18 Juli 2020

Apa yang Bisa dihasilkan oleh Sains

SAYA marah, karena bertindak bodoh. Pohon lengkeng yang saya pelihara berminggu-minggu mulai dari biji hingga mencapai sekira 30 cm, kini layu dan daunnya gugur satu persatu.

Saya marah karena kini pohon itu tergeletak begitu saja, di antara kesegaran bunga asoka, lidah mertua, lemon, pohon cabai, dan beberapa bunga yang tidak saya tahu akan menyebutnya dengan nama apa.

Saya marah dan menjadi orang konyol, setelah dua minggu lalu, pasca membakar sampah berkas-berkas tumpukan kertas, menggunakan sisa debunya untuk pohon lengkeng yang saya kira bisa mengganti sekam atau pupuk. 

Tapi, ternyata tindakan saya itu salah. Dua hari setelah itu beberapa helai daun mulai layu dan berubah menjadi cokelat.  

Saya marah, dan makin marah, oleh sebab rasanya semuanya sudah terlambat. Sejak mengetahui beberapa daunnya layu, tidak sesegera menyisihkan debu pembakaran kertas yang saya duga kuat menjadi penyebab mengapa sekarang pohon lengkeng itu bagai tanaman hias ranting, kering dan kaku. 

Saya marah, saya kecewa. 

Setiap orang pasti pernah bertindak bodoh. Dan kali ini saya akui itu telah saya lakukan, untuk kali kedua, dengan menyiram pohon lengkeng yang layu itu dengan air setiap pagi dan sore agar sesuatu terjadi setelahnya.

Seakan-akan, melalui tanaman itu saya sedang menunggu datangnya mukjizat, sama seperti umat nabi Isa yang menunggu keajaiban agar orang-orang yang telah mati, ia hidupkan kembali hanya dengan cara mengusap muka sang mayat. 

Saya berharap, seperti mayat Nabi Isa, pohon lengkeng itu bangkit dari kematiannya. Segera hidup dan tumbuh seperti sedia kala.

Begitulah keyakinan, karena tak terjangkau akal sehat, terkadang datang beriringan dengan kebodohan. Setelah semua usaha dilakukan dan segala prediksi telah habis dalam daftar percobaan. 

Kebodohan memang tidak pernah kita sangka kapan akan menjadi dasar tindakan seseorang, yang justru membuat orang bertindak seenaknya, tanpa dasar yang pasti dan mendorong orang berbuat sesuatu di luar dari pengetahuannya. 

Untuk ini, saya sama sekali tidak mengingat ajaran sains sederhana dalam Ilmu Pengetahuan Alam yang pernah diajarkan bertahun-tahun lalu. Suatu bab khusus yang mengajarkan mengenai unsur hara apa saja yang bisa mendukung kesuburan tanah. Apa perbedaan arang dengan sekam dari tanaman organik dengan kertas yang sudah diolah sebelumnya. Semua itu praktis tidak muncul dalam ingatan saya, yang berarti mungkin saya pernah lalai dan melewatkannya saat pelajaran IPA dipelajari.  

Anda tahu, kata orang Jerman, pendidikan adalah sesuatu yang Anda ingat setelah yang lain Anda lupakan. Itu artinya, tidak semua pengetahuan yang sudah Anda raih di sepanjang usia Anda bakal Anda ingat selamanya. Ada pelajaran yang otomatis lenyap seiring usia kian bertambah, dan ada pelajaran, betapa pun itu sekarang jadi kurang berarti, akan tetap Anda bawa bersama amal-amal Anda sampai ke liang lahat nanti.  

Ingatan karena itu, sebenarnya suka pilih kasih, terutama jika itu berkaitan dengan hal-hal yang berkesan.

Saya sekarang masih mengingat peristiwa ketika menjuarai lomba menggambar saat usia saya belum puluhan di  masa TK dulu, hingga detail peristiwanya hanya karena itu sangat berkesan di hati saya. Anda tahu, kerja otak itu akan sangat berperan jika gaya  belajar Anda membuat kesan yang mendalam dari apa yang Anda pelajari. 

Belajarlah dengan melibatkan emosi, kata ahli psikologi, karena dengan itu otak akan mengingat apa-apa yang Anda respon dengan perasaan. 

Seperti peristiwa TK di masa silam, otak saya juga masih mengingat dengan baik gambar-gambar di mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, terutama yang berkaitan dengan penjelasan Charles Darwin tentang bagaimana alam menyeleksi organisme makhluk hidup di dalamnya. 

Dan sudah pasti, juga tentang suatu peristiwa berjuta-juta tahun lalu, sebelum para malaikat mencatat dosa-dosa manusia, tentang suatu peristiwa yang disebut “ledakan besar”, yang menandai asal usul alam semesta. 

Tentu, yang saya ingat di sini adalah seekor jerapah—dan juga teori Big Bang— yang mengalami evolusi dari lehernya yang sependek leher kuda hingga memanjang menyerupai batang kelapa itu. Ini, dijelaskan teori evolusi, berlangsung dalam jangka waktu yang panjang hingga beribu-ribu tahun lamanya. 

Bisa Anda bayangkan sepanjang masa itu, hanya jerapah lah, dan bukan kuda, gajah, atau sekelompok rusa, yang suka rela mendongak-dongakkan kepalanya melawan sinar matahari hanya demi dedaunan di pucuk tertinggi pepohonan. 

Hal inilah yang membuat leher jerapah tumbuh seinci demi seinci selama bertahun-tahun, saat ia beradaptasi dengan kelangkaan makanan di lingkungannya.

Untuk ini, seperti cara kerja para ilmuwan, saya kerap berhipotesis, bulu mata jerapah yang lebih tebal dan panjang dari hewan sejenisnya berfungsi untuk menghalau sinar matahari saat ia menjulurkan mukanya menghadap matahari.

Anda boleh tidak percaya ini, sama seperti Anda tidak suka jika dikatakan keturunan kakeknya kakek kita, dari moyang kakek kakek kakek kita, terus sampai jauh ke generasi awal, dilahirkan dari rahim seekor kera. 

Tapi begitulah, teori ini gampang diingat karena itulah yang masih tersisa dari pendidikan kita, yang kebetulan ketika itu diajarkan sangat mengganggu keyakinan iman kita.

Selama ini dari mulut orangtua, kita diajarkan agar percaya bahwa kehidupan dimulai saat nabi Adam turun dari Surga, dan sejak saat itu beranak pinak selama bertahun-tahun sebelumnya hidup terpisah dengan Siti Hawa.

Dari pertemuan setelah terlempar jauh saling terpisah, lahirlah dua anak Siti Hawa bernama Qabil dan Habil (dalam versi injil Cain dan Abel) yang menjadi bapak-bapak pertama kita, dan bukan kera seperti yang diajarkan selama ini. 

Itu semua, karena itu berkesan, hanya karena saat itu otak kita menerimanya bekerja bersama emosi, bersama perasaan. 

Dengan kata lain, semua ajaran sains itu, gampang kita diceritakan ulang karena ia dikontraskan dengan kepercayaan iman kita. Ia diajarkan tepat saat kita masih anak-anak, suatu usia yang masih berkembang atas dorongan emosional daripada dimensi kognitifnya. 

Tapi, bukan berarti karena itu belajar hanya cocok ketika di masa kanak-kanak. Dan, juga sesuatu yang melibatkan emosi adalah selamanya buruk. 

Di titik ini saya yakin, Thomas Alva Edison, penyempurna lampu bohlam, bukan bekerja semata-mata atas dorongan kognitifnya, sesuatu yang dalam filsafat Cartesian, didorong oleh kesadaran yang bertumpu kepada Cogitonya, melainkan suatu tilikan perasaan yang teramat penting, yaitu gairah untuk mencetuskan suatu penemuan besar dan abadi. 

Karena itulah, dicatat dalam sejarah kehidupannya, Edison sering terpuruk hampir setiap saat dalam eksperimen berkali-kali, dan akhirnya di suatu percobaan yang kesekian kalinya, ia berhasil menemukan apa yang ia ingin temukan; berhasil memasang lampu listrik untuk kali pertama yang dipakai di jalan-jalan; menyempurnakan mesin telegraf yang lebih baik; menemukan fonograf; menemukan mesin proyektor; berhasil mendeteksi pesawat terbang; pendeteksi kapal selam; penemu jaring pemberhenti peluru torpedo; menciptakan kapal kamuflase… 

Jika bukan karena gairah, temuan-temuan di atas tidak akan pernah terwujud,  dan tidak mungkin lahir kata-kata yang terkenal seperti ini: dari 99 kali kegagalan dan satu penemuan, setidaknya saya bisa tahu bagaimana 99 cara untuk menjadi gagal. Jika bukan karena keterlibatan emosi yang besar, tidak bakal mungkin bagi Edison meneruskan percobaan-percobaan yang lebih banyak kegagalannya itu.

Orang-orang biasa, jika diperhadapkan ke dalam peristiwa Edison, pasti sudah akan mundur, kecewa, dan marah. 

Ilmu pengetahuan tidak bekerja atas dasar kemarahan, melainkan suatu gairah atas penemuan-penemuan yang membangkitkan inspirasi. Ia dimulai dari hipotesis, dugaan-dugaan yang lahir dari rasa ingin tahu paling dalam manusia, kemudian dari itu ada prosedur-prosedur percobaan, eksperimen-ekperimen, yang dilakukan terus menerus untuk menguji hipotesis apakah benar atau sebaliknya. 

Semua itu, akan bertahan dan dilakukan terus menerus tanpa bosan, karena ada perangai ilmiah, yakni suatu sikap untuk mencari tahu sesuatu melalui suatu prosedur penelitian demi menemukan kebenaran baru. 

Tetangga saya memiliki pohon lengkeng yang sudah ia tanam selama tiga tahun. Awalnya saya mengira itu adalah pohon mangga. Ia pernah mengatakan, selama setelah ditanam, tidak pernah sekalipun pohon lengkengnya itu berbuah. Jawaban yang membuat saya kaget saat mendengarnya.

Membayangkan itu, saya makin penasaran mengapa lengkeng sulit tumbuh apalagi menghasilkan buah, terkhusus di lingkungan rumah saya, yang menjadi bagian suatu wilayah tertentu, yang notabene memiliki karakter tanah yang khas, suhu udara di atas rata-rata, iklim yang tidak menentu, dan metode penanaman dan perwatan yang tiap tumbuhan pasti berbeda-beda.

Lengkeng di pasar-pasar swalayan termasuk buah yang berharga tinggi. Setara dengan betapa sulit cara merawat dan menanamnya.

Marah-marah memang tidak baik. Apalagi jika terjadi pasca  bertindak bodoh. Saya marah, dan harus diakui itu setelah saya bertindak bodoh. Dan kali ini sains tidak ada di situ.


11 Juli 2020

Yang Fana Adalah Waktu, Kebodohan Abadi


”Kini dikatakan, mukjizat telah berlalu; kini kita punya orang-orang yang berfilsafat, untuk membuat hal-hal yang supranatural dan tanpa sebab menjadi sesuatu yang modern menjadi biasa saja.”

–Shakespere dalam “All’s Well That Ends Well”, dikutip dari “Pasti” Goenawan Mohammad.

 

SETIAP sebagian orang pernah bertindak bodoh. Hatta sekalipun ia diberikan mukjizat untuk menghindarinya, ada saat sepersekian waktu ia kehilangan kendali dan melakukan hal-hal di luar akal sehat. Jika Anda mengganti kata bodoh dengan kata kejahatan, maka bejibun perilaku bodoh dapat Anda sebutkan. 

Dunia pernah menyaksikan lahirnya tragedi genosida yang dimotori seorang Hitler, munculnya fasisme di Italia oleh Musollini, rezim diktator Pinochet di Chile, dan Suharto sendiri sebagai orang yang kian kemari makin agung dalam benak sebagian orang.

Mereka ini, tidak pernah duduk di dalam satu perjamuan meja politik, tapi memiliki kesamaan yang nyaris absolut. Jika orang melakukan kebodohan seringkali dalam waktu yang singkat, baik Hitler sampai Suharto melakukan kebengisan dalam jangka waktu yang panjang.

Di masa lalu, kejahatan di bangsa ini mudah ditemukan. Anda akan tercengang dengan perilaku Orba yang belum berumur panjang sudah melakukan kejahatan atas nama supremasi negara. Jika Anda paham maksud saya, maka Anda pasti tahu bahwa yang saya maksudkan adalah pembumihangusan beribu-ribu penduduk Indonesia karena dianggap menjadi antek-antek Partai Komunis Indonesia.

Hitler, Anda tahu, merupakan pemimpin yang jenius, meski kejahatannya lah yang teramat diingat: melenyapkan sekaum manusia karena percaya keunggulan masyarakat  hanya ditentukan oleh faktor genetik. 

Kedua pemimpin ini, saya katakan lagi, tidak pernah duduk berdua di dalam satu momen percakapan seperti Soekarno dan Che Guevarra pernah melakukannya di masa silam. Meski demikian, seperti juga kebaikan dapat ditemukan di mana-mana, kejahatan juga berlaku sama. 

Hitler yang percaya supremasi negara hanya bisa kokoh jika diisi orang-orang ras  sama dan unggul, sampai repot-repot mengidentifikasi seluruh rakyat Jerman ke dalam dua kategori melalui apa yang dinamakan Formulir A dan Formulir B. Seandainya Anda hidup di masa Hitler sedang kesetanan, dan di dalam darah Anda tidak sama sekali mengalir darah Arya, maka Anda wajib mengisi Formulir B yang berarti telah siap digotong di kamar gas beracun untuk dienyahkan.

Suharto, kurang lebih sama, memakai cara serupa untuk menggolong-golongkan penduduknya dengan formulir bebas komunisme dalam kategori A, B, dan C. 

Semasa kuliah, entah dengan tujuan apa, saya pernah diharuskan mengisi surat keterangan bersih diri yang sebenarnya bagian dari program Orde baru ini. Satu hal yang saat itu aneh karena disiplin ilmu  saya, yakni sosiologi, mau tidak mau pasti mempertautkan banyak teori-teorinya ke dalam pemikiran Karl Marx, orang yang menjadi pusat dari komunisme itu sendiri. 

Jika Hitler membunuh rakyatnya ke dalam kamp konsenstrasi khusus, tidak sulit mengatakan bahwa Suharto juga memperlakukan hal yang mirip dengan mengasingkan beribu-ribu penduduk bagai kriminil jauh di Pulau Buru, Maluku. 

Semua contoh-contoh kejahatan ini, adalah kata lain dari kebodohan yang kebetulan menggunakan dimensi politik sebagai alat legitimnya. Saya kira itulah satu masalahnya, dalam politik, kebodohan sekalipun dapat berfungsi maksimal karena distempel oleh kekuasaan absolut.

Politik seperti juga sains lainnya, memiliki rumusan-rumusan tertentu, pola-pola tertentu, dan hukum-hukum tertentu, yang bisa demikian cair dan tidak bisa diprediksi oleh karena seluruh asumsi teoritiknya diterapkan ke dalam kehidupan bernegara yang serba berubah. 

Walaupun demikian, politik memiliki aturan main yang didasarkan kepada perspektif filsafat tertentu, yang apa pun itu pasti diatur oleh kemampuan berpikir logis. Dengan kata lain, ia didukung oleh penalaran ketat sesuai hukum-hukum penalaran.

Tapi, ada saatnya politik justru hanya sekadar alat, dan kebodohan atau itu adalah kejahatan, mendapatkan porsi besar sebagai katalisatornya. Itu artinya, sekalipun politik adalah jenis sains tertentu, ia kerap tidak bermanfaat di tangan orang-orang bebal.

Saat ini, jika Platon berabad-abad lalu mengidealkan filsuf kepala sebagai pemimpin negara yang paling baik, maka di masa modern, tidak saja filsuf, orang seperti Hitler atau Suharto bisa bertindak di luar akal sehat politik.

Dengan kata lain, ada sepersekian saat, di balik dimensi kekuasaannya, baik Hitler atau Suharto, digerakkan oleh pikiran canggih, tapi sebenarnya adalah kebodohan oleh karena bukan sekadar oleh satu keyakinan, melainkan kenapa keyakinan itu wajib diyakini. Apa dasarnya, apa gagasan utamanya, dan apa pula perangkat gagasan yang menjadi alat nalarnya. Dan, seringkali, di balik semua itu, justru bukan hal-hal yang masuk akal lah yang mendasarinya. Malah itu kerap berupa takhayul, mitos, fantasi, legenda, cerita fiksi, kekhawatiran berlebihan, atau bahkan fanatisme.

Manusia di saat tertentu dalam hidupnya banyak menghabiskan waktunya untuk menciptakan cerita untuk ia yakini. Adakalanya untuk hal ini dia pergi ke tempat-tempat jauh untuk menemukan sensasi imajinatif demi menunjang ceritanya. Dia bertemu banyak orang, banyak kebudayaan, dan perkamen-perkamen masa lalu di saat dia mulai menyadari, cerita yang diyakininya juga banyak diyakini oleh orang lain lewat puisi, legenda, falsafah, mitos, agama, bahkan sains.  Kadang untuk hal ini, manusia pada akhirnya juga pelan-pelan mulai sadar, narasi yang dikembangkannya juga tidak sepenuhnya benar dan masuk akal. 

Tidak saja di tiga abad sebelumnya, sampai sekarang, ilmu pengetahuan masih terus berjaga-jaga dari pola pikir yang berdasar dari jenis pikiran yang sulit dipertanggungjawabkan. Agama sekalipun kerap mendapat tudingan dari sains sebagai biang kerok wadah subur pemikiran-pemikiran klenik. Meski demikian, baik sains, agama, filsafat, dan juga sastra, kian kemari sama-sama berpeluang dapat melahirkan orang-orang bebal dan fanatik.

Yang jadi soal bukan yang mana lebih unggul dari yang lain, berupa pendekatan dan narasi apa yang disediakan dari masing-masing bidang keilmuan, meski satu di antaranya terlihat lebih baik di saat-saat tertentu, dan membuat yang lain mesti menyingkir untuk sementara, dan begitu sebaliknya di keadaan yang lain lagi.

Sekarang, Suharto sudah tiada menyusul Hitler yang lebih dulu mangkat. Dunia dengan kemaruknya seperti sekarang ini, untungnya hanya melahirkan satu Hitler dan satu Suharto di masa silam. Kejahatan mereka juga sekurang-kurangnya sudah tidak terlalu berefek, kecuali bagi para korban yang berhubungan langsung dengan perilaku politik mereka di masa lalu.

Walaupun demikian, bukan berarti kejahatan mereka ikut lenyap ditelan tanah kubur. Kiwari, sekali lagi, sangat gampang menemukan kebodohan, fanatisme, dan orang-orang bebal, seperti sama gampangnya menyebutkan seperti apa cara para penguasa itu mengakhiri hidupnya.


30 Juni 2020

Debat Sains vs. Agama: Usaha Menghindari Dukun-Dukun Cerdik

”Sejarah telah membuktikan bahwa pemisahan sains dari keimanan telah menyebabkan kerusakan yang tidak bisa diperbaiki lagi. Keimanan mesti dikenali lewat sains; keimanan mesti tetap aman dari berbagai takhayul melalui pencerahan sains. Keimanan tanpa sains akan berakibat fanatisme dan kemandekan. Jika saja tidak ada sains dan ilmu, agama, dalam diri penganut-penganutnya yang naif, akan menjadi satu instrumen di tangan-tangan para dukun cerdik.”

–Murthada Muthahhari dalam Manusia dan Agama.

 

BELUM lama ini kita melihat debat panjang mengenai sains vs. agama antara A.S Laksana dan Goenawan Mohamad, yang berujung menyeret pemikir-pemikir Indonesia seperti Nirwan Ahmad Arsuka, F. Budi Hardiman, Husein Herianto, Ulil Absar Abdala, dan sejumlah tokoh lainnya.

Debat yang terjadi di platform facebook ini agak ganjil, mengingat medan debat intelektual yang notabene sering ditemui di koran, jurnal, atau makalah, sekarang terjadi di linimasa FB bercampur dengan beragam status “cetek”, saling tumpang tindih, datang hilang timbul tenggelam akibat tanda suka tidak suka.

Meski demikian, mungkin ini karena pengaruh abad digital, semuanya lebih mudah ditempatkan di dalam semesta lini masa medsos tempat segala mata netizen tertuju. Mengapa bukan di Twitter atau Instagram debat ini terjadi? Saya kurang paham selain karena mungkin, hanya di Facebook lah banyak ditemukan netizen ”tua” yang banyak menyukai perdebatan bergizi ini—di platform media sosial semisal  Twitter atau Instagram, yang kebanyakan penggunanya adalah generasi milenial, cenderung lebih suka kepada masalah-masalah keseharian yang lebih populer dan massal.

Di satu sisi, kita dibuat kelimpungan mengikuti gonta-ganti kritik satu sama lain. Kritik dibalas kritik, dibalas kritik atas kritik, dibalas kritik atas kritik atas kritik. Begitu seterusnya, sampai akhirnya pangkal soalnya jadi kabur dan bercabang-cabang.

Sisi baiknya, selain menjadi pembelajaran bagi publik, setidaknya ini menjadi panggung berpikir ulang untuk melihat kembali relevansi sains dan agama bagi kebutuhan mendesak masyarakat di Tanah Air, yang belum sepenuhnya dirasakan.

Saat hajatan pernikahan, orang-orang lebih percaya dukun pawang hujan dari pada prediksi badan metereologi mengenai cuaca cerah atau bakal akan turun hujan. Saat ujian akhir sekolah, anak-anak kedapatan membawa jampi-jampi ketimbang belajar matian-matian seperti sikap para ilmuwan. Saat… saya kira terlalu banyak contoh yang menunjukkan seringkalinya masyarakat masih berperangai “klenik” ketimbang berperilaku saintifik.

Perilaku saintifik atau sebaliknya, belakangan sangat mudah diidentifikasi saat bangsa ini menghadapi Covid-19, meski ada saat-saat tertentu ketika perilaku klenik ikut serta dilakukan demi atas nama upaya mengurangi efek korona. Dari kaca mata ini, kita bisa mafhum, bangsa ini belum sepenuhnya keluar dari cara pandang yang lebih memercayai peran orang-orang penganut bumi datar, dan bukan sebaliknya.

Saat lebaran tahun ini, tidak sedikit mimbar-mimbar masjid mesti dikosongkan, walaupun di waktu bersamaan, laboratorium-laboratorium kian banyak diisi kesibukan virologi; meneliti virus, menetapkan kriteria, dan menarik kesimpulan-kesimpulan dari percobaan tiada henti.

Fakta masjid-masjid yang kosong, meski menjadi tertib sosial yang mesti ditempuh, akibat momentum hari raya yang suit dibendung, tidak sedikit membuat satu dua masjid dibuka untuk melaksanakan salat id secara berjamaah. Di kompleks-kompleks perumahan, nampak pula inisiatif warga membuat lapangan dadakan demi menggelar salat id bersama warga kompleks.

Saat itu, akan segera nampak, di lapisan paling bawah, muncul orang-orang tertentu yang mengambil peran imam dan khatib, yang mengisi khutbahnya dengan keyakinan penuh yang mendorong warga untuk tidak menakuti korona. Korona hanyalah makhluk dan tidak sepantasnya dikhawatirkan. Ia datang untuk menguji umat, seberapa taatkah kita kepada perintah tuhan, yang diartikan itu sebagai keharusan mengisi masjid-masjid yang kosong.

Si penceramah demikian ini sesungguhnya gagal paham. Saat ini, korona bukanlah penyebab orang melakukan dosa sehingga orang-orang tidak pantas diberikan khotbah demi menyelamatkannya dari siksa kubur, misalnya. Lebih layak, untuk saat ini, para virolog lah yang berhak mengisi panggung publik, di samping para dokter, tenaga kesehatan, psikolog, atau para ahli masyarakat semisal seorang sosiolog.

Itu artinya, saat ini lebih diutamakan masyarakat agar lebih tertib kesehatan, dan tertib sosial daripada tertib iman. Untuk saat ini, agama mesti memberikan ruang kepada para ahli yang paham soal-soal virus dan manajemen masyarakat untuk mengedukasi publik. Agama memang penting, tapi bukan berarti ia adalah satu-satunya cara untuk menjawab segala soal.

Urusan manusia sangat banyak, meski tidak sedikit di antaranya, yang melakukan sesuatu tanpa keterangan mendalam sebelumnya. Jika saat ini Anda bertanya ke dalam diri, mengapa agama diciptakan untuk Anda dan bukan untuk makhluk seperti alien, dan menjawabnya dengan jawaban bahwa itu lebih pantas ditanyakan kepada Tuhan dan hanya ia yang tahu pasti jawabannya, maka Anda seperti orang yang lebih memercayai dukun daripada dokter syaraf ketika menghadapi penyakit kanker otak.

Ada masa ketika dunia, menempatkan para dukun sebagai figur utama laiknya dokter sekarang, atau para agamawan seperti nyaris menyerupai para nabi. Saat itu, dukun dipandang sebagai orang yang memiliki ”pengetahuan” yang tidak bisa diketahui orang lain. Bahkan, bagi yang lain, dukun dianggap mampu menangkap gelagat dunia surpranatural hanya karena ia dapat mengucapkan jampi-jampi dalam gumaman yang tidak semua orang tahu artinya.

Meski demikian, pengetahuan berkembang, percobaan-percobaan banyak dilakukan, dan membuat banyak penemuan-penemuan yang membuat orang tercengang.  Takhayul dan mitos, karena itu sedikit demi sedikit dikuak kebenarannya.

Bukan karena ulah seekor naga raksasa menelan bulan sehingga terjadi gerhana, melainkan karena posisi bulan yang terhalangi bumi dari matahari sehingga seluruh areanya menjadi gelap. Bukan pula akibat ulah jin, sehingga seseorang mengalami demam, melainkan karena tubuhnya didiami virus supermini.

Pengetahuan hari ini bukan jenis pemahaman seperti dua abad lalu yang tertutup dan hanya ditemukan di balik tembok gereja atau istana kaisar. Ia tidak bisa lagi diberlakukan mirip wahyu yang siap pakai dan tahan lama. Sekarang, pengetahuan datang dari pengamatan, observasi, pengujian-pengujian, dan melalui prosedur ketat yang melibatkan sistem logika dan metodelogi yang teruji.

Pengetahuan saat ini, jika tidak dilahirkan di dalam nuansa akademik yang mumpuni, ia hasil kreasi yang lahir di meja ujian laboratorium. Ia memang seringkali direvisi oleh temuan-temuan mutakhir, tapi karena itulah pengetahuan hari ini berkembang dinamis lebih pesat dari semisal filsafat, atau agama.

Semua kegiatan itu, sudah jauh hari diumumkan Auguste Comte, Bapak Sosiologi Barat, di bawah bendera bernama sains, bahwa di masa depan, zaman akan berpihak kepada masyarakat yang bekerja mendayagunakan ilmu pengetahuan demi menjawab kebutuhan-kebutuhan manusia. Agama, jika ia masih berhasrat membimbing manusia, pelan tapi pasti akan ditinggalkan sebagai debu-debu sisa kejayaan masa lalu.

Bahkan, Auguste Comte yakin, ke depan para nabi-nabi adalah para ilmuwan yang bekerja di dalam terang ilmu pengetahuan dengan membawa agama masa depan yang ia sebut positivisme.

Memang suara Auguste Comte terdengar ambisius, tapi bukankah untuk saat ini ramalannya itu terbukti, dan seiring itu sains berkembang pesat meninggalkan agama jauh di belakang garis start.

Saat ini, Anda mungkin seorang filsuf, yang sedang memikirkan suatu belahan dunia apakah ia ada atau tidak, dan mungkin itu hanya sekadar imajinasi di dalam kepala Anda.  Selama bertahun-tahun Anda memikirikan itu, tapi ada satu fakta yang membuat diri Anda tidak bisa menolaknya, bahwa karena itu membuat Anda mesti mempelajari pemikiran-pemikiran yang berumur lebih panjang dari usia Anda dari saat ini. Untuk memahami satu aliran filsafat, sangat riskan jika Anda tidak memulainya dengan membaca sejarahnya.

Akan lebih baik, jika ingin mempelajari idealisme Hegel, mau tidak mau Anda akan berjalan mundur dan harus mempelajari pikiran-pikiran pemikir-pemikir sebelumnya hingga Plato. Filsafat karena itu, membuat Anda mesti telaten mempelajari pokok pikiran secara runut pemikir-pemikir yang saling terkait satu sama lain.

Hal yang sama tidak terjadi dalam agama, walaupun ia bukan sains yang tidak memiliki otoritas sehingga membuatnya sulit berkembang. Dalam agama, kebenaran lebih mudah diterima karena ia mengandung kepastian dan fixed. Ia, bahkan untuk diyakini, masih membutuhkan fatwa agar manusia benar-benar yakin bahwa yang ia pegang betul-betul kebenaran. Fatwa, dalam agama, bertugas menghadang kebebasan berpikir sebagaimana itu sangat diperlukan dalam sains. Makanya, karena itu, tidak sedikit, dalam agama, berpeluang membentuk kelompok fanatik, atau sempalan berupa cult.

Sementara dalam sains, setiap teori atau temuan terbaru tidak akan dipengaruhi otoritas kekuasaan atau fatwa. Sains bekerja atas fakta, dan tidak membutuhkan fatwa untuk melegitimasi kebenarannya. Satu-satunya legitimasi sains, toh jika itu diperlukan adalah metode dan prosedur ketatnya itu sendiri.

Berkat prosedur penelitian yang bekerja atas fakta, seperti dalam pendakuan Thomas Khun, membuatnya menjadi kebenaran faktual yang menyebabkan terjadinya pergantian satu pandangan atas pandangan lain. Dalam sains, referensi utamanya adalah kebenaran yang lebih baru dan mutakhir, ketimbang teori yang sudah cacat dan gagal merelevankan dirinya dengan keadaan. Jika itu terjadi teori yang mengalami pembusukan akan digantikan oleh teori lain yang lebih up to date.

Dalam sains, teori sangat erat kaitannya dengan konteks di mana ia lahir, sehingga dengan itu ia terus memperbarui dirinya dan membuatnya dinamis mengikuti perkembangan zaman.

Itulah sebab, kebenaran dalam filsafat, dan begitu pula dalam agama, adalah jenis kebenaran yang berumur panjang, tapi tidak dalam sains. Dalam sains, kebenarannya tentatif dan temporer, dan jenis kebenaran ini sangat bergantung dengan sejauh apa ada pembaruan dan penemuan mutakhir di dalamnya.

Sains dan agama, sudah sejak lama saling bersinggungan. Masing-masing sudah banyak memakan korban. Dua tiga abad lalu, inkuisisi gereja atau otoritas dalam agama-agama lain, tidak segan-segan menjatuhkan hukuman mati bagi orang yang melawan doktrin agama. Berabad-abad setelahnya, sains muncul dengan ledakan bom atom yang meluluhlantakkan negeri-negeri jajahan atas nama perang.

Lalu, sekarang dan akan datang, para ilmuwan dan agamawan akan selamanya saling menunjukkan borok lawan masing-masing ketika mereka masih sering mencampuri urusan satu sama lain.

Sains dan agama di masa sekarang dan masa akan datang, sudah seharusnya saling membimbing alih-alih saling tuding. Bukan saatnya bagi kedua pihak untuk saling mengorek sejarah kelam masa lalu. Agama mesti menyumbangkan ajarannya kepada ilmu pengetahuan, dan ilmu pengetahuan mesti menghadiahkan penemuannya kepada agama. Bagi para ilmuwan dan agamawan, sains mesti menerangkan ajaran agama, dan sebaliknya, agama mesti membimbing sains.

Itu artinya sudah saatnya sains dan agama mesti hidup bersanding dan bukannya bertanding. Keduanya memiliki sumber pengetahuan, objek kajian, dan metode yang berbeda dalam memecahkan suatu soal.

Dengan kata lain, baik sains dan agama, punya lapangan pengkhidmatan yang berbeda meski demi kemanusiaan yang sama.

17 Juni 2020

Neraka Persepsi dari Nasruddin Khoja, Ini Salah Itu Salah


Alkisah, sekali tempo dalam suatu perjalanan, Nasruddin Khoja bersama anaknya berjalan masuk ke sebuah desa menggunakan seekor keledai. Saat itu, karena sayang anak, Nasruddin Khoja memilih jalan kaki menuntun keledai dari depan, sementara anaknya yang duduk di atas keledai. Melihat itu, tanpa tedeng aling-aling warga desa membully si anak.

”Dasar anak tak tahu diuntung. Masak ia enak-enakkan di atas keledai, sementara ayahnya dibiarkan sendiri berjalan kaki!”

Masuk di desa selanjutnya, karena takut dihardik warga desa, giliran si anak yang berjalan kaki dan Nasruddin Khoja yang kini duduk di atas pelana keledai.

“Coba lihat, itu ayah yang egois, kok ia rela membiarkan anaknya berjalan kaki sedangkan ia santai geboy di atas keledainya!”

Tidak ingin mengulang dua kejadian sebelumnya, kali ini saat tiba di desa ketiga, Nasruddin Khoja dan anaknya sama sekali tidak menumpangi keledai dengan memilih berjalan kaki belaka.

Tidak menunggu waktu lama, kali ini mereka masih dibully warga sekampung.

“Betapa bodohnya anak dan bapak itu, punya keledai tapi tidak ditumpangi!” Cela warga desa sambil menertawakan Nasruddin Khoja beberapa saat pasca mereka tiba.

Ini kisah masyhur Nasruddin Khoja, figur kocak nan ugahari dalam dunia sufisme, yang bercerita tentang betapa sulitnya menyenangkan hati semua orang. Apa pun yang Anda lakukan, pasti akan ada saja pihak yang tidak suka dengan tindakan dan pilihan Anda.

Berbicara suka tidak suka, kisah di atas juga menceritakan betapa ”kejamnya” kata orang, lantaran hanya karena tidak suka dengan apa yang sudah dilakukan, Anda pasti akan jadi bahan omongan orang. Kisah Nasruddin di atas memberikan suatu pemahaman betapa seringnya ”kata orang”  mampu mengubah pendirian seseorang.

Di dunia seperti sekarang, ”kata orang” sering membuat diri kita menjadi sulit bertingkah. Karena ”kata orang” fulan bin fulan bisa menjadi bukan dirinya. Demi rasa aman, terkadang ”kata orang” lebih dipilih alih-alih memutuskan berdasarkan pendirian sendiri.

Dari pada menjadi bahan olok-olokkan, lebih baik mengikuti “kata orang”, seperti galibnya, ya orang-orang itu. Agar tidak dicela dan dikritik.

Menjadi seperti ”kata orang” hakikatnya menjadi manusia yang tidak otentik. Dalam hal ini ”kata orang” sering menjadi lawan ”kata hati” yang menjadi faktor penting untuk menjalani kehidupan merdeka.

Coba renungkan kembali kisah Nasruddin Khoja dan anaknya di atas, pasti betapa gagunya mereka setelah dinilai bermacam-macam oleh orang lain. Ini salah, itu salah. Betapa tidak bebasnya mereka bertindak akibat ”kata orang”.

Di kisah itu, Nasruddin bersama anaknya jadi sulit bersikap apa adanya. Karena takut salah dan jadi bahan omongan banyak orang, mereka terpaksa mengikuti pendapat banyak orang. Tapi, apa daya, siapa yang mampu menjamin setiap kata orang berpendapat sama. Akhirnya, alih-alih karena ingin mengikuti kata orang, justru Nasruddin dan anaknya, malah dibikin pusing juga oleh kata orang. Akibatnya mereka jadi tidak bebas bertindak. Menjadi tidak merdeka.

Mungkin, yang paling merdeka di kisah itu adalah keledainya. Naik tidak naik Nasruddin bersama anaknya, ora urus! Apa pun kata orang, tetap saja ia yang bakal menerima nasib menjadi hewan tumpangan. Ikhlas.

Kisah di atas seolah-olah mengafirmasi ungkapan terkenal dari Jean Paul Sartre, filsuf eksistensialis Prancis yang mengatakan orang lain adalah neraka. Ungkapan ini bukan berarti anjuran agar kita hidup dengan cara menghindari orang lain, melainkan betapa seringnya ”kata orang” membelenggu kebebasan manusia.

Di dunia macam sekarang, relasi antara manusia terkadang hadir dalam keadaan tidak adil. Hubungan negara dengan warganya, atasan dengan bawahan, si kaya dan si miskin, antara suami dan istrinya, dlsb., adalah macam-macam relasi yang kerap saling mendominasi dan didominasi. Satu pihak dengan pihak lain terlibat pembatasan sehingga yang satu lebih merdeka dari pihak lainnya.

Di saat bersamaan, relasi satu sama sama juga bisa diracuni prasangka-prasangka negatif. Dalam hal ini persepsi mengambil peran signifikan di dalam membangun kepribadian seseorang. Sebelum orang lain terlibat jauh dalam suatu hubungan, persepsilah yang kali pertama menjembatani perkenalaan di antara keduanya.

Tapi terkadang, persepsi seseorang atas pihak lain cenderung seporadis, sebab si penilai bisa semena-mena membangun praanggapan tidak-tidak bagi yang bersangkutan. Dalam hal ini, pandangan atau tatapan (gaze) menjadi jalan masuk invasi pikiran atas orang yang dinilai. Di sinilah ”neraka” itu pertama kali terbentuk. Di antara pertemuan dua orang, terbangun persepsi yang saling mencurigai dan mengintrogasi demi mendominasi satu sama lain.

Syahdan, kisah Nasruddin dan anaknya juga pada dasarnya adalah cerita mengenai persepsi. Karena ingin bertindak sesuai persepsi banyak orang, Nasruddin dan anaknya rela mengubah sikapnya. Jadi tidak otentik.

Namun malang, tidak semua persepsi dapat membuat orang hidup nyaman, apalagi merdeka. Di kisah itu, justru Nasruddin dan anaknya malah keluar masuk persepsi orang-orang yang membuat mereka jadi sulit sendiri. Persepsi di kisah Nasruddin dan anaknya, singkatnya, justru bukan menjadi surga kebaikan, malah berubah menjadi tempat seperti ”neraka”.


===

Telah dimuat di Belopainfo.id

12 Juni 2020

Melambari Ajal: Mati Eksistensialis ala Martin Heidegger


Di atas mimbar-mimbar, nasib umat manusia dipelantang para da’i sebagai rahasia Tuhan. Ia ”hukum besi” di bawah kolong langit yang telah dan akan menjadi takdir sejarah manusia. Kejadiannya adalah peristiwa gaib yang hanya diketahui sang Maha gaib, meski di waktu bersamaan di panggung seni peran, seringkali ia dijadikan frase kop tema serial sinetron ”sabun”, yang semena-mena mengartikan rahasia ilahi sebagai azab kematian yang berakhir kejam dan menyakitkan.

Kiwari, kematian semakin akrab ditemui. Di layar kaca, kekuasaan menarik kematian dari pengalaman otentik manusia, menjadi permainan bahasa yang dipakai bergantian dengan kata-kata semisal ”social distancing”,”physical distancing”, ”work from home”, ”PSBB”, ”new normal”; di dalam kekuasaan, kematian, diksi yang bisa dibongkarpasang seiring kebutuhan informasi di depan lensa kamera. Mau bagaimana lagi, era korona membuat kematian seolah-olah peristiwa remeh temeh seperti banalnya informasi di era digital.

Kematian, meski kenyataannya adalah takdir intim milik si manusia bersangkutan, di kancah kehidupan masa pagebluk korona, hanya menjadi satu dari sekian kategori statistik di hadapan corong kekuasaan. Ia hanya menjadi angka-angka massal di atas kertas tanpa memberikan makna kesadaran.

Manusia ditilik dari pengertian eksistensialnya adalah makhluk bebas dan merdeka. Ia makhluk dengan kemampuan berkemungkinan (possibility) menjadi apa saja. Jika takdir adalah bentangan angka-angka interval 1-9999… maka manusia bisa memilih beragam pilihan di dalam angka takdir yang tersedia. Anda bisa memilih angka 7, 85, 22, 90, 54, yang bisa berarti apa saja di kenyataan konkret sehari-sehari.

Meski demikian, kematian adalah batas di balik beragam kemungkinan yang tersedia. Ia adalah faktisitas dari eksistensi manusia. Ketika ajal sudah tiba berakhirlah beragam kemungkinan manusia.

Matilah sebelum Anda mati. Ini frase berbobot eskatologi yang dipakai dalam dunia sufisme untuk membetot kesadaran, yang kurang lebih berarti jadikanlah kematian sebagai tonggak kesadaran. Kematian mesti melambari keinsafan, mesti menjadi asas kehidupan agar jiwa awas dan mawas memilih kemungkinan takdirnya. Sering-seringlah mengingat kematian sebelum ajal mendatangimu, begitu pesan Rasulullah.

 

TIDAK banyak perencanaan hidup dapat direalisasi di masa korona. Meski sudah dinyatakan memasuki masa kenormalan baru, tetap saja tubuh sulit merealisasikan gerak spasialnya. Bahkan jiwa sulit dikerahkan maksimal meski sudah dilatih tiga bulan lamanya untuk beradaptasi menghadapi kenyataan baru.

Di antara terhambatnya ruang gerak tubuh, kecamuk ide, dan realisasi program negara yang tidak maksimal, tubuh dan jiwa kali ini terancam diceraikan oleh kematian. Tubuh terdesak berubah menjadi jasad tanpa gerak-gerik di bawah tanah, dan jiwa dibiarkan lekas ”naik” menuju alam pengakhiran.

Kematian, menilik pendakuan eksistensialisme Martin Heidegger mesti dialami di bawah terang penghayatan Dasein. Manusia biar bagiamanapun merupakan makhluk berkemampuan menceburkan dirinya ke dalam kehidupan (being).  Ia memiliki piranti penghayatan untuk menemukan keontentikan dirinya melalui faktisitas yang sudah ia bawa sejak awal kehidupan: ajal.

Seharusnya, kematian  yang telah menjadi berita faktual sehari-hari mendorong manusia untuk menyelami hakikat eksistensial dirinya. Ajal yang sudah menjadi kepastian mesti menjadi kapasitas kesadaran untuk menginspirasi bagaimana cara berada manusia di tengah pagebluk abad 21 ini.

Setidaknya selama ini ada dua narasi utama dalam merespon kematian yang diakibatkan korona, yang sama-sama tidak produktif mengangkat kesadaran manusia hingga ke level eksistensial.

Pertama, amplifikasi narasi fatalistik sebagian kelompok agama yang mengkanalisasi ketakutan terhadap korona hanya kepada tempatnya yang paling patut, yakni Tuhan semata. Dengan volume epistemologi tauhid yang aneh, mereka mengkotak-kotakkan ketakutan antara Tuhan dan ciptaannya. Dalam hal ini takut kepada korona sama artinya tidak takut kepada Tuhan.

Kedua adalah analisis pseudosains yang terejawantah di dalam teori konspirasi. Menurut pandangan ini, korona adalah ciptaan korporasi-korporasi medis dan lembaga-lembaga internasional tertentu yang bertujuan khusus menguasai sektor-sektor penting kehidupan umum.

Kedua narasi ini bukannya tanpa dukungan. Terbukti di masing-masing pihak menjamur kelompok-kelompok dengan ciri yang sama: antivaksin, fatalistik, antipemerintah, bebal, dan menganggap rendah kematian.

Itu artinya, bukan saja oleh negara yang melihat kematian sebagai angka statistik belaka, bagi kedua persekongkolan ini, kematian didudukkan tanpa konsep gairah dan inspirasi. Toh jika kematian berisi konsep, ia malah dimanipulasi sebagai kebekuan jalan jihad dan kering tanpa dasar penghayatan sama sekali.

Martin Heidegger membedakan dua jenis kematian. Ini berkaitan dengan dua hal sekaligus, yakni, pertama angst, sejenis rasa kecemasan yang dirasakan manusia dalam menghadapi kematian,  dan kedua, sikap kepercayaan terhadap kematian yang sudah pasti berakhir digenapkan ajal.

Matinya kucing, tikus, atau televisi, tidak sama dengan matinya manusia sebagai Dasein. Kematian binatang seperti kucing dan tikus adalah kematian (off liven) yang datang menyergap tanpa yang bersangkutan menyadarinya. Sementara cara Dasein berakhir merupakan kematian yang direncanakan, kematian yang disadari dan mewarnai keseluruhan eksistensi Dasein (sterben) oleh dorongan kecemasan.

Heidegger menciptakan istilah khas berkaitan dengan sikap otentik ini dengan nama vorlaufen. Arti kata ini adalah ”berlari ke depan” yang diartikan sebagai ”antisipasi”. Mengantisipasi kematian terjadi manakala Dasein mengalami kecemasan eksistensial di saat krisis menghadangnya, yaitu dengan cara menentukan pilihan arah kehidupannya ke depan.

Lalu, bagaimana kematian dan keputusan eksistensial dapat saling berhubungan satu sama lain? Keputusan adalah pilihan untuk mengantisipasi yang akan datang. Kita hidup di dalam 1001 kemungkinan yang peluangnya sama besar untuk dipilih sebagai keputusan. Sikap berani menghadapi kemungkinannya yang paling khas ini tak lain daripada sikap membuka diri terhadap kematian sendiri, karena dengan kematian kita dihadang oleh kemungkinan kita yang paling singular.

Itu artinya, cara Dasein hidup ditentukan atas keterbukaannya terhadap kematian. Karena ia menyadari (angst) kematian adalah akhir yang bakal menggenapkan keseluruhan eksistensinya, maka sebelum ajal datang, manusia mesti memilih cara kematian yang paling mewakili dirinya (Ada menuju kematian).

Inilah saat Dasein menyadari keterbatasannya dengan menyongsong kematian yang mendasari kemungkinan-kemungkinan eksistensinya. Anda ingin berakhir melalui ajal di masa pengabdian kemanusiaan, atau berakhir tragis di sudut gelap sel penjara.

Kehidupan Dasein yang otentik adalah jenis kehidupan yang ditentukan bagaimana Anda melihat kematian.  Dengan kata lain, bagaimana cara Anda menjalani kehidupan, ditentukan seperti apa Anda melihat kematian.


===

Telah dimuat di Kalaliterasi.com

07 Juni 2020

Terorisme Tubuh itu Berupa Mulut

Tidak sampai membutuhkan pergantian kalender, setidaknya selama masa pandemi ini, makhluk supernano bernama korona telah mengubah persepsi kita tentang tubuh. Tubuh adalah ”musuh”. Alih-alih di kancah publik tubuh dapat saling berelasi, kali ini keberadaannya menjadi momok mengkhawatirkan bagi yang lain.

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Saat ini tubuh dipandang rentan dari biasanya. Ia dipaksa mengakui supremasi mahluk supermini beranak Covid-19.  Praktis seluruh bidang-bidang perabadaban yang selama ini diisi lalu lintas tubuh menjadi lumpuh. Wabah abad 21 ini pada akhirnya membuat tubuh mesti bernegasi satu sama lain.

Jika dalam satu titik koordinat ada tubuh lain di sekitar tubuh Anda, praktis satu di antaranya mesti ditolak keberadaannya. Otomatis, jika dipaksakan lebih dua tubuh saling berdekatan, justru keduanya akan saling mengintrogasi, mengawasi, dan paling ekstrem adalah saling tuduh.

Di situasi semacam ini, tubuh malah mendatangkan soal tersendiri. Ia bakal dimejahijaukan. Menjadi tersangka untuk ditelisik apakah ia sedang menampung virus mematikan atau tidak.

Tidak ada kecurigaan lain di masa sekarang selain tubuh yang jadi tersangka. Di kerumunan halte, terminal, pasar, masjid—tempat-tempat yang belakangan ini kembali ramai, tubuh menjadi satu-satunya objek perhatian. Seperti tersangka, semua orang mengawasinya dengan tingkat kewaspadaan bertingkat-tingkat.

Jika tubuh mengalami panas, berkeringat, dan mudah loyo, ia bakal dijemput. Diarak tanpa tedeng aling-aling ke meja pesakitan.

Dan, bagian tubuh yang paling diwaspadai aktivitasnya saat ini adalah mulut. Ia bagian tubuh saat ini yang jika salah kaprah, bakal menjadi biang kerok bisa membuat pandemi ini berumur panjang.

Mulut, jika di masa seperti sekarang tidak dijaga sedemikian rupa, bakal menjadi teror tersendiri bagi keberlangsungan kehidupan saat ini.

Mulutmu adalah harimaumu, begitu petitih moral yang biasa dipelantang, yang kali ini terasa semakin penting. Mulut kali ini bukan seperti masa ketika ia dibungkam karena kemampuan politisnya yang  berbahaya bagi kekuasaan.

Bukan pula karena kemampuan komunikasinya yang bisa membuat berita berkembang sedemikian rupa, melainkan hanya karena jika kali ini ia dibiarkan bebas berbicara, bakal membuat suatu komunitas masyarakat terancam punah berlahan-lahan.

Jika dua dekade lalu mulut menjadi objek pembungkaman rezim politik otoritarian, kini ia menjadi ”korban” rezim kesehatan dengan tujuan yang lebih radikal dari sebelumnya. Jika sebelumnya mulut yang bebas berpendapat akan berakhir di sel tahanan, sekarang jika ia dibiarkan terbuka bebas, bakal membuat lawan bicara terancam berakhir di kamar jenazah.

Sebab itulah, untuk saat ini, arti karantina sebenarnya adalah upaya menjaga mulut agar lebih tertib digunakan. Untuk kali ini, ia terpaksa didisiplinkan dari fungsinya selama ini.

Mau tidak mau, jika ingin aman, mulut harus ditarik dari kemampuan komunikasinya paling jauh hanya sebatas ranah domestik belaka. Jika di ranah umum ia banyak ngoceh dari biasanya, besar kemungkinan itu bisa menjadi medium korona bermigrasi dari satu tubuh ke tubuh lain. Menjadi maut!

Mulut yang kali ini diistirahatkan dari khittahnya sedikit banyak membuat beberapa profesi yang mengandalkannya terhenti untuk waktu yang tidak ditentukan. Sebut saja para da’i penceramah yang saban bulan Ramadan bermunculan bak jamur di musim hujan, mesti lebih bersabar dari biasanya, para pendeta yang tiap akhir pekan mesti melayani jemaat, mesti pula menunggu sampai keadaan menjadi normal.

Penyiar radio, penyanyi, pengacara, pelawak, psikolog, pembawa acara, dokter, guru, dosen, dan seluruh pekerjaan yang berbasis mulut, mau tidak mau, rela tidak rela, mesti mencari cara agar terus dapat beraktivitas.

Pada akhirnya, mulut dikarantina sepihak. Setiap orang mesti menyembunyikannya di balik masker, yang berarti jika ia bersuara membuatnya tambah sulit dimengerti.

Kata Damhuri Muhammad dalam esainya bertajuk Mulut Era Corona, mulut-mulut yang sulit diam dan sulit diatur jadi kian janggal kedengarannya ”Tuan bilang Wuhan, kami dengar Tuhan. Tuan bilang tabah, kami dengar wabah. Tuan bilang Sampar, kami dengar tampar. Mereka bilang jangan mengeluh, kami dengar jangan bersetubuh. Mereka bilang percayailah data, kami dengar hormatilah dusta. Mereka bilang kobarkan semangat, kami dengar pasanglah niat menuju kiamat.”


===

Telah dimuat di Pronesiata.id


02 Juni 2020

Takdir Buku di Bawah Stempel Kekuasaan: Esai Hari Buku Nasional 17 Mei 2020

 

“Barangsiapa yang menghancurkan buku bagus ia sedang membunuh rasio itu sendiri…” John Milton, penyair Inggris.

 Di negeri ini, membaca buku, tidak serta merta akan menjadi pengalaman menyenangkan. Pernah suatu masa, buku menjadi benda subversif bagi kekuasaan otoriter semisal Orde Baru. Membaca saat kekuasaan bebas mengontrol lalu lintas ilmu pengetahuan, adalah tindakan radikal yang mengundang bahaya. Rasa-rasanya membaca dalam keadaan terancam, membuat setiap aksara seolah-olah adalah jembatan yang membawa pembacanya dapat langsung menuju alam baka.

Entah apa yang dikhawatirkan dari sebuah buku, selain daripada kemampuannya menggerakkan orang-orang. Di masa-masa ilmu pengetahuan masih kalah andil dari doktrin kekuasaan, buku seolah-olah benda haram jadah yang mesti dibumihanguskan.

Dalam buku Penghancuran Buku dari Masa ke Masa karangan Fernando Báez, dijelaskan tindakan bibliosida dapat ditarik jauh di belakang sejarah umat manusia. Uniknya tindakan penghancuran buku ini malah mengetengahkan sisi paradoksal dari sebuah peradaban yang kerap diafirmasi secara positif. Catatan Báez banyak mengungkap kemajuan suatu peradaban lebih banyak berdiri di atas sisa-sisa debu pagina buku.

Di alaf peradaban Barat misalnya, bibliosida kerap berjalan bersisian dengan gerakan misionarisme gereja. Saat itu, buku mengalami nasib tarik ulur perebutan yang berpangkal dari dua cara pandang.

Dalam hal ini, tentu saat itu cara pandang yang absah menyangkut kebenaran dan moral berasal dari paradigma keimanan yang disetujui pihak gereja. Dengan kata lain, extra ecclesiam nulla salus (tiada keselamatan di luar gereja) sebagai doktrin iman dari gereja saat itu, juga berarti berlaku bagi seluruh teks-teks di luar injil sebagai kepustakaan yang dilarang beredar karena tidak dianggap sebagai representasi pengetahuan yang absah bagi jalan keselamatan.

Itu artinya seluruh teks atau kitab yang tidak masuk dalam kategori “stempel” gereja, mesti dienyahkan dari lalu lintas pengetahuan masyarakat.

Untuk mengantisipasi ini, dalam sejarahnya, pihak gereja bukan sekadar bertindak sebagai institusi agama belaka, tapi berubah menjadi institusi koersif semimiliter dengan mengeluarkan daftar panjang buku-buku yang dipandang menyebarkan bid’ah dan kesesatan di tengah masyarakat.

Bagi masyarakat Islam, novel Animal Farm karya George Orwell di Uni Arab Emirat sejak 2002 menjadi buku terlarang. Alasan penolakan pemerintah negara itu lucu sekaligus keblinger, hanya karena salah satunya, menampilkan sesosok babi yang dapat berbicara. Menurut pengakuan pemerintah bersangkutan, buku itu bertentangan dengan spirit dan nilai-nilai Islam.

Tapi, siapa pun tahu, apa yang sebenarnya menjadi ide utama buku bernuansa politik perlawanan itu. Mungkin saja, penolakan pemerintah semisal yang terjadi di Uni Emirat Arab, lebih ditentukan oleh alasan ideologis berupa kekhawatiran terhadap naiknya taraf kesadaran rakyat seperti cerita di novel itu.

Di Iran, jangan sekali-kali membaca karya-karya Salman Rushdie sepertil Mildnight’s Children, atau The Satanic Verse. Ketika ketahuan, Anda seketika bisa berhadapan dengan pihak berwenang. Sudah sejak dari era Imam Khomeini buku-buku Salman Rusdhie dilarang dibaca karena, terutama The Satanic Verse, mengandung olok-olok terhadap figur suci Rasulullah. Karena itu, si empunya bersuaka ke luar negeri setelah difatwakan hukuman mati.

The Monument Men’s (2014) film yang cocok menyatakan bahwa keberlangsungan sejarah manusia tidak akan bisa maju pesat jika ia kehilangan benda-benda bernilai tinggi berupa karya tulis dan kesenian.

Film ini dibintangi George Clooney, Matt Damon, Bill Murray dan beberapa aktor Hollywood lainnya, yang mengungkap suatu ambisi kekuasaan yang ingin menguasai dunia dengan cara membumihanguskan peninggalan-peninggalan kebudayaan, berupa karya patung, karya tulis, dan lukisan dengan cara dibakar.

Ya, film ini mengambil konteks sejarah yang benar-benar terjadi ketika Hitler kesetanan ingin menduduki, jika tidak seluruh dunia, maka seluruh wilayah Eropa. Kegiatan antikebudayaan dengan dalih membangun kebudayaan baru ini, persis seperti perlakuan Kaisar Nero, raja Romawi ke-5 yang gemar membakar bangunan-bangunan vital negeri serbuan yang berhubungan dengan maju mundurnnya kebudayaan negeri bersangkutan.

Seolah-olah menemukan dalil historisnya, diceritakan melalui film itu, Hitler menggunakan badan-badan kebudayaan yang ditopang dengan kekuatan militernya untuk mencuri dan menghancurkan seluruh peninggalan sejarah dan kebudayaan negeri-negeri jajahannya.

Sedikit beruntung, saat itu pihak sekutu membentuk ”tim khusus” yang yang diberikan tugas untuk mencari dan menyelamatkan karya-karya seni dan barang-barang budaya penting lainnya sebelum Nazi menghancurkan atau mencurinya.

Seperti diungkapkan Robertus Robert dalam buku Fernando Báez di atas, perang dan pergantian rezim menjadi dua momentum yang berisiko menempatkan buku di dalam bahaya. Itu artinya perang bukan saja medium dua kubu yang bertemu untuk saling menghabisi, melainkan melibatkan juga beragam alasan kompleks yang salah satunya adalah penguasaan atas sejarah melalui kontrol atas buku-buku.

Di masa Tanah Air, penghancuran buku dikerjakan atas sokongan negara. Di masa Orde Lama tercatat karya Pramoedya Ananta Toer berjudul Hoa Kiau di Indonesia, dan Demokrasi Kita karya Bung Hatta, serta karya-karya lain dari Mochtar Lubis, Sutan Takdir, yang menjadi objek kekerasan terhadap buku.

Meski demikian, baru di Orde Barulah gerakan pelarangan buku dilakukan dengan sistematis dan massif. Dalam hal ini, meminjam analisis Louis Althusser, pemikir Marxis Prancis, negara memerlukan dua perangkat untuk mengkonfirmasi programnya agar berjalan dengan efektif dan efisien di lapangan. Dua aparatus dimaksud, yakni aparatus keras (militer) dan aparatus lunak (lembaga pendidikan, film, dan sastra), sama-sama bertujuan untuk menghiegenisasi alam demokrasi negara dari suara-suara “sumbang” di luar kekuasaan.

Wijaya Herlambang melalui bukunya, Kekerasan Budaya Pasca 1965, dengan apik menjelaskan bagaimana untuk mendukung kegiatan pelarangan buku, negara menggunakan aparatus lunak berupa lembaga-lembaga pendidikan dan kebudayaan demi meneguhkan ideologi dominan negara. Bahkan lebih jauh, agar kekerasan budaya yang ditimbulkan negara mudah diterima dan dianggap sebagai misi bela negara, negara memberikan cukup banyak stok dalil melalui pendidikan, sastra, dan film sebagai medium cuci otaknya.

Implikasinya jelas, pada akhirnya tindakan sepihak untuk melarang, merazia, sampai membakar karya intelektual yang bertentangan dengan negara, masyarakat tidak akan berhadapan dengan dilema moral sama sekali. Alih-alih merasa bersalah, justru tindakan semacam di atas akan dianggap sebagai tindakan heroik yang patut diapresiasi.

Belum lama ini, beredar di lintasan dinding Facebook mengenai razia buku di Kabupaten Pinrang yang diberitakan media setempat sebagai bagian dari gerakan anarko sindikalisme. Di gambar yang mencantumkan akun Satuan Reskrim Pinrang itu menampilkan 8 buah buku, yang 4 di antaranya mencantumkan kata komunisme dan PKI.

Di Tangerang, April lalu, juga lebih awal oleh pihak kepolisian menangkap disinyalir kelompok anarko yang bertujuan ingin membuat keonaran di tengah masa pandemi korona. Sudah seperti skenario klasik, penangkapan itu juga mempertautkan buku sebagai bahan bukti yang seolah-olah berbahaya.

Akhir tahun 2019, kita juga sempat dibuat geram oleh aksi sepihak sekelompok orang yang merazia buku di toko-toko buku. Dalilnya masih sama seperti bagaimana negara menarasikan permusuhannya dengan ideologi komunisme. Semua buku-buku berhaluan marxisme—yang lucunya malah diartikan yang  “tertulis” marxisme—berhak dirazia dan diamankan.

Akan banyak daftar hitam pemerintah bertebaran di pemberitaan mengenai tindak tanduk negara yang berkaitan dengan bibliosida. Entah dalam bentuk pelarangan hingga pembumihangusan, buku senantiasa menjadi yang tertuduh dan dicurigai. Pembacanya akan segera dipandang sebagai tersangka alih-alih sebagai seorang pembelajar.

Mengingat bangsa ini mengalami krisis akut di seputar tingkat rendah dan masih minim khazanah kepustakaan, tidak berhentinya sikap permusuhan terhadap buku oleh negara ataupun institusi di bawahnya, adalah sikap kontraproduktif yang akan berefek panjang ke depan.

Buku-buku, entah ia mengandung kontroversi atau sebaliknya, merupakan aset berharga yang mesti dijaga dan dilipatgandakan. Ia mesti menjadi salah satu prioritas di dalam wacana, dan menjadi signifikan di dalam praktik berilmu pengetahuan ketika menangkal kejumudan. Meski musuh-musuh buku baik dalam bentuk rayap menjengkelkan yang siap menghadang dalam kesenyapan almari berdebu, sampai negara yang paling sering pasang badan menjadi agen pemberangus buku.

Malangnya, laporan Báez dalam bukunya di atas bertentangan dengan pendapat umum. Báez menemukan bahwa pelaku kejahatan terhadap buku-buku utamanya bukan dilakukan oleh orang awam yang kurang pendidikan dan pengetahuan, melainkan justru kaum terdidik dengan motif ideologis bermacam-macam. Lebih malang lagi, semua itu diam-diam bagian dari skenario negara tertentu untuk mengontrol rakyatnya dari elan vital roda kekuasaan.

Jangan sampai, suatu waktu nanti, nasib kita akan sama kisahnya seperti para rahib biara Benekdiktin dalam novel epik The Name of The Rose karya Umberto Eco: menjadi jenazah setelah membaca buku-buku terlarang.

Selamat Hari Buku Nasional 17 Mei 2020.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...