15 Juni 2014

Politik

Ada asumsi tentang politik, seingat saya dari Herman Broch, bahwa politik berarti merawat komunitas. Ini artinya politik paralel dengan kehidupan kolektif, yang di dalamnya sudah pasti punya misi edukasi, kerja membangun. Juga dalam komunitas sudah tentu mensyaratkan adanya pusat. Kolektivitas berarti "kita" sebagai pusat. Dalam "kita" berarti ada peneguhan terhadap identitas, terhadap simbol, untuk dijadikan garis batas terhadap yang lain.

Namun, dalam masamasa yang penuh dengan eufimisme, politik bisa bermaksud lain. Politik justru berarti mengkerdilkan pihak yang berada di seberang. Kita menjadi emoh terhadap yang lain, sementara identitas kelompok adalah sanjungan yang berdiri atas kesadaran tanpa argumentasi.

Di sinilah politik berubah haluan menjadi mitos. Mitos, seperti kita tahu adalah pengetahuan yang tak punya asal usul, sejenis kesadaran yang tak memiliki basis kenyataan tetapi diyakini dan diteguhkan kebenarannya dari otoritas yang berlangsung. Dan mitos adalah petanda dari ketiadaan rasionalitas yang argumentatif. Maka politik yang didatangkan dari alam yang irasional adalah mitos yang digaungkan dan dipertahankan untuk keberlangsungan orang banyak.

Sehingga wajar sampai akhirnya tampak alami, iklim politik yang kehilangan wibawa. Suasana partisipan yang melanggengkan irasionalitas, sebab tak ada yang bisa dikatakan baik dalam alam yang irasional. Namun akhirnya wajar kita maklumkan, tentang citra yang dikontruksi, kebesaran yang dibentuk, prestasi yang dipaksakan untuk menutupi jumud yang sebenarnya nampak enggan diakui.

Jika sudah demikian "kita" sebagai pusat dari kolektivitas kerap akhirnya dirawat dengan dasar yang temaram. Kesadaran temaram, kata Broch adalah jenis pengetahuan yang instingtif. Atau tipe pengetahuan yang tidak melibatkan sisi historis sebagai bahan baku pertimbangan. Itu artinya politik yang dibangun dengan kesadaran temaram berarti hubungan yang tentatif-temporal. Hubungan yang tidak diukur dari pertimbangan yang matang. Apalagi tidak membawa aspek sejarah di dalamnya. Jadi wajar bila tibatiba saja kita sudah diperhadapkan dengan ikatanikatan yang membingungkan. Oleh karena di sana tak ada keputusan yang masuk akal untuk dipertanggungjawabkan.

Bila politik adalah merawat komunitas, maka di sana ada ruang yang membangun kesadaran, tentu dengan mempertimbangkan etika dalam proses keberlangsungannya. Di sana juga ada keberlangsungan yang terus menerus di antara relasi untuk mencerahkan. Yang juga diharapkan sebenarnya adalah proses politik yang menjunjung nilai etis dan komunikasi yang bisa dipertanggung jawabkan, tidak sekedar informasi yang tanpa diketahui asal usul kehadirannya. Sebab di luar informasi yang bertanggung jawab adalah omongkosong.


09 Juni 2014

dialog imajiner bersama Machiavelli

Suatu ketika di malam awal Juni saatsaat lembayung makin padat. Juni yang mengawali kemarau Juni yang biasanya panas, saya berusaha membangun imajinasi. Tentang sebuah perbincangan dengan seorang realis, orang yang pernah hidup sekitar akhir abad pertengahan. Seorang dari Florence Itali; Niccolo Machiavelli.

Saya membayangkan malam awal Juni itu dua bulan setelah hari kelahirannya, duduk bersama orang yang kerap dikutuk berkat gagasannya yang tanpa moral itu. Di mana saya dengannya bertemu di saatsaat karirnya sebagai penasihat politik mendekati anti klimaks. Pada pinggiran selatan kota Florence saya dengannya bersua. Ketika Itali sedang dalam invasi Spanyol.

Saya: Kenapa anda tampak murung? Apakah ini karena Itali sedang dalam masa-masa kritis?

Niccolo: (Sambil tersenyum) Saya memang murung? Lebih mudah bagi saya kematian seorang ayah daripada kehilangan warisan..Mari anak muda..(sambil memberikan segelas anggur) bagaimana anda bisa sampai kesini? Ini masa kritis..

Saya: terima kasih (sambil mengambil anggur darinya), ini memang masa kritis, tetapi bertemu dengan anda saat seperti ini adalah hal yang mengagumkan.

Niccolo: Apakah anda bercanda? Lantas apa yang membuatmu kemari?

Saya: Diri anda. (Dia tampak terkejut, raut mukanya sungguh jauh dari ekspresi pikirannya yang konon berbahaya, saat itu dia kelihatan gagah) Diri andalah tujuan saya..

Niccolo: Saya berharap kau mengerti maksud tujuanmu berbicara denganku. Saat seperti ini semua orang menjadi bodoh saat mengutarakan pikirannya.

Saya: Maksud anda?

Niccolo: Coba kau bayangkan, untuk sejenak, diantara orangorang itu, adakah yang tampak jujur berucap? (Niccolo menunjuk dengan pandangan matanya) Hampir semuanya tampak berbohong..

Saya: Ada apa dengan mereka. Maksudmu mereka ini adalah orang yang sedang berbohong?

Niccolo: Tidak ada yang salah dengan orangorang ini. Kecuali mereka tahu maksud pembicaraan mereka.

Saya: Sebenarnya ada apa dengan mereka? Barangkali saya telah melewatkan sesuatu?

Niccolo: Sudah saya katakan tadi, ini masa kritis, masa yang guyah. Seharusnya mereka tahu apa yang harus dibicarakan. Bukan dengan hanya bicara tentang masalah intim mereka, pujapuji mereka terhadap gereja, anakanak, ladangladang..

Saya: Lantas apa yang layak saat seperti sekarang menurutmu?

Niccolo: Manusia yang baik adalah warga yang membincang keutamaankeutamaan ibu pertiwinya, bukan sebaliknya.

Saya: Maksud anda negeri ini? Itali maksud anda?

Niccolo: Artinya kau pahami maksudku. Negara ini sedang di ambang kehancuran. Mereka lebih sudi selain dari apa yang mereka wariskan.

Saya: Bisakah anda menerangkan maksudmu? Jujur, saya tidak paham..

Niccolo: Kematian, saat orang mati, saat mereka ditinggal pergi, mereka berpurapura murung, berputus harapan dengan rasa sakit yang amat. Lantas sebenarnya pikiran mereka tidak demikian. Justru akan kembali seperti biasanya, memikirkan dengan apa hidup harus berjalan. Memikirkan apa isi perut mereka.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...