BURHANUDDIN. Faktanya belum bisa
entas dalam benak anaknya, Burhanuddin yang saban hari memandikannya dengan
merek sabun yang turun temurun dipakai hingga zaman sekarang. Di atas susun
bilah kayu yang mirip batang kelapa, tiga empat drum penampungan air, dan
dinding kamar mandi dibuat seadanya dari triplek dan bekas karpet plastik. Di
bawahnya saluran air yang anaknya yakin digali tangan Burhanuddin kala masih
muda. Di ujungnya ada galian lubang selebar hampir dua meter, yang dijadikan
saluran akhir pembuangan air. Airnya berwarna cokelat. Kadang di situ tempat
Burhanuddin mencelup mati tikus yang masuk perangkap besi yang dibuatnya
sendiri. Faktanya, peristiwa itu memang masih terekam baik. Saban pagi geliat
tangan Burhanuddin yang meliuk-liuk di tubuh anaknya. Dengan sabun yang anaknya
hafal betul harumnya. Air yang dingin, dan rengekan anaknya yang menolak
dimandikan. Burhanuddin seorang yang sabar. Burhanuddin memiliki kebiasaan
berkumpul dengan teman-teman kerjanya di kala malam tiba. Entah dari mana
datangnya pria-pria berkulit legam itu. Tapi, yang anaknya ingat, mereka senang
mendatangi rumah Burhanuddin demi bermain kartu remi atau domino. Meja-meja
berkaki besi sering kali mereka pakai dengan puntung-puntung rokok yang semakin
malam semakin bertambah. Burhanuddin kala itu perokok yang kuat. Suatu waktu,
anaknya dan Fajar, adiknya, senang mengumpulkan puntung-puntung rokok yang
ditinggal semalaman ke dalam kaleng bekas Blueband. Hampir penuh bahkan. Siangnya,
setelah pulang sekolah, mereka berusaha membakarnya, mengisapnya di dalam kamar
mandi. Tak dinyana Burhanuddin mengetahuinya. Asapnya bergentayangan di atas
kamar mandi yang memang tak beratap. Hari itu, Burhanuddin murka. Kedua anaknya
digantung di terali jendela. Hari yang naas, belaka. Kebiasaan itu tidak
dilanjutkan anaknya, walaupun nanti pergaulan anaknya mengubahnya ketika
sekolah menengah pertama. Burhanuddin dianugerahi tangan yang terampil. Hampir
semua mainan anaknya dia yang membuatnya, termasuk membuat pesawat terbang yang
sepanjang hampir selengan anaknya sekarang. Bobotnya lumayan berat. Anaknya
sering kali menjadikannya sebagai kendaraan layaknya mobil truk. Tangan
Burhanuddin juga diberkahi semacam “mukjizat” tertentu. Belakangan anaknya
menyadari, bakat menggambarnya diwarisi dari tangan “seni” Burhanuddin.
Kesabaran Burhanuddin dilihat anaknya kala ia pergi mengirimkan hasil
menggambar kepada majalah Bobo melalui kantor Pos. Mungkin Burhanuddin merasai
gambar anaknya tak bakalan menang, tapi tetap saja ia pergi mengirimkannya
dengan motor bututnya berwarna merah. Di atas motor butut Suzuki-nyalah juga
yang kelak dipakainya mengebut ketika membawa anaknya ke rumah sakit lantaran
luka akibat terjatuh. Kini luka itu masih membekas di kaki anaknya dengan tujuh
jahitan. Dulu kakak anaknya sering kali mengejek luka itu mirip lintah kering
yang melekat kemana anaknya pergi. Sampai sekarang suara Burhanuddin masih
selantang seperti saat mengimami salat magrib berjamaah. Di waktu ia membangun
rumah baru, kamar Ima, anaknya yang tertua, yang ditinggal setelah dikirim ke
pesantren sengaja dijadikan mushola. Di tempat itu pula, kelak Fajar, anak
bungsunya tercium bau tembakau oleh istrinya. Burhanuddin kembali murka,
apalagi istrinya. Fajar sendirian dihukum walaupun kenyataannya di sorenya
Fajar bersama saudara laki-lakinya sama-sama merokok. Fajar baik ketika itu,
dia menanggung kesalahan saudaranya tanpa melapornya kepada Burhanuddin. Mulai
saat itu daun jeruk menjadi penting. Tanaman jeruk yang ditanam di halaman
rumah mereka akhirnya bermanfaat. Sehabis menghisap rokok, daun jeruk mereka
kunyah demi menghilangkan baunya. Sampai sekarang Fajar sang adik masih
merokok. Tapi, tidak lagi mengunyah daun jeruk setelahnya. Entah tahun berapa
Burhanuddin memutuskan berhenti merokok. Yang anaknya ingat, pembungkus
rokoknya sering dikoleksinya seiring disusunnya berjejer di dinding dekat
jendela. Yang pasti istrinya protes lantaran kebiasaan anehnya. Mungkin protes
istrinya juga sehingga Burhanuddin berhenti merokok. Yang pasti tubuh
Burhanuddin bertambah gemuk pasca memutuskan tidak merokok lagi. Makanya
anaknya sering membandingkan, mengapa tubuhnya masih seperti tubuh Bapaknya
yang ramping setelah tidak merokok lagi. Walaupun, anaknya sebenarnya khawatir
tubuhnya bertambah besar. Tubuh Burhanuddin yang kian bertambah beratnya pernah
terserang penyakit keras. Waktu itu sampai dia tidak mampu berjalan dan
beraktifitas. Hampir berminggu ia sakit keras di atas tempat tidurnya. Seisi
rumah khawatir lantaran sakitnya yang tiba-tiba dan tidak biasa. Hingga
diputuskanlah Burhanuddin harus dirawat di rumah sakit berhari-hari. Anaknya
sangat terpukul ketika melihat ia mesti digendong hanya untuk dinaikkan di atas
mobil. Itu pertama dan terakhir kalinya seingat anaknya, Bapaknya masuk rumah
sakit. Sekarang tubuh Burhanuddin sehat sentosa walaupun umurnya kian menua.
Anaknya sering cemas jika ia berkendara tidak menggunakan jaket. Itu kebiasaan
Burhanuddin yang anaknya lihat sampai sekarang masih dilakukannya. Di hari-hari
tuanya, Burhanuddin masih sering beraktifitas layaknya seorang yang berlatar
belakang pendidikan tehnik. Terakhir, anaknya membantunya mengecat pagar besi
pesanan temannya yang dibuat dan dilasnya sendiri. Anaknya juga melihat,
Burhanuddin membuatkan pesawat yang hampir sama yang pernah dibuatnya untuk
kedua anak lelakinya, kepada cucunya sekarang. Mainan pesawat itu tanpa
disadarinya, membangkitkan kenangan anaknya kepada ribuan hari silam. Di antara
ribuan hari itu, ada satu hal yang paling berkesan bagi anaknya, ketika ia
pulang dari pelatihan di tempat kerjanya selama beberapa hari di Bandung. Itu
peristiwa yang panjang bagi kedua anak laki-lakinya yang ditinggal
berhari-hari. Namun, hari kepulangannya menjadi hari yang istimewa bagi mereka.
Dari atas mobil angkutan diturunkan sebuah sepeda berwarna biru dengan ban yang
masih hitam mengkilat. Siang itu benar-benar spesial. Entah dari mana
Burhanuddin membelinya, kecil kemungkinan dibelinya jauh-jauh dari Bandung,
tapi mungkin juga sebaliknya. Sepeda itu benar-benar kejutan untuk kedua anak
laki-lakinya. Itu hadiah bagi kedua anaknya. Kelak, sepeda itu jugalah yang
membuat Burhanuddin cemas akibat anaknya yang mulai jauh jarak bermainnya.
Sepeda itu membuat kedua anaknya bisa pergi kemana-mana di luar jarak tempuh
hanya jika mengandalkan jalan kaki. Sampai sore hari tiba, cemas Burhanuddin
belum juga lesap. Anaknya masih asyik bersepeda hingga magrib tiba. Sebelumnya,
jika magrib tiba, Burhanuddin bersiap-siap mengantarkan kedua anaknya pergi ke
suatu pasar yang letaknya lumayan jauh dari rumahnya. Di pasar itulah bermukim
sepasang suami istri yang memiliki banyak murid mengaji. Entah info dari mana,
ia mengetahuinya. Yang pasti, jauhnya pasar dari rumahnya ditempuhnya dengan
sabar demi kedua anaknya agar pintar membaca huruf-huruf hijaiyah. Entah
diketahuinya atau tidak, kedua anaknya sering kali merasa takut kepada guru
mengajinya yang super galak. Dari magrib hingga jam sembilan malam tiap hari,
anaknya bersama puluhan anak-anak pasar mengaji di rumah yang sangat sederhana.
Rumah yang ditinggali sepasang suami istri itu dibagi menjadi tiga petak kamar
yang dihubungkan oleh satu lorong. Kamar pertama diisi murid campuran yang
masih pemula, kelas ini diasuh istri sang ustad. Kelas ini adalah kelas yang paling
ribut lantaran isinya adalah anak-anak yang berusia sekira kelas 4 SD. Di
tengah adalah kelas khusus perempuan yang sudah masuk ke tahap “al-Quran
besar”. Di sebelahnya, ruangan paling ujung adalah kelas yang diampu sang suami
khusus para ikhwan yang berusia setara dengan anak lelaki yang sudah siap
disunat. Dua anak lelakinya dititipnya di tempat itu. Tentu dimulai dari
ruangan paling kiri, kelas pemula, walaupun sebelumnya kedua anak lelakinya
pernah dibawanya ke Masjid Nurul Iman untuk belajar mengaji. Tapi di masjid itu
tidak cocok. Metodenya agak kaku dan tidak dinamis. Maka dibawalah kedua
anaknya ke tempat yang berlokasi di dalam pasar Inpres, ke kedua tangan besi
guru mengaji yang lumayan galak. Tapi tidak disangka, kedua anak Burhanuddin lumayan
cepat mengkhatamkan dan lancar membaca huruf-huruf hijaiyah tanpa terbata-bata.
Dengan cepat pula kedua anaknya menyeberang ke ruangan paling kanan, tempatnya
anak-anak yang sudah layak membaca al Quran dengan lancar. Hampir tiap hari
Burhanuddin mengantar kedua anaknya dengan tabah. Selepas isya dia sudah
bersiap-siap menjemput anaknya. Burhanuddin mungkin juga tahu, bahwa di tempat
mengaji anaknya, para murid baru bisa pulang jika selesai melaksanakan salat
isya berjamaah. Yang unik dari prosesi itu, sang guru mengaji akan berjalan
mondar mandir dari depan ke belakang melewati tiap saf mengawasi murid-muridnya
yang malas menjaharkan suaranya. Jika ada murid yang kedapatan tidak
membesarkan suaranya secara serempak mengikuti surah-surah yang dibaca, atau
mengantuk, maka tak segan-segan sang guru mengibaskan rotannya kepada bokong
atau betis muridnya yang malas. Burhanuddin mungkin saja tidak tahu kalau
anaknya sering kali menertawakan teman mengajinya jika melihat temannya
kedapatan mengantuk dan ditempelkan balsem di bawah pelupuk matanya. Jika sudah
begitu, sang anak bakal dipanggil dan mendapatkan juga hukuman dari istri sang
ustad. Burhanuddin sangat senang terhadap kemajuan anaknya membaca al Quran.
Dengan begitu dia tidak repot lagi mengajarkan mengaji kecuali rela menunggu
anaknya pulang bersamaan losmen-losmen kios yang mulai menutup jualan lantaran
malam kian larut. Kini Burhanuddin banyak menghabiskan waktunya di rumah.
Sesekali dia bersenda gurau dengan cucu keduanya. Sembari menikmati masa-masa
tuanya bersama istrinya, dia masih sering mencari kesibukan dengan hal-hal yang
mampu ia perbaiki dari rumahnya. Beberapa tahun lalu, saat cucu pertamanya
sudah dimasukkan ke PAUD, ia masih sering mengantar jemput cucunya seperti
ketika ia masih mengantar anak-anaknya ke sekolah dengan menggunakan motor
bututnya. Anaknya masih mengingatnya ketika ia pertama kali dibawa ke suatu
tempat bermain yang disadarinya adalah taman kanak-kanak. Burhanuddin pula yang
mengantar dan menjemputnya. Kelak, ia tak akan mengetahui anaknya bakal
menceritakan sepenggal kisah hidupnya di hari yang biasa seperti sekarang ini.
Anaknya yang bertahun-tahun silam dia azani di kedua kuping mungil bayi
laki-lakinya. Anaknya yang dulu dia namai seperti nama eike.
13 November 2017
11 November 2017
"Adalah kata-kata
yang memberi bentuk pada sesuatu yang masuk
dan keluar dari diri kita.
Adalah kata-kata yang menjadi jembatan untuk menyeberang ke tempat
lain
Ketika kita diam, kita akan tetap sendirian.
Berbicara, kita mengobati rasa sakit.
Berbicara kita membangun persahabatan dengan yang lain.
Para penguasa menggunakan kata-kata untuk menata imperium diam.
Kita menggunakan kata-kata untuk memperbaharui diri kita…
Inilah senjata kita saudara-saudaraku."
(Subcomandante Marcos, 12 Oktober 1965)
Eike kira, intelektualisme adalah kata yang hari ini harus terus
diperjuangkan. Jika kata adalah senjata, seperti yang dinyatakan Subcomandante
Marcos, si pejuang nasional dari Mexico, intelektualisme-lah salah satu
senjatanya. Memang agak paradoks, kata sebagai wujud logos disepadankan
dengan senjata, alat yang kerap dipakai untuk melukai, atau bahkan membunuh.
Tapi, apa boleh buat, yang didakukan Marcos agaknya ada benarnya, walaupun
dalam sejarah intelektualisme, di mana-mana tradisi pemikiran seringkali
berhadap-hadapan dengan penggunaan senjata sebagai terornya. Kata-kata
adalah sesuatu yang masuk dan keluar dari diri kita. Ikut membentuk pemahaman
kita terhadap dunia. Kata-kata menjadi jembatan ke tempat lain kata Marcos,
ibarat sebuah buku yang menjadi jendela dunia. Bahkan, kata-kata, berbicara
untuk memperbarui dunia kita, diri kita. Marcos boleh saja percaya kepada
kekuatan kata-kata, sebagai suatu senjata, bahkan. Tapi bagi Platon, filsuf
Yunani antik yang dikenal keras kepala itu berkeyakinan sebaliknya. Kata-kata
hanya selubung, bahkan bayang-bayang. Dia tidak mewakili kenyataan, dan tidak
mampu menggambarkan kenyataan. Itulah sebabnya, Platon menganjurkan
berhati-hati dari kata-kata. Kata-kata bisa menipu. Dia gua yang memerangkap
pengetahuan. Gegar kebudayaan hari ini seperti fenomena yang dinyatakan
seorang sosiolog Amerika, Anthony Giddens: masyarakat sedang berlari tunggang
langgang, merupakan masyarakat gegar kata-kata. Narasi kebudayaan hanyalah
bunyi-bunyi bahasa tanpa makna, tanpa gagasan. Juggernaut adalah istilah
yang dipilih Giddens untuk mengilustrasikan bagaimana kebudayaan masyarakat
bergerak melesat tanpa kontrol. Bahasa sebagai matra kebudayaan, ibarat hewan
buas yang berlari tanpa sepenuhnya bisa dikendalikan. Bahasa
hanyalah lorong kosong tanpa suatu arah pengertian. Kata-kata akhirnya
ibarat jazad bahasa tanpa reaksi. Tergeletak begitus saja tanpa berarti
apa-apa. Narasi, lapis dunia simbolik yang memberikan asupan bagi sang manusia,
seperti yang didakukan Platon, tidak membuktikan apa-apa. Di titik itulah
narasi tidak tampak sebagai senjata. Dia hanyalah desakan tanpa daya. Peluru
tanpa efek. Selongsong kosong yang hampa pengertian. Reflektifitas,
kemampuan itulah yang belakangan kehilangan kedudukan dalam masyarakat a la
juggernaut Giddens. Masyarakat dikepung kata-kata banal,
simbol-simbol, kode-kode yang dekaden membuat setiap orang kehilangan ruang
permenungan. Reflektifitas, digantikan oleh -meminjam bahasa Jean Baudrillard-
simulakrum: dunia imajinatif yang tidak otentik. Itulah sebabnya, mengapa
kita mesti memperjuangkan apa arti intelek itu sebenarnya. Atau, bagaimana
menjadi bagian dari kehidupan yang berbau intelektual. Reflektifitas
dengan kata lain, setidaknya adalah kemampuan daya intelek manusia mengambil
jarak pengetahuan, untuk menimbang-nimbang, menakar kembali atas segala apa
yang telah dicapainya. Itu artinya, usaha mendudukkan intelektualisme
dalam konteks ini, sama artinya dengan membuka ruang reflektif agar terjadi
keadaan pemahaman yang sarat bobot dan bernas. Kadang memang, dari titik
itu semuanya mesti mengambil suatu langkah berpulang, melihat kembali dari
balik punggung kemajuan, tentang segala hal yang dilakukan secara
otentik. Setidaknya, di masa sekarang, daya intelek bukan saja berarti
bekerjanya fungsi kritis manusia, atau kemampuan khas manusia dalam
maksimalisasi peran logos, melainkan menjadi instrumen pembebasan martabat
manusia. Namun, untuk tidak menjadi logos yang sekadar instrumentalistik,
daya intelek mesti bersih dari kepentingan-kepentingan ideologis. Logos pada
akhirnya tidak sebagai ekspresi yang hanya menggambarkan tujuan jangka pendek,
melainkan juga tujuan jangka panjang. Kehidupan pasca kebenaran seperti
yang ditandai dari kacaunya dasar-dasar pemikiran dan betapa longarnya bahasa
dalam merujuk kepada suatu pemahaman, membuat relasi pemaknaan terhadap
kebenaran terhambat akibat-akibat sentimen-sentimen sempit. Di saat itulah daya
intelek manusia harus dimaksimalisasi sampai batas
terjauhnya. Intelektualisme dengan begitu tidak saja sepadan dengan logos,
tapi juga sebagai dasar pengetahuan yang menjadi kebiasaan etis, atau bahkan
politis, karena tanpa itu, belakangan kata-kata hanya menjadi kulit bawang,
seperti yang didakukan Platon, tidak ada inti di dalamnya. Makanya,
kata-kata tidak mudah untuk dipercaya. Dia bisa menjadi gua yang memerangkap
pemahaman, atau sebaliknya, seperti kata Marcos, “kita menggunakan
kata-kata untuk memperbaharui diri kita.” Eike kira dalam kalimat terakhir
itulah, mengapa intelektualisme mesti diperjuangkan.
07 November 2017
Nietzsche dan Suatu Pagi Seketika Mendung
Jika engkau haus akan kedamaian jiwa dan kebahagiaan, percayalah. Jika engkau ingin menjadi murid kebenaran, carilah.
Konon sembari berurai air mata,
Nietzsche banyak meliterasikan peradaban melalui punggung tragedi. Pendakuannya
tentang tragedi, pada dasarnya adalah kritik terhadap situasi sejarah abad 19
(dan abad 20) yang kehilangan dasar pemaknaannya setelah sains, kebudayaan,
agama, dan filsafat hanyalah menjadi aksesoris kehidupan tanpa mampu
mendudukkan manusia sebagai mahluk yang berkepribadian. Manusia, kebanyakan
adalah mahluk yang tidak mau mendengarkan kebenaran, karena mereka tidak ingin
ilusi mereka hancur, begitu pendakuan Nietzsche.
Manusia yang berkepribadian,
dinyatakan Nietzsche adalah manusia yang sudah melampaui segala sendi nilai
moralitas dengan menggerakkan kehendak pribadinya yang khas sebagai dasar
perilakunya.
Dengan kata lain, manusia yang
berpribadi adalah mahluk yang tahu harus berbuat apa, dengan mengandalkan
kekuatannya sendiri tanpa bersandar kepada nilai-nilai yang berasal dari luar
pemahamannya.
Ketika manusia menjadi asing atas
pemahamannya, dan sulit bertindak atas dasar apa ia melakukan sesuatu, maka
itulah yang disebut Nietzsche sebagai nihilisme. Nihilisme juga didakukan
Nietzsche sebagai hilangnya dasar pemahaman manusia sebagai basis penilaiannya
terhadap dunia, dan hilangnya makna hidup itu sendiri.
Nihilisme di zaman kita
Tragedi dan nihilisme adalah dua
narasi peradaban yang banyak dikritik Nietzsche. Gaung kritik ini bahkan
semakin terbukti peririsannya jika pengamatan kita ditujukan kepada konteks
masyarakat sekarang.
Fenomena masyarakat modern yang
ditandai dengan “ledakan masyarakat kapitalis”, “totalitarianisme pasar bebas”,
“kehancuran lingkungan alam”, “radikalisasi agama”, dan “melubernya arus
informasi”, merupakan gejala-gejala makro yang disebabkan hilangnya makna
kehidupan.
Pencarian makna manusia itu sendiri
ternyata hanyalah berhenti pada wilayah permukaan yang diarahkan oleh penalaran
rasional tanpa menelisik lebih jauh ke dalam wilayah sublimitas yang dimiliki
manusia.
Mazhab Frankfurt, misalnya, sangat
apik mendemonstrasikan bagaimana cita-cita masyarakat modern yang digerakkan
sains justru berkebalikan dari cita-cita awalnya untuk membebaskan manusia dari
zaman mitos. Rasio sebagai penemuan mutakhir peradaban manusia, justru menjadi
faktor utamanya. Nalar tidak lagi didudukkan sebagai alat pembebasan
masyarakat, melainkan menjadi apa yang disebut mazhab ini sebagai rasio
instrumentalistik. Rasio jenis inilah yang belakangan mengarahkan kehidupan
masyarakat modern mengalami alienasi dari keberadaan rasionya sendiri.
Padahal, sisi sublimitas manusia adalah
dimensi kejiwaan yang memberikan dasar pemaknaan eksistensial (berbeda dari
sisi rasional yang hanya menghubungkan manusia dari segi hubungan konseptual)
terhadap pencapaian-pencapaian yang dimiliki peradaban manusia.
Itulah sebabnya, Nietzsche sendiri
pernah mengatakan kehidupan tanpa musik adalah kesalahan. Mengapa musik? Di
sinilah pertama-tama Nietzsche dari segi pemikirannya banyak mendudukkan
kritikannya ke dalam konteks masyarakat modern yang percaya sepenuhnya hanya kepada sains sebagai satu-satunya
patokan pemaknaan hidup.
Musik biar bagaimana pun adalah
genre dari ekspresi estetika yang berlawanan dengan sains. Musik sebagaimana
sastra, memiliki perbedaan dengan sains yang digerakkan semata-mata oleh sisi
rasional manusia. Sains dengan karakternya yang demikian membentuk pemaknaan
hidup hanya berdasarkan hukum-hukum logis empirik, teratur, linear, ajeg, dan
fixed sehingga dunia dipandang ibarat mesin mekanik yang beku dan kaku.
Sementara musik, dalam cakrawala
dunia Nietzsche adalah metafora yang digambarkannya untuk menarasikan suatu
model kehidupan yang penuh gairah, semangat, pesona, dialektis, dan dinamis
yang menggerakkan jiwa manusia untuk menerima hidup dengan sikap yang terbuka
dan bergerak.
Manusia jika diidealisasikan
menurut pemikiran Nietzsche, adalah orang-orang yang bergerak dengan sikap
terbuka dengan segala kemungkinan hidup yang dimilikinya, tanpa khawatir dengan
beragam hambatan dan godaan, apalagi hanya berhenti kepada satu titik yang
sudah dianggap final dan fixed. Manusia dengan begitu adalah mahluk pengembara,
berjalan dari satu titik pengembaraan menuju titik pengembaraan lainnya.
Di suatu pagi yang seketika
mendung…
Nihilisme bisa saja datang
menelusup ibarat cuaca yang seketika mendung kala pagi baru saja datang
menyapa. Ketika seseorang bangun dan menemukan semuanya nampak tak berarti
apa-apa. Dalam titik kesadaran tertentu, semua dan hal ihwal yang selama ini
sudah dilakukan tidak memiiliki maksud dan tujuan sama sekali. Sama sekali tak
berimbas apa-apa. Tidak berefek apa-apa. Tujuan hidup, nampaknya suatu hal yang
sama sekali bukan titik yang memberikan arah kepastian sama sekali.
Lalu, segala dasar nampak goyah.
Ibarat gerakan awan putih yang terseret topan tak terlihat. Bergerak dan hilang
menipis seiring tiupan udara.
Syahdan, tidak semuanya harus
diartikulasikan melalui medium rasio, seperti bahwa apa yang selama ini
dipikirkan hanyalah wujud-wujud artfisial tanpa bobot. Pendasaran yang hanya
menggunakan rasio sebagai intrumen tanpa mengetahui maksud terdalam dari
sesuatu. Bukankah semua ini mesti dijalani? Walaupun pagi seketika berubah
gelap.
05 November 2017
PILIHAN. Atau alunan musik yang kasip di pagi yang seketika mendung,
sementara di hampir bersamaan segeletak buku hanya tersimpan diam begitu saja.
Atau kisah orang-orang yang merangkak naik bersamaan dengan matahari di pagi
yang entah. Atau ingatan terhadap pemahaman yang silap, tak diketahui rimbanya.
Bunyi desir angin atau sentuhannya yang seolah-olah seperti benang-benang tipis
yang bergerak dari ujung kakimu naik hingga ke pundak dan telingamu. Atau
kehidupan yang terulang, terulang dan terulang. Atau bunyi deru mobil. Suara
dentuman yang tersisa di atas langit, atau pecahan bintang yang tertinggal
berjuta-juta tahun lamanya. Atau ini hanya sekadar usaha menangkap maksud di
balik beragam kemungkinan. Atau bukan apa-apa. Seorang bapak tanpa menggunakan
baju berdiri atau berpikir tentang sudut rumahnya yang digerayangi
rumput-rumput hijau. Atau akan dia biarkan tumbuh sama halnya dia melihat
anaknya yang sudah melebihi tinggi badannya. Atau memang waktu adalah sisi
terbelakang dari apa yang kita ketahui. Atau memang dia tidak mungkin atau akan
diketahui. Waktu atau entah apa, pada akhirnya membuat siapa pun menyadari
betapa dunia sudah melebihi umurnya. Atau pernahkah kau menyadari saat melihat bebek-bebek mengecipak air selokan
yang terbelah mengaliri rerumputan. Atau Rumput yang basah diterpa sinar kuning
mentari. Atau Seorang ibu dan anaknya yang menuruni setapak pergi ke sekolah.
Atau di atas nun jauh, rumah-rumah bersusun-susun dari bawah ke atas. Di
belakangnya punggung gunung tertutupi kabut bagai kapas-kapas basah. Atau
keadaan yang jauh lebih susut, tentang bukan saja air, melainkan
partikel-partikel kecil di dalamnya yang bergerak tak beraturan, atau kutu-kutu
yang bergerak di balik helain bulu bebek yang terkena air, dan menggelembungkan
oksigen di dalam bulatan-bulatan kecil air. Atau menelusuri jauh di dalam tanah
yang di atasnya tumbuh rumput-rumput, atau di sana ada kehidupan beribu
binatang-binatang yang dimakan cacing tanah, rayap-rayap, beserta kerajaan
semut-semut yang setiap hari menggerayangi permukaan tanah tanpa disadari siapa
pun. Atau di balik anak-anak yang sedang berpergian sekolah, ada kisah sedih
sejak semalam lantaran suatu sistem pendidikan membetot otot-otot sang bapak
menggali lebih dalam lagi petak-petak sawah di pelosok entah di mana. Atau
keluh kesah ibunya yang tak mampu mengerjakan tugas sekolah anaknya akibat
disibukkan dengan pekerjaan rumah atau sudah tidak mengerti sama sekali apa
sesungguhnya maksud dari mata pelajaran anaknya. Atau hal-hal di luar itu,
semisal mengapa rumah-rumah di atas bukit itu disusun menyerupai anak tangga.
Atau apakah persamaan antara awan basah dengan kapas, ataukah awan sebenarnya
memang terbuat dari kapas. Atau sesungguhnya kapas ternyata adalah sisa-sisa
awan yang jatuh sejak semalam. Atau mungkin mengenai cemara menjulang tinggi di
bawah mentari meninggi. Atau jalan yang menapak di bawahnya tersisa tanah yang
longsor. Warnanya kecokelatan, mengering disapu kilatan cahaya mentari. Atau
pagi yang masih diiringi kabut. Tipis melayang-layang berarak kemudian pergi di
balik pepohonan. Bunyi ayam-ayam sedari tadi berkokok, atau bersahutan sambung
menyambung dari barat sampai selatan. Atau pohon jambu habis dipanjati
anak-anak. Buahnya kemarin sore dibawa pergi. Anak-anak berkopiah sepulang
mengaji, bergerombolan. Menginjaki pagar bambu mengangkat tangan di sela-sela
ranting yang tak rimbun. Atau di satu rumah kulit sapi dijemur berhari-hari.
Kulitnya diikat tali berwarna hijau, ditelentangkan kuat-kuat di dinding
sebelah selatan. Menghadap matahari. Atau hari ini yang kasip yang seketika
mendung, sementara di hampir bersamaan segeletak buku hanya tersimpan diam
begitu saja.
03 November 2017
Taro Ada' Taro Gau'
Barangkali
eike salah menafsirkan perkataan Alwy Rachman seorang scholar budaya, yang
mengatakan membaca adalah mendengarkan. Tapi, bagi eike, melalui pengertian
itu, Alwy Rachman menghendaki setiap praktik pemaknaan dalam membaca harus juga
ikut melahirkan sang sosok yang sejajar dengan teks itu sendiri. Itulah
sebabnya, tekanannya diletakkan kepada "suara". Dengan kata lain, strategi membaca
yang diajukan Alwy Rachman, pertama-tama adalah antitesa dari praktik pemaknaan
yang selama ini bersandar kepada kematian sang pengarang. Kedua, praktik
membaca yang juga sekaligus mendengarkan, sebenarnya adalah suatu cara membaca
yang ikut melahirkan jiwa untuk menemu-kenali budi pekerti dari sang
penutur/pengarang itu sendiri. The
death of author yang digaungkan Roland Barthes memang bertujuan untuk
membebaskan praktik pemaknaan tidak saja kepada teks itu sendiri, melainkan
kepada kebebasan pembaca untuk ikut serta memberikan kemungkinan penafsiran
yang mungkin saja hadir dari suatu teks. Peralihan dari teks kepada otoritas
pembaca, dari praktik pemaknaan yang ditawarkan Barthes, tidak saja berdampak
dibebaskannya teks dari pengaruh pengarang, tapi juga kehadiran pembaca yang
signifikan memiliki kebebasan untuk memaknai setiap teks yang ditemukannya. Itu artinya, praktik pemaknaan
tidak lagi bertumpu kepada sang pengarang, namun mengalami peralihan dari sang
pengarang menuju sang pembaca. Tapi, implikasinya, strategi
membaca demikian akhirnya menempatkan sang penagarang bukan sebagai
siapa-siapa. Dia bahkan hanya satu bagian dari beragam bagian yang memungkinkan
lahirnya beragam makna. Sehingga, dengan kata lain, sang pengarang tidak punya
lagi hak apa-apa selain dari pada menuliskan gagasannya dan setelah itu secara
pemaknaan melepaskan tanggung jawabnya terhadap teks yang sudah dituliskannya. Mendengarkan suara sang sosok
pengarang dalam membaca, seperti yang didakukan Alwy Rachman, berarti sama
artinya melahirkan sang sosok pengarang di tengah-tengah praktik pemaknaan.
Sang pengarang dalam hal ini juga terlibat di dalam aktifitas menangkap makna
oleh sang pembaca. Tapi kaitannya dalam hal ini bukan sebagai penentu di dalam
menentukan benar salahnya makna yang ditemukan, melainkan sebagai pembanding
dari apa-apa yang sudah dikatakannya. Itulah kenapa, pendakuan Alwy Rachman
melibatkan budi pekerti dari sang pengarang sebagai salah satu faktor
fundamental dari praktik pemaknaan. Mendengarkan dengan begitu berari ikut
"melihat" budi pekerti sang pengarangnya. Sudahkah kata-katanya
berbunyi seperti budi pekertinya itu sendiri? Atau jangan-jangan kata-kata sang
pengarang hanya bunyi-bunyian tanpa bisa dirujuk dan dibuktikannya dalam dunia
budi pekertinya. Jangan cuman percaya kepada
kata-kata, begitu maksud lain dari apa yang dinyatakan sebagai membaca adalah
mendengarkan. Kata-kata memang membutuhkan bunyi agar maknanya terang dalam
pemahaman, seperti pula kata-kata mesti lahir dari dunia pengalaman kongkrit
sebagai rahimnya. Pemahaman di atas, dengan mudah
dapat kita lihat afirmasinya dari peribahasa Bugis, taro ada', taro gau': seiya
sekata perkataan dan perbuataan. Kata-kata hanya sebatas dengung bunyi jika
tidak memiliki pembuktian dari budi pekertinya. Kembali kepada sang sosok
pengarang, dunia teks berarti pula mencerminkan dunia budi pekertinya. Jangan
sekadar percaya kata-kata. Mendengarkan, dengan kata lain membaca, berarti
menangkap makna teks sekaligus budi pekerti sang penuturnya.
02 November 2017
Alwy Rachman: Membaca sama dengan Mendengarkan
Eike belakangan ini berusaha
merenung-renungkan perkataan seorang budayawan sekaligus sosok penting bagi
keberlangsungan pelbagai komunitas Literasi di Makassar, Alwy Rachman, pasca
launcing dan diskusi buku Tutur Jiwa karangan Sulhan Yusuf tempo waktu di
Dialektika Cafe. Saat itu Alwy Rachman mengatakan membaca adalah mendengarkan,
suatu pengertian yang tidak biasa bagi eike. Bagaimana mungkin, membaca yang
identik menggunakan indera penglihatan harus diartikan sama dengan
mendengarkan, aktifitas yang lebih banyak melibatkan telinga. Kata yang secara
literer di pengertian Alwy Rachman, seketika sepadan dengan bunyi.
Apakah ini sama berartinya bahwa
tradisi literasi yang mendasarkan dirinya pada tradisi tulisan tidak berdampak
signifikan terhadap masyarakat tinimbang tradisi lisan? Ataukah membaca
sebenarnya tidak seperti pengertian hari ini yang hanya menyasar dimensi
kognitif daripada mendengarkan yang lebih radikal menelusup hingga dimensi
kejiwaan manusia? Atau jangan-jangan pengertian dari Alwy Rahcman yang
dikatakannya malam itu adalah suatu strategi membaca untuk menemukan arti
mendalam dari karangan yang kala itu berkaitan dengan buku Tutur Jiwa Sulhan
Yusuf?
Namun ada clue yang dibeberkan Alwy
Rahcman malam itu berkaitan dengan pengertian membaca. Membaca sama artinya
dengan mendengarkan hanya bisa terlaksana jika melibatkan kepercayaan. Alwy
Rachman mendaku, kepercayaan adalah kunci dari mendengarkan. Mendengarkan kata
Alwy Rachman adalah pemberian kepercayaan kepada orang yang akan kita dengarkan
suaranya. Dengan kata lain, tanpa kepercayaan sebelumnya, sulit bagi
orang-orang mau mendengarkan perkataan dari orang lain.
Eike kira ilustrasinya juga dapat
dipahami melalui aktifitas mendengarkan itu sendiri yang ikut menghadirkan
orang yang bertutur sebagai wujud pentingnya. Berbeda dari membaca,
mendengarkan mengharuskan kehadiran sang sosok sebagai satu kesatuan yang tidak
bisa dipisahkan untuk menerbitkan pemahaman.
Suara dari sang sosok sangat
menentukan dalam suasana mendengarkan, seperti sepenting “wajah” sang sosok
sebagai bagian dari dasar pemaknaan. Mimik muka, gesture tubuh, warna wajah,
pandangan mata, gerakan bibir adalah unsur fundamental dalam hal ini. Dengan
kata lain, mendengarkan berarti sekaligus mau menerima personalitas sang sosok
sebagai sumber pemahaman.
Sementara membaca, memiliki konteks
pemaknaan yang berbeda. Membaca bukan mendasarkan dirinya pada bunyi teks,
melainkan teks itu sendiri sebagai unsur terpentingnya. Artinya, teks tanpa
bunyilah yang ditangkap di saat membaca. Di saat demikian, berarti pemaknaan
atas suatu teks adalah suatu pengertian tanpa harus mengikutkan personalitas
sang penutur atau sang sosok di balik teks. Dalam literasi kesusastraan
kontemporer, sang penutur menjadi absen pasca teks diciptakan. Sang pengarang
sudah mati kata Roland Barthes.
Itulah sebabnya mengapa Alwy
Rachman lebih memilih cara membaca dengan mendengarkan “suara” penuturnya.
Membaca yang baik adalah dengan cara mendengarkan sang penuturnya langsung.
Membaca sama artinya dengan mendengarkan karena kita mau percaya kepada budi
pekerti sang penutur. Tidak sekadar percaya kepada kata-kata, daku Alwy
Rachman.
Dengan strategi demikian, eike
menganggap Alwy Rachman sebenarnya sedang menghidupkan kembali strategi
penuturan yang ditemukan dalam tradisi kelisanan. Melalui cara itu, seperti
yang dikatakannya, Alwy Rachman dengan sendirinya menyeleksi kata-kata melalui
kategorisasi mana kata yang hanya sekadar bunyi tanpa arti, dan yang mana
sebenarnya-benarnya bunyi yang membawa pengertian mendalam.
Akhir 2016, demi kepentingan
penelitian, eike sempat bertemu Ammatoa, pemimpin masyarakat hukum adat Kajang
di Bulukumba. Seperti diketahui sebelumnya, tradisi lisan masih kukuh dipegang
masyarakat hukum adat Kajang. Seperti yang dinyatakan Ammatoa kepada eike saat
itu, tulisan memudahkan orang akan mengalami kelumpuhan ingatan di suatu titik
hidupnya. Tulisan membuat rongga ingatan manusia menjadi tidak fleksibel, tidak
berisi, mudah pecah, begitu kira-kira maknanya.
Pasang ri Kajang dikatakan Ammatoa
dituruntemurunkan melalui ingatan berdasarkan pengucapan, bukan tulisan. Itulah
sebabnya, tidak akan kita temukan selembar pun kitab Pasang ri Kajang selain
daripada tersimpan dalam ingatan orang-orang Kajang.
Penuturan lisan dalam masyarakat
hukum adat Kajang dengan begitu menduduki posisi penting dalam merawat ingatan.
Lisan yang bersandar pada bunyi dan pendengaran sebagai media epistemiknya,
merupakan dua hal yang secara kultural mampu mempertahankan komunitasnya
melalui suatu kekerabatan tanpa jarak komunikasi yang renggang secara tempat
dan waktu seperti masyarakat hari ini.
Orang-orang Kajang berbeda dari
masyarakat hari ini yang sehari-harinya mengandalkan tulisan untuk
berkomunikasi. Teks menjadi penting saat ini, sebagaimana pentingnya lisan
dalam masyarakat era sebelumnya. Secara ambivalen teks memang mampu merenggang
sampai batas waktu dan tempat yang panjang. Namun, akibat kehilangan sang sosok
dan sifatnya yang mampu memperpanjang usia dan menembus batas-batas fisik, teks
malah memperpendek daya ingat. Ingatan orang-orang modern malah mengkerut
ibarat kulit jeruk yang mengering.
Sayangnya, di samping itu, cara
masyarakat memberlakukan teks hari ini serta merta dengan cara memutus mata
rantai pemakanaan yang menghubungkan teks dengan sang penuturnya. Sosok di
balik teks diberlakukan tanpa melihat ia sebagai unsur utama dalam menangkap
makna di balik teks.
Sang sosok memang bagian periperi
dalam tradisi literasi masyarakat modern. Dia bukan pusat, apalagi sumber
pemahaman. Makna dengan sendirinya dalam masyarakat sekarang tidak sama dengan
kehadiran sang sosok sebagai lawan bicaranya. Dalam tradisi filsafat dan
religiusitas, sang sosok seperti jiwa dan Tuhan tidak sendirinya hadir dalam
usaha pencarian makna. Hidup seperti proyek pencarian pribadi, tidak harus
melibatkan siapa-siapa di dalamnya.
Dalam wacana Deridean, misalnya,
sang sosok hanyalah pecahan jejak yang tidak merujuk kepada siapa-siapa. Jika
diibaratkan makna, arti dari suatu teks hanyalah menyisakan keterpautan dengan
teks yang lain. Ibarat kamus, satu kata membutuhkan kata lainnya untuk
menjelaskan dirinya. Dengan kata lain, makna suatu kata tidak pernah ada,
selain hanya jalinan penandaan yang tak berujung merujuk kepada teks-teks baru.
Sang sosok artinya, tidak pernah ada dalam praktik penandaan Deridean.
Sementara mendengarkan, yang
akhir-akhir ini hanya bisa menangkap fhonem (bunyi), bukanlah praktik
mendengarkan seperti yang diharapkan Alwy Rachman. Teks hanya sekedar teks,
bunyi-bunyian yang lewat begitu saja. Bunyi-bunyian teks yang belakangan dapat
ditemukan dalam dunia politik, misalnya, hanya suara bising tanpa kedalaman,
tanpa gagasan, dan tanpa bobot.
Dengan maksud lain, mendengarkan
sebagai strategi membaca adalah kritik terhadap bunyi-bunyian teks tanpa
gagasan. Mendengarkan adalah cara suara ditransformasikan untuk memilih dan
memilah bobot dari bunyi-bunyi pelbagai teks selama ini. Lewat aktifitas
mendengarkan, kita mampu menelusuri siapa yang layak didengarkan, diterima dan
ditolak akibat hanya menghasilkan bunyi yang banal.
Teks menurut eike dalam pemahaman
Alwy Rachman, mesti disuarakan, dan didengarkan dalam-dalam. Ibarat wahyu dalam
tradisi kenabian, Tuhan lebih memilih “bersuara” dalam kehanifan jiwa
nabi-nabinya. Bukan memilih cara lain yang bisa saja berbeda dari “suara”
Tuhan.
Sebab itulah bunyi suara sebenarnya
begitu penting dibanding teks. Bukan saja penting, namun juga tinggi. Tiada
sebenarnya “suara” ilahi ketimbang ia berbicara melalui ketinggiannya sebagai
sang sosok, dan “bunyinya” yang ditangkap bagi jiwa-jiwa yang hanif.
Mendengarkan dengan kata lain, mau
menempatkan sang jiwa manusia kepada suatu titik yang rendah, hanif, tanpa
embel-embel kebesaran. Hanya dengan cara itulah suara mampu menembusi jiwa sang
pendengar (pembaca). Hanya melalui itulah pemahaman dapat terbit. Melalui suatu
kepercayaan. Melalui suatu pencerahan.
01 November 2017
Literasi Sampai Hati!
Tidak ada percakapan seperti
belakangan ini yang getol dibicarakan selain dari pada literasi. Sulit
dipastikan siapa yang memulainya menjadi percakapan publik sekaligus untuk
menandai semenjak kapan literasi menjadi omongan banyak kelompok masyarakat.
Namun, selain elit sastrawan dan ilmuwan yang selama ini secara terbatas
menyokong pembicaraan ini melalui kelompok-kelompok kecil terbatas, literasi
itu sendiri sudah semakin luas dibicarakan di hampir semua level masyarakat
selama kurang lebih tiga tahun belakangan ini.
Tak bisa dimungkiri, belakangan
literasi juga masuk menjadi isu utama bagi kalangan mahasiswa. Walaupun agak
fatal dan terlambat, literasi memang mau tidak mau harus didorong ibarat
gerbong tua agar mampu berjalan cepat dan berdampak efektif terhadap berubahnya
paras pengetahuan kita.
Disebut agak fatal menurut
pengalaman eike, akibat literasi diberlakukan sebagai tema baru dan bukan
senyawa yang mudah menyatu dengan dunia akademik kemahasiswaan. Padahal,
literasi sebagai suatu tradisi keilmuan adalah pekerjaan yang inheren dalam
dunia perguruan tinggi. Dengan kata lain, dua kemampuan dasar dari literasi,
yakni kemampuan mengolah informasi bacaan dan mengolah tulisan, adalah
pekerjaan utama dalam dunia pendidikan tinggi.
Riset, seminar, workshop, diskusi,
pembukuan, penerbitan, dan pengabdian adalah kerja ekslusif yang hanya
ditemukan dalam dunia pendidikan tinggi yang kesemuanya ditopang oleh literasi
sebagai modal utamanya. Disebut ekslusif karena bukan dalam dunia lain-lah
kerja-kerja diskursif itu ditemukan. Itu artinya, sebenarnya literasi adalah
pemahaman dan kebiasaan yang khas dari pendidikan perguruan tinggi.
Dikatakan agak terlambat karena
seharusnya mahasiswa-lah garda paling depan yang menyuarakan literasi sebagai
pekerjaan pokok pendidikan. Mahasiswa jika dilihat dari profesinya, adalah
kelas masyarakat yang paling mungkin menunjang literasi untuk dikampanyekan.
Selain disebabkan literasi yang sebenarnya adalah pekerjaan utamanya, juga hampir keseluruhan waktu mahasiswa itu sendiri melibatkan literasi untuk
menunjang kerja-kerja ilmiahnya.
Beberapa hari lalu, eike diundang
suatu organisasi kemahasiswaan untuk membicarakan peran literasi dalam
membangun gerakan mahasiswa. Menurut eike agak naif dan sekaligus ambisius jika
melihat keterkaitan tema dengan realitas faktual tradisi keilmuan mahasiswa
hari ini. Kenapa disebut naif, karena alasan di atas tadi, bahwa masih mengandaikan
literasi sebagai bukan bagian dari pengalaman menjadi mahasiswa. Dalam konteks
ini, literasi hanya dianggap sebagai penunjang, ibarat serabut akar yang bukan
akar tunggal.
Artinya, literasi hanya dipahami
secara teknis-metodelogis, bukan tradisi hidup yang membentuk pengalaman kultural
perguruan tinggi.
Padahal, yang diharap literasi
harus menjadi sebagai kebiasaan yang mendarah daging. Analoginya sepenting
oksigen yang mau tidak mau menjadi kebutuhan biologis tubuh agar dapat bertahan
hidup.
Eike mengatakan cenderung ambisius
karena tidak sebelumnya melihat prasyarat-prasyarat materialnya untuk dikatakan
literasi sebagai salah satu faktor dalam menentukan maju tidaknya suatu gerakan
kultural kemahasiswaan. Sudah sejauh apakah sarana dan prasarana yang selama
ini menunjang agar literasi menjadi kebiasaan bagi mahasiswa. Sudah tersediakah
buku-buku, hasil riset, hasil diskusi, video-video inovasi, film dokumenter,
makalah, jurna-jurnal, dlsb., yang memudahkan mahasiswa ketika membutuhkan
data-data berkaitan dengan tugas-tugas akademiknya?
Dalam kesempatan itu, eike katakan
saja, bahwa literasi adalah gerakan mahasiswa itu sendiri. Dia tidak bisa
dipahami sebagai hanya penunjang yang bergerak di luar dari pengalaman gerakan
mahasiswa, melainkan inti atau substansi yang melekat atau bahkan, ya itu tadi,
gerakan itu sendiri.
Itu berarti, literasi dalam skema
gerakan mahasiswa harus menjadi gerakan berbasis kultural. Dia mesti bergerak
dari bawah dan hidup dari bawah. Dia mesti lahir dari rahim kehidupan
sehari-hari mahasiswa itu sendiri.
Itulah sebabnya, eike kurang lebih
dari tiga tahun lalu berusaha sebisa mungkin mengkampanyekan literasi sebagai
isu kolektif untuk siapa pun agar mau memahami betapa pentingnya membaca dan
menulis.
Namun, bukan saja itu membaca dan
menulis hanyalah lapis kesekian dari literasi, lapis setelahnya adalah bagaimana
menghubungkan dan mengontekstualisasikan beragam pengetahuan dari lapis
sebelumnya bagi kehidupan kongkrit masyarakat. Membaca dan menulis, dengan kata
lain bukan aktifitas mandiri tanpa sangkutpautnya terhadap nasib ril
masyarakat, melainkan merupakan bagian dari tanggung jawab kita untuk ikut
membangun masyarakat.
Berkaitan dengan pilihan literasi
sebagai tema utama bagi eike selama ini, juga merupakan kritik kultural atas
tradisi gerakan kemahasiswaan yang diidentikkan dengan model gerakan ekstraparlementariat.
Malangnya, model gerakan ini mempersempit dirinya hanya sebatas jalan raya
sebagai ruang pengajuan kritiknya. Sementara jalan raya, kita tahu adalah tempat
paling ribut saat ini. Di situ tidak mungkin mendengarkan suara kebenaran. Bising.
Model gerakan jalan raya, sejauh
eike ketahui sebenarnya bukan medan asyik untuk mengajukan kritik. Logika
tindakan demonstrasi, dari pengalaman eike memang bukan untuk dijadikan sebagai
sarana kritik, tapi dia memiliki harapan yang jauh lebih besar dari pemahaman
sebagian mahasiswa saat ini, yakni untuk mengubah kebijakan publik.
Itulah sebabnya, barang siapa ingin
menggelar aksi demonstrasi mesti memiliki kekuatan yang lumayan dan jauh lebih besar
dari yang diketahui selama ini. Kita Harus memiliki gagasan yang kokoh, napas
dan semangat yang panjang, strategi dan pengalaman yang sudah teruji, serta jaringan
yang kuat dan menyentuh seluruh lini kepentingan, dan bukan saja jumlah massa
yang besar.
Juga nampaknya ada yang salah dari
paradigma gerakan mahasiswa saat ini. Aksi demonstrasi pada titik tertentu
sudah dianggap satu-satunya cara dan tujuan dari kritik. Mayoritas mahasiswa
agaknya lupa, demonstrasi hanyalah alat, dan demonstrasi adalah implikasi dari
gerakan kultural yang menjadi sumber dan basis gerakannya.
Gerakan kultural itulah yang
menurut eike adalah literasi. Melalui literasi, intropeksi panjang dilakukan,
juga sekaligus suatu cara menyusun kembali kekuatan intelektual yang belakangan
terabaikan. Artinya, literasi menjadi sarana inkubasi seluruh modal simbolik,
kultural, kapital, dan struktural dari apa yang dipunyai gerakan mahasiswa
untuk diperbarui dan diremajakan.
Harus diakui model gerakan ini
cenderung reformis, atau bahkan agak evolusionis. Literasi memang bukan tipe
gerakan massa rakyat yang revolusioner. Makanya dia agak kurang disukai bagi
mahasiswa yang menyenangi tindakan-tindakan serba praktis dan cepat. Tapi apa
boleh buat, untuk kebutuhan jangka panjang kita butuh tulisan yang revolusioner,
bacaan dari buku-buku yang revolusioner, dan juga kesabaran yang jauh lebih
revolusioner dari apa yang dirasakan selama ini. Ini memang perubahan pola,
dari aksi menuju literasi.
Memang, ini gerakan literasi sampai
hati!
Langganan:
Komentar (Atom)
Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun
Jujur saja, diam-diam Anda pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...
-
Ali Syariati muda Pemikir Islam Iran Dikenal sebagai sosiolog Islam modern karya-karya cermah dan bukunya banyak digemari di Indo...
-
Seni Memahami karangan F. Budi Hardiman SAYA merasa beberapa pokok dari buku Seni Memahami -nya F. Budi Hardiman memiliki manfaat...
-
Judul : Mengapa Aku Begitu Pandai Penulis: Friedrich Nietzsche Penerjemah: Noor Cholis Penerbit: Circa Edisi: Pertama, Januari 2019 Tebal: ...