11 Maret 2015

madah limapuluh


ADA kisah tentang Pak Hamid yang  risau. Atau sebenarnya ia takut. Sebelumnya datang kabar nun jauh dari Papua. Anak bungsunya bakal menikah. Dari tempatnya yang jauh dari anaknya tinggal, tidak terbersit bahagia di mukanya. Yang ada justru tanda suatu soal berat. Anaknya akan menikahi perempuan berbeda agama. Usut punya usut, dari pengalaman anaknya yang lain, setiap pasca menikah dengan pasangan beda iman, anaknya pindah keyakinan.

Sebab itulah air mukanya jadi murung. Kabar yang ia terima seperti air jebol merusak apa saja. Anaknya yang dibesarkannya bertahun-tahun kini jadi orang yang bikin hatinya gulana. Membikin hatinya runyam.

Bagi sebahagian orang agama adalah pilihan. Tapi bagi Pak Hamid, yang namanya agama tidak mesti diganggu gugat. Ia setua tradisi turun temurun. Itulah sebab, agama jadi soal penting. Bertahun-tahun anaknya dididik sesuai agama tradisi, walaupun memang istrinya seorang muallaf. Tapi malang, justru di saat akan membangun rumah tangga, anaknya bakal berpindah keyakinan.

Tapi apa yang sesungguhnya dikhawatirkan Pak Hamid, sebuah label agamakah? Atau suatu yang lain. Sesuatu semisal, kebenaran yang hakiki.

Di negeri ini, suatu label sering kali memakan korban. Apalagi label yang telah mapan dalam memori kolektif masyarakat. Dalam sejarah Indonesia, label abadi yang terus dipugar dan melekat kuat tak pernah keluar dari dua hal: agama dan komunisme.

Dengan dua label itulah, sejarah Indonesia dinarasikan sesuai tafsir kekuasaan. Hingga akhirnya, label itu menjadi artefak mengakar kuat dalam memori kolektif masyarakat Indonesia.

Label dianggap penting oleh sebab suatu pengertian dapat dirujuk. Kasus Indonesia, label dipakai untuk kepentingan identifikasi. Dengan begitu suatu golongan dapat dengan mudah dikelompokkan berdasarkan kesamaan dan cirinya. Jika sudah demikian, suatu rencana akan lebih mudah diatur dan dikerjakan.

Tapi suatu identifikasi juga terkadang jadi sumber pelecehan. Dan dari sanalah datang korban. Sebab pelabelan dengan maksud membangun batas seringkali mempertautkan hal ihwal subtil: hasrat untuk benar.

Nietzsche, filsuf akhir abad 19 menyebut perkara hasrat yang timbul semacam itu sebenarnya adalah soal moral. Yakni kebenaran yang selalu jadi tujuan moral orang-orang.

Artinya, jika ada yang selalu menggebu-gebu menunjuk kebenaran melalui telunjuknya, maka itu berarti bukan soal kebenaran, tetapi justru posisi moralnya, kedudukannya.

Dari sanalah Nietzsche menyebut itu sebagai hasrat berkuasa. Yakni keinginan untuk mengambil posisi yang layak dan tak tergugat. Dari Nietzsche, soal-soal kebenaran tak selamanya jadi perkara yang murni demi kebenaran. Tapi di baliknya motif, ada maksud inheren dari wacana kekuasaan.
Ini berarti kebenaran atau hal ihwal yang berputar di sekitarnya adalah sesuatu yang politis. Apalagi menyangkut pengakuan. Dalam politik pengakuan itu penting, sebab dari situlah sumber kekuasaan. Tanpa pengakuan kekuasaan tak dapat stabil berdiri.

Barangkali karena label itu penting. Barangkali memang label itu harus ada. Pak Hamid resah, karena soal label itu penting. Apalagi ini soal agama, soal iman.

Agama memang bisa mendatangkan kasak-kusuk. Di mana kita pernah kisruh hanya soal suatu identitas perlu atau tidak dicantumkan. Di negeri ini, di saat awal pemerintahan Jokowi memimpin, masalah tentang pencantuman label agama dalam kartu identitas jadi perbincangan nasional. Soalnya suatu label identitas selama ini jadi sumber diskriminasi. Dengan suatu label, suatu golongan dapat bersuara lantang dan suatu golongan harus tiarap bersembunyi.

Di negeri ini, memang soal label jadi perkara sensitif. Label seperti sebelumnya dinyatakan adalah soal pengakuan. Tapi terkadang pengakuan atas posisi, jabatan, kekuasaan secara bersamaan malah sering menundukkan yang lain. Mungkin, dengan itulah negara ingin menghapus label identitas. Biar bagaimana pun suatu label tak selamanya mampu mewakili keanekaragaman di baliknya.

Ini berarti secara tidak langsung negara ingin menghapus cara berpikir dominatif. Dengan kata lain, keyakinan mayoritas  tidak mesti menundukkan keyakinan minoritas.

Namun ini sebenarnya kisah Pak Hamid yang risau mempersoalkan keyakinan putranya. Sebab dia tahu, suatu label tidak dengan mudah dapat berganti begitu saja. Agama putranya berarti pula agaama dirinya yang sudah lama menjadi label turun temurun. Walaupun akhirnya, rasa gundahnya tak bisa serta merta menghindar dari suatu kenyataan. Dengan kata lain yang namanya agama, tidak selamanya berkedudukan sebagai agama pemberian generasi sebelumnya.

Apa boleh buat raut muka Pak Hamid adalah jawabannya. Putranya telah memilih.

madah empatpuluhsembilan

Ketika akal menemukan dirinya bangkit, dunia tampak terang. Yang semula samar dan terselubung dibalik tirai mitos, jadi transparan. Dunia akhirnya terkuak dengan pengetahuan yang menjadi jembatan. Kant, di era renaisans menyebutnya pencerahan.

Tapi dengan semangat pencerahan, Kant juga membangun kritik terhadap nalar pencerahan yang superior. Kritisismenya akhirnya menyingkap cacat inheren dalam akal. Ternyata akal, yang begitu superior membuka terang, tak selamanya jadi bohlam yang sempurna. Akal yang selalu ingin menjelaskan lengkap fenomena, ternyata juga retak. Yang ditangkap hanyalah lapisan fenomena yang tampak dengan cahayanya yang redup. Akal ternyata tak mampu menangkap noumenadas ding an sich, inti kenyataan yang sesungguhnya.

Sebab itulah Kant tak percaya suatu yang metafisis seperti subtansi bendabenda. Akal tak bisa menjangkau itu. Akal justru adalah jembatan atas keyakinan Kant yang agonistik itu. Tiada yang metafisis dibalik daya akal. Yang murni dalam metafisika ternyata adalah sesuatu yang sebenarnya tak bisa dibuktikan. Lewat etika transedental Kant, metafisika untuk kali kedua dibungkam.

Tapi itu Kant. Dengan agnotismenya. Dengan kecurigaan akal murninya.

Yang berbeda datang dari filsuf Iran kontemporer, Murthada Muthahhari. Dalam ceramahnya yang dibukukan dengan nama Mas'aleye Syenokh, Kant dikritik. Dan dalam  kritikannya itu, bukan saja Kant, seluruh pandangan yang skeptik terhadap kemungkinan epistemologi dikritiknya.

Muthahhari sebenarnya tidak tepat jika disebut filsuf per se. Sebab tidak seperti filsuf umumnya yang memang menyelisih dari otoritas teks agama. Itulah mengapa dalam ceramahnya itu ia memulai perbincangannya dengan soalsoal epistemologi dari al quran. Di sinilah beda itu tampak.

Dan beda itu sebenarnya memang adalah sesuatu yang disengaja Muthahhari. Soal epistemologinya adalah suatu rancang bangun yang ia susun untuk membuktikan rapuhnya pemikiran asing.

Dalam skema itu, "asing" adalah berarti produk pikiran yang mencerminkan semangat sekuler. Ini berarti maksud Muthahhari merupakan ungkapan yang merujuk pada tempat yang jauh di sana, yakni suatu masa di mana sekularisasi adalah semangat yang massal disambut suka cita. "Asing" adalah penanda suatu produk pikiran yang tumbuh saat yang sakral disingkirkan. Dengan kata lain, pemikiran yang tidak tumbuh dengan semangat yang mengafirmasi theos. Dengan Itulah, kritisisme Muthahhari berarti punya maksud tak ringan: membuktikan kokohnya pemikiran islam.

Dan dari cara pandang yang quranik, Muthahhari menyebut epistemologi yang dibincangkannya adalah epistemologi islam. Lalu dari ceramah mas'aleye syenokh, suatu pandangan khas islam dibentangkannya. Islam sebagai suatu cara pandang, akhirnya jadi suatu paradigma.

Sebenarnya, ceramah yang ia sampaikan di tahun 1970 itu adalah ceramah yang juga politis. Ceramah yang juga punya arti emansipasi. Sebab dalam ceramah tentang pengetahuan yang dibincang saat itu, punya maksud membangun kesadaran politis.

Karena itulah ceramahceramahnya dilarang. Rezim saat itu melihat Murthahhari sebagai ancaman politik, sebab di tahuntahun yang genting saat itu, suatu perkumpulan dianggap subversif. Saat itu, Iran memang mengalami gejolak politik, dan Murthada salah satu orang yang memicunya.

Di masamasa yang genting itu, sebenarnya Muthahhari tidak sendiri. Ceramahceramahnya adalah bagian dari skenario besar yang kala itu dirancang: revolusi. Dan dari sebagian yang lain, yang diisi oleh tokoh muda Iran, juga punya andil: Ali Syariati.

Lewat mereka berdualah di tahuntahun itu, di bawah suatu rejim yang menggeliat dengan kekuasaan yang tanpa batas, pembangunan paradigma revolusi disusun. Seluruhnya dibincang dengan tafsir politik agar punya makna yang kongkrit. Islam dengan lidah dua orang itu akhirnya jadi ajaran yang tidak sematamata metafisis, tetapi menjadi lebih runcing, menjadi lebih kritis.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...