21 Februari 2017

Makassar Kota Dunia, Kota Literasi?

Mengimajinasikan Makassar sebagai kota dunia tidak akan cukup jika tanpa melibatkan warisan sejarah yang dimilikinya: literasi.

Kota Dunia harus juga diekspresikan sebagai kota yang ramah literasi. Dengan cara membudayakan baca tulis sebagai etika kewargaan, pembangunan perpustakaan di pusat keramaian, atau kalau perlu ada juga pete-pete smart literasi, merupakah sedikit langkah untuk merealisasikan peristiwa itu.

Tapi, semua itu hanya menjadi pepesan kosong jikalau pemerintah kota bukan menjadi agen terdepan dalam mewujudkan targetan semacam itu.

Artinya, jika mengacu kepada geliat literasi yang mengemuka dan kian masif di kalangan anak muda di lima tahun belakangan ini, dan juga semakin banyaknya komunitas kreatif-literasi di kalangan pemuda, menjadi tanda bagi pemerintah bahwa di tengah masyarakat kota sedang terjadi transformasi sunyi menuju masyarakat yang bercorak literatif.

Kepekaan terhadap masyarakat yang bercorak literatif, harus ditunjukkan pemerintah kota dengan menyandingkan literasi sebagai bagian dari slogan yang selama ini menjadi kampanye Makassar Kota Dunia. Sehingga selain soal “lihat sampah ambil (LISA)”, “smart people, smart city”, dan industri lorong, wacana Kota Dunia Kota Literasi juga menjadi satu wacana yang menggenapi kekosongan variabel sebagai impian kota yang maju.

Akan jauh lebih dahsyat, jika selain menjadi wacana, Makassar kota dunia kota literasi menjadi program kongkrit di dalam kebijakan kota pemerintah Kota Makassar. Semisal, jika ada program penghijauan lorong-lorong, maka akan ada juga program lorong smart berupa didirikannya perpustakaan mini. Jika ada smart pete-pete, maka akan ada juga pete-pete smart literasi. Atau program-program strategis semacamnnya yang mengintegrasikan literasi sebagai bagian dari programnya.

Kembali ke soal I Lagaligo sebagai warisan literasi, bukan saja teks sejarah yang berbicara atas makna di dalam teksnya itu sendiri, melainkan suatu teks terbuka agar masyarakat Kota Makassar dapat menyerap semangat literasi yang dikandungnya bagi kehidupan ini.

I lagaligo juga bukan sekadar epos sejarah yang berbicara masa lalu, tapi –mengacu kepada pernyataan sebelumnya, merupakan teks yang mengacu pula kepada kehidupan saat ini. Dengan cara begitu, makna yang dikandungnya dapat berlaku universal dan mampu menjangkau lapisan generasi dari waktu ke waktu.

Itu sebabnya, I lagaligo sekaligus juga teks sejarah yang menjangkau masa depan dengan kekuatan simboliknya. Karena itu I lagaligo berisikan ajaran dan cerita rakyat yang dapat menjadi modal kuat bagi generasi sekarang untuk memahami makna kehidupannya saat ini.

Era kiwari, tanpa literasi, makna hidup bagi generasi sekarang hanya akan menjadi generasi pemamah informasi tanpa bisa mereproduksi kembali segala informasi yang ditemukannya.

Tanpa literasi yang baik, generasi sekarang akan lebih banyak mengecap informasi tanpa sedikit pun mampu menemukan makna. Artinya, dari massifnya informasi, di era kiwari, generasi muda tidak mampu membangun hubungan kebermaknaan dengan seluruh informasi yang ditemuinya.

Meminjam analisis Jean Baudrillard, hilangnya hubungan kebermaknaan antara informasi dengan kesadaran manusia, hanya menciptakan kebimbangan realitas akibat tidak kompatibelnya informasi yang dikelola berdasarkan kebutuhan manusia itu sendiri. Lebih jauh, hilangnya hubungan kebermaknaan akan berdampak jauh terhadap krisis eksistensi manusia.

Generasi tanpa literasi akan hilang dalam sejarah dunia. Apalagi kota tanpa topangan literasi tidak akan dikenal dunia sebagai pusat kemajuan yang memang menempatkan literasi sebagai salah satu faktor utama kesejahteraan kota. Dalam hal ini, kesejahteraan bukan saja sekadar variabel dalam konteks ekonomi dan sosial belaka, tapi juga bagian inheren di dalam “pencerahan” masyarakat kota.


Sejarah sudah menjadi bukti, kebudayaan tanpa topangan literasi yang kuat akan gampang diombang-ambing situasi zaman. Apalagi Kota Makassar, akan sangat teledor jika mengabaikan warisan literasi sejarahnya yang membuatnya menjadi raja di masa lalu ketika ingin memproyeksikan diri sebagai Kota Dunia.

Seperti dikatakan sebelumnya, sosok-sosok anak muda yang belakangan bermunculan dengan kiprahnya di dalam dunia literasi menjadi modal berharga bagi perealisasian Kota Makassar sebagai kota literasi. Sebagai bagian dari warga kota, sosok dengan kiprah di dunia literasi, menjadi variabel yang juga sangat menentukan dalam membuka peluang literasi sebagai wacana perkotaan selain dari pemerintah itu sendiri.

Seperti dikatakan sejarawan Hilmar Farid, keberadaan sosok yang bergelut di dunia literasi akan sangat berpengaruh di dalam membangun suatu kebudayaan.

Di masa lalu, salah satu topangan literasi digalakkan orang semacam Karaeng Pattingaloang yang melakukan kontak kebudayaan dengan media tulis menulis.

Karaeng Pattingaloang dalam melakukan kerja literasinya,  memiliki kamar khusus sebagaimana intelektual Eropa yang dilengkapi perpustakaan buku, atlas, dan peta dunia. Melalui tiga “benda” yang masih langka digunakan di zamannya ini, Karaeng Pattingaloang membangun hubungan diplomasi serta surat menyurat dengan perwakilan raja-raja semisal raja Spanyol di Manila, Raja Portugis di Goa, dan Raja Inggris serta penguasa-penguasa di Mekkah.

Tidak sekadar membangun interaksi dengan negeri-negeri luar, Karaeng Pattingaloang juga membangun hubungan diplomatik untuk bekerja sama dalam bidang-bidang strategis tertentu. Sebagai kota dunia saat itu, Makassar sudah menjadi kota dagang dengan memiliki kantor perwakilan Portugis, Belanda, Inggris, Spanyol, Denmark dan Tiongkok.

Komunikasi antara beragam negeri ini juga berarti terjadi relasi kultural dengan model kebudayaan lain.  Hal ini terbukti dengan sosok Karaeng Pattingaloang yang seorang polyglot dengan menguasai bahasa Latin, Spanyol, Portugis, Belanda, Inggris, Perancis, Arab, Melayu, dan juga bahasa lokal Makassar yang dijadikan bahasa komunikasi saat itu.

Dengan kemampuan bahasa demikian, Karaeng Pattingaloang menjadi sosok yang memiliki keanekaraman dan kekayaan pengetahuan yang tersebar berdasarkan purna bahasa yang menjadi modal utamanya dalam mengafirmasi ilmu pengetahuan.

Sampai di sini Karaeng Pattingaloang merupakan prototype bagaimana literasi dan kerja-kerja intelektualnya adalah faktor fundamental yang mengkofigurasikan kebudayaan jadi lebih maju. Tanpa literasi, kebudayaan hanyalah paras manusia yang akan banyak mengalami krisis kemanusiaan.

Melalui ketokohan Karaeng Pattingaloang, setidaknya ada tiga hal yang menjadi indikator penting untuk memproyeksikan sosok yang berkiprah dalam dunia literasi. Pertama, adalah kemampuan dan kesadarannya terhadap bahasa. Selain digunakan dalam tulis menulis, beragam bahasa yang dikuasai Karaeng Pattingaloang merupakan pintu pertukaran menuju beragam kebudayaan selain dari kebudayaannya sendiri.

Kedua, perpustakaan. Telah disebutkan sebelumnya, Karaeng Pattingaloang memiliki kamar kerja yang dilengkapi buku-buku serta atlas dan peta dunia. Tiga benda ini menandai aspek kemodernan yang sudah dikenal Karaeng Pattingaloang. Bahkan, menurut catatan sejarah, ketika pertama kali pasca teleskop ditemukan Galieo Galilei, Karaeng Pattingaloang juga memesan dan memiliki benda yang menginspirasi perubahan di Eropa ini langsung dari asalnya.

Ketiga adalah etos kerja selayaknya seorang intelektual modern saat ini. Akibat pandangan dunianya yang kosmopolit, etos keilmuan yang dimilikinya menjadi sikap paling mendasar yang mempelopori seluruh kegiatan intelektualnya. Tanpa sikap ini Karaeng Pattingaloang tidak akan mampu menyandingkan dirinya sebagai orang yang berhadapan dengan raja-raja dunia saat itu.

Sekarang,  Makassar adalah kota yang berada di antara tegangan sejarah tradisi literasinya dengan kemodernan sebagai alam kemajuan dunia saat ini. Yang paling memungkinkan saat ini, Makassar harus mendamaikan dua tegangan yang dimilikinya sebagai modal kebudayaan agar mampu diidentifikasi sebagai kota dunia. Tentu dengan mengambil tradisi literasi sebagai modal sejarah yang menjadi warisan tradisinya.

Namun akan sangat miris jika slogan Makassar Kota Dunia tidak melihat literasi sebagai wacana strategis dalam meningkatkan kapasitas pengetahuan warganya. Sebagai misal, belum berkembangnya pusat-pusat informasi dan pengetahuan berupa jaringan kuat komunitas literasi, jaringan informasi berbasis website dan jaringan perpustakaan dengan perpustakaan komunitas, jaringan toko buku, dan kampung-kampung buku yang sedikit banyak akan membangun atmosfer Makassar sebagai kota ramah literasi.

Hatta, Makassar kota dunia kota literasi, berarti ikut mewarisi sejarah panjang peradaban literasi Bugis-Makassar yang menjadi modal utama menuju Makassar sebagai kota dunia.

---

Telah terbit di kalaliterasi.com

17 Februari 2017

Histrionic Personality Disorder dan Cuitan Sang Mantan dan Demokrasi

Sebenarnya banyak hal bisa dituliskan. Bisa saja salah satunya soal pilkada di beberapa daerah di Tanah Air. Termasuk pilkada Jakarta yang banyak menyedot perhatian. Yang menarik dari pilkada Jakarta, selain karena Jakarta adalah ibu kota Indonesia sehingga apa pun yang terjadi di Jakarta bisa menjadi “meriam” atas peristiwa yang bakal terjadi di Indonesia, juga karena Jakarta menyuguhkan calon kontroversial yang sudah membuat gempar hampir semua umat muslim di Tanah Air. 

Selain itu, dua kandidat lainnya juga tidak kalah penting mengapa pilkada Jakarta selalu mengisi ruang wacana masyarakat Indonesia. Keduanya adalah tokoh nasional dan atau bakal menjadi tokoh nasional. Perlu dicatat, kata tokoh di sini mengandung arti yang relatif. Tergantung dari sudut pandang apa orang melihatnya.

Pasca hari pencoblosan semua tegang. Jakarta menunggu hasil siapa yang bakal terpilih. Bahkan hampir semua orang tidak berani mengambil kesimpulan siapa bakal peroleh suara terbanyak. Beberapa lama setelahnya hasil mulai terlihat. Lembaga-lembaga survei merilis hasil quick count. Ahok-Djarot memimpin, dan Anis-Sandi menyusul setelahnya. Sementara Agus-Sylvi, siapa yang menduga, perolehan suaranya paling buncit. Bahkan perolehan suaranya tidak sampai 20 persen.

Tidak lama setelah hari belum berganti, sudah dapat dipastikan. Ahok-Djarot dan Anis-Sandi bakal melanjutkan pertarungannya di putaran kedua. Sekarang, warga Jakarta betul-betul dibuat sabar menanti pemimpin baru mereka. Sampai April nanti.

Poin penting dari pilkada Jakarta memberikan dua hal. Pertama, semakin menjelang hari pencoblosan, mantan presiden ke-6 Indonesia semakin sering ngetwit lewat akun Twitternya. Dan yang lucu adalah motif mendasar dari cuitan mantan presiden bertubuh gempal itu: seakan-akan SBY menjadi korban pihak yang menghalang-halangi langkah anaknya menjadi Gubernur baru Jakarta!

Dalam psikologi, gejala yang ditampakkan SBY menjelang hari pencoblosan dikenal dengan istilah histrionic personality disorder. Ini  sejenis penyakit mental. Tentu saya tidak akan menyatakan SBY mengalami gangguan mental. Ini akan menjadi pernyataan kontraproduktif mengingat beliau sudah dua periode  memimpin pemerintahan Indonesia. Mustahil seorang pemimpin negara mengidap penyakit mental dan mampu memimpin selama lima tahun berturut-turut. Apa kata dunia!

Tapi, mungkin saja SBY mengidap penyakit mental yang akrab di kalangan psikolog dengan sebutan post power syndrom. Penyakit ini sering menghinggapi orang-orang yang pernah menjadi seorang pemimpin. Atau tepatnya orang-orang yang tidak lagi menjadi penguasa. “Kehilangan” kekuasaan menjadi variabel sindrom ini yang ditandai keponya seseorang terhadap hampir segala hal seakan-akan masih memiliki kekuasaan seperti masa sebelumnya.

Saya mempunyai teman yang bisa diindikasikan mengidap post power syndrom. Gejala teman saya itu ditunjukkan dengan semakin seringnya dia mengatur segala macam tetek bengek keorganisasian seperti kala dia masih menjadi ketua. Bahkan, dalam hal mengeluarkan pendapat di forum-forum resmi, seakan-akan dia menjadi wakil organisasi yang pernah dipimpinnya. Omong sana-omong sini.  

Selain teman saya itu, saya juga mantan ketua lembaga kemahasiswaan di kampus dulu. Tapi, waktu itu saya belum tahu ada yang disebut penyakit “pasca kekuasaan” ini. Entah saya mengidapnya saat selesai "melaporkan" LPJ atau tidak. What ever-lah.

Kembali ke SBY. Post power syndrom ditanggalkan dulu. Anda sendiri saja yang menilai apakah SBY mengidap penyakit ini. Yang ingin saya ulas di sini soal histrionic personality disorder. Gangguan mental berupa seringnya seseorang mencari-cari perhatian seakan-akan menjadi korban dari perilaku tertentu.

Histrionic personality disorder (HPD) dijelaskan America Psychiatric Association sebagai gangguan kepribadian yang ditandai oleh pola emosionalitas yang berlebihan dan suka mencari perhatian, termasuk keinginan yang berlebihan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. Selain itu juga disertai dengan kebiasaan menggoda, suka mendramatisir keadaan/masalah, antusias yang berlebihan dan kelihatan agak genit.

Sekarang Anda sudah mulai paham apa yang dimaksud HPD, kemudian mengorelasikannya dengan tindakan SBY yang keseringan ngetwit di media sosial. Saya sendiri menilai hampir semua gejala yang disebutkan America Psychiatric Associaton dialami mantan presiden kita itu. Termasuk pada bagian “keinginan yang berlebihan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain”, apalagi di kalimat “suka mendramatisir keadaan/masalah, antusias yang berlebihan dan kelihatan agak genit”. Baiklah, “kelihatan agak genit” kita hapus saja jika Anda kurang setuju. Saya juga sulit membayangkan jika SBY berperilaku genit.

Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, saya enggan menyebut SBY mengidap penyakit ini, terutama dalam konteks kepemimpinannya saat menjadi presiden. Tapi, siapa bisa menduga pasca menjadi presiden, SBY malah mengalami gangguan emosional. Atau dengan kata lain, siapa tahu memang semakin ke sini SBY mengidap HPD. Bisa saja kan!?

Di antara kesangsian itu, boleh saja disebutkan perilaku keseringan ngetwit SBY belakangan ini adalah tindakan curahan hati semata. Melalui konteks ini SBY tidak jauh berbeda dari seorang lelaki yang ditinggal nikah kekasihnya secara mendadak. Sehingga, tiada tempat senyaman media sosial untuk menyalurkan kesedihannya. Kalau yang ini lain persoalannya. Ini bisa saja sama halnya yang dibahas Hizkia Yosie Polimpung dan Priska Sabrina Luvita dalam salah satu rubrik di Indoprogress. Persoalan narsisme!

Jadi nampak akan jauh berbeda apa yang diandaikan sebagai tindakatan curhat dengan HPD itu sendiri. Perbedaan paling fundamental antara keduanya adalah melihar dari curahan hati pada situasi yang tepat dan keadaan yang tepat. Sementara HPD merupakan perilaku yang dibuat-buat dengan maksud memanipulasi lingkungan dan orang-orang di sekitarnya.


Agar semakin terang saya sematkan seasli-aslinya dari Psikologiabnormal.wikispaces.com : Perbedaan antara orang-orang dengan gangguan tersebut (HPD) dengan orang-orang yang menunjukkan perasaannya di saat yang tepat (tindakan curhat) adalah dari sifat keadaan emosional mereka yang sepintas lalu dan maksud mereka memperlihatkan emosi yang berlebihan adalah memanipulasi orang lain daripada mengungkapkan perasaan mereka yang sebenarnya...” Tanda kurung dari saya!

Diagnosa fenomena ini nampak terang jika perilaku SBY  ditelisik dalam konteks politik. Sebagai bapak AHY, tentu segala macam tindakannya akan dikaitkan dengan konteks pencalonan anaknya sebagai calon gubernur Jakarta. Apalagi sebagai ketua umum partai pendukung AHY, perilaku SBY, apap pun itu akan dibaca sebagai tindakan yang memiliki hubungan dengan anaknya yang sedang nyalon.

Konteks politik yang semakin memanas pasca hari pemilihan juga bisa mendasari perilaku SBY dianggap sebagai tindakan yang mengidap HPD. Selain itu, politik pencitraan yang sering kali menjadi jurus pamungkas SBY, menjadi postulat utama mengapa kesimpulan itu dapat diambil.

Sekarang yang geli jika perilaku SBY itu dikaitkan dengan kutipan terakhir yang saya potong di atas: “…Gangguan tersebut biasanya lebih banyak ditemukan pada wanita meskipun begitu tidak jelas apakah karena gangguan ini lebih biasa terjadi pada wanita atau karena orang-orang yang menyandang label perilaku histrionic diberi stereotip wanita”. Sudah tentu SBY bukan wanita. Namun mengkategorikan perilakunya sebagai wanita, itu yang geli-geli sedap.

Jika membandingkan mantan presiden Amerika Serikat –negara yang sering kali dirujuk “sang mantan”, Barack Obama, pasca menjadi warga biasa yang memilih bermain air berselancar di Kepulauan Necker di British Virgin Island, sementara SBY yang ingin banyak mendulang “air mata” melalui aktivitas politik ngetwitnya, maka ini menjadi suatu perbandingan yang dramatik. Mengapa demikian?

Perlu dipahami, Istilah histrionic berasal dari bahasa Latin yang berarti “aktor”. Di mana pun itu, siapa pun itu, ketika menjadi aktor dia sedang memainkan peran tertentu. Sedang bermain drama. Artinya, apa pun yang diperankan merupakan wajah palsu yang berbeda dari yang sebenarnya. Aktor sebaik apa pun perannya, di mana pun itu, hanya bersikap “seolah-olah”.

Itulah sebabnya, dalam kenyataannya HPD dianggap berbahaya. Penyakit ini sadar atau tidak memiliki kemampuan memanipulasi perasaan dan perannya demi mendulang perhatian. Yang berbahaya jika itu sudah melibatkan diri seolah-olah korban dari niat jahat tertentu.

Poin penting kedua, kemenangan Ahok merupakan cermin pencapaian demokrasi warga Jakarta. Banyak di antaranya memilih semata-samata bukan karena dorongan primordialisme. Mengingat figurnya yang paling banyak mendapat sorotan, dan aksi bela agama yang beberapa kali ramai dilakukan di Jakarta, sosok Ahok masih menjadi pilihan mayoritas warga Jakarta dalam menentukan figur politiknya.

Anis Baswedan yang juga merupakan keturunan Arab, sebagaimana Ahok, yang diikat takdir etnisitasnya, bisa melenggang ke putaran kedua, juga menjadi indikator demokrasi bahwa isu-isu “warga pribumi” yang dikaitkan dengan pilihan politik sudah tidak mempan untuk menentukan kesadaran politik warga Jakarta.

Demokrasi yang diandaikan negara-negara modern, selalu mengacu kepada keterlibatan pilihan bebas dan pilihan rasional. Tentu ini seiring dengan kedewasaan dan kematangan masyarakat dalam menjalani perannya sebagai warga negara. Irisan menjadi warga suatu provinsi dan atau menjadi warga negara di sisi lain, hanya bisa didamaikan dengan ikatan yang sama yang mendasari hubungan antar manusia. Rasionalitas yang menjadi “hukum universal” dan mengikat secara permanen dua peran sekaligus, sangat dibutuhkan dalam konteks perpolitikan saat ini.

Konteks politik yang mengikutkan variabel-variabel determinan semisal agama, ras, suku, dan jenis kelamin, boleh saja menjadi situasi yang tak terbantahkan sebagai konteks yang terberi. Takdir ini di situasi tertentu bisa saja mempengaruhi pilihan politik seseorang, atau bahkan menjadi situasi yang tak bisa ditolak, namun mengingat manusia sebagai homo politicon, tentu selalu ada situasi x yang menjadi faktor lain dalam menentukan pilihannya.

Artinya politik diandaikan sebagai medium bagi orang-orang rasional mengartikan dan mewakilkan kesadarannya ke dalam suatu tatanan. Dengan kata lain, pemerintahan sebagai suatu institusi merupakan lingkungan sosiologis bagi kerja sama antara warga demi menjalankan praktik politiknya. Tentu di dalamnya akan ditemukan hirarki kepemimpinan, dan pemimpin dari semua itu harus dinilai dari visi dan misinya dengan pertimbangan yang masuk akal.

Itulah mengapa,  figur rakyat dalam demokrasi begitu sentral. Selain rakyatlah yang menentukan siapa pemimpin yang bakal dipilih, rakyat pula yang sejatinya adalah pengontrol kekuasaan dalam sistem yang setara.

Namun, perlu diingat, di dalam pemerintahan yang demokratis, figur rakyat yang diadopsi ke dalam figur seorang pemimpin, seringkali mengalami tegangan dengan sosok-sosok dengan figur yang berbeda dari karakteristik rakyat itu sendiri. Semisal kualitas rasional yang menjadi karakter utama figur rakyat, pasti akan mendapat perlawanannya dari figur yang mencerminkan kekuatan berbeda berupa irasionalitas dlsb.

Maka akan terlihat jelas dalam kancah politik manapun, pertarungan yang sebenarnya hanya akan kembali kepada dua ekstrim: rasional vs anti rasional, tatanan vs chaos, rakyat vs gerombolan, birokratisme vs feodalisme, dlsb.

Syahdan, dilihat dari dua tegangan; rasional dan irasional, dalam berpolitik kadang membuat orang lelah dan membutuhkan kawan curhat. Bukan main variabel persoalan yang harus diperhitungkan. Bahkan, mungkin karena itu membuat orang akhirnya malah mengidap histrionic personality disorder. Apalagi dilakukan sambil curhat. Jangan sampai deh!


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...