09 Maret 2016

internasional women's day

Bukan siapasiapa selain perempuan, hanya perempuan, yang bisa bikin maju kaumnya. Kiwari, perempuan harus maju di depan dengan sikap percaya diri, dengan keberaniannya. Perempuan bisa jadi apa saja; guru, direktur perusahaan, pebalap, ilmuwan, supir angkutan, penyair dsb.

Sejarah sudah banyak sebut contoh soal perempuanperempuan hebat. Mulai dari ujung Sumatera hingga ujung timur Indonesia. Dari masa lalu sampai hari ini. Di situ banyak sosok, juga pokok.

Perempuanperempuan yang berjuang di masa lalu bukan saja bergerak atas nama kaumnya, tapi karena rasa keadilan. Mereka punya kesadaran bahwa semua punya hak diperlakukan sama. Perempuan, sama halnya lakilaki adalah bagian dari umat yang sama, karena itu tidak bisa dibedakabedakan.

Makanya pokok itu yang penting, bahwa perempuan juga sama dengan lakilaki. Tidak ada perbedaan mencolok antara perempuan dengan lakilaki selain struktur anatomisnya. Perempuan dan lakilaki hanya beda biologis, selebihnya sama saja.

Yang malang, kadang masih banyak orangorang menempatkan perempuan sebagai kaum nomor dua. Mendeskripsikan perempuan sebagai manusia yang tidak sempurna, yang semuanya berasal dari perbedaan biologis. Akibatnya, di dalam tatanan sosial, perempuan jadi bulanbulanan objek penindasan.

07 Maret 2016

catatan kelas menulis PI, pekan 7

Pekan ke tujuh, kelas menulis PI agak molor. Hampir dua jam. Kesepakatannya, kelas harus dibuka pukul satu siang. Minggu lalu masih menumpuk beberapa tulisan, makanya perlu tambah waktu. Tapi, kelas dimulai sekira pukul tiga. Kawankawan satu persatu datang. Kelas mulai ramai.

Yang buka kelas Heri. Saya, yang diplot jadi ketua kelas memilih bagi tugas. Kebiasaan ini agaknya perlu, sembari mengedukasi kawankawan, bahwa kepemimpinan tidak mesti diampu sendiri. Saya kira kepemimpinan harus jadi kolektif. Maksudnya: agar tidak dominan.

Soal kepemimpinan, agaknya mesti diujicobakan, terutama sifatnya yang kolektif. Kelas menulis PI sebenarnya sudah digerakkan sistem. Persona, yang sering jadi motor bukan rumus paten. Di kelas menulis, fungsi diutamakan tinimbang sosok. Fungsi adalah pokok.

Itulah kenapa, kepemimpinan harus dipengalamanbersamakan. Kawankawan bisa silih berganti, jadi ketua, sebagai fungsi. Artinya, kelas tetap berjalan tanpa digerakkan status, tapi peran yang bisa disematkan kepada siapa saja.

Sudah jadi tradisi, kritik karya tulis jadi prioritas. Empat belas naskah digeledah, sekalikali didedah. Awalnya, kawankawan sudah mendedah karya tulisnya, macammacam. Tapi, hanya ada dua genre; esai dan cerpen. Tajuknya yang purnaragam, soal tulisan yang menyitir falsafah dasar manusia, sampai Nietzsche, filsuf yang menganggap dirinya dinamit itu. Puisi, yang kerap jadi bahan omongan, kali ini absen.

Yang pokok dari pekan ini nampaknya karya tulis Sulhan Yusuf. Sudah ghirahnya barangkali, pendiri PI ini menulis esai. Ini bukan pengecualian bahwa puisi juga jadi pilihan literasinya. Cuman, esainya kali ini digadang punya bentuk baru. Bilangnya, setiap paragrafnya bisa mandiri bila berdiri sendiri.

Ini mirip, sebut saja air. Rumus kimiawinya, air dibentuk hidrogen dan oksigen yang masingmasing bisa lepas dan berdiri sendiri. Namun, kesemuanya jadi unsur baru tanpa meleburkan masingmasing identitas. Hidrogen tetaplah hidrogen, dan oksigen hanyalah oksigen walaupun bersatu dalam air. Masingmasing otonom.

Tulisan Sulhan Yusuf, diberi judul "Pendidikan Literasi dan Politik." Kalau tidak salah disusun oleh duabelas paragraf. Kalau dibilang setiap paragraf bisa mandiri, artinya bila dicomot satu paragraf tidak mengubah inti gagasan secara keseluruhan. Begitu juga lain sisi, paragraf yang sudah dicomot, jadi gagasan baru yang bisa dikembangkan. Kirakira begitu yang diajukan saat Sulhan mendedah karya tulisnya.

Saya kira, ini soal baru. Pasalnya, kalau dilihatlihat, struktur paragraf tulisan kawankawan pakai pola linear. Model ini gaya konvensional, yakni setiap paragraf dibiarkan bergerak berdasarkan kaidahkaidah garis lurus. Skemanya seperti linearitas bilangan asli; 1-10. Akibatnya, jika angka 2 atau 7 dicopot, maka runutannya akan berhamburan. Pikiran akan merasai agaknya ada yang tidak inklud dalam hitungan.

Dari obrolan pasca kelas, diketahui kalau macam tulisan Sulhan Yusuf, bukannya tanpa pola, justru seperti yang disebutnya memakai pola zigzag. Pola ini nampak jelas kalau hubungannya dilihat dari skema paragraf satu dengan paragraf tiga, paragraf dua dengan empat, lima dengan tujuh, enam dengan delapan, sembilan berpasangan dengan paragraf sebelas, begitu seterusnya.

Tidak semua tulisan habis digeledah. Soalnya waktu dirasa minim. Akibatnya, simpulannya dibuat mapat jadi dua garis besar; EYD, dan konten tulisan. Dua hal ini memang setua kehadiran karya tulis. Kalau mau ditarik ke belakang, ke masa filsuffilsuf, soal gaya dan isi sudah problematik. Makanya, saya kira ini juga jadi perkara laten di kelas menulis PI. Memang sudah dari sononya perkara ini dimulai. Jadi, agaknya perlu sikap sabar. Soal EYD dan konten hanya soal waktu belaka. Lamalama akan punah sendirinya.

Cuman ada wantiwanti, kalau EYD bukan lagi harus jadi kasus primer. Ini perkara elementer, artinya kawankawan harus punya sikap serius berbenah diri. Kawankawan harus disiplin mengajukan kritik internal kalau tulisan yang dilahirkan sudah layak baca. Salah satu ukuran layak baca, tidak ada lagi dosa purba EYD. Bersih.

Jelang magrib, sisa waktu, dipakai obrolobrol lepas, tapi jelas. Pertama, lagilagi soal kasus Saut Situmorang. Tak jelas siapa yang mulai, tibatiba saja sudah diomongkan. Agaknya, beberapa kawankawan belum tahu soal ini, makanya ada sedikit ulasan kalau kasus ini sedang masa persidangan dengan Saut tersangkanya. Juga sempat diungkap ulang kronologis polemik yang disulut buku "33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh." Dua, bahkan tiga nama disebut; Denny J.A, Fatin Hammama, dan Saut sendiri, yang sedang bersengketa hukum.

Tapi, setidaknya ada dua poin genting buat kawankawan. Pertama, menjadi sastrawan, atau profesi apapun butuh proses panjang. Tidak ada usaha karbitan menjadi profesi yang dimaui. Segala butuh disiplin dan ketekunan. Di balik, misalnya, Pramoedya Ananta Toer, ada beriburibu peristiwa untuk disebut sastrawan besar. Di setiap profesi, selalu mengandung pertaruhan waktu. Barangsiapa gigih, dia tuai hasil.

Kedua, puisi esai yang lekat dengan jenis baru Denny J.A. Ini perkara baik untuk bisa masuk di wacana yang lebih luas. Maksudnya, lewat model yang diperkenalkan Denny J.A, puisi esai, kawankawan bisa sekaligus mengumbar macammacam jenis atau bentuk puisi. Atau, bahkan mempersoalkan apakah yang ditulis Denny J.A merupakan puisi? Kalau iya, adakah model semacam itu sebelumnya? Kalau tidak, kenapa disebut puisi esai? Apa itu puisi esai? Dsb.

Obrolan juga sempat singgung politik sastra. Ini agak peka, perkara bawabawa mazhab sastra. Di kelas menulis, soal ini kurang dapat perhatian. Ini hanya perbincangan orangorang tertentu. Kelas menulis prinsipnya tak hirau soalsoal macam itu. Toh kalau ada, lagilagi itu hanya melibatkan segelintir orangorang. Kelas menulis terbuka segala macam mazhab kesusastraan, mulai dari realisme sampai lirisme. Dari humanisme universal hingga sastra sebagai panglima.

Pasca makan malam bersama, kelas menulis PI lakukan evaluasi. Yang utama ihwal keseriusan membangun tradisi membaca dan menulis. Juga, bagaimana kawankawan banyak membaca karangan penulis ternama, tujuannya agar bisa membangun sudut pandang. Begitu juga cerpen, bagi yang senang menulisnya bisa bereksperimen seperti apa konflik menjadi unsur utama cerita. Bagaimana menciptakan karakter, membangun plot, dan menutup cerita dengan ending memesona.

Kala juga jadi sorotan, terutama soal jumlah tulisan yang mau dimuat . Selebaran ini, sekali terbit sampai edisi ke tujuh hanya menurunkan dua tulisan. Jika dua tulisan menyisakan kolom kosong di halaman terakhir, redaksilah yang mengisi. Keadaan ini sudah tiga pekan terjadi, yang artinya tugas redaksi harus mengisinya. Ini akibat minimnya tulisan yang masuk ke meja redaksi. Walaupun tulisan selalu diambil dari karya kawankawan, tetap saja minim. Makanya, mulai pekan depan sudah ada mekanisme menentukan tulisan siapa layak muat. Ini sekaligus menjadi ajang saing, internal kelas menulis tentunya.

Yang baru dari Kala, mulai terbitan minggu depan, kolom yang sering diisi redaksi akibat ruang kosong akan diampu langsung Sulhan Yusuf. Halaman terakhir ini mirip Catatan Pinggir Tempo yang ditulis Goenawan Mohammad, atau Catatan Dahlan Iskan di kolom koran besutan Jawa Pos. Artinya, pria berkepala plontos ini harus menulis sekira 500 kata tiap akhir pekan di kolom yang direncanakan mengambil nama "Unjuk Rasa."

Akhir kelas, kawankawan menaruh perhatian soal swasembada di sektor ekonomi. Keputusan menerapakan iuran dirasa perlu akibat kebutuhan kelas. Kebijakan ini sekaligus jadi indikator seberapa jauh perhatian kawankawan terhadap keberlangsungan kelas menulis PI. Alokasinya bisa banyak hal, mulai air minum, langganan koran, sampai ongkos produksi selebaran Kala. Selebihnya barangkali hanya buat kebutuhan teknis.

Yang terakhir, ada kesadaran membuat website. Pilihan ini masih mau dibicarakan kembali, berhubung Icha punya pengalaman membuat website. Soal kelanjutannya, agaknya jadi tanggung jawab Icha, kawan yang sudah dua pekan terlibat kelas menulis PI. Kalau diamanahkan dia siap. Kelas sepakat.

Awal maret, seorang kawan merasai tulisan pertamanya terbit. Saya kira, bagi penulis manapun, tulisan pertama tembus surat kabar punya kesan yang sulit dilukis. Tapi, kalau ibarat warna, hati Ishak Boufakar sudah berubah jadi warna lapislapis pelangi yang tetiba tumpah, meleleh dan saling menindih. Teradukaduk. Bercampur. Warnawarni.

Syahdan, ini awal Maret yang panas. Seperti akhir Februari yang basah, awal Maret jadi deret pekan yang menyulut asa. Tidak boleh seret, besok, di pekan yang lain, kertas masih banyak kosong. Tulislah, semampunya saja.


06 Maret 2016

Bertanya itu Bukan Tabu


Henry A. Giroux 
Kritikus budaya dan Amerika . Salah satu teoritikus pendiri pedagogi kritis di Amerika Serikat 
Giroux terkenal karena karya perintisnya dalam pedagogi publik, studi budaya, studi pemuda, pendidikan tinggi, studi media  dan teori kritis. 
Pada 2002 Routledge menyebut Giroux sebagai salah satu dari lima puluh pemikir pendidikan terkemuka di zaman modern.

BUKU filsafat tertua di dunia berupa dialog. Buku karangan Platon, misalnya. Politeia/The Republic, buku yang mengulas filsafat politik, menggunakan dialog sebagai strategi literernya.

Sesungguhnya di dalam dialog ada dua elemen penting yang dikandung: pertanyaan dan jawaban.  Dua elemen ini bukan sekedar metode, melainkan esensi filsafat itu sendiri.

Melalui dua hal itu ilmu pengetahuan berkembang. Bahkan pertanyaan jauh lebih penting dari jawaban. Akhirnya dengan pertanyaan, sejarah maju meninggalkan kabut kejumudan.

Karib filsuf Levinas, Jacques Rolland, menyatakan, bertanya adalah suatu proses berpikir. Ketika seseorang bertanya, maka di situ ada proses berpikir. Di peristiwa itu, ada soalsoal yang bakal dipecahkan. Ada pemahamanpemahaman yang digugat. Dan, kemudian akal bekerja.

Zaman berkembang, dan malang dunia hari ini adalah masa yang banyak menyingkirkan pertanyaan. Orangorang berbondong duduk di hadapan guru untuk menemukan jawaban. Anakanak muda sulit lepas dari gawainya berselancar dengan sekali klik. Bila di layar kaca, ketika sebuah forum pendidikan ada pertanyaan, maka sesungguhnya pertanyaan itu juga sudah dipesan sebelumnya.

Jamaknya fenomena itu bukanlah simptom alami. Tradisi menelan jawaban adalah gejala yang sudah lama dialami dari model belajar selama ini. Bahkan, ilmu di dalam tradisi pendidikan kita selalu diandaikan sebagai paket yang sudah fix. Ilmu bukan terdiri dari pernyataanpernyataan terbuka yang patut digubris dengan deretan pertanyaanpertanyaan kritis. Perlakuan ilmu yang demikian, sama halnya dengan iman yang harus diterima dalam doktrin agamaagama.

Kebudayaan menelan jawaban paralel dengan merebaknya budaya bisu. Kritisisme justru dianggap anomali. Apalagi bangsa ini secara kultural masih terus dibayangbayangi oleh suatu paradigma yang sudah dibangun di dalam rezim yang hegemonik. Selama tiga dekade, di dalam rezim yang hegemonik itu, imajinasi dan kreativitas berpikir adakalanya bisa diartikan sebagai modus untuk membangkang.

Di mata pendidik a la rezim hegemonik, orangorang semacam itu akan dianggap sebagai anak yang tidak patuh. Ini persis seperti desain peristiwa penciptaan Adam. Di sana, ada sang penanya yang menggugat. Sang Iblis dengan rasa ingin tahunya memiliki hasrat menguak tujuan penciptaan Adam. Pasca kejadian itu Iblis di anggap menyimpang, dan akhirnya disingkirkan.

Malangnya, proses edukasi selalu mengambil inspirasi dari peristiwaperistiwa agama semacam itu. Agama memang baik, tapi nampaknya ilmu selalu disinonimkan sebagaimana doktrin dalam agama. Ilmu selalu dibangun atas dasar relasi struktural yang hirarkis. Dan ketika suatu hirarki terbangun, maka sesungguhnya di situ telah berlaku kekuasaan.

Relasi struktural semacam itu dinyatakan Henry A. Giroux sebagai derivasi persepsi tradisional konservatif  yang memandang tatanan hirarki adalah suatu yang tebangun alamiah. Giroux mempercakapkan relasi itu digunakan dalam struktur pengetahuan antara pendidik dan peserta didik. Pendidik sebagai posisi pada lapisan atas, sementara peserta didik harus rela dilapis bawah. Di dua lapis itulah pengetahuan diturunkan tanpa terbangun momentum dialog, sehingga pengetahuan diselenggarakan tanpa melalui momenmomen kritis.

Henry A. Giroux adalah pemikir pendidikan kritis yang mengandaikan bahwa penyelenggaraan pendidikan sudah diberlangsungkan dengan logika pasar. Kapitalisme tidak saja bergerak melalui matra ekonomi, melainkan menyusup melalui pendidikan dengan mengubah polapola kebudayaan di dalamnya. Atas dasar hukum efisiensi, pendidikan hanya ditimbang berdasarkan kekuatan modal . Giroux mendaku pendidikan yang diselenggarakan berdasarkan hukumhukum pasar, akan mereduksi hakikat pendidikan itu sendiri.

Hilangnya kemampuan bertanya akhirnya hanya merepetisi/mengulang pengetahuan yang ditransformasikan. Ini artinya pengetahuan hanya akan menjadi pernyataanpernyataan anti perubahan. Malah pengetahuan yang tidak disertai pertanyaanpertanyaan kritis justru akan melegitimasi status quo. Maka jangan heran untuk mengucapkan kemajuan dalam pengajuanpengajuan pembangunan kebudayaan, orangorang susah melek karena tidak diawali dengan tindak kritisisme pertanyaan.

Sikap kritis untuk bertanya didaku Bambang Sugiharto sudah dimiliki semenjak kanakkanak. Namun, guru besar ilmu filsafat di Universitas Parahyangan Bandung itu bilang, ketika anakanak sudah mulai masuk ke dalam institusi pendidikan, rasa ingin tahu sang anak justru menjadi tumpul oleh sistem pendidikan yang tidak humanis. Pendidikan yang tidak humanis disebutnya adalah model pendidikan yang membunuh rasa ingin tahu menjadi manutmanut.

Malu bertanya sesat di jalan, begitu pepatah sering diucapkan. Sebenarnya frasa itu mau menerangkan bahwa keberanian adalah kualitas jiwa untuk bertanya. Barangsiapa tidak berani bertanya, tunggu saja akan menemukan jalan buntu. Di situ betapa pentingnya keberanian sebagai elemen dasar dari ilmu pengetahuan. Keberanian bertanya berarti ada keinginan mencari tahu lebih jauh sebagai fitrah dasar manusia.

Hilangnya budaya tanya anehnya berbarengan dengan betapa massifnya perkembangan informasi. Bahkan hampir di setiap saat, secara otomotatis mesin telepon pintar dipenuhi notifikasi tentang informasi yang terus berkembang. Bisa dibilang hampir semua informasi berada dalam satu genggaman. Tapi itu semua justru tidak mengikutkan suatu kultur bertanya untuk mempertanyakan kebenaran dari suatu informasi secara kritis.

Hasrat untuk mencari kebenaran tidak saja perlu bagi filsafat seperti yang dinyatakan Alain Badiou, filsuf kontemporer Perancis. Tapi itu penting bagi kita yang dikepung berjuta informasi. Betapa banyaknya informasi datang tanpa refleksi. Dan betapa sedikitnya informasi yang kita terima menjadi pengetahuan. Sebab tanpa budaya tanya, informasi yang dicerap hanya berupa pernyataanpernyataan tidak berbobot. Sampai di sini, apapun informasi yang datang pada Anda, sempatkanlah untuk bertanya. Sesungguhnya bertanya itu bukan tabu.

05 Maret 2016

Tere Liye dan Kesadaran Sejarah

Mendadak novelis kondang, Tere Liye, jadi sorotan. Statusnya di lini masa FB biangnya. Status yang tidak lebih dari tiga paragraf itu dianggap buta sejarah. Pasalnya dia menamsil, selain pejuang agamawan, tidak ada pejuang semisal pemikir komunis, sosialis, HAM, maupun liberal yang pernah berjibaku membela tanah pertiwi. “Coba cari,” kalau ada katanya.

Selanjutnya, Tere Liye bilang, jangan mau terpesona dengan pemikiran dari luar, seakanakan tak ada sejarah dan kearifan dalam negeri yang bisa diambil hikmahnya.

Sikap Tere Liye ini bisa disebut sebagai orang yang naif melihat sejarah Indonesia. Kalau mau jujur, banyak namanama pejuang pra dan pasca kemerdekaan yang berhaluan sosialis atau bahkan komunis. Di mulai dari Syarikat Islam, Partai Komunis Indonesia, sampai Founding Father, contoh yang paling terang.

Yang paling lucu adalah kalau dibilang tak ada “kearifan dalam” yang bisa digali untuk dijadikan pelajaran. Di sini, agaknya Tere Liye terjebak dengan cara pikir dualisme antara “dalam” dan “luar.” Kebudayaan Indonesia, dalam analisis tertentu malah bilang kalau Indonesia adalah “inkubator” yang berisi beragam persentuhan pemikiran dan kebudayaan.  Hasilnya adalah sintesa baru dalam perwujudan yang membentuk ciri khas tertentu. Artinya, Indonesia adalah tempat “yang dalam” dan “yang luar” bertemu  dan saling melengkapi. Jadi, bicara yang khas dari Indonesia, ruparupanya hanyalah hasil perpaduan antara kebudayaan “luar” dan “dalam”.

Tere Liye,  saya kira adalah prototype anak negeri yang ditilap politisasi kesadaran sejarah. Pengalaman sejarah Indonesia, sampai detik ini adalah sejarah dominan. Yakni, sejarah yang ditulis dengan tinta kepentingan kekuasaan. Sejarah yang ditulis sebagai “cerita sejarah,” bukan “peristiwa sejarah.” Layaknya fiksi, di dalam “cerita sejarah” plot atas kesadaran tertentu dapat dibuat sekehendak pihak tertentu. Beda dengan “peristiwa sejarah” plot hanya sampiran, bahkan di nomor duakan, sebab bahan utamanya adalah kejadiankejadian yang berbasis fakta.Akhirnya, saya kira, jangan lupakan sejarah!!

04 Maret 2016

sepatu

Saya agak kurang yakin kapan punya perhatian lebih terhadap sepatu. Kalau diingat itu sudah lama. Sejak sekolah dasar saya kira. Di kelas sekira 5 atau 6, sepatu sudah saya anggap penting.

Sepatu kala itu jadi bagian penampilan. Saya kira walaupun mau jelang umur belasan, sudah ada kesadaran semacam itu. Karenanya, sepatu seperti bendabenda lain harus bisa menunjang penampilan. Sepatu kala itu harus bagus. Kalau perlu bermerek.

Kala itu ada Bata, merek sepatu yang sering saya dengar. Starmoon, Newera, Carvill, Kasogi, dan Speec, beberapa merek yang lain. Di televisi juga sering saya lihat merek macammacam. Terutama jelang musim sekolah. Kala itu biasanya sehabis bulan ramadhan. Iklan sepatu banyak diputar.

Yang saya ingat, sebelumnya ada jenis sepatu yang tidak bermerek. Bentuknya lebih mirip sepatu kungfu. Di film kungfu Jacky Chan, sepatu kayak itulah yang sering dipakainya. Kalau menontonya saya sering mengingatnya. Sepatu itu ringan. Tidak rumit dipakai. Fleksibel, cuman agak licin.

Sepatu macam begini yang gandrung. Banyak kala itu memakainya. Caranya dipakai dengan kos dilipat pendek. Kalau kaosnya panjang, sering kali dilipat. Karena sering cara itu, kaos yang dipakai punya lekuk tumit baru yang terbentuk.

Sepatu itu itu tidak muncul di televisi. Iklan pun tidak. Cuman aneh kenapa banyak dipakai. Juga disenangi. Mungkin karena ringan. Dan berwarna hitam.

Yang terakhir itulah jadi pertimbangannya. Sekolah melarang pakai sepatu macammacam. Apalagi warnawarni. Harus hitam. Bukan yang lain. Selain itu, memang sepatu ini murah.

Kalau di toko sepatu, yang model ini justru tidak mejeng di etalase. Sepatu ini cuman ada di pasar. Biasa berjejer diikat karet gelang. Di susun menumpuk. Di selasela jualan macammacam. Kadang bersebelahan dengan ikanikan yang dijual. Karena itu gampang ditemukan. Kalau mau, tinggal cari di sekitar penjual ikan.

Sejarah sepatu ini entah dari mana. Misterius. Tibatiba banyak yang memakainya. Kala itu saya kira dari Cina. Soalnya mirip yang saya lihat di televisi. Yang memakai pertama kali juga entah.

Tapi, sepatu itu juga yang saya pakai. Ukurannya tidak besar. Nomor enam kalau diingat. Seperti juga lainnya, saya suka memakainya. Memang ringan. Juga hitam tentunya.

Bahan sepatu ini agak lunak. Kayak mirip kain terigu. Tapi lumayan tebal. Kalau hujan, atau basah, sepatu ini mudah kering. Bawahannya juga sederhana. Terbuat dari karet keras. Licin.

Sekolah masa itu punya bangsal. Ukurannya lumayan lebar. Dua lapangan bulutangkis jadi perbandingannya. Agak besar memang. Bangsal, lantainya dari semen yang dipoles isi baterai. Di atasnya atap seng jadi katupnya. Teduh.

Di situlah saya sering bermain. Macammacam. Kadang sepak bola. Gala asin. Sering juga kasti. Beberapa kali hanya berlari. Cuman kalau berlari, sepatu itu harus dilepas. Sudah saya bilang, licin.

Namun, kadang sepatu itu dipakai juga berlari. Jadi ini sebenarnya jenis mainan yang agak aneh. Pertamatama kami berlari sekencangnya. Beramairamai. Biasa berkelompok. Setelah lari beberapa meter, dengan sepatu yang licin, kami perosotan. Meluncur sejauhjauhnya. Siapa terjauh dia jawaranya. Di bangsal itulah kami berlari. Di lantai yang juga licin.

Karena berbahan kain, sepatu itu mudah sobek. Biasa sobekannya karena tekanan di ujung kaki. Makanya tidak jauh di ujung sepatu. Kadang malah tepat antara pertemuan alas dan jahitannya. Walaupun agak susah dijahit, kadang cara yang dipakai direkatkan handyplas menutupinya. Setelah itu disemir biar hitam. Beres.

Lumayan lama saya pakai sepatu macam itu. Sobek juga berulangulang. Akhirnya rusak jua. Di buang.

Sepatu yang baru saya tak ingat merek apa. Kali ini membeli bukan di pasar; toko Bata. Nama toko ini saya kira banyak yang tahu. Sampai sekarang mereknya masih ada. Di toko merek itulah saya dapat sepatu baru. Tetap hitam.

Sepatu itu lumayan awet, sampai SMP. Hingga jelang dua SMP sepatu itu masih saya pakai. Saat SMA, sepatu saya lebih mirip pantofel. Juga warna hitam.

Sekarang, di televisi banyak iklan sepatu. Orangorang juga senang pakai sepatu. Mereknya macammacam. Klasemennya juga beragam. Dari olahraga sampai resmi. Sepatu gunung sampai kantoran. Warna hitam sampai kuning terang. Ruparupa.

Iklan agaknya seperti teksteks kitab agama. Di dalamnya ada iman. Rasanya sulit mau mengelak. Sudah jadi doktrin. Bahkan ideologi. Karena itu satu level dengan agama. Taat.

Sepatu, saya kira, akibat dari iklan berubah fungsi. Tidak sekedar alas kaki. Sepatu jadi branding orangorang berpenampilan. Sepatu, di mata banyak orang harus mampu mendongkrak penampilan. Sepatu jadi life style.

Makanya, saya heran kalau ada sepatu sampai harga jutaan. Barangkali itu akibat hukum ekonomi. Harga jadi mahal seiring permintaan. Pasar tercipta karena ada penawaran dan jual beli. Yang aneh, biar mahal bagaimana, beberapa merek tetap laku terjual.

Kiwari, anakanak muda senang bersepatu. Banyak merek dipakai. Bahkan cara memfungsikannya anehaneh. Sepatu gunung dipakai seharihari; sepatu olahraga dipakai masuk kantor; sepatu pantofel jadi simbol parlente. Bahkan sepatu boot, yang konon untuk prajurit juga dipakai. Yang terakhir mudahmudahan bukan karena militerisme.

Akhirnya, sepatu, sekarang bukanlah sepatu belaka. Dia jadi mode; gaya hidup.


02 Maret 2016

Merawat Benci

Entah mengapa saya perlu merawat benci. Terutama kepada orangorang tertentu. Ini penting bagi saya. Tujuannya untuk membuat rivalitas.

Agak susah memang mau bilang sehat. Di dalam satu kecenderungan yang sama, orangorang butuh pecut. Dan pecut saya rasa emoh. Mungkin jumawa kalau saya jauh lebih bisa.

Rasa sinis, atau mungkin benci, tentu tak mungkin saya umbar. Apalagi saya nyatakan terbuka. Efek sosialnya akan buruk. Saya suka menyembunyikannya. Bagi saya, tak penting orangorang tahu. Lagian buat apa orang yang saya siniskan tahu. Tidak penting.

Saya rasa memang harus demikian. Hidup memang ajang saing. Bahkan agama nyatakan lomba di jalan kebaikan. Tapi, entahlah yang saya punyai ini suatu kebaikan. Atau janganjangan tidak etis. Merawat sikap sinis. Menjaga rivalitas.

Saya belakangan ini belajar menulis. Bisa dibilang itu saya lakukan karena berusaha ambil jalan literasi. Soal menulis sudah lama saya lakukan. Cuman, gairah menulis belum seperti kayak sekarang. Kiwari, seperti ada hasrat mau menulis terus. Apa saja. Yang penting saya suka.

Di dunia literasi inilah saya menanam pohon sinisme. Saya mendefinisikan rival. Memetakan lawan. Dan, benci atau rasa tidak suka jadi sumbernya. Di sini saya kira, saya jadi orang yang jahat. Tapi, apalah arti jahat sesungguhnya, kalau itu sudah jelma aksara. Di dalamnya kejahatan bisa jadi baik, atau sebaliknya.

Saya yakin, di luar sana banyak orang yang tak suka saya. Saya maklum. Juga, saya bisa saja tak suka beberapa orang. Itu wajar.

Jadi ini hanya problem biasa. Hanya soal pribadi saya.

Dalam beberapa lingkait, konflik memang penting. Terutama konflik laten. Dengan itu aktifitas manusia diselenggarakan. Saling membangun relasi. Kasih sayang, senyuman. Namun, juga cemburu. Semua itu kualitaskualitas pribadi yang timbul tenggelam di balik hubungan sosial. Tanpa itu, tak ada manusia. Barangkali hanya mahluk jernih tanpa cela. Manusia, mahluk yang penuh cela, dan tentu celah.

Jadi tak usah merasa lengkap. Manusia mahluk yang butuh kerja sama. Karena itulah dia jadi utuh. Keutuhan ini biasanya ditemukan dalam bentukbentuk ikatan kolektif. Bisa keluarga, komunitas, organisasi, partai, atau juga negara. Hubungannya bisa ketemu karena agama, hobi, suku, latar belakang, ilmupengetahuan, ideologi, cinta, dan macammacam. Tapi hakikat di balik hakikat, semua itu digerakkan atas peristiwa berhadaphadapan; persitegangan; permusuhan; konflik.

Saya merasa, yang harmoni hanya akan melihat yang baik. Ikatan yang terlalu dekat bikin susah objektif. Saya butuh dasar penolakan, sikap berbeda agar punya cara lain. Apalagi kalau soal penilaian. Seorang kawan butuh musuh agar kejahatannya tampak. Seorang lawan butuh kawan agar kebaikannya muncul.

Antonio Gramsci bilang, bersamasama sekaligus menentang. Itu dia sebut skandal kontradiksi. Inilah yang saya maksud. Bersama sekaligus menentang. Saya bangun rivalitas. Saya bangun skandal pertentangan.

Agak susah mau bilang tidak ada persaingan. Itu terlalu naif. Hubungan macam mana pun selalu mengandaikan dua sumbu. Dua ujung yang berbeda. Di dua ujung itu masingmasing berdiri. Berjalan ke arah yang berlawanan dan menengok ke belakang, siapa yang telah panjang mengambil garis. Saat itulah persaingan sudah dimulai. Sejak berdiri di atas garis.

Banyak orang purapura rendah hati. Membikin diri dengan semangat moralitas tertentu. Bicara soalsoal krusial. Mengajarkan hal ihwal substansial. Namun sial, di waktuwaktu tertentu mengucap perpecahan, bikin benteng dengan menjelekjelekkan. Bicara universal, tapi parsial. Di kawankawan dekat omong bual. Menyudutkan kelompokkelompok tertentu dengan dalildalil. Itu banyak. Membuat orangorang jadi marginal.

01 Maret 2016

bahrulamsal for literacy; maret omongomong hannah arendt

Bulan Februari segera berakhir. Besok sudah Maret. Awal Februari bahrulamsal for literacy pertama kalinya gelar bincangbincang ringan, soal novel “Titisan Cinta Leluhur” dan “Djarinah” karya perempuan Bantaeng, Atte Sherlynia Maladevi. Waktu itu penyertanya juga seorang perempuan; Jusnawati. Dia diundang agar mau bicarakan karya tulisnya yang terbit di koran Fajar. Saat itu isinya tentang dua novel tadi. Kalau boleh bilang dia meresensinya.

Soal bagaimana persisnya forum mini itu, sudah sempat saya ulas di bawah tajuk “Yang Tinggal dari ‘Geliat Atte dalam Dua Novel.’” Saya sebagai penanggung jawab penuh page bahrulamsal for literacy merasa harus menulisnya. Biar bagaimanapun ini salah satu metode menjaga semangat literasi.

Kala Maret nanti bahrulamsal for literacy sudah punya agenda. Barangkali di dua minggu pertama. Kali ini soal pemikiran Hannah Arendt, perempuan filsuf abad 20. Perkara yang mau dibincangkan soal manusia dan kebebasan. Penyertanya seorang muda; Muhajir.

Muhajir, saya kira cukup familiar. Terutama buat kawankawan dekat. Dia alumni UNM, pegiat filsafat dan ilmu pendidikan. Akhirakhir ini ikut terlibat di kelas menulis PI. Juga sempat nimbrung di HMI MPO Makassar. Pemuda asal Pangkep ini sudah sering diundang di pelbagai forum. Kali ini saya mengajaknya. Senang hati dia mengiyakan.

Mengapa Hannah Arendt? Dua hal jawabannya. Pertama, Muhajir sedang membaca buku ihwal Hannah Arendt. Kedua, agar kawankawan bisa berkumpul ocehoceh soal manusia dan kebebasan.

Belakangan ini banyak perkara ruang publik yang dipolitisir. Kelompokkelompok banyak bermunculan mencuri hakhak publik. Mekanismenya lewat paradeparade, baris berbaris, wacana publik dikotori kepentingan kelompok. Yang publik akhirnya jadi bising karena hasrat menguasai. Yang sosial akhirnya jadi privat.

Ruang publik sejatinya medan konstelasi wacana, ide, dan pemikiran. Salurannya tentu lewat praktikpraktik pertukaran budaya, ekonomi, kemudian pendikan. Di situ orangorang bebas melakukan pertukaran demi mengembangkan potensi kemanusiaannya. Namun malang itu jadi terhambat akibat kepentingan kelompok tertentu. Ini yang tidak fair.

Yang problematis dari itu, di mana tempatnya kebebasan? Bukankah kebebasan itu tidak dimungkinkan jika ada pihak yang dominan? Bukankah jika ada dominasi justru itu berarti penguasaan? Lantas siapakah yang menguasai? Berhakkah suatu kelompok berkuasa atas kelompok lain? Kalau sudah begitu, apakah kebebasan itu keharusan individual atau konstruksi kelompok? Kalau kebebebasan itu ada, lantas bagaimana mengembangkannya? Semua ini jadi soal. Ini perkara yang harus dijawab tuntas.

Masalahmasalah ini saya kira tengah terjadi. Ruang publik tibatiba berubah jadi dominasi privat. Skala nila atas agama, ras, dan suku kerap jadi ukuranukuran publik. Orangorang lupa bahwa ada yang namanya kepentingan bersama. Ada yang namanya nalar publik.

Itulah mengapa ada politik. Mekanisme yang dipakai untuk mengatur banyak orang. Saluran kolektif yang keluar dari ikatan parsial. Perlu ada politik universal. Barangkali pula politik yang otentik.

Politik otentik, kirakira inilah yang diperlukan. Kalau Arendt bilang, politik otentik itu adalah ruang yang mengadaikan manusia terbebas dari hirarki, kungkungan kekuasaan. Setelah itu diperlukan tindakan untuk masuk ke dalam ruang publik sebagai manusia yang otentik, merdeka dan otonom.

Soal manusia kadang juga jadi pelik. Bebaskah manusia, atu justru jadi “benda” di bawah suatu wewenang. Jika bebas, bagaimana jika dia hidup dalam kelompok? Apakah penting mengutamakan kelompok, atau justru kepentingan pribadi? Kalau mengutamakan kelompok, apakah masih berartikah manusia itu punya kebebasan? Tidakkah bisa keduaduanya? Lantas bagaimanakah caranya?

Perkara di atas kadang harus menyinggung termaterma yang akrab dengan filsafat. Dari situ baru kemungkinankemungkinan ditemui; budayakah, ekonomikah, politikkah, atau bahkan agama. Mungkinkah manusia bebas dari ikatan semua itu. Manusia yang tidak terikat hukumhukum sosialnya. Manusia yang par excellence bebas?


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...