24 November 2015

madah limapuluhempat

Kejadian itu tidak lebih dari sepuluh menit. Tapi luka yang belum sembuh betul, dipaksa dikenang untuk waktu yang tak tentu ujung.

Belum silam kejadian Charlie Hebdo, Jumat, 13 November, Paris jadi gempar. Dua orang mengacung senjata ke manamana. Masyarakat dibuat kalut. Dan akhirnya korban berjatuhan.

Yang unik, peristiwa yang terjadi dua ratus meter dari bekas kantor Charlie Hebdo itu, adalah agama jadi motor. Dua orang yang berpakaian hitamhitam itu menyosor tanpa ampun. Mereka berteriak, mereka menyatakan sikap: “apa yang kalian lakukan kepada rakyat Suriah, sekarang kalian akan membayarnya.” Sebuah balas dendamkah ini? Yang pasti, di peristiwa itu, banyak pihak yang dibuat bertanyatanya.

Di hari itu, nampaknya Paris jadi horor. Enam lokasi jadi titik yang menyulut luka. Akhir pekan yang dilalui dengan pesta harus berakhir kecam. Pertanyaan semakin mendesak. Politikkah ini?

Akhirakhir ini teroris jadi kata yang politis. Sebab terma yang mulai akrab di tahun 2000an itu, selalu dibaca dengan cara yang tidak adil. Atau kata itu jadi kata yang didominasi oleh tindak baca yang terlanjur timpang. Sebab nun jauh dari Paris ada negeri yang bertahuntahun digedorgedor bom tiada henti. Dari sana, negeri yang poranda, tak pernah lahir kata teror untuk merujuk kepada perilaku bangsabangsa yang jadi momok. Politikkah ini?

Di Palestine, atau negerinegeri yang berkecamuk perang, kata teror adalah kata yang sudah sedari awal dibentuk. Media nampaknya banyak bertanggung jawab tentang ini. Terorisme sebagai suatu kata predikat, secara timpang hanya dilekatkan kepada embelembel agama. Ketika agama menjadi motivasi melakukan kekerasan, maka itu disebut teror. Tapi ketika zionis israel menyobek tubuhtubuh orangorang palestine, misalnya, itu disebut perjuangan hak asasi.

Kejadiann di Paris bisa menjadi satu penanda penting bagaiman politik lua negeri negaranegara Eropa bekerja. Apalagi berkenaan dengan dunia Islam. Dengan kejadian di Paris, Islam menjadi kedok untuk pemerintah Perancis  mengambil sikap terhadap terorisme yang terjadi di Timur Tengah. Dengan dalih penyerangan yang konon dilakukan oleh militan agama, Perancis punya klaim untuk menyerang organisasi ISIS yang berada di Suriah.

Yang aneh adalah bagaimana simpati yang terbangun pasca kejadian. Banyak orangorang yang menaruh simpati kepada korban Paris, tapi hal yang sama tidak dilakukan kepada masyarakat yang seharihari rasa amannya dilucuti dengan mercunmercun peluru. Di Palestin, atau bahkan di Suriah, justru hanya dipandang sebelah mata tanpa terkecuali.

Rasarasanya, dari cara merasai yang berbeda inilah, kita dituntut untuk bisa menyikapi dua konteks dengan cara yang lebih adil.

Dan rasa adillah, yang barangkali hilang dari kita selama ini, apalagi pemberitaanpemberitaan yang lalulalang tidak jelas ujugujugnya. Keadilan menilai harus kita miliki ketika kita berada di antara perang antar bangsabangsa seperti saat ini.

Di Paris, beberapa titik jadi luluh lantah. Sedang di negerinegeri yang juga hal yang sama terjadi, seluruh titik bukan lagi manikmanik yang indah untuk dipercakapkan. Mereka seringkali jadi titik hitam yang tak terpindai oleh penilaian kita.

21 November 2015

Sejarah Kesengsaraan


Tuhan, ultimate being yang diagungkan manusia, dalam sejarah, barangkali adalah pusat kesengsaraan.  Minggatnya Adam dan Hawa dari surga menuju kefanaan di bumi, adalah peristiwa pertama tuhan membangun sengsara di kalbu manusia. Diturunkannya pasangan pertama manusia ke alam yang ad dunya, menandai asal muasal kesengsaraan pertama bagi manusia. 

Dengan begitu, sejak semula, tuhan telah menulis sejarah manusia dengan suatu keadaan asal berupa kesengsaraan. Melalui itu, Adam dan Hawa memulai kehidupan pertama manusia.

Itulah barangkali, mengapa agamaagama identik dengan peristiwa kesengsaraan. Bahkan, tradisi agamaagama Ibrahimik menempatkan kesengsaraan sebagai pemantik kesadaran. 

Ayub, nabi yang menderita tubuh bopeng, Ibrahim penderitaan berpisah dengan sanak keluarga, Yesus, putra Bethlehem yang tabah menderita di atas kayu salib, dan Muhammad yang dihujat dan diasingkan dari keluarga dan masyarakatnya, merupakan penanda historik bagaimana kesengsaraan adalah bagian inheren dari suatu iman.

Mungkin demikianlah sehingga tujuan manusia mengenal penderitaan atas tuhannya adalah untuk menemukan kebahagiaan. Agama sebagai role model  yang menjadi institusi merupakan media tuhan dalam memberikan peta untuk menemukenali kebahagiaan. Melalui itu, kesengsaraan yang dimulai dari awal kehidupan, dicobakan untuk dihindari oleh manusia. Semenjak manusia memulai kehidupannya yang sengsara, ia senantiasa harus menggunakan agama untuk keluar dari penderitaannya yang telah ditanggung sejarah.

Kisah Ayub dan Yesus merupakan simbolisme bagaimana tubuh manusia begitu rentan dengan penderitaan. Tubuh menjadi arena kesakitan melalui hukum biologis dan ideologis. Penderitaan melalui marka biologis bisa datang dengan luka yang menganga, sayatan yang menggores kejam, penyakit yang berkepanjangan, kelaparan tiada ujung, dan bisa juga adalah robekan tubuh atas perang antar manusia. Melalui itu semua, tubuh tidak merdeka di tengahtengah ancaman kesengsaraan.

Kesengsaraan melalui marka ideologis, seperti yang dialami Yesus di bawah rezim tiran, ditandai dengan inferioritas tubuh atas kekuasaan yang memaksakan kehendaknya.  Salib yang diperuntukkan oleh Yesus adalah instrumen kesengsaraan yang digunakan kekuasaan untuk menciptakan rasa sakit. Kayu, paku pasak, cambuk, dan palu, merupakan perwakilan superioritas kekuasaan untuk menciptakan kesengsaraan bagi tubuh yang inferior. Di peristiwa itu,  ada penegasan bagaimana ideologi kekuasaan menjadi sumbu dari kesengsaraan tubuh.

Rasa sakit, luka, kecewa, gelisah, dan pedih tidak saja datang dari penyakit dan kekuasaan, tapi juga bisa muncul dari diri manusia sendiri. Bahkan penderitaan, tidak saja berasal dari genetika sejarah Adam dan Hawa, melainkan juga merupakan genetika yang sudah bekerja dalam  struktur perasaan manusia. Begitu juga kebahagiaan yang diyakini sebagai tujuan paripurna manusia, tidak bisa berarti tanpa adanya kesengsaraan. Dengan kata lain, manusia baru bisa menemukan dirinya yang bernilai dari dua sumbu dialektis antara kesengsaraan dan kebahagiaan.

Cinta diyakini manusia sebagai instrumen kebahagiaan. Melalui cinta manusia mencari kebahagiaan.  Bahkan dengan cintalah manusia merasa bahagia. Agamaagama juga menabalkannya demikian. Tapi, sesungguhnya  tidaklah demikian, justru cintalah yang sesungguhnya merupakan kekuatan inheren manusia yang menyebabkan penderitaan. Cintalah gen aktif dalam manusia itu sebagai biang kesengsaraan.

Cinta sebagai akar emosi dari penderitaan didaku Frederich Nietzsche sebagai peristiwa yang memulai kesengsaraan manusia. Cinta yang selalu memuat harapanharapan ideal, dipercakapkannya hanyalah merupakan tujuan yang membuat jarak yang panjang antara kenyataan dan harapan. Nietzsche menabalkan tiada suatu harapan mutlak yang dapat diraih manusia, melainkan sebenarnya tak ada suatu cita yang menjadi telos bagi manusia. Justru, telos itulah yang menciptkan kesengsaraan di dalam diri manusia. Ini berarti kebahagiaan sebagai tujuan akhir manusia hanya ilusi yang menciptakan kesengsaraan itu sendiri.

Agama yang mengandung doktrin  eskatologi, dengan begitu, malah menciptakan dengan sendirinya kesengsaraan abadi dari tujuan yang ditetapkan semenjak awal. Kebahagiaan sebagai tujuan akhirnya, secara paradoksal malah menciptakan kesengsaraan bagi manusia. Dengan begitu, kesengsaraan adalah kenyataan yang harus ditanggung jika manusia telah beragama. Bahkan dalam agama, keabadian kesengsaraan menegaskan bahwa manusia memang harus bersedia akrab dengan penderitaan.

Tapi memang tiada iman tanpa kesengsaraan. Nietzsce boleh  saja percaya bahwa telos dalam doktrin apapun adalah sumbu dari kesengsaraan. Hanya saja, justru ketabahan terhadap kesengsaraan adalah suatu kualitas iman yang menjadi ukuran seberapa setia manusia pada keyakinannya. Kesengsaraan manusia dengan begitu bukan harus dienyahkan, justru dianjurkan untuk bersetia dengannya. Maka kesengsaraan yang kerap membawa penderitaan berkepanjangan, merupakan sahabat sejati manusia.

Setia terhadap kesengsaraan barangkali dengan sendirinya adalah esensi dari iman. Kisah Ayub, Ibrahim, Yesus, dan Muhammad merupakan suatu peristiwa bagaimana kesengsaraan menjadi bagian dari iman. Kesengsaraan dalam konteks penderitaan adalah jembatan “sang aku” untuk memberikan bukti terhadap keyakinannya. Sebab iman yang tak melewati penderitaan dan cobaan adalah iman yang rapuh. Rasa sakit, kecewa, dan sedih adalah stasiunstasiun untuk membangun iman yang kokoh. Tanpa itu, suatu iman sulit teruji dalam suatu agama.

Syahdan, barangkali itulah yang akhirakhir ini sering terjadi, di bangsabangsa yang sedang berkecamuk perang, suatu iman tengah diuji atas penderitaan bertubutubi.  Lantas bagaimanakah negerinegeri yang tentram tanpa perang? Apakah iman di sana adalah suatu wujud yang rapuh? Barangkali, iman juga bisa diuji di saat manusia bebas dari sengsara. Barangkali.

19 November 2015

Antropologi Toilet*

Toilet, tempat yang sering kali tersisihkan dari imajinasi ruang,  sebenarnya adalah optik antropologi manusia. Maksudnya, toilet, sepetak ruang yang selalu "disudutkan" itu, bisa menjadi parameter kebudayaan manusia.

Di pemukiman kumuh, toilet adalah tempat yang miskin dari arsitektur canggih. Toilet sering kali jadi ruang tersembunyi yang luput dari perhatian. Ini sebenarnya, disebabkan oleh situasi masyarakat bawah yang tak diperantarai basis pengetahuan tentang ruang yang layak. Sebab itulah, toilet hanya dilihat sebagai tempat tanpa embelembel, tetapi malah gembel.

Ketika toilet tampak gembel, dengan sendirinya akan berimplikasi terhadap durasi waktu di saat berada di dalamnya. Di dalamnya, aktivitas membersihkan tubuh, misalnya, akan dilakukan dengan cara terburuburu. Sebab di dalam toilet yang kotor, aktivitas apapun akan dilakukan dengan tidak nyaman. Dengan demikian, di dalam toilet, manusia akan tampak sebagai mahluk yang tidak estetis. Kebersihan dan tubuh yang sehat adalah dua hal yang tak dapat dipenuhi dari toilet yang buruk.

Artinya, bagi masyarakat pemukiman kumuh, toilet adalah tempat yang bisa jadi sumber penyakit. Bagaimana tidak, toilet sebagai tempat untuk memuliakan tubuh yang bersih, alihalih menjadi tempat kesehatan bermula, malah jadi tempat yang tidak manusiawi. Dengan kata lain, toilet dipemukiman kumuh, adalah satu bagian dari sumbersumber penyakit bersarang.

Lain halnya masyarakat kelas atas, toilet sudah menjadi bagian dari ruang yang manusiawi. Karena bersifat manusiawi, toilet dianggap menjadi tempat yang mesti nyaman, sehat, dan indah. Artinya, dari imajinasi ruang hunian, orangorang kelas atas melihat toilet sejajar dengan ruang intim. Itulah mengapa hampir di rumahrumah mewah, toilet dipadupadankan di dalam kamar tidur, misalnya.

Sementara di terminal, pasar ataupun tempat umum lainnya, toilet malah menjadi ruang yang anarkis. Banyak kita dapati, di tempattempat semacam itu, toilet jadi tempat yang anti kemanusiaan. Di sana toilet diperlakukan semenamena hingga nampak tak ada perlakuan yang layak. Walaupun awalnya toilet dibangun dengan baik, tapi pada akhirnya ia jadi ruang yang tak laik.

Dengan begitu di tempat umum, toilet jadi ruang bersama yang absen dari nalar publik. Sebab, sebagai ruang bersama, toilet ada demi memfasilitasi kebutuhan masyarakat untuk membuang hajat. Namun sayang, toilet di ruang publik, sering kali diacuhkan dibandingkan dengan tempattempat lain, sehingga minim perawatan dan penjagaan.

Namun berbeda halnya sebagaimana di mallmall misalnya, toilet juga dapat dilihat dalam hubungannya dengan aktivitas konsumsi. Bagi masyarakat konsumer, toilet harus dibuat nyaman untuk aktifitasaktifitas sekunder manusia. Alasannya adalah kenyamanan berkonsumsi, harus dibarengi dengan kenyamanan saat di dalam toilet. Artinya, toilet yang baik adalah toilet yang bisa menunjang aktifitas masyarakat hight consumption.

Itulah mengapa, sebagai ruang publik, toilet bisa jadi ukuran kelas masyarakat. Di pasar, terminal, atau di tempattempat masyarakat lapis bawah beraktifitas, toilet hanya diberlakukan seadanya. Di sana, toilet jadi gambar betapa masyarakat bawah masih diperlakukan semenamena. Bukan saja biasanya tak difasilitasi pengelola, tetapi juga penggunaan toilet tak disertai pengetahuan sanitasi yang baik dari masyarakat.

Sementara di mallmall yang mewah, di mana kelas bawah disisihkan, toilet diperagakan sebagai bagian dari perputaran modal. Untuk itulah toilet dikelola dengan baik, dibersihkan tiap saat, dan dijaga tiap waktu. Jadi, tak seperti toilet kelas bawah, di situ tak ditemukan air yang mapet, atau closet yang busuk. Semuanya jadi bagian untuk melayani publik.

Psikoanalisis sekaligus kritikus budaya abad dua puluh asal Slovenia, Slavoj Zizek, punya pandangan yang nyentrik tentang toilet. Dari yang dipercakapkannya, perilaku manusia di dalam toilet sesungguhnya mencerminkan alam bawah sadar suatu komunitas. Dia mau bilang bahwa, perilaku orangorang di toilet adalah refleksi dari ideologi yang tersembunyi. Dia mempercakapkan orangorang Jerman, misalnya, senang berlamalama di hadapan fesesnya sebagai sikap kontemplatif kebudayaannya. Berbeda dari orangorang Amerika ataupun Inggris, yang lebih senang menegelamkan fesesnya karena sikapnya yang pragmatis.

Lalu, bagaimana dengan orangorang Indonesia? Orangorang Indonesia barangkali adalah tipe manusia yang paling sulit ditebak. Jika di muka umum kesannya menjadi pribadi yang toleran, murah senyum, dan bertutur kata baik, tapi tidak di dalam toilet. Di dalam toilet, orangorang Indonesia jadi pribadi yang permisif; sulit bertindak bersih, atau bahkan cenderung merusak. Di dalam toilet, orangorang Indonesia jadi pribadi yang begitu berbeda.

Jika sudah begitu, orangorang Indonesia jadi manusia yang hipokrit. Melalui toilet, ruang yang sering kali jadi sudut rumah itu, orangorang Indonesia menampakkan citra aslinya. Di dalam sana, tak ada yang disembunyikan, sebab dari perlakuan orang Indonesia, toilet jadi kanvas kebudayaannya. Bisa benar, juga salah, apabila Zizek bilang perilaku kebudayaan bisa ditelusuri dari jendela toilet. Namun jika ingin membuktikan ucapan Zizek, maka saya sarankan, berlamalamalah di dalam toilet.

---

*Di muat di harian Tempo Makassar, Rabu, 18 November 15

14 November 2015

Apa dan Mengapa Menulis?*

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. Pramoedya Ananta Toer (1925-2006)

Menulis itu dua hal; berpikir dan bekerja. Berpikir berarti mengelola ideide, dan bekerja berarti membumikan ideide.

Mengelola ideide adalah usaha asali manusia. Semenjak manusia memiliki kesadaran, ideide selalu menjadi bahan baku dari aktifitas yang disebut berfikir. Ideide diramu dengan cara dihubunghubungkan, disambungsambungkan atau bahkan dipecahpecah atas sesuatu. Ideide selalu berarti gambaran atas sesuatu di dalam kesadaran kita. Ide tentang manusia, tentang hewan, tentang alam, tentang langit, tentang galaksi, tentang alam semesta, tentang tuhan, dan seluruh yang dapat dijangkau alam pikir adalah asalmuasal dari mana datangnya ide. Dari itu semualah ide kita datang. Dari semua itulah manusia berpikir.

Dengan begitu manusia mengelola hidup dan kehidupannya. Hidup di sini berarti individunya, dan kehidupan adalah berarti komunitas masyarakatnya.

Mengolah ideide merupakan aktivitas dialektis antara membaca dan berpikir itu sendiri. Bahkan secara teknis, tiada ideide tanpa membaca. Membaca sebagaimana berpikir adalah aktivitas terbuka terhadap sesuatu. Ketika manusia berpikir tentang sesuatu, sesungguhnya itu didahului sebelumnya dengan aktifitas membaca sesuatu. Di saat manusia berpikir tentang hidupnya, di situ berarti di saat sebelumnya ia telah membaca tentang hidupnya itu sendiri. Di saat manusia berpikir atas peradabannya, berarti sebelumnya ia tengah membaca peradabannya. Dua aktifitas antara membaca dan berfikir inilah yang saya sebut dialektis. Ini berarti satu tidak mungkin tercapai sebelum yang satunya terlaksana. Begitu seterusnya.

Membaca sebagai aktifitas terbuka berbeda dengan membaca dengan maksud kepentingan tertentu. Terkadang pada tingkatan tertentu, justru yang kedua inilah yang banyak terjadi. Banyak orang membaca sesuatu karena lebih diarahkan oleh kepentingan pengetahuannya sendiri. Terkadang juga kepentingannya digerakkan atas dasar kesenangan dan kebencian terhadap sesuatu. Kepentingannya akan bertindak sebagai penyortir apa yang layak dan yang tidak layak untuk dibaca. Dari kasus semacam ini, pengetahuannya akan menjadi penjara bagi dirinya sendiri. Orangorang seperti ini boleh saja membaca dari yang telah difatwakan pengetahuannya, tapi yakin dan percaya, pengetahuan dari aktivitas membacanya tidak akan majumaju.

Membaca sebagai aktifitas terbuka sebenarnya punya arti sederhana. Membacalah dari seluruh yang mampu dibaca, begitu kirakira artinya. Mulai dari sebait kalimat sampai berjilidjilid pagina. Mulai dari diri pribadi sampai ke kehidupan banyak orang. Mulai dari bumi sampai langit bertingkattingkat. Mulai dari Adam hingga tuhan yang tak terbatas. Singkatnya, membaca adalah aktifitas tanpa pretensi. Toh jika ada pretensi, maka hanya satu saja kepentingannya, yakni untuk pengetahuan itu sendiri.

Membaca dengan cara terbuka pada hakikatnya adalah bawaan dasar manusia. Agama menyebutnya fitrah, sedangkan filsafat seringkali menyebutnya dengan istilah human nature, yakni manusia sudah dengan sendirinya mencintai suatu segala hal. Kecenderungan ini diaplikasikannya dengan cara mencari dan menemukan informasi sebanyakbanyak mungkin, sebab manusia selalu dihantui rasa ingin tahu. Itulah sebabnya manusia selalu bertanya suatu segala. Melalui itu manusia mengembangkan rasa ingin tahunya menjadi ilmu pengetahuan.


28 Oktober 2015

Dari Mana Mulai Mata Seorang Penulis?

Kalimat dimulai dari mata seorang penulis yang takjub, dan bukubuku jari yang gelisah.

Mata, indera yang bisa menangkap bendabenda dengan jutaan partikel foton itu, adalah alat tangkap yang penting bagi seorang penulis. Mata bukan sekedar alat biologis, tapi sebuah alat epistem. Melalui mata, suatu peristiwa ditangkap sebagai datadata yang ditampung di dalam pikiran. Mata menjadi jangkar yang mengaitkan objek di luar dan pikiran manusia. Melalui mata, suatu peristiwa jadi kata.

Mata seorang penulis tidak sekedar memfoto kopi peristiwa. Ketika ia melihat suatu kejadian, tugasnya bukan saja menggambarkan secara deskriptif, melainkan bergerak di sekitar setiap sudut pandang. Mata bagi penulis harus punya berjuta lensa untuk melihat lebih detail peristiwa yang dihadapinya. 

Dengan mata, suatu peristiwa jadi lebih transparan, suatu peristiwa disusunbangun kembali. Melalui mata suatu fenomena jadi istimewa.

Mengapa istimewa? Karena mata penulis ibarat mata kecil seorang anakanak. Mata kecil seorang anakanak ibarat keadaan asal di saat pertama kali berhadapan dengan suatu segala. Di dalam keadaan asal, suatu segala menjadi asing dan baru sehingga semuanya menjadi hal yang patut dipersoalkan. 

Keadaan asal adalah perspektif yang memungkinkan seorang anakanak untuk mau mengenal keadaan di hadapannya. Mau masuk di dalamnya dan terlibat di dalamnya.

Mata seorang penulis selalu terdorong untuk bertolak dari yang ada. Fenomena menjadi hal yang penting, karena penulis tidak berusaha menulis dari kekosongan. Tidak ada penulis yang bemula dari kekosongan. Semuanya bergerak dari dari faktafakta. Ia menyaksikan apa yang terjadi, menelusuri yang sudah berlangsung, dan memperkirakan yang bakal terjadi.

Fenomena dibedakan dari apa yang tampak dengan dari yang samarsamar. Suatu fenomena terjadi karena dua hal; ruang dan waktu. Ruang sebagai media fenomena terjadi, dan waktu sebagai ukuran keberlangsungannya. Dengan ruang "yang tampak" menjadi mungkin, dan melalui waktu "yang tampak" ditelusuri. Dengan dua dimensi inilah, seorang penulis terlibat di dalamnya. Ia mengalami waktu dan ruang sekaligus.

Keadaan yang samarsamar adalah fenomena yang belum terang. Pantang dari keadaan yang samar tulisan datang atasnya. Segegala yang samar bukanlah titik tolak dari suatu karya, melainkan tugas seorang penulislah untuk membuatnya terang. 

Di titik ini, seorang penulis adalah orang yang bekerja di perbatasan, antara yang samar dan yang terang, membuka gerbang segegala yang belum tersingkap. Seorang penulis karena itu memulai pekerjaannya dari yang tampak terdahulu sebelum memasuki ruang  yang semula masih kabur.

Itulah sebabnya tak ada penulis yang menulis di atas kertas yang kosong. Ia selalu menulis dari ruang dan waktu yang ada. Fenomena masyarakatnya; nasib masyarakatnya; sejarah masyarakatnya; kebiasaan masyarakatnya; dan kebudayaan masyarakatnya. Di atas semua itulah seorang penulis bekerja menyusun katakatanya. Memasang matanya tajamtajam ke segala penjuru. Mencatat dan menyimpan, kemudian menuliskannya.

Artinya, seorang penulis selalu menyusun karyanya di atas lapislapis kebudayaan sebelumnya. Mengulangnya dan memperbaikinya. Atas kebudayaan sebelumnya, seorang penulis mempunyai tanggung jawab untuk melestarikannya dengan cara menutup kekurangan yang ada dari kebudayaan sebelumnya. Di titik inilah, seorang penulis bertanggung jawab langsung  terhadap jatuh bangunnya kebudayaan yang menghidupi dan dihidupinya.

Tidak berlebihan jika seorang penulis dengan demikian disebut sebagai pekerja kebudayaan. Seorang penulis bekerja dengan katakata. Penyair, sastrawan, wartawan, esais, penulis drama, pujangga atau apapun namanya, selalu bergelut dengan katakata. Katakata bagi mereka semua adalah bahan dasar dalam membentuk kebudayaan. Melalui kata mereka membangun pengertianpengertian baru yang sesuai dengan zamannya, menafsirkan, dan memberikan nuansa baru. Dengan pengertianpengertian inilah, orangorang bergerak, berinteraksi dan membentuk kebiasaankebiasaan, dan tentu kebudayaannya.

Demikian juga, pekerja kebudayaan, seperti yang disebutkan Ignas Kleden adalah juga sekaligus public intelectual. Intelektual publik dinyatakan Kleden berbeda dengan akademisi dan pekerja profesional. Seorang akademisi memang bergelut dengan tugastugas intelektual, tapi ia tidak memiliki semangat “menerobos” lingkungan intelektual yang dimilikinya. Di sini berdasarkan kecenderungannya, akademisi hanya dituntun dan dituntut bekerja atas minat dan intelektual spherenya. Ia hanya berbicara sebatas ilmu yang menjadi basis pengetahuannya. Dengan demikian, seorang akademisi atau pekerja profesional dibatasi oleh batasbatas ilmu yang dipunyainya.

Sementara intelektual publik adalah golongan dengan visi yang melampaui batasbatas lingkungan intelektual tertentu.  Kecenderungannya mampu menerobos sekatsekat keilmuan yang dipahami secara konvensional. Seperti yang dicontohkan Ignas Kleden yakni Einstein yang tidak saja berbicara tentang ilmu matematika maupun fisika, melainkan perhatiannya ditunjukan juga kepada masalahmasalah yang lebih ultim semisal kemajuan peradaban, perang antar bangsa, isuisu rasial, dan masalahmasalah kebudayaan.

Tapi, intelektual publik bukan intelektual yang tidak memiliki kecenderungan yang tetap. Bukan berarti seorang intelektual publik yang berbicara segala hal lantas mengaburkan kecenderungan keilmuan yang digelutinya. Einstein misalnya, ketika berbicara tanggung jawab moral seorang ilmuan, tidak meninggalkan dasar ilmunya untuk melihat persoalan. Justru dengan itu, ia dapat meneropong segala hal melalui rumah pengetahuan yang dibangunnya selama pengembaraan intelektualnya.

Lantas apakah seorang penulis juga memiliki rumah pengetahuan? Tentu.  Seorang penulis punya alamat yang dapat ditunjuk. Dari sana ia berasal, dengan pertamatama lahir dan berkembang. Di sana, di mana ia memulai dari rumahnya, ia dibangun atas kebudayaan yang melingkupinya. 

Sebelum ia memperbaiki kebudayaan di luarnya, seorang penulis terbentuk dari kebudayaan yang melatarbelakangi perasaannya, pemikirannya. Di rumah itu ia beralamat, ia menemukan matanya, visinya. Visi yang ditemukannya melalui proses kebudayaannya, akhirnya menjadi mata bagaimana ia melihat sesuatu. Melalui mata itulah ia melihat, mendengar, dan merasakan kebudayannya; seluruh denyut kehidupan di sekitarnya.

Seorang intelektual publik dengan begitu seperti kurakura yang melintasi segala penjuru dengan membawa rumahnya kemana pun ia pergi. Seekor kurakura berbeda dengan binatang bercangkang lainnya yang kerap mengganti rumahnya, seekor kurakura justru setia dengan rumahnya. Melalui rumahnya itulah kurakura mengarungi segala hal, dan tidak pernah menginggalkannya  sedetik pun. Artinya seperti kurakura, seorang intelektual publik harus memiliki rumah di mana ia berpijak atas perasaan dan pemikiran yang dibawanya selalu, di mana ia mewakili tanggung jawabnya.

Syahdan, dari mana mata seorang penulis memulai? Maka ada dua hal; dirinya yang takjub dan dari beranda rumahnya ia berdiri. Diri yang takjub melihat suatu segegala yang asing, sementara dimulai dari rumahnya ia menyadari suatu pijakan visinya bermula. Dengan dua hal itu, seorang penulis bekerja dan tentu, dengan bukubuku jari yang gelisah.

Dari yang gelisah datang asa
dengan segegala yang terbilang asing
di mulai dari mata yang pisah yang takjub
semuanya tiada redup


27 Oktober 2015

Che Guevara



Orang-orang Hutan

 

Hutan, untuk masa sekarang, hanya punya satu arti: kapital. Jika dahulu hutan dimaknai sebagai bagian dari kosmos, sekarang, hutan beralih fungsi menjadi komoditas.

Nampaknya peralihan hutan dari bagian kosmos menjadi komoditas, adalah penanda bagaimana manusia begitu cepat berubah.

Dimulai dari kebudayaan awal, hutan selalu dipresentasikan sebagai mitra kehidupan. Dengan tindak berpikir ini, hutan dijaga dan dilestarikan untuk menunjang jaringan ekosistem yang terlibat di dalamnya. Bagi masyarakat kuno, hutan adalah teritori sakral, sebab hutan merupakan bagian penting di dalam keyakinan-keyakinan tua.

Apabila ditelusuri, hutan sebenarnya adalah rumah bagi masyarakat kuno. Dahulu belum ada dinding yang secara imajiner membagi teritori antara manusia dengan alam. Manusia beserta alam adalah kesatuan bulat, tanpa petak-petak teritori. Hutan adalah manusia, dan sebaliknya pula manusia adalah hutan.

Artinya, kebudayaan yang berarti totalitas dimensi kehidupan manusia, mengikutsertakan alam sebagai bagiannya.  Budaya dengan begitu adalah tatanan berpikir yang melihat kesatuan alam dan manusia sebagai dua titik dalam satu koordinat.

Tapi, kebudayaan bergerak, dan manusia berubah. Manusia pelan-pelan menemukan dirinya sebagai anak bumi yang berbeda. Alam satu hal dan manusia lain hal. Maka, mulailah alam didefenisi ulang: mulailah manusia membelah diri dari alam. Seketika dengan begitu, manusia adalah makhluk yang begitu berbeda dari tatanan kosmos, di sana memancang hirarki kekuasaan, lalu sang manusia menjadi satu-satunya subjek  dari suatu segala.

Semenjak kesadaran atas “aku” ditemukan, manusia mulai mengerahkan seluruh kehendaknya untuk menaklukkan alam. Modernisasi di mana-mana, dan kapitalisme menjadi segala hal. Hingga akhirnya hutan yang semula menopang kebudayaan manusia, menjadi obyek yang ditaklukkan demi akumulasi kapital.

Saya pernah menyaksikan film The Burning Season, film yang bercerita tentang petani karet yang melindungi hutan hujan Amazon dari pemalakan besar-besaran perusahan-perusahaan kapital. Di sana, hutan hujan yang menjadi penyangga kehidupan pelan-pelan diolah untuk menjadi lahan bisnis. Hutan dengan cara itu tidak lagi diatur dengan nalar ekologis, melainkan dengan hukum-hukum kapital.

Di film itu kita bisa tahu, bahwa betapa pentingnya hutan bagi komunitas-komunitas kecil yang hidup dari pemanfaatan hutan. Hutan di mata komunitas-komunitas semacam itu, sebenarnya punya tujuan besar dibanding harus dijual untuk perusahaan-perusahaan, yang hanya melihat hutan dengan kaca mata material. Hutan bukanlah instrumen manusia, melainkan paru-paru dunia.

Kenapa paru-paru dunia? Sebab disitu ada ekosistem organik dengan jaringan kehidupan di dalamnya. Perspektif ini menandai bahwa hutan adalah pusat dari berlangsungnya kesatuan kehidupan di dalamnya, di mana hutan terkoneksi secara alamiah dengan alam sekitarnya. Dengan begitu, hutan dipandang sebagai makhluk hidup yang tidak sekedar obyek mati yang mudah ditaklukkan.

Di Indonesia, ada orang-orang Dayak yang masih teguh hidup di dalam hutan. Ketika masyarakat Indonesia berlomba-lomba pergi ke kota, orang-orang Dayak memilih bertahan di dalam hutan. Kepercayaan mereka, hutan adalah amanah yang harus dipelihara sebagaimana pesan leluhur. Bahkan hutan dianggapkan sebagai tubuh besar yang harus dirawat, sebab keberlangsungannya ditandai dengan bergeraknya perputaran aktivitas di dalamnya; berburu, meramu makanan, memelihara pohon, upacara adat, membuat obat-obatan dlsb., adalah sub-sub kerja yang menopang kesehatan tubuh rimba. Selanjutnya, dengan demikian, hutan tidak sekedar rumah besar dengan subsistem kehidupan di dalamnya, melainkan adalah ruh kehidupan yang sakral.

Naparanakkang juku
Napaloliko raung kaju
Nahambangiko allo
Nabatuiko ere bosi
Napalolo’rang ere tua
Nakajariangko tinanang

Begitulah larik pesan tua  dari Pasang Ri Kajang, kumpulan hikmat yang dipraktekkan masyarakat hukum adat Kajang di Bulukumba. Di baliknya ada bangunan paradigma yang menempatkan hutan sebagai pusat kosmik. Hutan bagi masyarakat hukum adat Kajang, seperti komunitas hutan lainnya, adalah ruang material yang bermakna transenden.

Masyarakat hukum adat Kajang, tentu berbeda dengan masyarakat yang dikelilingi hutan-hutan beton. Mereka punya prinsip hidup tallase kamase masea: etika hidup mengedepankan kesahajaan dan kesederhanaan. Melalui dua hal inilah orang Kajang, memahami tiga lapis dunia; dunia Tu ria ara’na. dunia Ammatoa, dan  dunia tanah, dalam satu kesatuan kosmologis yang harus dihormati.

Masyarakat modern bukan masyarakat Kajang. “Aku” dalam kesadaran modern adalah subjek yang angkuh dan kukuh. Sehingga dari pusat “aku” dunia dipilah-pilah jadi barang taklukan. Atas dalih kemajuan, “aku” orang-orang modern masuk dan membabat hutan demi modal berlipat.

Barangkali itulah yang terjadi di hutan-hutan Sumatera dan Kalimantan belakangan ini. Hutan dibakar untuk membuka lahan baru, demi proyek pembangunan. Pohon-pohon ditebang, hewan-hewan diburu, dan lahan-lahan dibabat. Isi hutan akhirnya dikuras tanpa menimbang tujuan jangka panjang bagi keberlangsungan ekosistem. Dalam hutan yang digunduli itu, nalar instrumental yang dipercakapkan generasi kedua Mazhab Frankfurt asal Jerman, Jurgen Habermas, bekerja tanpa peduli sesama.

Dengan nalar instrumental, hutan jadi sama dengan barang yang dipajang di etalase pusat perbelanjaan, tidak jauh berbeda dengan produk yang terpampang lewat iklan. Singkatnya, hutan, jadi barang yang dipertukarkan dan diperdagangkan. Hutan akhirnya jadi komoditas. Di situasi semacam inilah, yang organik dari hutan disisihkan: tumbuhan hijau, kicau burung di udara petang, tepi-tepi sungai yang becek, jejak hewan yang mengering, serta jalar akar pohon yang menghujam, harus hilang tersapu bara api bertubi-Tubi.

Syahdan, jika sudah demikian, di manakah orang-orang hutan sekarang?

--

Dimuat di harian Tempo Makassar, 23 Oktober 2015


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...