08 Februari 2016

saat mamak datang

Pantas mamak datang. Ternyata hari ini libur. Semenjak kemarin dia sudah bilang akan datang. Saya iyakan saja. Dari Bulukumba, bersama adiknya tiba saat sore hari.

Otomatis mamak libur ngajar. Hari imlek dia manfaatkan jenguk nenek. Sudah berbulan dia tidak bertemu ibunya. Pasti dia rindu. Nenek saya memang tinggal satusatunya. Makanya perhatian begitu besar kepadanya.

Kemarin mamak tanya. Hubungannya dengan tesis saya. Saya bilang sedang diproses. Kapan selesainya. Bilang saya mungkin pertengahan tahun. Bulan juli agenda wisuda di kampus. Di bulan maret saya kurang yakin.

Mamak juga ingin bertemu Fajar, adik saya. Dia jarang pulang. Mamak sering menelpon Fajar, cuman jarang diangkat. Ima bilang hapenya rusak. Padahal Fajar punya dua hape. Karena itu mamak datang. Sekalian mengecek adik saya.

Mamak juga cerita tentang keadaan rumah. Di kampung rumah sedang direnovasi. Katanya tinggal ditegel. Kamar saya juga sudah bisa ditempati. Saya hanya senyum mendengarnya. Katanya bukubuku bawa saja ke Bulukumba. Nanti dipajang di almari. Saya bilang nanti saja. Saya masih suka melihat tumpukan buku.

Saya cerita ke mamak tentang Mochtar Pabottingi. Saya bilang kemarin dulu dia menerima permintaan pertemanan. Saya katakan, "terimakasih sudah di konfirm. Salam dari keluarga di Bulukumba" Pak Moçhtar balas dengan ucapan doa bagi sekeluarga di Bulukumba. Mendengar itu mamak senyamsenyum. Lain kali kalau sempat katakan dari cucu Jennang di Barebba, bilang mamak. Dia pasti tahu. Kata mamak terakhir dia datang saat kakaknya meninggal.

Mamak bilang sudah baca bukunya. Saya hanya bilang baru sedikit. Tidak sempat. Saya tanya kenapa rambut Mochtar putih, padahal terlihat muda. Mamak bilang memang begitu keturunan. Bapakmu saja rambutnya putih. Seperti sepupunya. Mendengar itu saya khawatir. Janganjangan belum tua saya sudah punya rambut putih.

Fajar juga sering omong. Barangkali dia kesal. Bukubuku saya banyak mengambil tempat. Katanya sama, bawa saja ke Bulukumba. Saya tolak permintaannya. Dia malah ngoceh, kalau begitu rapikan susunannya. Sudah banyak debu bertumpuk. Saya acuh saja.

Fajar pernah membuatkan lemari. Dia kumpul kayukayu bekas. Digergaji dipaku. Disusun. Seharian dia berjibaku. Dengan keringat, dan kejengkelan. Tak lama almari jadi. Setelah itu bukubuku diisi di dalamnya. Saya senang. Dia duduk di pintu, merokok.

Sayang bukubuku terus berdatangan. Saya membeli, dan mengoleksi. Fajar diam saja. Dia sudah tahu. Seiring waktu buku semakin banyak. Sampai sekarang. Terus bertambah.
Mamak kalau datang di kamar, sering mengambil buku. Kadang tanpa saya tahu. Dia membaca bukubuku berbau agama. Pernah dia mengambil buku tentang kopi. Barangkali karena sampulnya. Atau memang isinya. Dia bawa pulang ke Bulukumba. Mungkin untuk bapak. Di rumah bapak sering minum kopi. Mamak yang sering bikin.

Kali ini tidak ada susu dibawa mamak. Kalau datang dia sering bawa sekaleng susu. Katanya biar bisa dicampur kopi. Mamak hanya bawa beras. Bilangnya biar bisa saya bawa ke bunker. Saya iyakan saja. Soalnya beras di bunker tinggal sedikit.

Pagi tadi mamak sudah membangunkan. Shalat shubuh katanya. Saya bangun. Fajar bangun. Shalat shubuh. Setelahnya dari dapur muncul suarasuara. Orangorang juga sudah bangun. Air mengalir, barangkali berudhu. Saya lanjut tidur. Fajar keluar merokok. Dia memang kuat merokok. Mamak tahu itu. Tapi Fajar sudah besar.

Setelah itu mamak menggoreng pisang. Juga bikin teh. Tante Uni memasak. Puang Hera memotong sayur. Puang Aty tidak ada. Katanya dia ke Palopo. Bisa jadi urusan kampus. Saya abaikan saja.

Saya bilang mau keluar mengurusi berkas. Cuci foto. Scan KTP. Ijazah dan transkip nilai. Dan membikin surat peemohonan. Mamak bilang jangan lupa makan dulu. Dia sering cemas. Katanya saya jarang makan. Tidak seperti Fajar, kuat makan.

Tapi saya masih sibuk edit tulisan. Masih ada tiga tulisan belum rampung. Saya juga berencana bikin paper. Untuk diskusi tanggal 12 nanti. Saya jadi pembicara, soal Karl Marx. Belum lagi harus baca buku, dan sedikit diskusi.

Nenek sudah mandi. Juga sudah buang air. Diumurnya yang renta dia masih kuat cebok sendiri. Padahal nenek sudah tak kuat berjalan. Kadang dia dibopoh, agar tak jatuh tibatiba. Nenek sudah banyak lupa tentang anakanaknya. Namanamanya, bahkan orangnya. Kami hanya maklum. Bahkan sering dibuat bercanda.

Setelah mandi saya tanya mamak. Tentang buku yang dibacanya. Ketika di Bulukumba, mamak ambil satu buku saya. "Tiada Ojek di Paris" karya Seno Gumira Ajidharma. Dia sering membacanya kalau istirahat. Saya heran. Tumben. Katanya isinya bagus. Katanya jangan dibawa dulu. Biar mamak baca sampai habis. Begitu katanya.

Namun mamak lupa. Saya tidak tahu apa sudah tuntas dibaca. Intinya mamak tidak membawanya. Saya mengangguk saja. Tidak apaapa. Yang penting tidak semua buku diambilnya. Lagian kalau diambil pasti hanya di rumah. Tidak hilang. Seperti bukuku yang lain.

Ketika beranjak berangkat saya duduk sebentar dengan nenek. Sudah lama saya tidak melihatnya. Dia sedang duduk di teras rumah. Sendirian. Itu memang kebiasaannya. Barangkali mencari udara segar. Saya menghampirinya. Duduk di sebelahnya.

Agak lama dia memandang saya. Nenek bilang "igako anak?" Saya ketawa. Mamak yang melihat juga ketawa. Saya bilang dengan suara agak keras, " oppota pungnek" Nenek hanya senyamsenyum. Bahkan ketawa. Giginya sudah habis. Ompong.

Saya berpamitan. Nenek ketawa lagi. Saya salim tangannya. Kulitnya keriput. Cincin dijari manisnya. Saya cium keningnya beberapa saat. Baunya harum. Itu karena sudah mandi. Saya pamitan kepada mamak. Saya salim. Saya cium keningnya juga. Tidak bau apapa. Hanya bau rambutnya. Saya suka bau rambutnya. Bau khas mamak.

Saya beranjak ke atas motor. Sebelumnya ucap salam. Dan berangkat pergi. Sekarang, di waktu magrib, mamak juga barangkali sudah berangkat pulang. Mudahmudahan tidak ada buku yang dibawa pulang. Saya khawatir sebab dari pagi ada buku yang dipegangnya. Saya tak tahu itu buku siapa. Mudahmudahan bukan punya saya.

---

Nb: Yang merayakan Imlek, selamat.


lukisan sialan

Kebiasaan ketika tulisan saya terbit di media cetak, saya cepatcepat membingkainya. Itu cara saya mengungkapkan kegembiraan. Hitunghitung ajang gagahgagahan. Terutama buat hiasan di dalam kamar.

Pernah suatu waktu ketika tulisan pertama terbit di media cetak, saya tidak sempat melihatnya. Nanti saya tahu ketika melihat langsung melalui versi onlinenya. Saat itu bahagia bukan main. Pertama kalinya tulisan saya dimuat.

Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Saya ingin, waktu itu tulisan pertama di media cetak akan saya abadikan. Caranya ya digunting dan dibingkai. Tapi sayang, saya terlambat tahu. Koran yang memuat tulisan saya berlalu begitu saja. Saya tak sempat memilikinya.

Sampai akhirnya saya mencobanya kembali. Tulisan demi tulisan saya buat. Lembar per lembar saya kirim. Penolakan demi penolakan saya alami. Itu sering terjadi, namun ini wajar. Tapi saya tak ingin menyerah. Saya yakin suatu saat tulisan saya pasti dimuat. Ini hanya soal waktu.

Beberapa media cetak saya coba. Akhirnya suatu hari tanpa didugaduga tulisan saya nongol. Saya hapal betul gambar muka di kolom itu. Itu foto saya. Itu tulisan saya. Di kolom opini, dia nangkring dengan tulisan seseorang yang lain. Puki mak! Bahagia bukan kepalang. Rasanya bukan main.

Cepatcepat saya membelinya. Saya baca kembali. Saya senang walaupun ada beberapa perubahan oleh editor koran bersangkutan. Itu tidak berpengaruh. Saya masih punya hati yang berbungabunga. Hati yang dirundung pelangi.

Saya pulang menggunting dan membingkainya. Itu tulisan kedua saya yang pertama saya bingkai. Kali ini akhirnya tuntas keinginan saya. Puas hati saya. Walaupun bukan tulisan pertama, tapi tak apalah. Yang kedua juga spesial. Seperti saya, anak kedua.

Akhirnya makin sering saya mengirim tulisan. Alhamdulillah beberapa kali dimuat. Jadinya saya punya beberapa bingkai tulisan. Itu kebiasaan yang saya lakukan. Seperti saya bilang tadi untuk mengungkapkan kebahagiaan.

Makanya kalau di kamar, saya narsis sendiri. Memandang pajangan tulisan saya yang digantung. Senyamsenyum sendiri. Adik saya biasa kesal. Katanya kalau sudah banyak tidak usah dibingkai, cukup dikumpul saja dalam satu map. Tapi saya tetap bersikukuh, setiap terbit akan saya bingkai.

Sekarang kalau tulisan terbit, saya cukup menyimpannya saja. Tidak dibingkai lagi. Cukuplah beberapa saja dibingkai. Soalnya saya tidak pernah lagi mendapatkan bingkai. Selama ini bingkai yang saya pakai hasil rampasan dari temanteman. Lagian semua itu sudah cukup.

Hingga berbulanbulan saya tidak tinggal di kamar. Saya belakangan banyak nginap di bunker. Jadinya saya jarang pulang. Baru kali ini akhirnya saya berkesempatan pulang. Ini karena panglima besar datang dari Bulukumba. Tapi ketika di kamar, saya lihat beberapa tulisan saya dikudeta oleh buah tangan Fajar, adik saya. Dia senang melukis dan menggambar. Sekarang gambarnya yang dibingkai. Menutupi tulisan saya.

Justru sekarang dia yang gagahgahan. Dengan gambar sialannya itu.

memikirkan kembali yang dasariah

Kelas menulis PI ramai. Seperti biasa. Cuman kali ini tempatnya berbeda. Sekarang di Unhas. Di tepi danau, di pelataran sebuah gedung.

Awalnya agak bingung. Kawankawan repot. Mencari tempat pertemuan. Sebabnya sejak awal hanya disebut danau Unhas.

Tapi yang sms langsung tahu. Di gedung IPTEK tempatnya.

Ini kelas ketiga. Sebahagian sudah dari awal berkumpul. Beberapa malah datang  dari sekretariat di dalam kampus. Mereka anakanak fakultas tehnik. Mereka peserta baru. Yang lain mukamuka lama.

Agak lama kami menunggu yang lain. Maklum ini pertama kalinya di Unhas. Sebelumnya di sekretariat PI. Yang belum tahu, sekretariat PI sebenarnya TB Paradigma Ilmu. Di Alauddin, Pabbentengang.

Di Unhas lumayan bagus. Pemandangannya indah. Sebab di pinggir danau. Cuman agak bising suarasuara yang lain. Banyak kelompok mahasiswa yang juga di situ. Rapat organisasi barangkali, mereka banyak. Syalnya birubiru. Saya duga mereka anak palang merah. Entahlah.

Kelas berjalan alot. Hampir semua membawa tulisan. Hanya saya yang tidak. Sanksinya jelas, bagi yang tidak, minggu depan dua tulisan harus disetor. Saya siap. Lagian saya punya banyak stok tulisan. Jadi minggu depan aman.

Tulisan kawankawan ratarata bagus. Saya pikir semuanya tahu itu. Cuman ada beberapa koreksi yang perlu. Pertama kesalahan ejaan. Ini lumrah. Saya kadang sering. Kawankawan malah lebih sering. Jadi banyak yang salah. Akhirnya mesti diperbaiki.

Kedua hampir sama dengan yang pertama. Kesalahan ketikan. Ini juga lumrah. Ada beberapa tulisan yang salah saya dapati. Akhirnya diperbaiki. Mudahmudahan tidak terulang kembali. Ini masalah dasar. Yang paling elementer.

Kalau dilihat masih banyak yang bingung. Terutama masalah ejaan yang disempurnakan. Ada satu dua peserta yang sulit membedakan bahasa lisan dan tulisan. Dua hal itu sebenarnya berbeda. Bahasa lisan lebih lugas. Bahkan bisa blakblakan. Bahasa tulisan lebih tersirat. Makanya perlu kesabaran.

Itu yang sering banyak lupa. Kesabaran. Menulis berarti mau bersabar. Menahan ego. Mengendapkan emosi. Kadang banyak yang lupa. Emosi jangan sampai bermain. Itu bahaya. Tulisan malah jadi ambisius. Tidak objektif. Justru subjektif.

Makanya perlu mau pelanpelan. Tulisan tak ada yang langsung jadi. Di balik karya tulis ada sabar yang berlipatlipat. Itu rahasianya. Setidaknya menurut saya. Kata lain setiap satu tulisan berarti sepuluh kesabaran. Dua tulisan duapuluh kesabaran. Tiga tulisan tigapuluh kesabaran. Seterusnya begitu.

Bayangkan tulisan yang sabar. Hasilnya pasti jernih. Karena ditunjang dengan berkalikali koreksi. Berkalikali pembacaan ulang. Ini artinya ada evaluasi. Ada editing. Mulai dari kesalahan ketik sampai kesalahan argumen. Kalau sudah begitu insyaallah. Tulisan itu bernas.

Ketiga, argumentasi. Ada tulisan yang saya pikir kurang argumentatif. Ini kadang karena tatanan pikir yang rusak. Argumentasi yang baik pikiran yang lurus. Logis. Rasional. Paragraf yang baik paragraf yang lurus. Runut. Ini karena tatanan pikir beres.

Keempat soal sudut pandang. Ini salah satu yang menentukan. Semua bisa menulis kasus bom jalan Thamrin. Tapi jarang yang punya ceruk landai. Maksudnya ruang kosong yang luput. Carilah itu. Ruang kosong yang banyak orang abaikan. Itulah banyak ulasan tentang sepatu polisi. Pakaian polisi yang mahal. Ledakan bom sudah biasa. Life style  polisi di lapangan yang jarang. Itu sudut pandang. Dari mana matamu melihat.

Tapi yang membuat tersentak K Niart. Dia guru saya. Diamdiam dia tidak tahu. Dulu dia sering mengoreksi tulisan saya. Itu dulu. Bahkan sampai sekarang. Di forum dia mengoreksi beberapa tulisan. Dia banyak ulas soal aturan menulis. Terutama yang elementer; penggunaan imbuhan dan awalan.

Dia bilang dia pending mengirim tulisan di media. Dia ingin kembali ke dasar. Itu yang membuat saya tersentak. Yang lain tak menyangka, di situ ada yang kritis. Bahwa perlu evaluasi. Mari menengok kembali. Yang dasar, yang kadang lupa.

Saya tak tahu apa maksud dasar di situ. Dia tak jelaskan panjang. Tapi saya duga, itu penting. Itu genting. Terutama bagi penulis yang lama belajar. Kadang perlu diingatkan. Bahwa menulis sebenarnya menengok terus ke dasar. Melihat kembali dari mana kau berniat. Untuk apa menulis. Dengan apa menulis. Katakata apa yang kau pakai. Ini yang dasar barangkali. Menurut saya dari yang dibilangnya.

Saya kadang jumawa. Itu salah. Itu tidak layak.  Yang dasariah dari itu tak ada penulis yang sempurna. Yang ada penulis yang selalu mencoret kembali katakatanya. Kalimatkalimatnya. Tulisantulisannya. Sewajibnya memperbaiki yang salah. Bukan menguatkan yang baik. Itu dua yang berbeda.

Memperbaiki yang salah berarti mau belajar. Menguatkan yang baik berarti cepat puas. Memperbaiki yang salah berarti mengakui belum sempurna. Menguatkan yang baik belum tentu sempurna. Itulah saya merasa harus memperbaiki yang salah. Jumawa berarti menganggap sudah baik. Seharusnya mengakui yang salah itu yang etis.

Kembali ke dasariah artinya mengingat. Yang kurang. Yang awal. Yang pertama. Tulisan yang pertama pasti jelek. Pasti kacau balau.  Jadi ibarat cermin. Lewat cermin diperhadapkan kembali kepada kesalahan. Agar kita tahu yang mana yang kurang. Yang mana yang salah. Agar ada proses. Ini yang penting.

Yang dasar bukan berarti berbalik kebelakang. Itu berbeda.  Dasariah jauh lebih dari itu. Ini soal kedalaman. Melihat kembali ke bawah. Ibarat sumur. Seberapa dalam lubang yang digali. Seberapa banyak air yang  ditampung. Semakin dalam semakin banyak daya tampung air. Yang dasar artinya melihat ke lubang yang kita bikin. Sudahkah banyak air di sana.

Yang dasar juga masalah etis. Untuk apa menulis. Untuk siapa menulis. Ini pertanyaan yang harus pas jawabannya. Sebab banyak tulisan yang dibentuk karena tujuannya. Yang jadi soal kalau tulisan jadi heroik. Itu berarti karena ingin dipuja. Bisa juga tulisan jadi romantik. Yang ini karena masa lalu. Tujuan itu penting bagi nasib tulisan. Karena itu katakata bisa dipilih. Tidak mungkin memilih kata berat untuk pikiran yang ringan. Intinya lihat konteks.

Banyak yang bisa ditulis dari kelas menulis PI. Tapi saya justru menulis hal yang dibilang K Niart. Bagi saya sikap yang dia ambil adalah sikap pembelajar. Ini yang harus dicontoh. Terutama saya.

Kemudian ada yang lain. Soal bentuk cerpen dan esai. Saya sempat berdiskusi dengan Ecce. Panggilan Andi Reski JN. Saya tak tahu apa itu JN. Bukan itu yang penting. Yang penting obrolan saya. Di situ kami kembali mempersoalkan apa batasan esai dan cerpen. Bagaimanakah kalau ada esai tapi memuat unsur cerpen? Misalkan tulisan saya Malaikat Bukubuku. Saat saya anggap esai. Tapi ketika dibaca, K Niart justru bilang ini bisa juga disebut cerpen. Saya dan Ecce jadi bingung. Ini perlu dibahas kembali. Menurut saya penting.

Juga ada tanggapan dari Jusnawati. Hubungannya kritik saya terhadap cerpen Muhajir. Dia tidak sepakat kalau saya bilang penting arti sebuah nama. Apalagi dalam cerpen. Bagi dia tanpa nama karakter tokoh bisa dengan sendirinya terungkapkan. Jadi Jusna memilih menulis cerpennya dengan kata Aku sebagai tokohnya. Tanpa nama. Hanya Aku saja.

Itu juga bisa disoalkan lagi. Bagaimanakah penting suatu nama dalam cerpen. Apalagi dalam karya sastra. Apakah bisa tanpa nama. Ataukah nama ihwal yang krusial. Tanpa itu tokoh jadi anonim. Entahlah. Ini juga penting. Harus segera dibahas.

Terakhir tentang Kala. Saya mengimbau kepada semua. Kala butuh kontributor tulisan. Awalnya diniatkan menampung tulisan kawankawan. Di satu sisi saya merasa penting kawan memang berniat menulis untuk Kala. Saya punya semangat besar kepada Kala. Walaupun itu selembar kertas sederhana. Besokbesok ini bisa jadi penting. Kalau konsisten. Disiplin.


Sampai hampir magrib diskusi alot.  Kami bertukar pendapat. Saling bertanya. Kemudian dijawab, menjawab. Sore tinggal sebentar. Kami akhiri segera. Kelas literasi ramai. Seperti biasa. Bergegas pulang. Yang beda, minggu depan tempatnya di UNM. Di pelataran gedung Phinisi. Di pinggir jalan A.P Pettarani. 


06 Februari 2016

redaktur dadakan

Sudah tiga pekan terakhir saya memiliki semacam rutinitas yang sulit dihindari. Semenjak kelas literasi sesi kedua PI dibuka, saya mau tak mau harus berjibaku dengan Kala. Kala harus terbit di tiap pekan. Dia buletin sederhana yang digagas kelas literasi PI. Ada semacam keharusan moral agar Kala terus terbit. Maklum ini buletin baru yang kami rintis.

Karena manajemen buletin yang terhitung baru, maka tak ada semacam tim kerja yang dipunyai Kala. Praktis karena saya menjadi ketua kelas, saya pula yang berkewajiban mengurusinya.

Makanya tampilan Kala tidak seperti buletin umumnya. Kala hanya selembar kertas yang dilipat menjadi dua bagian secara horizontal. Karena itu Kala bisa dibilang selebaran. Itupun dikerja dalam format word. Tapi karena ingin dibilang keren, kami menyebutnya buletin.

Format sederhana Kala hanya mampu menampung dua tulisan dengan batasan 500 sampai 700 kata. Itupun kadang ada tulisan yang sampai 1000an kata. Kalau sudah begini, saya harus bekerja ekstra agar kertas kwarto yang dipakai bisa menampung semua tulisan yang bakal terbit.

Kadang kalau masih ada ruang kosong, saya akan menyelipkan beberapa puisi agar tidak siasia. Ini bisa dilakukan kalau memang tulisan yang masuk tidak menyetor tulisan yang panjangpanjang. Ya kalau panjang, sudah pasti hanya dua tulisan saja yang bakal saya masukkan. Selebihnya barangkali hanya bagian kotak kecil sebagai semacam iklan yang diisi pengunguman redaktur.

Seperti yang saya bilang Kala tidak punya tim kerja. Toh kalau ada itu hanya berlaku bagi kelas literasi. Jadinya setiap minggu saya harus mencari minimal dua tulisan agar Kala bisa terbit. Sumber tulisan tidak jauhjauh, semuanya dari karya kawankawan peserta kelas literasi PI.

Dulu saya sempat bekerja di salah satu harian surat kabar di Makassar. Sebagai wartawan saya pasti melihat langsung bagaimana redaktur bekerja di hadapan meja kerjanya. Bagaimana redaktur mengedit tiga sampai empat tulisan selama semalam. Apalagi redaktur yang dapat jatah mengedit kolom opini. Dia harus pandaipandai memilih tulisan dan jeli melihat perkembangan kejadiankejadian yang sedang berlangsung.

Ketika saya mendapat piket kerja, saya juga terkadang mendapat tugas mengedit beritaberita yang bakal naik cetak. Jadi sebelum file berita dikirim ke percetakan, saya ditugaskan untuk memeriksa kembali apapun jenis kesalahan dari penulisan. Mulai dari kesalahan ketik, istilah, huruf sampai tanda komanya, semuanya harus diedit sebelum naik cetak.

Sekarang ketika Kala sudah memasuki pekan keempat, pekerjaan itu rasarasanya saya alami kembali. Maklum Kala secara defenitif belum memiliki redaktur, apalagi editor. Sehingga dua pekerjaan itu harus saya lakukan di tiap akhir pekannya.

Maka jadilah saya redaktur karbitan, orang yang mengelola tulisan kawankawan sekaligus mengedit sedikitsedikit tulisan yang dianggap “menyimpang.” Selama mengerjakan tugas ini saya merasa bak sedang mengelolah semacam majalah mingguan yang super tenar. Mingguan yang setiap orang menunggu dibaca.

Tapi nyatanya ini hanya Kala, selebaran yang sungguh sangat sederhana. Buletin yang barangkali dibaca hanya sekitar duapuluh orang. Namun, dari yang saya alami, ini pekerjaan besar. Setidaknya bagi saya yang ingin meningkatkan kualitas teknik menulis. Karena itu dengan senang hati tiap akhir pekan saya bisa belajar dari beragam jenis tulisan yang saya baca.

Karena belum memiliki tim redaksi yang mapan, Kala untuk sementara tidak memasang target wacana apa yang bakal jadi topik tiap minggunya. Saya sempat ditanya, apakah tiap minggu Kala bakal mengangkat satu topik tertentu? Saya bilang, itu target yang terlalu tinggi untuk buletin semacam kala. Saat ini kala hanya punya satu tujuan, menerbitkan tulisan kawankawan peserta literasi PI.

Pertanyaan kawan itu,  lebih disebabkan oleh banyak faktor. Setidaknya ada satu faktor yang paling menentukan, yakni sampai saat ini belum ada yang mau mengirimkan tulisannya hanya untuk diterbitkan Kala. Redaksi Kala bukan seperti redaksi mediamedia besar yang menerima ratusan tulisan dari pembacanya sehingga dengan gampang menentukan topik apa yang bakal diterbitkan. Apalagi Kala tidak menerima tulisan dari pihak luar.

Makanya, tiap akhir pekan saya harus mencari tulisan siapa lagi yang bakal dipakai Kala. Seringkali pula saya harus membuka beberapa blog kawankawan mengintip beberapa tulisannya. Kalau cocok, baru kemudian saya hubungi meminta tulisannya. Karena itulah, di satu sisi keberlangusungan Kala sangat ditentukan sejauh apa kawankawan sering menulis. Di situlah nyawanya.

Saat saya mengedit tulisan kawankawan, saya seperti dijarkan menulis. Saya termasuk orang yang minim membaca, makanya ketika menerima tulisan kawankawan saya bisa membaca sekaligus diajak melihat seberapa jauh tehnik menulis saya.

Dalam mengeditori tulisan yang masuk setidaknya ada empat hal yang saya jadikan aturan main. Pertama koherensi. Aturan ini saya pakai untuk memindai seberapa kuat hubungan asumsi dari kalimat yang dipakai penulis. Entah itu dari kalimat per kalimat, maupun paragraf per paragraf.

Kedua, saya harus melihat struktur kalimat. Pada bagian ini, saya terkadang banyak berhatihati karena berhubungan ini langsung dengan gaya menulis seseorang. Sangat tidak mungkin saya mengubah jenis kalimat seperti gaya menulis yang ditunjukkan Nietzsche yang metafor dan simbolis. Juga bagi gaya tulisan sastrawi yang belakangan banyak digandrungi.

Yang ketiga, saya harus jeli melihat seberapa tepat penggunaan istilahistilah. Terkadang di bagian ini saya sering menemukan pengguanaan istilah yang bukan semestinya. Juga terkadang ada penulis yang lupa memiringkan istilah jika itu berbahasa asing. Kalau yang ini akan sangat mudah ditemukan sepanjang saya terus membaca.

Terakhir adalah kesalahan pengetikan atau ejaan. Bagi penulis pemula bagian ini akan sering tak sengaja dilakukan. Bahkan saya juga sering melakukannya, terutama kesalahan ketik. Makanya di sesi ini saya harus banyak menghapal katakata baku. Misalnya kata silahkan mestinya ditulis silakan sebagai bentuk bakunya. Di bagian ini tidak seperti level yang pertama, kemampuan matalah yang dipakai. Jeli melihat ejaan yang menyimpang.

Saya terkadang harus merasa sebagai musuh penulis. Perasaan ini kebalikan dari keyakinan saya, penulis pasti punya musuh; editor. Menjadi editor dan penulis dua hal yang saya rasa punya tanggung jawab yang berbeda walaupun tujuannya sama. Namun ketika mengedit tulisan kawanakawan saya harus tegategaan ketika sampai menghilangkan beberapa paragraf yang tidak relevan. Ini kerap kalau pengertian yang dimaksud sudah dibahas di kalimat atau paragraf sebelumnya. Atau memang keterbatasan ruang yang dimiliki.

Kalau sudah begitu ada rasa bersalah memotong beberapa bagian tulisan. Saya seperti dokter amputasi ketika melakukan itu. Membuang bagian tubuh yang membusuk dan akan berbahaya bagi tubuh. Apalagi ini tulisan buah pikiran si penulis. Yang saya anggap anakanak ruhani, yang tak bisa diperlakukan semenamena.

Tapi apa daya kalau misalnya anak yang lahir justru kembar siam, saya mau tak mau membedahnya agar dapat selamat. Walaupun saya bukan dokter, saya merasa harus melakukan itu.

Baiklah, intinya saya sedang menyukai pekerjaan baru ini; mencari dan mengedit tulisan. Jadi jika ada yang mau menggantikan posisi saya biarkanlah saya menikmatinya dulu sembari Kala sudah bisa bertahan. Saya senang mengerjakannya, hitunghitung saya belajar di tiap akhir pekan.

Terakhir pekerjaan ini bisa dibilang dapat dipakai sebagai gagahgagahan. Kalau suatu saat ada yang bertanya apa pekerjaan saya, dengan bangga akan langsung dijawab redaktur. Redaktur mana? Kala, jawab saya. Urusan setan dia mau cari tahu apa itu Kala. Apalagi kalau mengganggap media harian. Pokoknya Kala. Sekaligus alternatif agar tidak menyebut mahasiswa. Mahasiswa itu bukan pekerjaan Bung. Apalagi meyakininya sebagai profesi. Saya capek mengisi biodata kalau menyebut pekerjaan  mahasiswa. Sekalikali bolehlah, redaktur mingguan Kala. 


05 Februari 2016

madah limapuluhlima

Ada suatu ramalan, bahwa dunia di masa sekarang adalah tempat yang sudah uzur. Dunia yang tua. Dunia yang sebentar lagi bakal hancur. 

Dunia yang tua, ditandai dengan hubungan manusia yang penuh dusta. Ikatan sosial yang hipokrit. Welas asih yang pamrih. Kebaikan yang bersyarat. Kemanusiaan yang ditopang dengan semangat ekspansif untuk membangun kekuasaan. Dunia yang tua, diramalkan sebagai akhir dari dunia.

Itulah mengapa di balik justifikasi demikian, dunia akhirakhir ini banyak didera derita. Agama yang nubuatnya untuk kasih sayang malah sering kali merobekrobek tubuh. Teknologi justru membuat manusia menjadi robot yang kadang melupakan esensi kemanusiaan. Kebudayaan manusia akhirnya mejadi suatu sikap barbar. Ramalan yang dinabalkan Hobbes, homo homini lupus menjadi dorongan moral di dalam relasi antara sesama. Hidup seakanakan hanya suatu keramian tanpa perhatian. Yang ada adalah rakus yang mengaungngaung.

Saya belakangan ini malah ikut menjadi orangorang yang abai. Yang menjadi bagian tanpa perlu diucapkan, bahwa diamnya seseorang malah akan dianggap menjadi bagian dari suatu skema yang dominan. 

Kita yang secara pendidikan, ekonomi, maupun budaya, yang tergolong mapan dari kelas yang ditindas, sepertinya menjadi orangorang yang dihardik dalam hadis: barang siapa yang diam ketika menyaksikan penindasan, maka dia terhitung di dalamnya sebagai ikut melakukan. Hadis yang saya tak hafal penuh redaksinya ini, saya tahu pernah diucapkan Ali Bin Abi Thalib. Orang yang disebut rasul Allah sebagai orang yang menjadi gerbang ilmunya.

Secara etis, suatu sikap acuh bagi kita sering dibilangkan sebagai reaksi yang normal. Banyak hal yang membuat itu lumrah: pengemis yang sering kita lihat di bawah perempatan, penggusuran di sebelah kompleks tempat kita tinggal, terkulainya seorang perempuan yang terlibat kecelakaan, kawan yang sulit mencari nafkah, ibu hamil yang tidak kebagian kursi, dsb. adalah wajar begitu saja karena betapa akrabnya kita dengan keadaan semacam itu. Keakraban dan betapa seringnya fenomena semacam itu yang disaksikan membuat kesadaran dan kepekaan kita menjadi tumpul berlahanlahan.

Atau sepertinya kesadaran kita masih jatuh ke dalam keyakinan yang fatalis, yang mengandaikan bahwa seluruh jalinkelindan kehidupan ini adalah kejadian yang tanpa sebab. Suatu peristiwa yang terjadi begitu saja. Atau bahkan suatu keadaan yang memang telah diatur sebelumnya. 

Yang terakhir ini memang mengakui suatu alasan yang jelas sebagai musabab di balik keberlangsungan peristiwa yang dialami, namun dengan sendirinya, keyakinan semacam ini malah memberikan penekanan bahwa seluruh yang terjadi malah sudah demikian adanya.

Di saat itulah sikap acuh menjadi sebab dari bagian keadaan yang terjadi. Bahkan sebahagiannya sudah merasa berbuat baik dengan angkat bicara atas peristiwa yang dihadapi.  Diamdiam bangunan moral kita hanya ditopang atas tindakan verbal tanpa mau lebih jauh menjadi tindakan langsung. Banyak orang yang akhirnya asal omong merasa yakin telah berbuat baik. Asal komentar telah merasa benar.

Saya pernah membaca bahwa ada perbedaan mendasar antara shalihun dengan muslihun. Orang saleh, orang yang disebut bertakwa, orang yang dekat dengan tuhan, sudah pasti banyak. Mereka sering kali kita temui, bahkan sering kali mengajak agar orang banyakbanyak mengingat agamanya. 

Tapi mereka yang mau bertindak baik itu sangat jarang. Justru mereka yang ingin mengubah keadaan sulit kita temukan. Mereka ini bukan sekadar saleh, tapi orangorang yang mengajak untuk melakukan perubahan. Merekalah orangorang muslihun. Orangorang yang melakukan perbaikan. Akibatnya mereka sering dibenci, sering dicibir karena mengganggu kemapanan. Sementara orang yang saleh malah banyak mendapat simpati, bahkan disukai oleh banyak orang. Sebab mereka sering kali cari aman. Senangnya diam tanpa mau berbuat apaapa.

Itulah sebabnya ada firman Allah; “dan tidaklah Tuhanmu akan menghancurkan kota dengan kezaliman sedangkan penduduknya muslihun (melakukan perbaikan)” Ayat ini tidak memakai saleh, tapi muslihun. Orangorang yang berbuat kebaikan. Sebagaimana Muhammad adalah orang yang saleh (baik) sebelum diangkat menjadi nabi, dan menjadi muslihun (pelaku kebaikan) di saat ditunjuk menjadi pilihan Allah.  Karena itulah Muhammad dibenci akibat bertindak sebagai pelaku kebaikan, sebab tindakannya banyak mengubah tatanan yang terlanjur korup.

02 Februari 2016

Bahasa dan Kemungkinan Asal-Usulnya

Bahasa dibilangkan lebih dibentuk atas dasar pembedaan. Maksudnya tak ada kaitan semantik antara “ayam” dengan maknanya sebagai hewan berkokok berkaki dua. Tak ada hubungan inheren antara “ayah” dengan artinya sebagai lelaki yang memiliki anak. Kata “ayah” hanya bisa terpahami jika dibedakan dengan “ayam.” Ini dinamai prinsip difference oleh Ferdinand de Sausurre, seorang scholar bahasa. Juga, dakunya, hubungan antara makna dengan bahasa justru bersifat semenamena. Jadi kata “sedekah” yang didalilkan untuk merujuk suatu iktikad baik menyumbangkan sebagian harta, hanya arti yang ditempatkan begitu saja sebagai maknanya. Bisa saja besokbesok, “korupsi” memiliki makna yang menggamit/sama dengan arti dari kata sedekah.

Kata “ayat”, “sayat”, “mayat”, “dayat”, dengan begitu tak memiliki arti yang tetap, karena prinsip pembedaan dan kesemenamenaan, arti “ayat”, “sayat” bisa digontaganti tergantung pengguna bahasa. Makna keduanya bisa ditukarkan satu sama lain, seperti juga pada kata “mayat” menerima arti makna “dayat”. Sehingga kalau disusun dalam “mayat dayat di sayat ayat” akan sulit menemukan suatu arti lengkap dari penggabungan kalimat demikian. Apabila ditinjau dari hubungan sintagmatiknya, makna kalimat itu akan mengalami gangguan jika hubungan semantik di dalamnya telah berubah akibat prinsip pembedaan dan kesemenamenaan. Dalam kasus ini, makna suatu bahasa akan sulit dipahami kalau hubungan semantik dan sintagmatiknya tidak defenitif secara maknawi.

Sulit kiranya menemukan penggunaan bahasa yang setiap waktunya mengalami perubahan secara semantik. Komunikasi menjadi simpang siur akibat pemaknaan yang berubahubah. Bahkan secara sintagmatik, suatu tatanan bahasa tak akan mungkin memberikan arti tertentu apabila hubungan semantik antara kata dengan maknanya tidak stabil. Makanya perlu ada semacam kesepakatan untuk menyetujui “bangku” berarti tempat duduk, bukan tubuh yang terlantar sebagai arti dari “bangkai”. Kalau makna “bangkai” tertukar dengan arti kata “bangku”, bayangkan bagaimana kita akan menggunakannya dalam kehidupan seharihari. Ketika orang mengatakan “silakan duduk di bangku yang disediakan” bisa jadi orangorang enggan melakukannya lantaran menyangka yang dimaksud adalah “silakan duduk di mayat yang disediakan”.

Tapi dipikiran saya, apakah memang ada hubungan semantis antara term “word”, “work”, dan “word”. Tentu ini tidak dilihat dari kesamaan bunyi belaka, melainkan kalau ditilik dari makna yang dikandung, bisa saja memang sedari awal ketiga term ini dimulai dari satu pengalaman yang sama. Atau bisa saja, memang tak ada hubungan apaapa diantara kata yang dimaksud. Dengan kata lain, kesamaan bunyi di antaranya hanya kebetulan belaka.

Kalau melihat asalusulnya, terkadang suatu kata mendapatkan maknanya dari suatu peristiwa yang mendahuluinya. Kata “bom” misalnya, disebut bom karena suara yang dikeluarkan dari sesuatu benda yang meledak. “Tokek” disebut tokek karena diambil dari suara yang dikeluarkan hewan yang menyerupai cecak. Begitu pula “cecak” itu sendiri diambil sebagai nama dari bunyi yang dikeluarkan hewan yang merayap di dinding. Dari “bom”, “tokek”, dan “cecak” adalah beberapa kata yang diambil dari bebunyian sebagai namanya.

Bagi namanama semisal hewan akan mudah kita temukan hubungan bunyi dengan kata itu sendiri sebagai dasar penamaan. “Jangkrik” binatang malam yang sering mengeluarkan bunyi krik, krik, krik, diambil dari bunyinya sebagai nama untuk membedakannya dengan kecoa. Sama halnya hubungan antara suara mengembik dengan kambing sebagai namanya. Namun bukan saja hubungan antara bunyi, kaitan antara peristiwa alam juga  sering menjadi latar belakang dinamakannya sesuatu. Nama Subhan misalnya diambil atas terjadinya peristiwa awal pagi bagi anak yang lahir diwaktu fajar. Atau kata “fajar” itu sendiri yang dipakai untuk menandai seseorang yang memang lahir di waktu yang sama sebagai namanya.

Bisa dibilang makna suatu kata tidak sendirinya dikandung dari kata itu sendiri. “Panas” misalnya, tidak dengan sendirinya mengandung hawa 100 derajat celcius di dalam katanya. Maksudnya, makna panas itu sendiri hanya dipahami bukan dari kata “panas”, melainkan “suatu peristiwa” yang ditangkap di dalam pemikiran kita.  Atau secara semantik makna kata “panas” hanya bisa ditemukan kepada “wujud luar” yang mengalami titik didih 100 derajat celcius. Sehingga hubungan antara kata “panas”, “peristiwa dalam pikiran”, dan “wujud luar” yang mengalami titik didih 100 C, yang membentuk suatu makna.

Kata sabotase dalam bahasa Inggris, dalam sejarahnya diambil dari peristiwa buruh Inggris yang bergerak protes atas kontrak yang tidak memberikan waktu istirahat yang diinginkan. Kata sabotage merujuk pada sepatu boot buruh Inggris yang dimasukkan beramairamai untuk menghentikan aktivitas mesin pabrik melalui corongcorong uap mesin.  Dengan tujuan membuat mesin berhenti bekerja, situasi akhirnya berubah dengan waktu kosong yang dipunyai untuk beristirahat. Mulai saat itu aksi berupa memasukan sepatu boot disebut sabotage. Hingga hari ini kata sabotase dipakai untuk menunjuk suatu tindakan yang bertujuan mengganggu suatu sistem bekerja.

Sekarang apa kiranya kaitan antara word, work, dan world. Apakah ketiga kata ini berasal dari satu peristiwa yang sama. Misalnya, word dalam tingkatan tertentu berarti juga work. Sementara work yang berarti mengelolah, meramasramas, mengusahakan, pada arti lainnya bisa berarti world. Mungkin ini agak terkesan mengadangada, tapi dalam satu rangkaian proses tertentu ketiga kata ini memiliki relasi yang sama. Seorang penulis, bisa mengafirmasi ketiga kata ini dalam usahanya membangun suatu rangkaian kerja. Word yang merupakan bahan kerja penulis, sesuatu yang ia tata, diusahakan dalam rangkaian work yang merupakan bentuk kerja darinya yakni menulis. Sementara dari hasil word (tulisannya) dia membangun suatu dunia pemaknaan.

kala

Ini Kala. Buletin yang baru terbit dua pekan. Sebenarnya agak berani menyebutnya buletin karena tampakannya sederhana. Saya lebih ingin menyebutnya selebaran. Sebab memang dasarnya Kala hanya lipatan dari selembar kertas. Hanya format tulisannya saja yang terbagi dua secara horizontal.

Kala mengingatkan saya kepada selebaranselebaran kertas di masa perjuangan dulu. Kepada makna itulah saya ingin Kala diartikan. Selebaran yang punya maksud membangun perspektif kemerdekaan. Yang bertujuan menyebarkan informasi kepada sesama pejuang.

Agaknya itu terlalu berlebihan. Walaupun hari ini masa telah berganti rupa. Tidak ada lagi letusan peluru. Bedil yang diacungacung. Meriam yang mengoyak rubuh. Bambu runcing yang melubangi tubuh. Hari ini masa yang berbeda. Orangorang lebih ingin mengangkat gawainya daripada ikut berperang.

Tapi saya kira orangorang yang merintis Kala berbeda. Mereka punya sudut pandang lain. Peperangan boleh berakhir, tapi pertempuran masih saja tetap terasa. Itulah mengapa perlu alat perjuangan. Bukan bedil, tapi media tulis.

Dari situ Kala lahir. Agar suarasuara tidak bergerak di tempat. Sejak kelas literasi bergulir, baru kali ini media tulis mirip pamflet ini coba dihadirkan. Karena itulah baru dua kali Kala terbit. Tapi semangat kami besar, bukan dua, tapi seribu edisi. Begitulah semangat kadang menggebugebu.

Kala diniatkan juga bisa menampung tulisan kawan peserta kelas literasi Paradigma institue. Menurut kami, penting membuat wadah bagi kawankawan peserta agar lebih giat menulis. Kalau dianggap layak berdasarkan standar Kala, tak ada salahnya dimuat. Sekaligus ini ajang belajar bagi tulisan yang ingin dilempar ke publik yang lebih luas.

Kala dikelola manual. Tidak ada alat cetak khusus. Yang dipakai hanya mesin print seadanya. Itupun tintanya malah sering mampet dan berwarna merah. Jadi bukan kesengajaan kalau tintanya berwarna merah. Ini tidak ada sangkutpautnya dengan organ komunis manapun. Begitu juga dengan tanda bintang sebelum kata Kala, itu hanya aksesoris. Toh kalau disebut punya hubungan dengan organ kayak komunis, itupun beberapa anggotanya yang pernah nimbrung di organ kiri.

Diterbitan perdana Kala diisi dua tulisan. Pertama dari Sulhan Yusuf, judulnya Bersua Seno Gumira Ajidharma. Kedua tulisan saya sendiri di bawah tajuk Menulis itu Dua Hal. Kemarin terbitan kedua, Muchniart Azsebagai penulis dengan cerpennya Rinduku dan Bulir-Bulir Padi. Muhajir Ajir dengan esainya: Menggeledah Ruang, Mengintip Kekuasaan.

Diterbitan kedua, Putri Reski Ananda menyumbangkan beberapa syair dari blognya. Laila Majnun dan Pengikut Cinta, dua puisi yang ia iyakan untuk dipakai kali ini. Selebihnya bisa dibaca langsung. Entah kalian bisa mendapatkannya dari mana. Yang kami ingin, Kala bisa digandakan siapa pun. Hitunghitung ongkos produksi yang terbatas.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...