21 September 2020

Korona, Tubuh, dan Mutilasi

 

Tubuh era korona adalah korban ”mutilasi”. Setelah berharap agar lebih kebal virus, tubuh dipartisi dari dunia hariannya. Tubuh tidak bisa lagi meruang seperti biasanya. Daya geraknya dipisah-pisah, dibatasi, dan dibagi-bagi ke dalam dunia lebih sempit dan mini. Ia seketika menjadi organ terpotong-potong terpisah dari interaksi sosialnya.  

Singkat cerita, korona ini hari telah menunda, atau bahkan menghentikan kerja organ tubuh ke part-part sosial terbatas.  

Jauh sebelum korona, praktik mutilasi tubuh sudah lama dipraktikkan. Bukan saja dalam pengertian sosial, yakni dari satuan tubuh universal berupa; kelompok, keluarga, komunitas, atau bangsa, yang membuatnya menjadi unit parsial individu per individu, melainkan ke dalam mekanisme “kekerasan” yang dibenarkan melalui ideologi kebudayaan, nasionalisme, bahkan agama. 

Itu artinya, tubuh dalam budaya, atau nasionalisme, atau agama, tidak sekadar dipandang sebagai unit dan bagian dari struktur organistik, yang berfungsi sehari-hari melalui seni, perang, dan ritual agama, tetapi juga menjadi medan kontestasi pemaknaan atas nilai, ideologi, dan kebiasaan yang diadopsi di dalam tradisi masyarakat tertentu.  

Tubuh karena itu, meski kerap dipuja dan diagungkan di dalam narasi kebudayaan, juga bersaing jadi pihak pesakitan dari ideologi sepihak dan tak berimbang. 

Di Cina, atas nama kecantikan, perempuan dari masa lalu menjalankan praktik mutilasi pengecilan telapak kaki. Menggunakan kain panjang berlapis-lapis, anak-anak perempuan  golongan ningrat mesti menahan sakit hebat mengikuti tradisi ikat kaki. Proses itu memakan waktu bertahun-tahun agar membuat kaki menyerupai sekecil kaki kijang.

Hanzi, demikian nama tradisi itu, adalah simbol kelas sosial. Elite bangsawan perempuan Cina, selama berabad-abad menjalankan pratik ini juga untuk meneguhkan kekayaan dan hak elitenya. Kelak, jelang abad 20 praktik ini dilarang otoritas Cina karena tidak sesuai lagi dengan semangat zaman.  

Di negeri semacam Timur Tengah, memberlakukan praktik mutilasi atas dirongan imperatif ”syariat” Islam. Jika suatu waktu Anda berhaji, dan di pasar, terminal, atau juga di rumah-rumah ibadah, menemukan seseorang dengan tangan tinggal setengah, besar kemungkinan ia adalah “tersangka” mutilasi.

Mungkin karena telah mengambil seekor anak domba tanpa izin di perternakan lokal, atau sekantung kurma dari kebun-kebun tuan tanah, membuat si tersangka jadi pesakitan praktik potong tangan karena mencuri.  

Sampai hari ini praktik mutilasi potong tangan di sebagian negara Timur Tengah masih dijalankan—coba ingat, di konteks lain, kasus Jamal Khashoggi, reporter pendukung reformasi Arab Saudi, konon dibunuh di Konsulat Saudi di Turki dengan cara mutilasi—. Meski belakangan ini wacana hak asasi manusia kembali menguat di sana.  

Suatu kawasan di Afghanistan, perempuan-perempuannya mesti menjalankan tradisi turun-temurun berupa hukum kuno ”jilat besi panas” jika ingin mempertahankan harga dirinya.

Banyak kasus perselingkuhan, membuat istri-istri kena tuduh main serong—mesti tidak sepenuhnya benar—harus membuktikan kejujuran menjilat besi panas melalui praktik pembuktian dipimpin seorang syekh. Melalui praktik itu, lidah perempuan tidak melepuh setelah tiga kali menjilat bara besi—yang dilakukan di hadapan suaminya—dinyatakan lolos deteksi, dan telah berhasil mempertahankan harga dirinya di hadapan keluarga patihnya.  

Di suku-suku badui Mesir, praktik jilat besi atau sendok panas itu disebut bisha’h. Tidak saja perempuan, pria-pria yang juga menjadi tersangka tapi tanpa saksi, untuk membuktikan kebenaran ucapannya,  mau tidak mau melakukan praktik ini sebagai pembuktian terakhir. Meski mengandalkan kekuatan spiritual pemangku adat sebagai bukti hukum (evidence), nyatanya praktik ini sering gagal dan memakan korban.

Bukan saja lidah, di pedalaman Papua, suku Dani menjalankan tradisi iki palek demi menggambarkan kesedihan mendalam ketika ditinggal sanak keluarga. Istri-istri suku Dani, jika ditinggal mati mendiang suami, merelakan jari-jari mereka dipotong untuk menarasikan kedukaan mereka.

Menurut anggota suku Dani, menangis saja tidak cukup demi melambangkan kesetiaan dan kesedihan yang dirasakan. Rasa sakit dari memutilasi jari dianggap mewakili hati dan jiwa yang tercabik-cabik karena kehilangan.

Jari adalah simbol persatuan, kekuatan, kerja sama, dan harmoni, begitu filosofi jari suku Dani. Kehilangan satu atau lebih jari, berarti tanda ada kebersamaan yang hilang, guyah, dan sakit.

Di kancah kehidupan modern, mutilasi lumrah jadi praktik ”permak” tubuh. Tidak sedikit perempuan memutilasi bibir, payudara, pipi, dan hidung demi pencitraan dan gengsi. Belakangan, praktis medis ini juga dilakukan para lelaki dengan alasan menempuh gaya hidup ideal.

Kancah kekuasaan juga tidak kalah bersaing. Entah itu atas nama bangsa, ideologi, atau agama, mutilasi adalah pendekatan ”hukum” untuk menciptakan kengerian dan jera masyarakat. Caranya macam-macam; tubuh korban di potong-potong, ditusuk, dipenggal, ada juga bahkan tubuh korban ditarik berlawanan oleh dua kereta kuda sampai putus.

Sir William Wallace, misalnya, pahlawan Skotlandia melawan Raja Edward, dan dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan Inggris.

Saat eksekusi, ia ditelanjangi, diseret menggunakan kuda ke pasar-pasar, digantung hingga semaput, dikebiri, lalu dipenggal dan dipotong jadi empat bagian. Kepalanya ditancapkan di atas tombak dan dipajang di jembatan London, sedangkan anggota tubuh lainnya disebar ke empat penjuru seantero Inggris.

Sejarah Islam juga mencatat, berkat pemikiran-pemikiran kontroversialnya, Mansur Al-Hallaj ulama sekaligus sufi, jadi korban mutilasi otoritas keulamaan abad 9. Sebelum kepalanya, tubuhnya dipotong-potong jadi beberapa bagian sebelum tubuhnya dilempari batu.

Ada pula Maitsam At-Tamar, sahabat Imam Ali, yang digantung di pohon kurma oleh rezim Yazid bin Muawiyah bin Abu Sufyan. Setelah dibunuh oleh Ubaidillah bin Ziad, lidahnya tidak berhenti melantunkan kecintaan kepada Ali bin Abi Thalib. Karena tidak berhenti, lidahnya dipotong—sesuai ramalan Imam Ali—baru Maitsam benar-benar wafat.

Syahdan, mutilasi juga ditemukan dalam peristiwa pembantaian keluarga nabi di gurun pasir Karbala. Tidak jauh berbeda dari hoby kekuasaan autokrasi, mutilasi kepala cucunda Rasulullah, Husain bin Ali jadi puncak kekejaman Rezim Yazid saat itu. Seperti juga Wallace, kepala Imam Husain diarak dan dipamerkan di tempat-tempat umum untuk jadi alat mengincar ketakutan masyarakat Islam.

Begitu.

 

 

29 Agustus 2020

Bung dan Bing, Book Challenge, Bukan Sekadar Mengunggah Sampul Buku!

 ”Pada saat inilah dia sepenuhnya menyerah membaca. Sampul buku tampak seperti peti mati baginya, entah lusuh atau hiasan, dan apa yang ada di dalamnya mungkin juga debu.”

—Alice Munro

Don’t judge the book by its cover. Ini kiasan yang saya rasa tepat untuk melihat kebiasaan sebagaian netizen di linimasa Fb, yang belakangan melakukan aksi bergantian mengunggah buku bacaan meski hanya menampilkan sampulnya saja. Sekadar gaming memang—dan mungkin hanya gimmick, dan ini sah-sah saja dilakukan dengan alasan sebagai cara memeriahkan kecenderungan suka membaca buku yang kian kemari dirasa menjadi satu gaya hidup tersendiri.

Sampul buku bukan segalanya, dan itu tidak berarti ia dapat mewakili kecenderungan positif mengenai suatu komunitas pembaca buku. Dari sampul buku, saya kira, masih sangat jauh dengan isi bukunya, yang membutuhkan kerja jaringan syaraf otak mencernanya, lewat aktivitas membaca, mencatat, dan menganalisis.

Sampul buku hanya halaman depan yang mengandalkan kecanggihan visual berupa teknik grafis dan permainan warna-warni, yang kadang hanya memanjakan mata dan bukan pikiran.

Ia hanya penampakan teknis bersifat sementara, yang memanfaatkan daya visual sebagai liang hasratnya. Itu artinya, cover buku bukan suatu kawah candradimuka yang membuat orang seketika menjadi sakti dengan memiliki pemikiran yang jelimet dan mendalam.

Malangnya, saya tidak yakin, kegiatan saling undang di Fb ini memang mewakili suatu kaum yang betul-betul mencerna isi bukunya. Ya, apa boleh dikata, Fb—dan medsos semacamnya hanyalah medium pencitraan, yang bisa saja mereduksi kenyataan sebenarnya.

Ada suatu masa, bagi seseorang, dengan perasaan mantap, tapi tidak betul-betul serius membeli buku cuma karena desain bungkus depannya yang ciamik. Saya sering mengalami itu dan mengingat pengalaman kali pertama saya saat membeli buku tentang Antonio Gramsci, berkat bujuk rayu penampakan penutup depannya yang mengundang selera.

Cover itu begitu menggoda mata menampakkan gambar karikatural muka Antonio Gramsci, dengan latar belakang kuning—warna utama yang sangat jarang dipakai desainer cover buku sampai saat ini karena terkesan norak.

Gambar itu sudah pasti demikian mencolok di antara deretan buku-buku bertema wawasan sosial saat itu, yang hanya nampak biasa saja dibandingkan latar warna kuningnya yang menyala dari jauh.

Kulit depan buku itu selain gambarnya yang dibuat secara karikatural, juga menampakkan pendekatan lukisan grafiti ala cultural pop, dengan penempatan nama Antonio Gramsci sebagai palang judul. Di atas nama sohor itu, tertera nama penulis bukunya. Kecil saja, tapi  pas ditempatkan begitu. Klop sudah saat itu sebagai buku yang sedap dipandang mata, ketimbang mewakili isinya yang lebih banyak berbicara filsafat politik dan kekuasaan.

Saya ingin katakan di sini, sampul depan hanya bagian pertama dari tempo-tempo penting seseorang kali pertama membeli buku. Itu bagian dari tahap-tahap panjang setelah ia mengetahui nama penulis, membaca sinopsis, daftar isi, kata pengantar, atau memilih sejumlah halaman random, dan kemudian berakhir dalam suasana membaca yang intens yang akhirnya harus ia tuntaskan melalui transaksi jual beli.

Saat itu saya belum lama meninggalkan musim ospek sebagai mahasiswa baru, gagap melihat suasana kota, dan tidak mengalami tahap-tahap semacam itu.

Tanpa semua kegiatan riset kecil itu, yang kerap dilakukan seorang pembeli buku, membuat saya terpancing membeli buku itu semata-mata karena cover yang enak dipandang mata.

Itu artinya, dalam peristiwa itu, saya bukan pembeli dengan sikap dan embel-embel intelektual tertentu atau semacamnya, yang membuatnya berbeda dengan konsumen lain (dapatkah Anda membayangkan ini, bahwa seorang pembeli buku secara tidak langsung memiliki semacam keangkuhan untuk menunjukkan dirinya merupakan bagian dari suatu komunitas elite yang bertugas menjaga peradaban agar tidak rontok).

Itu artinya juga, saya belum mampu mengubah tindakan transaksi jual beli itu menjadi dan masuk ke dalam suatu sikap lanjutan yang jauh lebih dibutuhkan bagi seorang pembaca buku: mendalami dunia teks.

Tepat di titik itulah, jika itu tidak terjadi, maka Anda hanya memperlakukan buku seperti benda-benda etalase toko lainnya. Ia tidak lebih cuma sebagai komoditas pasar yang tidak menghasilkan ekses kebudayaan terutama di bidang literasi.

Di saat itu, penampakan sebuah buku lebih dekat dengan gejolak hasrat yang dibuai persis pengaruh iklan daripada mengartikannya sebagai benda bergagasan yang menantang secara pemikiran.

Meski buku adalah benda intelektual, ia lebih istimewa daripada hanya melihatnya sebagai benda pajangan, yang  mentok pada pandangan mata belaka (visual)—jembatan pertama godaan setan mekanisme pasar—ia justru sebenarnya merupakan benda yang menjadi bahan baku bagi terciptanya pandangan dunia seseorang (konseptual).

Membaca buku dan mengunggahnya di media sosial, alih-alih dapat disebut sebagai kegiatan sinonim dan berkelanjutan. Membaca buku merupakan bagian integral dari proyek pendalaman suatu wacana. Ia kerap dibarengi dengan aktivitas mencatat istilah atau kalimat penting, memberikan tanda halaman, membuka kamus, bahkan sampai mencoret di bagian-bagian yang dirasa penting dengan menulis catatan di marjinnya. Tidak jarang kegiatan ini lebih daripada sekadar membaca diakibatkan membutuhkan banyak waktu untuk melunasi suatu tuntutan dari hasrat ingin tahu seseorang.

Membaca akhirnya merupakan kegiatan yang intens dan radikal. Ia mungkin mirip dilakukan tokoh Carlos Brauer, si penggila buku dalam Rumah Kertas karangan Carlos Maria Dominguez, yang setiap membaca membutuhkan kurang lebih dua puluh buku karena dihubungkan oleh satu istilah di antara buku-buku terkait. Kita seolah-olah sedang membaca kamus, yang setiap arti katanya membawa kita kepada satu rujukan kata baru yang mesti digali kembali, dan begitu seterusnya.

Sementara kegiatan mengunggah buku, Anda tahu sendirilah apa sebenarnya motif para netizen, yang tidak semua melakukan kegiatan di atas. Mungkin sebagiannya seperti laku  bibliofil dalam Rumah Kertas: ”Orang-orang ini (bibliofil) ada dua golongan….pertama, kolektor, yang bertekad mengumpulkan edisi-edisi langka…..edisi pertama buku-buku Borges sekaligus artikel-artikel di majalah-majalah; buku-buku yang dicetak oleh Colombo, disunting oleh Bonet, sekalipun mereka tak pernah membuka-bukanya selain untuk melihat-lihat halamannya, seperti orang-orang mengagumi sebuah objek indah.”

Kategori ini, yang disebut hanya mengagumi buku sebagai objek indah, besar kemungkinan  akan berakhir memperlakukan buku seperti peti mati: di dalamnya ada objek tidak berdaging dan hanya tersisa debu-debu. 

Tapi, tidak semuanya demikian, sebagiannya mungkin digerakkan oleh motif luhur untuk mempengaruhi netizen agar lebih giat membaca buku, atau mendorong suatu komunitas agar lebih getol bersuara atas nasib bangsa yang kian tersedot di dalam budaya politik praktis. Alih-alih ini akan menjadi kegiatan book shaming, alangkah baiknya jika dua alasan itulah yang patut kita sangkakan kepada orang-orang ini.

Toh, kegiatan yang disebut book challenge ini, jika betul-betul ingin disebut demikian—agar terhindar dari snobisme, akan jauh lebih menantang jika gagah-gagahan unggah-unggahan massal itu berakhir mantap di atas secarik kertas. Mau apalagi, kalau sudah selesai membacanya ya, dipungkasi dengan meresensinya to!?

07 Agustus 2020

Esai Seri Kritik Pendidikan (5): Dari Scola ke Keluarga: Siasat Bertahan Era Korona

 (Proses belajar mengajar belakangan ini, menimbulkan banyak keluhan para orangtua siswa dikarenakan proses belajar dari rumah tidak dapat dilaksanakan dengan baik. Banyak orangtua siswa mengeluh, peralihan mengajar yang berpusat dari guru ke dan melalui screen gawai, menimbulkan masalah teknis berupa miskomunikasi, turunnya konsentrasi belajar, gaptek teknologi, dan bahkan ada yang mesti meminjam gawai tetangga agar dapat melaksanakan proses belajar mengajar. Ini hanya satu dari banyaknya masalah dalam bidang pendidikan saat ini. Mau tidak mau, sekolah dan konsep belajar hari ini mesti dievaluasi ulang untuk menemukan rumus yang pas agar menyelamatkan sekolah dari gulung tikar. Selain tulisan di bawah ini, di sini saya sertakan empat tulisan ringkas mengenai masalah pendidikan kontemporer: Esai Seri Kritik Pendidikan (1): Scola Materna, Esai Seri Kritik Pendidikan (2): Frantz Fanon, Luce si Murid Unggulan dan Sekolah Merdeka, Esai Seri Kritik Pendidikan (3): Nasib Kelas 4.0 dan Esai Seri Kritik Pendidikan (4): Sekolah Lewat Radio. Tulisan yang lebih panjang--masih menyoal pendidikan-- dapat dibaca di Pendidikan dan Aib: Takdir Hidup si Automaton. Untuk versi rekam-suaranya dapat didengarkan di Seri critical pedagogy)


KEHIDUPAN pasca modern adalah zaman simulakrum, begitu pendakuan Jean Baudrillard, sosiolog abad kini. Analisis Baudrillard ini ditandai oleh dua alasan. Pertama, di masa akan datang—yang artinya saat ini—kehidupan masyarakat akan banyak dimediasi perangkat berteknologi canggih, di mana salah satunya adalah alat komunikasi. Kedua, peralihan dari kehidupan modern ke pascamodern, akan berdampak kepada cara orang berkomunikasi melalui simbol, tanda, bahasa, dan kode yang mereduksi makna komunikasi itu sendiri.

Saat ini, Covid-19 belum mampu dienyahkan, dan membuat banyak perubahan—atau memperdalam cara masyarakat melihat diri dan masyarakatnya. Tidak cukup pergantian kalender, Covid-19 mengubah persepsi tubuh manusia menjadi lebih kritis. Tubuh kali ini tidak lagi dibiarkan bergerak bebas. Sekarang ia mesti disiplin dan tunduk pada protokol kesehatan. Salah sedikit, suatu komunitas masyarakat bakal terancam.

Di bidang ekonomi, kebutuhan rumah tangga dan industri sedang ditinjau ulang. Covid-19 bagai invisible hand ala Adam Smith, yang mengatur atau mereset kebutuhan-kebutuhan primer, sekunder, dan tersier yang selama ini salah diartikan saat kehidupan normal. Kelangkaan dan distribusi barang, yang semula dihitung berdasarkan tingkat konsumsi suatu kawasan, kini mesti mempertimbangkan unsur ketahanan pangan yang bakal mempengaruhi pola konsumsi masyarakat.

Masyarakat benar-benar mesti mempertimbangkan matang-matang menyangkut kebutuhan karsanya, mengingat meski di keadaan kenormalan baru, tren penderita Covid-19 makin naik. Kegiatan-kegiatan semisal menonton film, kopi darat, membaca buku, berdiskusi, ngopi di café-café, dan berbelanja di pusat perbelanjaan harus diperhitungkan baik-baik. Jika kebutuhan ini masih bisa dialihkan kepada kegiatan-kegiatan berskala rumah tangga, maka kegiatan macam di atas lebih baik ditunda dulu.

Praktis kegiatan berbudaya seperti di atas, kini kembali ke makna asalnya ”bercocok tanam mengolah tanah”. Cultura yang menjadi asal kata culture, saat ini dipelipirkan di sebidang tanah di taman atau kebun belakang rumah. Kegiatan bercocok tanam, entah itu berkebun atau merawat tanaman hias, jadi gaya hidup baru menggantikan kegiatan pelesiran di atas.

Selain bidang-bidang kehidupan di atas banyak berubah, pandemi saat ini mendorong timbulnya kebiasaan baru di bidang pendidikan dan pemerintahan, yang mesti lebih akrab dengan teknologi komunikasi informasi. Saat ini muncul kesadaran baru benda-benda teknologi gadget dan smartphone, dapat juga dimanfaatkan lebih maksimal ke dalam dunia pendidikan dan pemerintahan.

Perubahan semua gejala di atas, mempertajam kesadaran masyarakat agar lebih intens menggunakan screen gawai sebagai wakil kenyataan. Interaksi berskala besar yang membutuhkan banyak waktu dan tempat, kini lebih mudah dimediasi layar smartphone, meski di saat bersamaan ada reduksi kenyataan yang terjadi.

Seperti misal, dalam proses belajar mengajar belakangan ini, yang menimbulkan banyak keluhan para orangtua siswa dikarenakan proses belajar dari rumah tidak dapat dilaksanakan dengan baik. Banyak orangtua siswa mengeluh, peralihan mengajar yang berpusat dari guru ke dan melalui screen gawai, menimbulkan masalah teknis berupa miskomunikasi, turunnya konsentrasi belajar, gaptek teknologi, dan bahkan ada yang mesti meminjam gawai tetangga agar dapat melaksanakan proses belajar mengajar.

Proses belajar mengajar yang diperantai gawai canggih, setidaknya memerlukan dua persyaratan teknis bagi orangtua murid, yakni kecakapan menggunakan smartphone, dan kecakapan dalam mengajari anak sesuai instruksi guru. Yang pertama, tidak sedikit orangtua murid yang masih gaptek memanfaatkan beragam aplikasi belajar mengajar yang sarat isian dan pilihan menu yang tidak friendly dari segi interfacenya. Toh, jika masalah ini dapat teratasi, banyak pula orangtua murid yang mengaku butuh adapatasi untuk lancar menggunakan aplikasi belajar berbasis internet ini.

Masalah kedua adalah kecakapan orangtua murid yang minim atau tidak ada sama sekali dari segi pengalaman mendidik anak akibat ketergantungan mutlak kepada institusi sekolah. Di lini masa media sosial, banyak keluhan orangtua berupa kemarahan, kekecewaan, dan bahkan sampai ke tingkat stress sekaligus depresi, akibat ripuh menghadapi anak di rumah. Keluhan para orangtua ini cukup beralasan dikarenakan perubahan mendadak dari pola asuh selama ini dititikberatkan kepada pihak sekolah, kini mesti dibebankan kepada orangtua di rumah.

Masalah dihadapi orangtua ini, selain karena dalam hal pengasuhan anak sangat bergantung kepada institusi sekolah, mengalami bias saat mendefenisikan sekolah dan pendidikan. Sekolah dan pendidikan bukan hal identik meski saling beririsan. Bagi orangtua, hanya sekolah satu-satunya lembaga yang mampu memberikan pengasuhan dan pengajaran bagi anak-anak mereka. Terdidik tidak terdidiknya anak mereka, sekolah-lah satu-satunya indikator mutlaknya.

Padahal dalam sejarahnya, malah sebaliknya terjadi. Sekolah awalnya muncul dari pola pengasuhan keluarga yang memanfaatkan waktu luang demi mengembangkan pemahaman dan wawasan. Kegiatan memanfaatkan waktu luang demi ilmu ini oleh orang Yunani sebut sebagai skhole, scola, scolae, atau schola, yakni dengan cara mendatangi orang pandai yang dapat menjawab permasalahan-permasalahan hidup mereka.  Dari sinilah kebiasaan itu dilakukan juga kepada anak-anak, agar kelak mampu mengganti sang ayah atau ibu dengan cara menyerahkannya pada seorang cendekia agar dilatih, bermain, dan belajar sesuatu dari apa yang mereka anggap penting.

Maka sejak saat itu telah beralih sebagian fungsi pengasuhan berbasis ibu dan keluarga (scola matterna), yang merupakan lembaga pertama dan tertua sosialisasi nilai-nilai, menjadi pola pengasuhan anak di waktu senggang di luar rumah, sebagai pengganti ayah dan ibu (scola in loco parentis). Kelak institusi atau lembaga pengganti keluarga ini, karena berfungsi sama seperti pola pengasuhan ibu,  akan dinyatakan sebagai alma matter  (ibu yang memberikan ilmu).

Ulasan singkat ini menegaskan sekolah sebenarnya berakar dari pola pengasuhan berbasis keluarga, atau perpanjangan tangan ayah dan ibu untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak mengenai apa saja berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan penting dalam hidupnya. Itu artinya, selama keluarga pati masih bisa melakukan fungsi-fungsi pengasuhan, mendidik, dan bermain, dan semua itu dilakukan di saat waktu luang secara bebas dan kreatif, maka itulah sekolah sebenarnya.

Pandemi korona meski banyak mendatangkan kerugian, di satu sisi mengembalikan kegiatan-kegiatan ”kepublikan” menjadi kegiatan berbasis ”rumah tangga” yang memang dalam sejarahnya memerlukan ”keluarga” sebagai fondasi utamanya. Bukan saja sekolah (scola), tengoklah pengertian awal dari ekonomi (oikonomikos) yang berarti tata kelola kebutuhan rumah-tangga yang bergantung pada pengelolahan ladang, dan juga kegiatan budaya (cultura) seperti sudah disinggung sebelumnya.

Dari awal, Jean Baudrilard pernah merumuskan gejala-gejala masyarakat pascamodern ke dalam situasi simulakrum yang mengandalkan simbol, tanda, bahasa, dan kode sebagai pengganti kenyataan, di era pandemi ini, selain mengalami situasi itu, masyarakat kembali ke era ketika keluarga menjadi fondasi dari segalanya.

Dengan kata lain, kegiatan ekonomi, berbudaya, dan berpendidikan di era sekarang ini sangat bergantung kepada ketahanan keluarga sebagai modal sosial paling tua dan kuat ketika menghadapi cobaan dan ancaman.

Sebelumnya, keluarga sangat bergantung pada tatanana yang lebih besar dari dirinya berupa komunitas,  masyarakat, atau negara, agar ia bisa eksis dan bertahan. Sekarang, karena korona semua berbalik. Struktur tatanan semacam negara-bangsa sekalipun sangat bergantung kepada rumah tangga agar dapat selamat dari krisis multidimensi seperti waktu kini. 


Tayang pertama kali di Belopainfo.id


06 Agustus 2020

Esai Seri Kritik Pendidikan (4): Sekolah Lewat Radio

 

(Proses belajar mengajar belakangan ini, menimbulkan banyak keluhan para orangtua siswa dikarenakan proses belajar dari rumah tidak dapat dilaksanakan dengan baik. Banyak orangtua siswa mengeluh, peralihan mengajar yang berpusat dari guru ke dan melalui screen gawai, menimbulkan masalah teknis berupa miskomunikasi, turunnya konsentrasi belajar, gaptek teknologi, dan bahkan ada yang mesti meminjam gawai tetangga agar dapat melaksanakan proses belajar mengajar. Ini hanya satu dari banyaknya masalah dalam bidang pendidikan saat ini. Mau tidak mau, sekolah dan konsep belajar hari ini mesti dievaluasi ulang untuk menemukan rumus yang pas agar menyelamatkan sekolah dari gulung tikar. Selain tulisan di bawah ini, di sini saya sertakan tiga tulisan ringkas mengenai masalah pendidikan kontemporer: Esai Seri Kritik Pendidikan (1): Scola Materna, Esai Seri Kritik Pendidikan (2): Frantz Fanon, Luce si Murid Unggulan dan Sekolah Merdeka, dan Esai Seri Kritik Pendidikan (3): Nasib Kelas 4.0 . Tulisan yang lebih panjang--masih menyoal pendidikan-- dapat dibaca di Pendidikan dan Aib: Takdir Hidup si Automaton. Untuk versi rekam-suaranya dapat didengarkan di Seri critical pedagogy)

 


BEBERAPA waktu lalu beberapa postingan di efbi mengkepcur sebuah tampilan layar tivi. Isinya adalah tangkapan siaran berita dari stasiun Tivi Wan, yang bagi saya bagus dijadikan solusi bagi proses belajar mengajar anak-anak didik di masa kini: seorang perempuan—mungkin guru—terlihat sedang menyiar—atau tepatnya sedang mengajar. Ya, tampilan layar itu saya duga kuat sedang melaporkan seorang guru yang sedang mengajar memanfaatkan frekuensi radio.

Kenapa itu tidak dipikirkan sebelumnya, pikir saya. Saya beranjak dan menyampaikan apa yang saya lihat itu kepada Lola. “Nih ada solusi keren”, kata saya sambil mengutarakan apa yang saya lihat. “Iya, bagus tapi ini tidak ramah dengan gaya belajar selain gaya belajar auditori,” kata Lola beberapa saat setelah ia mencerna info dari saya. “Iya juga sih, tapi tetap saja ini satu hal yang patut dicoba. Tidak perlu kuota dan tidak susah karena bahkan hape ‘kullu-kullu’ punya menu radio fm. Ini lebih mudah dan praktis.”

Sejak kemarin setiap pagi saya lebih suka menyetel radio. Mendengarkan lagu-lagu dari salah satu stasiun radio lokal. Tiba-tiba saya ingat kembali hal di atas. Mengapa itu tidak dicoba didorong sebagai salah satu alternatif belajar. Mengapa itu tidak disambut bahkan oleh pemerintah, yang akan lebih kuat jika itu bisa dijadikan solusi dikarenakan ditunjang dengan aturan.

Ya, mungkin itu solusi yang agak berlebihan dan sulit diaplikasikan karena jam, mata pelajaran, dan angkatan kelas yang tidak seragam masing-masing sekolah.

Tapi membayangkan di jam-jam tertentu ada program “sekolah” atau “kelas” yang mengudara dari ratusan atau ribuan pemancar radio, yang membuat jutaan anak-anak mendengarkan pelajarannya dari seorang guru yang berlagak mirip penyiar, kan keren?

Itu satu solusi yang bukan tidak mungkin bisa dilakukan. Dibanding jika semuanya mesti melalui gadget yang harganya mahal, dan tidak semua memilikinya. Sampai-sampai terjadi kasus seorang ayah yang ditangkap mencuri handphone demi pembelajaran daring anaknya. Duh!


05 Agustus 2020

Esai Seri Kritik Pendidikan (3): Nasib Kelas 4.0

(Proses belajar mengajar belakangan ini, menimbulkan banyak keluhan para orangtua siswa dikarenakan proses belajar dari rumah tidak dapat dilaksanakan dengan baik. Banyak orangtua siswa mengeluh, peralihan mengajar yang berpusat dari guru ke dan melalui screen gawai, menimbulkan masalah teknis berupa miskomunikasi, turunnya konsentrasi belajar, gaptek teknologi, dan bahkan ada yang mesti meminjam gawai tetangga agar dapat melaksanakan proses belajar mengajar. Ini hanya satu dari banyaknya masalah dalam bidang pendidikan saat ini. Mau tidak mau, sekolah dan konsep belajar hari ini mesti dievaluasi ulang untuk menemukan rumus yang pas agar menyelamatkan sekolah dari gulung tikar. Selain tulisan di bawah ini, di sini saya sertakan dua tulisan ringkas mengenai masalah pendidikan kontemporer: Esai Seri Kritik Pendidikan (1): Scola Materna, Esai Seri Kritik Pendidikan (2): Frantz Fanon, Luce si Murid Unggulan dan Sekolah Merdeka, dan tulisan yang lebih panjang--masih menyoal pendidikan-- dapat dibaca di Pendidikan dan Aib: Takdir Hidup si Automaton. Untuk versi rekam-suaranya dapat didengarkan di Seri critical pedagogy)

 

UNESCO menyebut angka 1.725 miliar pelajar di dunia “menganggur” karena terdampak korona. Sekolah ditutup. Ini sebabnya.

Itu artinya, saat ini banyak orangtua yang beralih fungsi menjadi guru—disamping mengurusi hal-hal domestik rumah tangga.

Itu juga artinya, masalah dunia pendidikan jadi makin kompleks. Satu masalah baru, karena menggunakan alternatif kelas daring, muncul masalah di daerah-daerah. Karena akses internet tidak merata banyak anak-anak sulit belajar. Toh jika akses mencukupi, itu bisa ditemui di bubungan atap, di atas gunung, atau naik di pohon-pohon tinggi.

Tapi, bagaimana jika handphone saja tidak ada? Masalahnya makin runyam lagi.  

Masalah ini beririsan pula dengan problem klasik: masalah ekonomi. Kuota! Ya, ini sekarang masalahnya lagi. Berjam-jam duduk di depan layar tidak sedikit membutuhkan pengeluaran untuk membeli kuota. Provider senang, masyarakat malang!

Bagaimana dengan negara? Kemendikbud jadi sorotan. “Bagi-bagi duit” pangkal soalnya. Dua ormas besar keagamaan dan pendidikan menarik diri dari penyelenggaraan program POP. Proses penentuan ormas yang berhak mendapatkan bantuan tidak transparan. Masa perusahaan rokok ikut masuk mendapatkan bantuan dana yang —menurut istilah Kemendikbud—  selevel “kelas gajah”. Apa hubungan perusahaan rokok dengan pendidikan—selain makin banyak pelajar suka merokok di balik tembok sekolah!

Kemarin, dapat info salah satu kampus negeri di Makassar mulai semester baru tidak lagi menggunakan tenaga dosen LB. Anggaran tidak cukup. Kampus memperkecil “lingkaran” ikat pinggangnya. Terjadi perampingan anggaran.

Salah satu kawan bercerita—yang sehari-hari mengajar di kampus swasta yang tidak begitu terkenal di Makassar—gajinya selama mengajar saat korona juga belum dibayarkan. Ia sadar diri, itu terjadi mungkin karena ia belum sepenuhnya menyelesaikan kelas yang diampunya. Ia katakan di tengah jalan kelasnya berhenti karena kesulitan menutupi ongkos kelas daring. Sekarang ia sedang menyiapkan kelasnya yang sempat tertunda. Biar bagaimana pun kelas yang diampunya mesti diselesaikan seluruhnya, meski mahasiswanya mengeluh soal ini itu.

Kemarin juga, seorang dosen gaek mengeluh. Belajar daring tidak menjamin mahasiswa betul-betul ikut “kelas”. Ia katakan mahasiswa sekarang makin cerdik. Absen setelah itu pergi dengan meninggalkan kesan seolah-olah sedang mempelajari materi yang diberikan—yang susah payah dibuat dosen tua akibat gaptek teknologi.

Saat menulis ini, saya kembali mengambil buku tentang homeschooling, berusaha memikirkan bagaimana jika gagasan seperti ini direfleksikan ulang di keadaan kini. WHO—lembaga yang bikin ketar ketir—sudah menyatakan ke publik: korona akan berlangsung puluhan tahun!


04 Agustus 2020

Esai Seri Kritik Pendidikan (2): Frantz Fanon, Luce si Murid Unggulan dan Sekolah Merdeka


(Proses belajar mengajar belakangan ini, menimbulkan banyak keluhan para orangtua siswa dikarenakan proses belajar dari rumah tidak dapat dilaksanakan dengan baik. Banyak orangtua siswa mengeluh, peralihan mengajar yang berpusat dari guru ke dan melalui screen gawai, menimbulkan masalah teknis berupa miskomunikasi, turunnya konsentrasi belajar, gaptek teknologi, dan bahkan ada yang mesti meminjam gawai tetangga agar dapat melaksanakan proses belajar mengajar. Ini hanya satu dari banyaknya masalah dalam bidang pendidikan saat ini. Mau tidak mau, sekolah dan konsep belajar hari ini mesti dievaluasi ulang untuk menemukan rumus yang pas agar menyelamatkan sekolah dari gulung tikar. Selain tulisan di bawah ini, di sini saya sertakan dua tulisan ringkas mengenai masalah pendidikan kontemporer: Esai Seri Kritik Pendidikan (1): Scola Matterna, dan  tulisan yang lebih panjang--masih menyoal pendidikan-- dapat dibaca di Pendidikan dan Aib: Takdir Hidup si Automaton. Untuk versi rekam-suaranya dapat didengarkan di Seri critical pedagogy)

 

BELUM lama ini, saya baru saja menonton Luce (2019), film drama yang lumayan membingungkan dikarenakan menyisipkan banyak tanda tanya di hampir setiap adegannya. Mimik muka, intonasi suara, gerak tubuh, dan tentu juga dialognya, adalah hal-hal detil yang mesti diperhatikan lebih seksama untuk  memahami jalan cerita film besutan Julius Onah ini.

Luce dari sudut tertentu adalah film tentang pendidikan—atau berlatar kehidupan sekolah yang menyorot kehidupan siswa siswi di sekolah tingkat atas: kegiatan belajar, konflik, ambisi siswa, solidaritas kelompok, persahabatan, kehidupan asmara, dan relasi murid-guru.

Luce bercerita tentang anak cerdas kulit hitam di sekolah menengah atas, yang dikhawatirkan akan berbuat ”sesuatu” pasca Harriet Wilson (Octavia Spencer), seorang guru sejarah dunia, menugaskan murid-muridnya menulis esai tentang tokoh sejarah.

Luce Edgar (Kelvin Harrison Jr.)—seorang siswa cerdas dan bintang sekolah—menulis esai tentang Frantz Fanon, filsuf sekaligus tokoh revolusioner Pan-Afrika, yang mengangkat gagasannya terutama ide-ide pemberontakan Fanon mengenai kekerasan yang dinyatakan dapat menjadi pengendali dalam tatanan dunia.

Esai ditulis Luce itu membuat cemas Harriet, yang mengkhawatirkan gagasan pemberontakkan ala Fanon tengah bersemayam di benak Luce.

Bagi, Harriet, esai itu bukan sekadar tugas biasa, yang ditulis seorang bintang sekolah, melainkan suatu penanda bahwa suatu ide-ide radikal bakal mempengaruhi cara pandang orang seperti Luce.

Luce sebelum diadopsi pasangan suami istri Amy Edgar (Naomi Watts) dan Peter Edgar (Tim Roth)—yang merawatnya seperti anak sendiri dengan memberikan kehidupan dan pendidikan terbaik bagi Luce— adalah anak yang lahir dan tumbuh berkembang di Eritrea suatu tempat yang disebut sedang dilanda konflik dan perang berkepanjangan.

Kemiskinan dan kehidupan anak-anak liar adalah dua hal yang membentuk Luce sejak kecil: sulit diatur, denial, dan asosial. Dengan latar belakang demikian, Harriet berkeyakinan ”sesuatu” bakal terjadi dengan Luce, dan itu akan merusak masa depan Luce yang cemerlang. Ya, Luce diproyeksikan sebagai murid percontohan sekolah, ia bahkan menjadi murid favorit guru-gurunya, dan mendukungnya untuk belajar sampai ke tingkat lebih tinggi.

Kecurigaan, atau lebih tepatnya ketakutan Harriet semakin menjadi-jadi pasca ia menemukan kembang api ilegal berdaya ledak besar di loker Luce—ia mengambilnya tanpa sepengetahuan dengan cara menggeledah loker Luce, yang berarti melanggar privasi, sesuatu yang sangat dijunjung tinggi di negeri semacam Amerika Serikat.

Dari sini konflik bermula yang melibatkan kecurigaan, prasangka, dan emosi, antara Harriet dengan Luce, dan antara Luce dengan kedua orangtuanya—setelah Harriet memanggil Amy, ke sekolah, khusus menceritakan kecurigaan dan temuan kembang api Luce.

Konflik ini praktis menjalar kemana-mana, merongrong kepercayaan Amy dan Peter Edgar terhadap Luce, yang terkejut dengan sisi misterius Luce setelah kasus esai dan kembang apinya, dan kemudian membuat Luce terlempar ke titik asing dan ganjil di hadapan kedua orangtuanya.

Karena film ini berlatar kehidupan sekolah, terutama konflik antara guru dan murid (orangtua), maka refleksi-refleksi atas film ini—menurut saya—dapat dihubungkan dengan isu-isu pendidikan  terutama jika dilihat dari kacamata critical pedagogy (pendidikan kritis).

Harmoni dan perubahan

Term harmoni, untuk tulisan ini, lebih tepat diganti stabilitas, jika itu dipandang dari sudut pandang Harriet, guru yang mengkhawatirkan Luce bakal terpengaruh gagasan pemberontakan Frantz Fanon. Dalam hal ini, Harriet mendukung paradigma kehidupan yang lebih mementingkan stabilitas dari pada perubahan, meskipun itu belum tentu bakal mengancam tatanan yang sudah ada. 

Dari kacamata critical pedagogy, Harriet mewakili kemapanan sekolah, yang melihat Luce sebagai ancaman, terutama ketika Luce menulis esai dengan mengangkat tokoh sekaliber Frantz Fanon.

Itu artinya, kemerdekaan berpikir dan kebebasan mengutarakan gagasan, yang menjadi inti pendidikan liberal, yang dilakukan Luce, kontraproduktif dengan pandangan pendidikan sekolah yang mengutamakan stabilitas dan kemapanan.

Anda boleh menulis apa saja, tapi jangan menyasar hal ihwal yang bisa mengganggu kemapanan sekolah, begitu kira-kira aturan main tersembunyi dalam benak Harriot.

Perubahan (social change) bagi tatatanan yang mengandalkan keharmonisan, akan dianggap menganggu dan anomali. Dalam konteks pendidikan atau sekolah tempat Luce belajar, itu berarti gagasan Fanon yang ditulis Luce adalah hal berbahaya bagi tatanan. Sekolah dalam hal ini, dapat dikatakan institusi yang ikut mengekalkan status quo masyarakat. Ia menjadi lembaga, yang boleh jadi mewakili pandangan kelas tertentu, agar ide-ide perubahan tidak mengubah kepentingan yang sudah lebih awal disepakati.

Rasialisme

Penting untuk juga menyorot Luce dan Harriet, sebagai orang kulit hitam yang mewakili suatu kaum, dan kedua orangtua Luce yang berlatarbelakang kulit putih. Sepintas akan kelihatan bahwa film ini tidak ada masalah dengan rasialisme dengan mengangkat latar belakang keluarga Peter Edgar dan Amy Edgar yang mengadopsi Luce, seorang anak kulit hitam.

Dari segi ini, patut memerhatikan detil adegan atau cara pandang DeShaun (Brian Bradley) saat ia terlibat pertengkaran dengan Luce, mengenai di mana keberpihakan Luce apakah membela Deshaun— teman Luce yang dihukum karena kedapatan mengonsumsi ganja—yang notabene murid kulit hitam, atau mengedepankan prestasinya yang dipuja sekolah, yang dinilai representasi masyarakat kulit putih.

Meski adegan itu cukup sepintas dan seolah-olah hanya pertengkaran antara dua remaja anak SMA, refleksinya dapat ditarik dari pandangan pasca-kolonialisme. Luce bisa dikatakan mengalami dilema identitas antara latar belakangnya sebagai kulit hitam dengan kehidupan barunya yang lebih mewakili kebiasaan, cara berpikir dan merasa, melalui pengasuhan dan dididikan berdasarkan keluarganya yang berlatar masyarakat kulit putih.

Ini sama dengan apa yang dikatakan Fanon sendiri melalui bukunya: Black Skin, White Mask, tentang gejala alienasi akibat superioritas masyarakat kulit putih saat memandang rendah masyarakat kulit hitam yang mengakibatkan orang kulit hitam mesti melihat dirinya dari kacamata masyarakat kulit putih.

Kesalahan mengidentifikasikan diri ini, tidak saja berlaku pada kegiatan berdimensi politik, dan ekonomi, melainkan besar pengaruhnya pada dimensi kebudayaan, yang dalam konteks film ini dapat dikerucutkan pada aspek pengasuhan melalui keluarga dan pendidikan sekolah.

Luce adalah contoh—jika dapat mewakili bangsa-bangsa kolonial—mengenai bisa langgengnya suatu penjajahan disebabkan kekuasaan atas nama ras atau bangsa, dapat berlangsung dengan waktu yang lama dan tidak disadari melalui penciptaaan situasi ketergantungan (hegemoni) terhadap bangsa yang lebih superior melalui pendidikan dan kebudayaan.

Refleksi

Institusi pendidikan berupa sekolah atau perguruan tinggi, melalui critical pedagogy dilihat sebagai institusi yang berdiri dan beroperasi atas tuntutan imperatif ideologi dominan. Itu artinya intitusi pendidikan bukan lembaga yang kebal dari tarik ulur kekuasaan dalam dimensi politik dan ekonomi.  Ia, menurut analisis Bourdieu dan Foucault, senantiasa menjadi medium kepentingan elite tertentu dan kekuasaan untuk menciptakan situasi normal demi mendukung kepentingan bersangkutan.

Di tanah air, selain dari pada kemiripan di atas—kampus dan sekolah yang mewakili pandangan kekuasaan—juga menjadi lembaga yang mengalami liberalisasi dan swastanisasi, yang menyebabkan pengelolaan keduanya menjadi korporasi. Imbasnya, kegiatan pembelajaran, penyusunan kurikulum, penelitian, seminar, pengabdian masyarakat, kegiatan organisasi, dan pengambilan kebijakan, berubah orientasinya yang semula mengarah ke pengembangan peserta didik dan ilmu pengetahuan, menjadi sekadar pencarian profit material belaka.

Dalam suasana demikian, ketika pendidikan dikapitalisasi dan dipolitisasi, wacana atau gagasan yang bermuatan politis, atau berdimensi perubahan sosial, akan dideteksi sebagai ancaman bagi stabilitas institusi pendidikan. Di kampus, kontrol atas wacana, kegiatan organisasi, peredaran buku-buku kritis, dan seminar-seminar berorientasi perubahan akan dicap sebagai kegiatan ilegal. Dosen atau mahasiswa yang terlibat dengan kegiatan serupa akan diidentifikasi sebagai ancaman yang perlu dihambat karier dan studinya.

Di sekolah-sekolah, penggambarannya lebih mengerikan lagi. Murid-murid dilatih membaca dan menulis sesuai intruksi guru yang berposisi sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Murid akan dianggap menyimpang jika menunjukkan gejala berlainan apabila ditemukan melakukan improvisasi atau pengembangan pendekatan dalam memecahkan suatu soal. Sistem dikte yang masih ditemukan di sekolah saat ini, merupakan metode kontrol pikiran agar murid dapat digolongkan ke dalam satuan-satuan yang seragam dan serupa.

Dari kacamata pasca-kolonial, sekolah sangat berpotensi melanggenggkan pandangan inferior sebagai bangsa terjajah. Sekolah atau perguruan tinggi, jika tidak segera mengembangkan sendiri pandangan filosofi dan pendekatan pembelajarannya, yang berangkat dari kesadaran mandirinya, akan selamanya menjadi alat tidak langsung dalam mentransmisikan pandangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang mengkultuskan Barat sebagai kiblat kemajuan.

Sekolah-sekolah dengan posisi seperti itu akan terus melahirkan generasi berkepribadian kerdil dan terasing, dikarenakan diajarkan dan dididik dengan cara sesuai pandangan, perasaan, dan hasrat pihak penjajah. Dengan kata lain, merdeka belajar atau kampus merdeka, yang sering kita dengarkan sekarang hanyalah menjadi slogan politik semata apabila masalah mengenai ”kepribadian” sebagai bangsa  berdaulat belum dituntaskan dari awal.


03 Agustus 2020

Esai Seri Kritik Pendidikan (1): Scola Matterna


(SEKOLAH kali ini mesti dirumuskan ulang. Terutama strategi saat menghadapi korona. Jika korona tidak berakhir dalam waktu dekat ini, maka bisa saja sekolah akan tidak ada. Atau setidaknya pertemuan tatap muka, yang selama ini dilakukan bakal bergeser ke layar smartphone. Jika begini, masalah pendidikan akan makin banyak. Salah satunya adalah masalah kultural tentang interaksi siswa dengan teknologi canggih. Sebelum itu terjadi, di bawah ini adalah dua tulisan tentang pendidikan, yang ditulis di waktu berdekatan. Tulisan yang lebih panjang--masih menyoal pendidikan-- dapat dibaca di Pendidikan dan Aib: Takdir Hidup si Automaton. Untuk versi rekam-suaranya dapat didengarkan di Seri critical pedagogy)
 

FONDASI pendidikan, kini, jadi makin runyam. Akibat korona berkepanjangan, sekolah nyaris rontok. Buku absen salah sedikit tutup buku. Guru dan siswa meripuh. Kepala sekolah sampai menteri, bekerja memburu waktu memikirkan rumus kebijakan yang tepat. Jika semua salah antisipasi, sekolah akan tinggal gedung kosong dan halaman upacara yang melompong.

Tapi, untung saja, sekolah hari ini tidak ingin kehilanga muka. Berkat teknologi informasi komunikasi, dan juga cara bersiasat dengan keadaan, kebijakan menteri Pendidikan dan Kebudayaan mendorong para guru mengajar online jarak jauh. Tidak sekadar mengajar seperti biasa, kegiatan ini  mesti dilambari cara mengajar kreatif dan inovatif dibandingkan keadaan sebelumnya—implikasi ”merdeka belajar”.

Omong-omong soal belajar online, sadar tidak sadar, para guru di era digital dikepit dua tuntutan sekaligus: kebijakan ”merdeka belajar”, dan sudah pasti, berhadapan dengan beragam jenis medium pembelajaran maya.

Mau tidak mau, saat semua serba digital, para guru mesti berjibaku ”melawan” beragam aplikasi belajar dengan misi sekolah virtual. Sebut saja beberapa aplikasi semisal, Rumah Belajar, Kelas Pintar, IndonesiaX, dan Ruang Guru, yang getol bersosialisasi melalui hampir di semua jaringan televisi, dengan keanggotaan tenaga didik yang difasilitasi peralatan canggih saat membuat video tutorial belajar.

Walaupun Kemendikbud sudah bekerja sama dengan aplikasi-aplikasi semacam itu, dengan maksud meringankan kerja sekolah dan guru, namun tetap saja, tugas-tugas guru tidak otomatis menjadi lebih mudah.

Di saat menjalankan tugasnya, para guru akan bersaing dengan ”guru-guru” digital yang lebih friendly dan praktis saat menjelaskan materi belajar. Secara teknis, dalam jangka waktu lama, persaingan ini akan mengubah posisi dan peran kultural guru sekolah. 

Lama kelamaan—yang makin dirasakan—guru-guru akan bernasib sama dengan profesi semisal tukang pos atau teller bank, yang hilang diganti oleh medium teknologi informasi canggih. Meski ini prediksi para ilmuwan sosial, tetap saja zaman kekinian menunjukkan tanda-tandanya. Dua di antaranya sudah disebutkan di atas: kemunculan aplikasi belajar, dan kecenderungan digitalisasi sekolah.

Itu satu soal, terutama yang dirasakan sekolah di kota-kota maju, yang notabene lebih memadai segi infrastruktur ketimbang sekolah-sekolah di pelosok. Jika guru-guru di kota sengit bersaing merebut posisi pedagogis dengan beragam aplikasi canggih tutorial belajar, di desa-desa atau pelosok, masalahnya lebih parah lagi.

Jaringan tidak merata adalah masalah tersendiri di desa-desa. Belum lagi faktor ekonomi masyarakat desa tidak seperti keluarga masyarakat perkotaan. Anak-anak di desa masih berada dalam kondisi belum begitu intens terpapar gawai, yang berbeda dari anak-anak perkotaan bahkan tidak sedikit sudah memiliki smartphone sendiri. Dikarenakan ini, timbullah inisiatif sekolah mengirim guru-gurunya turba (turun ke bawah), datang berkunjung dari rumah ke rumah mengajar langsung mengatasi kelangkaan dan ketidaktahuan pemanfaatan smartphone.

Seperti juga institusi publik lainnya, mengatasi kerunyaman di atas, sembari meringankan beban  sekolah, kini mau tidak mau, sekolah terlihat mengandalkan satu-satunya lembaga sosialisasi tertua dan pertama untuk menjalankan fungsi pedagogisnya: keluarga.

Ya, ketika kini banyak lembaga-lembaga publik berhenti, atau membatasi aktivitasnya—termasuk sekolah—keluarga adalah satunya-satunya entitas terakhir yang diharapkan bisa menjalankan agenda-agenda publik selama ini. 

Sekolah, memang awalnya tumbuh bersama keluarga. Terutama dari kegiatan waktu luang keluarga. Dulu orang Yunani antik, di waktu luangnya, terbiasa berkunjung ke seorang cerdik pandai untuk berkonsultasi mengenai banyak hal. Tidak sekadar berkonsultasi, dari ”kongkow-kongkow”  itu mereka berdialog tentang segala ikhwal yang muncul dari pertanyaan-pertanyaan penting menyangkut eksistensi kehidupan mereka.

Kongkow-kongkow di waktu senggang itulah yang oleh orang Yunani sebut  sebagai scole atau scola (skolae: Latin, school: Inggris), yang arti harfiahnya memang ”waktu luang”.

Lambat laun, keluarga-keluarga pati ini menurunkan kebiasaan ber-scola kepada anak-anak agar dapat menggantikan posisi mereka jika sudah dewasa.

Kenyataannya, kegiatan ini makin sering dan menjadi kebiasaan umum, dan mengubah sebagian fungsi pengasuhan keluarga sebagai scola matterna (pengasuhan ibu) menjadi scola in loco parentis (pengasuhan di luar rumah yang memanfaatkan waktu senggang), yang dilakukan  di bawah bimbingan cerdik pandai selama waktu luang tersedia bagi anak-anak. 

Kelak, lembaga-lembaga yang meneruskan sebagian fungsi pengasuhan keluarga ini—sekolah atau perguruan tinggi—akan disebut alma matter (ibu asuh yang memberikan ilmu).

Sekarang, saat ruang kelas kosong, ketika ”waktu luang” melimpah, dan perhatian belajar anak tertuju di atas layar smatrphone, coba tengok di dalam rumah-rumah, apakah keluarga masa kini masih mempertahankan fungsi scole-nya atau tidak?

Ketika pandemi institusi sekolah masih terhambat di soal-soal teknis, apakah keluarga sudah memiliki ”agenda-agenda” tersendiri yang setara untuk mengganti model belajar di sekolah?

Apakah keluarga saat ini, karena perubahan situasi tiba-tiba, tidak memiliki sama sekali pedagogi alternatif yang bisa diterapkan dalam lingkup kehidupan keluarga? Apakah para orangtua bersukacita dapat lebih dekat dengan anak-anaknya untuk bermain dan belajar?

Dengan kata lain, apakah para orangtua, di saat ini, masih bisa mengubah keluarganya menjadi scola matterna

Jika tidak, apa sebenarnya yang terjadi, mengingat banyak keluhan—ada yang sampai depresi dan bunuh diri—orangtua murid akibat sekolah mesti ”dirumahkan”?

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...