12 April 2013

Filsafat dan Agama; Dua Persisian

Marilah kita ziarah pada sebuah masa yang telah lampau; alaf waktu medan hidup manusia belum tersentuh dengan label dalam makna modern. Di mana disana formasi sosial belum terdefenisikan lewat jejaring struktur yang terlalmpau kompleks. Di sana, dimensi ruang belum tersekat oleh defenisi kelas social yang ajeg. Hidup masih berjalan pada usaha mencari sesuatu yang hakiki dan ilahiat. Ruang ini; tercipta alam kebebasan untuk mengaktualkan seluruh potensi manusia. Dengan tujuan pencapaian sebuah tata hidup yang harmonis dan kekal. Tempat inilah yang kita kenal dengan tanah Yunani.

Yunani dengan situasinya; model dan ciri karakteristik kehidupan masyarakat yang harmonis, terdapat alam kebudayaan subur untuk tumbuh berkembangnya produk khas dari potensi akliah manusia; filsafat. Potensi yang jauh melampaui dari kepemilikan seluruh mahluk hidup alam semesta. Dengan kemampuan inilah, manusia menerbangkan kepak imajinya untuk menyusuri kelokan labirin yang paling elok, sampai pada yang paling misterius sekalipun. Untuk pertama kalinya, manusia harus mengakui bahwa ada keberadaan yang terhampar luas terbentang di depannya. Sebuah dunia siap untuk dijelajahi. Inilah saat filsafat bermula menjadi jalan manusia untuk mencari makna kebijaksanaan yang hakiki.

Filsafat adalah tradisi pemikiran. Serangkaian “narasi” dimana di sana  bertutur sapa dipertemukan. Terbentang dalam perlintasan sejarah umat manusia. Hendak mencari keterhubungan antara manusia disatu titik dengan “panorama kebajikan” dititik seberangnya; sebuah kebajikan primordial. Bentang relasi yang terdapat usaha sadar antara manusia dengan realitas hakiki. Dengan tujuan mencari kebermaknaan hidup. Filsafat adalah bagaimana hidup bisa selaras dengan tata kosmik.

Filsafat juga bisa menjadi medan lapangan perebutan. Di dalamnya filsafat menjadi daerah pertarungan antara dua wajah antagonistik. Setidaknya ini yang dikatakan Betrand Russell, seorang filsuf Inggris.  Agama dan Sains, persilangan kontrari yang senantiasa menampilkan sebuah epos pertarungan untuk menarik seluruh perhatian manusia. 

Demi memberikan pemecahan dalam membawa manusia untuk mencapai ketinggian harkat dan akal budinya. Maka filsafat adalah ruang netral dimana memasukinya, siapa pun harus bersiap menanggalkan seluruh identitas yang dimiliki. Sekalipun pada ruang-ruang privativ. Melepaskan seluruh nilai subjektiv kemudian bergegas datang dengan kevulgaran. Filsafat adalah daerah yang tak  bertuan; petak ruang yang seringkali dijadikan otoritas dalam menentukan segala sesuatunya pada tafsir yang tunggal.

Dengan demikian, filsafat akan memberikan dan membentuk sebuah sense yang ada dalam manusia, untuk mau menerima seluruh kekurangan dari apa yang kita pahami sebagai hal yang benar. Oleh sebab dalam  filsafat akan kita temukan keanekaragaman yang jamak, sebuah panorama yang saling memberikan warna dari keseluruhan apa yang ada di dalamnya. Sebuah tempat dimana ruang bathin mau tak mau harus menerima wajah-wajah kebenaran yang tak pernah tampil dalam bingkai yang ajeg.

Jika filsafat adalah lapangan yang netral, area yang tak memiliki otoritas kebenaran, maka dengan apakah kita harus memberikan penilaian terhadap  persentuhan kita dengan realitas? Filsafat terkadang menyesakkan. Selalu menyebabkan ketegangan, darinya selalu mengundang dilema-dilema kemanusiaan. Mungkin saja sampai masuk meronrong dimensi bathin; kemapanan iman dan keyakinan

Awal dari tragedi 

Semesta kehidupan manusia bukan petak bujur sangkar tempat  dimainkan dramaturgi. Sehingga laku dan peran sejak azali dilekatkan pada identitas-identitas yang ajeg.  Dengan tokoh yang masuk dalam panggung,  menyuguhkan narasi dengan skenario teater. Bertujuan dengan untuk menyenangkan hati sang sutradara tunggal dibalik layar kendali. Sekali pun tak mampu menjangjangkaunya dengan cerapan indera dan imaji, seperti apa rupa dan kehendak yang di inginkannya.

Peristiwa inilah yang mengundang perdebatan dikalangan filsuf dan ahli kalam dalam mendedah kemuskilan-kemuskilan yang dihadapi. Disana ada dua model corak berfikir yang bertentangan. Dua system berpikir yang masing-masing berbeda pada pem-posisian otoritas kebenaran. Di ufuk yang paling timur, memiliki corak yang ditimpali dengan teks-teks ke-wahyu-an sebagai the one truth dan daya rasio sebagai sekumpulan kubangan doxa-doxa. Sementara pada sebuah era yang telah melepaskan eksistensi manusia pada pemagaran para padri agama dan otoritas sabda kudus gereja, mempertontonkan satu jejaring pemikiran yang bebas menjejalkan kakinya pada penemuan-penemuan baru. Tentu berdasarkan pada kebebasan rasio sebagai pemandu ziarahnya. Salah satu dari dua system berpikir inilah yang diserap dan digunakan pada alam berpikir sebahagian cendikia Islam pada perjumpaannya dengan kultur hellenisme. Datang menggelayungi semesta kehidupan masyarakat Islam pada masanya.

Maka sebutlah epik yang telah tergariskan sejarah manusia, dari masa seorang Socrates harus memilih jalan untuk meneguk racun cemara sebagai keteguhan sebuah pilihan. Iman pada jalan yang senyap dan terjal ditengah-tengah sahabat dan murid-muridnya. Dalam ruang penjara, ia mati. Tangisan pun melepaskannya. Baginya yang paling memiris hati adalah tunduk patuh pada keyakinan yang buta; pada sabda-sabda padri agamawan tanpa kemerdekaan berpikir. Apalagi gagasan yang didasari oleh argumentasi yang tidak kokoh. Nalar yang menelikungi kebenaran. Pada kisah ini, Socrates mencintai kebenaran dengan cara kematian, dibandingkan masuk terpenjat dan dijejali keterasingan yang paling nyata, yakni terpenjara pada iman yang tak jelas.

Pada alaf yang lain, pada waktu yang berselang, kediktatoran agamawan abad pertengahan menjadi marak. Saat dimana penjatuhan hukuman bagi orang-orang yang melakukan bid’ah. Ditenggarai oleh karena melakukan satu kesalahan fatal pada masa itu, kesalahan yang membuat sang terdakwa harus digantung pada tiang pancungan. Sampai terkadang dibakar dalam keadaan hidup adalah hal yang lumrah. Menentang gereja adalah iman yang melenceng. Hanya dikarenakan orang-orang seperti Galileo Galilei dan Copernicus mempertanyakan keabsahan kebenaran yang dianut oleh pihak gereja, tentu mengenai keyakinan pada bumi yang diimani sebagai poros sentral alam semesta.

Pada belahan dunia yang berbeda, Islam telah berjaya. Sebutlah seorang failusuf yang meregang nyawa diusianya yang masih muda, tiga puluh delapan tahun umurnya. Konon ia mati ditangan eksekutor seorang algojo dimasa dimana Islam menjadi agama yang sedang menikmati masa-masa emasnya. Ia syahid sebagaimana apa yang dialami orang-orang sepertinya di zaman sebelumnya. Ihwal yang sama hanya dikarenakan melakukan aktifitas yang dianggap berbahaya; berfilsafat. Yakni melakukan upaya kritis kontemplatif, usaha untuk menemukan realitas yang paling sublim dalam  tatanan wujud alam semesta. Dimana buah dari aktifitas yang dimaksud terkadang membuat gerah orang-orang yang memiliki keyakinan yang mapan. Suhrawardi harus membayar dengan nyawanya demi menegakkan pekerjaan yang paling luhur dari seluruh aktifitas manusia; berkontempasi dalam membangun keimanan yang utuh. 


Tatal; entah kesekekian kalinya, tentang Iman.


Siang ini langit begitu terik. Suara itu datang dengan timbul tenggelam, hampir mendekati jelas penuh. Tapi siapa pun yang kerap  beberapa kali mendengarnya pasti tahu betul siapa milik suara yang hampir mendekati bunyi sengau itu. Suara itu terkadang, di beberapa waktu tertentu berasal dari atas mimbar, tapi kali ini berbeda; suara itu datang dari hanphone atau bisa jadi radio yang diputar pada frekuensi tertentu. Tapi yang jelas suara itu, suara seorang penceramah, saya yakin betul, suara yang saya dengar itu, diseberang rumah yang lapuk itu, suara milik Alm. KH. Zainuddin MZ.

Zainuddin MZ telah wafat, namun bila gajah mati meninggalkan gadingnya, maka Zainuddin MZ mati meninggalkan sepercik iman pada para pendengarnya. Dan hari ini, iman itu datang pada siang yang benderang, yang mana ceramahnya lebih abadi dibanding si empunya. Iman itu datang dan diperdengarkan ditengah keluarga kecil dengan rumah yang mendekati defenisi gubuk itu. Siang ini, di keluarga itu- yang di bawah atapnya terputar rekam suara da’i sejuta ummat itu, yang dibawah atapnya tak ada penandaan akan kesan seperti sebuah rumah selayaknya; TV, Refrigerator, ac, mesin cuci, seterusnya dan seterusnya, yang hampir seluruh bangunannya tersusun atas susun seng-seng bekas- mengisyaratkan bahwa iman bukan soal untuk di perdebatkan, yang mana iman dengan legowo mesti di terima tanpa  harus mengikutsertakan keraguan.

Mungkin iman seperti inilah yang di kehendaki oleh kalangan sufis, iman yang datang dengan tanpa keraguan, sekalipun itu menghendaki penjelasan, sebab iman yang disertai penjelasan adalah iman yang belum penuh seluruh, yang mana kejelasan masih dalam rangkai yang terpotong. Iman dalam  bentuk seperti ini adalah iman yang menerima kehadiran yang ilahiat, dengan tuhan sebagai yang berada pada segala kehadiran yang temporal. Dengan begitu, maka hidup hanyalah bagaimana menjalankan apa yang telah diyakini betul untuk menjalani lakon yang telah diberikan.

Entah apakah keluarga kecil itu tahu, bahwa apa yang mungkin saja mereka yakini pernah menjadi diskursus yang hidup sampai saat ini. Perbincangan tentang hal yang absolut; ihwal yang akhirnya membentuk gugus yang diyakini sebagai pegangan hidup. Iman sebagai pegangan hidup, agaknya bukanlah sebuah kongklusi yang final, yang sebelumnya lahir dari bentuk pikir yang rigoris. Iman seperti ini, nampaknya dimulai dan diakhiri dengan kepastian yang bisa berujung pada konsep yang tunggal, dan sejarah punya kisah tentang itu, bahwa demi yang tunggal itu, manusia membangun tiang pancang dan tembok kokoh untuk melindungi keyakinan yang absolut.

Maka pada keluarga kecil itu, saya teringat tentang sebuah pengertian iman yang lain, bukan iman yang padu kemudian berhenti pada titik yang pasti, melainkan iman yang seringkali harus patah ditengah jalan dan ditata pada langkah yang selanjutnya, dan begitu seterusnya, sebuah jalan yang tak punya ujung, iman yang bukan sekedar komitmen untuk benar, melainkan iman yang sedianya bisa bangkit untuk di susun kembali, dimana merupakan suatu penerjunan diri ke dalam suatu proses yang sepenuhnya berlangsung dalam hidup, dengan segala gejolaknya.

Iman seperti ini, mungkin bukanlah iman yang dipahami sebagai sebentuk pegangangan pasti bagi orang-orang yang menghendaki defenisi. Dimana terkadang dan barangkali sudah jadi sifat defenisi; membatasi. Sebab kita tahu, pekerjaan defenisi menghendaki penyingkiran akan adanya pengertian yang berbeda untuk di universalkan. Dan disinilah sebabnya, sesuatu yang universal menghendaki hilangnya semangat partikularitas. Seperti keluarga kecil itu; iman bukan soal yang rapat dan mapat pada defenisi teologis yang tak menerima perbedaan pengertian iman. Sebab barangkali bagi mereka iman itu sederhana. Seuatu yang tinggal dijalani.[]

Karunrung, 26 Maret 2012.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...