04 Januari 2018

Membendakan Gagasan


Bagus Takwin
Psikolog, penulis dan akademikus berkebangsaan Indonesia 
Namanya dikenal sebagai pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
Penulis buku ”Akar-Akar Ideologi”

PARA seniman memiliki kemampuan mengkonkritkan gagasan menjadi benda-benda. Seorang pematung misalnya, melalui keahlian khusus dapat membuat patung-patung berdasarkan gagasan dalam benaknya. Melalui  benaknya sudah ada ide-ide siap direalisasikan dengan mengolah bahan mentah berupa batu atau kayu menjadi benda yang bernilai tertentu.

Dalam hal ini patung adalah benda kultural. Dan kayu atau batu sebagai bahannya adalah benda natural. Dengan kata lain, kemampuan membendakan gagasan sang pematung adalah kerja transformatif mengubah “yang natural” menjadi “yang kultural”.

Tidak sekadar mengubah ide menjadi benda belaka, atau mengubah yang natural menjadi kultural. Para seniman juga mampu mengubah benda yang semula tidak bernilai apa-apa menjadi barang yang bernilai estetik. Dalam hal ini, sang seniman memiliki kemampuan serta kepekaan membendakan ide-ide estetis ke dalam karya tangannya.

Dengan kata lain, tidak sekedar mengubah gagasan menjadi benda-benda, tapi para seniman mampu menyulap sesuatu menjadi indah melalui kerja kreatifnya.

Di sini yang kultural bernilai setingkat dari sebelumnya; dia menjadi benda-benda estetik.

Di medan bahasa, para sastrawan juga memiliki kemampuan yang hampir mirip para pematung. Hanya saja seorang sastrawan menggunakan medium bahasa untuk membendakan gagasannya. Ide-idenya adalah bahannya itu sendiri. Seperti sang pematung, sang sastrawan juga memiliki akses kepada alam natural untuk diolahnya. Artinya dengan kata lain, melalui bahasa, sang sastrawan juga menciptakan benda kultural menjadi karya sastra yang dapat dinikmati banyak orang.

Nampaknya, dua contoh di atas adalah “pekerjaan” abadi yang secara kebudayaan ditanggung manusia semenjak pertama kali ia ada. Perjumpaan awal sang manusia terhadap alam adalah perjumpaan bagaimana dia “membudayakan” kehidupannya. Dalam hal ini, seperti yang ditemukan dari peninggalan kehidupan manusia awal di dalam gua-gua berupa gambar dan simbol-simbol, adalah “pekerjaan pertama” manusia menarasikan kisahnya untuk membangun kebudayaannya. Dari sisi ini dapat dikatakan kebudayaan adalah cara manusia mengisahkan hidupnya.

Manusia adalah mahluk pembuat kisah. Begitulah yang dinyatakan Bagus Takwin, seorang psikolog UI. Yang unik dari pendakuan Bagus Takwin, manusia sang pembuat kisah selalu berpusat kepada “diri” (self) sebagai peran utamanya. “Diri” dalam hal ini adalah pusat kesadaran, tidak saja menjadi fondasi identitas manusia, melainkan juga menjadi “jaringan” yang bertautan dengan “diri” yang lain untuk melengkapi kisah yang berpangkal darinya.

Melalui pertautan inilah “diri” sebagai kisah dikembangkan manusia dengan cara mendialogkan dirinya dengan daya-daya yang ditemukan di luar darinya. Selain dari pada itu, melalui cara ini, “diri” akhirnya menjadi jauh lebih berkembang bergantung dari di mana dan dengan apa ia bertaut.

Dalam konteks komunikasi, “diri” adalah medan terbuka dari praktik-praktik pemaknaan. Sang “diri” melalui proses pemahaman senantiasa menangkap makna melalui simbol-simbol yang dihadapinya. Melalui cara ini manusia sekaligus mengukuhkan dirinya sebagai mahluk simbolik; mahluk yang berinterakis dengan perantara makna-makna yang ditangkapnya.

Paul Ricoeur seorang filsuf abad 20 dalam hal ini memiliki pendapat, identitas diri manusia dapat dikenalinya seperti dia mengenali kisah-kisah yang tertuang dalam cerita-cerita kebudayaan. Melalui kedudukan semacam ini, kebudayaan adalah kisah berupa teks-teks yang dibendakan dari kebiasaan-kebiasaan, tradisi, norma-norma, dan atau pandangan dunia. Dengan kata lain, bagaimana sang manusia membaca “dirinya” sama halnya berarti dia membaca kebudayaannya.

Itulah sebabnya, kebudayaan adalah salah satu tatanan epistemik yang memungkinkan “diri” manusia dapat berkembang. Melalui kisah-kisah dalam budaya (Tu manurung dalam masyarakat Sul-sel, kisah Mahabrata bagi masyarakat Jawa, misalnya) manusia mempertautkan kisahnya untuk menggenapi “dirinya.”  

Tapi, nampaknya era kiwari manusia seolah-olah berhenti menciptakan kisah. Atau dengan kata lain –meminjam ungkapan Radhar Panca Dahana—manusia berhenti memproduksi kebudayaannya.

Zaman mutakhir adalah zaman tanpa kisah. Hal ini ditandai dari guncangnya identitas masyarakat jika mengalami pergesekan dengan simbol atau “diri” yang lain. Gejala ini juga menandai terjadinya disorientasi dan dislokasi atas apa yang sedang dihadapi. Kesalahan membaca kisah kebudayaannya, berarti juga dengan sendirinya kesalahan ketika membaca “dirinya.”

Zaman tanpa kisah juga adalah zaman ketika manusia kehilangan kemampuan membendakan gagasan. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi seperti saat ini akhirnya hanya menjadi situasi tanpa arti apa-apa selain menjadi ajang untuk mengkonsumsi gagasan tinimbang membudayakannya. Wahana komunikasi melalui pelbagai media canggih juga hanyalah menjadi artefak yang tidak memiliki signifikansi apa-apa tanpa mampu memproduksi gagasan dan membendakannya.

Di titik ini, praktik-praktik pemaknaan terhadap budaya yang hanya sebatas level konsumsi, mesti didorong seperti kerja-kerja seorang seniman di atas. Suatu kemampuan untuk mengolah segala sumber daya yang dimiliki untuk menunjang kehidupannya sendiri. Secara komunikatif, “sang diri” manusia harus terbuka kepada pertautan-pertautan simbol, tradisi dan nilai yang mengepungnya. Manusia harus mulai membaca “kisah.”     

Dengan kata lain, praktik membendakan gagasan adalah dimulai dari praktik membaca kisah untuk kemudian membendakannya kembali. Suatu praktik dialektis yang terwujud dari tindakan membaca dan memproduksi kebudayaan.

Itu artinya hal yang paling pertama untuk membendakan gagasan adalah membaca “diri” sebagai pangkal kebudayaan itu sendiri. Tanpa itu mustahil ada yang bisa dikisahkan, mustahil ada yang bisa diliterasikan.


01 Januari 2018

Of Mice and Men, John Steinbeck

Data buku:
Judul Buku: Of Mice and Men
Penulis: John Steinbeck
Penerbit: Gramedia Pustaka
Tahun terbit: 2017
Tebal halaman: 144 halaman 

BUKU lawas Of Mice and Men karya John Steinbeck adalah buku pertama yang eike baca di awal tahun 2018. Tidak butuh waktu lama menghabiskannya, mengingat membaca karangan Steinbeck di hari pertama tahun baru adalah peristiwa yang lumayan menggembirakan. Aktivitas yang menghibur sekaligus bisa menjadi permulaan yang bagus untuk hari-hari yang akan datang. Ya, setidaknya di tahun 2018 eike dapat membaca jauh lebih banyak buku dari tahun sebelumnya. Kembali ke buku ini. Buku ini sebenarnya sudah eike miliki dari bulan Oktober tahun lalu, tapi apa daya, saking malasnya eike membaca akhirnya baru kesampaian di tahun 2018. Seperti karangan Steinbeck yang lain, Cannery Row misalnya, di buku ini Steinbeck memulai kisahnya dari sosok minor, katakanlah orang-orang yang tersisihkan dari kelas masyarakat dominan. Orang-orang yang kalah dari nasib mujur. Kisahnya dimulai dari dua orang pengembara pencari kerja yang membutuhkan uang demi sebidang tanah tempat mereka akan menghabiskan waktunya dengan bekerja tanpa harus diperintah oleh siapa pun. Dua orang dengan mimpi yang sederhana. Hidup dengan bebas tanpa beban pekerjaan yang ditentukan orang lain. Mereka bercita-cita menjadi tuan bagi hidupnya sendiri. Dua orang yang ingin memiliki sebidang tanah dan sebuah rumah sederhana yang bisa mereka tinggali dengan kemauan sendiri. George dan Lennie adalah dua sosok yang membuat eike berpikir betapa persahabatan dua tokoh ini adalah jenis pertemanan yang saling mengisi. Bahkan dua sosok ini mewakili gagasan mengenai kesepian yang di alami orang-orang yang termarginalisasi. Dengan kata lain, interaksi mereka adalah persahabatan yang dipupuk dari kesepian masing-masing dari mereka. Di sini Soledad, tempat yang bakal mereka tuju, sebuah kota di California, menjadi nama sekaligus arti yang mewakili kesepian itu sendiri. George bertubuh kecil, dan Lennie adalah sosok raksasa yang berotak seperti anak-anak, tapi kekuatannya jauh lebih besar dari siapa pun yang tak pernah membayangkannya. George-lah yang menjadi sahabat Lennie setelah Lennie ditinggal mati Bibi Clara, sekaligus orang yang melindungi Lennie dari keluguan sekaligus kebodohannya. Lennie memang berbadan besar tapi jangan menyangka dia secemerlang tubuh dan tenaganya. Pikirannya hanya bisa ditemukan di kepala anak-anak berusia sekira lima sampai tujuh tahun. Secara emosional Lennie bukanlah orang yang mampu mengontrol dirinya sendiri. Sangat lugu bahkan. Di sini eike merasa kadang memang keluguan anak-anak sering kali dipandang kebodohan bagi orang-orang dewasa. Dari cara berpikir orang dewasa, anak-anak sering didudukkan sebagai orang yang mesti mengikuti perintah yang lahir dari otak orang-orang yang jauh lebih tua. Tapi Lennie sebenarnya adalah bukan anak-anak. Itulah sebabnya eike merasa kebesaran hati George yang dengan kesabaran yang dimilikinya menjadi kekuatan yang mengikat persahabatan mereka. Dengan kata lain persahabatan mereka persahabatan yang juga sekaligus ikatan yang tidak lazim. Apalagi di keadaan saat itu –diceritakan keadaan ekonomi mengalami Depresi Besar—  para pekerja musiman seperti mereka sangat jarang berpergian berdua-duaan. Bukankah berpergian dengan dua orang akan membuat jatah makanan akan lebih banyak atau sebaliknya, malah berkurang. Dengan  kata lain, itu masalah mengingat kehidupan yang semakin sulit serta pendapatan yang tak kunjung membaik. Tapi di situlah kekuatan persahabatan, sekaligus cita-cita, setidaknya seperti yang dimimpikan George di dalam kepalanya. Sebidang tanah yang ia idam-idamkan dengan cara mengumpulkan uang sen demi sen. Suatu kehidupan, lebih tepatnya kebebasan yang bakal diraihnya. Sampai akhirnya mereka mendapatkan masalah akibat kebodohan, lebih tepatnya keluguan Lennie yang mengakibatkan mereka harus bersembunyi dari kejaran orang-orang di suatu malam. Saat itu, Lennie yang memiliki kesukaan aneh dengan menyentuh apa saja yang halus –ya, Lennie memiliki kesukaan menyentuh permukaan yang lembut nan halus— terperangah kepada baju seorang wanita yang dilihatnya menarik. Tanpa pikir panjang, dengan keluguannya dia berusaha meraba permukaan baju sang wanita yang membuat dirinya seperti seorang maniak seks yang mengancam (bayangkan dengan kepolosan seperti seorang anak kecil yang tiba-tiba datang kepada Anda dengan memegang-megang busana yang Anda kenakan!). Masih mengelus-ngelus permukaan halus baju sang wanita, tak disadarinya Lennie membuat takut sang perempuan yang menuduhnya ingin memperkosanya. Saat itulah tindakan polos Lennie memancing kegaduhan lantaran kepanikan sang perempuan. Mereka akhirnya melarikan diri dari amuk orang-orang. Bersembunyi selama semalaman dan melalui perjalanan jauh tibalah mereka di sebuah barak tempat mereka akan bekerja mengangkut biji jelai (sejenis padi-padian yang biasa dipakai untuk makanan ternak). Tapi, tak bakal ada yang akan menduga, di situlah Lennie akan membuat masalah di luar ekspektasi siapa pun. Di tempat ini George dan Lennie diterima bekerja sekaligus sudah merasai dari awal bahaya yang akan dihadapi oleh mereka berdua, setidaknya bagi George yang mengkhawatirkan ulah lugu Lennie yang tak mampu dikontrolnya. Kedunguan Lennie di mata George bukanlah suatu soal jika mampu dikontrolnya melalui perintah yang diberikannya. Namun, sebaliknya akan menjadi masalah jika Lennie ditinggal pergi tanpa kehadiran George di sampingnya. Sampai di sini eike merasakan ketegangan-ketegangan yang dihadapi George beserta kenalan-kenalan barunya; Slim, Candy, Carlson, Crooks, seperti di saat si istri Curley (istri yang dinilai genit dan murahan) atau Curley (sosok anak pemilik peternakan yang sok jago) itu sendiri datang secara tiba-tiba menemui mereka di tengah percakapan para pekerja. Curley dan istrinya, bagi George adalah dua sosok yang mesti dihindarkan dari Lennie. Biar bagaimana pun Lennie akan menjadi masalah jika dia dibiarkan berbicara semaunya. Hingga kedunguan Lennie-lah yang membunuh istri Curley di suatu sore dengan cara mati kehabisan napas dicekik tangan Lennie yang besar dan kuat. Bukan dicekik! Melainkan itu hanya upaya Lennie akibat ketakutan yang lahir dari kepanikan berlebihan lantaran istri Curley yang juga panik dengan cara mendekap mulutnya –sampai leher istri Curley patah. Kepanikan dengan kepanikan yang  bertemu akhirnya melahirkan tindakan bodoh yang menyebabkan matinya istri Curley. Endingnya-lah yang membuat eike merasa kemalangan yang dihadapi Lennie. Lennie mati ditembak dari belakang oleh sahabatnya sendiri setelah di dongengkan cerita berkaitan dengan impian mereka berdua untuk memiliki tanah dan rumah sendiri. Dengan polos Lennie mendengarkan cerita yang terus menerus didongengkan selama ini kepadanya dan George yang tangannya gemetar menarik pelatuk pistol yang ditempelkannya tepat di belakang batok kepala Lennie. Kematian yang tak mesti dilakukan oleh Slim atau bahkan Curley, tapi tangan George sendiri: orang yang menjadi pelindung bagi Lennie.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...