19 Oktober 2017

5 Lagu Mahasiswa-Perjuangan yang Tidak Lagi Akrab di Telinga Generasi Mahasiswa Zaman Now

Tidak bisa dimungkiri, karakter, kecenderungan, dan cara pandang mahasiswa era kiwari jauh berbeda dari dua generasi sebelumnya. Perbedaan ini sangat terasa dari perubahan kehidupan kultural yang mereka lakonkan.

Terutama generasi Z, cara mereka menjalani hidup jauh lebih variatif dan unik. Seperti hasil riset dari Tirto.id, jika ditilik, dari segi fesyen, mahasiswa-generasi Z lebih menyukai membeli produk di mal-mal atau pusat-pusat perbelanjaan yang dirasa lebih mewakili selera berbusana mereka. Sehari generasi ini bisa menghabiskan tiga sampai lima jam mengakses internet melalui gawai canggih mereka. Jika hendak memenuhi hajat perut, generasi Z gampag ditemui di tempat makan siap saji semisal KFC, Pizza Hut, atau pun McD.

Pilihan liburan dan hiburan generasi Z juga mengalami perubahan. Generasi Z banyak menghabiskan uangnya di tempat-tempat wisata alam semisal gunung atau pun pantai. Mengenai hiburan di bidang musik, generasi Z senang mendengarkan musik-musik pop dari mancanegara atau dari tanah air sendiri. Bahkan, untuk urusan film, streaming adalah salah satu cara mereka menikmati film-film yang sedang naik daun. Dan yang paling mencolok, generasi Z senang menghabiskan waktu mereka dengan game  online atau berbasis aplikasi melalui gawai kece mereka.

Eike punya pengalaman subjektif berkaitan dengan tradisi intelektualisme yang generasi Z perankan di dalam kampus. Terkhusus pengalaman atas lagu-lagu mahasiswa-perjuangan yang di zaman eike masih saban hari terdengar di sekretariat-sekretariat kemahasiswaan, kini sudah sangat jarang eike temu-dengarkan.

Memang jika diperhatikan, 5 lima daftar lagu mahasiswa perjuangan di bawah ini sudah tidak lagi menjadi bagian dari idealisme, pengalaman, dan kebudayaan intelektualisme mahasiswa zaman now.

1. Apa Guna- Wiji Thukul/Sanggar Satu Bumi/Jaker

Lagu ini diambil dari puisi Wiji Thukul yang berjudul Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu. Di masa-masa eike menjadi mahasiswa, lagu ini kerap dipakai untuk menyindir-nyindir golongan mahasiswa yang masuk kategori “pembelajar tanpa aksi”. Yang menarik dan sekaligus asyik dari lagu ini ketika dinyanyikan adalah pesannya yang lugas tanpa bersembunyi dibalik kata-kata yang bersayap. Kemungkinan ini karena sifat puisi Wiji Thukul yang memang lugas membahasakan pesan puisinya itu sendiri.

Belakangan lagu ini diaransemen ulang oleh anak Wiji Thukul yang tergabung dalam band indi Merah Bercerita.

2. Darah Juang- Aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD)

Saat Pramoedya Ananta Toer dikebumikan, sejumlah mahasiswa mengiringi jazad sastrawan yang dimusuhi Orba dengan lagu ini. Ada juga versi yang mengatakan di saat dikebumikan malah lagu Internasionale-lah yang mengiringinya.

Di tahun 1991, John Tobing, Dadang Juliantara, dan Boediman Sudjatmiko adalah nama-nama yang melahirkan lagu ini yang saat itu adalah anggota dari Partai Rakyat Demokratik, organisasi mahasiswa kiri yang bercita-cita melawan rezim represif Orde Baru.

Berdasarkan pengalaman eike, Darah Juang adalah lagu yang paling sering menjadi pilihan utama ketika musim ospek dilakukan. Lagu ini juga kerap dikumandangkan jika mahasiswa “turun aksi” di jalanan. Bagi sebagaian mahasiswa lagu ini bahkan punya arti tersendiri, tapi bukan untuk dipakai memikat mahasiswi baru yang “unyu-unyu” itu, loh…

3. Kesaksian- Kantata Takwa

Lagu  yang liriknya ditulis oleh W.S Rendra ini menurut eike adalah lagu perjuangan yang besar pengaruhnya terhadap emosi pendengarnya. Walaupun bukan sepenuhnya bercerita tetang kematian, jika lagu ini dinyanyikan dalam momen-momen mengenang mahasiswa, aktivis, maupun orang-orang semisal pejuang kemanusiaan yang mati secara tidak adil di bawah kekuasaan yang tiranik,  mampu membuat pendengarnya berlinang air mata. Melalui suara Iwan Fals, walaupun bukan diciptakan oleh kelompok mahasiswa tertentu, lagu ini kudu wajib dihapal bagi Je yang mendaku sebagai agen perubahan.

4. Pembebasan a.k.a “Buruh Tani” – Syafi’I Kemamang aktivis PRD

Inilah salah satu lagu mahasiswa-perjuangan yang lahir dan ikut dinyanyikan sebelum dan sesudah reformasi. Lagu ini diciptakan Safi’i Kemamang, seorang aktivis dari Partai Rakyat Demokratik (PRD) Jawa Timur.

Seperti dinyatakan penulisnya, lagu ini memiliki semangat untuk menyatukan elemen pergerakan dari pihak mahasiswa, buruh, kaum tani, dan golongan miskin kota, yang menjadi pihak paling tertindas dari kebijakan rezim Orba saat itu.

Seperti halnya lagu Darah Juang, lagu ini diciptakan dalam rangka untuk menyemangati perjuangan rakyat dan mahasiswa.

5. Internasionale- Eugene Pottier

Jika ada lagu yang mewakili kelas tertindas nan papa, Internasionale-lah lagunya. Bagi kawan-kawan berhaluan pemikiran kiri, lagu ini bukan sekadar lagu, melainkan suatu paradigma kelas yang dinotasikan melalui musik. Lagu ini diciptakan Eugene Pottier, seorang penyair proletariat, tukang kayu dan sekaligus anggota Komune Perancis di tahun 1871. Eugene menciptakan sajaknya  untuk menyemangati perjuangan kelas pekerja di masa-masa Eropa, terkhusus Perancis mengalami pergolakan sosial. Uni Soviet pernah menjadikan lagu ini sebagai lagu kebangsaannya dari tahun 1922-1940.

Yang menarik dari lagu ini adalah beragamnya versi setelah diterjemahkan melalui bermacam-macam bahasa. Di Indonesia lagu ini diterjemahkan Ki Hajar Dewantara melalui bahasa Belanda. Walaupun demikian, terjemahan Ki Hajar Dewantara banyak menuai kritik dari kaum komunis internasional lantaran menghilangkan semangat proletariat yang sangat kental dari bahasa aslinya.

Itulah lima lagu mahasiswa-perjuangan yang secara organik menjadi penyemangat dan ikut mewarnai perjuangan mahasiswa dan golongan masyarakat yang selama ini terpinggirkan. Sekarang apa boleh buat, PDI perjuangan memang sudah berubah!

18 Oktober 2017

Sosiologi Marx
Sampai sekarang, setidak-tidaknya masih ada empat alasan yang menyebabkan pemikiran Marx masih sering dibenci oleh penganut teori sosiologi konservatif. Empat alasan ini pula yang secara teoritik akademik membuat pokok-pokok sosiologi Marx sulit berkembang sebagai teori dominan selain dari teori-teori lainnya. Pertama karena pemikiran Marx masih dikait-kaitkan dengan komunisme sebagai ideologi. Bahkan bagi penganut teori sosiologi konservatif, pemikiran Marx adalah ideologi komunisme itu sendiri. Akibat dinilai sebagai ideologi, pemikiran Marx tidak jauh berbeda dilihat sebagaimana agama yang secara karaktarestik tidak mampu dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Sebagaimana agama, pemikiran Marx yang dinyatakan sebagai ideologi bukanlah proposisi-proposisi ilmu pengetahuan yang dititikberatkan kepada penelitian empirik masyarakat. Walaupun demikian yang ditolak oleh sosiolog konservatif bukanlah eksistensi ideologi dari pemikiran Marx itu sendiri, tapi ciri-ciri ideologis yang ada dalam cara radikal Marx melihat kenyataan masyarakat. Dimensi inilah yang disinyalir menjadi penolakan dari pemikiran sosiologi Marx, karena secara kritis implikasi dari radikalisasi Marx ketika merumuskan teorinya tiada lain memiliki dampak epistemik yang mampu membuka kedok kepentingan yang bersembunyi di balik mantel teori-teori sosiologi konservatif. Kedua, secara biografis Marx tidak seperti dua pendahulunya, yakni Auguste Comte dan Emile Durkheim yang dilihat sebagai ekonom tinimbang sosiolog. Meski sosiolog awal mengakui nilai penting dimensi ekonomi dari sisi kehidupan manusia, namun mereka melihat ekonomi hanya merupakan satu bagian dari keseluruhan kehidupan sosial masyarakat. Perhatian yang berbeda dari Marx nampak mencolok dari perhatian para sosiolog awal yang menekankan aspek-aspek harmonisasi dari kekacauan dua gejolak revolusi Perancis dan Inggris. Sementara Marx justru tidak terlalu mementingkan kekacauan masyarakat pasca dua revolusi yang dimaksud, melainkan jauh lebih kritis dengan mempertanyakan nilai keadilan yang terselenggara secara timpang akibat sistem kapitalisme pasca revolusi industri di Inggris. Dengan kata lain, Marx ingin mengembangkan suatu dalil penjelas yang menerangkan suatu fenomena khas kemunculan masyarakat pasca industri berupa ekses buruk dari sistem kapitalisme dan bagaimana cara mengubahnya secara radikal. Ketiga, ini salah satu yang paling mencolok karena para sosiolog awal melandasi dasar-dasar teori sosiologinya melalui filsafat Kantian. Sementara Marx membangun sistem pemikirannya melalui cara berpikir yang dikenal dengan nama dialektika. Berbeda dari cara berpikir filsafat Kant yang digerakkan dengan pola linear matematis, hukum sebab-akibat dalam dialektika Hegel, filsuf di mana Marx mengambil dialektika-nya, dipikirkan secara timbal balik dan atau bahkan saling memengaruhi. Artinya secara sederhana, melalui konsep dialektika, hukum sebab-akibat tidak dipahami secara hipotetik, melainkan melingkar dan saling berperan antara sebab bisa menjadi akibat, dan sebaliknya akibat bisa berubah posisi menjadi sebab. Keempat, akibat pemikiran Marx disebut-sebut sebagai biang keladi dari pelbagai kekacauan sosial di belahan dunia ketiga. Di hadapan teori sosiologi konservatif, terutama yang berpandangan struktural fungsional, pokok-pokok sosiologi Marx memiliki dampak yang melebihi kapasitasnya sebagai suatu teori yang secara akademik-etis hanya bertugas memberi pendasaran deskripsional bagi fenomena yang menjadi objek pengamatannya. Sementara teori-teori Marx tidak sebatas akademik-etis menggambarkan dan merumuskan pelbagai gejala sosial yang dinyatakannya melalui kerja ilmiahnya, melainkan secara politik-moral-etik mendorong hadirnya sikap terlibat bagi dan di dalam untuk mengubah fenomena sosial yang dihadapinya. Tepat dititik inilah makna radikal dari ucapan Marx ketika menyindir bentuk idealistik dari pemahaman sosiologi Hegel, filsuf (sosiolog) memiliki tugas bukan sekadar mengintrepetasi kehidupan sosial, melainkan mengubahnya.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...