24 September 2015

Orangorang Tani

“Soal Agraria adalah soal hidup dan penghidupan manusia, karena tanah adalah asal dan sumber makanan bagi manusia. Perebutan tanah berarti perebutan makanan, perebutan tiang hidup manusia. Untuk ini, orang rela menumpahkan darah, mengorbankan segala yang ada demi mempertahankan hidup selanjutnya” (Mochamad Tauchid, 1952)

Dari sejarah peradaban manusia, petani adalah pekerjaan manusia paling tua. Petani di awal sejarah manusia, merupakan pekerjaan adaptatif manusia terhadap alam. Petani menandai suatu sistem pekerjaan yang meninggalkan polapola nomaden dengan cara hidup menetap. Dimulai dari pola kerja memungut hasilhasil bumi, berburu, dan meramu, bertani adalah jenis pekerjaan yang memungkinkan lahirnya kebudayaan awal manusia.

Arnold Toynbee, melalui Mankind and Mother Earth, menabalkan bahwa dengan cara hidup agraris perabadan purba pertama tumbuh dengan pesat. Dia bilang bahwa sejarah orangorang Sumeria atau Mesir tua adalah bersumber dari pemanfaatan tanah dengan cara membangun drainase dan dan saluran irigasi dengan mengubah rawarawa menjadi lahan pertanian. Melalui mekanisme itu, orangorang Sumeria dapat hidup menetap dan membangun peradaban regional disekitar sungai Tigris dan Eufrat.


Itulah sebabnya, asal mula kata kebudayaan (cultura) diambil dari konotasi yang sama dari makna bercocok tanam. Cultura dengan begitu mengandung dua hal; ikatan organik masyarakat dengan tanah, dan adat kebiasaan yang terbangun di atasnya.

Ikatan organik antara masyarakat dengan tanah, dapat dilihat dari terciptanya mitosmitos ataupun legenda yang menjadi ikatan kolektif di masyarakat. Di pulau Jawa dan  Bali ada legenda ratu padi, yang menjadi perlambangan bersama dari masyarakat petani untuk menjaga ikatan kolektif di antara mereka. Legenda ratu padi adalah medium masyarakat petani dalam menempatkan pemanfaatan tanah sebagai moda produksinya. Ratu padi sebagai simbol kolektif di tatanan masyarakat petani, mengambil bentuk yang feminin untuk menandai bahwa tanah begitu erat dengan ibu sebagai tanda pengayom bagi masyarakat.

Legenda ratu padi di masyarakat Jawa misalnya, telah menjadi kebiasaan seturut tumbuhnya praktikpraktik kulturalnya. Upacara sekaten yang acapkali disebut sebagai upacara grebeg mulud, adalah penjelmaan syukur kolektif di saat menjelang hari panen. Di masyarakat Sunda, ada upacara yang disebut seren taun yang  digelar tiap tahun untuk menghormati ratu padi. Upacara ini digelar dengan melantunkan kidungkidung atau pantun dengan maksud mengundang kedatangan ratu padi untuk memberikan berkah kepada bibit padi dan kesuburan selama masa tanam hingga panen.

Tapi masamasa tanam berubah menjadi masamasa kerja, tanah dialihfungsikan, pabrik di manamana berdiri.

Ketika kebudayaan bergerak, petani menjadi kelompok yang tereksklusi pelanpelan dari penguasan atas tanah.  Industrialisasi sebagai tatanan baru, mengubah kerja tradisional menjadi bentuk kerja baru yang disepuh dengan semangat individualisme. Kolektivisme yang semula adalah semangat bersama yang mengikat, akhirnya terbelah atas modernisme  yang memperkenalkan etika baru untuk berproduksi; individualisme.

James Scoot, mempercakapkan perubahan etika itu dari yang disaksikannya di Asia Tenggara. Petani, seperti yang dibilangkannya, merupakan suatu kesatuan yang memiliki sistem kebudayaan tersendiri atas praktikpraktik kehidupan yang dialami dalam mengelola tanah. Dari percakapannya, ia menyebut moral ekonomi petani berbeda dengan tatanan moral baru yang digemboskan dari praktikpraktik ekonomi kapital. Petani, dengan seluruh jaringan kerjanya memiliki ikatan yang diniatkan untuk mendorong kerjasama antara mereka dengan ikatan patron-klien dibandingkan harus didorong dengan semangat rasional kapitalisme.

Berdasarkan pengamatannya, perubahan yang dibawa oleh inovasiinovasi teknologi, banyak merusak hubunganubungan produksi masyarakat petani sehingga mendorong banyaknya perlawanan petani di Asia Tenggara. Selain itu, moral ekonomi petani yang didasarkan pada ikatan subsisten, sangat bertolak belakang dengan semangat individualisme yang menjadi moral dasar dari tatanan baru.

Di Indonesia sendiri, perlawanan petani terhadap kekuasaan tatanan baru direkam dalam pembukuan yang ditulis Sartono Kartodirdjo; The Peasant Revolt of Banten in 1888. Dari yang diliterasikannya, perlawanan petani terhadap bentukbentuk kolonialisasi sudah bermula dari awal abad 19. Melalui politik tanam paksa, petanipetani Nusantara dibajak dengan cara kekerasan untuk menaklukkan tanahtanah yang dikuasainya. Bahkan melalui tanah, desadesa di Nusantara, menjadi titik mula dari penjajahan orangorang  Eropa terhadap pribumi.

Di desadesa, dibandingkan dari daerahdaerah pusat lainnya. pertarungan kekuasaan politik dan perebutan sumbersumber daya ekonomi begitu tampak. Perebutan tanah sampai detik ini masih di alami oleh petanipetani pedalaman terhadap korporasikorporasi besar. Kasuskasus di Rembang, Ujung Kulon Banten, Takalar, Bulukumba, Nusa Tenggara merupakan persoalan yang sampai hari ini belum menemukan jalan keluarnya.

“Dalam 2014 sedikitnya terjadi 472 konflik dengan luas mencapai 2.860.977 hektar. Konflik ini melibatkan sekitar 105.887 keluarga. Dari jumlah itu, konflik agraria menyangkut infrastruktur terkait MP3EI sekitar 1.215 (45,55%). Disusul perkebunan 185 kasus (39,19%), sektor kehutanan 27 kasus (5,72%), pertanian 20 (4,24%), pertambangan 12 (2,97%), perairan dan kelautan empat kasus (0,85%, dan lain-lain tuh konflik (1,48%).  Jika dibandingkan dengan 2013, terjadi peningkatan sebanyak 103 kasus (27,95). Catatan KPA, periode 2004-2014, terjadi 1.520 konflik, dengan luasan 6.541.951 hektar, melibatkan 977.103 keluarga.” (Konsorsium Pembaruan Agraria)

Begitulah yang dicatatkan Konsosrium Pembaruan Agraria.  Tanah dalam skema besar korporasikorporasi merupakan komoditi dalam agenda perluasan kapital. Artinya dalam logika demikian, kapital yang merupakan inti dari ekonomi modern adalah nafas yang menggerakkan  perekonomian masyarakat kapitalis yang berbasikan industrialisasi.

Industrialasi memang banyak mengubah wajah peradaban, tapi peradaban tak selamanya berarti industrialisasi.

Bagaimanapun petani seperti yang dinukilkan Karl Polanyi dalam The Great Transformasion punya perspektif bahwa “tanah dan kekayaan alam bukanlah komoditi atau barang dagangan, dan tidak sepenuhnya bisa diperlakukan sebagai komoditi. Memperlakukan tanah (dan alam) sebagai barang dagangan dengan memisahkannya dari ikatan hubungan-hubungan sosial yang melekat padanya niscaya akan menghasilkan guncangan-guncangan yang akan menghancurkan sendi-sendi keberlanjutan hidup masyarakat itu, dan kemudian akan ada gerakan tandingan untuk melindungi masyarakat dari kerusakan yang lebih parah”.

Itulah mengapa, orangorang tani begitu kuat ikatan terhadap tanahnya, sebab di atas tanah tak ada hirarki kekuasaan yang layak berdiri.


17 September 2015

Orang-orang di Persimpangan Jalan


Di kota-kota besar, terutama di jalan raya, kemacetan merupakan masalah yang bikin geram. Apa lagi jika kemacetan terjadi tepat di jam-jam sibuk, sudah pasti banyak orang menggerutu kesal. Anak sekolahan jadi was-was mesti tepat waktu. Para polisi jadi pusing mengurusi ugal-ugalan pengendara. Sopir angkutan umum sudah pasti dibuat jengkel. Pekerja kantoran yang biasanya memulai kerja di pagi hari, bukannya tiba di kantor tepat waktu, malah bisa telat pasal kemacetan. Tapi bos-bos direktur, tak ambil pusing. Toh bila macet dan telat, siapa bakal marah!?

Di jalan raya kota-kota besar, demi mengatasi macet, seringkali ditemui orang-orang di persimpangan jalan. Orang-orang ini biasanya masih berusia muda, adakalanya masih kanak-kanak. Umumnya mereka anak-anak yang besar di jalanan. Dan biasanya anak-anak yang tak bersekolah. Pun jika bersekolah, mereka tak sampai khatam. Sementara orang-orang muda adalah pengangguran dengan usia produktif. Orang-orang semacam ini adalah mereka yang datang dari pemukiman-pemukiman kumuh. Besar di gang-gang perkotaan, tumbuh tanpa orientasi kerja yang pasti. Karena tereliminasi dalam dunia kerja, akhirnya berhamburan di persimpangan jalan.

Kemunculan orang-orang di persimpangan jalan adalah penanda kesimpangsiuran jalan raya. Mereka yang tumbuh dari pemukiman kumuh akhirnya datang di tiap persimpangan dengan maksud tak muluk; membantu warga kota yang terjebak macet.  Di jam produktif, mereka berdiri dengan cara membawa sempritan membantu tiap kendaraan di saat berganti arah.  Adakalanya cara yang mereka gunakan membutuhkan keberanian dengan masuk di tengah jalan untuk memperlambat laju kendaraan. Dengan cara begitu kendaraan yang ingin bertukar arah dipermudahkan.

Orang-orang di persimpangan jalan suka atau tidak suka, sudah hampir seperti polisi lalu lintas. Mereka punya semacam wewenang mengatur kapan berjalan dan berhentinya pengendara. Wewenang yang mereka miliki jika dipikir-pikir punya juga manfaatnya, sebab tidak semua bapak polisi menjaga setiap persimpangan. Akibat peran mereka, polisi yang punya tugas mengawasi kemacetan punya sejenis asisten nonformal. Tapi sayang mereka tak berseragam. Dan karena tak berseragam mereka tak dibayar negara.

Maksud tak muluk membantu warga kota yang terjebak macet, sebenarnya juga tak  betul-betul ikhlas. Sebab tak dibayar negara, mereka memasang ongkos atas jasanya; dua ribu rupiah. Tapi toh tarif yang mereka berikan kalau dihitung-hitung tak ada ruginya jika dibanding ongkos perbaikan apabila kendaraan mengalami kemacetan. Atau kendaraan tiba-tiba diserempet oleh ugal-ugalan pengendara lain. Maka dua ribu rupiah bagi dompet warga kelas menengah perkotaan, masih lebih rendah dengan risiko mereka bertahan di jalan raya padat kendaraan. Tidak main-main, bisa jadi nyawa taruhannya.

Risiko itu mereka ambil karena banyak hal. Perkotaan adalah sarang pengangguran. Di kota persaingan kerja sangat tinggi. Bahkan tiap pekerjaan membutuhkan skill khusus. Dan untuk memiliki skill khusus, tiap profesi membutuhkan banyak kursus dan pelatihan. Sementara orang-orang di persimpangan jalan, adalah masyarakat lapisan bawah yang minim akses. Sekolah, pekerjaan, rumah sakit, pusat perbelanjaan, perpustakaan adalah pusat kebudayaan yang jauh dari kehidupan mereka. Akhirnya dari keterbatasan akses, membuat mereka tumbuh tanpa asupan kebudayaan yang sehat. Syahdan, jadilah mereka pengangguran tanpa masa depan.

Kemiskinan juga salah satu ciri perkotaan. Hampir di semua kota besar bertebaran pemukiman masyarakat kota. Akibat pertukaran kapital yang timpang, maka menyebabkan kemiskinan struktural. Jika karena keterbatasan akses membuat orang-orang persimpangan jalan mengalami kemiskinan kultural, maka kapital yang berputar timpang membuat mereka terjebak ke dalam kemiskinan struktural.  Akibat kemiskinan struktural yang mereka alami, persimpangan menjadi kawasan ekonomi untuk mendulang “emas.”

Atau di luar dari dua sebab sebelumnya, bisa saja ada problem teknis yang membuat mereka berhamburan di persimpangan jalan. Misalnya adalah semakin bertambahnya pengendara dan kendaraan. Semakin tak memadainya jalan raya menampung populasi pengendara. Tak dilengkapinya jalan-jalan utama dengan rambu jalan. Juga barangkali tidak adanya tranportasi publik. Atau memang bapak polisi yang tak banyak berperan di jalan raya.

Walaupun demikian, orang-orang di persimpangan jalan kian hari semakin banyak dijumpai. Bukan saja di jalan-jalan utama, tetapi di jalan alternatif juga mereka ditemui. Biasanya mereka datang bergerombol, tua ataupun muda, pria ataupun perempuan. Mereka setia berlama-lama di tengah bising kendaraan, di bawah terik matahari hingga rela menghirup gas karbon kendaraan.

Biasanya mereka membagi teritori tempat yang sudah dikapling berdasarkan kelompok, persimpangan per persimpangan, waktu per waktu. Singkatnya mereka juga punya manajemen, tapi tidak secanggih orang-orang kantoran yang berkendara. Tak secerdas anak-anak usia sekolah. Apalagi menyerupai cara berpikir bos-bos tukang boros. Orang-orang persimpangan jalan membagi  keuntungannya atas dasar komunalisme. Orang-orang persimpangan jalan demikian, barangkali hanya tak ingin dikatakan pengemis yang tak memiliki jasa untuk mereka pertukarkan.

11 September 2015

Orang-Orang Berparas Ganda

Mitos di alaf kebudayaan, selalu difungsikan dengan maksud perayaan. Di dalamnya pujapuji dipanjatkan melalui ritual untuk menceritakan kebesaran dewadewa. Mitos, di sejarah awal peradaban, biasa diolah menjadi drama untuk mewantiwanti sang manusia. 

Mitos melalui drama, juga ingin membangun satu hirarki antara dunia dewata dengan dunia ata. Melalui drama, mitos ingin meletakkan manusia dalam horison superioritas dewadewa. Dengan demikian, di dalam drama, manusia selalu disimbolkan sebagai mahluk yang mungil.

Manusia di dalam drama, selain mungil, juga sering digambarkan dengan paras yang kejam. Niat dasarnya adalah bahwa manusia secara diametris berlawanan dengan idealitas dewadewa. Di atas cara demikian, manusia dibulatkan dengan defenisi yang buruk.

Drama juga sebenarnya adalah tempat tragedi dipertunjukkan. Tragedi di dalam drama, barangkali adalah cara untuk menyadarkan bahwa manusia sungguh rentan dari nasib yang sial. Sebab kehidupan yang ideal hanya dimiliki oleh dewadewa di atas khayangan. Itulah mengapa, hampir semua ceritacerita di masa Yunani purba, drama menceritakan kisahkisah sang manusia yang tak utuh untuk meraih harapan.

Di Yunani, mitos yang didramakan menjadi mekanisme publik untuk mempertontonkan pelbagai macam watak manusia. Mulai dari watak yang humanistik sampai narsistik. Dari dua kutub paras ini, entah baik dan jahat, keji atau bajik, manusiawi atau hewani, manusia selalu berpulang kepada tragedi.

Itulah sebab di dalam kebudayaan, manusia selalu ditempatkan di dalam koordinat yang jauh dari purnawatak. Mitos dalam drama, telah mengintrodusir kesadaran manusia menjadi orangorang yang inferior. Lugwig Feurbach, seorang filsuf cum antropolog  agama, dengan melihat keadaan itu, akhirnya menangkap satu pengertian dari optik yang lain; manusia memang selalu mengasingkan dirinya dalam kebudayaan yang dibuatnya. Maksudnya, kenapa manusia selalu berparas lemah dan tragis, sebab manusia hanya melihat idealitas jauh di atas khayangankhayangan, sementara dirinya selalu diartikan sebagai mahluk yang penuh kelemahan.

Di dalam maksud sebenarnya, khayangankhayangan itu disebut Feurbach berasal dari agama. Di dalam agama manusia mengasingkan dirinya dengan membangun satu dunia imajinasi kebaikan; tuhan, malaikat, surga, maupun alam kebahagiaan, dan kehidupan manusia sejatinya hanyalah tragedi.

Orangorang yang anti agama sering menyebut agama adalah sumber tragedi. Barang siapa beragama, berarti dia adalah agen aktif yang bisa memulai tragedi. Orangorang beragama adalah orangorang yang memikul beban spiritual hingga bebal. Dan tragedi yang datangnya dari agama adalah tragedi yang paling purba; peperangan.

Agama sebagai perang nampaknya menjadi kode penting tentang kebudayaan religi sang manusia. Banyak orangorang yang kerap mengucapkan agama dengan intonasi yang antagonistik. Agama dengan cara yang demikian, adalah dunia imajinasi yang mengasingkan sang manusia dari dirinya sebab yang ideal telah dilukiskan ke dalam khayangan dewadewa. Sementara yang tersisa pada manusia adalah kekejian yang berkebalikan dari apa yang dilukiskannya.

Orangorang beragama sudah seperti yang dipercakapkan Erving Goffman --sosiolog Amerika, yakni orangorang yang sering bermain peran. Goffman mengandaikan dua sisi peran manusia dalam melakoni kehidupannya. Permainan peran manusia di atas panggung kehidupan disebutnya sebagai dramaturgi.

Di dalam dramaturgi, peran kebaikan selalu diperlihatkan di atas panggung depan dengan adegan yang disorot cahaya panggung, sementara peran kejahatan, selalu disembunyikan di belakang panggung gelap yang jauh dari sorotan. Baik di atas dan di belakang panggung itulah manusia senantiasa bermain peran, entah di bawah sorot cahaya panggung dengan menampakkan kebaikan dan sebaliknya, menjadi kejam di belakang panggung.

Orangorang beragama adalah orang yang bermain lakon. Jika berperilaku baik, itu hanyalah lakon yang diperagakan di atas panggung. Apabila ia bersikap manusiawi, itu hanya karena disoroti cahaya lampu orangorang. Tapi jika lampu tak lagi menyorotnya, maka dia akan menunjukkan watak dasarnya di balik panggung. Jadi bisa jadi, orangorang beragama adalah orangorang yang pandai bermain peran, dia baik hanya di atas panggung, tetapi tidak di belakangnya.

Feurbach dan deretan orangorang anti agama bisa bersuara dengan pesimistik atas perilaku orangorang beragama. Tapi kenyataan juga punya jawabannya. Feurbach dan orangorang anti agama tidak selamanya salah. Belakangan ini banyak orangorang beragama berperan dengan paras antagonistik. Fenomena dengan terang menunjukkan betapa berbahayanya agama jika diajukan sebagai problem solving dari kehidupan yang timpang. Agama, ketika dipercakapkan dengan paras yang berbeda dari sekelilingnya, justru dengan niat sebagai pemecah masalah, malah menjadi sumber masalah baru.

Kiwari, betapa banyaknya kelompok orangorang beragama berhimpun diri, mengorganisir, dan menggunakan agama sebagai suatu kesadaran kolektif. Dari itu, agama menjadi optik untuk mempersepsi dan merasai kenyataan, dan bahkan dengan agama sebagai satusatunya jalan keluar atas segala soal. Tapi anehnya, orangorang beragama, seperti kita sering saksikan, adalah orangorang yang pandai bermain lakon. Di atas panggung seolaholah menjadi the good man, tapi tidak sebaliknya di belakang panggung.

05 September 2015

Sang Aku dalam Cermin

Cermin adalah benda ajaib. Bagi manusia, cermin bertugas membantu keterbatasan penglihatan. Melalui cermin seorang model dapat melihat pantulan rias parasnya. Cantik, tampan, ataukah jelek, cermin banyak membantu memberikan penilaian utuh. Di jalan raya, bagi pengendara, cermin menjadi perlengkapan penting kendaraan. Bayangkan jika kendaraan tak memiliki cermin, si pengendara pasti sulit berkendara. Jika sudah begitu, polisi punya alasan tepat menjerat pengendara: ditilang.

Di kehidupan sehari-hari, kita sangat tergantung kepada cermin. Keberadaan cermin sunguh penting untuk menjaga penampilan. Bisa dibilang, di saat memulai beraktivitas, cermin menjadi perangkat pertama yang digunakan untuk melihat tampilan luar kita. Itulah sebabnya, ketika memulai hari, di setiap kamar tidur disediakan cermin untuk kita gunakan. Maka dari itu cermin juga menentukan rasa percaya diri untuk memulai beraktivitas.

Sebenarnya yang membuat cermin dibutuhkan adalah sifatnya yang dapat menangkap objek di depannya. Sifat inilah yang membuat cermin menjadi ajaib. Ia bisa merefleksikan objekobjek sesuai yang dipantulkannya. Ia bisa meniru persis objek yang di hadapannya. Juga, ia “jujur” dalam memantulkan gambaran yang ditangkapnya. 

Bagi orangorang yang berhamba kepada mode, cermin adalah barang wajib untuk dimiliki. Dan kalau perlu bisa dibawa ke manamana. Bagi perempuan era sekarang, sebagaimana bendabenda kosmetik lainnya, cermin adalah benda yang paling dibutuhkan. Dengan cermin, paras yang sering menjadi “arena mode” dapat dipoles kembali apabila ada “kejelekkan” yang melekat. Tapi tidak saja perempuan, zaman sekarang banyak juga pria yang berkelakuan seperti perempuan; pesolek.

Tapi ada cermin yang bisa mengubah citra objek menjadi berbeda dari objek aslinya. Cermin seperti ini punya kemampuan untuk memperbesar atau memperkecil objekobjek di hadapannya. Kita mengenal cermin seperti ini dengan sebutan cermin cembung dan cermin cekung. Dua cermin ini sangat jarang digunakan, sebab tak “jujur” dalam menangkap objekobjek yang di dicitrakannya. Cermin semacam ini biasanya hanya ditemukan pada arena bermain yang di gunakan untuk ajang hiburan semata.

***

Cermin yang menipu atau cermin yang tak jujur merefleksikan objeknya dalam ilmu psikolog imutakhir digunakan psikolanalis Prancis Jascues Lacan untuk mempercakapkan “aku” yang salah dalam mengenal dirinya. Menurut Lacan, dalam teori subjeknya, manusia sedari awal adalah mahluk yang tak pernah mengenal siapa “aku” yang sebenarnya. Peristiwa ini, dinyatakannya dimulai di saat pertama kali manusia mengenal dirinya melalui fase cermin. Di fase ini, usaha manusia untuk mengenal dirinya melalui pencitraan cermin, sebenarnya adalah pantulan yang sesunguhnya salah. Jadi dari yang dipercakapkannya, jika manusia ingin mengenal siapa “aku” sebenarnya, sebaliknya yang dikenalnya adalah “aku” yang lain.

Secara metafora, Lacan menggunakan cermin sebagai perangkat argumentasi bahwa manusia adalah mahluk yang tak pernah mengenal siapa “aku” yang sebenarnya. Dari perjalanan panjang peradaban, sang “aku” yang dipertukartangkapkan untuk saling mengidentifikasi satu sama lain, mengacu dari teori cermin Lacan adalah diri yang ilutif. Dalam bertukar sapa, usaha manusia membangun relasi diatas identitas “aku” bisa jadi adalah usaha yang tak bermakna. Sebab ketika kita saling mengenal satu sama lain, sesungguhnya adalah identitas yang sudah ilutif dari awal.

Lalu di manakah “aku” yang sebenarnya? Itulah sebabnya barangkali manusia senang bercermin untuk mencari “aku” yang hilang. “Aku” yang hilang adalah dua tubuh yang semula tiada; tubuh psike dan tubuh socius. Tapi malangnya, tubuh psike seringkali dilupakan untuk ditemukan. Justru tubuh sociuslah yang kerap kali dicari melalui cermin. Tubuh sociuslah yang menjadi perhatian utama. Dengan cermin di sekeliling kita, tubuh socius selalu dipertahankan dengan menjaga intensitas untuk menghadap ke dalam cermin. Seringkali kita menghadap cermin, maka sebanyak itulah tubuh socius diteguhkan.

Dan memang cermin adalah benda yang ajaib. Di dalamnya “aku” tubuh socius ditemukan untuk menunjang kepercayaan diri. Dengan cermin tubuh socius disusun, dimulai dari paras, organ badan hingga ujung kaki untuk dimaksimalkan seideal mungkin. Dari cerminlah tubuh socius ditemukenali. Dari cerminlah tubuh socius direfleksikan.

Akhirakhir ini kecenderungan bercermin sudah jadi rutin. Bercermin bukan lagi kegiatan di awal waktu melalui ruang privat yang intim di kamar tidur, melainkan hampir tiap waktu di medan publik. Bisa benar bisa salah, bercermin bisa menjadi indikasi hilangnya “sang aku” dari sekalian kita. Atau bisa saja bercermin adalah usaha untuk mengkonversi kekurangan “sang aku” dari diri yang memang tak lengkap, sebab di dalam cerminlah sang pesolek menemukan semacam “keyakinan” yang menenangkan.

Syahdan, Sapardi Djoko Damono punya puisi tentang cermin, dia bilang begini: mendadak kau mengabut dalam kamar, mencari dalam cermin// tapi cermin buram kalau kau entah di mana, kalau kau mengembun dan menempel di kaca, kalau kau mendadak menetes dan terpecik ke mana-mana// dan cermin menangkapmu sia­sia.

Dimuat di Koran Tempo Makassar, Sabtu 5 September 2015

01 September 2015

Orangorang Pembenci Kata


Aktivitas menulis sudah sepurba keberadaan manusia. Dalam sejarah peradaban, manusia sering menulis dalam banyak ragam; simbol, gambar, ataupun motifmotif. Dengan begitu menulis menjadi sifat sejarah manusia; ketika ia lahir, tumbuh dan berkembang. Bahkan aktivitas menulis adalah penanda terakhir dari manusia yang ditilap sangkar waktu; di atas nisan, aksara menjadi penyambung manusia antara ada dan tiada.

Manusia dimulai dari aksara, tapi menulis adalah permulaan peradaban. Di awal narasi penciptaan manusia, kun adalah aksara yang menandai titik mula kehidupan, sementara tulisan adalah cikal bakal kebudayaan manusia. Begitu kirakira permulaan dan perkembangan manusia. Bermula dengan aksara dan berkembang melalui tulisan.

Itulah sebabnya manusia mengolah kata. Itulah mengapa manusia mengukir aksara. Dengan begitu, manusia bertukartangkap untuk saling bertukarsapa, berkomunikasi melalui jejaring makna, dan mengembangkan kehidupan melalui kesalingpengertian.

Melalui aksara dan tulisan, membuat manusia akhirnya membangun jarak dengan mahluk lain. Aksara dan tulisan menjadi ciri sekaligus pembeda dari mahlukmahluk di sekelilingnya. Dengan itu manusia membangun ciri kebudayaannya, melalui kata melalui tata. Kata sebagai simbol dan alat tukar pemahaman, sedangkan tata adalah kemampuan teknis manusia untuk mencipta bendabenda beserta pengaturan dan pengelolahannya.

Maka itu manusia disebut mahluk yang bertutur, sebab melalui tuturan manusia menukar maksud dan pesan. Juga dengan kemampuan tata manusia disebut homo faber, mahluk pekerja. Sebagai homo faber manusia punya kekuatan mengubah nature (alam) menjadi kulture (budaya), merekayasa alam buas menjadi alam kehidupan. Dengan kata lain, melalui kata manusia membangun konsep, dengan tata manusia mengerjakan konsep.

Tapi manusia tidak selamanya menyukai kata dan malas menata. Banyak orangorang yang tidak ingin berkerja dengan kata, sebab kata diartikan ihwal yang tak punya sumbangsih kongkrit. Bergelut dengan kata disebutnya pengecut, dikarenakan kata tak bisa mengubah dunia. 

Orangorang seperti ini biasanya dengan sendirinya malas menata, dan sering kali jika menata maka tak sanggup rapi dan apik. Kenapa demikian? Karena bekerja dengan kata itu berarti kita harus sering menyusun tata bahasa, tata pikir dan jalan pikir untuk membangun maksud yang terang. 

Dengan menyusun kata berarti ada jejaring hubungan makna yang sistemik tersusun rapi di tiap relasinya. Itu mengapa, orangorang tak menyukai kata akan sulit membangun katakata dengan susunan pikiran yang baik.

Lalu siapakah orangorang yang selalu bekerja dengan kata? Di dalam sejarah peradabanperadaban, orangorang yang bekerja dengan kata selalu menjadi pusat dari lahirnya peradaban. 

Di Yunani purba, ada dua macam yang selalu bekerja dengan katakata; filsuf dan Sastrawan. Sang filsuf, membangun konsepkonsep filsafatnya melalui katakata yang direnungkan dan dipraxiskannya. Sementara sastrawan bergelut dengan kata untuk menguak tabirtabir makna yang dikandung di dalamnya. Melalui kata yang direnungkan, sang filsuf menyusun dasardasar filsafat, sedangkan dari kata yang dikuak, sang sastrawan mengasah dunia pemaknaan manusia. Akhirnya dari orangorang semisal Homer, Socrates, Plato, Aristoteles, peradaban Yunani purba bermula.

Walaupun begitu, ada juga orang yang senang bekerja dengan kata tapi punya maksud yang lain. Tidak seperti filsuf maupun sastrawan, kaum sophis barangkali adalah model orang yang sering memutar balikkan kata. Di tangan orangorang shopis, kata menjadi tak menentu sehingga makna sering kali disalahartikan. 

Apabila demikian, maka kebenaran yang dapat terungkap melalui kata, justru tertimbun jauh di balik maksud lain orangorang sophis. Ketika Socrates menyebut orangorang ini dengan sebutan orangorang yang tak bijak, kaum sophis malah emoh dan seringkali mengunjungi orangorang kaya untuk mencari uang dengan menjual katakata.

Buku sebagai sangkar katakata, peradaban sebagai tugu tata adalah dua hal yang berkaitsambut. Melalui buku peradaban dirawat, dengan peradaban buku dipertahankan. Peradaban manusia bisa dibilang dimulai dari keberadaan bukubuku. Eropa bisa terang benderang sebab buku menjadi benda yang menyebar secara massif. Kita tahu, di Eropa kuno, buku masih barang privat, hanya kepunyaan padripadri gereja, kaum bangsawan dan rajaraja. Tapi mesin cetak Gutenberg-lah yang mengubah jalan peradaban dari pusatpusat gereja, pusatpusat kerajaan menjadi milik banyak orang. Akhirnya dengan mesin cetak terjadi liberalisasi ilmu pengetahuan yang menyebar melalui cetakancetakan buku mesin Gutenberg. Dan Eropa akhirnya melek aksara.

Sementara atas peradaban buku dipertahankan dan dijaga. Sebab buku bukan saja peninggalan peradaban, tapi juga adalah benda yang mencirikan peradaban. Tak bisa dibayangkan tanpa buku peradaban bisa bertahan lama, di mana dalam konteks ilmu pengetahuan, buku memang bendabenda peradaban. Atas asumsi inilah, dari alaf sejarah, tak ada bangsa yang mampu membangun peradabannya tanpa mensyaratkan keberadaan ilmu dan pustaka bukubuku.

Walupun demikian, sejarah tak selamanya jernih dari noda peradaban. Jika ada orang yang benci dengan katakata, maka bisa saja paralel dengan sikapnya terhadap peradaban. Artinya bila katakata sudah dibenci, dengan demikian peradaban juga dibencinya. Orangorang semacam ini ditimbangtimbang jauh lebih kejam dari kaum sophis. Kaum sophis masih menggunakan kata walaupun punya motif ekonomik di balik maksud ia bekerja, sementara orangorang pembenci peradaban biasanya adalah orangorang yang bekerja dengan aksiaksi kekerasan.

Kekerasan dalam lorong gelap sejarah biasanya dilakukan oleh para penguasa  otoriter. Di hadapan penguasa, katakata tak punya tempat, karena bila kata diterima, berarti ada ruang dialog di dalamnya. Sementara dialog berarti cara bawahan untuk mempertanyakan keputusankeputusan penguasa. Sebab kata adalah asal mula negoisasi. 

Itulah mengapa banyak penguasa tak ingin dialog, karena mereka membenci katakata, karena mereka membenci pikiranpikiran. Maka di sepanjang sejarah, di mana ada pusatpusat kata berkembang, di mana ada tempattempat pemikiran bersemai, dan itu dapat membuka dialog bagi penguasa, maka kekerasan adalah tradisi yang diambil penguasa untuk memberangus.

Sampai di sini, orangorang yang membenci katakata, biasanya punya satu hal; malas bertukar pendapat.

10 Juni 2015

Hikayat Jalan Raya


Di kotakota besar, jalan raya adalah tempat perebutan dan penaklukan. Di jalan raya, orangorang dari beragam profesi berjibaku; polisi, pengendara kendaraan, anak jalanan, penjual koran, pengamen, supir angkutan, pedagang asongan, pengedar brosur, para demonstran, pejalan kaki dsb., menggunakan jalan raya dengan beragam kepentingan. 

Polisi misalnya, sebagai representasi hukum harus hadir di jalan raya dengan maksud mengatur ketertiban umum. Para pengamen memanfaatkan setiap perempatan trafic light untuk mendulang  untung. Para pengendara apalagi, adalah orangorang yang paling berhasrat menguasai jalan dengan dalih efisiensi waktu.

Begitu juga mahasiswamahasiswa demonstran, memandang jalan raya sebagai ruang publik yang paling mungkin digunakan di dalam sistem demokrasi yang mandeg. Singkatnya, jalan raya adalah ruang publik tempat kontestasi dari beragam kepentingan dan perebutan berlangsung.


Sejarah jalan raya barangkali sepurba peradaban manusia. Semenjak dahulu manusia senantiasa mengkondisikan perkembangan hidupnya dengan alam. Di peradaban Mesir tua misalnya, jalan selalu dibangun seiring dengan keberadaan daerahdaerah subur semisal sungai, rawarawa dan ladangladang pertanian.  

Bahkan kehidupan kota akhirnya harus disesuaikan dengan keberadaan daerahdaerah subur sebagai tempat penghidupan. Dengan hidup yang demikian, jalan dibangun untuk mengakses sumbersumber alam yang menunjang kebutuhan dasar hidup manusia.


Tetapi ketika peradabanperadaban besar menemukan tempattempat baru untuk ditaklukkan, jalan akhirnya dirumuskan berdasarkan logika militer. 

Jika sebelumnya di peradabanperadaban yang subur tanahnya menyesuaikan jalan raya dengan hewanhewan pengangkut bahanbahan makanan, di peradaban yang memandang perang sebagai sarana penaklukkan, menandai jalan raya sebagai akses transportasi alatalat perang. Tujuannya tiada lain memudahkan sarana militer dengan efisien dapat dipindahkan dari pusatpusat pelatihan menuju medan perang.  

Seperti yang diperlihatkan memang, sejak dulu jalan raya selalu ditandai dengan dua hal; sumbersumber alam dan perang.

Di abad modern, sejarah transportasi adalah sejarah modernisasi itu sendiri, di mana perang dan pemanfaatan sumbersumber alam malangnya adalah cara modernisasi bekerja.

Di tanah air, bila kita ingin menandai permulaan modernisasi, justru ditandai dengan pembangunan jalan rel kereta api.  Dengan rel kereta api, modernisasi punya maksud kolonialisasi.

Dari pembangunan jalur rel kereta api  Semarang-Vorstenlanden (Surakarta dan Yogyakarta, daerah perkebunan yang subur) yang dilaksanakan oleh Nederlandsch Indisch Spoorwegmaatschappij (NIS) misalnya, dibangun untuk mengangkut hasilhasil bumi berupa gula, kopi dan nila yang dikerjakan melalui sistem tanam paksa (Cultuur Stelsel).

Kita juga mengenal jalan raya pos (de Groothe Postweg) yang merupakan proyek penaklukkan di Hindia-Belanda. Di mulai dari Anyer hingga ujung Jawa, Banyuwangi, adalah peninggalan bagaimana jalan raya yang dibangun selain alasan perdagangan, juga digunakan sebagai strategi militer Hindia-Belanda untuk mengontrol pergerakan pribumipribumi melalui patrolipatroli militer.

Selain itu melalui jalan raya pos, Hindia Belanda menjalankan strateginya untuk mengontrol ruang pergerakan pribumi dengan penggunaan akses informasi yang cepat.


Jalan raya sebagai ruang penaklukan memang ditandai dengan kekuasaan yang intim di dalamnya.

Sebagai ruang publik, kekuasaan atas jalan raya bisa muncul dengan beragam bentuk sesuai situasi yang menyertainya. Seperti yang ditunjukkan sebelumnya, sejarah jalan raya adalah medan penaklukan yang merupakan bagian dari modernisasi. 

Melalui jalan raya, modernisasi bekerja dengan cepat untuk mengakses tempattempat terpencil agar mudah ditaklukkan. Urbanisasi sebagai bagian dari modernisasi dalam hal, ini adalah nama lain yang kerap kali menjadi dalil untuk menundukkan suatu kawasan.


Sebab itulah jalan raya senantiasa diperebutkan. Seperti yang dimadahkan filsuf kiri Prancis, Henri Lefevbre, bahwa ruang selalu diperebutkan untuk memungkinkan suatu relasi sosial dapat diberlangsungkan. Dari analisisnya tentang ruang, jalan raya dapat kita pahami sebagai medan yang senantiasa direbut dan didominasi. Dengan dasar itu, di era yang didominasi kapital, jalan raya menjadi bagian integral untuk memberlangsungkan praktikpraktik pertukaran ekonomi.

Itulah mengapa, hampir disepanjang jalan raya, dengan urbanisasi selalu berdiri pusatpusat keramaian, perbelanjaan, hiburan, kebugaran dan diskotik sebagai arena transaksional.


Setua manusia, jalan raya juga adalah cermin sebuah kebudayaan. Hampir setiap waktu kita tak pernah lepas dari jalan raya. Sebab itulah banyak waktu kita habiskan di jalan raya. Di jalan raya hasrat kekuasaan tidak saja ditunjukkan dari sejarah yang berlangsung, melainkan juga adalah kita yang terlibat langsung di sana.

Di jalan raya, hasrat kekuasaan misalnya, ditampilkan dari betapa seringnya melanggar lampu merah. Para mahasiswa yang mentransformasikan kekuasaannya melalui aksi demonstrasi. Atau politisi yang tak tahu malu memasang baliho besarbesar di tengahtengah jalan. Dan yang paling memuakkan adalah betapa sesak dan semrawutnya jalan raya ketika macet; betulbetul cermin dari budaya kita.


Akhirnya di jalan raya, orangorang dari beragam kepentingan tumpah ruah. Dan memang barangkali di jalan raya hanya ada dua hal: perebutan dan kekuasaan.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...