PILIHAN. Atau alunan musik yang kasip di pagi yang seketika mendung,
sementara di hampir bersamaan segeletak buku hanya tersimpan diam begitu saja.
Atau kisah orang-orang yang merangkak naik bersamaan dengan matahari di pagi
yang entah. Atau ingatan terhadap pemahaman yang silap, tak diketahui rimbanya.
Bunyi desir angin atau sentuhannya yang seolah-olah seperti benang-benang tipis
yang bergerak dari ujung kakimu naik hingga ke pundak dan telingamu. Atau
kehidupan yang terulang, terulang dan terulang. Atau bunyi deru mobil. Suara
dentuman yang tersisa di atas langit, atau pecahan bintang yang tertinggal
berjuta-juta tahun lamanya. Atau ini hanya sekadar usaha menangkap maksud di
balik beragam kemungkinan. Atau bukan apa-apa. Seorang bapak tanpa menggunakan
baju berdiri atau berpikir tentang sudut rumahnya yang digerayangi
rumput-rumput hijau. Atau akan dia biarkan tumbuh sama halnya dia melihat
anaknya yang sudah melebihi tinggi badannya. Atau memang waktu adalah sisi
terbelakang dari apa yang kita ketahui. Atau memang dia tidak mungkin atau akan
diketahui. Waktu atau entah apa, pada akhirnya membuat siapa pun menyadari
betapa dunia sudah melebihi umurnya. Atau pernahkah kau menyadari saat melihat bebek-bebek mengecipak air selokan
yang terbelah mengaliri rerumputan. Atau Rumput yang basah diterpa sinar kuning
mentari. Atau Seorang ibu dan anaknya yang menuruni setapak pergi ke sekolah.
Atau di atas nun jauh, rumah-rumah bersusun-susun dari bawah ke atas. Di
belakangnya punggung gunung tertutupi kabut bagai kapas-kapas basah. Atau
keadaan yang jauh lebih susut, tentang bukan saja air, melainkan
partikel-partikel kecil di dalamnya yang bergerak tak beraturan, atau kutu-kutu
yang bergerak di balik helain bulu bebek yang terkena air, dan menggelembungkan
oksigen di dalam bulatan-bulatan kecil air. Atau menelusuri jauh di dalam tanah
yang di atasnya tumbuh rumput-rumput, atau di sana ada kehidupan beribu
binatang-binatang yang dimakan cacing tanah, rayap-rayap, beserta kerajaan
semut-semut yang setiap hari menggerayangi permukaan tanah tanpa disadari siapa
pun. Atau di balik anak-anak yang sedang berpergian sekolah, ada kisah sedih
sejak semalam lantaran suatu sistem pendidikan membetot otot-otot sang bapak
menggali lebih dalam lagi petak-petak sawah di pelosok entah di mana. Atau
keluh kesah ibunya yang tak mampu mengerjakan tugas sekolah anaknya akibat
disibukkan dengan pekerjaan rumah atau sudah tidak mengerti sama sekali apa
sesungguhnya maksud dari mata pelajaran anaknya. Atau hal-hal di luar itu,
semisal mengapa rumah-rumah di atas bukit itu disusun menyerupai anak tangga.
Atau apakah persamaan antara awan basah dengan kapas, ataukah awan sebenarnya
memang terbuat dari kapas. Atau sesungguhnya kapas ternyata adalah sisa-sisa
awan yang jatuh sejak semalam. Atau mungkin mengenai cemara menjulang tinggi di
bawah mentari meninggi. Atau jalan yang menapak di bawahnya tersisa tanah yang
longsor. Warnanya kecokelatan, mengering disapu kilatan cahaya mentari. Atau
pagi yang masih diiringi kabut. Tipis melayang-layang berarak kemudian pergi di
balik pepohonan. Bunyi ayam-ayam sedari tadi berkokok, atau bersahutan sambung
menyambung dari barat sampai selatan. Atau pohon jambu habis dipanjati
anak-anak. Buahnya kemarin sore dibawa pergi. Anak-anak berkopiah sepulang
mengaji, bergerombolan. Menginjaki pagar bambu mengangkat tangan di sela-sela
ranting yang tak rimbun. Atau di satu rumah kulit sapi dijemur berhari-hari.
Kulitnya diikat tali berwarna hijau, ditelentangkan kuat-kuat di dinding
sebelah selatan. Menghadap matahari. Atau hari ini yang kasip yang seketika
mendung, sementara di hampir bersamaan segeletak buku hanya tersimpan diam
begitu saja.
05 November 2017
03 November 2017
Taro Ada' Taro Gau'
Barangkali
eike salah menafsirkan perkataan Alwy Rachman seorang scholar budaya, yang
mengatakan membaca adalah mendengarkan. Tapi, bagi eike, melalui pengertian
itu, Alwy Rachman menghendaki setiap praktik pemaknaan dalam membaca harus juga
ikut melahirkan sang sosok yang sejajar dengan teks itu sendiri. Itulah
sebabnya, tekanannya diletakkan kepada "suara". Dengan kata lain, strategi membaca
yang diajukan Alwy Rachman, pertama-tama adalah antitesa dari praktik pemaknaan
yang selama ini bersandar kepada kematian sang pengarang. Kedua, praktik
membaca yang juga sekaligus mendengarkan, sebenarnya adalah suatu cara membaca
yang ikut melahirkan jiwa untuk menemu-kenali budi pekerti dari sang
penutur/pengarang itu sendiri. The
death of author yang digaungkan Roland Barthes memang bertujuan untuk
membebaskan praktik pemaknaan tidak saja kepada teks itu sendiri, melainkan
kepada kebebasan pembaca untuk ikut serta memberikan kemungkinan penafsiran
yang mungkin saja hadir dari suatu teks. Peralihan dari teks kepada otoritas
pembaca, dari praktik pemaknaan yang ditawarkan Barthes, tidak saja berdampak
dibebaskannya teks dari pengaruh pengarang, tapi juga kehadiran pembaca yang
signifikan memiliki kebebasan untuk memaknai setiap teks yang ditemukannya. Itu artinya, praktik pemaknaan
tidak lagi bertumpu kepada sang pengarang, namun mengalami peralihan dari sang
pengarang menuju sang pembaca. Tapi, implikasinya, strategi
membaca demikian akhirnya menempatkan sang penagarang bukan sebagai
siapa-siapa. Dia bahkan hanya satu bagian dari beragam bagian yang memungkinkan
lahirnya beragam makna. Sehingga, dengan kata lain, sang pengarang tidak punya
lagi hak apa-apa selain dari pada menuliskan gagasannya dan setelah itu secara
pemaknaan melepaskan tanggung jawabnya terhadap teks yang sudah dituliskannya. Mendengarkan suara sang sosok
pengarang dalam membaca, seperti yang didakukan Alwy Rachman, berarti sama
artinya melahirkan sang sosok pengarang di tengah-tengah praktik pemaknaan.
Sang pengarang dalam hal ini juga terlibat di dalam aktifitas menangkap makna
oleh sang pembaca. Tapi kaitannya dalam hal ini bukan sebagai penentu di dalam
menentukan benar salahnya makna yang ditemukan, melainkan sebagai pembanding
dari apa-apa yang sudah dikatakannya. Itulah kenapa, pendakuan Alwy Rachman
melibatkan budi pekerti dari sang pengarang sebagai salah satu faktor
fundamental dari praktik pemaknaan. Mendengarkan dengan begitu berari ikut
"melihat" budi pekerti sang pengarangnya. Sudahkah kata-katanya
berbunyi seperti budi pekertinya itu sendiri? Atau jangan-jangan kata-kata sang
pengarang hanya bunyi-bunyian tanpa bisa dirujuk dan dibuktikannya dalam dunia
budi pekertinya. Jangan cuman percaya kepada
kata-kata, begitu maksud lain dari apa yang dinyatakan sebagai membaca adalah
mendengarkan. Kata-kata memang membutuhkan bunyi agar maknanya terang dalam
pemahaman, seperti pula kata-kata mesti lahir dari dunia pengalaman kongkrit
sebagai rahimnya. Pemahaman di atas, dengan mudah
dapat kita lihat afirmasinya dari peribahasa Bugis, taro ada', taro gau': seiya
sekata perkataan dan perbuataan. Kata-kata hanya sebatas dengung bunyi jika
tidak memiliki pembuktian dari budi pekertinya. Kembali kepada sang sosok
pengarang, dunia teks berarti pula mencerminkan dunia budi pekertinya. Jangan
sekadar percaya kata-kata. Mendengarkan, dengan kata lain membaca, berarti
menangkap makna teks sekaligus budi pekerti sang penuturnya.
02 November 2017
Alwy Rachman: Membaca sama dengan Mendengarkan
Eike belakangan ini berusaha
merenung-renungkan perkataan seorang budayawan sekaligus sosok penting bagi
keberlangsungan pelbagai komunitas Literasi di Makassar, Alwy Rachman, pasca
launcing dan diskusi buku Tutur Jiwa karangan Sulhan Yusuf tempo waktu di
Dialektika Cafe. Saat itu Alwy Rachman mengatakan membaca adalah mendengarkan,
suatu pengertian yang tidak biasa bagi eike. Bagaimana mungkin, membaca yang
identik menggunakan indera penglihatan harus diartikan sama dengan
mendengarkan, aktifitas yang lebih banyak melibatkan telinga. Kata yang secara
literer di pengertian Alwy Rachman, seketika sepadan dengan bunyi.
Apakah ini sama berartinya bahwa
tradisi literasi yang mendasarkan dirinya pada tradisi tulisan tidak berdampak
signifikan terhadap masyarakat tinimbang tradisi lisan? Ataukah membaca
sebenarnya tidak seperti pengertian hari ini yang hanya menyasar dimensi
kognitif daripada mendengarkan yang lebih radikal menelusup hingga dimensi
kejiwaan manusia? Atau jangan-jangan pengertian dari Alwy Rahcman yang
dikatakannya malam itu adalah suatu strategi membaca untuk menemukan arti
mendalam dari karangan yang kala itu berkaitan dengan buku Tutur Jiwa Sulhan
Yusuf?
Namun ada clue yang dibeberkan Alwy
Rahcman malam itu berkaitan dengan pengertian membaca. Membaca sama artinya
dengan mendengarkan hanya bisa terlaksana jika melibatkan kepercayaan. Alwy
Rachman mendaku, kepercayaan adalah kunci dari mendengarkan. Mendengarkan kata
Alwy Rachman adalah pemberian kepercayaan kepada orang yang akan kita dengarkan
suaranya. Dengan kata lain, tanpa kepercayaan sebelumnya, sulit bagi
orang-orang mau mendengarkan perkataan dari orang lain.
Eike kira ilustrasinya juga dapat
dipahami melalui aktifitas mendengarkan itu sendiri yang ikut menghadirkan
orang yang bertutur sebagai wujud pentingnya. Berbeda dari membaca,
mendengarkan mengharuskan kehadiran sang sosok sebagai satu kesatuan yang tidak
bisa dipisahkan untuk menerbitkan pemahaman.
Suara dari sang sosok sangat
menentukan dalam suasana mendengarkan, seperti sepenting “wajah” sang sosok
sebagai bagian dari dasar pemaknaan. Mimik muka, gesture tubuh, warna wajah,
pandangan mata, gerakan bibir adalah unsur fundamental dalam hal ini. Dengan
kata lain, mendengarkan berarti sekaligus mau menerima personalitas sang sosok
sebagai sumber pemahaman.
Sementara membaca, memiliki konteks
pemaknaan yang berbeda. Membaca bukan mendasarkan dirinya pada bunyi teks,
melainkan teks itu sendiri sebagai unsur terpentingnya. Artinya, teks tanpa
bunyilah yang ditangkap di saat membaca. Di saat demikian, berarti pemaknaan
atas suatu teks adalah suatu pengertian tanpa harus mengikutkan personalitas
sang penutur atau sang sosok di balik teks. Dalam literasi kesusastraan
kontemporer, sang penutur menjadi absen pasca teks diciptakan. Sang pengarang
sudah mati kata Roland Barthes.
Itulah sebabnya mengapa Alwy
Rachman lebih memilih cara membaca dengan mendengarkan “suara” penuturnya.
Membaca yang baik adalah dengan cara mendengarkan sang penuturnya langsung.
Membaca sama artinya dengan mendengarkan karena kita mau percaya kepada budi
pekerti sang penutur. Tidak sekadar percaya kepada kata-kata, daku Alwy
Rachman.
Dengan strategi demikian, eike
menganggap Alwy Rachman sebenarnya sedang menghidupkan kembali strategi
penuturan yang ditemukan dalam tradisi kelisanan. Melalui cara itu, seperti
yang dikatakannya, Alwy Rachman dengan sendirinya menyeleksi kata-kata melalui
kategorisasi mana kata yang hanya sekadar bunyi tanpa arti, dan yang mana
sebenarnya-benarnya bunyi yang membawa pengertian mendalam.
Akhir 2016, demi kepentingan
penelitian, eike sempat bertemu Ammatoa, pemimpin masyarakat hukum adat Kajang
di Bulukumba. Seperti diketahui sebelumnya, tradisi lisan masih kukuh dipegang
masyarakat hukum adat Kajang. Seperti yang dinyatakan Ammatoa kepada eike saat
itu, tulisan memudahkan orang akan mengalami kelumpuhan ingatan di suatu titik
hidupnya. Tulisan membuat rongga ingatan manusia menjadi tidak fleksibel, tidak
berisi, mudah pecah, begitu kira-kira maknanya.
Pasang ri Kajang dikatakan Ammatoa
dituruntemurunkan melalui ingatan berdasarkan pengucapan, bukan tulisan. Itulah
sebabnya, tidak akan kita temukan selembar pun kitab Pasang ri Kajang selain
daripada tersimpan dalam ingatan orang-orang Kajang.
Penuturan lisan dalam masyarakat
hukum adat Kajang dengan begitu menduduki posisi penting dalam merawat ingatan.
Lisan yang bersandar pada bunyi dan pendengaran sebagai media epistemiknya,
merupakan dua hal yang secara kultural mampu mempertahankan komunitasnya
melalui suatu kekerabatan tanpa jarak komunikasi yang renggang secara tempat
dan waktu seperti masyarakat hari ini.
Orang-orang Kajang berbeda dari
masyarakat hari ini yang sehari-harinya mengandalkan tulisan untuk
berkomunikasi. Teks menjadi penting saat ini, sebagaimana pentingnya lisan
dalam masyarakat era sebelumnya. Secara ambivalen teks memang mampu merenggang
sampai batas waktu dan tempat yang panjang. Namun, akibat kehilangan sang sosok
dan sifatnya yang mampu memperpanjang usia dan menembus batas-batas fisik, teks
malah memperpendek daya ingat. Ingatan orang-orang modern malah mengkerut
ibarat kulit jeruk yang mengering.
Sayangnya, di samping itu, cara
masyarakat memberlakukan teks hari ini serta merta dengan cara memutus mata
rantai pemakanaan yang menghubungkan teks dengan sang penuturnya. Sosok di
balik teks diberlakukan tanpa melihat ia sebagai unsur utama dalam menangkap
makna di balik teks.
Sang sosok memang bagian periperi
dalam tradisi literasi masyarakat modern. Dia bukan pusat, apalagi sumber
pemahaman. Makna dengan sendirinya dalam masyarakat sekarang tidak sama dengan
kehadiran sang sosok sebagai lawan bicaranya. Dalam tradisi filsafat dan
religiusitas, sang sosok seperti jiwa dan Tuhan tidak sendirinya hadir dalam
usaha pencarian makna. Hidup seperti proyek pencarian pribadi, tidak harus
melibatkan siapa-siapa di dalamnya.
Dalam wacana Deridean, misalnya,
sang sosok hanyalah pecahan jejak yang tidak merujuk kepada siapa-siapa. Jika
diibaratkan makna, arti dari suatu teks hanyalah menyisakan keterpautan dengan
teks yang lain. Ibarat kamus, satu kata membutuhkan kata lainnya untuk
menjelaskan dirinya. Dengan kata lain, makna suatu kata tidak pernah ada,
selain hanya jalinan penandaan yang tak berujung merujuk kepada teks-teks baru.
Sang sosok artinya, tidak pernah ada dalam praktik penandaan Deridean.
Sementara mendengarkan, yang
akhir-akhir ini hanya bisa menangkap fhonem (bunyi), bukanlah praktik
mendengarkan seperti yang diharapkan Alwy Rachman. Teks hanya sekedar teks,
bunyi-bunyian yang lewat begitu saja. Bunyi-bunyian teks yang belakangan dapat
ditemukan dalam dunia politik, misalnya, hanya suara bising tanpa kedalaman,
tanpa gagasan, dan tanpa bobot.
Dengan maksud lain, mendengarkan
sebagai strategi membaca adalah kritik terhadap bunyi-bunyian teks tanpa
gagasan. Mendengarkan adalah cara suara ditransformasikan untuk memilih dan
memilah bobot dari bunyi-bunyi pelbagai teks selama ini. Lewat aktifitas
mendengarkan, kita mampu menelusuri siapa yang layak didengarkan, diterima dan
ditolak akibat hanya menghasilkan bunyi yang banal.
Teks menurut eike dalam pemahaman
Alwy Rachman, mesti disuarakan, dan didengarkan dalam-dalam. Ibarat wahyu dalam
tradisi kenabian, Tuhan lebih memilih “bersuara” dalam kehanifan jiwa
nabi-nabinya. Bukan memilih cara lain yang bisa saja berbeda dari “suara”
Tuhan.
Sebab itulah bunyi suara sebenarnya
begitu penting dibanding teks. Bukan saja penting, namun juga tinggi. Tiada
sebenarnya “suara” ilahi ketimbang ia berbicara melalui ketinggiannya sebagai
sang sosok, dan “bunyinya” yang ditangkap bagi jiwa-jiwa yang hanif.
Mendengarkan dengan kata lain, mau
menempatkan sang jiwa manusia kepada suatu titik yang rendah, hanif, tanpa
embel-embel kebesaran. Hanya dengan cara itulah suara mampu menembusi jiwa sang
pendengar (pembaca). Hanya melalui itulah pemahaman dapat terbit. Melalui suatu
kepercayaan. Melalui suatu pencerahan.
01 November 2017
Literasi Sampai Hati!
Tidak ada percakapan seperti
belakangan ini yang getol dibicarakan selain dari pada literasi. Sulit
dipastikan siapa yang memulainya menjadi percakapan publik sekaligus untuk
menandai semenjak kapan literasi menjadi omongan banyak kelompok masyarakat.
Namun, selain elit sastrawan dan ilmuwan yang selama ini secara terbatas
menyokong pembicaraan ini melalui kelompok-kelompok kecil terbatas, literasi
itu sendiri sudah semakin luas dibicarakan di hampir semua level masyarakat
selama kurang lebih tiga tahun belakangan ini.
Tak bisa dimungkiri, belakangan
literasi juga masuk menjadi isu utama bagi kalangan mahasiswa. Walaupun agak
fatal dan terlambat, literasi memang mau tidak mau harus didorong ibarat
gerbong tua agar mampu berjalan cepat dan berdampak efektif terhadap berubahnya
paras pengetahuan kita.
Disebut agak fatal menurut
pengalaman eike, akibat literasi diberlakukan sebagai tema baru dan bukan
senyawa yang mudah menyatu dengan dunia akademik kemahasiswaan. Padahal,
literasi sebagai suatu tradisi keilmuan adalah pekerjaan yang inheren dalam
dunia perguruan tinggi. Dengan kata lain, dua kemampuan dasar dari literasi,
yakni kemampuan mengolah informasi bacaan dan mengolah tulisan, adalah
pekerjaan utama dalam dunia pendidikan tinggi.
Riset, seminar, workshop, diskusi,
pembukuan, penerbitan, dan pengabdian adalah kerja ekslusif yang hanya
ditemukan dalam dunia pendidikan tinggi yang kesemuanya ditopang oleh literasi
sebagai modal utamanya. Disebut ekslusif karena bukan dalam dunia lain-lah
kerja-kerja diskursif itu ditemukan. Itu artinya, sebenarnya literasi adalah
pemahaman dan kebiasaan yang khas dari pendidikan perguruan tinggi.
Dikatakan agak terlambat karena
seharusnya mahasiswa-lah garda paling depan yang menyuarakan literasi sebagai
pekerjaan pokok pendidikan. Mahasiswa jika dilihat dari profesinya, adalah
kelas masyarakat yang paling mungkin menunjang literasi untuk dikampanyekan.
Selain disebabkan literasi yang sebenarnya adalah pekerjaan utamanya, juga hampir keseluruhan waktu mahasiswa itu sendiri melibatkan literasi untuk
menunjang kerja-kerja ilmiahnya.
Beberapa hari lalu, eike diundang
suatu organisasi kemahasiswaan untuk membicarakan peran literasi dalam
membangun gerakan mahasiswa. Menurut eike agak naif dan sekaligus ambisius jika
melihat keterkaitan tema dengan realitas faktual tradisi keilmuan mahasiswa
hari ini. Kenapa disebut naif, karena alasan di atas tadi, bahwa masih mengandaikan
literasi sebagai bukan bagian dari pengalaman menjadi mahasiswa. Dalam konteks
ini, literasi hanya dianggap sebagai penunjang, ibarat serabut akar yang bukan
akar tunggal.
Artinya, literasi hanya dipahami
secara teknis-metodelogis, bukan tradisi hidup yang membentuk pengalaman kultural
perguruan tinggi.
Padahal, yang diharap literasi
harus menjadi sebagai kebiasaan yang mendarah daging. Analoginya sepenting
oksigen yang mau tidak mau menjadi kebutuhan biologis tubuh agar dapat bertahan
hidup.
Eike mengatakan cenderung ambisius
karena tidak sebelumnya melihat prasyarat-prasyarat materialnya untuk dikatakan
literasi sebagai salah satu faktor dalam menentukan maju tidaknya suatu gerakan
kultural kemahasiswaan. Sudah sejauh apakah sarana dan prasarana yang selama
ini menunjang agar literasi menjadi kebiasaan bagi mahasiswa. Sudah tersediakah
buku-buku, hasil riset, hasil diskusi, video-video inovasi, film dokumenter,
makalah, jurna-jurnal, dlsb., yang memudahkan mahasiswa ketika membutuhkan
data-data berkaitan dengan tugas-tugas akademiknya?
Dalam kesempatan itu, eike katakan
saja, bahwa literasi adalah gerakan mahasiswa itu sendiri. Dia tidak bisa
dipahami sebagai hanya penunjang yang bergerak di luar dari pengalaman gerakan
mahasiswa, melainkan inti atau substansi yang melekat atau bahkan, ya itu tadi,
gerakan itu sendiri.
Itu berarti, literasi dalam skema
gerakan mahasiswa harus menjadi gerakan berbasis kultural. Dia mesti bergerak
dari bawah dan hidup dari bawah. Dia mesti lahir dari rahim kehidupan
sehari-hari mahasiswa itu sendiri.
Itulah sebabnya, eike kurang lebih
dari tiga tahun lalu berusaha sebisa mungkin mengkampanyekan literasi sebagai
isu kolektif untuk siapa pun agar mau memahami betapa pentingnya membaca dan
menulis.
Namun, bukan saja itu membaca dan
menulis hanyalah lapis kesekian dari literasi, lapis setelahnya adalah bagaimana
menghubungkan dan mengontekstualisasikan beragam pengetahuan dari lapis
sebelumnya bagi kehidupan kongkrit masyarakat. Membaca dan menulis, dengan kata
lain bukan aktifitas mandiri tanpa sangkutpautnya terhadap nasib ril
masyarakat, melainkan merupakan bagian dari tanggung jawab kita untuk ikut
membangun masyarakat.
Berkaitan dengan pilihan literasi
sebagai tema utama bagi eike selama ini, juga merupakan kritik kultural atas
tradisi gerakan kemahasiswaan yang diidentikkan dengan model gerakan ekstraparlementariat.
Malangnya, model gerakan ini mempersempit dirinya hanya sebatas jalan raya
sebagai ruang pengajuan kritiknya. Sementara jalan raya, kita tahu adalah tempat
paling ribut saat ini. Di situ tidak mungkin mendengarkan suara kebenaran. Bising.
Model gerakan jalan raya, sejauh
eike ketahui sebenarnya bukan medan asyik untuk mengajukan kritik. Logika
tindakan demonstrasi, dari pengalaman eike memang bukan untuk dijadikan sebagai
sarana kritik, tapi dia memiliki harapan yang jauh lebih besar dari pemahaman
sebagian mahasiswa saat ini, yakni untuk mengubah kebijakan publik.
Itulah sebabnya, barang siapa ingin
menggelar aksi demonstrasi mesti memiliki kekuatan yang lumayan dan jauh lebih besar
dari yang diketahui selama ini. Kita Harus memiliki gagasan yang kokoh, napas
dan semangat yang panjang, strategi dan pengalaman yang sudah teruji, serta jaringan
yang kuat dan menyentuh seluruh lini kepentingan, dan bukan saja jumlah massa
yang besar.
Juga nampaknya ada yang salah dari
paradigma gerakan mahasiswa saat ini. Aksi demonstrasi pada titik tertentu
sudah dianggap satu-satunya cara dan tujuan dari kritik. Mayoritas mahasiswa
agaknya lupa, demonstrasi hanyalah alat, dan demonstrasi adalah implikasi dari
gerakan kultural yang menjadi sumber dan basis gerakannya.
Gerakan kultural itulah yang
menurut eike adalah literasi. Melalui literasi, intropeksi panjang dilakukan,
juga sekaligus suatu cara menyusun kembali kekuatan intelektual yang belakangan
terabaikan. Artinya, literasi menjadi sarana inkubasi seluruh modal simbolik,
kultural, kapital, dan struktural dari apa yang dipunyai gerakan mahasiswa
untuk diperbarui dan diremajakan.
Harus diakui model gerakan ini
cenderung reformis, atau bahkan agak evolusionis. Literasi memang bukan tipe
gerakan massa rakyat yang revolusioner. Makanya dia agak kurang disukai bagi
mahasiswa yang menyenangi tindakan-tindakan serba praktis dan cepat. Tapi apa
boleh buat, untuk kebutuhan jangka panjang kita butuh tulisan yang revolusioner,
bacaan dari buku-buku yang revolusioner, dan juga kesabaran yang jauh lebih
revolusioner dari apa yang dirasakan selama ini. Ini memang perubahan pola,
dari aksi menuju literasi.
Memang, ini gerakan literasi sampai
hati!
22 Oktober 2017
Trinitrotoluena
Belakangan eike sulit mengucapkan
kata “sensitif”, apalagi kalau itu ditambahi imbuhan dan akhiran seperti menjadi
“ke-sensitiv-an”. Lidah eike sulit mendesiskan bunyi “e” kemudian “i” di waktu
yang hampir bersamaan, sekaligus bunyi “a” di akhir katanya. Peralihan bunyi
itulah yang membuat lidah eike sulit mengejanya. Tidak mulus, tidak lincah,
bahkan.
Hal yang sama apabila eike
mengucapkan kata “kreatifitas” menjadi “ke-kreatif-an”. Lidah eike seperti
sulit diajak “bergoyang” dari bunyi “e”, “a”, “i”yang berubah seketika.
Akhirnya eike mencari kata-kata
yang mirip gejalanya dari dua kata di atas semisal kata “pemimpin” menjadi
sulit ketika diubah ke bentuk “ke-pemimpin-an”, kata “aktif” menjadi “ke-aktiv-an”,
atau terma “kritis” berganti menjadi “ke-kritis-an”, atau yang paling sulit
eike katakan: “eike cinta je!”
Baiklah, yang terakhir itu bukan
sulit diucapkan, tapi ah, puki mak! Betapa kompleks sekaligus rumitnya konsekuensi
dan arti dari kalimat yang terakhir itu. Apalagi itu terjadi pada hubungan Je
dengan doi yang sampai sekarang tidak sensitif menangkap gelagat perasaan Je
terhadapnya.
Tapi, lupakan soal perasaan, apalagi perasaan yang mudah sensitif belakangan ini.
Kembali ke soal utamanya. Bagi
eike, nampaknya ini bukan soal tongue twister belaka, melainkan
kebiasaan.
Bekangan eike sering menyaksikan
terutama mahasiswa ketika bersusah payah mengucapkan kata ilmiah nan asing.
Kadang juga mereka sampai harus menekuk leher hanya untuk mengucapkan satu dua
nama tokoh asing yang baru pertama kali mereka ucapkan dengan benar. Bagi eike ini
tanda-tanda bagaimana pengalaman terhadap bahasa tidak terbangun dengan baik.
Memang, kemampuan mengucapkan kata dengan baik berbanding lurus dengan sejauh
apa mereka akrab dengan budaya literasi.
Membaca adalah kunci. Eike kira itu
asal usul persoalannya. Tradisi membaca akan membuat kita akrab dengan dunia
kata-kata. Semakin luas dan dalam bacaan kita, semakin banyak dan ahli kita
dalam suatu tema. Dengan kata lain, semakin banyak kita bertemu-kenal kata
melalui membaca, semakin familiar dan mudah kata itu diucapkan.
Tapi, eike pikir ini bukan hanya soal
semakin fasih tidaknya kata itu diucapkan, namun juga seberapa pahamkah kata
itu dalam pemahaman seseorang. Kadang, dua hal ini tidak langsung beririsan,
walaupun dalam kasus-kasus tertentu dua hal ini sangat sulit dipisahkan.
Artinya tradisi bertutur itu ikut
berperan penting. Budaya menyatakan pendapat yang tidak berkembang baik dengan
kata lain adalah salah satu faktor yang menyebabkan mengapa masih sering ditemukan
kegagapan pengucapan kata-kata atau kalimat asing. Namun, ini bukan sekadar
kata-kata itu memang asing secara literer, atau diserap dari bahasa asing,
melainkan lagi-lagi seberapa akrabkah kita kepada istilah-istilah itu sendiri
melalui tradisi ilmu pengetahuan.
Memang sulit ditampik, banyak
kata-kata kita yang diserap melalui pelbagai bahasa asing. Arab, Portugis,
Belanda, Inggris, dan bahkan Cina adalah beberapa bangsa yang dari sana ada banyak
kata kita berasal.
Kalau ditelisik, bahasa Cina
misalnya, banyak perbendaharaan katanya dapat dilacak sampai ke bidang kuliner,
terutama yang berkaitan dengan dapur dan makanan. Kata “sate”, “bakmi”, “bakpia”,
dan “pangsit”, misalnya, adalah beberapa di antaranya yang hari ini masih
dipakai sebagai bahasa sehari-hari yang berasal dari negeri Tiongkok.
Kata-kata Arab, Potugis, bahkan dua
negara terakhir, Belanda dan Inggris, juga dapat kita temui kata serapannya dalam
bidang pendidikan, perdagangan, pemerintahan, dan politik yang mencerminkan
betapa pengalaman hidup kita sebagai manusia Indonesia sangat lekat dengan kata
asing dari pelbagai latar belakang kebangsaan.
Itu artinya, sudah sejak awal kita
akrab dan bahkan menggunakan pelbagai bahasa asing sebagai alat komunikasi
sehari-hari.
Nampaknya pengamatan eike yang
berkaitan dengan tidak akrabnya kaum terpelajar terhadap istilah maupun kata
teknis asing yang sering dipakai dalam dunia ilmu pengetahuan, adalah sesuatu
yang mesti kita waspadai. Bisa jadi itu adalah gejala kaum terpelajar era
kekinian yang semakin jauh dari tradisi ilmiah.
Padahal, melalui dunia semacam itu,
artikulasi dan penafsiran tentang kenyataan akan menjadi semakin beragam dan
berbeda-beda. Tidak bisa dimungkiri, melalui beragam bahasa asing dan istilah
teknis, banyak fenomena yang secara gamblang terjelaskan melalui kata
bersangkutan ketika dipakai. Juga banyak pengalaman-pengalaman yang tidak bisa ditemukan
pemaknaannya lewat bahasa nasional, atau bahkan daerah, yang hanya bisa
diwakili melalui bahasa asing.
Fenomena ini eike kira adalah
akibat dari dunia yang semakin hari semakin “ter-modern-kan”. Suatu pengalaman
hidup manusia yang tidak lagi sesederhana seperti ungkapan kata-kata dalam bahasa daerah, misalnya, yang berasal dari pengalaman
masyarakat silam.
Dunia pengalaman manusia hari ini, yang semakin kompleks dan berkembang, mau tidak mau –tanpa mengkerdilkan peran bahasa lokal—sedikit banyaknya hanya bisa tersampaikan secara global melalui bahasa ilmu pengetahuan yang hari ini didominasi oleh kata-kata asing.
Tapi ada satu fenomena menarik
berkaitan dengan penggunaan bahasa asing dalam dunia komunikasi sehari-hari.
Banyak ditemukan anak-anak muda kelas menengah yang sehari-harinya
mencampuradukkan dua bahasa dalam satu pengucapan ketika berbicara. Dengan
maksud sebagai penanda “intelek” dan “meng-global”, fenomena ini disebut Joss Wibisono sebagai
keminggris-minggrisan. Fenomena ini seperti dinyatakan Joss Wibisono adalah
gejala melemahnya nasionalisme bahasa. Dengan kata lain, ini
sebenarnya adalah suatu petunjuk bahwa kita tidak lagi pede ketika menggunakan
bahasa Indonesia sebagai penghargaan terhadap nasionalisme.
Eike kira dari fenomena ini bukan
berarti bahwa kaum terpelajar tidak mesti mengakrabkan diri dengan bahasa asing,
namun sebenarnya dari itu adalah bagaimana pengalaman atas bahasa melalui mengenal dan
akrab kepada kata-kata asing menjadi medan pembelajaran untuk memperluas
pemahaman dan wawasan berpikir. Di titik ini, luasnya bahasa sama luasnya
dengan cara berpikir seseorang.
Sampai di sini eike berandai-andai,
kalau ada penelitian mutakhir yang melihat perubahan bentuk panjang-tebalnya
lidah masyarakat Indonesia berdasarkan generasi, eike mengira lidah manusia Indonesia
dari masa ke masa mengalami evolusi panjang akibat sering banyaknya menggunakan
kata-kata (istilah) asing (sulit) dalam percakapan sehari-hari. Semua itu
tergantung sulit dan terbiasanya kita menggunakan bahasa dan kata asing,
tentunya.
Baiklah, sulitkah lidah Je mengucapkan kata “trinitrotoluena”?
Baiklah, sulitkah lidah Je mengucapkan kata “trinitrotoluena”?
20 Oktober 2017
Pribumi
Tidak ada pengetahuan yang bebas nilai. Demikianlah yang didakukan aliran
sosiologi mazhab Frankfurt. Setiap pengetahuan mencerminkan kebutuhan
sosialnya. Kebutuhan praktisnya. Dalil ini sekaligus kritik mendasar terhadap
positivisme logis, suatu aliran pemikiran yang berkeyakinan bahwa pengetahuan
itu mesti bebas nilai. Harus objektif. Seperti apa yang ditampakkan di dalam
kenyataan. Tapi, adakah kenyataan yang sebenarnya-benarnya bebas dari
infiltrasi pengetahuan manusia. Dengan kata lain kenyataan yang murni tanpa
bias pandangan manusia. Kenyataan objektif yang didamba-dambakan dalam sains
modern? Tepat melalui pertanyaan inilah, eike kira pemahaman kita terhadap
suatu segala adalah medan yang sarat kepentingan. Ketika kita mempersepsi
sesuatu, menilai sesuatu, pengetahuan bukanlah kapas putih tanpa muatan noda.
Setiap fakta yang kita terima, sudah dari awal dibentuk oleh keyakinan kita.
Kitalah yang menghendaki fakta itu berdasarkan apa yang ingin kita terima.
Manusialah yang menarasikan kenyataannya. Dengan kata lain tidak ada kenyataan
yang benar-benar das ding an sich. Yang nyata tanpa persentuhannya dengan pikiran
manusia. Di titik itulah eike berkeyakinan, setiap aktifitas berpikir sudah
selalu mengandung motif bawaan manusia. Ibarat teori kesadaran Sigmun Freud, di
belakang kesadaran, bersembunyi kepentingan hasrat libidinal. Suatu hasrat
untuk memuaskan dirinya. Itulah sebabnya, menurut eike setiap pengetahuan
dengan sendirinya adalah sesuatu yang bersifat ideologis. Kolonialisme eike
kira adalah contoh bagaimana pengetahuan malah justru menjadi kedok untuk
menjajah suatu negeri. Kita pernah mendengar dikotomi Barat yang superior dan
Timur yang inferior. Masyarakat Barat yang tercerahkan dan kehidupan
orang-orang Timur yang tidak berkebudayaan. Atas dasar kebudayaan, pengetahuan
berkepentingan untuk menyesuaikan yang Timur mesti menjadi Barat. Yang pribumi
harus menjadi masyarakat sebagaimana idealitas nilai-nilai Barat. Nampaknya
kolonialisme lebih pas kedengarannya dengan apa yang diistilahkan sebagai westernisasi.
Suatu terma yang pernah banyak disebut-sebut dalam ilmu-ilmu sosial untuk
menandai berubahnya apa-apa yang berbau pribumi menjadi Barat. Apa-apa yang
masih asing menjadi modern. Belakangan kata pribumi menjadi kesohor. Pribumi
menjadi salah satu kata teknis sekaligus magis dalam pidato politik Anies
Baswedan pasca dilantik sebagai gubernur baru Jakarta. Setelah itu publik
gempar, pribumi menjadi gonjang-ganjing. Eike kira, kata pribumi di situ bisa
ditafsirkan dengan bebas. Segala kemungkinan tindakan hermeneutika dari itu
sah-sah saja diterima. Kita bisa memulainya dari keseluruhan konteks pidato
Anies dan melihat apa pesan keseluruhan dari pidatonya. Atau memperlebar
konteks kata itu kepada setting situasi yang jauh lebih besar, sejarah
kolonialisme di bangsa ini misalnya. Atau bisa juga dilihat dari sisi konteks
pertarungan politik sebelum pidato itu dibacakan. Dan, mungkin saja maknanya
juga akan berbeda jika kata itu ditafsirkan seperti Anies memaknai kata itu.
Dengan cara demikian, eike kira semua motif yang digunakan untuk menafsirkan
diksi itu mau tidak mau dipengaruhi oleh beragam sudut penafsiran. Dan, dari
tindakan itu sudah barang tentu secara moral etik berlaku kepentingan sang
penafsir. Dengan kata lain, di balik kegiatan berpikir, atau usaha untuk
mengartikan suatu teks, sang penafsir akan membawa kepentingan teoritik dan
kebutuhan praktisnya itu sendiri. Orang-orang eike kira banyak lupa. Sekarang
Anies diterima atau tidak diterima adalah juga seorang politikus. Kata-katanya
serba licin. Mudah rubuh oleh bahkan kata-katanya sendiri. Artinya tidak ada
yang bisa dipegang dari itu. Kata-kata dari mulut politikus ibarat gerakan
akrobat: bergerak dan berubah terus menerus. Tidak stabil. Itulah mengapa
jangan mudah percaya apa-apa yang diutarakan seorang politikus. Di balik setiap
kata politikus senantiasa digerakkan arus pemikiran tertentu. Dan, tiada
pemikiran yang tidak berpihak. Tidak berkepentingan. Hatta, seluruh pengetahuan
mewakili kecenderungan dunia di mana dia lahir, dibentuk, dan dikemukakan.
Tiada pengetahuan yang tidak berimplikasi secara politis. Dengan kata lain,
untuk apa dan siapa pengetahuan itu diwakili?
19 Oktober 2017
5 Lagu Mahasiswa-Perjuangan yang Tidak Lagi Akrab di Telinga Generasi Mahasiswa Zaman Now
Tidak bisa dimungkiri, karakter,
kecenderungan, dan cara pandang mahasiswa era kiwari jauh berbeda dari dua
generasi sebelumnya. Perbedaan ini sangat terasa dari perubahan kehidupan
kultural yang mereka lakonkan.
Terutama generasi Z, cara mereka
menjalani hidup jauh lebih variatif dan unik. Seperti hasil riset dari
Tirto.id, jika ditilik, dari segi fesyen, mahasiswa-generasi Z lebih menyukai
membeli produk di mal-mal atau pusat-pusat perbelanjaan yang dirasa lebih
mewakili selera berbusana mereka. Sehari generasi ini bisa menghabiskan tiga
sampai lima jam mengakses internet melalui gawai canggih mereka. Jika hendak
memenuhi hajat perut, generasi Z gampag ditemui di tempat makan siap saji
semisal KFC, Pizza Hut, atau pun McD.
Pilihan liburan dan hiburan
generasi Z juga mengalami perubahan. Generasi Z banyak menghabiskan uangnya di
tempat-tempat wisata alam semisal gunung atau pun pantai. Mengenai hiburan di
bidang musik, generasi Z senang mendengarkan musik-musik pop dari mancanegara
atau dari tanah air sendiri. Bahkan, untuk urusan film, streaming adalah salah
satu cara mereka menikmati film-film yang sedang naik daun. Dan yang paling
mencolok, generasi Z senang menghabiskan waktu mereka dengan game online atau berbasis aplikasi melalui gawai
kece mereka.
Eike punya pengalaman subjektif
berkaitan dengan tradisi intelektualisme yang generasi Z perankan di dalam
kampus. Terkhusus pengalaman atas lagu-lagu mahasiswa-perjuangan yang di zaman
eike masih saban hari terdengar di sekretariat-sekretariat kemahasiswaan, kini
sudah sangat jarang eike temu-dengarkan.
Memang jika diperhatikan, 5 lima
daftar lagu mahasiswa perjuangan di bawah ini sudah tidak lagi menjadi bagian
dari idealisme, pengalaman, dan kebudayaan intelektualisme mahasiswa zaman now.
1. Apa Guna- Wiji Thukul/Sanggar
Satu Bumi/Jaker
Lagu ini diambil dari puisi Wiji
Thukul yang berjudul Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu. Di masa-masa eike
menjadi mahasiswa, lagu ini kerap dipakai untuk menyindir-nyindir golongan
mahasiswa yang masuk kategori “pembelajar tanpa aksi”. Yang menarik dan
sekaligus asyik dari lagu ini ketika dinyanyikan adalah pesannya yang lugas
tanpa bersembunyi dibalik kata-kata yang bersayap. Kemungkinan ini karena sifat
puisi Wiji Thukul yang memang lugas membahasakan pesan puisinya itu sendiri.
Belakangan lagu ini diaransemen
ulang oleh anak Wiji Thukul yang tergabung dalam band indi Merah Bercerita.
2. Darah Juang- Aktivis Partai
Rakyat Demokratik (PRD)
Saat Pramoedya Ananta Toer
dikebumikan, sejumlah mahasiswa mengiringi jazad sastrawan yang dimusuhi Orba
dengan lagu ini. Ada juga versi yang mengatakan di saat dikebumikan malah lagu
Internasionale-lah yang mengiringinya.
Di tahun 1991, John Tobing, Dadang
Juliantara, dan Boediman Sudjatmiko adalah nama-nama yang melahirkan lagu ini
yang saat itu adalah anggota dari Partai Rakyat Demokratik, organisasi
mahasiswa kiri yang bercita-cita melawan rezim represif Orde Baru.
Berdasarkan pengalaman eike, Darah
Juang adalah lagu yang paling sering menjadi pilihan utama ketika musim ospek
dilakukan. Lagu ini juga kerap dikumandangkan jika mahasiswa “turun aksi” di
jalanan. Bagi sebagaian mahasiswa lagu ini bahkan punya arti tersendiri, tapi
bukan untuk dipakai memikat mahasiswi baru yang “unyu-unyu” itu, loh…
3. Kesaksian- Kantata Takwa
Lagu yang liriknya ditulis oleh W.S Rendra ini
menurut eike adalah lagu perjuangan yang besar pengaruhnya terhadap emosi
pendengarnya. Walaupun bukan sepenuhnya bercerita tetang kematian, jika lagu
ini dinyanyikan dalam momen-momen mengenang mahasiswa, aktivis, maupun orang-orang
semisal pejuang kemanusiaan yang mati secara tidak adil di bawah kekuasaan yang
tiranik, mampu membuat pendengarnya
berlinang air mata. Melalui suara Iwan Fals, walaupun bukan diciptakan oleh
kelompok mahasiswa tertentu, lagu ini kudu wajib dihapal bagi Je yang mendaku
sebagai agen perubahan.
4. Pembebasan a.k.a “Buruh Tani” –
Syafi’I Kemamang aktivis PRD
Inilah salah satu lagu
mahasiswa-perjuangan yang lahir dan ikut dinyanyikan sebelum dan sesudah
reformasi. Lagu ini diciptakan Safi’i Kemamang, seorang aktivis dari Partai
Rakyat Demokratik (PRD) Jawa Timur.
Seperti dinyatakan penulisnya, lagu
ini memiliki semangat untuk menyatukan elemen pergerakan dari pihak mahasiswa,
buruh, kaum tani, dan golongan miskin kota, yang menjadi pihak paling tertindas
dari kebijakan rezim Orba saat itu.
Seperti halnya lagu Darah Juang,
lagu ini diciptakan dalam rangka untuk menyemangati perjuangan rakyat dan
mahasiswa.
5. Internasionale- Eugene Pottier
Jika ada lagu yang mewakili kelas
tertindas nan papa, Internasionale-lah lagunya. Bagi kawan-kawan berhaluan
pemikiran kiri, lagu ini bukan sekadar lagu, melainkan suatu paradigma kelas
yang dinotasikan melalui musik. Lagu ini diciptakan Eugene Pottier, seorang
penyair proletariat, tukang kayu dan sekaligus anggota Komune Perancis di tahun
1871. Eugene menciptakan sajaknya untuk
menyemangati perjuangan kelas pekerja di masa-masa Eropa, terkhusus Perancis
mengalami pergolakan sosial. Uni Soviet pernah menjadikan lagu ini sebagai lagu
kebangsaannya dari tahun 1922-1940.
Yang menarik dari lagu ini adalah
beragamnya versi setelah diterjemahkan melalui bermacam-macam bahasa. Di
Indonesia lagu ini diterjemahkan Ki Hajar Dewantara melalui bahasa Belanda.
Walaupun demikian, terjemahan Ki Hajar Dewantara banyak menuai kritik dari kaum
komunis internasional lantaran menghilangkan semangat proletariat yang sangat
kental dari bahasa aslinya.
Itulah lima lagu
mahasiswa-perjuangan yang secara organik menjadi penyemangat dan ikut mewarnai
perjuangan mahasiswa dan golongan masyarakat yang selama ini terpinggirkan.
Sekarang apa boleh buat, PDI perjuangan memang sudah berubah!
Langganan:
Komentar (Atom)
Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun
Jujur saja, diam-diam Anda pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...
-
Ali Syariati muda Pemikir Islam Iran Dikenal sebagai sosiolog Islam modern karya-karya cermah dan bukunya banyak digemari di Indo...
-
Seni Memahami karangan F. Budi Hardiman SAYA merasa beberapa pokok dari buku Seni Memahami -nya F. Budi Hardiman memiliki manfaat...
-
Judul : Mengapa Aku Begitu Pandai Penulis: Friedrich Nietzsche Penerjemah: Noor Cholis Penerbit: Circa Edisi: Pertama, Januari 2019 Tebal: ...