08 Juli 2014

Masjid

Ramadhan jika dianggapkan semacam kuil, maka dia adalah tempat kita belajar. Sebagai sebuah kontruksi, kuil  bertujuan untuk mengasah dimensi bathin. Tempat berkontemplasi. Di dalamnya manusia mengalami transformasi kualitatif. Di mana yang kualitatif adalah bukan perkara rasio konseptual dalam merumuskan yang suci, tapi penghayatan terhadap yang ilahiat. Melaluinya manusia membangun intensi, bukan kesadaran yang dikonstuksi. Dengannya,  manusia diajak menolak segala unsur duniawi yang menyesakkan; sesuatu yang sering dikalkulasi. Kuil memanglah tempat yang khusus  yang kudus.  Sebab itulah kuil didirikan untuk satu hal:  ibadat.

Dalam islam, ibadat, terutama ritual yang kolektif, selalu punya kaitan dengan masjid. Sama halnya dengan kuil, sebagai tempat ritual, masjid adalah ungkapan untuk  mengapresiasi kehadiran atas yang ilahiat. Di dalam masjid suatu hubungan dibangun antara manusia yang kerap pupus dengan tuhan yang kudus. Dengan itu, maka masjid adalah tempat munajat yang paling baik. Sebab itulah ia disebut rumah tuhan.

Tetapi apa yang harus kita petik dari sebuah masjid. Konstruksi yang kerap digunakan untuk mengalami peristiwa yang transenden, jika masjid akhirnya mengalami  pemaknaan yang ritualistik. Ibadat dengan embelembel eksoteris. Yang di sana pendangkalan terhadap yang ilahiat akhirnya mulai berbarengan dengan dunia yang selangseling dihinggapi hiruk keramaian. Dengan itu masjid akhirnya adalah penanda semangat religiusitas yang dangkal, yang melihat ilahiat hanyalah perihal yang kita kerdilkan.

Bisa jadi sekarang tuhan yang akbar, yang maha segala, adalah apa yang kita kucilkan. Tuhan hanyalah gema pada ruang yang sunyi. Sementara makna ritual seringkali pupus tak jua hinggap pada dimensi kedalaman manusia. Dari itu, barangkali kita sulit untuk menghidupkan tuhan dalam habitat hidup seharihari.

Masjid adalah sejarah. Yang dahulu setelah hijrah, rasul penutup para nabi, membuat tanda waktu dengan membangun masjid. Kala itu masjid adalah tanda kemajuan, simbol keagungan yang gaung di tengahtengah semangat yang akbar terhadap agama yang dibawanya. Umat kala itu sedang mengalami peristiwa besar dalam sejarah, bahwa masjid adalah pusat di mana arah dan tujuan dirumuskan. Masjid adalah pusaran yang hendak menata zaman.

Namun, bukankah sebelumnya masjid sudah menjadi bangunan yang berbeda? Bangunan yang tidak lagi menjadi pusat, justru menjadi tersisih dari setiap kesadaran kita. Masjid hanyalah kontrusksi alam material yang kita lihat tak beda dengan bangunan yang lain; mall yang sewaktuwaktu bisa kita datangi dengan maksud konsumsi, tempat siap saji dikala kita lapar ataukah diskotik untuk mempermudah masalah. Atau seperti bangunan tinggi yang akrab dengan rutinitas kita. Diwaktu demikianlah masjid bukan lagi konstruksi bathin yang selalu hidup, melainkan bahan material yang sewaktuwaktu bisa  dienyahkan.

Ramadhan, rentang waktu yang berkah bisabisa rentan, jika masjid sebagai yang material adalah satusatunya makna yang dimengerti. Kuntowijoyo, sejarawan gaek, pernah menulis muslim tanpa masjid. Di situ kita bisa tahu masjid, yang kita anggap simbol kemajuan sejarah justru adalah manifes dari sosioreligi masyarakat kita, terutama kaum muda. Bahwa masjid di mata yang muda-bukan bermaksud mengeneralkan- adalah tanda dari simbol budaya yang minus pesona. Masjid barangkali sudah mirip tugu, atau artefak, atau kerak sejarah. Dan namanya tugu ataupun artefak adalah tanda ingatan; sesuatu yang hanya dikenang.

Dan ramadhan, ketika masjid ramai kembali, barangkali itu hanya bermaksud untuk "singgah". Sebab dia bukanlah iman yang tegak dalam bathin, bukan juga seperti rasul yang mengabadikan jengkal waktu untuk menandakan kehadiran ilahiat yang imanen dalam alam manusia. Bahwa iman adalah berarti masjid yang bermunajat dalam ruang hadirat; sisi dalam yang bulan ini tengah kita daur.

Jika ramadhan adalah sebuah kuil, oleh sebab di sana adalah tempat yang tibatiba kita datang untuk berziarah. Tibatiba kita kembali teringat ada "rumah" yang sudah lama kita tinggalkan.

02 Juli 2014

Generasi Multitasking

Sebelumnya saya pernah menulis tentang kaum digital natives. Bila dibilangkan kembali, kaum digital natives merujuk pada lapisan generasi yang dibesarkan dan tumbuh oleh kemajuan alat teknologi informasi dan komunikasi canggih. Secara umur, mereka adalah generasi muda yang lahir 90an ke atas yang akrab dibesarkan bersama alam dunia digital. Di alam yang serba terbuka, yakni cairnya arus informasi yang mudah diterima, penggunaan alat komunikasi yang canggih serta produksi waktu yang kerap dihabiskan di depan layar digital, lapisan baru ini sungguh berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka lebih suka mengoleksi lagu mp3, mendownload film kesukaan, mengupdate status di dunia maya, membaca berita digital, asik BBMan bersama dan sebahagiannya menghabiskan waktu dengan bermain game secara online dipusat-pusat game center.

Secara sosial, generasi digital natives dalam beberapa sisi menyerupai apa yang dalam novel Douglas Couplan katakan sebagai generasi X. Yakni generasi yang diasuh langsung oleh zaman digital, secara penuh terlibat secara simbiosis dengan kerkaitannya dengan media. Dalam pernyataan yang lain,  dunia simbol yang mereka terima sungguh berbeda dengan generasi terdahulu melalui dunia layar yang akrab mereka saksikan. Lewat layar digital, dunia simbol maupun dunia pemaknaan sudah berbeda jauh dengan referensi yang diterima dari generasi sebelumnya. Dengan demikian secara nilai, terjadi berbagai kontradiksi yang tak bisa disangsikan, sebab dalam pertumbuhannya generasi digital natives secara moral hidup dari zaman yang sedang mengalami transisi besar-besaran menuju format dunia yang sungguh jauh berbeda dari sebelumnya.

Pertentangan Moral

Zaman sekarang, tempat hidup yang berpusat pada kebudayaan yang ditempa globalisasi, waktu yang dimobilisasi agar efisien dan produktif, serta ruang yang diproduksi berdasarkan kalkulasi kapital, menghasilkan dunia yang ramai oleh tuntutan. Generasi digital natives, lapisan baru dengan segala tuntutan modernitasnya akhirnya muncul dengan kecenderungan tercampur aduknya segala macam aktivitas yang saling bertentangan satu dengan lainnya dalam perilaku mereka.  Secara moral kontradiksi-kontradiksi yang dialami oleh generasi ini disebut sebagai generasi multitasking.

Multitasking dalam wacana komputer merupakan kemampuan sistem operasi yang mampu menangani tugas-tugas komputasi secara simultan atau dalam waktu yang bersamaan. Misalnya saja dalam waktu yang bersamaan anda sedang membuka aplikasi facebook bersamaan dengan program Mp3 yang anda dengarkan dengan menggunakan smartphone anda. Dua aplikasi yang bekerja secara bersamaan inilah yang dinamakan multitasking.

 Lantas apa kaitannya dengan generasi digital natives? Dalam rumusan ini, pelabelan generasi multitasking sesungguhnya merujuk pada pertentangan-pertentangan yang secara normatif dan moral mengacu pada lapisan nilai yang diyakini oleh generasi masa kini. Di mana pertentangan ini begitu transparan nampak dari perilaku yang diperlihatkan dalam biografi sosial mereka.

Generasi multitasking, dalam biografi sosialnya adalah orang-orang yang tidak lagi terbebani dengan imperatif-imperatif  lama yang diacu sebagai panduan sikap sebagaimana generasi yang hidup dengan semangat zaman yang berbeda. Dahulu pada zaman tatanan lama, seorang anak muda bisa saja menolak secara tegas kehidupan hedonistis dengan pemihakan terhadap ideologi tertentu, seorang pejuang ham dengan sendirinya akan mengecam tindak represi dari pemerintahan otoriter, kalau menentang kehidupan kapitalis otomatis bakal menolak dikotik, cafe atau shopping mall. Tegasnya jika pemusatan pada sebuah nilai tertentu, maka dengan sendirinya akan menolak antitesa dari prinsip nilai yang diyakini. Namun dari apa yang kini tengah tumbuh adalah generasi yang berbeda, sehingga formasi nilai yang diyakini adalah paradigma yang bercampur segala hal di mana tak ada pagar pemisah dari nilai keyakinan yang dipercayai.

Secara ideologis, tatanan masyarakat baru ini adalah didasari oleh citra-citra audiovisual yang begitu cair didapatkan dari layar digital yang akrab dalam kehidupan praktis mereka. Sumber tatanan nilai yang diacu tidak lagi berasal dari entah itu ideologi tertentu ataupun keyakinan religius yang berasal dari agama. Sebab sumber legitimasi yang diacu selama ini dalam anggapannya adalah keyakinan yang beku dan dogmatis terhadap keberagaman yang jamak. Maka dari itu, jika ada jenis keyakinan yang demikian, itu berarti adalah bangunan artefak yang tak lagi adaptable dengan konteks zaman tempat kehidupan sosial diselenggarakan.

Maka wajarlah kita saksikan, lapis masyarakat baru yang bisa saja menghendaki kehidupan yang demokratis dengan enggan terlibat dalam praktik-praktik gerakan sosial, berkeinginan memiliki pemerintahan yang bermoral dan beradab tanpa meninggalkan majalah fashion dengan model-model yang sensasional, berkehendak untuk hidup religius dengan menolak corak agama yang fundamental, anak-anak muda yang siangnya memanfaatkan ruang edukasi tetapi malamnya tumpah ruah di mall-mall dan diskotik, serta juga gandrung bicara politik tanpa tak pernah melewatkan acara-acara pencarian bakat. Dalam celotehan Daniel Bell mereka ataupun barangkali kita adalah generasi “straigh by day swinger by night”.

Nampaknya apa yang sedang tumbuh di masa seperti sekarang menjadi sebuah penampakan sosial tersendiri yang mesti disikapi dengan bijaksana. Di mana acuan nilai yang dijaga dalam tradisi, panduan moral yang kerap menyitir teks-teks suci, norma adat yang digali dalam kearifan lokal sedang menghadapi gesture zaman yang berbeda. Tetapi bukankah hidup adalah tidak saja berdamai dengan kontradiksi yang dimiliki era sekarang, di mana gairah hidup generasi sekarang adalah bukan bersumber dari penolakan “terhadap” melainkan juga justru sikap gembira terhadap perbedaan yang disemarakkan. Dengan begitu, generasi sekarang adalah generasi yang menolak sekaligus menerima, barangkali seperti dalam pernyataan Gramsci, pemikir muda dengan otak cemerlang asal itali, zaman sekarang adalah zaman dengan asas “bersama-sama anda sekaligus menentang anda”.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...