15 Februari 2015

madah duapuluhenam


Jika ada yang berubah dari zaman ini, barangkali adalah bagaimana cara kita mengkonsumsi. Dahulu saat kita mengkonsumsi, barangbarang tak begitu massif beredar. Produk yang dipampang tak begitu menarik perhatian. Dahulu, barangbarang juga masih santun kita konsumsi. Namun sekarang konsumsi sudah menjadi mode. Sekarang disekitar kita, hampir semua adalah barangbarang yang identik dalam iklan. Sekarang, hampir semua tibatiba kita konsumsi. Dan tak disadari, sekarang kita makin rakus menghabisi diri sendiri.

Kapitalisme memang banyak mengubah kenyataan saat ini. Dahulu Marx menyebut kapitalisme bisa besar sebab modus produksinya. Tapi saat ini justru kapitalisme berubah. Kapitalisme bermethamorfosis. Perubahan itu, sebut saja bagaimana ia membangun imajinasi untuk mengkonsumsi tanpa henti. Perubahan itu sebut saja sebagai modus baru kapitalisme; mode of consumption.

Perubahan dari kapitalisme dari mode of production ke mode of consumption sebenarnya adalah pembilangan Baudrillard. Berbeda dari Marx yang hidup di awal tumbuhnya kapitalisme, yang ditandakan oleh banyaknya buruh yang dihisap. Baudrillard hidup di zaman kita, saat buruh dan barangbarang produksi sama banyaknya. Atau bahkan justru jauh berbeda; barangbarang yang bergelimangan.

Karena itulah zaman ini ramai dengan barangbarang. Kapitalisme semakin massif menciptakan pasar. Kapitalisme semakin canggih menciptakan barangbarang. Kapitalisme banyak mendorong kita untuk mengkonsumsi tanpa berhenti. Karena itulah konsumsi sudah jadi cara kita mengekspresikan diri kita. Dalam kapitalisme, cogito tidak berhenti pada tindak berpikir. Dalam kapitalisme, cogito diteruskan menjadi tindak konsumsi. Aku belanja maka aku ada. 

Zizek menyebut tindak konsumtif itu sebagai budaya yang massal dijumpai. Jika yang banyak berubah dari cara kapitalisme saat ini, barangkali adalah cara kapitalisme yang ampuh untuk menaruh pengaruhnya sebagai bagian yang identik dari tindak kebudayaan kita. Kapitalisme tak segansegan mengadopsi kritikan yang ditujukan kepadanya untuk diolah menjadi senjata ampuh. Cara ampuh itu, dalam mekanisme Zizek, disebutkannya sebagai kapitalisme kultural.

Kapitalisme kultural adalah strategi yang benarbenar jitu memberi kompensasi atas rasa bersalah pasca mengkonsumsi. Konsumsi barangbarang dalam model kapitalisme kultural, akan nampak seperti seorang yang arif dan bijak dalam bertransaksi. Modus transaksi ini menempatkan dimensi sosial sebagai bagian yang inheren dalam tindak tukar menukar. Saya teringat iklan sebuah merk minuman, yang sekali bertransaksi sama halnya sudah membantu sebuah desa dibagian Indonesia timur sana. Ini sudah mirip aturan islam, bahwa di dalam hartamu sebenarnya mengandung hak orangorang kecil.

Sebuah tindak religiuskah itu? Yang pasti, ketika dahulu pusatpusat belanja masih sama sepinya dengan rumah ibadah, tindak konsumsi masih diukur dengan faedahnya sebuah barangbarang. Tapi, ketika barangbarang begitu bergelimang, barangbarang dipakai tiada habisnya. Barangbarang seperti ada yang dikandung di dalamnya. Barangbarang menjadi benda yang mengandung yang gaib, sesuatu yang mistis. Marx menyebutnya; fethisisme komoditas.

Maka memiliki barangbarang yang mengandung unsur gaib sama halnya bertindak atas yang sprituil. Memiliki bendabenda yang diproyeksikan pasar, sama artinya dengan sebuah sikap yang arif. Di sana ada diri yang mengalami sesuatu yang impersonal. Di sana,  di dalam yang impersonal, pengalaman konsumsi adalah pengalaman terhadap sesuatu yang transenden. Dan dari barangbarang konsumtif adalah media yang digunakan untuk mencapai kebahagiaan. Sebab itulah kita tak hentihenti berkonsumsi. Sebab itulah ini sudah mirip agama.

Dalam agama ada konsep syirik. Teologi memandang syirik sebagai keadaan mempersekutukan sang teos. Di dalam syirik, sang teos sama sejajarnya dengan wujud yang lain dalam ibadah. Sebab itu syirik dilarang agama.  Tapi syirik juga punya makna yang berbeda. Barangkali ini arti syirik yang lain. Setidaknya dalam artinya di luar makna doktrin teologi. Syirik yang lain itu jika bendabenda pasar dikonsumsi oleh sebab sesuatu yang fethis, sesuatu yang gaib di dalamnya. Syirik yang lain itu, jika barang yang dimiliki sudah mirip tuhan; suatu entitas yang dipuji dan bahkan dipuja. Ingat, sekali lagi ini adalah model syirik yang lain.

Erich Fromm, menyebut syirik yang lain itu sama halnya jika manusia memberhalakan hasil cipta tangan manusia sendiri. Fromm membilangkannya sebagai apa saja semisal barangbarang, bendabenda ataupun objekobjek yang dipertuhankan. Menurut Fromm, berhalaberhala itu, tak disadari akhirnya menjadi inheren dalam sejarah atau bahkan menjadi cara manusia berbudaya. Malangnya, sebab dia adalah budaya, melaluinyalah kita menemukenali diri sebagai manusia yang beradab, manusia yang otentik. Lewat aktivitas demikianlah kita berarti sebagai manusia yang betulbetul ada. Dan budaya apa yang paling massif di saat ini? Baudrillard menyebutnya budaya konsumsi.

13 Februari 2015

madah duapuluhlima

Buruh atau kelas yang tertindas itu memang tragis. Tak memiliki apaapa selain tenaga. Tak memiliki apaapa selain otot. Dalam sistem yang terlanjur memuja kapital, tenaga dan otot mereka dikuras dan dihisap. Mereka mengalami suasana yang asing dari mesinmesin, dari barangbarang, juga dari sesama. Suasana alienasi itu memang ajaib mengubah manusia. Kerja yang satusatunya adalah milik buruh, justru jadi kepunyaan tuan pemodal. Dengan upah, tuantuan modal memiliki semacam mukjizat, semacam kelebihan; menyulap buruh jadi alat kekayaan.

Maka itu buruh jadi manusia yang kerdil. Di dalam sistem yang kapitalistik, buruh tak selamanya berarti pribadi yang individual. Di dalam roda industrialisasi, buruh jadi kelas, buruh jadi kaum. Sebab itulah sebuah kaum berarti ada yang massal dibalik sistem  yang kapital. Karena itulah ada yang berbau kolektiv di dalam urat nadi industrialisasi. Di dalamnya, yang massal di hisap dan ditindas. Di dalamnya,  buruh kerdil secara massal menjadi seperti atom di dalam tatanan akbar kapitalisme. Tapi di dalam tatanan yang akbar itu, justru mengandung masalah.

Kapitalisme, yang diriwayatkan tamat oleh Marx itu memang kejam. Semula, buruh adalah kaum pekerja yang dikuasai tuan pemodal di dalam pabrikpabrik. Tapi zaman sekarang struktur berubah, juga pasar, dan kapitalisme tidak sekedar sistem yang tunggal, melainkan jamak menjadi srtruktur kekuasaan yang berlapis dan bersusun. Di dalam sistem yang berubah itulah buruh berubah dari pekerja menjadi profesi yang luas. Dalam arti inilah seorang guru juga seorang buruh, seorang dokter juga berarti proletar, seorang polisi berarti pekerja, seorang pegawai berarti budak. Juga yang lain, di dalam pasar, hampir semuanya menjadi alat kekayaan tuantuan kapital.

Sebuah penghisapankah ini? Sepertinya tak ada yang absen dari logika kapital. Kerja dalam arti kapitalisme sama halnya menjual jasa pada sistem yang berlapislapis. Kerja dengan sistem yang tidak seperti abad industri awal, berarti tidak selamanya bersentuhan langsung dengan mesinmesin pabrik. Kerja, dengan zaman yang baru, adalah bagaimana tenaga ditiap waktunya dihitung hingga akhir bulan. Tenaga diganti dengan keahlian, otot diganti dengan pikiran.

Itulah sebabnya kerja menjadi mekanisme dalam sistem kapital. Tapi Marx sudah jauh hari mewaspadai, di dalam sistem yang kapital, kerja menjadi alienatif. Sehingga kita paham apa arti Marx mencela kapitalisme yang mengkerdilkan manusia.

Kerja, bagi Marx adalah modus eksistensial. Kerja adalah cara manusia mengelola nature menjadi culture. Dari kerjalah manusia mengubah alam yang asing menjadi ruang yang akrab. Marx mengyakini, kerja adalah aspek manusiawi dari manusia. Kerja adalah upaya meneguhkan ekspresi hidup manusia. Dengan begitu, kerja berarti memanusiakan manusia.

Tapi sekali lagi, di dalam cara bereproduksi, kapitalisme memang kejam. Kerja yang manusiawi menjadi yang nonmanusiawi. Buruh yang tak memiliki apaapa menjual jasanya. Dengan menjual tenaganya berarti buruh menjual dirinya. Dengan tangan kosong buruh menggadai kebebasannya. Sebab itulah kerja menjadi tidak manusiawi. Karena itulah kerja menjadi alienatif.

Sulit ditampik bagaimana Marx begitu mencela kapitalisme. Dia mungkin kecewa. Dia mungkin risau. Tapi mungkin juga geram. Itulah barangkali mengapa ia menulis manifesto yang terkenal itu. Mengajak siapapun di bawah sistem tunggal kapitalisme. "Wahai kaum buruh sedunia bersatulah." Dan kita tahu, tulisan yang diawali frase itu, banyak menginpirasi hampir banyak orang.

Buruh hari ini sudah tidak segeram Marx menghardik sistem yang tak matimati itu. Tapi juga bukan lapisan kelas yang gampang dikibuli tuantuan pemodal. Mereka punya taktik melawan kapitalisme. Mereka punya front perjuangan atau bahkan punya partai perjuangan. Mereka bersatu dalam satu keyakinan yang pasti; di manapun, bagi buruh, kapitalisme harus tumbang.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...