07 November 2017

Nietzsche dan Suatu Pagi Seketika Mendung

Jika engkau haus akan kedamaian jiwa dan kebahagiaan, percayalah. Jika engkau ingin menjadi murid kebenaran, carilah.
Konon sembari berurai air mata, Nietzsche banyak meliterasikan peradaban melalui punggung tragedi. Pendakuannya tentang tragedi, pada dasarnya adalah kritik terhadap situasi sejarah abad 19 (dan abad 20) yang kehilangan dasar pemaknaannya setelah sains, kebudayaan, agama, dan filsafat hanyalah menjadi aksesoris kehidupan tanpa mampu mendudukkan manusia sebagai mahluk yang berkepribadian. Manusia, kebanyakan adalah mahluk yang tidak mau mendengarkan kebenaran, karena mereka tidak ingin ilusi mereka hancur, begitu pendakuan Nietzsche.

Manusia yang berkepribadian, dinyatakan Nietzsche adalah manusia yang sudah melampaui segala sendi nilai moralitas dengan menggerakkan kehendak pribadinya yang khas sebagai dasar perilakunya.

Dengan kata lain, manusia yang berpribadi adalah mahluk yang tahu harus berbuat apa, dengan mengandalkan kekuatannya sendiri tanpa bersandar kepada nilai-nilai yang berasal dari luar pemahamannya.

Ketika manusia menjadi asing atas pemahamannya, dan sulit bertindak atas dasar apa ia melakukan sesuatu, maka itulah yang disebut Nietzsche sebagai nihilisme. Nihilisme juga didakukan Nietzsche sebagai hilangnya dasar pemahaman manusia sebagai basis penilaiannya terhadap dunia, dan hilangnya makna hidup itu sendiri. 

Nihilisme di zaman kita

Tragedi dan nihilisme adalah dua narasi peradaban yang banyak dikritik Nietzsche. Gaung kritik ini bahkan semakin terbukti peririsannya jika pengamatan kita ditujukan kepada konteks masyarakat sekarang.

Fenomena masyarakat modern yang ditandai dengan “ledakan masyarakat kapitalis”, “totalitarianisme pasar bebas”, “kehancuran lingkungan alam”, “radikalisasi agama”, dan “melubernya arus informasi”, merupakan gejala-gejala makro yang disebabkan hilangnya makna kehidupan.

Pencarian makna manusia itu sendiri ternyata hanyalah berhenti pada wilayah permukaan yang diarahkan oleh penalaran rasional tanpa menelisik lebih jauh ke dalam wilayah sublimitas yang dimiliki manusia.

Mazhab Frankfurt, misalnya, sangat apik mendemonstrasikan bagaimana cita-cita masyarakat modern yang digerakkan sains justru berkebalikan dari cita-cita awalnya untuk membebaskan manusia dari zaman mitos. Rasio sebagai penemuan mutakhir peradaban manusia, justru menjadi faktor utamanya. Nalar tidak lagi didudukkan sebagai alat pembebasan masyarakat, melainkan menjadi apa yang disebut mazhab ini sebagai rasio instrumentalistik. Rasio jenis inilah yang belakangan mengarahkan kehidupan masyarakat modern mengalami alienasi dari keberadaan rasionya sendiri.

Padahal, sisi sublimitas manusia adalah dimensi kejiwaan yang memberikan dasar pemaknaan eksistensial (berbeda dari sisi rasional yang hanya menghubungkan manusia dari segi hubungan konseptual) terhadap pencapaian-pencapaian yang dimiliki peradaban manusia.

Itulah sebabnya, Nietzsche sendiri pernah mengatakan kehidupan tanpa musik adalah kesalahan. Mengapa musik? Di sinilah pertama-tama Nietzsche dari segi pemikirannya banyak mendudukkan kritikannya ke dalam konteks masyarakat modern yang percaya sepenuhnya hanya kepada sains sebagai satu-satunya patokan pemaknaan hidup.

Musik biar bagaimana pun adalah genre dari ekspresi estetika yang berlawanan dengan sains. Musik sebagaimana sastra, memiliki perbedaan dengan sains yang digerakkan semata-mata oleh sisi rasional manusia. Sains dengan karakternya yang demikian membentuk pemaknaan hidup hanya berdasarkan hukum-hukum logis empirik, teratur, linear, ajeg, dan fixed sehingga dunia dipandang ibarat mesin mekanik yang beku dan kaku.

Sementara musik, dalam cakrawala dunia Nietzsche adalah metafora yang digambarkannya untuk menarasikan suatu model kehidupan yang penuh gairah, semangat, pesona, dialektis, dan dinamis yang menggerakkan jiwa manusia untuk menerima hidup dengan sikap yang terbuka dan bergerak.

Manusia jika diidealisasikan menurut pemikiran Nietzsche, adalah orang-orang yang bergerak dengan sikap terbuka dengan segala kemungkinan hidup yang dimilikinya, tanpa khawatir dengan beragam hambatan dan godaan, apalagi hanya berhenti kepada satu titik yang sudah dianggap final dan fixed. Manusia dengan begitu adalah mahluk pengembara, berjalan dari satu titik pengembaraan menuju titik pengembaraan lainnya.

Di suatu pagi yang seketika mendung…

Nihilisme bisa saja datang menelusup ibarat cuaca yang seketika mendung kala pagi baru saja datang menyapa. Ketika seseorang bangun dan menemukan semuanya nampak tak berarti apa-apa. Dalam titik kesadaran tertentu, semua dan hal ihwal yang selama ini sudah dilakukan tidak memiiliki maksud dan tujuan sama sekali. Sama sekali tak berimbas apa-apa. Tidak berefek apa-apa. Tujuan hidup, nampaknya suatu hal yang sama sekali bukan titik yang memberikan arah kepastian sama sekali.

Lalu, segala dasar nampak goyah. Ibarat gerakan awan putih yang terseret topan tak terlihat. Bergerak dan hilang menipis seiring tiupan udara.

Syahdan, tidak semuanya harus diartikulasikan melalui medium rasio, seperti bahwa apa yang selama ini dipikirkan hanyalah wujud-wujud artfisial tanpa bobot. Pendasaran yang hanya menggunakan rasio sebagai intrumen tanpa mengetahui maksud terdalam dari sesuatu. Bukankah semua ini mesti dijalani? Walaupun pagi seketika berubah gelap.

05 November 2017

PILIHANAtau alunan musik yang kasip di pagi yang seketika mendung, sementara di hampir bersamaan segeletak buku hanya tersimpan diam begitu saja. Atau kisah orang-orang yang merangkak naik bersamaan dengan matahari di pagi yang entah. Atau ingatan terhadap pemahaman yang silap, tak diketahui rimbanya. Bunyi desir angin atau sentuhannya yang seolah-olah seperti benang-benang tipis yang bergerak dari ujung kakimu naik hingga ke pundak dan telingamu. Atau kehidupan yang terulang, terulang dan terulang. Atau bunyi deru mobil. Suara dentuman yang tersisa di atas langit, atau pecahan bintang yang tertinggal berjuta-juta tahun lamanya. Atau ini hanya sekadar usaha menangkap maksud di balik beragam kemungkinan. Atau bukan apa-apa. Seorang bapak tanpa menggunakan baju berdiri atau berpikir tentang sudut rumahnya yang digerayangi rumput-rumput hijau. Atau akan dia biarkan tumbuh sama halnya dia melihat anaknya yang sudah melebihi tinggi badannya. Atau memang waktu adalah sisi terbelakang dari apa yang kita ketahui. Atau memang dia tidak mungkin atau akan diketahui. Waktu atau entah apa, pada akhirnya membuat siapa pun menyadari betapa dunia sudah melebihi umurnya. Atau pernahkah kau menyadari saat melihat bebek-bebek mengecipak air selokan yang terbelah mengaliri rerumputan. Atau Rumput yang basah diterpa sinar kuning mentari. Atau Seorang ibu dan anaknya yang menuruni setapak pergi ke sekolah. Atau di atas nun jauh, rumah-rumah bersusun-susun dari bawah ke atas. Di belakangnya punggung gunung tertutupi kabut bagai kapas-kapas basah. Atau keadaan yang jauh lebih susut, tentang bukan saja air, melainkan partikel-partikel kecil di dalamnya yang bergerak tak beraturan, atau kutu-kutu yang bergerak di balik helain bulu bebek yang terkena air, dan menggelembungkan oksigen di dalam bulatan-bulatan kecil air. Atau menelusuri jauh di dalam tanah yang di atasnya tumbuh rumput-rumput, atau di sana ada kehidupan beribu binatang-binatang yang dimakan cacing tanah, rayap-rayap, beserta kerajaan semut-semut yang setiap hari menggerayangi permukaan tanah tanpa disadari siapa pun. Atau di balik anak-anak yang sedang berpergian sekolah, ada kisah sedih sejak semalam lantaran suatu sistem pendidikan membetot otot-otot sang bapak menggali lebih dalam lagi petak-petak sawah di pelosok entah di mana. Atau keluh kesah ibunya yang tak mampu mengerjakan tugas sekolah anaknya akibat disibukkan dengan pekerjaan rumah atau sudah tidak mengerti sama sekali apa sesungguhnya maksud dari mata pelajaran anaknya. Atau hal-hal di luar itu, semisal mengapa rumah-rumah di atas bukit itu disusun menyerupai anak tangga. Atau apakah persamaan antara awan basah dengan kapas, ataukah awan sebenarnya memang terbuat dari kapas. Atau sesungguhnya kapas ternyata adalah sisa-sisa awan yang jatuh sejak semalam. Atau mungkin mengenai cemara menjulang tinggi di bawah mentari meninggi. Atau jalan yang menapak di bawahnya tersisa tanah yang longsor. Warnanya kecokelatan, mengering disapu kilatan cahaya mentari. Atau pagi yang masih diiringi kabut. Tipis melayang-layang berarak kemudian pergi di balik pepohonan. Bunyi ayam-ayam sedari tadi berkokok, atau bersahutan sambung menyambung dari barat sampai selatan. Atau pohon jambu habis dipanjati anak-anak. Buahnya kemarin sore dibawa pergi. Anak-anak berkopiah sepulang mengaji, bergerombolan. Menginjaki pagar bambu mengangkat tangan di sela-sela ranting yang tak rimbun. Atau di satu rumah kulit sapi dijemur berhari-hari. Kulitnya diikat tali berwarna hijau, ditelentangkan kuat-kuat di dinding sebelah selatan. Menghadap matahari. Atau hari ini yang kasip yang seketika mendung, sementara di hampir bersamaan segeletak buku hanya tersimpan diam begitu saja.

03 November 2017

Taro Ada' Taro Gau'
Barangkali eike salah menafsirkan perkataan Alwy Rachman seorang scholar budaya, yang mengatakan membaca adalah mendengarkan. Tapi, bagi eike, melalui pengertian itu, Alwy Rachman menghendaki setiap praktik pemaknaan dalam membaca harus juga ikut melahirkan sang sosok yang sejajar dengan teks itu sendiri. Itulah sebabnya, tekanannya diletakkan kepada "suara". Dengan kata lain, strategi membaca yang diajukan Alwy Rachman, pertama-tama adalah antitesa dari praktik pemaknaan yang selama ini bersandar kepada kematian sang pengarang. Kedua, praktik membaca yang juga sekaligus mendengarkan, sebenarnya adalah suatu cara membaca yang ikut melahirkan jiwa untuk menemu-kenali budi pekerti dari sang penutur/pengarang itu sendiri. The death of author yang digaungkan Roland Barthes memang bertujuan untuk membebaskan praktik pemaknaan tidak saja kepada teks itu sendiri, melainkan kepada kebebasan pembaca untuk ikut serta memberikan kemungkinan penafsiran yang mungkin saja hadir dari suatu teks. Peralihan dari teks kepada otoritas pembaca, dari praktik pemaknaan yang ditawarkan Barthes, tidak saja berdampak dibebaskannya teks dari pengaruh pengarang, tapi juga kehadiran pembaca yang signifikan memiliki kebebasan untuk memaknai setiap teks yang ditemukannya. Itu artinya, praktik pemaknaan tidak lagi bertumpu kepada sang pengarang, namun mengalami peralihan dari sang pengarang menuju sang pembaca. Tapi, implikasinya, strategi membaca demikian akhirnya menempatkan sang penagarang bukan sebagai siapa-siapa. Dia bahkan hanya satu bagian dari beragam bagian yang memungkinkan lahirnya beragam makna. Sehingga, dengan kata lain, sang pengarang tidak punya lagi hak apa-apa selain dari pada menuliskan gagasannya dan setelah itu secara pemaknaan melepaskan tanggung jawabnya terhadap teks yang sudah dituliskannya. Mendengarkan suara sang sosok pengarang dalam membaca, seperti yang didakukan Alwy Rachman, berarti sama artinya melahirkan sang sosok pengarang di tengah-tengah praktik pemaknaan. Sang pengarang dalam hal ini juga terlibat di dalam aktifitas menangkap makna oleh sang pembaca. Tapi kaitannya dalam hal ini bukan sebagai penentu di dalam menentukan benar salahnya makna yang ditemukan, melainkan sebagai pembanding dari apa-apa yang sudah dikatakannya. Itulah kenapa, pendakuan Alwy Rachman melibatkan budi pekerti dari sang pengarang sebagai salah satu faktor fundamental dari praktik pemaknaan. Mendengarkan dengan begitu berari ikut "melihat" budi pekerti sang pengarangnya. Sudahkah kata-katanya berbunyi seperti budi pekertinya itu sendiri? Atau jangan-jangan kata-kata sang pengarang hanya bunyi-bunyian tanpa bisa dirujuk dan dibuktikannya dalam dunia budi pekertinya. Jangan cuman percaya kepada kata-kata, begitu maksud lain dari apa yang dinyatakan sebagai membaca adalah mendengarkan. Kata-kata memang membutuhkan bunyi agar maknanya terang dalam pemahaman, seperti pula kata-kata mesti lahir dari dunia pengalaman kongkrit sebagai rahimnya. Pemahaman di atas, dengan mudah dapat kita lihat afirmasinya dari peribahasa Bugis, taro ada', taro gau': seiya sekata perkataan dan perbuataan. Kata-kata hanya sebatas dengung bunyi jika tidak memiliki pembuktian dari budi pekertinya. Kembali kepada sang sosok pengarang, dunia teks berarti pula mencerminkan dunia budi pekertinya. Jangan sekadar percaya kata-kata. Mendengarkan, dengan kata lain membaca, berarti menangkap makna teks sekaligus budi pekerti sang penuturnya.


02 November 2017

Alwy Rachman: Membaca sama dengan Mendengarkan

Eike belakangan ini berusaha merenung-renungkan perkataan seorang budayawan sekaligus sosok penting bagi keberlangsungan pelbagai komunitas Literasi di Makassar, Alwy Rachman, pasca launcing dan diskusi buku Tutur Jiwa karangan Sulhan Yusuf tempo waktu di Dialektika Cafe. Saat itu Alwy Rachman mengatakan membaca adalah mendengarkan, suatu pengertian yang tidak biasa bagi eike. Bagaimana mungkin, membaca yang identik menggunakan indera penglihatan harus diartikan sama dengan mendengarkan, aktifitas yang lebih banyak melibatkan telinga. Kata yang secara literer di pengertian Alwy Rachman, seketika sepadan dengan bunyi.

Apakah ini sama berartinya bahwa tradisi literasi yang mendasarkan dirinya pada tradisi tulisan tidak berdampak signifikan terhadap masyarakat tinimbang tradisi lisan? Ataukah membaca sebenarnya tidak seperti pengertian hari ini yang hanya menyasar dimensi kognitif daripada mendengarkan yang lebih radikal menelusup hingga dimensi kejiwaan manusia? Atau jangan-jangan pengertian dari Alwy Rahcman yang dikatakannya malam itu adalah suatu strategi membaca untuk menemukan arti mendalam dari karangan yang kala itu berkaitan dengan buku Tutur Jiwa Sulhan Yusuf?

Namun ada clue yang dibeberkan Alwy Rahcman malam itu berkaitan dengan pengertian membaca. Membaca sama artinya dengan mendengarkan hanya bisa terlaksana jika melibatkan kepercayaan. Alwy Rachman mendaku, kepercayaan adalah kunci dari mendengarkan. Mendengarkan kata Alwy Rachman adalah pemberian kepercayaan kepada orang yang akan kita dengarkan suaranya. Dengan kata lain, tanpa kepercayaan sebelumnya, sulit bagi orang-orang mau mendengarkan perkataan dari orang lain.

Eike kira ilustrasinya juga dapat dipahami melalui aktifitas mendengarkan itu sendiri yang ikut menghadirkan orang yang bertutur sebagai wujud pentingnya. Berbeda dari membaca, mendengarkan mengharuskan kehadiran sang sosok sebagai satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan untuk menerbitkan pemahaman.

Suara dari sang sosok sangat menentukan dalam suasana mendengarkan, seperti sepenting “wajah” sang sosok sebagai bagian dari dasar pemaknaan. Mimik muka, gesture tubuh, warna wajah, pandangan mata, gerakan bibir adalah unsur fundamental dalam hal ini. Dengan kata lain, mendengarkan berarti sekaligus mau menerima personalitas sang sosok sebagai sumber pemahaman.

Sementara membaca, memiliki konteks pemaknaan yang berbeda. Membaca bukan mendasarkan dirinya pada bunyi teks, melainkan teks itu sendiri sebagai unsur terpentingnya. Artinya, teks tanpa bunyilah yang ditangkap di saat membaca. Di saat demikian, berarti pemaknaan atas suatu teks adalah suatu pengertian tanpa harus mengikutkan personalitas sang penutur atau sang sosok di balik teks. Dalam literasi kesusastraan kontemporer, sang penutur menjadi absen pasca teks diciptakan. Sang pengarang sudah mati kata Roland Barthes.

Itulah sebabnya mengapa Alwy Rachman lebih memilih cara membaca dengan mendengarkan “suara” penuturnya. Membaca yang baik adalah dengan cara mendengarkan sang penuturnya langsung. Membaca sama artinya dengan mendengarkan karena kita mau percaya kepada budi pekerti sang penutur. Tidak sekadar percaya kepada kata-kata, daku Alwy Rachman.

Dengan strategi demikian, eike menganggap Alwy Rachman sebenarnya sedang menghidupkan kembali strategi penuturan yang ditemukan dalam tradisi kelisanan. Melalui cara itu, seperti yang dikatakannya, Alwy Rachman dengan sendirinya menyeleksi kata-kata melalui kategorisasi mana kata yang hanya sekadar bunyi tanpa arti, dan yang mana sebenarnya-benarnya bunyi yang membawa pengertian mendalam.

Akhir 2016, demi kepentingan penelitian, eike sempat bertemu Ammatoa, pemimpin masyarakat hukum adat Kajang di Bulukumba. Seperti diketahui sebelumnya, tradisi lisan masih kukuh dipegang masyarakat hukum adat Kajang. Seperti yang dinyatakan Ammatoa kepada eike saat itu, tulisan memudahkan orang akan mengalami kelumpuhan ingatan di suatu titik hidupnya. Tulisan membuat rongga ingatan manusia menjadi tidak fleksibel, tidak berisi, mudah pecah, begitu kira-kira maknanya.

Pasang ri Kajang dikatakan Ammatoa dituruntemurunkan melalui ingatan berdasarkan pengucapan, bukan tulisan. Itulah sebabnya, tidak akan kita temukan selembar pun kitab Pasang ri Kajang selain daripada tersimpan dalam ingatan orang-orang Kajang.

Penuturan lisan dalam masyarakat hukum adat Kajang dengan begitu menduduki posisi penting dalam merawat ingatan. Lisan yang bersandar pada bunyi dan pendengaran sebagai media epistemiknya, merupakan dua hal yang secara kultural mampu mempertahankan komunitasnya melalui suatu kekerabatan tanpa jarak komunikasi yang renggang secara tempat dan waktu seperti masyarakat hari ini.

Orang-orang Kajang berbeda dari masyarakat hari ini yang sehari-harinya mengandalkan tulisan untuk berkomunikasi. Teks menjadi penting saat ini, sebagaimana pentingnya lisan dalam masyarakat era sebelumnya. Secara ambivalen teks memang mampu merenggang sampai batas waktu dan tempat yang panjang. Namun, akibat kehilangan sang sosok dan sifatnya yang mampu memperpanjang usia dan menembus batas-batas fisik, teks malah memperpendek daya ingat. Ingatan orang-orang modern malah mengkerut ibarat kulit jeruk yang mengering.

Sayangnya, di samping itu, cara masyarakat memberlakukan teks hari ini serta merta dengan cara memutus mata rantai pemakanaan yang menghubungkan teks dengan sang penuturnya. Sosok di balik teks diberlakukan tanpa melihat ia sebagai unsur utama dalam menangkap makna di balik teks.

Sang sosok memang bagian periperi dalam tradisi literasi masyarakat modern. Dia bukan pusat, apalagi sumber pemahaman. Makna dengan sendirinya dalam masyarakat sekarang tidak sama dengan kehadiran sang sosok sebagai lawan bicaranya. Dalam tradisi filsafat dan religiusitas, sang sosok seperti jiwa dan Tuhan tidak sendirinya hadir dalam usaha pencarian makna. Hidup seperti proyek pencarian pribadi, tidak harus melibatkan siapa-siapa di dalamnya.

Dalam wacana Deridean, misalnya, sang sosok hanyalah pecahan jejak yang tidak merujuk kepada siapa-siapa. Jika diibaratkan makna, arti dari suatu teks hanyalah menyisakan keterpautan dengan teks yang lain. Ibarat kamus, satu kata membutuhkan kata lainnya untuk menjelaskan dirinya. Dengan kata lain, makna suatu kata tidak pernah ada, selain hanya jalinan penandaan yang tak berujung merujuk kepada teks-teks baru. Sang sosok artinya, tidak pernah ada dalam praktik penandaan Deridean.

Sementara mendengarkan, yang akhir-akhir ini hanya bisa menangkap fhonem (bunyi), bukanlah praktik mendengarkan seperti yang diharapkan Alwy Rachman. Teks hanya sekedar teks, bunyi-bunyian yang lewat begitu saja. Bunyi-bunyian teks yang belakangan dapat ditemukan dalam dunia politik, misalnya, hanya suara bising tanpa kedalaman, tanpa gagasan, dan tanpa bobot.

Dengan maksud lain, mendengarkan sebagai strategi membaca adalah kritik terhadap bunyi-bunyian teks tanpa gagasan. Mendengarkan adalah cara suara ditransformasikan untuk memilih dan memilah bobot dari bunyi-bunyi pelbagai teks selama ini. Lewat aktifitas mendengarkan, kita mampu menelusuri siapa yang layak didengarkan, diterima dan ditolak akibat hanya menghasilkan bunyi yang banal.

Teks menurut eike dalam pemahaman Alwy Rachman, mesti disuarakan, dan didengarkan dalam-dalam. Ibarat wahyu dalam tradisi kenabian, Tuhan lebih memilih “bersuara” dalam kehanifan jiwa nabi-nabinya. Bukan memilih cara lain yang bisa saja berbeda dari “suara” Tuhan.

Sebab itulah bunyi suara sebenarnya begitu penting dibanding teks. Bukan saja penting, namun juga tinggi. Tiada sebenarnya “suara” ilahi ketimbang ia berbicara melalui ketinggiannya sebagai sang sosok, dan “bunyinya” yang ditangkap bagi jiwa-jiwa yang hanif.

Mendengarkan dengan kata lain, mau menempatkan sang jiwa manusia kepada suatu titik yang rendah, hanif, tanpa embel-embel kebesaran. Hanya dengan cara itulah suara mampu menembusi jiwa sang pendengar (pembaca). Hanya melalui itulah pemahaman dapat terbit. Melalui suatu kepercayaan. Melalui suatu pencerahan.

01 November 2017

Literasi Sampai Hati!

Tidak ada percakapan seperti belakangan ini yang getol dibicarakan selain dari pada literasi. Sulit dipastikan siapa yang memulainya menjadi percakapan publik sekaligus untuk menandai semenjak kapan literasi menjadi omongan banyak kelompok masyarakat. Namun, selain elit sastrawan dan ilmuwan yang selama ini secara terbatas menyokong pembicaraan ini melalui kelompok-kelompok kecil terbatas, literasi itu sendiri sudah semakin luas dibicarakan di hampir semua level masyarakat selama kurang lebih tiga tahun belakangan ini.

Tak bisa dimungkiri, belakangan literasi juga masuk menjadi isu utama bagi kalangan mahasiswa. Walaupun agak fatal dan terlambat, literasi memang mau tidak mau harus didorong ibarat gerbong tua agar mampu berjalan cepat dan berdampak efektif terhadap berubahnya paras pengetahuan kita.

Disebut agak fatal menurut pengalaman eike, akibat literasi diberlakukan sebagai tema baru dan bukan senyawa yang mudah menyatu dengan dunia akademik kemahasiswaan. Padahal, literasi sebagai suatu tradisi keilmuan adalah pekerjaan yang inheren dalam dunia perguruan tinggi. Dengan kata lain, dua kemampuan dasar dari literasi, yakni kemampuan mengolah informasi bacaan dan mengolah tulisan, adalah pekerjaan utama dalam dunia pendidikan tinggi.

Riset, seminar, workshop, diskusi, pembukuan, penerbitan, dan pengabdian adalah kerja ekslusif yang hanya ditemukan dalam dunia pendidikan tinggi yang kesemuanya ditopang oleh literasi sebagai modal utamanya. Disebut ekslusif karena bukan dalam dunia lain-lah kerja-kerja diskursif itu ditemukan. Itu artinya, sebenarnya literasi adalah pemahaman dan kebiasaan yang khas dari pendidikan perguruan tinggi.

Dikatakan agak terlambat karena seharusnya mahasiswa-lah garda paling depan yang menyuarakan literasi sebagai pekerjaan pokok pendidikan. Mahasiswa jika dilihat dari profesinya, adalah kelas masyarakat yang paling mungkin menunjang literasi untuk dikampanyekan. Selain disebabkan literasi yang sebenarnya adalah pekerjaan utamanya, juga hampir  keseluruhan waktu mahasiswa itu sendiri melibatkan literasi untuk menunjang kerja-kerja ilmiahnya.

Beberapa hari lalu, eike diundang suatu organisasi kemahasiswaan untuk membicarakan peran literasi dalam membangun gerakan mahasiswa. Menurut eike agak naif dan sekaligus ambisius jika melihat keterkaitan tema dengan realitas faktual tradisi keilmuan mahasiswa hari ini. Kenapa disebut naif, karena alasan di atas tadi, bahwa masih mengandaikan literasi sebagai bukan bagian dari pengalaman menjadi mahasiswa. Dalam konteks ini, literasi hanya dianggap sebagai penunjang, ibarat serabut akar yang bukan akar tunggal.

Artinya, literasi hanya dipahami secara teknis-metodelogis, bukan tradisi hidup yang membentuk pengalaman kultural perguruan tinggi.

Padahal, yang diharap literasi harus menjadi sebagai kebiasaan yang mendarah daging. Analoginya sepenting oksigen yang mau tidak mau menjadi kebutuhan biologis tubuh agar dapat bertahan hidup.

Eike mengatakan cenderung ambisius karena tidak sebelumnya melihat prasyarat-prasyarat materialnya untuk dikatakan literasi sebagai salah satu faktor dalam menentukan maju tidaknya suatu gerakan kultural kemahasiswaan. Sudah sejauh apakah sarana dan prasarana yang selama ini menunjang agar literasi menjadi kebiasaan bagi mahasiswa. Sudah tersediakah buku-buku, hasil riset, hasil diskusi, video-video inovasi, film dokumenter, makalah, jurna-jurnal, dlsb., yang memudahkan mahasiswa ketika membutuhkan data-data berkaitan dengan tugas-tugas akademiknya?

Dalam kesempatan itu, eike katakan saja, bahwa literasi adalah gerakan mahasiswa itu sendiri. Dia tidak bisa dipahami sebagai hanya penunjang yang bergerak di luar dari pengalaman gerakan mahasiswa, melainkan inti atau substansi yang melekat atau bahkan, ya itu tadi, gerakan itu sendiri.

Itu berarti, literasi dalam skema gerakan mahasiswa harus menjadi gerakan berbasis kultural. Dia mesti bergerak dari bawah dan hidup dari bawah. Dia mesti lahir dari rahim kehidupan sehari-hari mahasiswa itu sendiri.

Itulah sebabnya, eike kurang lebih dari tiga tahun lalu berusaha sebisa mungkin mengkampanyekan literasi sebagai isu kolektif untuk siapa pun agar mau memahami betapa pentingnya membaca dan menulis.

Namun, bukan saja itu membaca dan menulis hanyalah lapis kesekian dari literasi, lapis setelahnya adalah bagaimana menghubungkan dan mengontekstualisasikan beragam pengetahuan dari lapis sebelumnya bagi kehidupan kongkrit masyarakat. Membaca dan menulis, dengan kata lain bukan aktifitas mandiri tanpa sangkutpautnya terhadap nasib ril masyarakat, melainkan merupakan bagian dari tanggung jawab kita untuk ikut membangun masyarakat.

Berkaitan dengan pilihan literasi sebagai tema utama bagi eike selama ini, juga merupakan kritik kultural atas tradisi gerakan kemahasiswaan yang diidentikkan dengan model gerakan ekstraparlementariat. Malangnya, model gerakan ini mempersempit dirinya hanya sebatas jalan raya sebagai ruang pengajuan kritiknya. Sementara jalan raya, kita tahu adalah tempat paling ribut saat ini. Di situ tidak mungkin mendengarkan suara kebenaran. Bising.

Model gerakan jalan raya, sejauh eike ketahui sebenarnya bukan medan asyik untuk mengajukan kritik. Logika tindakan demonstrasi, dari pengalaman eike memang bukan untuk dijadikan sebagai sarana kritik, tapi dia memiliki harapan yang jauh lebih besar dari pemahaman sebagian mahasiswa saat ini, yakni untuk mengubah kebijakan publik.

Itulah sebabnya, barang siapa ingin menggelar aksi demonstrasi mesti memiliki kekuatan yang lumayan dan jauh lebih besar dari yang diketahui selama ini. Kita Harus memiliki gagasan yang kokoh, napas dan semangat yang panjang, strategi dan pengalaman yang sudah teruji, serta jaringan yang kuat dan menyentuh seluruh lini kepentingan, dan bukan saja jumlah massa yang besar.

Juga nampaknya ada yang salah dari paradigma gerakan mahasiswa saat ini. Aksi demonstrasi pada titik tertentu sudah dianggap satu-satunya cara dan tujuan dari kritik. Mayoritas mahasiswa agaknya lupa, demonstrasi hanyalah alat, dan demonstrasi adalah implikasi dari gerakan kultural yang menjadi sumber dan basis gerakannya.

Gerakan kultural itulah yang menurut eike adalah literasi. Melalui literasi, intropeksi panjang dilakukan, juga sekaligus suatu cara menyusun kembali kekuatan intelektual yang belakangan terabaikan. Artinya, literasi menjadi sarana inkubasi seluruh modal simbolik, kultural, kapital, dan struktural dari apa yang dipunyai gerakan mahasiswa untuk diperbarui dan diremajakan.

Harus diakui model gerakan ini cenderung reformis, atau bahkan agak evolusionis. Literasi memang bukan tipe gerakan massa rakyat yang revolusioner. Makanya dia agak kurang disukai bagi mahasiswa yang menyenangi tindakan-tindakan serba praktis dan cepat. Tapi apa boleh buat, untuk kebutuhan jangka panjang kita butuh tulisan yang revolusioner, bacaan dari buku-buku yang revolusioner, dan juga kesabaran yang jauh lebih revolusioner dari apa yang dirasakan selama ini. Ini memang perubahan pola, dari aksi menuju literasi.

Memang, ini gerakan literasi sampai hati!

22 Oktober 2017

Trinitrotoluena

Belakangan eike sulit mengucapkan kata “sensitif”, apalagi kalau itu ditambahi imbuhan dan akhiran seperti menjadi “ke-sensitiv-an”. Lidah eike sulit mendesiskan bunyi “e” kemudian “i” di waktu yang hampir bersamaan, sekaligus bunyi “a” di akhir katanya. Peralihan bunyi itulah yang membuat lidah eike sulit mengejanya. Tidak mulus, tidak lincah, bahkan.

Hal yang sama apabila eike mengucapkan kata “kreatifitas” menjadi “ke-kreatif-an”. Lidah eike seperti sulit diajak “bergoyang” dari bunyi “e”, “a”, “i”yang berubah seketika.

Akhirnya eike mencari kata-kata yang mirip gejalanya dari dua kata di atas semisal kata “pemimpin” menjadi sulit ketika diubah ke bentuk “ke-pemimpin-an”, kata “aktif” menjadi “ke-aktiv-an”, atau terma “kritis” berganti menjadi “ke-kritis-an”, atau yang paling sulit eike katakan: “eike cinta je!”

Baiklah, yang terakhir itu bukan sulit diucapkan, tapi ah, puki mak! Betapa kompleks sekaligus rumitnya konsekuensi dan arti dari kalimat yang terakhir itu. Apalagi itu terjadi pada hubungan Je dengan doi yang sampai sekarang tidak sensitif menangkap gelagat perasaan Je terhadapnya.

Tapi, lupakan soal perasaan, apalagi perasaan yang mudah sensitif belakangan ini.

Kembali ke soal utamanya. Bagi eike, nampaknya ini bukan soal tongue twister belaka, melainkan kebiasaan.

Bekangan eike sering menyaksikan terutama mahasiswa ketika bersusah payah mengucapkan kata ilmiah nan asing. Kadang juga mereka sampai harus menekuk leher hanya untuk mengucapkan satu dua nama tokoh asing yang baru pertama kali mereka ucapkan dengan benar. Bagi eike ini tanda-tanda bagaimana pengalaman terhadap bahasa tidak terbangun dengan baik. Memang, kemampuan mengucapkan kata dengan baik berbanding lurus dengan sejauh apa mereka akrab dengan budaya literasi.

Membaca adalah kunci. Eike kira itu asal usul persoalannya. Tradisi membaca akan membuat kita akrab dengan dunia kata-kata. Semakin luas dan dalam bacaan kita, semakin banyak dan ahli kita dalam suatu tema. Dengan kata lain, semakin banyak kita bertemu-kenal kata melalui membaca, semakin familiar dan mudah kata itu diucapkan.

Tapi, eike pikir ini bukan hanya soal semakin fasih tidaknya kata itu diucapkan, namun juga seberapa pahamkah kata itu dalam pemahaman seseorang. Kadang, dua hal ini tidak langsung beririsan, walaupun dalam kasus-kasus tertentu dua hal ini sangat sulit dipisahkan.

Artinya tradisi bertutur itu ikut berperan penting. Budaya menyatakan pendapat yang tidak berkembang baik dengan kata lain adalah salah satu faktor yang menyebabkan mengapa masih sering ditemukan kegagapan pengucapan kata-kata atau kalimat asing. Namun, ini bukan sekadar kata-kata itu memang asing secara literer, atau diserap dari bahasa asing, melainkan lagi-lagi seberapa akrabkah kita kepada istilah-istilah itu sendiri melalui tradisi ilmu pengetahuan.

Memang sulit ditampik, banyak kata-kata kita yang diserap melalui pelbagai bahasa asing. Arab, Portugis, Belanda, Inggris, dan bahkan Cina adalah beberapa bangsa yang dari sana ada banyak kata kita berasal.

Kalau ditelisik, bahasa Cina misalnya, banyak perbendaharaan katanya dapat dilacak sampai ke bidang kuliner, terutama yang berkaitan dengan dapur dan makanan. Kata “sate”, “bakmi”, “bakpia”, dan “pangsit”, misalnya, adalah beberapa di antaranya yang hari ini masih dipakai sebagai bahasa sehari-hari yang berasal dari negeri Tiongkok.

Kata-kata Arab, Potugis, bahkan dua negara terakhir, Belanda dan Inggris, juga dapat kita temui kata serapannya dalam bidang pendidikan, perdagangan, pemerintahan, dan politik yang mencerminkan betapa pengalaman hidup kita sebagai manusia Indonesia sangat lekat dengan kata asing dari pelbagai latar belakang kebangsaan.

Itu artinya, sudah sejak awal kita akrab dan bahkan menggunakan pelbagai bahasa asing sebagai alat komunikasi sehari-hari.

Nampaknya pengamatan eike yang berkaitan dengan tidak akrabnya kaum terpelajar terhadap istilah maupun kata teknis asing yang sering dipakai dalam dunia ilmu pengetahuan, adalah sesuatu yang mesti kita waspadai. Bisa jadi itu adalah gejala kaum terpelajar era kekinian yang semakin jauh dari tradisi ilmiah.

Padahal, melalui dunia semacam itu, artikulasi dan penafsiran tentang kenyataan akan menjadi semakin beragam dan berbeda-beda. Tidak bisa dimungkiri, melalui beragam bahasa asing dan istilah teknis, banyak fenomena yang secara gamblang terjelaskan melalui kata bersangkutan ketika dipakai. Juga banyak pengalaman-pengalaman yang tidak bisa ditemukan pemaknaannya lewat bahasa nasional, atau bahkan daerah, yang hanya bisa diwakili melalui bahasa asing.

Fenomena ini eike kira adalah akibat dari dunia yang semakin hari semakin “ter-modern-kan”. Suatu pengalaman hidup manusia yang tidak lagi sesederhana seperti ungkapan kata-kata dalam bahasa daerah, misalnya, yang berasal dari pengalaman masyarakat silam.

Dunia pengalaman manusia hari ini, yang semakin kompleks dan berkembang, mau tidak mau –tanpa mengkerdilkan peran bahasa lokal—sedikit banyaknya hanya bisa tersampaikan secara global melalui bahasa ilmu pengetahuan yang hari ini didominasi oleh kata-kata asing.

Tapi ada satu fenomena menarik berkaitan dengan penggunaan bahasa asing dalam dunia komunikasi sehari-hari. Banyak ditemukan anak-anak muda kelas menengah yang sehari-harinya mencampuradukkan dua bahasa dalam satu pengucapan ketika berbicara. Dengan maksud sebagai penanda “intelek” dan “meng-global”,  fenomena ini disebut Joss Wibisono sebagai keminggris-minggrisan. Fenomena ini seperti dinyatakan Joss Wibisono adalah gejala melemahnya nasionalisme bahasa. Dengan kata lain,  ini sebenarnya adalah suatu petunjuk bahwa kita tidak lagi pede ketika menggunakan bahasa Indonesia sebagai penghargaan terhadap nasionalisme.

Eike kira dari fenomena ini bukan berarti bahwa kaum terpelajar tidak mesti mengakrabkan diri dengan bahasa asing, namun sebenarnya dari itu adalah bagaimana pengalaman atas bahasa melalui mengenal dan akrab kepada kata-kata asing menjadi medan pembelajaran untuk memperluas pemahaman dan wawasan berpikir. Di titik ini, luasnya bahasa sama luasnya dengan cara berpikir seseorang.

Sampai di sini eike berandai-andai, kalau ada penelitian mutakhir yang melihat perubahan bentuk panjang-tebalnya lidah masyarakat Indonesia berdasarkan generasi, eike mengira lidah manusia Indonesia dari masa ke masa mengalami evolusi panjang akibat sering banyaknya menggunakan kata-kata (istilah) asing (sulit) dalam percakapan sehari-hari. Semua itu tergantung sulit dan terbiasanya kita menggunakan bahasa dan kata asing, tentunya. 

Baiklah, sulitkah lidah Je mengucapkan kata “trinitrotoluena”?

20 Oktober 2017

Pribumi

Tidak ada pengetahuan yang bebas nilai. Demikianlah yang didakukan aliran sosiologi mazhab Frankfurt. Setiap pengetahuan mencerminkan kebutuhan sosialnya. Kebutuhan praktisnya. Dalil ini sekaligus kritik mendasar terhadap positivisme logis, suatu aliran pemikiran yang berkeyakinan bahwa pengetahuan itu mesti bebas nilai. Harus objektif. Seperti apa yang ditampakkan di dalam kenyataan. Tapi, adakah kenyataan yang sebenarnya-benarnya bebas dari infiltrasi pengetahuan manusia. Dengan kata lain kenyataan yang murni tanpa bias pandangan manusia. Kenyataan objektif yang didamba-dambakan dalam sains modern? Tepat melalui pertanyaan inilah, eike kira pemahaman kita terhadap suatu segala adalah medan yang sarat kepentingan. Ketika kita mempersepsi sesuatu, menilai sesuatu, pengetahuan bukanlah kapas putih tanpa muatan noda. Setiap fakta yang kita terima, sudah dari awal dibentuk oleh keyakinan kita. Kitalah yang menghendaki fakta itu berdasarkan apa yang ingin kita terima. Manusialah yang menarasikan kenyataannya. Dengan kata lain tidak ada kenyataan yang benar-benar das ding an sich. Yang nyata tanpa persentuhannya dengan pikiran manusia. Di titik itulah eike berkeyakinan, setiap aktifitas berpikir sudah selalu mengandung motif bawaan manusia. Ibarat teori kesadaran Sigmun Freud, di belakang kesadaran, bersembunyi kepentingan hasrat libidinal. Suatu hasrat untuk memuaskan dirinya. Itulah sebabnya, menurut eike setiap pengetahuan dengan sendirinya adalah sesuatu yang bersifat ideologis. Kolonialisme eike kira adalah contoh bagaimana pengetahuan malah justru menjadi kedok untuk menjajah suatu negeri. Kita pernah mendengar dikotomi Barat yang superior dan Timur yang inferior. Masyarakat Barat yang tercerahkan dan kehidupan orang-orang Timur yang tidak berkebudayaan. Atas dasar kebudayaan, pengetahuan berkepentingan untuk menyesuaikan yang Timur mesti menjadi Barat. Yang pribumi harus menjadi masyarakat sebagaimana idealitas nilai-nilai Barat. Nampaknya kolonialisme lebih pas kedengarannya dengan apa yang diistilahkan sebagai westernisasi. Suatu terma yang pernah banyak disebut-sebut dalam ilmu-ilmu sosial untuk menandai berubahnya apa-apa yang berbau pribumi menjadi Barat. Apa-apa yang masih asing menjadi modern. Belakangan kata pribumi menjadi kesohor. Pribumi menjadi salah satu kata teknis sekaligus magis dalam pidato politik Anies Baswedan pasca dilantik sebagai gubernur baru Jakarta. Setelah itu publik gempar, pribumi menjadi gonjang-ganjing. Eike kira, kata pribumi di situ bisa ditafsirkan dengan bebas. Segala kemungkinan tindakan hermeneutika dari itu sah-sah saja diterima. Kita bisa memulainya dari keseluruhan konteks pidato Anies dan melihat apa pesan keseluruhan dari pidatonya. Atau memperlebar konteks kata itu kepada setting situasi yang jauh lebih besar, sejarah kolonialisme di bangsa ini misalnya. Atau bisa juga dilihat dari sisi konteks pertarungan politik sebelum pidato itu dibacakan. Dan, mungkin saja maknanya juga akan berbeda jika kata itu ditafsirkan seperti Anies memaknai kata itu. Dengan cara demikian, eike kira semua motif yang digunakan untuk menafsirkan diksi itu mau tidak mau dipengaruhi oleh beragam sudut penafsiran. Dan, dari tindakan itu sudah barang tentu secara moral etik berlaku kepentingan sang penafsir. Dengan kata lain, di balik kegiatan berpikir, atau usaha untuk mengartikan suatu teks, sang penafsir akan membawa kepentingan teoritik dan kebutuhan praktisnya itu sendiri. Orang-orang eike kira banyak lupa. Sekarang Anies diterima atau tidak diterima adalah juga seorang politikus. Kata-katanya serba licin. Mudah rubuh oleh bahkan kata-katanya sendiri. Artinya tidak ada yang bisa dipegang dari itu. Kata-kata dari mulut politikus ibarat gerakan akrobat: bergerak dan berubah terus menerus. Tidak stabil. Itulah mengapa jangan mudah percaya apa-apa yang diutarakan seorang politikus. Di balik setiap kata politikus senantiasa digerakkan arus pemikiran tertentu. Dan, tiada pemikiran yang tidak berpihak. Tidak berkepentingan. Hatta, seluruh pengetahuan mewakili kecenderungan dunia di mana dia lahir, dibentuk, dan dikemukakan. Tiada pengetahuan yang tidak berimplikasi secara politis. Dengan kata lain, untuk apa dan siapa pengetahuan itu diwakili?

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...