21 Agustus 2013

Tentang “Kani Kosen sebuah Revolusi” karya Kobayashi Takiji




Ayo, pergi ke neraka”Dua orang nelayan memandangi kota Hakodate yang dikelilingi laut, sambil menggeliatkan badan dan perpegang pada besi pegangan tangan di dek kapal. Nelayan itu pun kemudian, sambil meludah membuang rokok yang sudah dihisapnya hingga tersisa seukuran lebar jarinya…

Apa yang memungkinkan sebuah karya sastra memiliki sensibilitas di antara batasbatas peristiwa dari yang datang dan yang pergi? Sehingga mampu melampaui kejadiankejadian yang merentang di putaran orbit kehidupan manusia? 

Pertanyaan ini adalah sebuah eksposisi yang baik untuk jauh masuk pada kisaran fundamental dari apa yang diendapkan dalam sebuah karya satra; soalsoal manusia. Sastra yang baik adalah karya sartra yang lahir dari jantung subjektifitas manusia, susun bangun kata yang terbangun dari kekayaan batin sebuah kejadian, sebuah peristiwa. 

Seperti dalam pengertian yang diberikan Ignas Kleden; seorang sastrawan beda betul dengan profesi, taruhlah seorang wartawan. Seorang sastrawan memiliki konsep dunia yang berbeda, dunia kenyataan yang jauh menelikung dari kesan dunia yang umum; kekayaan dunia subjektif.  Dunia subjektif adalah ruang yang sarat  lipatanlipatan unsur batiniah.  Sehingga kenyataan yang benar bukanlah usaha observasi yang menuntut kemapatan antara ide dengan kenyataan, melainkan sesuatu yang maknawi, kedalaman dunia yang dihayati. Maka seorang sastrawan tidaklah berjuang dengan dunia luar, melainkan sebuah pergelutan tentang dunia batin. 

Seorang sastrawan memiliki stage yang berbeda dengan seorang wartawan. Jika seorang wartawan menghadapi kenyataan dunia empirik, maka seorang sastrawan justru berbalik ke dalam memasuki rimba makna pengalaman seharihari. 

Maka apa yang menjadi nilai juang dari seorang sastrawan adalah kedalaman makna yang dintodusir kepada khalayak, atau bagaimana khalayak mampu masuk pada ruang kesadaran terdalam; ruang pemaknaan. Dan tentu tak sama dengan seorang wartawan yang dituntut untuk menemukan kebenaran warta yang diperjuangkan dari dunia luar untuk diinformasikan.

Barangkali itulah ihwal penting dalam karya Kobayashi Takiji, seorang komunis Jepang; Kani Kosen, sebuah revolusi. Karya sastra yang lahir dikitaran waktu 1929. 

Novel ini berkisah tentang kehidupan para buruh pabrik kapal pengangkut kepiting yang dipapar kehidupan ekonomi yang malaise. Jepang yang sedang dihinggapi shihonshugi; kapitalisme.  Keresahan tumpah ruah, pengangguran tak terbendung dan kemiskinan adalah sakit yang tak terhindarkan.

Jepang di masamasa itu, tak beda dari situasi negaranegara yang dihinggapi kuasa modal. Kapitalisme, kita tahu dipenghujung abad 20 adalah keyakinan yang akbar untuk dipuja. Semacam key of life bagi zaman yang sedang bergerak cepat. Kapitalisme dengan segala rukunrukunnya menjanjikan ilustrasi kehidupan yang tak untuk didiami dengan  sejarah umat manusia yang menghendaki ketidakpastian. 

Kapitalisme dengan dukungan kelas burujiajinya di Jepang mengerti, Jepang adalah gugusan pulau yang menyimpan banyak potensi.

Maka di sana, di Jepang; matra sosial mengalami ketegangan antara kelas pekerja dan kelas pemodal, kelompok miskin versus kelompok kaya, kelompok politik fasistis militeristis versus politik proletariat, kalangan intelektual melawan kaum kapital. 

Singkatnya, di Jepang suasana di tahuntahun itu adalah suasana zaman yang sedang dilanda krisis berkepanjangan.  

Namun sebuah ilustrasi bukanlah kenyataan. Ia hanya kesan dari yang hendak digambarkan. Dan kapitalisme seperti citra gambar yang tak selamanya sempurna untuk dimengerti, bahkan di Jepang sekalipun. Juga modernisasi yang dikehendaki pada akhirnya harus mendapati kenyataan yang berbeda; kehidupan ekonomi yang karut marut. Pada kenyataan masyarakat demikianlah Kobayashi menangkap hal yang tunggal dari rahim kapitalisme; alienasi.  

Kobayashi adalah seorang komunis. Ia mati dalam keadaan muda, 29. Kani Kosen; Sebuah Revolusi, adalah karya sastra yang ditulisnya pada usia 26, empat tahun kemudian ia merengang nyawa; disiksa kepolisian Jepang. Pada saat Kani Kosen ditulis, barangkali Kobayashi tak menduga, tulisan yang ia dedikasikan untuk para buruh kapal pengangkut itu, 80 tahun kemudian,  menjadi bacaan yang banyak dikonsumsi di Jepang terutama di kalangan anakanak muda.

Nampaknya karya yang sempat dilarang beredar oleh militer Jepang seperti mengikuti inangnya; komunisme,  memiliki umur yang panjang. Dan kita tahu sebuah karya sastra adalah kejujuran yang mendahului kenyataan. 

Kani Kosen adalah bahasa transparan yang menangkap esensialitas yang terkandung dalam pengalaman kaum buruh Jepang yang dikeruk oleh sistem monopolis. Itulah mengapa seperti bahasa anakanak muda yang besar di era yang berbeda, ketika membaca Kani Kosen, "kami tak melihat ada komunisme dalam Kani Kosen, yang kami saksikan adalah penderitaan dari ketidakadilan yang merajalela." 

Atau dengan bahasa lain, dalam Kani Kosen, buku yang tidak terlalu tebal itu, bukan diperuntukan dengan sensibilitas ideologi tertentu, melainkan tentang humanisme. Dengan esensialitas yang terkandung dalam karangannya, Kobayashi hendak jujur terhadap kenyataan, Kani Kosen adalah sastra yang mengandung soalsoal kemanusiaan yang selalu didaur oleh bulatan waktu.

Dalam kata pengantar edisi terjemahan, I Ketut Surajaya, guru besar sejarah Jepang menuliskan;  sejarah tak mungkin terulang, tetapi suasana bathin suatu masyarakat dapat berdaur ulang dalam analogi zeitgeist sosial budaya, politik dan ekonomi. Dan di sinilah keutamaannya, sebuah ideologi tidak selamanya diterjemahkan dalam bahasa yang mengharuskan adanya mobilisasi massa, barisanbarisan panjang barikade, atau sloganslogan yang antikemapanan melainkan dapat hadir dalam bentuknya yang lain; suasana batin.

Dan di sinilah kemungkinannya sebuah karya sastra dapat diterima, ia berbicara dalam bahasanya yang paling halus menyentuh sisi kemanusiaan manusia. Dalam kandungannya, sastra adalah bahasa yang mendahului esensi sebab bahasanya bermain pada batasbatas universalitas. Maka di manapun ketika kenyataan mengalami situasi yang monolog, maka sastra adalah pisau yang mengiris peririsan kulit kenyataan yang mengalami kebekuan.

Setidaknya sifat bahasa sastra yang selalu menolak untuk merambah partikularitas, menunda kenyataan dan sebuah korpus yang terbuka untuk selalu mengalami penafsiran, sehingga seperti “Kani Kosen sebuah Revolusi” tulisan yang lahir dari seorang anak muda Jepang, dan karyakarya sastra lainnya, selama berbicara secara transparan, merekam jejakjejak yang tak terpantau kekuasaan dan mengangkatnya kepermukaan, maka di sanalah keadilan dan kemanusiaan adalah dua hal yang selalu didamba.

28 Juli 2013

Alain Badiou dan Hasrat Kebenaran


Lahir di Maroko pada 17 januari 1937. Pada kisaran tahun 60an mengeluarkan novel dengan judul Almagestes (1964) dan Portulans (1967). Badiou dikenal sebagai seorang filsuf Marxian. Banyak dari artikel yang diterbitkannya kental dengan kerangka Althuserian. Badiou, seperti filsuffilsuf yang terlibat aksi demontrasi di tahun 1968, sempat dilarang untuk memperkenalkan pikiranpikirannya untuk kalangan mahasiswa Prancis karena dianggap berbahaya bagi umum.

Pada tahun 1988, dunia internasional mulai mengenal namanya ketika ia menerbitkan tulisan utuhnya dengan judul L’etre et l’evenement ( Ada dan Peristiwa). Di tahun 1989 bersama Derrida dan Lyotard mendirikan College Internationale de Philosophie. Menjadi professor emeritus pada tahun 1999 di ENS dan mendirikan pusat pengkajian internasional tentang filsafat Prancis kontemporer.

Filsafat di mata Badiou perlu untuk disembuhkan. Filsafat harus melampaui dirinya dan bahasa, sehingga perlu kembali direposisi ke dalam tempatnya semula. Yang mana filsafat harus dikeluarkan dari kemorosotannya sampai harus menghadapi kenyataan yang sesungguhnya. Di mana Badiou ingin mengembalikan filsafat, kebenaran, dan subyek sebagai usaha untuk memahami kenyataan dengan cara yang kritis, sistematis dan radikal.

Bagi Badiou hal yang paling esensial untuk dihidupkan kembali dalam batang tubuh filsafat adalah hasratnya untuk kebenaran. Dalam hasrat kebenaran, filsafat memiliki 4 elementasi; yang pertama adalah revolt (pemberontakan), logis (logika), universalitas dan resiko.

Keempat elementasi ini yang terkandung dalam hasrat kebenaran fisafat harus mampu mengambil tempat pada dunia yang menyingkirkan filsafat sampai pada wilayah pinggiran. Katanya pada suatu tulisannya, dunia saat ini sudah seharusnya membutuhkan filsafat untuk menyelesaikan masalahmasalah yang terkandung disekitaran manusia.

Dalam pembacaannya, semenjak kemunculannya, filsafat adalah ikhtiar yang datang dalam merespon keyakinankeyakinan terdahulu, dimana filsafat adalah bentuk pemberontakan (revolt) di tengahtengah masyarakat untuk mencapai kebenaran murni dengan urutan argumentasi yang logis (logika). Dalam mengatasi keterbelakangan pemikiran yang terdahulu, filsafat menggunakan susunan logika baru untuk mengatasi ketidakadilan yang dimunculkan oleh keyakinankeyakinan sebelumnya.

Dengan cara seperti itu, dengan susunan logis untuk mengatasi keadaan, filsafat akan menyentuh wilayah universal yang berputar pada pengalamanpengalaman konkrit manusia. Dimana disituasi demikian, komitmen menjadi aras yang membawa filsafat pada pengambilanpengambilan keputusan yang keluar dari pengandaianpengandaian umum. Dengan modelnya seperti itu maka dalam filsafat juga disertai resiko yang mengikutinya.

Untuk memulai proyek filsafatnya, Badiou bertolak dari pemikiran Permanides tentang soal ketunggalan dan kejamakan. Bagi Permanides Ada selalu menegasi ketiadaan, sehingga mustahil Ada dan ketiadaan dimungkinkan dalam perwujudannya. Dalam pengandaian ini, asumsi ontologis  Permanides yang merentang dalam diktum rasionalisme dan empirisme disanksikan dengan teori logika himpunan yang dipreferensikan Badiou. Dengan ilustrasi teori himpunan, Badiou berusaha keluar dari genangan cacat yang di yakininya sebagai bentuk pemikiran pseudonetral yang menggejala pada kasus ontologi, dengan membilangkan bahwa Ada dan tiada adalah dimungkinkan dengan keadaan yang berhubungan. Dengan begitu dalam menjawab Ada dan Banyak bisa ditenggarai.

Badiou juga dikenal sebagai pemikir yang serius membincang ontology politik. Baginya situasi politik yang ditawarkan oleh demokrasi liberal saat ini tidak memungkinkan lagi untuk diikuti. Oleh sebab subjek masih dalam situasi yang terpinggirkan. Pemikiran ini berawal dari pemikirannya yang masih percaya terhadap komunisme sebagai antitesa yang mempunyai ideide dasar tentang subjek yang revolusioner.

Mengenai itu, dalam tesisnya tentang hypothesis komunisme, Badiou menawarkan proyek pemikirannya yang bertolak pada “situasi yang tak terlabeli”.  Dalam memperkenalkan pemikirannya, Badiou memberikan eksposisinya dengan mempertanyakan bagaimana manusia harus berada dan pada situasi bagaimanakah manusia berpolitik?

Dari sejenis eksposisi seperti itu, Pemikir Maoist ini memperkenalkan konsep event yang berbeda dengan kejadian politik yang ada dalam situasi poltik demokrasi liberal. Negara dengan konsep kekuasaannya tengah runtuh karena berada pada susunan yang terepresentasi oleh kekuasaan itu sendiri. Baginya subjek, yakni elemen yang mengatasi keberadaannya dari situasi yang melingkupinya harus menggunakan fungsi kesetaaraan dalam rangka mengenal event. Event dalam kacamata Badiou adalah Event, menurut Badiou, adalah momen politik, sebuah momen pemutus yang hanya bisa diraih oleh aktivitas politik – yang membedakannya dengan aktivitas politisi. Event adalah “yang mungkin”, yang keberadaannya telah terpresentasikan. Ia merujuk pada situasi yang luar biasa, yang tak dapat dikalkulasi, dan yang mengubah keadaan secara keseluruhan. Manusia yang mengarahkan perhatian pada Event disebut subjek militan.

Tentang subjek militan, diterangkan disana bahwa event adalah pusat perhatian yang harus dibentuk oleh subjek. Dimana event mengandaikan situasi yang keluar dari logika simbolik yang dibentuk oleh Negara. Oleh karena Negara adalah keberadaan yang dibenci sekaligus dibutuhkan. Maka dari itu, demokrasi sejatinya adalah pemusatan kekuatan subjek militan yang bergerak melintasi pemikiran yang beregerak pada logika demokrasi yang cacat.

Dengan begitu subjek militan haruslah mampu mengatasi situasi yang tercipta dari kekuasaan Negara. Bagi Badiou situasi militant hanya bisa tercipta oleh subjek militant dengan mencipta kebaruan yang mengatasi kebenaran yang selalu nampak pada permukaan kekuasaan Negara. Oleh sebab, politik demokrasi liberal selalu menunda datangnya kebaruan. Maka dari itu, kebaruan adalah momen politik yang harus dihadirkan oleh subjek militan itu sendiri.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...