08 April 2013

Kelupaan H di Tengah Madah; Mencari Rumah

Tirulah dari apa yang hendak engkau persamakan. Bukankah peniruan bilamana disana engkau bisa setara. Suatu sanksi jika disana ada keutamaan, sementara dirimu masih berkalang enggan.

Madah, Madah, Madah.

Sastra saya pahami adalah dunia yang menampik untuk tunggal; paham. Bilamana sastra berusaha di mapankan dalam bentuknya yang mono, maka konsepsi hanya bisa mencelos, bahkan bisa jadi tampil dalam bentuknya yang otoriter; rejim pikiran. Sebab konsep terkadang menghendaki jalur yang sempit. Kemapatan antara dua persisian yang mesti rapat; ide dan dunia. 

Maka, sastra bukan saja pada dua tepian realitas, dimana terkadang antara keduanya; imagi dan kenyataan, hanyalah mediasi untuk kedalaman seseorang.

Demikian pula sastra tidak menghendaki adanya kepurnaan. Sebab sastra tidak bertugas untuk memberi konklusi. Dan sastra justru hadir pada tampilannya yang murni; jedah batin yang terputus dari kenyataan. Dan disanalah interupsi diperlukan; kontemplasi. Dimana subjek harus memasukinya; ruang yang menuntut keterpisahan. Bukan dengan konsepsi, melainkan suatu yang bersebarangan dari dan dengannya; ego. Walaupun ia bisa terjatuh pada pemadatanpemadatan dari nilai yang sudah tertanam secara konvensional. 

Dari sanalah barangkali kita bisa memberikan pengandaian terhadap triadikal itu; id, ego dan superego. Yang mana selalu ada yang menghendaki untuk teridentitaskan, membuncah dari kedalaman. Namun pada persentuhan terakhirnya mengharapkan penyesuaianpenyesuaian dengan dunia di luar; hukumhukum. Kemudian disinilah kebebasan biasanya mengandung kompleksitas beserta pengandaianpengandaian yang bersilangan.

'Ma[h]dah mantap,, Matanya.. Matanya tajam...'

Seperti apa yang terlupakan; h. Jatuh dan tibatiba dan rapat pada Madah. Disana, pada Madah, proyeksi tentang kedalaman yang terpenggal begitu saja. Terpotongpotong dalam ruasruas waktu yang santer. H, ia bukanlah bentuk material dari bilik konsepsi. Ia datang begitu tibatiba, serempak meloncati, dan kemudian tetap. Kedatangannya sesuatu yang tak diduga. Perihal yang melintasi tanpa singgah tinggal dalam alam pikir.

'Ma[h]dah berlari,, Ia membelah malam.' 

Saya pernah mendengar ini; waktu internal dan waktu eksternal. Pengandaian ini mengisyaratkan dua peng-alam-an yang berbeda. Dua rujukan yang bersilangan. Bahwa masingmasing memiliki sistem yang berlainan dan saling bernegasi, terus dan terus.

'Ma[h]dah, Ma[h]dah...masih saja berlari setelah kematian di bawahnya; Abah.

Madah bisa saja memilih keduanya, antara rumah inferiornya atau bisa saja bergegas menuju rumah eksteriornya. Namun madah tahu; di luar sana dunia sedang kembang kempis, membangun megah rumahrumah ekterior. Dengan material yang tak pernah ada ditemukan sebelumnya; teknologi, dimana berlombalomba dengan dirinya pada percepatan yang sulit dibendung. Madah sanksi; kita lupa kemana harus kembali, kemana rumah yang harusnya kita datangi.

Pada persilangan waktu; Ma[h]dah masih berlari.

Pare, hari siang 120313

07 April 2013

Chavez


Chavez kritis. Ia bernapas meradang. Kemudian, di pembaringannya ia mangkat. Di usia 58.

Chavez bersusah payah melawan kanker: sakit yang menggerogoti sisa usianya. Beberapa kali operasi berjalan. Dokter terbaik berjibaku. Di rumah sakit Kuba, tempat sekutunya domisili, Castro, menjadi tempat terakhir sebelum akhirnya ia dipulangkan. Venezuela.

Dari atas dipan bilik rumah sakit militer ia masih memimpin rakyatnya. Instruksi-instruksi: bagaimana pun juga pemerintahan harus tetap bergerak. Negara, institusi politik yang ia kuasai tak mengenal ampun. Batapa pun sakit, negara adalah segalanya.

Namun, Selasa di suatu sore, 16.25, waktu berubah genting. Sesuatu mesti dikabarkan. Maduro, wakil Chaves mengumumkan: ”Kami telah menerima sebuah informasi yang paling tragis dan memilukan. Hari ini, pukul 04.25 sore, Presiden Hugo Chavez Frias meninggal dunia.” Suaranya tersedak, wakil presiden itu menangis. Selang detik kemudian Venezuela berkabung.
Chavez telah tiada.

kepergiannya tiada meninggalkan sesuatu selain dua hal: sosialisme dan negaranya tercinta.
Venezuela, seperti halnya negeri-negeri pewaris sosialisme: kesetiaan rakyat, pemerintahan demokratis, dan setiap inci tanah kemerdekaan, mau tak mau memiliki agenda total. Ketika Chavez memerdekakan Venezuela dari komparador kapitalis, sosialisme harus sampai ke rumahrumah warga. Tiada lagi warga melarat. Sosialisme satu-satunya juru selamat.

Syahdan, kolektivisme bukanlah prinsip yang nihil. Chavez belajar dari pengalaman masa lalunya. Kolektivitas adalah sisi terang yang mengatasi kemiskinan. Gagasan ini ia rawat semenjak dari militer. Baginya, militer bukan garis diametral yang menjauh dari entitas tempat mengabdi: rakyat. Militer dipahami sebagai sosialisme yang mengacung moncong senapan kepada penjarah tanah air. Militer sesungguhnya sosialisme berseragam. Ia  mekanisme pertahanan negara menghadapi ancaman apapun. Termasuk jenderal-jenderal sayap kanan berpolah korup. Chavez meyakini militer yang korup adalah musuh kemanusiaan.

Dari sosialisme jenis demikianlah ia hendak menata kembali Venezuela. Kemudian: kudeta militer dikerahkan. Walau akhirnya ia mengumumkan;

”Kamerad, sayang sekali untuk saat ini misi yang kami rancang gagal dijalankan di ibu kota. Beberapa di antara kita yang berada di Caracas tidak merebut kekuasaan. Di manapun kalian berada, kalian telah melakukan hal terbaik, tetapi sekarang adalah masa untuk merenung. Kesempatan baru akan muncul dan negara ini harus diarahkan ke masa depan yang lebih baik.”

Ia gagal.

Ia menunggu sembari menyusun rencana lain.

Venezuela dikeruk aksi pemerintahan korup. Oligarkhi kian liat. Agen-agen neolib bercokol di pemerintahan. Minyak melimpah, namun kemiskinan kian meluas. Saat-saat seperti ini revolusi satu-satunya jalan.

Kini, permasalahannya berbeda. Sosialisme bukan semata-mata rumusan mengelola negara. Bukan jargon yang harus dikhatamkan begitu rupa. Sosialisme tidak bakal tumbuh di tanah kering. Sosialisme tidakuntuk dijiplak.

Dengan kata lain, tidak seperti bangsa phobia perubahan, revolusi harus berangkat dari ingatan terdalam sejarahnya sendiri. Dan sosialisme, pada tafsirnya yang lain, di mana Chavez telah gagal memiliki isyarat: marxisme sudah uzur.

Itulah sebab, sosialisme dibersihkan dari kekolotan Leninisme. Apa yang menjadi aturan pakai, revolusi Venezuela kembali dengan tema besar: Revolusi Bolivarian. Dan akhirnya, dari partai, serempak sosialisme yang dinspirasi revolusi Bolivarian menjadi pekerjaan 24 jam. Kemudian dimulailah agenda besar itu: penyejahteraan berkala.

Hingga kini pasca pengumuman itu, 4000 lebih dewan-dewan komunal menemukan kenyataan, dan bisa jadi masalah; Chavez betul-betul mati.

Spekulasi di balik kematiannya bermunculan. Chavez diracun. Agen CIA dalangnya. Itu asumsi kalangan internal pemerintahan Venezuela. Walau demikian, umur Chavez tak sepanjang sosialismenya. Tanpa Chavez setelahnya, Revolusi Bolivarian bakal dirundung ujian.

Revolusi di manapun adalah batas antara ”yang konservatif” dengan ”yang revolusioner”. Revolusi bagai gerbong yang membutuhkan masinis. Apapun skenarionya mesti ada seseorang berdiri di depan menyisihkan lengan baju. Dan semuanya harus percaya. Tetapi kepercayaan bukanlah tanpa risiko, terlebih ketika sang masinis mangkat tanpa usul pengganti.

Walaupun demikian, bagi negeri-negeri sosialis keyakinan terhadap sosialisme ibarat jubah yang membutuhkan sosok, sekalipun ia sudah mangkat. Sosialisme dan sosok mesti abadi. Ia kedap perubahan.

Seperti Lenin maupun Mao, di Venezuela, sosialisme mau tak mau harus menjadi tubuh yang awet. Tujuannya kelak agar ingatan tak mudah disalib lupa. Sebagai simbol sebagai monumen ingatan. Di negeri sosialisme setiap pemimpin sesungguhnya berumur panjang.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...