05 Januari 2016

tumpukan buku yang bikin iri


Saya itu orangnya irian melihat tumpukan bukubuku di manapun itu berada. Apalagi kalau itu berada di kamar temanteman yang sering saya kunjungi. Puki mak! Semenjak kapan tumpukan buku itu berada di sana. Sudah berapa lama rakrak itu penuh buku. Tak habis saya pikir, berapa duit jika semua tumpukan itu dihitung jumlahnya. Atau sudah berapa lama waktu dialami untuk mendapatkan buku sebanyak itu. Taik! Kalau hitunghitungan, dari mana saya bisa dapat duit biar punya banyak buku mirip itu.

Pertama kali saya melihat tumpukan buku ketika zaman purba dulu. Ketika mamuth mudah ditemui berkeliaran mencari makan. Saat bumi masih terselimuti lapisan tebal es. Kala itu, saya masih SD. Yang saya ingat saya masih kelas satu saat itu. Karena kala itu ketika ke sekolah saya harus ditemani Ima, kakak sayanaik bemo. Maklum jarak rumah dengan sekolah tidak bisa diatasi dengan jalan kaki. Begitu tiap hari. Pulang pergi.

Nah di saat pulang pergi inilah saya selalu melewati perpustakaan provinsi. Saya sering diajak Ima untuk berkunjung di sana. Kala itu saya mangut saja. Apalagi saya memang tak tahu apaapa. Mau menolak apa daya, Bahrul kecil nan imutimut belum sanggup pulang sendiri. Jadi ya ikut saja kalau diajak. Yups, di sanalah pertama kalinya saya melihat bukubuku yang berdiri rapi di atas rakrak. Warnawarni dengan jumlah yang saya tak tahu persis.


Kebiasaan Ima sebenarnya adalah cara dia untuk bisa membaca majalah Bobo. Kalian yang masa kecilnya dihabiskan di tahun 90an pasti tahu kan majalah Bobo. Itu loh, majalah anakanak yang punya cerita Nirmala dan Oki dari negeri dongeng. Atau Husin dan Paman Kikuk yang punya anjing bernama Asta. Majalah bergambar itulah yang menyeret saya  bersama Ima yang tega meninggalkan adiknya bengong menunggu ia selesai membaca majalah yang sudah terbit dari 1973 . Sebagai adik yang patuh, ya sudah terima nasib.


Yang saya syukuri dari kebiasan Ima karena itu berdampak baik kepada saya. Semenjak saya tahu majalah bobo, yang saya sukai awalnya hanya gambargambarnya belaka. Tapi lama kelamaan dari gambar berubah ke teks. Saya mulai belajar membaca. Jadi kalian bisa tahu kan, betapa besarnya majalah Bobo terhadap kemampuan membaca saya. Luar biasa majalah bobo, amal jariahnya bukan main.

Kalau tidak salah ingat itu saya alami ketika sudah kelas dua. Di saat lapisan es di muka bumi masih tebaltebalnya. Juga ketika Ima mulai mengoleksi majalah adaptasi dari negeri kincir angin itu. Coba bayangkan, untuk urusan majalah anakanak, kita juga mengekor dari negeri Belanda bin godverdommen.

Mulai saat itu di rumah, selain buku gambar, majalah Bobo mulai banyak jumlahnya. Untuk urusan yang satu ini, salut untuk Ima, ia rela memotong uang jajannya demi Bobo, kelinci biru ikon majalah itu. Saya, yang masih ingusan akhirnya senang juga. Pasalnya saya punya bacaan di tiap minggunya. Oke saya harus jujur. Bukan bacaan, tapi ejaan. Beda kan!? Bacaan dan ejaan. Kalian tahu sendirilah.

Salah satu cerita yang saya sukai dari Bobo adalah Bona Gajah kecil berbelalai panjang. Cerita itu ditokohkan oleh sekor gajah kecil berwarna merah muda dengan seorang sahabatnya bernama Rongrong. Bona punya kehebatan, belalainya bisa menyelesaikan setiap masalah yang sering dihadapi Rongrong. Terkadang Bona memanfaatkan belalainya menjadi panjang untuk mengambil layangan Rongrong yang tersangkut di atas pohon. Kadang belalainya jadi tandu untuk menandu Rongrong yang sakit. Pun pernah belalai Bona menyelamatkan Rongrong yang hanyut dibawa arus sungai.

Begitulah kisah persahabatan Bona gajah kecil berbelalai panjang dengan Rongrong kucing kecil yang selalu mendapatkan masalah. Bona yang baik hati, perhatian dan Rongrong yang selalu setia menemani Bona. Saya selalu senang membaca kisah mereka disampul belakang majalah Bobo. Kala itu, majalah itulah yang bisa mengalihkan saya dari pekerjaan rumah yang diberikan sekolah.

Semenjak Ima sering mengoleksi Bobo, kami sering berkunjung di toko buku yang tak jauh dari halte tempat kami menunggu bemo. Saya tak tahu dari mana ia mendapatkan informasi tentang toko buku itu. Dugaan saya kala itu dari Puput, teman sekelas Ima yang sering juga menjadi teman kami pulang. Toko buku inilah juga menjadi tempat saya melihat buku berakrak jumlahnya. Tapi sayang di situ tidak seperti di perpustakaan yang bukunya bisa dilihatlihat. Kami hanya datang membeli Bobo di situ. Maaf, yang saya maksud Ima yang membelinya. Dan kemudian kami pulang dengan muka berkacakaca bahagia. Satu edisi baru Bobo di dalam tas Ima.

Di dua tempat itulah saya pertama kali bersentuhan dengan buku yang super banyak. Perpustakaan dan toko buku yang tak pernah saya tahu namanya. Dulu belum ada rasa iri seperti sekarang. Kala itu hati Bahrul kecil belum tersentuh penyakit hati yang sering diwantiwanti setiap ustadz. Hatinya hanya polos mirip kapas putih. Putih seputihputihnya. Toh kalau iri, itupun kepada Ima, karena dia yang selalu memegang uang di waktu saya masih ikut pulang pergi dengannya ke sekolah. Dia yang membayarkan uang bemo saya. Begitu selama hampir tiga tahun berturutturut. Dasar sial.

Sekarang, kalau bertandang di kamar temanteman yang punya koleksi buku, atau tempatempat penuh buku, Bahrul yang sekarang sudah tumbuh menjadi anak ganteng kesayangan mamak, terkadang kesemsem melihat itu semua. Buku yang ditumpuk rapi. Alamak! Cantik nian susunannya. Bikin iri saja. Puki mak! Rasarasanya ingin membawanya pulang saja. Persetan dibaca atau tidak, yang penting…aduh, susunannya itu loh. Sekali lagi bikin kesemsem. Ya, Bahrul yang dulu bukan Bahrul yang sekarang. Melihat buku bertumpuktumpuk, rasarasanya betul kata Luis Borges, surga itu adalah perpustakaan yang besar penuh bukubuku. Siapa sih yang tak mau surga di rumahnya!?


02 Januari 2016

kopi susu ketiga

Tinggal di rumah sendiri itu menyenangkan bukan main. Sungguh. Di saat bangun pagi, di dapur sudah tersedia hidangan siap santap. Di atas meja, sudah ada segelas kopi susu lengkap dengan panganannya. Biasanya mamak membuatnya jadi dua. Satu untuk bapak, dan satunya lagi tentu untuk anaknya yang tanggung ini. Saya seperti mendapatkan service hotel bintang lima. Betulbetul layanan prima. Bedanya, di belakang rumah bukan kolam renang super lebar dengan air yang biru. Hanya kandang ayam.

Kebiasaan membuat kopi susu sebenarnya belum lama dilakukan mamak. Dulu, justru hanya segelas kopi dan satu ceret teh panas. Tapi semenjak bapak menyenangi kopi susu, maka kebiasaan itu berganti. Saya tak tahu kapan kebiasaan bapak minum kopi susu dimulai. Seingat saya, lemari makanan pasti tak pernah tanpa sekaleng penuh kopi hitam Nescafe. Itu loh kopi dengan kafein yang tinggi. Tapi itu dulu. Belakangan ketika sering pulang berkunjung  ke rumah, kopi yang sering bapak minum berganti kopi Torabika sachet.

Makanya di dapur selalu ada sekaleng susu cair untuk kopi bapak. Itu membuat saya senang karena tak perlu repotrepot keluar membeli susu sachet ketika membuat kopi susu. Kebiasaan meminum kopi susu bermula ketika saya suka berlamalama di warkop. Padahal sebelumnya, selera kopi saya tidak pernah lebih dari kopikopi yang dijual pedagang kaki lima di depan kampus dulu.

Ketika masih kuliah di UNM, universitas ngeri membayangkannya, begitu saya suka menyebutnya, banyak pedagang kaki lima di sepanjang tembok pagarnya. Deretan pedagang kaki lima ini sungguh telah banyak menyelamatkan mahasiswa proletar seperti saya kala itu. Coba bayangkan, hampir dari pagi sudah banyak mahasiswa sarapan dan ngopi di sana. Bahkan itu berlanjut sampai malam. Begitu seterusnya duapuluh empat jam.

Nah, bersama mahasiswa proletar inilah saya sering menghabiskan waktu di PK5. Karena hanya di mace lah satusatunya juru selamat jika kami kehabisan uang. Dan betulbetul sang mesias! Mace dengan ikhlas selalu bersedia dijadikan tulang punggung selama musim kelaparan melanda. Tak bisa dibayangkan betapa besarnya kasih sayang mace kepada mahasiswamahasiswa tengik macam kami itu. Karena kasih sayang itu jugalah, saya bisa ngutang bergelasgelas kopi di situ.


01 Januari 2016

binte biluhuta di awal 2016

Tadi setelah dari warkop, saya tiba di rumah pukul duapuluhdua. Setiba di rumah, saya mengira orangorang di rumah sedang berkumpul menyambut pergantian tahun. Minimal bapak dan ibu sedang asyikasyiknya menonton televisi. Kebiasaan akhirakhir ini ketika mereka menonton acara dangdut sekelas Asia di salah satu stasiun tv itu. Tapi kebiasaan itu tidak berlanjut pasca acara itu dimenangkan Danang alamumni Dangdut Akademi dua beberapa hari lalu. Justru yang saya dapati adalah kakak ipar saya sendirian di depan televisi. Sementara kakak saya, asyik bermainmain bersama anaknya di kamarnya. Sial.

Ya, di rumah tak ada tandatanda menyambut tahun baru. Lurus saja. Seperti harihari biasa. Toh jika ada tandatanda acara menyambut tahun baru, barangkali hanya jagung yang direbus mamak sebakul penuh. Entah jagung dari mana. Yang jelas jagung itu sudah masak ketika saya tiba di dapur. Itupun hanya dibiarkan di atas kompor setelah masak. Begitu saja. Tak ada yang menyuguhkannya.

Tandatanda tak ada acara di rumah –sebenarnya, semenjak kapan ada acara tahun baru di rumah!- semakin jelas ketika saya melihat bapak dan mamak sudah tidur pulas di pembaringan. Bayangkan! Jam sepuluh malam sudah pulas melanglang terbang di alam tidur. Alamak, bukankah itu sinyalemen tak ada acara menyambut tahun baruan? Akhirnya saya harus ikhlas melewati malam tahun baru seperti tak terjadi apaapa.

Sebenarnya, jauh di lubuk hati paling dalam, saya juga tidak berharap jika orangorang di rumah menyiapkan acara pergantian tahun. Bagi orangorang di rumah, terutama panglima besar mamak saya, pergantian tahun tak lebih dari pergantian kalender saja. Sementara menurut bapak saya, ya tentu sudah pasti ikut dengan panglima besar kan!! Tak ada acara tahun baruan segala. Cukup. Hargai itu. Ini adalah penerapan ideologi Muhammadiyah yang dianut bertahuntahun sekaligus turun temurun. Melawan artinya bid'ah. Nanti kafir. Sekali lagi cukup!!

Selain itu, memang karena di rumah tidak seperti keluarga Indonesia umumnya. Keluarga saya bisa dibilang pada halhal tertentu kolotnya bukan main. Apalagi mau rela begadang sampai tengah malam hanya menunggu jarum jam bergeser. Percuma. Tidak tidur sampai jam sebelas saja sudah hebat, apalagi mau menunggu sampai jam duabelas malam. Haibatnya luar biasa kalau itu terjadi. (oh iya, waktu nonton dangdut juga begitu loh, bapak dan mamak cuman bisa tahan sampai jam sebelas belaka. Lebih dari itu sudah keok lari ke dalam kamar tidur)


Ketika Memulai Menggambar

Kebiasaan menulis saya pertama kali tumbuh ketika mahasiswa. Itupun semester banyak. Menggelikan. Sepanjang ingatan saya, sebelum itu, menulis sebagai aktifitas menulis pernah sekali saya lakukan ketika mengikuti pelajaran bahasa indonesia di Sekolah Dasar. Itupun hanya berupa membuat karangan bebas sebagai tugas akhir pekan. Mendengar kata “bebas” waktu itu senangnya tak ketulungan. Saya bisa berimajinasi sesuka hati. Apalagi itu diungkapkan melalui cerita. Maka untuk pertama kalinya, yang namanya imajinasi di kepala saya, bisa melayanglayang.

Omongomong soal imajinasi, sebenarnya itu sudah dipunyai oleh siapapun ketika anakanak. Itu dialami ketika saya sering melakukan dan menyalurkannya melalui gambar. Di waktu kecil memang saya gemar menggambar. Saya rasa ini dialami hampir semua anakanak. Kalau tidak percaya, coba datang ke rumah saya melihat keponakan imutimut nan jail saya yang hampir tiap sudut tembok rumah sudah dicoretinya.

Kala itu, pertama kalinya saya punya gema suara di dalam kepala bahwa saya punya bakat menggambar. Berdasarkan keyakinan mungil saya ini, saya mulai sering meniru dan menggambar bentukbentuk manusia yang saya lihat di majalah Bobo langganan kakak saya. Kelak majalah anakanak ini pula yang mengajari saya untuk belajar membaca pertama kalinya.

Aktivitas menggambar akhirnya membawa saya dan beberapa temanteman mewakili TK tempat saya belajar (lebih tepatnya bermain sih!), mengikuti lomba menggambar. Lumayan, pasca lomba, saya dapat membawa pulang satu piala kecil plastik berwarna emas. Bahagia bukan main. Dan, mulai saat itu pula terbersit di dada saya, saya berniat menjadi pelukis.

Citacita itu bertahan cukup lama seiring dengan bangganya saya ketika sering ditanyai kelak mau jadi apa. Pelukis tentu jawaban saya, suatu pekerjaan yang menurut saya bercita rasa tinggi. Citacita ini juga terus hidup dari kegemaran menggambar yang semakin berapiapi. Sampaisampai ketika ada lomba menggambar di majalah Bobo, maka dengan semangat membara, akan saya ikuti tanpa menghiraukan aral melintang. Pokoknya, saat itu menggambar adalah citacita luhur saya. Tak ada yang boleh membendungnya.

Makanya sampai saya menginjak sekolah dasar, pelajaran menggambar yang paling saya sukai. Kesukaan saya ini melebihi pelajaran bahasa indonesia yang di situ ada mengarang sebagai salah satu pelajarannya. Saya merasa, lewat menggambar saya bisa lebih ekspresif dibandingkan dengan menyusun kata malaupun itu mengarang. Apalagi saya senang mencampurcampur warna untuk mendapatkan kesan yang indah. Untuk yang satu ini, saya rela menangis berjamjam hanya untuk mendapatkan pensil warna yang kala itu bisa berubah cat air. Luna nama pensil warna itu.

Saya tak tahu apakah pensil warna itu masih bertahan sampai sekarang. Tapi saat itu, pensil warna itu saya anggap pensil warna yang paling keren. Di saat itu belum ada pensil warna yang bisa diubah layaknya cat air, sehingga menggunakannya kita bisa mencampurcampur warna menjadi lebih menarik. Menggunakan pensil warna yang bisa berubah cat air itu, menjadikan saya bak pelukis profesional. Betapa gembiranya saya.

Namun sayang, untuk menggunakan pensil warna itu, konsekuensinya saya harus memiliki buku gambar yang berkertas tebal. Karena jika hanya menggunakan buku gambar murahan dengan kertas tipis, maka kertasnya akan mudah robek ketika diberikan air. Akhirnya, saya harus membujuk bapak untuk membelikan buku gambar yang setara dengan pensil warna yang saya punyai. Dengan berurai air mata, akhirnya saya punya lengkap, buku gambar kertas tebal dan pensil warna yang bisa berubah cat air.

Tapi sayang semakin saya naik kelas, pelajaran kesenian terutama menggambar jadi sosor. Itu saya rasakan ketika kelas tiga SD, pelanpelan mata pelajaran saya tidak menyertakan menggambar sebagai aktivitas belajarmengajar di dalamnya. Apalagi saat itu ada hapalan kalikalian yang sudah mulai harus kami hapalkan. Pelanpelan, minat saya yang menggebugebu itu akhirnya tertimbun jauh tanpa dasar. Hingga akhirnya ekspresi menggambar, saya salurkan ke mejameja dalam kelas.

Di waktu SD, saya juga senang menghabiskan kapur tulis. Apalagi kalau kapurnya berwarnawarni. Itu sudah cukup membuat saya senang, karena dengan itu saya bisa menggambar apa saja di papan tulis lengkap dengan warnawarninya. Walaupun saya tahu setelah keluar bermain usai, gambar itu bakal dihapus. Dengan berat hati kejadian itu saya anggap sebagai perilaku yang tidak saya sukai. Karya gambar saya tidak diapresiasi, langsung dihapus begitu saja. Menjengkelkan.

Kelak kebiasaan saya itu jadi bumerang. Soalnya ketika saya menggambar, saya jadi lebih sering dimarahi guru karena menghabiskan persediaan kapur di kelas. Maka mau tak mau, kebiasaan saya itu pelanpelan saya tinggalkan. Capek diomeli terus. Tapi hal itu tidak berlaku bagi kesukaan saya menggambar di mejameja kelas. Kelak kebiasaan ini terus berkanjut sampai SMA, bahkan saya berani menggambar di baju sekolah saya.

Tapi tunggu dulu. Ini penting. Sebenarnya saya ingin menulis tentang kapan saya memiliki kesenangan menulis, bukan menggambar. Tapi perlu saya katakan di sini (ini amanah hati saya), kebiasaan menggambar saya sudah mulai berkurang ketika saya menginjak SMP, dan di SMA hanya saya lakukan jika saya mau. Tapi itu tidak membuat saya kehilangan skill menggambar. Buktinya ketika menjadi mahasiswa, setiap ospek, sayalah yang menggambar mukamuka tokoh terkenal sosiologi di kainkain spanduk yang super besar dan panjang itu. Kalau sekarang, mau coba kemampuan saya?

Namun satu hal yang saya rasarasai, kecenderungan menulis saya, sedikit banyaknya dipengaruhi dengan kesukaan menggambar ketika kecil saya dulu. Hal ini saya sadari ketika saya mulai menyamakan aktifitas menulis sama halnya dengan menggambar. Jadi ketika saya menulis, sebenarnya energi yang sama saya miliki ketika saya menggambar. Saat itu di kepala saya seperti ada bentubentuk yang harus saya keluarkan dari imajinasi saya.  Seperti ada yang saya bayangkan ketika menggambar. Bedanya ketika saya menulis, saya menggambar melalui katakata, sementara gambar yang sebenarnya selalu beterbangan di dalam benak saya. Jadi saya kira ini hanya soal berubah cara saja. Selebihnya tak beda. Oke kepala saya seperti diikat karet ban, keras sekali. Saya sudahi dulu.


31 Desember 2015

tulisan pendek

Sepertinya setelah dipikirpikir, saya ternyata punya kecenderungan yang lemah ketika ingin menulis tulisan panjang berbasis riset. Pasalnya saya tidak punya bekal kemampuan meneliti lengkap dengan perangkat metodeloginya. Apalagi ketika saya harus berlamalama di lapangan untuk mengumpulkan data. Dan yang paling miris adalah kemampuan saya yang lemah dan sekaligus tak punya banyak daya ketika mengakses literatur yang dibutuhkan. Intinya kemampuan literasi saya sungguh memalukan.

Selama ini ketika menulis, hampir semua tulisan saya (kalau itu disebut tulisan) merupakan semacam tulisan yang tak banyak bobot intelektualnya. Selama ini kalau saya menulis, itu hanya berupa pikiranpikiran lepas yang diolah tanpa memikirkan relevansinya terhadap benar salahnya informasi yang saya tuliskan. Apalagi kemampuan saya menulis selama ini hanya mampu menulis sebanyak tidak lebih dari seribu karakter.

Itu saya sadari ketika saya melihat kembali filefile tulisan saya selama ini. Hampir semuanya merupakan tulisantulisan pendek yang miskin bobot. Ketika saya pikirkan kembali, tulisan pendek saya itu berarti minimnya pengetahuan yang saya miliki. Saya merasa minimnya pengetahuan seseorang berbanding lurus dengan kemampuannya di saat menulis. Tentu yang saya maksudkan bukan ingin mengatakan bahwa tulisantulisan pendek penulis semisal esai memiliki pengetahuan yang minim ketika menulis. Tentu pembaca catatan pinggir misalnya, tak setuju kalau seorang Goenawan Mohammad memiliki bacaan yang minim, bukan? Itu berbahaya.


Tulisantulisan esais yang banyak kita temukan, kenapa hanya berupa tulisantulisan pendek, karena memang kebanyakan (artinya tidak semua) dibuat dengan mengikuti format tulisan di mana tulisan itu akan dimuat. Kita akan bingung kan kalau misalnya suatu majalah atau koran akan penuh karena hanya terisi satu tulisan esai panjang. Artinya, pendeknya tulisantulisan yang sering kita jumpai di media massa, bukan karena kemampuan penulisnya yang tak mumpuni, tapi itu karena memang ditentukan “lahan” tempat tulisan itu akan dimuat.


Itulah sebabnya, di korankoran, ada wantiwanti dari redaksi tentang jumlah karakter yang mesti dipenuhi oleh penulis jika ingin tulisannya dipajang. Karena biarpun tulisan itu memuat wacana yang bagus dan lagi happening, tapi jumlah karakternya sampai berhalamanhalaman, maka tak mungkin juga akan langsung diterbitkan. Kecuali memang tulisan itu diniatkan diterbitkan secara berseri. Tapi ini sangat jarang.

Ini juga dialami pada genre tulisan nonfiksi. Seperti yang saya temukan dari pengakuan Eka Kurniawan, bahwa para cerpenis di luar negeri merasa kaget ketika melihat cerpencerpen yang ditulis oleh penulispenulis dalam negeri di tulis dengan format yang lebih pendek. Pengalaman ini dialami Eka ketika cerpencerpennya diterjemahkan oleh salah satu penerbit luar negeri ke bahasa asing. Menurutnya, cerpencerpen di luar negeri tidak seperti cerpencerpen dalam negeri yang panjangngya banyak ditentukan oleh ketersediaan kolom dari media yang bersangkutan.

Saya rasa, karena kolom yang terbatas di media massa itulah sehingga cerpencerpen di tanah air adalah cerita yang bisa dibaca hanya dalam lima sampai sepuluh menit. Sehingga akan sangat asing jika kita mendapati suatu cerpen yang ditulis berhalamanhalaman banyaknya. Di sini saya mulai bingung apakah selama ini penentuan disebut cerpen oleh karena ukuran ceritanya yang dituliskan pendek ataukah karena memang hanya ditentukan oleh format kolom yang ada di mediamedia massa? Dan yang paling penting apa sebenarnya defenisi “pendek” dalam kategori cerita pendek?

Tapi biarkanlah itu urusan para sastrawan terkhusus cerpenis. Saya hanya menggelisahkan kemampuan saya dalam menulis, suatu aktivitas yang saya minati (belum sampai menekuni), yang hanya bisa menghasilkan tulisan yang pendek nan “ecekecek.” Namun saya menyadari, format tulisan saya bisa demikian karena selama ini banyak ditentukan oleh model tulisan yang memang saya pilih, yakni semacam esaiesai ringan. Itu yang menyebabkan saya tak punya kemampuan membangun tulisan panjang kali lebar berbasis literatur yang ketat. Dan apalagi memang saya senang dengan tulisan yang pendekpendek, karena itu untuk menutupi kemampuan literasi saya yang buruk. Karena prinsip saya, jangan memulai tulisan yang “berat” kalau tidak didukung dengan datadata yang komprehensif dan akurat.


28 Desember 2015

Strategi Menjadi Tolol


Yang paling mengenakkan tinggal di rumah sendiri adalah saya punya banyak waktu untuk bermalasmalasan. Tidak ada beban kepada siapa pun.Rumah, rumah sendiri—orang tua. Apalagi ketika itu dilakukan sambil menonton tv. Biasanya itu saya lakukan di atas sofa. Sambil tidurtiduran santai menghadap tv seperti pemilik perusahaan super kaya. Lazy time, itulah yang saya pikirkan. Ketika sudah di depan tv, biasanya waktu hanya konsep tak bermakna. Di depan tv, saya bisa lama mencatmencet berganti frekuensi siaran sampai menemukan siaran yang enak ditonton.

Di rumah, kami berlangganan tv kabel. Dulu ketika SMP, belum banyak rumah menggunakan layanan tv kabel. Bahkan sebenarnya belum ada yang disebut tv kabel saat itu. Ratarata para tetangga banyak menggunakan reciever yang harus pontangpanting memutar parabolanya untuk menemukan siaran pilihan. Akibat di rumah tak punya siaran apaapa, maka setiap ingin menonton film kesukaan, saya harus menumpang ke rumah sepupu demi melihat gambar bergerakgerak.

Tapi semenjak tv kabel mulai diperkenalkan dan banyak tetangga ikut menggunakan, orangorang di rumah pun tak ingin ketinggalan. Akhirnya kesimpulan di ambil: kami pun juga harus memasang tv kabel. Walaupun saat itu siarannya hanya stasiunstasiun nasional, itu sudah cukup membuat saya sumringah. Akhirnya, di rumah, semenjak berlanggalanan tv kabel, pelanpelan saya mulai suka berlamalama di depan tv. Kelak kebiasaan ini sulit saya tinggalkan.

Seperti saat ini ketika saya punya banyak waktu tinggal di rumah. Bobok santai mirip tuan putri hampir tiap hari saya lakukan. Entah mengapa kebiasaan itu masih bertahan, walaupun hampir sembilan tahun belakangan saya jarang berhadapan dengan kotak yang punya kekuatan revolusioner itu. Barangkali memang saya semakin tolol untuk tertarik dengan acaraacara yang disuguhkan dari setiap stasiun tv. Tapi, bukankah ketika seseorang tahu menjadi tolol, berarti sebenarnya ia masih bisa berpikir bahwa memang ia sebenarnya tolol.




25 Desember 2015

selamat natal temanteman kecilku

Ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar, akhir Desember merupakan waktu yang sangat menyenangkan. Pasalnya dua hal; 25 Desember adalah hari natal, dan akhir Desember merupakan harihari menjelang tahun baru.

Saya masih ingat betapa tekunnya saya di hadapan layar kaca menonton filmfilm kartun ketika hari libur. Tapi, sesungguhnya, yang paling berkesan tentu di tanggal 25 nanti, ketika saya berpakaian rapi, sehabis magrib, pergi mengunjungi rumah teman bermain yang merayakan hari natal.

Memang waktu itu saya banyak memiliki temanteman yang beragama Nasrani. Bahkan di tempat tinggal saya, mayoritas penduduknya adalah Nasrani. Sehingga hampir bisa dikatakan, penduduk muslim sekitar mukim saya hanya bisa dihitung jari. Nasrani di Kupang, ibu kota Nusa Tenggara Timur tempat saya tinggal waktu itu (bahkan sampai sekarang), memang merupakan agama mayoritas.

Jadi bisa dibayangkan betapa meriahnya natal di waktu itu. Hampir setiap tempat banyak dipadati pernak pernik natal. Sontak kala hari natal menjelang, jalanjalan utama banyak dihiasi lampulampu pijar. Gerejagereja jadi lebih ramai. Tokotoko ditempeli aksesoris Santa Claus. Tak lupa pula hampir setiap saat terdengar lagulagu natal yang diputar untuk memeriahkan perayaan. Dan yang paling ikonik tentu saja pohon cemara yang menyalanyala hampir di setiap rumah.

Jadinya, dalam kepala, saya sudah punya daftar namanama tetangga yang harus saya datangi saat natal nanti. Di mulai dari rumah yang paling jauh hingga tetangga dekat rumah. Saat itu saya tidak sendiri, karena beberapa teman saya yang muslim juga punya niat yang sama. Akhirnya kami sepakat untuk melakukannya bersamasama. Kebiasaan ini sudah sering kami lakukan tiap akhir tahun.


Target pertama bersama temanteman mengaji saya itu, rumah temanteman nasrani yang sering kami jadikan lawan tanding sepak bola. Kami rela berjalan masuk ke dalam kompleks perumnas untuk mendatangi rumah mereka. Mereka adalah anakanak yang tinggal dalam kompleks yang bersebelahan dengan daerah tempat kami tinggal. Walaupun hampir di tiap sore mereka adalah lawan taruhan sepak bola, di hari itu, ikatan “permusuhan” kepada mereka segera kami lupakan. Satu hal yang kami inginkan; mereka adalah teman di mana rumah mereka yang akan kami sambangi.

Tujuan kami selain ingin mengucapkan selamat merayakan hari natal, tentu adalah bisa membawa pulang kuekue yang diberikan. Maka sudah tentu, selain rapi, kami mengenakan baju ataupun celana yang berkantung banyak. Itu sudah pasti untuk menampung beraneka ragam kue yang disuguhkan. Maka ketika kami tiba, mereka hanya bengong, dan akhirnya tersenyum manis dengan menyambut kami masuk. Dan di saat pulang, tanpa malu kami berebutan mengisi kantung baju dan celana dengan kuekue yang sebisa mungkin dibawa pulang.

Itu juga kami lakukan bukan saja kepada kawankawan sebelah kompleks. Bahkan untuk memenuhi ambisi polos kami itu, setiap rumah yang tak kami kenali tetapi kami ketahui sedang merayakan natal pun kami sambangi.

Ketika itu kami lakukan, diperjalanan, kami banyak bertemu anakanak yang lain. Mereka juga berpakaian rapi, beberapa di antara mereka saya kenali. Mereka adalah anakanak kompleks sebelah pemukiman kami. Tujuan mereka tentu sama, yakni datang berkunjung di rumahrumah yang merayakan natal. Dan pasti seperti kami; membawa pulang kue sebanyakbanyaknya.

Saya masih ingat ketika itu, kami saling memamerkan kuekue yang mampu kami bawa pulang. Di saat pulang saku baju dan celana kami penuh dengan tepung kuekue yang penuh sembari saling bertukar jenis kue di perjalanan pulang. Dan yang paling menyenangkan, ketika saat pulang kami bisa membawa minuman kaleng sebagai tanda keberhasilan melawat. Memang saat itu barang siapa yang dapat membawa pulang minuman kaleng yang bersoda itu, akan dianggap sebagai jagoan. Apalagi jika itu disahkan dengan menunjukkan bibir dan lidah yang berubah berwarna merah, maka semakin paripurnalah dia sebagai jagoannya.

Natal yang kami lalui adalah natal yang betulbetul ceria. Walaupun kami berbeda keyakinan, tak pernah terbersit sekalipun untuk membesarkan perbedaan  di antara kami. Apalagi kami adalah anakanak yang tak pusing dengan halhal semacam itu. Itu semakin terasa ketika kami berkunjung ke tetanggatetangga dekat dipemukiman. Saya selalu terperangah kepada setiap pohon natal yang mereka pajang di ruang tamu. Di sana banyak lampulampu hias yang digantung, plus dengan kapaskapas putih. Indah sekali! Seketika saya juga langsung tahu tujuan kapas itu disematkan, yakni sebagai ilustrasi yang menggambarkan salju sebagai tanda keceriaan natal.

Begitu juga ketika saya terkesima dan merasa aneh dengan patungpatung seorang perempuan dan seorang bayi lelaki yang dibuat dari keramik yang berkilatkilat. Hiasan dari keramik itu menggambarkan suatu peristiwa yang terjadi di dalam kandang domba.  Tak luput juga ada hiasanhiasan seperti periperi bayi bersayap terbang mengelilingi perempuan berkerudung itu. Itu saya temukan di beberapa beberapa rumah teman saya yang juga dipajang di sudut ruang tamu mereka. Melihat itu, saya tahu betapa hormatnya mereka kepada bayi yang berada dipangkuan perempuan yang kemudian saya kenal sebagai Ibu dari lelaki yang mereka Agungkan itu.

Tetangga saya bernama Harli, waktu itu ia lebih tua tiga atau empat tahun dari saya. Ia punya adik bernama Roland yang gemar bermain pasir di halaman rumah saya. Roland ketika datang bermain, mulutnya seringkali penuh nasi yang tak kunjung ditelannya. Mamanya selalu bercerita tentang kebiasaan buruk Roland itu, yang selalu menghisap nasinya jadi bubur ketika ia makan. Dengan kebiasaan itu, kami selalu tahu, kalau ia makan, maka akan membutuhkan waktu yang cukup lama.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...