11 Juni 2013

A Description

Ada buku yang akhirakhir ini saya baca. Yang saya maksudkan di sini dengan “membaca”  bukan sebagai tindak baca yang kritis. Sebab tindak baca yang kritis harus mengambil jarak terhadap teks yang dihadapi. Dengan begitu si pembaca bisa melepaskan ruang pahamannya dengan jalinan struktur teks yang ada di hadapannya. Sehingga dari sana ia bisa menarik pemahaman yang tidak terkooptasi dengan jaringan makna yang dibentuk oleh teks. Sebagai tindak baca yang kritis harus juga memberikan pemaknaan baru terhadap bacaan yang di ejanya. Dan saya masih jauh dari itu. Makanya saya hanya bisa “menyimak”, bukan dalam arti “memahami”.

Buku yang saya maksud itu adalah buku dengan genre filsafat yang ditulis oleh F. B. Hardiman, seorang yang dikenal sebagai dosen filsafat. Judul buku karangannya itu adalah “Filsafat Fragmentaris”. Buku yang saya simak itu adalah –dalam ukuran saya-  buku yang berat. Oleh sebab banyak ulasan yang butuh pengandaianpengandaian yang lebih memadai. Sebuah sikap baca yang kritis menuntut kita untuk terbuka. Di mana kita direkomendasikan  untuk mencerna tanpa harus kehilangan sikap yang terbuka dan mendaku.

Malangnya buku yang saya simak itu belum sampai habis terbaca. Sehingga saya bukanlah pembaca yang baik dalam hal ini. Namun buku itu punya pesan sederhana yang bisa saya miliki. Dari judul “Filsafat Fragmentaris” , Hardiman mendaku bahwa upaya filsafat yang selama ini berposisi sebagai ilmu yang mampu menerangkan segalanya punya satu residu. Sebuah titik problematis dalam tubuh filsafat yang tak disadarinya, yakni, saya mengistilahkannya dengan istilah selfcontrari. Di mana filsafat yang datang untuk menjelaskan segalanya harus menemukan batas dirinya sendiri, bahwa dirinya juga adalah ilmu yang terbatas. 

Di mana keterbatasannya? Yakni filsafat menjadi ilmu yang terintrepertasi berdasarkan pengandaianpengandaian di kepala para filsuf. Di mana kita tahu, intrepertasi hanya bentuk gambaran yang tak mampu menangkap keseluruhan hakikat kenyataan. Sejauh upaya filsafat ingin menggambarkan realitas dengan benderang, maka dia tak mampu keluar dari kegelapan yang menyelubunginya, yakni gambaran yang ditangkap oleh filsafat itu sendiri adalah batasannya. Dalam arti ini filsafat hanya “menerawang” bukan “menyaksikan” kenyataan.

Artinya filsafat hanya membangun fragmenfragmen tentang kenyataan, bukan sebagai kenyataan itu sendiri. Namun daripada itu, filsafat yang sudah setua manusia tetap memiliki pengandaian yang positif, yakni sifatnya yang “tak berhenti”. Yakni filsafat kita tahu, tak pernah berhenti untuk mengungkap realitas dalam pencahariannya walaupun di dalamnya ada penyakit yang merusupinya.

Dalam buku yang saya baca itu, dimana belum sampai habis, ada tindak pikir yang dituliskan dalam buku yang lumayan berat itu. Cara berpikir secara metodis dalam rangka menggugat keabsolutan pemahaman maupun kebenaran. Dimana kita bisa menyimak, dalam dunia yang sesak dan jejal ini, dunia yang mengalami dystopia ini, dimanamana hadir kelompokkelompok dengan bentuk keyakinan yang dimutlakkan. Dimana kelompokkelompok itu selalu menolak bentuk pemikiran baru dan menganggapnya sebuah kesalahan yang akut untuk diimani.

Politik, agama, hukum, budaya, moral, pengetahuan, ilmu, ideology adalah lingkungan yang saya maksudkan itu.   Dimana pada lapangan yang dibangunnya terdapat pilarpilar yang didirikan untuk membatasi.
  1. Maka dalam buku yang berat itu ada tiga hal yang mesti kita perhatikan. Tiga cara berpikir yang bagi saya bisa dijadikan logika metodis untuk menghindari pemutlakan pemikiran yang berbahaya bagi keberlangsungan keterbukaan pemikiran.Model berpikir Phenomenology. Kita tahu aliran filsafat ini lahir sebagai tertib pikiran yang menolak selubung interpretasi yang kepalang tanggung. Dimana dalam kebanyakan pengalaman manusia, kita selalu menerima kenyataan dengan terlebih dahulu memberikan penilaian yang mendistorsi pengalaman kita. Atau dengan kata lain, pengalaman manusia pertama kali dibentuk oleh interpretasi yang tanpa melihat kenyataan itu sendiri.  Dalam tertib pemikiran ini, kita harus terlebih dahulu menyingkirkan anggapananggapan awal kita terlebih dahulu. Kata aliran pemikiran ini, biarkanlah kenyataan itu sendiri yang datang berbicara melalui dirinya sendiri.
  2. Dalam yang kedua ini, kita dianjurkan untuk menerima kenyataan dengan laku pikiran yang kritis. Dimana pengalaman kita seharihari haruslah bertolak dari metode yang sanksi. Barangkali dalam penjelasan ini, kita bisa meminjam cara berpikir Cartesian yang menyangsikan sesuatu. Namun dalam system berpikir ini, dari yang kita ketahui berasal dari mazhab pemikiran Frankfurt, membawanya pada aspek yang lebih luas yakni ideology. Mazhab Kritis menekankan ‘kecurigaan’ terhadap segala bentuk yang mengedepankan kemajuan sebagai dalihnya. Dalam mazhab Kritis, modernism, kapitalisme, urbanisasi, rasionalisme, positivism dan barangkali segalanya adalah bentuk mitos yang mengalienasi manusia. Seluruh janjijanji yang lahir dari system besar abad modern perlu diberikan peluang untuk dipertanyakan. Dimana cara berpikir ini senantiasa menghendaki bahwa kenyataan hidup kita selama ini janganjangan dibentuk oleh kepentingan dibelakangnya.
  3. Tak ada sesuatu di luar teks. Adagium ini adalah keyakinan yang di anut oleh pemikir strukturalisme. Derrida sebagai salah satu tokohnya, memiliki cara yang populis untuk membongkar pemikiran yang sudah terlanjur dimapankan. Ia menyebutnya dekonstuksi. Dalam mode pemikiran strukturalisme, kenyataan adalah hasil olahan teks, sehingga kenyataan diterima tak lebih dari apa yang keluar dari teks. Dari kenyataan kemudian teks, maka disanalah pengetahuan terbentuk. Maka subjek tak lain adalah hasil jejaring struktur teks. Kembali pada metode dekontruksi, cara ini mempunyai jalan yang unik dalam menarik pemahaman. Dalam keyakinan yang mapan, dekontruksi hadir sebagai godam yang menghancurkan dan memberikan kemungkinan berdirinya pemaknaan yang baru. Dimana dekontruksi, menghancurkan sampai tingkat yang paling dasar struktur pemaknaan yang dimiliki manusia, dengan cara membenturkan jalinan makna dalam jejaring teks itu sendiri. Dengan demikian dekontruksi adalah salah satu cara untuk keluar dari dogmatisasi yang terkadang secara politis mengontrol pengetahuan manusia.
Kirakira seperti itulah penggalan bacaan dari apa yang saya ketahui. Buku yang oleh Hardiman dikelolah sedemikian rupa dari tulisantulisannya yang terpisahpisah, yang mana tulisantulisannya masih menyimpan sejumlah isuisu yang belum habis terjawabkan. Namun buku ini disatu sisi menarik untuk kita baca terutama bagi pegiat pemikiran filsafat.

10 Juni 2013

Kant



"AUFKLÄRUNG ist der Ausgang des Menschen aus seiner selbstverschuldeten Unmündigkeit. Unmündigkeit ist das Unvermögen, sich seines Verstandes ohne Leitung eines anderen zu bedienen. Selbstverschuldet ist diese Unmündigkeit, wenn die Ursache derselben nicht am Mangel des Verstandes, sondern der Entschließung und des Mutes liegt, sich seiner ohne Leitung eines andern zu bedienen. Sapere aude! Habe Mut, dich deines eigenen Verstandes zu bedienen! ist also der Wahlspruch der Aufklärung."
(Immanuel Kant)

Pencerahan adalah keluarnya manusia dari ketidakdewasaan yang dibuatnya sendiri. Ketidakdewasaan adalah ketidakmampuan untuk menggunakan pemahaman sendiri, tanpa bantuan dari orang lain. Ketidakdewasaan yang dibuat sendiri ini tidak terjadi karena kurangnya pemahaman, melainkan karena tidak adanya keberanian, yakni ketidakberanian untuk menggunakan pemahaman tanpa arahan dari orang lain. Sapere Aude! Beranilah untuk menggunakan pemahamanmu sendiri! Itulah semboyan Pencerahan.
(Immanuel Kant)


09 Juni 2013

hujan

I
Sudahkah engkau mengerti, tentang hujan, tentang rinai yang bisa tampil dengan mukanya yang paling merusak. Deras berjatuhan dan tak kenal berhenti. Di mana kejatuhannya pada kotakota besar adalah perkara yang berat. Banjir dan air bah. Pada kota yang tak tentu, baik cara hidup ataukah model tata ornamennya, hujan adalah bukan berkah. Oleh sebab, tanah telah terlanjur dibanguni megah gedunggedung. Rapat mapat dengan seluruh ornamennya. Tanah lapang pada kota seperti itu adalah emas yang dicaricari.

II
Barangkali engkau tahu, perihal kiblat dunia, mengenai dunia yang dikejarkejar. Pusat perhatian yang menghendaki kemajuan. Yang mana kita tahu, kemajuan pada waktu sekarang identik dengan kota dunia; sebuah tempat yang menghabisi pinggiran dan menyulapnya menjadi episentrum aktivitas. Bahwa kota harus menampil purna dengan konstruksi yang maha dahsyat. Sehingga jika kita di sana, yang kita lihat adalah gemerlap yang tak pernah padam.

III
Kota barangkali adalah rupa yang kompleks. Di sana kemajuan dengan kemunduran berjalan dengan selaras. Di sana bisa saja kita temukan progresivitas sekaligus dehumanisasi dalam waktu yang bersamaan. Tahukah engkau pada yang pertama, di situ kita temukan tentang cara hidup yang menghentak dan spontan. Sehingga masa lalu adalah lampu teplok yang sudah ketinggalan jaman. Di sana bisa kita saksikan keramaian yang seporadis dan cair, di mana resiko kesepian begitu menganga dihadapan kita. Di sana pula percepatan tak tanggungtanggung bisa kita hentikan, oleh karena berhenti pada tempat seperti itu adalah kekonyolan.


Pada yang kedua, cara kita hidup dengan rasionalitas yang begitu tajam membuat kita menjadi manusia yang tak kepalang. Membuat kita menjadi manusia yang mengungguli batasanbatasan yang dihadapi. Tetapi di sana ada masalah yang begitu besar; manusia dalam mode ini adalah mahluk yang tak mampu menangkap kenyataan yang sebenarnya. Dan juga di kota seperti ini rasio kita harus mengalah pada kepentingan. Kita terkadang takluk pada kepentingan pribadi dibanding dengan kepentingan kekitaan. Kita juga terkadang tak hirau dengan alam. Di mana waktu sekarang alam kita mengecil pada batas temboktembok rumah kita.

IV
Bisakah engkau dengarkan bunyi air di atas atap. Rinai hujan sekali lagi harus menguji tempat kita. Sampai sejauh mana tempat yang kita tinggali adalah tempat yang paling tahan. Terhadap air, terhadap banjir, terhadap sampah, terhadap penyakit dan terhadap kesabaran kita. Hujan barangkali di waktu sekarang bukanlah proses langit yang kita tunggu, melainkan air yang sering kita hindari. Di mana hujan terkadang membuat kita lupa diri. Bahwa kota barangkali perlu untuk kita pelihara.

V
Pernahkah saya menceritakan padamu, bahwa diwaktu kecil hujan seperti di luar sana adalah berkah langit yang selalu dinantinanti. Karena hujan dahulu pada mata kecil saya adalah alat untuk meragakan kebebasan. Oleh sebab di tengah hujan, kita bisa berlari dan riang bermain bersama temanteman kita. Namun kita sekarang tengah menjauhi masa kecil kita, dan sekarang hujan bukan lagi sebagai undangan alam untuk kita permainkan. Oleh sebab, jusrtu sekarang hujan adalah amuk alam yang kita ciptakan, oleh tangantangan kita, oleh tempat yang kita tinggali. Oleh rapatmapatnya gedung yang menghabisi tanahtanah yang dahulu begitu lapang. 

08 Juni 2013

dari narasi cinta dan kemanusiaan menuju jejak dunia yang retak


Baru-baru ini, tepatnya di pekan pertama bulan juli 2012 ini, saya terlanda kebahagiaan yang amat mendalam. Setidaknya, ada dua momentum strategis dari gerakan literasi sementara mengedar. Pertama, terbitnya buku Narasi Cinta dan Kemanusiaan, yang ditulis oleh Dion Anak Zaman dan diterbitkan oleh Boetta Ilmoe. Lounchingnya telah dilaksanakan tanggal 7 juli 2012, bertempat di gedung Pertiwi, pukul 20.00-23.00 waktu setempat, Butta Toa-Bantaeng.

Terus terang, saya sendiri tidak menyangka akan begitu banyaknya apresiasi dari kehadiran buku itu. Mulai dari begitu banyaknya komentar yang ditujukan kepada buku tersebut, dukungan spiritual dan material saat dilounching yang begitu dahsyat dan banyak, jumlah undangan yang hadir memenuhi gedung, hingga kehadiran Nurdin Abdullah, Bupati Bantaeng, yang juga kami tidak duga sebelumnya.

Banyaknya apresiasi dan tingginya rasa antusias, serta sambutan yang meriah atas buku itu, saya menduga karena, pertama, temanya buku itu yang bertutur tentang cinta dan kemanusiaan, sebuah tema yang abadi dalam dimensi kemanusiaan kita. Kedua, karena faktor penulisnya, yang memang selama ini telah mengedar, malang melintang dalam aktivitas berkesenian dan pemberdayaan masyarakat. Ketiga, sebab digarap tidak dengan motif-motif dan kerja-kerja material, tetapi dengan semangat yang amat spiritual. Keempat, jalur penerbitan yang dipilih secara indie, yang menyebabkan semua yang terlibat dalam proses penerbitannya dapat memaksimalkan kemerdekaannya dalam berkontribusi. Kelima, situasi kelompok-kelompok sosial dan komunitas-komunitas sosial di Butta Toa-Bantaeng, sudah mulai merasakan getaran-getaran dari gerakan literasi.

Kedua, terbitnya buku Jejak Dunia Yang Retak, yang baru-baru ini, dihadiahkan kepada saya oleh para penulisnya. Buku ini adalah kumpulan tulisan dari lima orang anak muda, yang selama ini cukup intens beredar dipusaran komunitas literasi: Paradigma Insitut, Papirus Community, dan Boetta Ilmoe. Kelima penulis itu adalah: Muchniar Az (Niart), Syamsu Alam (Alamyin), Takim Mustakim, Bahrul Amsal dan Asran Lallang Salam. Tiga orang dari penulis tersebut, Muchniar, Alam dan Asran , malah terlibat langsung dalam penggarapan buku Narasi Cinta Dan Kemanusiaan. Muchniar selaku pemberi prolog, Alam selaku desainer sampul dan layout, sedangkan Asran salah seorang editornya.

Penulis-penulis muda tersebut, kalau boleh saya katakan mereka adalah kaum muda potensial dalam kepenulisan, yang selama ini bahu membahu untuk mendorong gerakan literasi di tiga komunitas tersebut. Jujur saya katakan, ada kebahagiaan yang tak terkira dengan kehadiran buku Jejak Dunia Yang Retak ini. Apalagi mereka menyebut saya sebagai salah seorang mentornya, di pengantar buku itu.

Meski buku itu tidak diterbitkan oleh Paradigma, Papirus atau Boetta Ilmoe – karena memang ketiga komunitas ini telah beberapa kali menerbitkan buku secara indie – tetapi spirit dari ketiga komunitas ini cukup memengaruhi. Sehingga, bolehlah saya katakan spiritnya adalah spirit indie, tetapi diterbitkan secara non-indie, digarap secara profesional oleh penerbit Carabaca Yogyakarta.

Saya sendiri termasuk yang mendorong agar diterbitkan mengikuti mainstrem dunia penerbitan, karena memang targetnya dari penerbitan buku itu, sebagai pembuktian bahwa menerbitkan buku banyak jalan yang bisa digunakan. Sehingga, bagi kami yang bergerak dalam dunia gerakan literasi makin kaya akan perspektif dalam mendorong gerakan ini.

Buku Jejak Dunia Yang Retak ini, diberi prolog oleh Eko Prasetyo, seorang penulis buku produktif dari Resist-Yogyakarta, dan dieditori oleh Sabbara, seorang penulis dan peneliti di Litbang Kementrian Agama, yang juga banyak menghiasi pergulatan pemikiran baik di Paradigma, Papirus maupun Boetta Ilmoe. Dan ini yang agak khas, karena diberi epilog oleh Dul Abdul Rahman, seorang penulis, novelis, cerpenis, yang juga memberikan epilog pada buku Narasi Cinta Dan Kemanusiaan.

Bolehlah saya nyatakan bahwa, hadirnya kedua buku tersebut, dalam rentang waktu yang nyaris bersamaan, semakin meyakinkan saya akan getaran literasi yang akan membuahkan gempa literasi. Perspektif kami makin luas, akan strategi gerakan literasi, karena sudah ada bentuk-bentuknya yang terakumulasi dalam model-model gerakan. Yang diperlukan adalah tetap menjaga api literasi tetap membara dan menyala pada setiap pegiat literasi, khususnya yang telah mengedar di tiga komunitas tersebut: Paradigma, Papirus dan Boetta Ilmoe.

Rasanya ingin segera memberi ucapan selamat kepada diri sendiri, atas kebahagiaan yang begitu melimpah ini, karena memang telah terasa getarannya. Tetapi sebelumnya, terlebih dahulu kuucapkan selamat kepada kalian berlima, para penulis muda, buah cerahan pikiranmu dan benih keruhanian hatimu, senantiasa kami tunggu pada barisan para pegiat literasi, di bawah naungan spirit alturuisme, seperti yang telah didedahkan oleh para altruist sebelum kita. Wallahu ‘alam bissawab.

Oleh Sulhan Yusuf
(Pegiat Komunitas dan Gerakan Literasi Makassar)

bahrulamsal punya blog: Anakanak dan Masa yang hilang

bahrulamsal punya blog: Anakanak dan Masa yang hilang: Dunia anakanak adalah dunia yang penuh dengan keriangan. Di masa anakanak dunia selalu ditafsirkan sebagai kenyataan yang dinamis. Sebuah ...

05 Juni 2013

mengapa menulis

Pada awalnya adalah sabda. Tertulis demikian dalam salah satu ayat kitab kristiani. Mulanya adalah sabda tuhan, kemudian tercipta segalanya.

Dalam perdebatan ilmu kalam islam; apakah sabda (wahyu) adalah awal mulanya sesuatu ataukah tuhan dengan dirinya sendiri yang menjadi permulaan? Sebab ada titik yang kronik, dimana sabda tuhan adalah  bagian diri dari tuhan ataukah dia ciptaan yang keluar dari keberadaannya?

Namun, satu hal yang pasti. Yang namanya sabda, ‘ucapan’ tuhan, dalam agamaagama manusia adalah pendulum dari iman atas keberadaan.

Pada titik ini, ‘ucapan’ tuhan yang telah menjadi teks suci adalah turbelensi yang mengendap dan tumbuh pada hidupmati manusia. Ketika dimana wahyu yang terendap dalam teks merupakan salah satu cara tuhan membangun komunikasi dengan mahluknya.

Pada situasi demikian, wahyu yang menyejarah dalam naik turun hidup manusia, menjadi teks yang hendak meluruskan kondisi umat manusia. Sebab, disuatu waktu, pada kitabnya, dimana para malaikat sempat sanksi; apakah tuhan akan mencipta satu jenis mahluk yang saling menumpahkan darah, maka tuhan menjawab; sesungguhnya aku lebih tahu dari apa yang kalian tak ketahui.

Maka, dari untuk menjaga sejarah manusia tidak saling menumpah darah, tuhan pencipta berbahasa. Wahyu adalah caranya.

***

Disuatu waktu saya sempat diberikan pertanyaan. Mengapa harus menulis? Kirakira seperti itu ilustrasi yang terjadi. Pada saat ketika berbincang, saya menjawab; menulis itu cara kita berada. Kita berada lewat dua hal, kata dan tulisan. Lewat kata dan tulisan kita sebenaranya sedang membangun dunia. Yang mana, pada dunia yang hendak kita dirikan adalah tempat yang memberikan kita suasana yang merdeka untuk berkreasi. Seperti tuhan, menulis adalah mencipta dunia. Dengan kuasa, dengan tangan sendiri.

Dan sepertinya, dunia hari ini, hidup yang kita jalani adalah hasil tangantangan kecil tuhan. Sejarah maupun peradaban adalah ilustrasi agung yang bisa kita cerap bahwa dunia sebenarnya dibangun dari kekuatan kata dan tulisan. Dimana dari sana, pemikiran bisa disemai, dibentuk, dirubuhkan, ditata kembali dan begitu seterusnya dalam seluruh sikap hidup kita.

Sehingga konon katanya, sejarah manusia dibentuk dari tulisan yang menyejarah.  Dan tak bisa kita tolak, kemajuan peradaban manusia adalah kemajuan budaya tulisannya. Dari tahun gua sampai tahun bawah tanah; tradisi tulisan adalah unsur dasar dari kemajuan sejarah manusia. Sehingga sejarah sebenarnya adalah sejarah teks.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...