari jaringan kompleks informasi media massa. Ciri utama hoaks adalah informasi yang tidak ditopang oleh dua syarat: bukti empiris dan analisis logis.

Bagi masyarakat yang belum melek literasi, dua syarat di atas belum menjadi syarat utama ketika mengonsumsi informasi. Hilangnya dua syarat di atas diakibatkan lumpuhnya modalitas utama manusia berupa penalaran logis yang dikendalikan dua arus utama: fundamentalisme agama (ekstrimisme agama) dan fundamentalisme pasar (kapitalisme).

Melalui fundamentalisme agama, tradisi pemikiran keagamaan menjadi tidak bermakna apa-apa selain berupa doktrin, dan melalui fundamentalisme pasar, kehidupan sosial ekonomi masyarakat hanya menjadi arena saling berebut keuntungan.

Lantas bagaimanakah fundamentalisme pasar dan fundamentalisme agama bisa menjadi langgeng?

Hoaks. Hanya lewat hoaks-lah jaringan kesadaran masyarakat dipertahankan sedemikian rupa demi mempertahankan relasi kekuasaan.

Itulah sebabnya, akhir-akhir ini hoaks berkembang pesat melalui dua modus utama (politik dan ekonomi) dengan memanfaatkan dua arus besar yang paling banyak bersentuhan langsung dengan masyarakat: agama dan pasar.

Syahdan, di masa sekarang ketika informasi menjadi salah satu variabel penting bagi interaksi masyarakat, hoaks banyak tersebar dan dikonsumsi masyarakat. Bahkan ia adalah doxa yang memerangkap pemahaman manusia menjadi pengetahuan palsu. Malangnya, doxa di era pasca-kebenaran banyak menyekap jiwa manusia dengan simbol-simbol agama sekalipun.

28 Maret 2018

Badaruddin Amir: Esai itu Tulisan yang Genit


Esai itu tulisan yang genit. Dia diibaratkan seseorang yang datang dan mencubit pipimu dan kemudian pergi. Begitulah esai di mata Badaruddin Amir. Pendakuan ini ia sampaikan saat menyampaikan materi dalam pelatihan menulis esai bagi Guru-Guru Bahasa se-Kabupaten Sidrap beberapa waktu lalu.

Badaruddin Amir seorang sastrawan Sulsel. Dia tangkas menghidupkan suasana forum. Sebelumnya, forum ibarat ruang tunggu yang sepi lantaran materi yang cenderung teoritis. Kaku. Dan mungkin membosankan.

Sebelum Pak Badar, begitu ia disapa, eike yang berkesempatan pertama kali memberikan materi. Begitulah, semenjak Pak Badar mendapatkan giliran, dengan pengalamannya yang segudang mengampu pelatihan-pelatihan menulis, forum berubah 180 derajat.

Sebenarnya slide-slide materi yang disampaikan Pak Badar tidak jauh berbeda dari apa yang sudah eike sampaikan. Tapi, dari cara penyampaian, dan beragamnya contoh pengalaman yang ia ajukan, membuatnya menjadi bintang forum. Ya, semenjak mengetahui akan dipanel dengan beliau, dari awal eike sudah memosisikan diri sebagai peserta kesekian yang kebetulan duduk di sebelah Pak Badar.

Kalau mau jujur, selama ini Badaruddin Amir tidak familiar di telinga eike. Ini bukan karena Pak Badar tidak tenar dalam dunia kesusastraan maupun literasi di Sulawesi Selatan, melainkan lingkaran pergaulan eike yang masih selebar daun kelor. Juga jelajah bacaan eike yang tidak meningkat-meningkat sehingga belum sempat membaca tulisan-tulisannya.

Nama Badaruddin Amir pertama kali eike temukan di dunia maya. Secara tidak sengaja eike melihat postingan cerpen beliau yang kebetulan nongol di beranda Fb. Karena merasa ganjil, kala itu eike memberanikan diri mengomentari beberapa kata dalam cerpennya. Tidak disangka komentar itu memancing pendiskusian yang lumayan panjang. Bahkan mengundang orang-orang dekat Pak Badar turut berkomentar.  Akibat saling kritik, eike mencoba mengintip-intip dinding Pak Badar. Setelah beberapa saat, rasa-rasanya beliau ini bukan orang biasa.

Tak disangka kami dipertemukan dalam kegiatan yang sama.

“Rival saya ini,” canda Pak Badar sambil menyalami eike ketika pertama kali bertemu. Sebelum forum dibuka kami sempat terlibat diskusi ringan. Pak Jamal selaku pihak yang mengundang heran. Dia mengira kami sama sekali belum saling mengetahui. Ternyata aksi “kritik-mengkritik” di Fb beberapa waktu lalu cukup berkesan bagi Pak Badar. Dia tidak semata-mata lupa dengan eike.

“Dulu di Pedoman Rakyat tradisi kritik diapresiasi. Saling kritik itu baik, yang penting tidak membawa personalitas di dalamnya” begitu seingat eike perkataan Pak Badar ketika kami duduk berdiskusi ringan. Dia juga menerangkan posisinya terkait “polemik” yang ditimbulkan Denny JA yang belakangan booming. Bahkan dia menilai usaha Denny JA dalam memperkenalkan  “puisi esai-nya” sudah tidak wajar.

“Di Sulawesi Selatan saya yang pertama kali dihubungi Denny JA untuk ikut mengapresiasi puisi esainya,” ucap Pak Badar di saat mengatakan penolakannya. “Dampak-dampaknya kelak berbahaya,” sambungnya.  Apa yang dikatakan Pak Badar ini jelas merujuk kepada upaya yang dilakukan Denny JA menghimpun sastrawan-sastrawan di seluruh daerah Tanah Air dengan memberikan bayaran sebanyak lima juta dengan catatan mau menulis puisi-esai dalam rangka ikut mempromosikannya.
Bahkan kalau tidak salah ingat, ia juga sempat mengatakan sudah menulis beberapa pandangannya tentang puisi-esai dalam esai yang diikutkan dalam kelompok penulis yang tidak sepakat dengan sepak terjang Denny JA.

Di siang itu forum berjalan lancar-lancar saja. Walaupun sebelumnya eike mesti bergegas dari Makassar semenjak Subuh agar sampai di lokasi kegiatan pukul 8 pagi. Langit yang tidak berubah cerah dan hujan yang awet ikut menemani selama perjalanan.

Apa boleh buat, keadaan tidak bisa dilawan sepenuhnya. Eike tiba pukul delapan lewat. Hampir pukul sembilan, bahkan.

Ketika naik ke lokasi kegiatan di lantai dua, sepintas eike melihat seorang pria paruh baya duduk mengenakan topi hitam melalui celah pintu. Tidak langsung masuk, eike memilih duduk sebentar di bagian depan sambil mengatur napas. Dengan terkejut eike bertemu seorang senior semasa di kampus. Sekarang ia menjadi seorang guru sejarah. Ternyata ia salah satu peserta di kegiatan ini. Tak dinyana, sekarang eike yang bergantian memberikan materi seperti yang pernah ia lakukan di masa masih mahasiswa dulu. Ah, begitulah, dunia bekerja.

Pria paruh baya itulah Pak Badaruddin Amir. Ia datang lebih awal dengan menggunakan topi dan duduk sembari menengok layar gawainya. Nampaknya Pak Badar lumayan aktif di dunia maya. Cerpen maupun esainya, sering ia posting di sana.

“Tulisan yang kamu komentari itu sebelumnya sudah saya kirim di Fajar, tapi saya enggan memotongnya menjadi lebih pendek,” ungkap Pak Badar. Ia nampaknya tidak setuju jika karya tulisnya mesti dipermak sampai harus memenuhi kolom “sempit” yang disediakan koran-koran selama ini. Itulah sebabnya ia lebih memilih memostingnya di dunia maya yang jauh lebih banyak memberikan ruang bagi karya tulis yang panjang.

Di tengah pemaparan materi memang ada sedikit pembahasan tentang apa yang dimaksudkan “pendek” ketika mengartikan cerpen. Apakah ia ditentukan oleh faktor internal semisal jumlah karakter? Atau jalan cerita yang sekali dibaca sudah dapat menangkap karakter tokohnya? Atau memang lebih ditentukan oleh faktor eksternal semisal medium cerita itu diterbitkan, yang dalam hal ini sangat ditentukan oleh space yang ada pada setiap koran, majalah, atau junal?

Pertanyaan ini akan makin membingungkan jika tradisi kepenulisan cerpen dikaitkan dengan tradisi tulis menulis di luar negeri. Pengalaman Eka Kurniawan ketika menerjemahkan karya-karya cerpennya ke bahasa asing  misalnya, menggambarkan ternyata cerpen-cerpen yang ditulis penulis-penulis luar negeri jauh lebih panjang dari apa yang dituliskan cerpenis-cerpenis dalam negeri. Kala itu seperti yang dituliskan Eka melalui blognya, editor yang menerbitkan tulisannya sempat membandingkan cerpen-cerpennya yang lebih pendek dari cerpen-cerpen yang pernah diterbitkan.

Menurut Eka, cerpen-cerpen yang ditulis di Tanah Air selama ini lebih banyak ditentukan oleh kolom yang disediakan media cetak. Sehingga ikut memengaruhi cara bercerita cerpenis ketika membangun narasinya. Menurut eike, efek paling membahayakan bagi pembaca adalah batas kemampuan membaca yang akhirnya tidak tahan membaca narasi yang panjang. Kata “pendek” dengan kata lain sudah pertama kali mendikte pembaca sehingga sulit memiliki energi lebih ketika berhadapan dengan narasi yang lumayan panjang.

Salah satu yang menarik selama pemaparan, menulis diibaratkan Pak Badar seperti berenang. Semua orang tahu seluruh gaya berenang, mereka tahu perbedaan di antara gaya kupu-kupu dengan gaya punggung, tapi itu hanya sebatas pengetahuan. Berenang yang sesungguhnya adalah ketika seseorang sudah di dalam air. Ketika dia sudah berpraktik. Sudah mau melakukannya. Begitulah yang dimaksudkan Pak Badar, menulis hanya disebut menulis ketika dia dilakukan.

Sebelumnya, eike sempat malu sendiri. Pasalnya tidak ada tandamata berupa buku yang eike hadiahkan kepada Pak Badar. Sebaliknya, sebagai pamungkas dan tanda karya, eike diberikan buku kumcer beliau Latopajoko & Anjing Kasmaran. Di sini kelihatan kan, siapa sebenarnya penulis?

---

Terbit sebelumnya di Kalaliterasi.com


24 Maret 2018

Diam

Poster film Silence, yang diperankan salah satunya oleh Liam Nelson

DIAM. Menurut eike, arti silence merujuk kepada dua hal: pertama, ia menandai iman kristiani masyarakat Jepang yang dipraktikkan secara sembunyi-sembunyi di bawah intaian kekaisaran Jepang. Di masa-masa awal gerakan Jesuit di abad itu -diperkirakan sekira abad 16 atau 17-- memang menjadi masa-masa yang mencekam. Para padre, ketika memperkenalkan iman kristus di masa kekaisaran Edo sama halnya sedang menggali liang kuburnya sendiri.

Makna silence, lebih jelas kelihatan ketika menunjukkan keadaan masyarakat yang selama beberapa tahun beragama tanpa bimbingan "sang imam" yang bakal mereka temui kelak. Selama masa kekosongan spiritual itu, orang-orang kristen beribadah tanpa bimbingan. Iman yang nyaris betul-betul polos. Iman yang bukan dibuktikan melalui dasar-dasar yang logis, melainkan suatu praktik yang dihayati tanpa pamrih.

Kedua, arti itu menandai praktik iman sang tokoh utama yang memilih diam paska dipersekusi dan diintimidasi inkuisitor kekaisaran Jepang. Di akhir hayatnya, seperti diceritakan, sang tokoh utama mengambil strategi dakwah tanpa menonjolkan simbol-simbol keagamaan di hadapan publik. Kepercayaan yang dia imani cukup dia praktikkan sejauh tiada mata yang menyaksikannya.

Sang tokoh, diceritakan akhirnya harus berdamai dengan kekuasaan. Dia memilih menjalankan keyakinannya secara sembunyi-sembunyi. Tanpa kata-kata, bahkan tanpa perbuatan.

Tapi, siapa sesungguhnya sang tokoh utama itu sendiri? Apakah sang padre atau sebenarnya seseorang yang lain. Seseorang yang tidak hadir dalam narasi, tapi ia ikut di dalam cerita.

Jangan-jangan film ini, sebenarnya ditokohi oleh kita sendiri sebagai figur utamanya. Dengan kata lain, sang tokoh utama bukan sosok yang memainkan perannya melalui drama sinematik itu, melainkan sang jiwa manusia yang yang kehilangan "dasar" iman, kehilangan sandaran untuk memercayai segala ihwal.

Memang film ini menceritakan dua misionaris Jesuit yang pergi mencari padre Ferreira nun jauh di tanah Jepang. Suatu tempat asing yang belum pernah mereka injak sama sekali. Dengan bekal informasi yang masih samar-samar berangkatlah mereka berdua bersama Kichiro sebagai penunjuk jalan. Bergegaslah mereka dari Eropa menuju dunia Timur yang sama sekali berbeda.

Padre Ferreira adalah orang yang paling berjasa bagi kekristenan saat itu. Setidaknya bagi dua padre yang menganggap ia sebagai tokoh penting bagi iman mereka. Itulah sebabnya mereka berani pergi mencarinya yang dikabarkan telah murtad. Walaupun mereka tahu, di Jepang, siapa pun yang diketahui sebagai kristiani bakal dipersekusi dan dibunuh.

Sampai di sini, kisah Silence adalah kisah mengenai pencarian. Narasi dimulai dari berita yang belum lengkap untuk mencari kepastian keberadaan sosok Ferreira. Tokoh yang samar-samar dan dinyatakan hilang.

Tapi, secara esoteris, --seperti yang ditokohkan oleh diri kita-- yang hilang sebenarnya bukanlah Ferreira. Yang hilang sesungguhnya bukanlah seorang sosok. Melainkan suatu pokok. Ferreira hanya simbol, yang menarasikan jiwa-jiwa manusia yang kehilangan "dasarnya". Kehilangan "pijakannya".

Ferreira dalam hal ini hanyalah pantulan cermin jiwa yang terkait dengan suatu asal sekaligus akhir, tempat semua telah bermula dan akan kembali kepadanya.

Itulah sebabnya, di awal cerita, Rodrigues dan Garupe kukuh untuk pergi mencari Ferreira. Bagi mereka, yang hilang bukan sekadar sosok Ferreira. Apa yang sedang mereka cari jauh melampaui suatu sosok, yakni iman itu sendiri sebagai fondasi kekristenan mereka.

Iman dengan begitu adalah ihwal yang mesti diperjuangkan. Sesuatu yang tidak boleh hilang, bahkan mesti dipertahankan.Jiwa manusia bukanlah jiwa yang sesungguhya tegar betul. Ia entitas yang mudah guyah. Tanpa "iman" jiwa hanyalah eksistensi yang telanjang dan tanpa arah.

Lalu yang manakah arah itu? Lebih tepatnya, di manakah seseorang harus mengarahkan sampannya?

Dalam Silence, arah itu justru ditunjukkan dari "sesuatu yang masih samar-samar". Sosok yang ada sekaligus dikabarkan hilang. Dengan kata lain figur "misterius" yang diperankan melalui Ferreira.

Bertolak dari "yang samar-samar" itulah sang tokoh pergi bermil-mil jauhnya. Dengan mengambil risiko mencari sosok sekaligus pokok yang sebenarnya bukanlah Ferreira, melainkan "imannya" itu sendiri.

Di titik itulah pencarian itu pada akhirnya berubah menjadi pergulatan atas diri sendiri. Mencari jiwa yang menjadi pegangan walaupun akan mengalami pembalikan dari hambatan-hambatan yang dilaluinya.

Itulah sebabnya, dalam cerita, di tengah perjalanan padre Rodrigues tidak lagi punya urusan dengan tujuan awalnya --mencari sang panutan padre Fereirra-- melainkan mencari keyakinan yang nyaris hilang dalam dirinya.

Silence dalam arti ini berarti kisah tentang jiwa manusia yang mencari jiwanya yang terasing, jauh, sekaligus juga samar-samar.

Melalui Al Qur'an Islam menyebutkan percayalah kepada yang ghaib. Entitas yang melampaui ruang dan waktu, dan sekaligus sesuatu yang disebutkan "samar-samar".

Yang ghaib, disebutkan dalam allaziina yu'minuna bilghaibi. "Mereka yang beriman kepada yang ghaib". Surah Al Baqarah ayat 3.

Di situ iman --seperti dijelaskan dari ayat sebelumnya--- dikatakan iman ketika didasarkan kepada sesuatu yang diberikan bagi yang menginginkan petunjuk, yakni orang-orang yang percaya kepada yang ghaib.

Percaya terhadap yang ghaib dengan kata lain adalah tanda bagi orang-orang yang bertaqwa.

Jiwa dalam tasawuf dibilangkan menjadi tiga paras. Paras yang pertama adalah jiwa mutmainnah, jiwa yang tenang dan akrab dengan sang asal. Yang kedua adalah jiwa lawwamah, yakni paras jiwa yang bisa merangkak menjadi mutmainnah tapi mudah tergelincir menjadi jiwa dengan paras yang ketiga, yakni jiwa amarah.

Jiwa lawwamah adalah jiwa yang bisa naik ke ketinggian paras mutmainnah ketika dia berhubungan dengan sang asal, tapi bisa jatuh ke kerendahan wajah amarah jika ia melupakan sang asal.

Selama pencarian Ferreira, Rodrigues (dan Garupe) ditemani sosok Kichiro. Kichiro diceritakan sebagai sosok yang ambigu. Suatu waktu ia membantu dan menjadi umat Rodrigues, tapi di waktu yang lain ia mengkhianati demi sekantung uang.

Dia sosok yang terjebak di antara iman dan penyangkalan akibat tekanan-tekanan yang dilaluinya. Dia ibarat jiwa lawwamah yang mudah bergerak di antara dua paras jiwa.

Kichiro dalam hal ini adalah narasi tentang jiwa yang belum berkembang purna. Ia mewakili jiwa manusia yang plin plan akibat tegangan antara dunia dengan sang asal. Ia ibarat sisi libidinal jiwa yang bergerak atas dasar hasrat tapi sekaligus menjadi jiwa yang merindukan tempat dirinya berasal.

***

Abad 17 adalah bagian dari sejarah panjang kolonialisme. Di bawah semboyan gold, glory, dan gospel, Eropa memperluas cakrawala dunianya dengan mendirikan koloni di negeri-negeri timur. Semenjak itu dunia timur-barat menjadi hubungan yang timpang. Timur direpresentasikan menjadi negeri-negeri terbelakang, dan bangsa-bangsa barat adalah bangsa yang mewakili kemajuan.

Hubungan yang timpang itu pula yang nampak mencolok dalam Silence. Di luar konteks ceritanya, perspektif orientalisme masih kukuh mempertahankan ketergantungan negeri-negeri timur dari barat. Hal ini dilihat dari sosok Rodrigues dan Garupe yang mewakili barat sebagai kiblat, dan bangsa Jepang sebagai negeri yang belum dimerdekakan dengan iman kristiani.

Melalui penjelasan inilah, mengapa intitusi kekuasaan Jepang menganggap iman kristus dalam film ini adalah keyakinan yang tidak dapat tumbuh di tanah Jepang. Pohon yang tumbuh di tanah seberang, seperti perkataan Inoe Sama di saat berbicara dengan Rodrigues, adalah pohon yang tidak dapat tumbuh di negeri lain. “Daunnya membusuk di sini, dan tunasnya mati.”

Percakapan yang dilakukan Inoe Sama dan Rodrigues (01:30:21) adalah dialog yang memperlihatkan tegangan antara lokalitas masyarakat Jepang dengan kristiani sebagai ajaran yang sama sekali asing. Agama kristiani dilihat sebagai irisan langsung dari kolonialisme bangsa Eropa. Itu artinya klaim universal yang diwakilkan dalam pendakuan Rodrigues, tidaklah sama di mata Jepang. Di mata Jepang, apa pun yang datang dari Eropa adalah modus lain dari kolonialisme.

Terakhir, narasi penutup dari Silence adalah adegan-adegan yang berangkat dari akhir hayat Rodrigues. Pada akhirnya dia mesti mengambil jalan lain, yakni jalan sunyi ketika imannya tidak mampu ia percakapkan melalui kata-kata, dan tak bisa ia perlihatkan melalui perbuatan.


15 Maret 2018

Perempuan

PEREMPUAN. Eike sampai sekarang seringkali takjub dengan perempuan. Secara biologis, dia mampu menanggung "dua nyawa" sekaligus di masa-masa yang sangat khas. Suatu masa yang sangat feminin. Masa waktu yang tak dipunyai oleh mahluk selain sepertinya. Pengalaman yang tidak mungkin dimiliki laki-laki sekalipun.

Di masa itu, seorang perempuan bertaruh nyawa detik demi detik untuk menahan sakit demi "setengah" jiwa yang ditanggungnya. Dari sisi ini, kata perempuan lebih bermakna dari kata wanita. Terma perempuan, lebih jelas menggambarkan kualitas khusus yang hanya dimilikinya. Empu, seperti ditemukan dalam nama Empu Tantular, dengan kata lain lebih pantas disematkan kepada mahluk yang sering kali direndahkan itu.

Perempuan sering kali dilecehkan, didiskriminasikan, dan bahkan mengalami kekerasan akibat cara pandang yang tidak adil. Secara ideologis, pandangan dunia patriarki masih kuat menempatkan perempuan ke titik subordinat. Secara simbolik, bahasa lebih banyak diucapkan menurut artikulasi laki-laki, sehingga bahasa percakapan lebih beraroma maskulin tinimbang feminin. Dan, secara biologis, perempuan kadang mendapatkan perlakuan kasar secara fisik maupun psikis.

Dengan kata lain, baik ideologis, simbolik, dan biologis, perempuan secara berlapis mengalami penindasan. Di bidang ekonomi, dia dinarasikan sebagai orang yang mesti didomestifikasikan di dalam dapur. Di bidang sosial budaya, kehidupan sosialita perempuan tidak jauh dari "dunia sumur" sebagai ruang pengalamannya yang paling jauh. Dan, yang paling miris, secara seksual, dia hanya dilihat sebagai mahluk yang harus ditundukkan di atas "kasur."

Pertanyaannya, jika hampir semua medan pengalaman perempuan mengalami penindasan sehingga tidak dapat menunjukkan jati dirinya, maka dari manakah perempuan mesti menempatkan pijakannya agar dapat setara dengan laki-laki? Bukankah semua ruang pengalaman manusia sudah dari awal dinarasikan melalui cara pandang laki-laki?

Belakangan, ideologi gender banyak menuai kritik melalui perspektif feminisme yang kadang secara global tidak mampu menerjemahkan permasalahan lokal para perempuan. Di tingkat yang paling kecil, kadang feminisme global mengalami kebuntuan. Perspektif yang terlampau barat, malah justru menjadi soal tersendiri. Feminisme barat, dalam hal ini dengan kata lain terlampau eropasentris. Terlalu kebarat-baratan.

Itulah sebabnya, perjuangan perempuan di manapun mesti mengambil pijakannya bukan dari panggung yang sudah diciptakan barat. Pijakannya, dengan kata lain, mesti bertolak dari "tanahnya" sendiri, tempat perempuan-perempuan menjalani kehidupannya.

Narasi feminisme selama ini yang terlampau eropasentris, mau tidak mau mesti didudukkan dengan hati-hati. Imajinasi feminisme barat adalah imajinasi yang lahir tidak jauh dari hubungan kolonialisme barat dengan negeri-negeri koloninya. Dia, ibarat "suara pembebasan" yang terdengar asing. Di sana-sini apa yang dibangun secara konseptual, di banyak hal tidak cocok dengan kebudayaan masyarakat timur yang tipikal dan khas.

Itulah sebabnya, kesadaran perempuan mesti digali dari tempatnya hidup itu sendiri. Bahasa perjuangannya mesti diucapkan melalui "lidahnya" sendiri. Diambil dari "perutnya" itu sendiri. Dari kehidupannya yang paling intim sekalipun.

Atas dasar itulah, eike menyarankan, mulai saat ini perjuangan perempuan mesti menggunakan bahasa lokalnya, bahasa yang dipakai sehari-hari sebagai bahasa kesadarannya, di mana dari itu kehidupan kultural perempuan bermula.

Sampai di sini, perjuangan perempuan bukanlah mau menyasar kehidupan sehari-hari yang nampak alami. Seolah-olah natural dan tanpa bias gender walaupun di balik semua itu ada ideologi dominan yang berperan besar menciptakannya. Perjuangan perempuan, singkat kata, hingga saat ini adalah perjuangan kultural, bukan menerima kehidupan natural yang selama ini mengelilinginya.

Dengan kata lain, dari semua itu perempuan mesti menciptakan budayanya sendiri. Kehidupan yang bersih dari cara pandang laki-laki yang mensubtitusinya.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...