24 Juni 2014

Manusia

Kuasakah engkau menciptakan tuhan? ...maka diamlah wahai segala tuhan! Tapi, yang pasti engkau dapat menciptakan superman. .

Memang manusia mahluk yang tak lengkap. Di balik sejarah, yang tak lengkap itu berusaha dipikirkan, untuk kemudian dirumuskan pada satu pengertian yang umum dan ajeg. Sejarah memang wadah yang bisa kita dalami, di sana manusia selalu disusun dalam pengertian yang esensial; mahluk yang rasional, mahluk sprituil, mahluk kerja dsb. Tentang manusia, dalam sejarah, apa yang telah dirumuskan untuk menambal yang kurang itu memang hanya menyisahkan tekateki, lubang yang tak pernah tertutupi.

Manusia bisa saja menciptakan segala hal. Dengan demikian manusia meneguhkan eksistensinya. Eksistensi yang tak utuh itu dalam sistem politik, kebebasan individu dan kolektif dijabarkan, bagaimana kekuasaan harus diterjemahkan untuk kebahagiaan banyak orang. Untuk itu, juga mekanisme ekonomi dirancang, ikhtiar untuk membuat sistem yang egaliter. Demikian budaya dan hukum turut diciptakan dalam rangka memenuhi kekosongan yang menganga itu. Tetapi apa yang akhirnya didapati, hasil yang kerap kali gagal memenuhi kekosongan: krisis eksistensi.

Sepertinya, usaha inilah, yang dalam sejarah manusia dikritik Nietzsche: keinginan untuk menutupi lubang yang tak pernah dijawab sejarah. Tapi di mana ada usaha untuk membangun yang universal, selalu di situ bersembunyi ego penaklukan. Dan pada titik inilah Nietzsche menggerutu, bahwa manusia bukanlah realitas yang mudah ditetapkan begitu saja.

Di masa dulu, di Yunani, Aristoteles pernah memberikan terang tentang manusia. "Manusia adalah hewan tak berbulu berkaki dua" Begitu ia menyebutnya. Kemudian tak lama datang Diogenes, pelopor filsafat sinisme, menunjukan cela dalam defenisi Aristoteles. Sembari mendemonstrasikan manusia menurut Aristoteles, Diogenes menunjukkan ayam yang sudah dicabuti bulunya sebagai maksud dari Aristoteles. "Inilah manusia menurut Aristoteles," seru Diogenes. 

Dalam peristiwa ini barangkali ada yang tak sepenuhnya bisa dipahami Aristoteles, yakni dalam cara untuk merumuskan ketetapan yang aksiomatis biasanya selalu gagal dalam meraba sesuatu yang kerap berubah. Dan ini yang juga sudah diwantiwanti oleh Ibnu Sina, untuk membangun defenisi yang utuh adalah pekerjaan yang sulit bagi seorang logikus.

Upaya yang hendak dirumuskan tentang mahluk yang bernama manusia, barangkali adalah mekanisme yang lahir dari sifat lemah dan inferior. Yang mana sesungguhnya itu dilakukan untuk menutupi kekurangan yang di miliki. Tapi sekonyongkonyong usaha ditegakkan justru adalah indikasi dari kekosongan yang semakin menganga lebar. Barangkali ini yang dimaksudkan Feurbach, filsuf yang getol menyerang agama, sesungguhnya adalah manusia yang gagal menetapkan "kesempurnaan" untuk dirinya, sehingga "yang kuat", "yang bahagia", "yang ideal" adalah sifat dasar manusia untuk menciptakan alienasinya sendiri.

Untuk itulah, dari alienasinya, lubang yang tak pernah tuntas dalam sejarah, manusia berkeinginan untuk mengenal tuhan. Tapi apakah tuhan adalah jenis superioritas yang mudah dicapai? Sekiranya iya, Firaunlah manusia pertama yang berhasil menggenggam "superior" sebagai sifat dasarnya, memproklamirkan bahwa ialah tuhan yang punya kuasa terhadap segala hal. Bisa saja Firaun, raja yang digugat Musa itu berhasil, namun sejarah sudah punya jawabannya: tuhan bukanlah kekuasaan yang bisa diperlakukan seenak hati.

Disinilah bahayanya, orangorang yang miskin kualitas eksistensi, dengan agama, dengan atas nama yang ilahiat berkeinginan merubah jalannya banyak hal, termasuk penyelenggaraan pemerintahan dunia. Bukankah tuhan tak mampu dicipta dalam iman yang miskin, dalam diri yang rapuh? Maka berbahayanya jika orangorang yang berkhidmat dalam organisasi, tak kuasa dalam mencipta tuhan justru menjadikan "yang lain" harus takluk atas nama pemurnian.

Kitalah yang barangkali telah membunuh tuhan? Dalam ungkapan Nietzche, disana ada kenyataan yang sulit kita sanggah, bahwa tuhan adalah entitas yang seringkali kita bunuh berulangulang. Di zaman ini, ditengah krisis eksistensi, eskalasi fundamentalisme yang turut mencampakkannya, atas pemurnian. Dan memang pemurnian terkadang mengenyahkan jalan tengah, sebab jalan tengah itu berarti kompromi, artinya ada unsur yang sudah terkontaminasi, ada ruang yang telah tercemari.


Dan di belahan dunia lain, kematian nampaknya semakin karib bersampingan, semakin akrab. Justru disaat pemurnian adalah cara praktis untuk menuntut perbaikan, kematian menjadi tumbal dari keyakinan yang rapuh. Disana peluru adalah hakim yang berlagak adil, dan pucuk senjata adalah antitesa dari kehidupan yang beragam. Tetapi manusia yang tak utuh harus percaya satu hal, "yang ideal", "yang ilahiat" bukanlah lahir dalam alam yang murni, ia lahir di sini, di tengah kehidupan yang guyah sendisendinya, untuk tahu bahwa manusia punya harap, seperti harapan yang sebenarnya tak ada, tapi karena banyak yang membuka jalan ke sana, maka ia layak kita tempuh. Bahwa di sini, dalam kehidupan yang jamak, manusia hanyalah mahluk yang selalu beriktiar utuh.

16 Juni 2014

filsafat

Konon filsafat adalah ilmu yang punya dampak praktis. Dahulu maksud yang praksis itu ditemukan dalam theorea. Theorea dikenal dengan sikap pikiran yang terbuka terhadap kebajikan, sebuah sikap pikir yang tertib untuk mencandrai nous, untuk melihat cosmos yang akbar, atau dengan kata lain, theorea adalah sebuah jalan untuk menjadi bajik, menjadi hanif dihadapan macrocosmos.

Dengan theorea, manusia diajak untuk menghindari doxa, dalam pengertian Plato adalah kebenaran yang tak sahih, kenyataan yang cenderung berubah, pernyataan yang kerap kali tak bisa diyakini. Dengan theorea, manusia diajarkan jalan bios theoritikos, sebuah sikap hidup yang mengolah jiwa pada keabadian, pada yang stabil, sesuatu yang tetap. Sehingga dengannya manusia diarahkan untuk hidup bijaksana, untuk mencapai otonomi. Dengannya, otomatis bermaksud praxis.

Juga theorea ada dalam agama-agama kuno. Yunani misalnya, ada theoros, seorang wakil, atau bisa jadi seorang utusan polis, untuk dikirim pada acara agama, untuk mengalami peristiwa transendental,  di mana dengan maksud "memandang" peristiwa yang jauh melampaui fisik, untuk dibaca, untuk diterjemahkan. Di saat demikian, saat theoros memandang nous yang sakral, ia mengalami theorea, proses pengalaman membebaskan nafsu yang fana, situasi emansipasi atas bagian diri yang berubah-ubah. Orang Yunani kala itu, menyebut laku itu khatarsis: pembebasan diri dari dorongan yang fana.

Artinya filsafat juga punya maksud khatarsis. Dengan pengertian ini filsafat berkehendak membebaskan manusia dari dorongan-dorongan fana dengan mengajak pada kenyataan yang tetap, kepada peristiwa yang stabil. Sehingga saat demikian ada batas antara ada dan waktu, antara yang tetap dan yang berubah-ubah, antara kepastian dan keraguan. Pasalnya, sesuatu yang kerap berubah sering kali cenderung pupus dimakan usia, juga yang berubah adalah berarti belum lengkap, tidak utuh. Sementara ada itu sendiri adalah kenyataan yang selalu tampak, sesuatu yang melingkupi segalanya, hal yang stabil, lengkap, sesuatu yang pasti.

Namun biasanya filsafat punya maksud berbeda, tidak saja bermaksud praktis. Setidaknya dalam doktrin Marx. Marx, dengan pemikirannya yang radikal itu, hendak meluluhlantahkan yang diyakini stabil, bangunan yang cenderung menghindari perubahan. Dalam benak Marx, filsafat yang meneguhkan sesuatu itu stabil berarti ia salah kaprah. Justru kenyataan di mata filsafat adalah inti yang saling bertentangan, keadaan yang mengalami tegangan tiada henti.

Filsafat dengan maksud mengokohkan realitas yang tetap, berarti anti perubahan, bahkan anti kemanusiaan. Baginya filsafat adalah kewajiban untuk mengubah kenyataan dengan cara mengkoreksinya melalui sikap, buan pikiran. Filsafat tidak hanya menafsirkan dunia, melainkan turut membentuknya, ujarnya di suatu waktu. Marx memiliki keteguhan dalam pandangannya ini, yakni filsafat harus juga punya tanggung jawab terhadap kemanusiaan.

Di sini, barangkali Marx berkeinginan untuk memupuskan harapan filsafat yang hanya milik segelintir orang. Sebab, filsafat, dalam bentang peristiwa sejarah adalah pekerjaan orang-orang kaya. Aktivitas yang hanya dimiliki bangsawan atas waktu luang yang dimiliki. Sebut saja Des Cartes, dari atas tempat tidurnya, di saat ia bergumul dengan waktu luangnya, ia mendapatkan titik terang dari kebingungannya: cogito ergo sum. Juga Kant, yang ketat soal waktu, banyak merumuskan pikirannya dari pondok sunyi yang ia tinggali.

Dalam masamasa seperti ini, kita membutuhkan filsafat yang hidup dijantung kehidupan masyarakat. Setidaknya filsafat yang lahir dari keluh kesah dan optimisme, antara rasa emoh dan keinginan untuk merombak. Sebab jaman sekarang, adalah masa yang sulit ditaklukkan dengan hanya mengandalkan asumsiasumsi yang spekulatif. Filsafat harus tahu dan mengerti inti kenyataan yang kita hadapi, kenyataan yang kerap berubah dan bersitegang terus menerus. Filsafat jenis inilah yang kita harapkan, bukan jenis fisafat yang lahir dari hujan yang ritmis, melainkan filsafat yang tumbuh di tengah badai yang amuk.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...