05 September 2015

Sang Aku dalam Cermin

Cermin adalah benda ajaib. Bagi manusia, cermin bertugas membantu keterbatasan penglihatan. Melalui cermin seorang model dapat melihat pantulan rias parasnya. Cantik, tampan, ataukah jelek, cermin banyak membantu memberikan penilaian utuh. Di jalan raya, bagi pengendara, cermin menjadi perlengkapan penting kendaraan. Bayangkan jika kendaraan tak memiliki cermin, si pengendara pasti sulit berkendara. Jika sudah begitu, polisi punya alasan tepat menjerat pengendara: ditilang.

Di kehidupan sehari-hari, kita sangat tergantung kepada cermin. Keberadaan cermin sunguh penting untuk menjaga penampilan. Bisa dibilang, di saat memulai beraktivitas, cermin menjadi perangkat pertama yang digunakan untuk melihat tampilan luar kita. Itulah sebabnya, ketika memulai hari, di setiap kamar tidur disediakan cermin untuk kita gunakan. Maka dari itu cermin juga menentukan rasa percaya diri untuk memulai beraktivitas.

Sebenarnya yang membuat cermin dibutuhkan adalah sifatnya yang dapat menangkap objek di depannya. Sifat inilah yang membuat cermin menjadi ajaib. Ia bisa merefleksikan objekobjek sesuai yang dipantulkannya. Ia bisa meniru persis objek yang di hadapannya. Juga, ia “jujur” dalam memantulkan gambaran yang ditangkapnya. 

Bagi orangorang yang berhamba kepada mode, cermin adalah barang wajib untuk dimiliki. Dan kalau perlu bisa dibawa ke manamana. Bagi perempuan era sekarang, sebagaimana bendabenda kosmetik lainnya, cermin adalah benda yang paling dibutuhkan. Dengan cermin, paras yang sering menjadi “arena mode” dapat dipoles kembali apabila ada “kejelekkan” yang melekat. Tapi tidak saja perempuan, zaman sekarang banyak juga pria yang berkelakuan seperti perempuan; pesolek.

Tapi ada cermin yang bisa mengubah citra objek menjadi berbeda dari objek aslinya. Cermin seperti ini punya kemampuan untuk memperbesar atau memperkecil objekobjek di hadapannya. Kita mengenal cermin seperti ini dengan sebutan cermin cembung dan cermin cekung. Dua cermin ini sangat jarang digunakan, sebab tak “jujur” dalam menangkap objekobjek yang di dicitrakannya. Cermin semacam ini biasanya hanya ditemukan pada arena bermain yang di gunakan untuk ajang hiburan semata.

***

Cermin yang menipu atau cermin yang tak jujur merefleksikan objeknya dalam ilmu psikolog imutakhir digunakan psikolanalis Prancis Jascues Lacan untuk mempercakapkan “aku” yang salah dalam mengenal dirinya. Menurut Lacan, dalam teori subjeknya, manusia sedari awal adalah mahluk yang tak pernah mengenal siapa “aku” yang sebenarnya. Peristiwa ini, dinyatakannya dimulai di saat pertama kali manusia mengenal dirinya melalui fase cermin. Di fase ini, usaha manusia untuk mengenal dirinya melalui pencitraan cermin, sebenarnya adalah pantulan yang sesunguhnya salah. Jadi dari yang dipercakapkannya, jika manusia ingin mengenal siapa “aku” sebenarnya, sebaliknya yang dikenalnya adalah “aku” yang lain.

Secara metafora, Lacan menggunakan cermin sebagai perangkat argumentasi bahwa manusia adalah mahluk yang tak pernah mengenal siapa “aku” yang sebenarnya. Dari perjalanan panjang peradaban, sang “aku” yang dipertukartangkapkan untuk saling mengidentifikasi satu sama lain, mengacu dari teori cermin Lacan adalah diri yang ilutif. Dalam bertukar sapa, usaha manusia membangun relasi diatas identitas “aku” bisa jadi adalah usaha yang tak bermakna. Sebab ketika kita saling mengenal satu sama lain, sesungguhnya adalah identitas yang sudah ilutif dari awal.

Lalu di manakah “aku” yang sebenarnya? Itulah sebabnya barangkali manusia senang bercermin untuk mencari “aku” yang hilang. “Aku” yang hilang adalah dua tubuh yang semula tiada; tubuh psike dan tubuh socius. Tapi malangnya, tubuh psike seringkali dilupakan untuk ditemukan. Justru tubuh sociuslah yang kerap kali dicari melalui cermin. Tubuh sociuslah yang menjadi perhatian utama. Dengan cermin di sekeliling kita, tubuh socius selalu dipertahankan dengan menjaga intensitas untuk menghadap ke dalam cermin. Seringkali kita menghadap cermin, maka sebanyak itulah tubuh socius diteguhkan.

Dan memang cermin adalah benda yang ajaib. Di dalamnya “aku” tubuh socius ditemukan untuk menunjang kepercayaan diri. Dengan cermin tubuh socius disusun, dimulai dari paras, organ badan hingga ujung kaki untuk dimaksimalkan seideal mungkin. Dari cerminlah tubuh socius ditemukenali. Dari cerminlah tubuh socius direfleksikan.

Akhirakhir ini kecenderungan bercermin sudah jadi rutin. Bercermin bukan lagi kegiatan di awal waktu melalui ruang privat yang intim di kamar tidur, melainkan hampir tiap waktu di medan publik. Bisa benar bisa salah, bercermin bisa menjadi indikasi hilangnya “sang aku” dari sekalian kita. Atau bisa saja bercermin adalah usaha untuk mengkonversi kekurangan “sang aku” dari diri yang memang tak lengkap, sebab di dalam cerminlah sang pesolek menemukan semacam “keyakinan” yang menenangkan.

Syahdan, Sapardi Djoko Damono punya puisi tentang cermin, dia bilang begini: mendadak kau mengabut dalam kamar, mencari dalam cermin// tapi cermin buram kalau kau entah di mana, kalau kau mengembun dan menempel di kaca, kalau kau mendadak menetes dan terpecik ke mana-mana// dan cermin menangkapmu sia­sia.

Dimuat di Koran Tempo Makassar, Sabtu 5 September 2015

01 September 2015

Orangorang Pembenci Kata


Aktivitas menulis sudah sepurba keberadaan manusia. Dalam sejarah peradaban, manusia sering menulis dalam banyak ragam; simbol, gambar, ataupun motifmotif. Dengan begitu menulis menjadi sifat sejarah manusia; ketika ia lahir, tumbuh dan berkembang. Bahkan aktivitas menulis adalah penanda terakhir dari manusia yang ditilap sangkar waktu; di atas nisan, aksara menjadi penyambung manusia antara ada dan tiada.

Manusia dimulai dari aksara, tapi menulis adalah permulaan peradaban. Di awal narasi penciptaan manusia, kun adalah aksara yang menandai titik mula kehidupan, sementara tulisan adalah cikal bakal kebudayaan manusia. Begitu kirakira permulaan dan perkembangan manusia. Bermula dengan aksara dan berkembang melalui tulisan.

Itulah sebabnya manusia mengolah kata. Itulah mengapa manusia mengukir aksara. Dengan begitu, manusia bertukartangkap untuk saling bertukarsapa, berkomunikasi melalui jejaring makna, dan mengembangkan kehidupan melalui kesalingpengertian.

Melalui aksara dan tulisan, membuat manusia akhirnya membangun jarak dengan mahluk lain. Aksara dan tulisan menjadi ciri sekaligus pembeda dari mahlukmahluk di sekelilingnya. Dengan itu manusia membangun ciri kebudayaannya, melalui kata melalui tata. Kata sebagai simbol dan alat tukar pemahaman, sedangkan tata adalah kemampuan teknis manusia untuk mencipta bendabenda beserta pengaturan dan pengelolahannya.

Maka itu manusia disebut mahluk yang bertutur, sebab melalui tuturan manusia menukar maksud dan pesan. Juga dengan kemampuan tata manusia disebut homo faber, mahluk pekerja. Sebagai homo faber manusia punya kekuatan mengubah nature (alam) menjadi kulture (budaya), merekayasa alam buas menjadi alam kehidupan. Dengan kata lain, melalui kata manusia membangun konsep, dengan tata manusia mengerjakan konsep.

Tapi manusia tidak selamanya menyukai kata dan malas menata. Banyak orangorang yang tidak ingin berkerja dengan kata, sebab kata diartikan ihwal yang tak punya sumbangsih kongkrit. Bergelut dengan kata disebutnya pengecut, dikarenakan kata tak bisa mengubah dunia. 

Orangorang seperti ini biasanya dengan sendirinya malas menata, dan sering kali jika menata maka tak sanggup rapi dan apik. Kenapa demikian? Karena bekerja dengan kata itu berarti kita harus sering menyusun tata bahasa, tata pikir dan jalan pikir untuk membangun maksud yang terang. 

Dengan menyusun kata berarti ada jejaring hubungan makna yang sistemik tersusun rapi di tiap relasinya. Itu mengapa, orangorang tak menyukai kata akan sulit membangun katakata dengan susunan pikiran yang baik.

Lalu siapakah orangorang yang selalu bekerja dengan kata? Di dalam sejarah peradabanperadaban, orangorang yang bekerja dengan kata selalu menjadi pusat dari lahirnya peradaban. 

Di Yunani purba, ada dua macam yang selalu bekerja dengan katakata; filsuf dan Sastrawan. Sang filsuf, membangun konsepkonsep filsafatnya melalui katakata yang direnungkan dan dipraxiskannya. Sementara sastrawan bergelut dengan kata untuk menguak tabirtabir makna yang dikandung di dalamnya. Melalui kata yang direnungkan, sang filsuf menyusun dasardasar filsafat, sedangkan dari kata yang dikuak, sang sastrawan mengasah dunia pemaknaan manusia. Akhirnya dari orangorang semisal Homer, Socrates, Plato, Aristoteles, peradaban Yunani purba bermula.

Walaupun begitu, ada juga orang yang senang bekerja dengan kata tapi punya maksud yang lain. Tidak seperti filsuf maupun sastrawan, kaum sophis barangkali adalah model orang yang sering memutar balikkan kata. Di tangan orangorang shopis, kata menjadi tak menentu sehingga makna sering kali disalahartikan. 

Apabila demikian, maka kebenaran yang dapat terungkap melalui kata, justru tertimbun jauh di balik maksud lain orangorang sophis. Ketika Socrates menyebut orangorang ini dengan sebutan orangorang yang tak bijak, kaum sophis malah emoh dan seringkali mengunjungi orangorang kaya untuk mencari uang dengan menjual katakata.

Buku sebagai sangkar katakata, peradaban sebagai tugu tata adalah dua hal yang berkaitsambut. Melalui buku peradaban dirawat, dengan peradaban buku dipertahankan. Peradaban manusia bisa dibilang dimulai dari keberadaan bukubuku. Eropa bisa terang benderang sebab buku menjadi benda yang menyebar secara massif. Kita tahu, di Eropa kuno, buku masih barang privat, hanya kepunyaan padripadri gereja, kaum bangsawan dan rajaraja. Tapi mesin cetak Gutenberg-lah yang mengubah jalan peradaban dari pusatpusat gereja, pusatpusat kerajaan menjadi milik banyak orang. Akhirnya dengan mesin cetak terjadi liberalisasi ilmu pengetahuan yang menyebar melalui cetakancetakan buku mesin Gutenberg. Dan Eropa akhirnya melek aksara.

Sementara atas peradaban buku dipertahankan dan dijaga. Sebab buku bukan saja peninggalan peradaban, tapi juga adalah benda yang mencirikan peradaban. Tak bisa dibayangkan tanpa buku peradaban bisa bertahan lama, di mana dalam konteks ilmu pengetahuan, buku memang bendabenda peradaban. Atas asumsi inilah, dari alaf sejarah, tak ada bangsa yang mampu membangun peradabannya tanpa mensyaratkan keberadaan ilmu dan pustaka bukubuku.

Walupun demikian, sejarah tak selamanya jernih dari noda peradaban. Jika ada orang yang benci dengan katakata, maka bisa saja paralel dengan sikapnya terhadap peradaban. Artinya bila katakata sudah dibenci, dengan demikian peradaban juga dibencinya. Orangorang semacam ini ditimbangtimbang jauh lebih kejam dari kaum sophis. Kaum sophis masih menggunakan kata walaupun punya motif ekonomik di balik maksud ia bekerja, sementara orangorang pembenci peradaban biasanya adalah orangorang yang bekerja dengan aksiaksi kekerasan.

Kekerasan dalam lorong gelap sejarah biasanya dilakukan oleh para penguasa  otoriter. Di hadapan penguasa, katakata tak punya tempat, karena bila kata diterima, berarti ada ruang dialog di dalamnya. Sementara dialog berarti cara bawahan untuk mempertanyakan keputusankeputusan penguasa. Sebab kata adalah asal mula negoisasi. 

Itulah mengapa banyak penguasa tak ingin dialog, karena mereka membenci katakata, karena mereka membenci pikiranpikiran. Maka di sepanjang sejarah, di mana ada pusatpusat kata berkembang, di mana ada tempattempat pemikiran bersemai, dan itu dapat membuka dialog bagi penguasa, maka kekerasan adalah tradisi yang diambil penguasa untuk memberangus.

Sampai di sini, orangorang yang membenci katakata, biasanya punya satu hal; malas bertukar pendapat.

10 Juni 2015

Hikayat Jalan Raya


Di kotakota besar, jalan raya adalah tempat perebutan dan penaklukan. Di jalan raya, orangorang dari beragam profesi berjibaku; polisi, pengendara kendaraan, anak jalanan, penjual koran, pengamen, supir angkutan, pedagang asongan, pengedar brosur, para demonstran, pejalan kaki dsb., menggunakan jalan raya dengan beragam kepentingan. 

Polisi misalnya, sebagai representasi hukum harus hadir di jalan raya dengan maksud mengatur ketertiban umum. Para pengamen memanfaatkan setiap perempatan trafic light untuk mendulang  untung. Para pengendara apalagi, adalah orangorang yang paling berhasrat menguasai jalan dengan dalih efisiensi waktu.

Begitu juga mahasiswamahasiswa demonstran, memandang jalan raya sebagai ruang publik yang paling mungkin digunakan di dalam sistem demokrasi yang mandeg. Singkatnya, jalan raya adalah ruang publik tempat kontestasi dari beragam kepentingan dan perebutan berlangsung.


Sejarah jalan raya barangkali sepurba peradaban manusia. Semenjak dahulu manusia senantiasa mengkondisikan perkembangan hidupnya dengan alam. Di peradaban Mesir tua misalnya, jalan selalu dibangun seiring dengan keberadaan daerahdaerah subur semisal sungai, rawarawa dan ladangladang pertanian.  

Bahkan kehidupan kota akhirnya harus disesuaikan dengan keberadaan daerahdaerah subur sebagai tempat penghidupan. Dengan hidup yang demikian, jalan dibangun untuk mengakses sumbersumber alam yang menunjang kebutuhan dasar hidup manusia.


Tetapi ketika peradabanperadaban besar menemukan tempattempat baru untuk ditaklukkan, jalan akhirnya dirumuskan berdasarkan logika militer. 

Jika sebelumnya di peradabanperadaban yang subur tanahnya menyesuaikan jalan raya dengan hewanhewan pengangkut bahanbahan makanan, di peradaban yang memandang perang sebagai sarana penaklukkan, menandai jalan raya sebagai akses transportasi alatalat perang. Tujuannya tiada lain memudahkan sarana militer dengan efisien dapat dipindahkan dari pusatpusat pelatihan menuju medan perang.  

Seperti yang diperlihatkan memang, sejak dulu jalan raya selalu ditandai dengan dua hal; sumbersumber alam dan perang.

Di abad modern, sejarah transportasi adalah sejarah modernisasi itu sendiri, di mana perang dan pemanfaatan sumbersumber alam malangnya adalah cara modernisasi bekerja.

Di tanah air, bila kita ingin menandai permulaan modernisasi, justru ditandai dengan pembangunan jalan rel kereta api.  Dengan rel kereta api, modernisasi punya maksud kolonialisasi.

Dari pembangunan jalur rel kereta api  Semarang-Vorstenlanden (Surakarta dan Yogyakarta, daerah perkebunan yang subur) yang dilaksanakan oleh Nederlandsch Indisch Spoorwegmaatschappij (NIS) misalnya, dibangun untuk mengangkut hasilhasil bumi berupa gula, kopi dan nila yang dikerjakan melalui sistem tanam paksa (Cultuur Stelsel).

Kita juga mengenal jalan raya pos (de Groothe Postweg) yang merupakan proyek penaklukkan di Hindia-Belanda. Di mulai dari Anyer hingga ujung Jawa, Banyuwangi, adalah peninggalan bagaimana jalan raya yang dibangun selain alasan perdagangan, juga digunakan sebagai strategi militer Hindia-Belanda untuk mengontrol pergerakan pribumipribumi melalui patrolipatroli militer.

Selain itu melalui jalan raya pos, Hindia Belanda menjalankan strateginya untuk mengontrol ruang pergerakan pribumi dengan penggunaan akses informasi yang cepat.


Jalan raya sebagai ruang penaklukan memang ditandai dengan kekuasaan yang intim di dalamnya.

Sebagai ruang publik, kekuasaan atas jalan raya bisa muncul dengan beragam bentuk sesuai situasi yang menyertainya. Seperti yang ditunjukkan sebelumnya, sejarah jalan raya adalah medan penaklukan yang merupakan bagian dari modernisasi. 

Melalui jalan raya, modernisasi bekerja dengan cepat untuk mengakses tempattempat terpencil agar mudah ditaklukkan. Urbanisasi sebagai bagian dari modernisasi dalam hal, ini adalah nama lain yang kerap kali menjadi dalil untuk menundukkan suatu kawasan.


Sebab itulah jalan raya senantiasa diperebutkan. Seperti yang dimadahkan filsuf kiri Prancis, Henri Lefevbre, bahwa ruang selalu diperebutkan untuk memungkinkan suatu relasi sosial dapat diberlangsungkan. Dari analisisnya tentang ruang, jalan raya dapat kita pahami sebagai medan yang senantiasa direbut dan didominasi. Dengan dasar itu, di era yang didominasi kapital, jalan raya menjadi bagian integral untuk memberlangsungkan praktikpraktik pertukaran ekonomi.

Itulah mengapa, hampir disepanjang jalan raya, dengan urbanisasi selalu berdiri pusatpusat keramaian, perbelanjaan, hiburan, kebugaran dan diskotik sebagai arena transaksional.


Setua manusia, jalan raya juga adalah cermin sebuah kebudayaan. Hampir setiap waktu kita tak pernah lepas dari jalan raya. Sebab itulah banyak waktu kita habiskan di jalan raya. Di jalan raya hasrat kekuasaan tidak saja ditunjukkan dari sejarah yang berlangsung, melainkan juga adalah kita yang terlibat langsung di sana.

Di jalan raya, hasrat kekuasaan misalnya, ditampilkan dari betapa seringnya melanggar lampu merah. Para mahasiswa yang mentransformasikan kekuasaannya melalui aksi demonstrasi. Atau politisi yang tak tahu malu memasang baliho besarbesar di tengahtengah jalan. Dan yang paling memuakkan adalah betapa sesak dan semrawutnya jalan raya ketika macet; betulbetul cermin dari budaya kita.


Akhirnya di jalan raya, orangorang dari beragam kepentingan tumpah ruah. Dan memang barangkali di jalan raya hanya ada dua hal: perebutan dan kekuasaan.


07 Juni 2015

perempuanperempuan bergincu merah

Apa yang paling mencolok dari cara berpenampilan perempuanperempuan generasi dulu dengan perempuan masa sekarang? Tentu banyak hal, tapi yang paling mencolok adalah bibir dengan gincu merah.

Itu adalah mode, tapi barangkali mode juga bisa berarti suatu yang politis.

Seperti yang dibilangkan teoriteori kebudayaan, tubuh selalu menjadi arena kekuasaan. Tubuh yang semula bagian pribadi yang intim, akhirnya harus direnggut dari kekuasaan sang aku. Tubuh menjadi iconik, tubuh menjadi pasar, di mana di situ yang ideologis bekerja untuk mengontrol dan mendominasi. Di saat itulah sesuatu yang politis bekerja.

Foucault misalnya, mengurai selaput tipis yang implisit antara dominasi pengetahuan dan kekuasaan, bahwa di mana setiap wacana yang menjadi diskursus selalu terselubung kekuasaan di dalamnya. Maksudnya, tubuh yang didominasi tak dapat bermula dari pewacanaan tentang tubuh. Artinya, tubuh yang menjadi dominasi kekuasaan selalu sebelumnya ditopang perangkat pengetahuan yang menjadi acuan bagi suatu kepentingan. Di sini, mengapa tubuh menjadi ihwal yang penting, sebab hampir di sepanjang waktu, tubuh senantiasa dinarasikan dalam konteksnya yang ideal.

Dan, tubuh ideal juga menjadi iconik adalah tubuhtubuh yang diperagakan dalam media massa. Di media massa, kita bisa takjub bagaimana tubuh dibentuk untuk mencapai bentuk yang ideal, namun sudah merupakan hal yang patut dicurigai bahwa yang ideal di masa sekarang sesungguhnya adalah sesuatu yang sarat kepentingan.

Mary Douglas adalah orang yang membagi tubuh menjadi dua anasir. Pertama tubuh sebagai individual body, dan yang kedua adalah the body politic. Dari pendakuannya, tubuh adalah lantai kaca yang mendasari sebuah kebudayaan tampak di atasnya, yakni pada anasir yang ke dua, tubuh sebagai the body politic adalah tubuh yang dibentuk oleh kebudayaannya. Artinya, tubuh dalam konstelasi media massa, adalah tubuh yang disesuaikan dengan kategorikategori kebudayaan massa itu sendiri.

Tubuh sebagai The body politic itulah yang mengandung visualisasi tentang tubuh yang ideal. Dan tubuh dalam konteks ini adalah tubuh yang harus mengcover tigal kategori sosial; kemudaan, kecantikan, dan kebugaran.

Itulah mengapa tubuh  mesti dirawat, dijaga dan dipercantik. Perempuanperempuan muda punya semacam keharusan moral untuk bisa memperagakan ketiga kategori itu, di mana tubuh harus dikemas dalam citra visual yang menarik. Di mana salah satunya adalah bibir dengan gincu merah itu, yang menjadi penanda kemudaan dan kecantikan yang sebenarnya bisa jadi adalah sesuatu yang politis.

Warna merah secara simbolik memang bisa menandai suatu perlawanan terhadap kekuasaan tertentu, namun bibir dengan gincu merah justru adalah tanda yang lain.

Dewasa sekarang, bibir dengan gincu merah adalah social code untuk mendefenisikan ideal type tentang kecantikan. Perempuanperempuan muda, selain dengan tatanan pikirannya yang telah terlucuti oleh media massa, juga mengalami “pendisiplinan” tanpa sadar melalui wacana kecantikan yang dipolitisir. Di sini kecantikan adalah sesuatu yang bermakna konvensi, sehingga karena itulah ia politis, sesuatu yang diimajinasikan menurut kepentingan tertentu.

Lewat imajinasi kecantikan itulah, perempuanperempuan muda mengambil bentuk tubuh sosialnya, yakni tubuh yang dipresentasikan secara simbolik untuk tampil ideal. Di mana, dari itu kita barangkali menyadari bahwa gincu tebal yang berwarna merah adalah salah satu syarat dari ideal type itu sendiri. Jadi bila di dalam dunia politik merah secara sinonim ditandai dengan perlawanan dan keberanian, maka bibir dengan gincu merah adalah bentuk perempuanperempuan yang memiliki kesan modis dan sensual.

Imajinasi yang modis dan sensual, seperti yang dibilangkan Yasraf sebenarnya adalah bagian dari pop culture yang dipraktikkan di dalam budaya konsumen. Melalui imajinasi yang telah dilokalisir menjadi populer, akan disusul dengan sendirinya kepada aktivitas konsumsi. Itulah mengapa perlu iklan, karena di sanalah dibangun imajinasi untuk mendorong tindak konsumtif.

06 Juni 2015

Orangorang Dengan Dosa Kecil

Hikayat menceritakan, manusia terlahir dari dosa. Tanpa dosa manusia hanyalah keberadaan tanpa bentuk. Akibat dosa, bumi terisi. Sebab dari dosa, manusia beranak pinak.

Dari perspektif demikian, dosa bisa menjadi awal mula. Bila tuhan memulai dirinya dengan sabda, maka manusia memulai dirinya dari dosa.

Dalam sejarah Ibrahimik misalnya, dosa adalah suatu permulaan untuk membangun kehidupan yang baru. Yesus dengan keutamaan pribadinya adalah sejarah di mana dirinya menjadi nampan seluruh dosa bagi umat manusia. Melalui penebusannya, tragedi yang menghentak kesadaran itu membuat manusia harus membangun kehidupannya lewat narasi yang telah di mulai Yesus.

Tapi jauh di masa itu, ketika sejarah belum bermula, justru penciptaan di mulai dari dialog tentang dosa.

Di islam, peristiwa itu direkam dalam teks suci. Bahkan salah satu malaikat memulainya dengan kesangsian terhadap perbuatan tuhan tentang Adam. Keraguan yang ditunjukan oleh malaikat di dalam peristiwa itu  seharusnya adalah ungkapan yang tak layak di ajukan, sebab itu penanda awal mula penolakan. Dari dialog malaikat dengan tuhan dalam peristiwa itu, apa yang di alami malaikat adalah dosa yang terselubung, sebab keraguan adalah asal muasal penolakan. Di peristiwa itu malaikat bisa saja meragukan, tapi ia tak mengambil suatu sikap untuk mengingkari.

Namun, dosa paling purba dan dikenal dari sejarah penciptaan adalah seperti yang diperankan sang Iblis. Kesangsian yang diperlihatkannya tidak sama seperti yang ditunjukkan malaikat. Kesangsian sang iblis adalah kesangsian pasca penciptaan. Dari peristiwa itu, seperti yang ditulis teks, sang Iblis menyangsikan dua hal; penciptaan manusia dan keunggulan Adam. Pertama sang iblis mengingkari peristiwa penciptaan yang telah terjadi, dan kedua adalah prosesi penghormatan kepada mahluk yang bernama Adam.

Ditingkatan pertama, yang menyebabkan dosa Iblis menjadi berbeda dari malaikat, adalah kesangsian dari peristiwa yang telah terjadi. Dosa Iblis berarti dosa terhadap kemampuan tuhan yang telah fixed. Suatu dosa dari apa yang telah betulbetul tampak. Barangkali karena inilah mengapa kesombongan adalah dosa yang paling besar, sebab kesombongan kerap dialami tepat ketika penolakan terhadap suatu ihwal benarbenar tampak benderang dihadapan kesadaran manusia.

Yang ke dua adalah penghormatan kepada keunggulan Adam. Di peristiwa ini sang Iblis punya kesan yang dilematis. Dilema yang pertama dari ukuran waktu, Iblis sebelumnya adalah mahluk yang beriburibu tahun menyembah tuhan tanpa pernah sekalipun mangkir. Dilema yang kedua yakni, perintah tuhan untuk tunduk kepada Adam adalah suatu tindakan yang merendahkan, atas dasar Adam adalah mahluk yang tidak ada apaapanya dari ukuran penyembahan Iblis terhadap tuhan selama beriburibu tahun. Atas dilema ini, sang Iblis memilih menolak perintah tunduk kepada Adam. Baginya hanya satu yang layak mendapat penghormatan, yakni tuhan itu sendiri.

Akhirnya dari  dilema itulah lahir dosa pertama pasca penciptaan. Dan bermula dari dialog Iblis dan tuhan yang di rekam dalam teks, manusia diciptakan.

Selain sejarah manusia yang memulai dari dosa, barangkali dosa selalu bermula dari dilema. Melalui dilema, manusia memasuki ruang kesadaran yang samarsamar terhadap suatu keputusan. Tanpa dilema suatu keputusan kehilangan suatu  bobot. Artinya pasca dilema, suatu keputusan adalah suatu tindakan yang telah jernih ditimbang. Suatu pilihan yang telah melewati berbagai macam perhitungan. Tapi suatu timbangan yang tak matanglah asal mula dari suatu dosa.

Tapi memang manusia adalah mahluk dengan dilema. Atau berarti manusia adalah mahluk yang dekat dari dosa. Sebagaimana betapa dekatnya narasi tentang dosa di awal penciptaan manusia. Itu berarti betapa akrabnya manusia dengan dosa, sampai akhirnya dosa merupakan takdir yang sedari awal dipunyai manusia.

Dan keakraban dosa dengan manusia biasa ditunjukkan salah satunya, di tempattempat dilema besar berada. Misalnya, di kantor tuantuan pejabat mengambil keputusan; di sana banyak dilema dan keputusan menyangkut orang banyak diputuskan, dan seringkali berubah jadi dosa atau seringkali aib. Dan dosa yang lahir dari dilema yang tak matang seringkali adalah korupsi; mencuri, mengkhianati dan melencengi amanah. Sebab itulah barangkali korupsi adalah dosa yang besar, sebab pertama menyangkut pencurian hak orang banyak dan kedua adalah dampaknya yang sistemik.

Namun di luar dari tempattempat semacam itu, dilema tak saja berpusat di tempat kekuasaan berada. Dilema juga banyak bersarang  pada orangorang dengan dosa kecil, yakni orangorang di luar kekuasaan itu sendiri; mereka yang tak pernah mengambil keputusan tentang banyak orang, tapi kebanyakan dari orangorang semacam ini adalah mereka yang sombong membiarkan suatu keputusan berlangsung tanpa diintrupsi. Barangkali!


20 Mei 2015

Membaca Eka Kurniawan



Perempuan Patah Hati yang Kembali
Menemukan Cinta Melalui Mimp
i


NAMA Eka Kurniawan kali pertama saya temukan melalui salah satu blog di dunia maya. Bisa dibilang, dari blog itu pertama kali saya mengenal sastrawan yang berkacamata ini. Dari blog itu juga saya bisa tahu ternyata Eka Kurniawan seorang satrawan yang sedang naik daun.  

Saya melihat dari blog yang sama, salah satu bukunya; Perempuan Patah Hati Yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi. Saat itu, disertai tulisan yang mengulas karyanya ini, blog itu berhasil membuat saya penasaran untuk membaca karya-karyanya.

Sebenarnya, nama Eka Kurniawan tak begitu saya ketahui. Selain saya bukan pembaca karangan sastra yang baik, saya juga tidak banyak bersentuhan dengan perkembangan diskursus sastra. Tapi melalui blog yang saya baca, akhirnya saya bisa mengetahui bahwa Eka ternyata punya situs pribadi. Dari website itulah saya berusaha berkenalan dengan Eka melalui tulisan-tulisannya.

Perkenalan saya yang berkesan terhadap Eka sejatinya melalui buku kumcernya. Tentu buku yang diposting di dalam blog yang saya katakan tadi; Perempuan Patah Hati Yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi. Melalui buku itulah saya bersentuhan langsung dengan kepengarangan Eka. Dan dari kumpulan ceritanya di buku itu, saya merasa harus memiliki buku-bukunya yang lain.

Maka mulailah saya mencari tahu buku-buku karangan Eka. Ternyata sebelum Perempuan Patah Hati Yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi, sudah ada beberapa buku diterbitkan Eka. Dari situ mulailah saya mengoleksi karangan-karangannya, dimulai dari Cantik Itu Luka hingga novel terakhirnya; Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, dengan juga buku kumcernya yang lain; Corat-Coret di Toilet

Akhirnya mulai saat itu, ada dua sumber saya untuk membaca tulisan-tulisan Eka; Journalnya dan karangan-karangan kumcer dan novelnya.

Bisa dibilang saya terlambat mengetahui sastrawan ini, tapi dengan membaca hampir semua terbitannya; dimulai dari Perempuan Patah Hati Yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi dst., saya seperti kecanduan terhadap tulisan-tulisannya, terutama cerpen dan novelnya, sebab cerita-cerita yang disuguhkannya adalah suatu teks yang menolak sempurna, dalam arti suatu cerita yang dibangunnya tak selamanya ingin mengafirmasi suatu dunia yang bersih dari cacat. Melalui kesan inilah saya selalu senang membaca karangan sastranya.

Kesan semacam itu saya rasakan di saat pertama kali membaca novel pertamanya; Cantik Itu Luka. Novel yang hampir 500 halaman itu tak sekalipun menampilkan suatu figur yang sempurna. Begitu juga dari penceritaan latar belakang tokoh-tokoh utamanya, dari orang semisal Ayu Dewi, Sudancho maupun lainnya, merupakan simbol bagaimana suatu nasib manusia begitu jauh dari kesan lengkap dan ideal. Nampaknya penggambaran figur-figur dalam Cantik Itu Luka memang dikesankan Eka bermain antara dua ekstrim baik dan buruk, di mana suatu saat ada tokoh yang begitu dipuja tetapi di lain waktu dengan masa yang berganti, suatu tokoh bisa menjadi figur yang berkarakter cacat.

Dan novel terakhir Eka yang saya baca adalah Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Di novel itu ada Ajo Kawir, yang bisa dibilang tokoh utama yang melaluinya Eka berbicara bagaimana suatu  tatanan moral (perhatikan dua polisi dalam cerita itu) didekati melalui penyakit impoten. Dari penyakit impoten, Eka ingin membuka selubung kesadaran kita bahwa suatu penyakit tak selamanya “penyakit.” Dengan cara lain, melalui penyakit yang di derita Ajo Kawir, manusia dengan segala persoalannya dan kekurangannya merupakan mahluk yang punya dua bibir; bibir yang selalu berbicara kebaikan dan bibir yang mengambil kebaikan melalui cacat yang dialami. Dengan ungkapan lain, Eka ingin berbicara dengan tanpa menghimbau dan berkhotbah, melainkan dari aspek yang paling manusiawi, ia ingin berangkat dari cacat untuk memahami apa yang bisa diambil dari peristiwa itu.

Kesan yang sama adalah juga unsur yang tak hilang dari dua novelnya yang lain; Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau. Di sana selalu ada penggambaran watak dan sifat manusia yang tak utuh. Bahkan manusia adalah mahluk yang  selalu berada pada dua peririsan baik dan buruk. Yakni mahluk yang mengalami beragam peristiwa yang ideal dan sial. Dengan gagasan semacam itulah, saya melihat karakter tokoh-tokohnya selalu digambarkan sebagai manusia yang tak utuh, yang tak ideal. 

Dengan cara inilah saya kira, Eka ingin merepresentasikan dunia manusia yang sebenar-benarnya. Dan itu sangat terasa dalam Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, seperti misalnya Eka berbicara tentang seks sekaligus laku sufi dari Ajo Kawir. Dua kontras yang diramunya dalam ironi dan parodi.

Di luar dari itu, Eka adalah penulis yang taat. Persentuhan saya dengan Journalnya, ketaatan itu dipertahankannya dengan menulis peristiwa-peristiwa yang dialaminya setiap hari. Dari perspektif ini saya bisa mengatakan bahwa Eka punya dua medan menulis; Journal yang berisikan refleksi dan pandangan-pandangannya seputar sastra serta karya ceritannya, baik kumcer maupun novelnya.

Untuk hal ini, bisa saya katakan, ada dua Eka sebenarnya; Eka sebagai penulis Journal di websitenya dan Eka sebagai sastrawan yang melahirkan karya-karyanya yang monumental.  Dan dikatakan di Journalnya, Eka akan berpuasa untuk melakukan aktivitas yang kedua. Dari Journalnya ia juga berkata akan menjadi pembaca yang baik, dibandingkan penulis, seperti yang ia kutip dari Borges; membaca lebih intelek dari menulis.

Dari Journalnya, saya terkesan dengan daya jelajah Eka terhadap sastra. Eka seperti sudah berkeliling dunia dengan berkunjung pada  sudut-sudut terpencil, bisa dibilang melalui Journalnya, peta sastra dunia dibentangkan seluas-luasnya. Banyak sastrawan yang ia sebut di sana adalah bukti bagaimana dunia sastra begitu digelutinya. Dan ini yang membuat ia bisa dibilang sebagai tempat referensi dunia sastra.  

Melalui Journalnya, saya bisa banyak menimba wawasan seputar sastra di sana. Maka, seperti yang diharapkann Seno Gumira, perkembangan sastra Tanah Air salah satunya sangat bergantung dari pria ini. Maka saya kira Eka Kurniawan punya kutukan; membangun takdir sastra Tanah Air.

09 Mei 2015

Mengapa Sastra

Akhirakhir ini saya senang membaca karangankarangan sastra, terutama ceritacerita pendek. Membaca cerpen merupakan kesenangan baru saya untuk memahami sastra. Sebab itulah akhirnya saya mencari bukubuku cerita pendek karangan sastrawan yang saya ketahui. Tujuan saya membaca ceritacerita pendek sebenarnya didasari oleh pertimbangan untuk mengelak dari bukubuku yang mengandung unsur ilmiah. Bukubuku semacam itu, belakangan ini memang saya hindari, selain karena secara konseptual bukubuku semacam itu membuat saya jenuh, tetapi juga bukubuku yang mengandung konstruksi teoritis seringkali tak banyak menggamit unsurunsur yang lebih humanis; ironi.

Ironi, suatu keadaan yang kerap muncul dalam karya sastra, misalnya ceritacerita pendek, adalah suatu anasir yang membuat saya bisa mengerti bahwa di dalam suatu bulatan nasib umat manusia, hidup tak selalu bisa dimengerti. Melalui ironi, ada halhal yang tak bisa serta merta bersih dan jernih tanpa cacat, sehingga ada suatu yang mesti kita maklumi dan terima. Dengan ironi, manusia bisa tahu bahwa di dalam dirinya selalu ada sisi yang tak penuh lengkap.

Sebab itulah saya senang membaca karangan sastra, sebab di dalamnya  suatu pengertian bukanlah berbicara untuk dapat dominan agar bisa mengampu suatu totalitas dunia, melainkan mengajarkan saya untuk dapat menerima berbagai macam sisi kehidupan yang justru memiliki banyak cacat.  Barangkali karena itulah dunia yang penuh bopeng, kerap di jadikan core dalam sastra sebagai semacam penyambung untuk mengingatkan manusia yang terkadang lupa bahwa suatu titik pusat yang selalu jadi puncak adalah jalan terjal yang sungguh landai. Berbeda dari agamaagama maupun filsafat, suatu titik pusat yang jadi arah dalam sastra dapat didekati dengan berbagai arah. Di dalam sastra seluruh kemungkinan dapat dimungkinkan. Dunia, di dalam sastra memang suatu kemungkinan yang tak mungkin dapat diramalkan.

Dengan itu saya akhinya bisa tahu, dari bacaan saya, bahwa sastra bisa bicara banyak hal. Bisa membuka beragam pintu untuk memasuki dunia. Dengan sastra terutama ceritacerita pendek, saya dipertemukan beragam narasi bahwa suatu perjalanan hidup manusia bisa saja dapat berubah sepersekian detiknya. Dengan itulah melalui ceritacerita pendek yang saya baca, memberikan saya suatu ruang untuk berjarak terhadap sesuatu agar semuanya tak harus begitu saja diterima. Setidaknya, melalui ceritacerita dan ironi yang saya baca, dapat berbagi pengalaman dengan saya.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...