02 Juli 2013

Sampan Sampang; Di larung Ketidakpastian

Seperti sampan yang melarung pada samudera yang buas. Tanpa kendali, tanpa pegangan, dilarung badai ketidakpastian. Hak untuk mengimani keyakinan harus berhadapan diametris dengan kekuasaan yang beringas. Agama yang mayor, agama kolektiv yang disulut emosi. Dimana hak berkeyakinan diterjemahkan dengan cara yang intoleran, sehingga toleransi beragama sekali lagi harus didefenisikan dengan cara yang monolitik. Keyakinan yang baik adalah keyakinan yang mendaku. Iman yang bukan ‘mereka’, melainka ‘kita’. Dan malangnya, ‘kekitaan’ yang irasional dan antidialogis  selalu diakhiri dengan pembumihangusan.

Beberapa waktu yang lalu, secara dominatif, masyarakat Sampang seakan membenarkan tesis Emile Durkheim, bahwa masyarakat secara instrinstik memiliki kekuatan untuk menekan. Yang mana pada kasus Sampang, ditengahtengah masyarakat yang dikenal religius itu, menempatkan agama sebagai apparatus yang membenarkan perilaku kolektiv berupa pengusiran terhadap pengungsi penganut Syiah dari gedung olah raga Sampang. Dimana masyarakat dengan episentrum religius berbondong-bondong mengusir penganut Syiah dengan bahasa yang imperative; menekan.

Sudah hampir dua tahun kasus ini tidak mendapatkan kepastian dari pemerintah. Setelah pada Agustus 2012 lalu, warga Syiah diusir dari kediamannya, sampai rumahrumah yang didiami warga Syiah dibakar jago merah oleh massa yang beringas. Pasca kejadian itu banyak upaya yang telah diambil, namun sampai saat ini kasus ini kembali hangat dibicarakan di media massa, akibat kamis kemarin (20 juni 2013) kembali naik kepermukaan pemberitaan. Yang paling memiriskan dari kejadian yang hampir menelan jiwa ini, terjadi setelah Presiden SBY menerima pengharggaan dari FAO tentang pembelaannya terhadap Hak Asasi Manusia. Dimana kejadian ini hanya berselang empat hari dari serah terima penghargaan yang diberikan di kota Roma Itali.

Pemerintah yang Absen  

Secara sosiologis, apa yang dialami oleh warga Syiah Sampang adalah fakta sosial yang teramati dan bisa dicarikan solusinya. Namun kenyataannya berkata lain. Dalam kacamata hukum fenomena ini sepertinya sulit menemukan problem solvingnya, dimana pemerintah memiliki kesan yang abai terhadap fakta yang seringkali terjadi di tanah air. Bukan rahasia lagi bahwasannya negeri ini kerap kali menghadapi distopia dimanamana. Dimana mengakibatkan terjadinya perpecahan yang merombak seluruh tatanan kekerabatan masyarakat.

Jika mengacu pada dasar hukum Negara kita, bangsa ini adalah Negara yang selalu mengedepankan semangat toleransinya. Bahkan dalam pasal dua setelah sila pertama dalam pancasila, menggunakan kata kemanusiaan dan beradab dalam membentuk karakter masyarakat Indonesia yang toleran. Artinya cermin dari sila kedua Panca Sila,  selalu tergambar  pada  masyarakat Indonesia  yang memproyeksikan makna sila kedua dalam seluruh tindak perilakunya ditengahtengah kehidupan kolektivnya.

Bahkan dalam sila selanjutnya, yakni sila ke empat, mengandung makna khas yang harus dianut oleh pemerintah yang ada di Negeri ini. “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dan Kebijaksanaan, permusyawaratan dan perwakilan”,  maksudnya secara kepemimpinan seluruh tata pemerintahan di Negara ini baik formal maupun nonformal harus mengedepankan sisi kemanusiaan yang dilandasi pada hikmat dan kebijaksaan yang adihulung. Kemudian kebijaksanaan yang dimaksud di salurkan lewat proses dialogis antar perwakilan golongan maupun kelompok dengan asas permufakatan. 

Namun pemerintah selalu saja gagal hadir ditengah-tengah masyarakat dalam menyikapi kasus-kasus semisal Sampang. Demikian sikap pemerintah lebih dikarenakan terlalu mengedepankan aspek birokratis yang menghambat proses penyelesaian masalah.

Gagalnya Peran Agamawan

Dahulu dijaman kerasulan ada yang disebut dengan istilah tasyri’i, dimana istilah yang dimaksud merujuk pada situasi ketika terjadi perbedaan pendapat dikalangan sahabat maupun pengikutnya, ummat selalu mengembalikan pendapatnya kepada Nabi. Atau dengan kata lain, pendapat Nabi selalu dijadikan rujukan utama ketika terjadi selisih paham ditengah-tengah ummat. Ummat datang mengajukan perbedaan, Nabi menjawab kemudian masalah terselesaikan. Kira-kira begitulah prosesnya.

Namun sekarang, ada agagium yang membenarkan perpecahan ummat akhir-akhir ini, bunyinya sungguh menggambarkan bahwa peran pemimpin agama adalah titik sentra yang bisa mendatangkan masalah, yakni ‘Ummat pecah karena Imamnya’. Dijaman sekarang, peran pemimpin agama sungguhlah penting dan genting. Bisa kita lihat betapa banyaknya tumbuh kelompok keagamaan yang selalu gesit dalam mendakwahkan ajaran keyakinannya ditengah masyarakat. Dari kejadian ini tentulah membahagiakan. Itu artinya Agama hidup ditengah-tengah masyarakat kita.

Namun kejadian itu juga bisa mendua, diakibatkan peran pemimpin Agamawan itu sendiri. Bisa kita lihat dari kasus Sampang dimana Fatwa MUI atau perkataan Ulama bisa mendatangkan gejolak sosial yang negatif. Hal ini diakibatkan Agama dan penganutnya masih jauh dari kesan masyarakat yang toleran. Sehingga seakan-akan agama harus dijamah pada ruang persepsi yang monolitik. Apa lagi jika peran pemimpin keagamaan mengambil sikap yang arogan terhadap keyakinan yang berbeda. Dimana ummat biasanya dengan sikap yang antidialog menyerap mentah-mentah dengan tafsiran yang tertutup dari apa yang dipetuahkan oleh pemimpin agamanya. Hal ini tentu mengindikasikan bahwa peran ulama begitu signifikan di tengah-tengah masyarakat.

Seharusnya, peran pemimpin agama tidak selalu mengambil sikap yang tertutup jika menghadapi permasalahan seperti kasus Sampang. Apalagi sudah sampai aksi yang bisa menghilangkan hak hidup seseorang. Perlu adanya upaya transformasi nilai dari para pemimpin agama dalam kasus semisal Sampang, bahwa apa yang terjadi disana adalah bukan semata-mata kasus agama melainkan sudah sampai mengenai hak asasi manusia seseorang. Dimana Peristiwa Sampang bukanlah permasalahan Agama maupun sekte tertentu, lebih dari itu kasus Sampang adalah soal Kemanusiaan.



22 Juni 2013

Sosiologi; Ilmu Penguasa?



Dahulu, August Comte, Bapak Sosiologi itu merumuskan suatu sistematika ilmu, untuk kenyataan, untuk fenomena yang ia cerap. Ilmu yang ia katakan sebagai puncak segala Ilmu. Setelah melepaskan dari genggam filsafat, ia memberikan nama  ilmu yang ia prakarsai sebagai Sosiologi.

Sosiologi sebagai ilmu di Eropa disambut dengan eksploratif. Semenjak kehadirannya, banyak ilmuwan sosial yang turut menyempurnakannya sebagai ilmu yang komplit. Menutupi lubanglubang yang di tinggalkan Comte. Di tangan Durkhem, Sosiologi tampil dengan melepaskan secara penuh karakteristik filsafatnya sepenuhnya. Di suatu waktu ia berujar, Comte masih membawa gen filsafat pada apa yang ia sebut sebagai ilmu positif. Sosiologi harus sepenuhnya ilmiah. Sosiologi harus mengikuti kaidahkaidah sains. Itu berarti ia harus objektif.

Dan memang semenjak Eropa meninggalkan zaman yang traumatis, seluruhnya serta merta merayakan kemajuan sains. Eropa memang berhasil keluar dari ekternalitas yang dogmatis, meninggalkan lubang mendalam terhadap kejumudan era yang dekaden. Sehingga seluruhnya begitu gegap dengan penemuanpenemuan yang lahir dari tangan manusia, dimana sains adalah buah tangan langsung yang lahir ditengatengah reruntuhan era pertengahan. 

Tepat di tengahtengah inilah Sosiologi menjawab lubang yang ditinggalkan. Bisa kita bayangkan, seperti apa hidup ditengahtengah penemuanpenemuan baru yang keluar dari eksternalitas abad kegelapan. Tentu bisa kita bayangkan, begitu dalamnya dampak traumatis yang di alami bangsa eropa. Terhadap sisi gelap intitusi gereja yang melukan pemurnian dimanamana. Pembakaran bukubuku yang terkandung bahasa objektif ilmu, penghancuran perpustakaanperpustakaan dan pembunuhan massal bagi yang menentang iman gereja. Dimasa ini, ilmu dan agama, penemuan sains dan iman gereja menampil dengan persitegangan yang tak kepalang tanggung.

Sampai saat revolusi dimanamana pecah. Otoritarian aristokrasi pun beralih menuju spirit demos yang mengedepankan krasi. Kuasa gereja akhirnya pelanpelan kehilangan kendalinya terhadap masyarakat. Dan sains pun menjadi alternativ pada gundah yang menerjang. Kemudian Sosiologi datang sebagai ilmu yang ingin memproduksi tatanan yang telah berhancuran. Sebuah sistem masyarakat yang ingin tumbuh dari hasil terjemahan sains. Sehingga masyarakat akhirnya menjadi topik yang mulai masuk dalam pembicaraan ilmu.

***

Kemudian zaman berubah. Segalanya mulai dikritisi. Tak ada yang mapan, semuanya di runtuhkan kembali. Mazhab Frankfurt dengan semangat pencerahannya mulai membuka selubung ilmuilmu sosial, termasuk sosiologi. 

Ada yang menjangkiti dalam ilmuilmu sosial selama ini. Yang secara geneatik mengendap dan lalai dari penyelidikan kritis ilmuan. Kaidah ilmiah akhirnya tergugat, sebab dibaliknya ada selubung kekuasaan yang mengendap. Dimana kaidah ilmu sosial menuntut ilmu yang lahir dari kaidah sains untuk objektiv dan ilmiah. Sehingga segalanya terlepas dari tuntutan sang ilmuan. Ilmu sosial harus bebas nilai. Tepat pada keyakinan inilah Mazhab Frankfurt, ilmu yang kritis itu, memvonisnya sebagai penyakit yang harus dibasmi.

Tentang ilustrasi ilmu yang bebas nilai itu, seorang Sosiolog Islam memiliki teorinya dalam memboboti ilmu yang mendukung status quo selama ini. Menurutnya, ilmuilmu sosial selalu merangkap pada dua lapisan kerja. Yang pertama adalah lapisan “judgement of faith” dan  yang kedua yakni “Judgement of value”.

Pada tingkatan yang pertama; “judgement of faith”, ilmu dalam kerangka kerja seorang ilmuan diprediksikan dalam semangat saintis. Dimana pada penarikan teorinya, ilmu secara ambilavalensi tidak mengikutsertakan penilaian pribadinya dalam menentukan skala objektiv pengamatan yang di ambilnya. Atau dengan kata lain, ilmu dimata ilmuan pada tingkatan ini merujuk pada kaidah sains yang menuntut sebuah gagasan harus bebas terhadap apa saja yang bisa mengganggu keobjektivitasannya. Dengan begitu ilmu yang ditarik dari pengamatan hanyalah sekedar mencermati dan mendesrkipsikan hubunganhubungan, kaidahkaidah, karakteristikkarakteristik objek yang diamati. Dalam bukunya, Ali Syariati mengilustrasikan model hubungan secara deskripsi yang melihat interaksi seorang ilmuan dengan teorinya seperti  hubungan cermin dengan orang yang bercermin. Dimana antara gambaran dicermin dan orang yang bercermin tidak saling mempengaruhi.

Tepat pada level inilah, seorang ilmuan akhirnya harus mengikuti keyakinan saintisnya. Yang kita tahu ilmu dalam keyakinan ini adalah ilmu yang pasiv. Ilmu yang hanya berhenti pada tahap membaca bukan mengubahnya. Sepertinya pada situsi seperti inilah, Marx dengan apologetik memberikan sanksi terhadap ilmu yang hanya bekerja dalam kerangka deskriptiv. 

Lantas apa seharusnya; Dari mana kita harus mulai, 

Ketika ilmu disuatu waktu akhirnya tergugat. Wewenang ilmiah yang disandang ilmuan pada akhirnya menuntut  tanggung jawab dalam wewenang sosialnya. Sehingga ilmu bukanlah sekedar hasil tangan yang berhenti dari pengamatannya, melainkan turut mengubahnya. Dan disinilah paradigma seorang intelektual itu mendapatkan statusnya; “Judgement of Value”, menimbang nilai.

Seperti keyakinan Mazhab Frankfurt, di balik sosiologi ada tirani kuasa yang menjangkiti. Maka nilai ilmu Sosiologi kembali harus dipertimbangkan. Apatah lagi ilmu secara bersamaan selalu mengimbangi kekuasaan yang ada. Sehingga pada level “judgement of value” nilai keperpihakan Ilmuilmu sosial (sosiologi) harus dinilai dalam kerangka apakah ia mengusung kekuasan ataukah justru sebaliknya. Dan juga barangkali,  sepertinya mengapa status quo masih mapan, keadaan masih tetap saja sama,  melainkan karena sokongan ilmuilmu sosial yang diproduksinya. Bukan dengan prinsip yang lain, prinsip bebas nilai?


17 Juni 2013

Spiral Kekerasan dan Melangitnya Harga BBM


Mengingat pernyataan menteri keuangan di beberapa waktu lalu, bahwasannya di tanggal tujuh belas juni nanti, pemerintah akan segera menaikkan harga BBM bersubsidi setelah APBN perubahan 2013 diketok pada sidang paripurna di DPR.  Pernyataan dari Menkeu ini adalah penegasan ulang dari SBY tentang keputusan pemerintah yang akan menaikkan tarif BBM bersubsidi. Dan jika melihat dari kejadian-kejadian sebelumnya, sebagaimana biasanya dari naiknya tarif BBM akan mempengaruhi bertambahnya masyarakat miskin di tanah air. Data BPS menunjukan hingga akhir Januari 2013, data kemiskinan terbaru Indonesia mencapai 28,59 juta orang atau 11,66 persen dari total jumlah penduduk Indonesia. Sehingga jika tariff BBM naik, persentasenya bertambah satu persen menjadi 2,5 juta orang dan angka kemiskinan akan mencapai di atas 30 juta orang.

Dan malangnya, strategi yang diambil oleh pemerintah dalam mengatasi kemiskinan adalah seperti yang sudah-sudah, yakni program pemberian bantuan tunai kepada masyarakat yang dinilai terkena dampak serius dari naiknya tariff BBM. Strategi ini pada kenyataannya mendapatkan reaksi pro dan kontra oleh elemen public baik bagi politisi, ekonom, tokoh masyarakat, kalangan agamawan maupun tokoh masyarakat lainnya. Namun apa yang di lakukan pemerintah selama ini adalah upaya yang bersifat predikatif dan berjangka pendek. Oleh sebab, guncangan naiknya BBM membawa dampak yang serius bagi kelangsungan masyarakat yang kurang mampu. Hal ini tentu memiliki efek yang berjangka panjang karena perlu adanya pembacaan strategi adaptatif masyarakat oleh seluruh stakeholder yang terkait untuk penyesuaian hidup masyarakat ditengah-tengah naiknya barang-barang kebutuhan hidup.

Spiral kekerasan
Kurang antisipatifnya pemerintah dalam mengambil keputusan mengenai harga BBM, membuat sebagian besar masyarakat Indonesia hidup dalam perasaan yang was-was. Hal ini terjadi akibat penundaan keputusan pemerintah dalam mengungumkan keberlakuan tarif baru BBM. Walaupun sebelumnya strategi pemerintah dalam mewacanakan akan naiknya BBM sudah dilakukan jauh-jauh hari, namun apa yang menyertai dari itu adalah bertambahnya beban psikologis masyarakat. Apa yang dilakukan pemerintah dengan menunda-nunda keputusannya, berdampak serius pada penetapan kebijakan-kebijakan lembaga pemerintahan yang kesannya sistemik. Akibatnya dari itu adalah kenyataan sosial yang berujung pada aksi-aksi kekerasan.

Neolib dan Trilogi Ilmu Sosial



Neoliberalisme adalah kristalisasi dari sebuah gagasan tentang kebebasan yang bekerja secara adaptatif jauh merangsek ke wilayah basis elementer manusia; kebutuhan hidup manusia, kebutuhan ekonomi. Karena ia sifatnya gagasan, maka ia-pun mengalami perbaikan sana-sini untuk menutupi bopeng-bopeng yang ada dalam dirinya, berkat sebuah kenyataan, Neoliberalisme tak selama tampil sempurna . Konon katanya, John Maynard Keynes pernah membuang sebakul handuk kamar mandi ke lantai di tengah sebuah pembicaraan yang serius. Orang-orang terkejut. Tapi begitulah agaknya ekonom termasyhur itu menjelaskan pesannya: Jangan takut berbuat drastis, untuk menciptakan keadaan di mana bertambah kebutuhan akan kerja. Dengan itu orang akan dapat nafkah dan perekonomian akan bisa bergerak. Waktu itu Keynes sedang berceramah di Washington DC pada 1930-an. Krisis ekonomi yang bermula di Amerika Serikat pada 1929 telah menyebar ke seluruh dunia. ”Depresi Besar” -dengan suasana malaise- berkecamuk di mana-mana.1

Neoliberalisme dan Keynes seperti tampil antara perhubungan dalang dengan lakon wayangnya. Yang mana seorang dalang punya kuasa menjalankan peran dari sebuah lakon. Sebagai dalangnya, Keynes memang memiliki kuasa itu, dan neoliberalisme adalah alur lakon yang membutuhkan sebuah perubahan drastis. Sebagai sebuah alur, plot memang hal yang sulit untuk dihindari, Maka dimulailah sebuah cerita dari plot yang menghendaki modal harus diputar dan kembali dengan untung besar. Dan barangkali disinilah bahasa marxis mendapatkan perannya, kelas proletar adalah peran antagonis yang harus ada dalam sejarah manusia.

16 Juni 2013

Surat dari Nietzsche; Kebutuhan untuk Percaya

Di siang itu,  kala hujan lebat, jalanjalan basah tergenangi air, kehidupan kita,  seperti ungkapan Jerman: lebenswelt tengah berjalan tanpa penghujung. Dunia yang kita hayati dengan cita dan harap. Kehidupan manusia yang jatuh bangun di tengah harapan yang kembang kempis. Maknamakna yang ditata berdasarkan persentuhan manusia terhadap penghujung sejarah yang panjang; penghidupan yang naik turun, riuh rendah nasib yang diperjuangkan, ketika insting bertahan hidup kerap kali mendapatkan ujiannya pada harapan yang tipis. Maka di siang itu sebuah peristiwa terjadi.

Di tengahtengah itu, pada penghujan yang enggan berhenti, saya membayangkan sejulur tangan menulis dengan penanya, untuk zaman kita. Untuk ia kirimkan tepat di tengah jantung peradaban kehidupan kita. Sebuah surat yang datang dari penghujung abad 19 dengan maknanya yang privatif. Pesan yang begitu pribadi, ia memiliki kesan yang tertutup. Ketika segalanya tengah terbuka lebar, ketika perihal yang mempribadi terbuka untuk orang banyak, dan terjadinya erosi pemaknaan dan pembalikkan nilai di manamana. Sebuah surat bisa menjadi sesuatu yang mitis. Dari seorang yang senang memanggil dirinya sebagai seorang tabib, seorang filsuf pencuriga; Nietzsche.

Secarik surat dari pengalaman sakit dan pencarian akan obat. Yang mana hidup adalah pengalaman untuk mentransfigurasikan sesuatu. Mengenai seni memberi bentukbentuk pada pengalaman manusia.

Dan pengalaman hidup manusia yang kita hidupi adalah hidup yang sakit. Di mana ada kepongahan yang hendak menundukkan. Tentang telos yang dikehendaki untuk masuk pada rumusan yang ajeg. Tentang ini, reality adalah konsep dalam batas yang kita padatkan. Oleh ilmu, sains, ideology, agama, seni dan kepercayaan yang dilabeli ismeisme lainnya, di mana sejatinya ada instingtif yang mengendap untuk menutupi kelemahan kita sebagai manusia. Yang mana tampak dengan bahasa, kepercayaan yang begitu ambisius sehingga jangan sampai hanyalah berupa simtom, berupa gejala, berupa yang bukan inti itu sendiri. Di mana seluruhnya adalah perayaan terhadap penampakan, perayaan terhadap permukaan.

Ia menulis dalam Beyond the Good and Evil, 270,  sebuah paradox kedalaman. Akan sesuatu yang dilakukan. Tentang sesuatu yang di alami;

‘…Penderitaan yang dahsyat meninggratkan manusia sekaligus mengisolasi dirinya. Di satu sisi pengalaman berhadapan dengan jurang rasa sakit, membuat orang lebih tajam. Namun disisi lain ia menjadi berbeda dari sesamanya. Ia menjadi lain. Rasa bangga intelektual diamdiam seorang penderita mengharuskan si penderita untuk memakai berbagai macam samaran untuk melindungi dirinya dari tangantangan yang  tak tahu diri dan  tak senonoh juga  untuk melindungi dirinya dari orangorang yang tak sederajat dengan dirinya dalam hal penderitaan. Pengalaman ini begitu dahsyat dan berat, sehingga membuat sang penderita menggunakan berbagai bentuk topeng untuk  menyamarkannya. Dan penyamaran sekali lagi berfungsi ganda, untuk membuatnya tak dikenali oleh sembarangan orang, sekaligus untuk menyuarakan secara lebih keras apa yang memang tidak bisa disuarakan secara lain kecuali lewat topeng, lewat permukaan, lewat penyamaran….’

Ia berkeyakinan, di saat penuhnya kalangan terdidik, orangorang yang berkisar dalam lingkaran kebenaran atau orangorang yang telah menjadi lain dari yang awam, sesungguhnya adalah si penderita yang telah menjadi lain, penderita yang sesungguhnya bermain pada permukaan. Di mana permukaan adalah satusatunya yang ada, ketika dibalik topeng tiadalah sesuatu. Maka kebenaran adalah suatu yang tiada. Sehingga  tiada yang tinggal dari ilmu, melainkan hanyalah permukaan belaka. Tiada makna yang hendak untuk disampaikan. Tak ada tataran meta yang ada, segalanya hilang. Yang ada adalah metaphor diantara kedalaman dan permukaan. Hidup hanyalah topeng untuk membentengi kelemahan.

Dan keadaanya memang demikian adanya. Kita bisa saja mengyakini sesuatu yang memberikan kita pegangan. Namun di mata pencuriga, keyakinan hanyalah bayang yang kita bentuk, tatanan yang kita kehendaki berdasarkan mekanisme diri untuk keluar dari mental yang sakit. Sebab zaman hanyalah kematian akan inti, ketika apa yang kita kenal sebagai zaman kemajuan tak lain hanyalah meningratkan sekaligus mengisolasi diri sendiri.

Dalam kata pengantarnya;

‘..Untuk mengakhiri semoga yang esensial tidak terlupakan dari jurang semacam itu, dari kelelahan seperti itu, seperti  halnya  dengan rasa capek kecurigaan yang begitu besar. Kita dilahirkan kembali sekali lagi. Dengan kulit baru yang lebih peka, lebih licik dengan citacita akan kegembiraan yang lebih halus, lidah yang lebih peka atas apa saja yang baik. Indera yang lebih gembira dengan kepolosan rasa gembira yang kedua yang lebih berbahaya karena sekaligus lebih naïf dan seratus kali lebih halus daripada sebelumnya. Oh betapa tampak menjijikkan, tidak senonoh, hambar dan menjemukkan bagi kalian, kenikmatan sebagaimana dimaksud biasanya dimaksud pemuja kenikmatan yaitu orangorang berpendidikan kita, orangorang kaya kita dan para  pemimpin pemerintah kita.

Sekarang kita menonton dengan pandangan mengejek nakal, riuh rendah pasar dimana para orang terdidik, para warga Negara membiarkan diri mereka diperkosa oleh seni, buku, musik yang maunya memberikan kenikmatan spiritual lewat daya minuman berakhohol. Betapa lengking teatrikal nafsu derita memecahkan gendang telinga kita. Betapa segala pemberontakan romantis, segala campur aduk indera yang diapresiasi oleh para orang  terdidik itu dengan seluruh aspirasi mereka kepada yang tak bisa diusapkan, ke ekstase, ke yang hiper rumit, betapa itu semua menjadi asing untuk cita rasa kita.

Tidak. Kita orangorang  yang sembuh yang berbeda, kita pun masih  akan  membutuhkan sebuah seni, seni yang sama sekali lain..’

Segalanya adalah cacat yang menganga. Apa yang dinisbatkan sebagai kenyataan oleh kepercayaan adalah dunia yang retak. Bahkan segalanya adalah sesuatu yang chaotic terserak dan berpencar. Sehingga dengan kepongahan manusia berusaha untuk menundukkannya pada batas ilmu maupun kepercayaan mereka, namun dalam kenyataannya diwaktu yang sama, ketika hidup manusia telah meninggalkan zaman yang primordial, pada saat yang sama justeru lebih menjijikkan dari masa sebelumnya. Tidak senonoh,  menjemukkan dan hambar. Sesuatu kenikmatan  yang seakanakan sudah fixed dan final. Dalam bahasanya, kita adalah orang yang terperangkap dalam alkohol yang memabukkan. Dan kita terasing. Dan seringkali tak sopan dihadapan realitas.

Dalam tulisannya yang lain ia mengendaki adanya sosok misteri yang tampil bukan untuk dikenali dengan pasti. Sesuatu yang kedatangannya dalam bentuk samar dibalik topeng yang diperlihatkan. Sang Diogenes yang dahsyat,  saya merindukan dewa topeng, saya membutuhkan dewa yang pandai menari katanya.


14 Juni 2013

jalan raya


Apa jadinya jika jalan raya di suatu pagi bertemu dengan modernitas? Maka yang ada adalah keterburu-buruan. Hidup dalam cara modern adalah bagaimana anda dapat menggunakan waktu se-efisien mungkin. Dan jalan raya, di pagi hari adalah perentang penandanya. Di jalan raya, anda tak boleh menengok; kanan dan kiri, apa lagi berbalik kebelakang hendak kembali, karena menengok dan kembali dalam buku besar modernitas berarti kemunduran. Dan bisa jadi anda akan menjadi seorang individu yang tertinggal jauh.

Memang modernitas adalah sebuah bus besar yang sedang terburu-buru; bergegas dengan kecepatan yang tinggi, tanpa rem, tanpa rambu jalan dan tanpa terminal pemberhentian. Modernitas adalah bentuk zaman bahkan pikiran baru yang berusaha melupakan ingatan masa lampau; melipat segala sesuatu menjadi sebuntal pakaian yang harus dilipat bahkan diganti, dan memberikan anda sekelumit pakaian dengan cermin yang menaruh visi tentang kemajuan. Dan inilah modernitas, waktu menjadi barang yang penting untuk dijaga. Dikemas dalam keadaan yang rapi, dijaga baik-baik dan tak harus dirusaki, sebab waktu tak bisa dipending apalagi terhenti, maka kerja adalah lokomotif yang harus terus di dorong.

Kerja dalam pengertian zaman modern bahkan postmodern, adalah usaha yang memanfaatkan potensi dalam memapatkan waktu dan ruang, yang punya kaitan dengan peran dan fungsi yang terspesialisakan, dimana digerakan berdasarkan visi yang di sublim oleh rasio yang mengendaki capaian tujuan seefesien dan secepat mungkin. Dan rasio seperti ini, merupakan   rasio yang dihardik oleh kalangan mazhab Frankfurt, oleh mereka, rasio ini adalah rasio yang menampik ruang permenungan, selalu menukik untuk berhadapan langsung pada objek yang ingin kuasai.

13 Juni 2013

la mémoire et à venir


Entah seberapa jauh kita bisa mengingat masa-masa dimana kita kecil? Mungkin banyak yang terlupakan, tetapi bisa jadi tidak sedikit yang masih tersimpan. Ingatan punya aturannya sendiri; tentang apa yang layak tersimpan dan apa yang mesti kita lupakan, sebab ingatan diwaktu tertentu punya masa-masa ia datang kembali; menemukan gejala yang menghubungkan akan dua peristiwa, dimana masa lalu bisa kita rasakan pada masa sekarang yang punya kemiripan.

Karena perihal ini, maka terkadang ingatan bisa menjadi hal yang perlu diatur, apalagi menyangkut ingatan orang banyak. Dimana ingatan bisa mendatangkan isyarat apa yang patut dan yang harus dibuang jauh-jauh. Maka bisa saja ingatan kehilangan tentang apa yang sepantasnya diingat, tak terkecuali masa kita anak-anak.

Ingatan bisa jadi hal yang memupuk harapan atau sebaliknya?

Harapan?...bisa dikata sejenis utopia; sesuatu tempat yang menempatkan cita-cita yang ideal didalamnya. Atau sesuatu yang tinggi tempatnya. Perihal akan segala sesuatu yang menjadi perlawanan dari kehidupan “bawah” yang serba tak berkecukupan, tak lengkap, tak utuh, tak genap, atau sejenisnya dan sejenisnya: atau bisa dikata Sesuatu yang sempurna.


Yang mana keberadaannya melampaui jenis kehidupan yang dipredikatkan oleh label yang tak sempurna, kehidupan manusia yang terapit serba katakcukupan. Lantas bisakah ia menjadi hal yang benar-benar dirasakan, sesuatu yang betul-betul dialami, yang mana “keseluruhan” dari diri kita betul-betul identik pada apa yang kita harapkan.

Lantas apa arti harapan bagi orang-orang kecil yang terpenggal masa anak-anaknya? Tentang anak-anak kisaran usia lima atau enam yang tiap harinya berdiri dibawah traffic ligh, kolong jembatan,-mereka yang menjajal koran, ngamen, ngemis ataukah pekerjaan yang kita anggap sampah- pada perempatan jalan-jalan yang sering kita lewati. Dan kita pun silau-mungkin istilah ligh punya persinggungan makna dengan apa yang sering terjadi pada kita- berusaha menghindari, berupaya menolak, bahkan menampik kesal pada mereka. Dan kita benar-benar telah memenggal masa kecil kita? 

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...