06 Februari 2016

redaktur dadakan

Sudah tiga pekan terakhir saya memiliki semacam rutinitas yang sulit dihindari. Semenjak kelas literasi sesi kedua PI dibuka, saya mau tak mau harus berjibaku dengan Kala. Kala harus terbit di tiap pekan. Dia buletin sederhana yang digagas kelas literasi PI. Ada semacam keharusan moral agar Kala terus terbit. Maklum ini buletin baru yang kami rintis.

Karena manajemen buletin yang terhitung baru, maka tak ada semacam tim kerja yang dipunyai Kala. Praktis karena saya menjadi ketua kelas, saya pula yang berkewajiban mengurusinya.

Makanya tampilan Kala tidak seperti buletin umumnya. Kala hanya selembar kertas yang dilipat menjadi dua bagian secara horizontal. Karena itu Kala bisa dibilang selebaran. Itupun dikerja dalam format word. Tapi karena ingin dibilang keren, kami menyebutnya buletin.

Format sederhana Kala hanya mampu menampung dua tulisan dengan batasan 500 sampai 700 kata. Itupun kadang ada tulisan yang sampai 1000an kata. Kalau sudah begini, saya harus bekerja ekstra agar kertas kwarto yang dipakai bisa menampung semua tulisan yang bakal terbit.

Kadang kalau masih ada ruang kosong, saya akan menyelipkan beberapa puisi agar tidak siasia. Ini bisa dilakukan kalau memang tulisan yang masuk tidak menyetor tulisan yang panjangpanjang. Ya kalau panjang, sudah pasti hanya dua tulisan saja yang bakal saya masukkan. Selebihnya barangkali hanya bagian kotak kecil sebagai semacam iklan yang diisi pengunguman redaktur.

Seperti yang saya bilang Kala tidak punya tim kerja. Toh kalau ada itu hanya berlaku bagi kelas literasi. Jadinya setiap minggu saya harus mencari minimal dua tulisan agar Kala bisa terbit. Sumber tulisan tidak jauhjauh, semuanya dari karya kawankawan peserta kelas literasi PI.

Dulu saya sempat bekerja di salah satu harian surat kabar di Makassar. Sebagai wartawan saya pasti melihat langsung bagaimana redaktur bekerja di hadapan meja kerjanya. Bagaimana redaktur mengedit tiga sampai empat tulisan selama semalam. Apalagi redaktur yang dapat jatah mengedit kolom opini. Dia harus pandaipandai memilih tulisan dan jeli melihat perkembangan kejadiankejadian yang sedang berlangsung.

Ketika saya mendapat piket kerja, saya juga terkadang mendapat tugas mengedit beritaberita yang bakal naik cetak. Jadi sebelum file berita dikirim ke percetakan, saya ditugaskan untuk memeriksa kembali apapun jenis kesalahan dari penulisan. Mulai dari kesalahan ketik, istilah, huruf sampai tanda komanya, semuanya harus diedit sebelum naik cetak.

Sekarang ketika Kala sudah memasuki pekan keempat, pekerjaan itu rasarasanya saya alami kembali. Maklum Kala secara defenitif belum memiliki redaktur, apalagi editor. Sehingga dua pekerjaan itu harus saya lakukan di tiap akhir pekannya.

Maka jadilah saya redaktur karbitan, orang yang mengelola tulisan kawankawan sekaligus mengedit sedikitsedikit tulisan yang dianggap “menyimpang.” Selama mengerjakan tugas ini saya merasa bak sedang mengelolah semacam majalah mingguan yang super tenar. Mingguan yang setiap orang menunggu dibaca.

Tapi nyatanya ini hanya Kala, selebaran yang sungguh sangat sederhana. Buletin yang barangkali dibaca hanya sekitar duapuluh orang. Namun, dari yang saya alami, ini pekerjaan besar. Setidaknya bagi saya yang ingin meningkatkan kualitas teknik menulis. Karena itu dengan senang hati tiap akhir pekan saya bisa belajar dari beragam jenis tulisan yang saya baca.

Karena belum memiliki tim redaksi yang mapan, Kala untuk sementara tidak memasang target wacana apa yang bakal jadi topik tiap minggunya. Saya sempat ditanya, apakah tiap minggu Kala bakal mengangkat satu topik tertentu? Saya bilang, itu target yang terlalu tinggi untuk buletin semacam kala. Saat ini kala hanya punya satu tujuan, menerbitkan tulisan kawankawan peserta literasi PI.

Pertanyaan kawan itu,  lebih disebabkan oleh banyak faktor. Setidaknya ada satu faktor yang paling menentukan, yakni sampai saat ini belum ada yang mau mengirimkan tulisannya hanya untuk diterbitkan Kala. Redaksi Kala bukan seperti redaksi mediamedia besar yang menerima ratusan tulisan dari pembacanya sehingga dengan gampang menentukan topik apa yang bakal diterbitkan. Apalagi Kala tidak menerima tulisan dari pihak luar.

Makanya, tiap akhir pekan saya harus mencari tulisan siapa lagi yang bakal dipakai Kala. Seringkali pula saya harus membuka beberapa blog kawankawan mengintip beberapa tulisannya. Kalau cocok, baru kemudian saya hubungi meminta tulisannya. Karena itulah, di satu sisi keberlangusungan Kala sangat ditentukan sejauh apa kawankawan sering menulis. Di situlah nyawanya.

Saat saya mengedit tulisan kawankawan, saya seperti dijarkan menulis. Saya termasuk orang yang minim membaca, makanya ketika menerima tulisan kawankawan saya bisa membaca sekaligus diajak melihat seberapa jauh tehnik menulis saya.

Dalam mengeditori tulisan yang masuk setidaknya ada empat hal yang saya jadikan aturan main. Pertama koherensi. Aturan ini saya pakai untuk memindai seberapa kuat hubungan asumsi dari kalimat yang dipakai penulis. Entah itu dari kalimat per kalimat, maupun paragraf per paragraf.

Kedua, saya harus melihat struktur kalimat. Pada bagian ini, saya terkadang banyak berhatihati karena berhubungan ini langsung dengan gaya menulis seseorang. Sangat tidak mungkin saya mengubah jenis kalimat seperti gaya menulis yang ditunjukkan Nietzsche yang metafor dan simbolis. Juga bagi gaya tulisan sastrawi yang belakangan banyak digandrungi.

Yang ketiga, saya harus jeli melihat seberapa tepat penggunaan istilahistilah. Terkadang di bagian ini saya sering menemukan pengguanaan istilah yang bukan semestinya. Juga terkadang ada penulis yang lupa memiringkan istilah jika itu berbahasa asing. Kalau yang ini akan sangat mudah ditemukan sepanjang saya terus membaca.

Terakhir adalah kesalahan pengetikan atau ejaan. Bagi penulis pemula bagian ini akan sering tak sengaja dilakukan. Bahkan saya juga sering melakukannya, terutama kesalahan ketik. Makanya di sesi ini saya harus banyak menghapal katakata baku. Misalnya kata silahkan mestinya ditulis silakan sebagai bentuk bakunya. Di bagian ini tidak seperti level yang pertama, kemampuan matalah yang dipakai. Jeli melihat ejaan yang menyimpang.

Saya terkadang harus merasa sebagai musuh penulis. Perasaan ini kebalikan dari keyakinan saya, penulis pasti punya musuh; editor. Menjadi editor dan penulis dua hal yang saya rasa punya tanggung jawab yang berbeda walaupun tujuannya sama. Namun ketika mengedit tulisan kawanakawan saya harus tegategaan ketika sampai menghilangkan beberapa paragraf yang tidak relevan. Ini kerap kalau pengertian yang dimaksud sudah dibahas di kalimat atau paragraf sebelumnya. Atau memang keterbatasan ruang yang dimiliki.

Kalau sudah begitu ada rasa bersalah memotong beberapa bagian tulisan. Saya seperti dokter amputasi ketika melakukan itu. Membuang bagian tubuh yang membusuk dan akan berbahaya bagi tubuh. Apalagi ini tulisan buah pikiran si penulis. Yang saya anggap anakanak ruhani, yang tak bisa diperlakukan semenamena.

Tapi apa daya kalau misalnya anak yang lahir justru kembar siam, saya mau tak mau membedahnya agar dapat selamat. Walaupun saya bukan dokter, saya merasa harus melakukan itu.

Baiklah, intinya saya sedang menyukai pekerjaan baru ini; mencari dan mengedit tulisan. Jadi jika ada yang mau menggantikan posisi saya biarkanlah saya menikmatinya dulu sembari Kala sudah bisa bertahan. Saya senang mengerjakannya, hitunghitung saya belajar di tiap akhir pekan.

Terakhir pekerjaan ini bisa dibilang dapat dipakai sebagai gagahgagahan. Kalau suatu saat ada yang bertanya apa pekerjaan saya, dengan bangga akan langsung dijawab redaktur. Redaktur mana? Kala, jawab saya. Urusan setan dia mau cari tahu apa itu Kala. Apalagi kalau mengganggap media harian. Pokoknya Kala. Sekaligus alternatif agar tidak menyebut mahasiswa. Mahasiswa itu bukan pekerjaan Bung. Apalagi meyakininya sebagai profesi. Saya capek mengisi biodata kalau menyebut pekerjaan  mahasiswa. Sekalikali bolehlah, redaktur mingguan Kala. 


05 Februari 2016

madah limapuluhlima

Ada suatu ramalan, bahwa dunia di masa sekarang adalah tempat yang sudah uzur. Dunia yang tua. Dunia yang sebentar lagi bakal hancur. 

Dunia yang tua, ditandai dengan hubungan manusia yang penuh dusta. Ikatan sosial yang hipokrit. Welas asih yang pamrih. Kebaikan yang bersyarat. Kemanusiaan yang ditopang dengan semangat ekspansif untuk membangun kekuasaan. Dunia yang tua, diramalkan sebagai akhir dari dunia.

Itulah mengapa di balik justifikasi demikian, dunia akhirakhir ini banyak didera derita. Agama yang nubuatnya untuk kasih sayang malah sering kali merobekrobek tubuh. Teknologi justru membuat manusia menjadi robot yang kadang melupakan esensi kemanusiaan. Kebudayaan manusia akhirnya mejadi suatu sikap barbar. Ramalan yang dinabalkan Hobbes, homo homini lupus menjadi dorongan moral di dalam relasi antara sesama. Hidup seakanakan hanya suatu keramian tanpa perhatian. Yang ada adalah rakus yang mengaungngaung.

Saya belakangan ini malah ikut menjadi orangorang yang abai. Yang menjadi bagian tanpa perlu diucapkan, bahwa diamnya seseorang malah akan dianggap menjadi bagian dari suatu skema yang dominan. 

Kita yang secara pendidikan, ekonomi, maupun budaya, yang tergolong mapan dari kelas yang ditindas, sepertinya menjadi orangorang yang dihardik dalam hadis: barang siapa yang diam ketika menyaksikan penindasan, maka dia terhitung di dalamnya sebagai ikut melakukan. Hadis yang saya tak hafal penuh redaksinya ini, saya tahu pernah diucapkan Ali Bin Abi Thalib. Orang yang disebut rasul Allah sebagai orang yang menjadi gerbang ilmunya.

Secara etis, suatu sikap acuh bagi kita sering dibilangkan sebagai reaksi yang normal. Banyak hal yang membuat itu lumrah: pengemis yang sering kita lihat di bawah perempatan, penggusuran di sebelah kompleks tempat kita tinggal, terkulainya seorang perempuan yang terlibat kecelakaan, kawan yang sulit mencari nafkah, ibu hamil yang tidak kebagian kursi, dsb. adalah wajar begitu saja karena betapa akrabnya kita dengan keadaan semacam itu. Keakraban dan betapa seringnya fenomena semacam itu yang disaksikan membuat kesadaran dan kepekaan kita menjadi tumpul berlahanlahan.

Atau sepertinya kesadaran kita masih jatuh ke dalam keyakinan yang fatalis, yang mengandaikan bahwa seluruh jalinkelindan kehidupan ini adalah kejadian yang tanpa sebab. Suatu peristiwa yang terjadi begitu saja. Atau bahkan suatu keadaan yang memang telah diatur sebelumnya. 

Yang terakhir ini memang mengakui suatu alasan yang jelas sebagai musabab di balik keberlangsungan peristiwa yang dialami, namun dengan sendirinya, keyakinan semacam ini malah memberikan penekanan bahwa seluruh yang terjadi malah sudah demikian adanya.

Di saat itulah sikap acuh menjadi sebab dari bagian keadaan yang terjadi. Bahkan sebahagiannya sudah merasa berbuat baik dengan angkat bicara atas peristiwa yang dihadapi.  Diamdiam bangunan moral kita hanya ditopang atas tindakan verbal tanpa mau lebih jauh menjadi tindakan langsung. Banyak orang yang akhirnya asal omong merasa yakin telah berbuat baik. Asal komentar telah merasa benar.

Saya pernah membaca bahwa ada perbedaan mendasar antara shalihun dengan muslihun. Orang saleh, orang yang disebut bertakwa, orang yang dekat dengan tuhan, sudah pasti banyak. Mereka sering kali kita temui, bahkan sering kali mengajak agar orang banyakbanyak mengingat agamanya. 

Tapi mereka yang mau bertindak baik itu sangat jarang. Justru mereka yang ingin mengubah keadaan sulit kita temukan. Mereka ini bukan sekadar saleh, tapi orangorang yang mengajak untuk melakukan perubahan. Merekalah orangorang muslihun. Orangorang yang melakukan perbaikan. Akibatnya mereka sering dibenci, sering dicibir karena mengganggu kemapanan. Sementara orang yang saleh malah banyak mendapat simpati, bahkan disukai oleh banyak orang. Sebab mereka sering kali cari aman. Senangnya diam tanpa mau berbuat apaapa.

Itulah sebabnya ada firman Allah; “dan tidaklah Tuhanmu akan menghancurkan kota dengan kezaliman sedangkan penduduknya muslihun (melakukan perbaikan)” Ayat ini tidak memakai saleh, tapi muslihun. Orangorang yang berbuat kebaikan. Sebagaimana Muhammad adalah orang yang saleh (baik) sebelum diangkat menjadi nabi, dan menjadi muslihun (pelaku kebaikan) di saat ditunjuk menjadi pilihan Allah.  Karena itulah Muhammad dibenci akibat bertindak sebagai pelaku kebaikan, sebab tindakannya banyak mengubah tatanan yang terlanjur korup.

02 Februari 2016

Bahasa dan Kemungkinan Asal-Usulnya

Bahasa dibilangkan lebih dibentuk atas dasar pembedaan. Maksudnya tak ada kaitan semantik antara “ayam” dengan maknanya sebagai hewan berkokok berkaki dua. Tak ada hubungan inheren antara “ayah” dengan artinya sebagai lelaki yang memiliki anak. Kata “ayah” hanya bisa terpahami jika dibedakan dengan “ayam.” Ini dinamai prinsip difference oleh Ferdinand de Sausurre, seorang scholar bahasa. Juga, dakunya, hubungan antara makna dengan bahasa justru bersifat semenamena. Jadi kata “sedekah” yang didalilkan untuk merujuk suatu iktikad baik menyumbangkan sebagian harta, hanya arti yang ditempatkan begitu saja sebagai maknanya. Bisa saja besokbesok, “korupsi” memiliki makna yang menggamit/sama dengan arti dari kata sedekah.

Kata “ayat”, “sayat”, “mayat”, “dayat”, dengan begitu tak memiliki arti yang tetap, karena prinsip pembedaan dan kesemenamenaan, arti “ayat”, “sayat” bisa digontaganti tergantung pengguna bahasa. Makna keduanya bisa ditukarkan satu sama lain, seperti juga pada kata “mayat” menerima arti makna “dayat”. Sehingga kalau disusun dalam “mayat dayat di sayat ayat” akan sulit menemukan suatu arti lengkap dari penggabungan kalimat demikian. Apabila ditinjau dari hubungan sintagmatiknya, makna kalimat itu akan mengalami gangguan jika hubungan semantik di dalamnya telah berubah akibat prinsip pembedaan dan kesemenamenaan. Dalam kasus ini, makna suatu bahasa akan sulit dipahami kalau hubungan semantik dan sintagmatiknya tidak defenitif secara maknawi.

Sulit kiranya menemukan penggunaan bahasa yang setiap waktunya mengalami perubahan secara semantik. Komunikasi menjadi simpang siur akibat pemaknaan yang berubahubah. Bahkan secara sintagmatik, suatu tatanan bahasa tak akan mungkin memberikan arti tertentu apabila hubungan semantik antara kata dengan maknanya tidak stabil. Makanya perlu ada semacam kesepakatan untuk menyetujui “bangku” berarti tempat duduk, bukan tubuh yang terlantar sebagai arti dari “bangkai”. Kalau makna “bangkai” tertukar dengan arti kata “bangku”, bayangkan bagaimana kita akan menggunakannya dalam kehidupan seharihari. Ketika orang mengatakan “silakan duduk di bangku yang disediakan” bisa jadi orangorang enggan melakukannya lantaran menyangka yang dimaksud adalah “silakan duduk di mayat yang disediakan”.

Tapi dipikiran saya, apakah memang ada hubungan semantis antara term “word”, “work”, dan “word”. Tentu ini tidak dilihat dari kesamaan bunyi belaka, melainkan kalau ditilik dari makna yang dikandung, bisa saja memang sedari awal ketiga term ini dimulai dari satu pengalaman yang sama. Atau bisa saja, memang tak ada hubungan apaapa diantara kata yang dimaksud. Dengan kata lain, kesamaan bunyi di antaranya hanya kebetulan belaka.

Kalau melihat asalusulnya, terkadang suatu kata mendapatkan maknanya dari suatu peristiwa yang mendahuluinya. Kata “bom” misalnya, disebut bom karena suara yang dikeluarkan dari sesuatu benda yang meledak. “Tokek” disebut tokek karena diambil dari suara yang dikeluarkan hewan yang menyerupai cecak. Begitu pula “cecak” itu sendiri diambil sebagai nama dari bunyi yang dikeluarkan hewan yang merayap di dinding. Dari “bom”, “tokek”, dan “cecak” adalah beberapa kata yang diambil dari bebunyian sebagai namanya.

Bagi namanama semisal hewan akan mudah kita temukan hubungan bunyi dengan kata itu sendiri sebagai dasar penamaan. “Jangkrik” binatang malam yang sering mengeluarkan bunyi krik, krik, krik, diambil dari bunyinya sebagai nama untuk membedakannya dengan kecoa. Sama halnya hubungan antara suara mengembik dengan kambing sebagai namanya. Namun bukan saja hubungan antara bunyi, kaitan antara peristiwa alam juga  sering menjadi latar belakang dinamakannya sesuatu. Nama Subhan misalnya diambil atas terjadinya peristiwa awal pagi bagi anak yang lahir diwaktu fajar. Atau kata “fajar” itu sendiri yang dipakai untuk menandai seseorang yang memang lahir di waktu yang sama sebagai namanya.

Bisa dibilang makna suatu kata tidak sendirinya dikandung dari kata itu sendiri. “Panas” misalnya, tidak dengan sendirinya mengandung hawa 100 derajat celcius di dalam katanya. Maksudnya, makna panas itu sendiri hanya dipahami bukan dari kata “panas”, melainkan “suatu peristiwa” yang ditangkap di dalam pemikiran kita.  Atau secara semantik makna kata “panas” hanya bisa ditemukan kepada “wujud luar” yang mengalami titik didih 100 derajat celcius. Sehingga hubungan antara kata “panas”, “peristiwa dalam pikiran”, dan “wujud luar” yang mengalami titik didih 100 C, yang membentuk suatu makna.

Kata sabotase dalam bahasa Inggris, dalam sejarahnya diambil dari peristiwa buruh Inggris yang bergerak protes atas kontrak yang tidak memberikan waktu istirahat yang diinginkan. Kata sabotage merujuk pada sepatu boot buruh Inggris yang dimasukkan beramairamai untuk menghentikan aktivitas mesin pabrik melalui corongcorong uap mesin.  Dengan tujuan membuat mesin berhenti bekerja, situasi akhirnya berubah dengan waktu kosong yang dipunyai untuk beristirahat. Mulai saat itu aksi berupa memasukan sepatu boot disebut sabotage. Hingga hari ini kata sabotase dipakai untuk menunjuk suatu tindakan yang bertujuan mengganggu suatu sistem bekerja.

Sekarang apa kiranya kaitan antara word, work, dan world. Apakah ketiga kata ini berasal dari satu peristiwa yang sama. Misalnya, word dalam tingkatan tertentu berarti juga work. Sementara work yang berarti mengelolah, meramasramas, mengusahakan, pada arti lainnya bisa berarti world. Mungkin ini agak terkesan mengadangada, tapi dalam satu rangkaian proses tertentu ketiga kata ini memiliki relasi yang sama. Seorang penulis, bisa mengafirmasi ketiga kata ini dalam usahanya membangun suatu rangkaian kerja. Word yang merupakan bahan kerja penulis, sesuatu yang ia tata, diusahakan dalam rangkaian work yang merupakan bentuk kerja darinya yakni menulis. Sementara dari hasil word (tulisannya) dia membangun suatu dunia pemaknaan.

kala

Ini Kala. Buletin yang baru terbit dua pekan. Sebenarnya agak berani menyebutnya buletin karena tampakannya sederhana. Saya lebih ingin menyebutnya selebaran. Sebab memang dasarnya Kala hanya lipatan dari selembar kertas. Hanya format tulisannya saja yang terbagi dua secara horizontal.

Kala mengingatkan saya kepada selebaranselebaran kertas di masa perjuangan dulu. Kepada makna itulah saya ingin Kala diartikan. Selebaran yang punya maksud membangun perspektif kemerdekaan. Yang bertujuan menyebarkan informasi kepada sesama pejuang.

Agaknya itu terlalu berlebihan. Walaupun hari ini masa telah berganti rupa. Tidak ada lagi letusan peluru. Bedil yang diacungacung. Meriam yang mengoyak rubuh. Bambu runcing yang melubangi tubuh. Hari ini masa yang berbeda. Orangorang lebih ingin mengangkat gawainya daripada ikut berperang.

Tapi saya kira orangorang yang merintis Kala berbeda. Mereka punya sudut pandang lain. Peperangan boleh berakhir, tapi pertempuran masih saja tetap terasa. Itulah mengapa perlu alat perjuangan. Bukan bedil, tapi media tulis.

Dari situ Kala lahir. Agar suarasuara tidak bergerak di tempat. Sejak kelas literasi bergulir, baru kali ini media tulis mirip pamflet ini coba dihadirkan. Karena itulah baru dua kali Kala terbit. Tapi semangat kami besar, bukan dua, tapi seribu edisi. Begitulah semangat kadang menggebugebu.

Kala diniatkan juga bisa menampung tulisan kawan peserta kelas literasi Paradigma institue. Menurut kami, penting membuat wadah bagi kawankawan peserta agar lebih giat menulis. Kalau dianggap layak berdasarkan standar Kala, tak ada salahnya dimuat. Sekaligus ini ajang belajar bagi tulisan yang ingin dilempar ke publik yang lebih luas.

Kala dikelola manual. Tidak ada alat cetak khusus. Yang dipakai hanya mesin print seadanya. Itupun tintanya malah sering mampet dan berwarna merah. Jadi bukan kesengajaan kalau tintanya berwarna merah. Ini tidak ada sangkutpautnya dengan organ komunis manapun. Begitu juga dengan tanda bintang sebelum kata Kala, itu hanya aksesoris. Toh kalau disebut punya hubungan dengan organ kayak komunis, itupun beberapa anggotanya yang pernah nimbrung di organ kiri.

Diterbitan perdana Kala diisi dua tulisan. Pertama dari Sulhan Yusuf, judulnya Bersua Seno Gumira Ajidharma. Kedua tulisan saya sendiri di bawah tajuk Menulis itu Dua Hal. Kemarin terbitan kedua, Muchniart Azsebagai penulis dengan cerpennya Rinduku dan Bulir-Bulir Padi. Muhajir Ajir dengan esainya: Menggeledah Ruang, Mengintip Kekuasaan.

Diterbitan kedua, Putri Reski Ananda menyumbangkan beberapa syair dari blognya. Laila Majnun dan Pengikut Cinta, dua puisi yang ia iyakan untuk dipakai kali ini. Selebihnya bisa dibaca langsung. Entah kalian bisa mendapatkannya dari mana. Yang kami ingin, Kala bisa digandakan siapa pun. Hitunghitung ongkos produksi yang terbatas.


01 Februari 2016

suasana kelas baru

Sudah dua pekan kelas literasi dipadati peserta. Bilik belakang yang sering ditempati, demi membuat nyaman peserta juga sudah ditata ulang. Ruangan yang semula hanya mengambil satu pojok belakang toko buku akhirnya dibuat lebar. Namun tetap saja karena peserta yang membludak, ruangan belajar yang sering dipakai jadi tidak cukup. Di pertemuan terakhir kemarin, bahkan yunda Mauliah Mulkin sudah menambahkan satu kipas angin besar di atas meja untuk membuat sirkulasi udara berjalan lancar.

Ruang kerja kanda Sulhan Yusuf  memang di enam bulan terakhir berubah jadi padat. Semenjak kelas literasi dibuka, kami sering menggunakan ruang kerjanya sebagai kelas pertemuan. Awalnya tak ada bayangan bahwa kelas akan penuh sesak, walaupun kelas sebelumnya juga sering banyak dihadiri peserta. Tapi, seperti yang saya bilang, kelas yang kedua pesertanya membludak. Akhirnya membuat tempat selama ini dipakai jadi tidak muat.

Akibatnya saya kemarin susah mengambil gambar dari berbagai sisi. Setiap sudut sudah diduduki peserta. Bahkan sampai melebar ke tengah ruangan. Makanya agak risih kalau saya mondarmandir bergerak ketika mengambil gambar. Padahal, sesi jepratjepret sudah jadi kebijakan tak tertulis untuk mengabadikan setiap momen yang terjadi. Apalagi ada sebagian kawankawan yang senang groupy kalau difoto. Mereka bisa langsung ambil gaya kalau kamera nongol.

Beberapa pertemuan belakangan ada niat keluar kandang. Mengingat kemarinkemarin yunda Muchniart Az sempat unjuk rasa. Maklum selain Putri Reski Ananda, ibu dari Za ini salah satu peserta yang jauh tinggal di pinggiran kota. Saya biasa bangga memiliki panutan seperti kak Niart, jauhjauh naik motor sambil membawa Za ikut kelas literasi.

Karena itu setelah dipikir kembali dan melihat perkembangan situasi kelas ada keinginan untuk berimprovisasi. Ujhe Eljaelani juga sempat menjelaskan kepada saya tentang pentingnya suasana kelas yang berbeda. Kata anak pendidikan ini, biar peserta tidak jenuh dan merasa ada suasana belajar yang baru setting kelas harus berubah. Masukkan Ujhe menurut saya patut dipertimbangkan.

Saya juga butuh masukkan, terutama kepada guruguru muda kayak Andi Reski JNItto Danury, dan guru di Papua sana Ikhsan Nugraha, bagaimana selayaknya membangun kelas yang nyaman dan tidak bete? Apakah perlu mengubah set interior kelas atau sekaligus pindah mencari ruangan kelas baru? Yang pertama agak susah karena kelas selama ini sudah dua kali diset ulang. Apalagi mustahil mau membongkar bukubuku kanda Sulhan yang lumayan banyaknya itu? Jadi pilihan yang paling mungkin yang kedua: kita perlu kelas baru.

Sesungguhnya saya dilema, sebab kalau kita pindah atau berimprovisasi untuk kelas baru, akan susah mempertemukan jadwal kelas parenting yang diampu kak Uli. Ada beberapa temanteman yang tergabung di kelas parenting, juga terlibat di kelas literasi. Kalau misalnya pindah, maka akan membuat sebagian temanteman bermigrasi sanasini. Nantinya malah bikin repot.
Semalam ada tawaran kalau bisa kelas literasi minggu depan diadakan di beberapa tempat. Kak Niart kepingin di danau Unhas. Ada yang ingin di Fort Rotterdam. Ada juga diadakan saja di Multimedia depan Unismuh. Bahkan ada yang bilang di benteng Somba Opu saja. Kalau yang terakhir diusulkan Heri Sitakka. Kita bisa maklum kenapa dia bilang begitu.

Pikiran saya bagaimana nasib Boufakar Sisenimangila yang sering menggunakan petepete. Belakangan ini saja dia harus jalan kaki dari Pettarani sampai masuk ke Alauddin. Masa dia harus repot lagi mengambil jalur petepete yang berbeda. Nanti dia bisa tersesat seperti kemarinkemarin.

Juga ada Ali, anak Mamuju yang tinggal di asrama itu. Sejak dia ikut kegiatan yang sering dilaksanakan di bunker, saya sering kali lihat keponakan dari Syafinuddin Al Mandari ini berjalan kaki. Kalau minggu depan bakal pindah suasana kelas, saya tak tahu dengan cara apa dia bisa ikut. Kalau masih jalan kaki, maka Ali harus lebih awal bergerak sebelum jam tiga. Kirakira jam satu siang dia sudah harus keluar berjalan kaki menyesuaikan dengan jam kelas literasi.

Dulu ada Alik Nino'Trismegistirs yang sering membantu Ali. Tapi sekarang kabarnya Khalik juga tidak punya kendaraan. Belakangan ini justru dia harus menunggu jemputan Aii Avicenna kalau mau ke manamana. Kasihan karena motornya dipakai adiknya.

Omongomong kendaraan bermotor, saya tidak ragu kalau kelas dipindahkan di mana saja. Sebab misal Muhajir AjirMuhammad Asrul Al-FatihTenry Nur AmrianiJusnawati As'SyifaSiti Zahra IndahM Yunasri RiDhohJahirNizar Fahrezi tak bakalan keberatan bila sekalipun kelas di pindahkan ke planet Pluto. Asalkan salah satunya dapat mengikutkan Sandra Ramli sebagai parnert di jalan.

Intinya saya butuh masukkan dari siapapun. Kelas kita kelas bersama. Di mana tempat yang paling cocok menurut kalian. Sekalian mari doakan Syahrul Al Farabi dan Aam Ahmad Arham salah satu peserta yang sedang sakit. Agar mereka dapat berkumpul kembali. Juga kepala sekolah kita kanda Asran Salam. Kelas sekarang butuh masukkanmasukkan dari beliau.

Nah, sekarang apakah ada sendal kalian di bawah ini? Dulu di depan pintu toko buku tidak sebanyak ini. Sebentar lagi sudah mirip mesjid. Sendalnya juga butuh diatur, juga motormotor yang bertumpuk.

Nb: Adiyat Rizki dan Akmal Qabusy AL Ghazali, bagaimana masih mau ikut kan? Oh iya bagi kalian peserta baru, saya minta pertemanannya dong? Bisa kan?

31 Januari 2016

sketsa dasar akhir pekan di kelas literasi

Saya pernah bilang menulis bagi saya lebih sama dengan melukis. Ini sketsa kasar (dasar) lukisan saya di waktu kelas literasi Paradigma Institute sore tadi: 

Syafinuddin Al Mandari
Ilmu, hal yang tak diketahui malaikat
Manusia akan jauh membuat tercengang malaikat karena ilmunya
Ilmu pengetahuan yang dikembangkan akan meninggikan dengan sendirinya derajat seseorang
Peradabanperadaban manusia yang hancur karena ilmu yang stagnan. Semua peradaban yang maju karena ilmu yang maju
Teknologi pertanian organik. Di kota yang memiliki lahan sempit dapat dimanfaatkan dengan baik kalau ditopang dengan ilmu pertanian yang baik.
Pemulung yang cerdas mengelolah pasti akan jauh lebih besar penghasilannya dibandingkan pegawai kantoran.
Di Jakarta sudah menjadi sengketa antara pemda DKI dengan Bekasi akibat TPA yang over pemakaian. Ada teknologi yang dapat membuat sampah tidak terlalu busuk
Bubuk pupuk dan pupuk cair
Kalau semua sektor disentuh dengan ilmu yang bagus pasti akan menghasilkan karya yang luar biasa. Buktibukti yang memperlihatkan kemajuan di berbagai bidang itulah yang disebut literasi
Literasi berarti pencerahan. Membuat sesuatu lebih terang
kewajiban konstitusional negara yang bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Ranah yang luas. Sekolah hanya salah satu bagian di dalamnya. Katakata pencerahan dan literasi berarti sama. Literasi mengeluarkan orangorang dari kebutaan yang paling awal yakni buta huruf sampai buta pengertian
Literasi pekerjaan jangka panjang. Walaupun hanya lewat manuskripmanuskrip sederhana yang dilakukan selama ini
Kalau konsisten mengawal kelas literasi bisa jadi besok akan menjadi sekolah sosial yang menyebar diberbagai sektor
Lilin literasi sama halnya meledakkan bom peradaban. 
Tugas pejuang literasi, mencerahkan, mampu menguatkan cara pandang orang dengan cara berpikir yang benar
Model bentuknya. Salah satunya Memperbanyak perkumpulan (komunitas). Untuk membangun pergerakan demi perubahan.
Evaluasi
Farid Gaban, Syafinuddin, setiap pencerita sesungguhnya adalah penulis. Kedua jangan dulu diedit, biarkan pengetahuan kita disalurkan mengalir begitu saja. Anggaplah setiap ucapan itulah yang ditulis. Selanjutnya diendapkan dan kemudian disinambungkan melalui proses evaluasi
Farid Gaban: biasakan dialog, bercerita, data, memaknai data, memunculkan sudut pandang, edit. Seorang yang ingin menulis wajib membaca tulisan orang lain. Begitu bukan pembaca maka tak akan menjadi penulis.

Akhir pekan di kelas literasi

Hari ini saya punya janji untuk mengikuti kelas literasi. Mau tidak mau saya harus ikut, soalnya sudah diingatkan oleh kanda Bahrul Amsal melalui lini masa FB. Apalagi beberapa hari sebelumnya saya sudah janjian dengan Aii Avicenna, kawan saya yang juga kebelet ingin ikut. Maka, siang ini saya bersiapsiap lebih awal, sembari menunggu jemputan Aii.

Kelas literasi sebenarnya sudah lama saya ketahui dari kabar yang diceritakan kanda Bahrul. Beberapa foto kegiatannya juga sering kali nongol di FB. Melihat kegiatankegiatan mereka, saya merasa harus ikut. Namun, waktu itu kepalang kelas sudah berjalan, makanya saya agak malu bergabung. Sampai belakangan ini saya dikabari kelas literasi angkatan kedua akan dibuka. Sontak saya senang bukan main. Ini kesempatan emas, saya harus ikut.

Sekarang saya sudah di TB Paradigma, tempat kelas literasi di selenggarakan. Hari ini pertemuan kedua. Banyak yang datang. Minggu kemarin kelas perdananya. Saat itu bagaikan mimpi, saya bisa berkumpul dengan orangorang yang memiliki minat yang sama. Apalagi pertemuan itu diawali dengan kuliah umum kanda Sulhan Yusuf. Beliau dengan santai omong banyak seputar gerakan literasi. Maqammaqam literasi, dan kecenderungankecenderungan orang terhadap dunia literasi. Saya tidak perlu menulisnya di sini, reportase kanda Bahrul sudah sempat membahasnya minggu lalu.

Hampir jam empat saya tiba dilokasi. Di dalam kelas ternyata sudah banyak orang. Termasuk kanda Bahrul yang datang lebih awal. Menurut info yang ditulisnya, hari ini kelas akan diisi diskusi santai bersama kanda Syafinuddin al Mandari. Katanya beliau sedang bertandang di Makassar, maka tak afdol kalau tidak mengundang beliau nimbrung di kelas.

Sambil menunggu kanda Syafi datang, begitu panggilan akrab yang saya dengar dari kawankawan, kelas dibuka dengan perkenalan singkat antara peserta. Setelah dibuka Kanda Bahrul, maka kami saling bertegur sapa mengenalkan diri. Ternyata ada duapuluh orang yang datang. Tidak semua nama saya kenal selain sebagian yang sudah saya ketahui sebelumnya. Setelah saling memperkenalkan diri, dan penjelasan Kanda Bahrul tentang mekanisme kelas yang selama ini dijalani, maka kelas dialihkan untuk mendengarkan persentase tulisan yang dibawa kawankawan. Kali ini saya sudah menyiapkan tulisan saya. Judulnya Mummy dan Ruang Anak yang Hilang.

Salah satu tulisan yang menarik ditulis Ishak Boufakar. Dia menulis tentang ilmu komuniskasi. Ulasannya menarik saat dia menjelaskan tulisannya. Juga Itto, yang sering membuat puisi tanpa judul. Memang Itto punya masalah ketika menulis puisi, ia sering membiarkannya tanpa judul. Kemudian Ali, peserta yang paling siap di antara kami. Ketika datang dia sudah menyiapkan map khusus untuk tulisantulisannya. Dia juga membawa puisi yang katanya dia tulis saatsaat galau.

Banyak hal yang diungkapkan kanda Syafi ketika ia membuka diskusi. Awalnya saya kaget dengan bahan diskusi yang menyinggungnyinggung soal pemanfaatan lahan yang minim di kota. Katanya suatu saat orangorang dengan pendekatan yang tepat dapat mengembangkan ilmu pertanian untuk memanfaatkan ketersediaan pekarangan yang minim. Sampaisampai beliau mengatakan pertanian akan jauh lebih maju dengan ilmu pertanian organik yang belakangan ini sedang marak. Jujur dipikiran saya apa kaitannya literasi dengan ilmu pertanian. Tapi saya dengarkan saja dulu ulasannya.

Saya semakin bingung ketika pembicaraannya menyinggung soal sampah. Katanya, jika seorang pemulung memiliki pengetahuan yang memadai, sampah justru dapat mendatangkan keuntungan yang luar biasa. Maka, pemda DKI Jakarta tak akan bingung masalah TPA yang dipermasalahkan oleh warga Bekasi. Contoh itu diambil Kanda Syafi kalau kita mampu mengelola sampah dengan baik. Dengan ilmu yang benar, kata Kanda Syafi, sampah bisa diolah jadi pupuk bubuk dan cair yang jauh lebih baik dari pupuk urea.

Sampai di sini saya semakin bingung dengan omongan beliau. Bukankah informasi Kanda Bahrul bahwa beliau diundang karena pengalamannya di dunia literasi? Kok omongannya tentang pertanian dan sampah? Hubungannya dengan literasi di mana? Sampai akhirnya beliau bilang bahwa literasi itu sebenarnya pencerahan. Ketika sektorsektor dibidang kehidupan dikelola ilmu yang baik dan tepat guna, maka area yang masih gelap akhirnya menemukan perspektif baru yang bisa dimajukan. Itulah literasi, semangat untuk memajukan lini kehidupan dengan ilmu pengetahuan.

Sampai di sini saya kaget. Ternyata literasi memiliki makna yang begitu dalam. Tidak seperti pemahaman hanya sekitar baca tulis. Pantasan kanda Syafi sempat membahas ilmu pengetahuan dan peradaban di awal diskusi. Ternyata kuncinya di situ, setiap sektor yang diperjuangkan dengan ilmu pengetahuan, yang mencerahkan masyarakat dengan inovasiinovasi, itulah literasi. Usaha mencerdaskan bangsa, seperti amanat konstitusi kata kanda Syafi.

Pantas juga dari awal beliau menyinggung peradabanperadaban yang stagnan akibat mandegnya ilmu. Barang siapa berhenti mengembangkan ilmu pengetahuan, dengan sendirinya suatu peradaban akan tertinggal dan runtuh. Katanya ilmulahyang meninggikan derajat umat manusia. Hanya melalui ilmulah kemajuan peradaban bernilai tinggi dari peradaban sebelumnya.

Karena itulah gerakan literasi memiliki jangka yang panjang. Visi dan misinya harus menyentuh seluruh sektor kehidupan demi mencerdaskan kehidupan masyarakat. Maka kanda Syafi menghimbau jangan meremehkan kelas yang kami jalani ini. Karena ini adalah salah satu cara untuk membangun gerakan literasi, walaupun denga cara mengumpulkan manuskrip setiap minggunya. Dengan cara berkumpul dalam komunitas, membangun semangat dan konsistensi.

Kanda Syafi juga menyinggung tugastugas pejuang literasi. Menurutnya yang utama dari gerakan literasi adalah membuat orang sadar dengan pandangannya. Bahkan memperkuat pandangan seseorang dengan jalan berpikir yang benar. Inilah esensi pencerahan. Esensi literasi yang sesungguhnya. Sehingga orang yang bergerak dan sadar dengan literasi bisa menjadi lilin yang menerangi di mana pun berada. Dengan begitu akan tercipta apa yang beliau sebut ledakan bom peradaban.

Terakhir kanda Syafi bilang, mudahmudah komunitas semacam ini bisa menjadi sekolah sosial yang berefek kepada banyak orang. Kalau konsisten, maka tidak tidak mungkin hal itu bisa tercapai. Asalkan kita mau terus menggalakkan gerakan literasi. Dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki, melalui tulisantulisan yang cemerlang. Agar tercipta perubahan di segala sektor kehidupan.

Berikut fotofoto yang diambil kanda Bahrul di saat beliau beraksi. Tak lupa pula beberapa kawankawan yang ikut bertanya seputar kiatkiat menulis. Bagaimana agar menulis dapat dimulai? Seperti apa tahapantahapan menulis? Bagaimana cara memancing ide menulis? Semuanya dijawab apik oleh Kanda Syafi. Kalau kamu masih penasaran, ikut saja kelas di minggu depannya. Dijamin menyenangkan loh?

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...