15 Agustus 2017

Norwegian Wood, Haruki Murakami



Judul:  Norwegian Wood
Penulis:  Haruki Murakami
Penerjemah: Jonjon Johana
Tebal:  426 halaman
Tahun terbit: Cetakan ke enam, Agustus 2015
Penerbit:  Kepustakaan Populer Gramedia


CINTA memang misterius. Tak ada yang bisa menebak apa keinginan cinta. Dia universal, namun juga di waktu-waktu tertentu dia hanya mau menyinggahi hati seseorang yang memiliki keistimewaan sendiri. Cinta di lain waktu juga bisa menyeret seseorang kepada tindakan-tindakan di luar nalar, bahkan melawan kebiasaan-kebiasaan umum. Cinta juga mengajak seseorang akan mampu berbuat kepada perilaku-perilaku yang ganjil. Bahkan membuat seseorang depresi. Tapi tidak melulu soal cinta (apakah ini semua soal cinta?), Norwegian Wood milik Murakami juga mampu memberikan sisi lain dari kehidupan anak muda yang sedang di ambang batas antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Dalam konteks masyarakat Jepang tahun 60-an yang kala itu hampir semuanya gandrung dengan lagu-lagu dari (Barat) The Beatles. Namun tentu itu semua —lagi-lagi karena cinta yang mulai membentuk jalan ceritanya tanpa ada yang bakal tahu seperti apa bakal kejadian akhirnya. Semua bermula dari sebuah lagu, dan pada akhirnya kenangan yang paling kuat dari masa remaja mengemuka dan sulit dibendung. Ingatan yang kuat memang akan selalu keluar begitu saja dari sudut kepala jika memang sengaja atau tidak, “disentil” oleh “sesuatu”. Sesuatu itu datang kepada Watanabe melalui Norwegian Wood, lagu yang disukai oleh kekasih mantan pacar sahabatnya. Lagu itu akan menjadi jangkar ingatan yang bakal menghubungkan Matanabe dengan cerita masa lalunya. Novel ini secara interior dituntun oleh ingatan Watanabe seluruhnya. Terutama tentang masa-masa kritis yang dialaminya bersama Naoko dan Midori,dua gadis yang menjadi pusat kehidupan Watanabe. Bukan saja cinta –apakah tepat disebut cinta— melainkan juga sisi psikologis dari akibat-akibat yang tak diduga dari perasaan-perasaan yang tak mampu digambarkan. Perasaan-perasaan itu, yang bakal menjadi kekuatan dari hampir semua cerita di novel ini, adalah jaringan pelik yang menyedot Watanabe, Naoko, dan Midori ke dalam pusaran kejadian-kejadian yang mungkin hanya mereka sendiri mampu merasakannya. Yang paling menentukan dari cerita melalui novel ini adalah kematian orang-orang terdekat Watanabe  yang memberikan efek besar, terutama kepada Naoko, orang yang dekat Watanabe yang sebelum kematian (bunuh diri) Kizuki merupakan pacar dari Naoko. Dari sinilah ada semacam perasaan ganjil –dapatkah Anda melakukannya: menjalani hubungan khusus dengan mantan pacar sahabat Anda yang mati bunuh diri?—bagi Watanabe untuk melanjutkan “kisah” yang sempat mengalami guncangan di antara mereka bertiga yang akhirnya membuat Watanabe pun menjalani hubungan yang ganjil dengan Naoko. Gantung diri yang dilakukan Kizuke berdampak traumatis bagi Watanabe dan Naoko. Bagi keduanya, terutama kepada Watanabe, kehilangan Kizuki bukan saja kehilangan teman jalan, melainkan adalah sekaligus teman cerita yang “nyambung” dari sekian banyak teman sekolah Watanabe (walaupun kelak Watanabe akan menemukan temannya yang unik bernama Nagasawa yang juga menyenangi sastra dan senang bermain perempuan di saat perguruan tinggi). Bagi Naoko kematian tanpa sebab Kizuki, juga berdampak mendalam bagi jiwanya sampai akhirnya dia harus pergi ke suatu tempat yang dijadikan sebagai “rumah sakit” khusus untuk memulihkan “perasaan” dan kondisi kejiwaannya. Di saat itulah, ketika di masa penyembuhan Naoko, Watanabe menjadi semakin berarti bagi dirinya, tapi juga semakin krusial bagi keberlanjutan kesembuhan kesehatan Naoko. Kehidupan masa muda yang belum terikat “komitmen” juga membuat Watanabe menjalani hubungan khusus dengan seorang mahasiswi dari kampus tempat mereka belajar. Midori yang disebut Watanabe sebagai gairah yang “hidup”, “berjalan”, dan “dinamis”, dibandingkan Naoko yang “lembut”, “tenang”, dan “dalam” adalah sisi lain yang secara bersamaan tidak bisa tidak mengambil tempat lain dalam jiwa Watanabe. Jadi hubungan yang nampak kompleks ini (di cerita ini juga menampilkan sisi hubungan Nagasawa dengan Hatsumi –Hastumi juga mati bunuh diri), apalagi dengan “hubungan” Watanabe dengan Reiko, orang dekat Naoko di tempat penyembuhan yang juga memiliki sisi hidup yang tak biasa (Reiko seorang perempuan paruh baya yang kehilangan kemampuan bermain pianonya akibat gangguan kejiwaan yang melandanya dan di suatu kisah hidupnya tak disangka-sangka terjebak hubungan seks dengan murid perempuannya yang berumur 14 tahun di saat mengajar piano) , bakal membuat cerita di antara mereka memang benar-benar di luar dari hubungan orang-orang normal. Dan memang novel Murakami ini adalah cerita orang-orang ganjil dengan kebiasaan-kebiasaan yang tampak aneh (di beberapa bagian antara hubungan Watanabe dengan Naoko, dan Watanabe dengan Midori, hubungan mereka akan sampai kepada adegan-adegan seks yang membuat mereka menikmati dan tidak menyesalinya. Dan oh iya, Watanabe adalah tokoh yang digambarkan senang dengan membaca). Namun, dari semua keunikan tokoh-tokohnya, mereka memiliki kesamaan berupa memiliki minat yang sama terhadap sastra dan lagu-lagu barat (Mungkin ini kesukaan Murakami terhadap lagu-lagu dan literatur Barat). Dilema yang ditunjukkan Watanabe adalah akhir cerita setelah kematian Naoko (ya, Naoko akhirnya mati gantung diri di sebuah hutan tanpa sebab yang pasti, seperti Kizuki) adalah teka-teki, apakah akan bertahan dengan kenangan cintanya terhadap Naoko, atau tetap melanjutkan hubungannya dengan Midori, sosok unik yang juga banyak memberikan pengaruh terhadap Watanabe.  Tapi, cinta memang misterius. Tak ada yang bisa menebak apa keinginan cinta sampai-sampai menghempaskanmu bersama kesepian yang suram dan cita-cita yang tiba-tiba jatuh berserakan.

10 Agustus 2017

Menulis Itu Indah, Pengalaman Para Penulis Dunia, Albert Camus, et.al.

"Kesejahteraan suatu masyarakat dapat disimpulkan dari kondisi sastra di dalamnya." Oktavio Paz 
"Cara terbaik yang membuat seseorang dapat menjalankan revolusi adalah menulis sebaik yang dapat ia lakukan." Gabriel Garcia Marques
Saya harus segera menuliskan ini: menulis itu pekerjaan yang begitu melelahkan, bahkan menyulitkan pikiran. Perasaan ini seketika saja muncul dalam benak saya ketika membaca buku Menulis Itu Indah, Pengalaman Para Penulis Dunia, buku yang diterbitkan Oktopus dari Yogyakarta. Menulis bukan hal gampang seperti yang pernah dikatakan Pramoedya bahwa jika ingin menulis ya menulis saja. Kalimat ini memang terasa satire keluar dari orang sekaliber Pram. Apalagi sangat gampang bagi Pram mengucapkannya dengan beragam pengalaman semasa hidupnya jika dibandingkan dengan waktu sekarang. Menulis memang di satu sisi bukan bakat yang secara natural  dimiliki oleh kita seperti saat kita pergi di hutan dan kemudian mampu beradaptasi. Atau seperti anak lembu yang seketika mampu berjalan sedetik ketika ia keluar dari perut ibunya. Menulis, ketika membaca beberapa pengalaman dari penulis-penulis dunia yang disampaikan buku ini nampak sebagai pekerjaan orang-orang yang mau dan rela menghabiskan banyak waktunya untuk menghargai gagasan-gagasannya. Sebenarnya pertanyaan pentingnya apa yang indah dari menulis, ketika di waktu yang bersamaan seseorang bakal menjalani waktu yang panjang, pinggang yang encok, mata yang terpapar udara siang malam, debu-debu yang bertebangan, dan kehilangan banyak energi berbulan-bulan?  Apalagi apa yang bisa didapatkan dari pengalaman seseorang yang sebenarnya tak bisa dipertukarkan begitu saja. Pengalaman seseorang adalah peristiwa yang unik dan berbeda. Dia tak bisa dibagi untuk siapapun. Yang bisa dilakukan hanya menyampaikan cerita atas pengalaman itu sendiri. Sebab pengalaman hanya mampu terjadi selama sekali. Mungkin karena itu tidak semua penulis dunia mau menceritakan pengalamannya ketika menulis. Bukan karena itu adalah peristiwa yang tak memiliki sisi sosial, melainkan menurut saya pengalaman setiap penulis yang dikenal dunia memiliki sisi lain yang menyakitkan. Sisi yang mengundang memori yang sudah lama dipendam. Akibatnya, kita hanya mampu menebak-nebak kekuatan apakah yang sebenarnya tersimpan dalam hati para penulis-penulis besar selain daripada keinginan mereka untuk bersuara? Barangkali yang indah dari pengalaman menulis penulis dunia adalah –sudah tentu- adalah kesempatan yang kita miliki untuk membaca karya-karya mereka. Banyak ragam kemungkinan yang mungkin akan terjadi dari kepala sang penulis dengan karya yang sudah mereka lahirkan. Berawal dari gagasan sederhana yang mereka miliki, sudah pasti bakal banyak godaan dan hambatan yang bakal mengganggu proses kreatif sampai lahir karya mereka –coba kita bayangkan bagaimana seorang penulis yang harus diusir dari negaranya hanya karena aktifitas menulisnya dan mendapatkan pelbagai jenis siksa psikologis dan sosial. Selama jarak itu masih ada, maka penghargaan terhadap karya-karya mereka patut kita hidupkan dengan cara membacanya, mendiskusikannya, mencatatnya, atau kalau perlu mengkritiknya. Dengan cara itu maka makna kelestarian dari suatu karya tulis menjadi bukan saja tanggung jawab seorang penulis, melainkan juga menjadi tugas bersama para pembacanya. Menulis mungkin saja adalah bagian yang paling intim di hati setiap penulis. Sebagai suatu keadaan spritual. Paulo Coelho bahkan menyebutkan dirinya sempat terperangkap di dalam tulisannya sendiri. The Alchemist akhirnya menyelesaikan bagian akhirnya dengan menuntun penulisnya larut di dalamnya. Kata Coelho, buku itu yang menyelesaikan sendiri bagian akhirnya. Pengalaman semacam ini yang tidak mungkin dibagi kepada setiap orang. Pengalaman yang hanya dimiliki satu orang di jagad raya ini. “Pengalaman manusia yang esensial”, kata Jorge Luis Borges, yakni pengalaman penulis yang memerlukan kesendirian, dan dia dapat mengambil tempat di dalamnya. Itulah sebabnya setiap penyair dan filsuf misalnya, kata Foucault, “tidak terbentuk dengan cara yang sama”. Tapi kata pepatah pengalaman adalah guru yang paling berharga. Toh jika pengalaman dapat juga dirasakan bagi dua orang yang berbeda dan tidak saling mengenal, cara Betrand Russell mungkin patut dicoba: meniru gaya menulis penulis yang disukai. Walaupun dalam waktu yang lama dia menyebutkan si penulis yang memfoto copy gaya penulis idolanya akan berhadapan dengan dilema ontensitas dirinya. Di titik inilah maka seseorang harus siap mengambil sikap untuk mencari gayanya sendiri. Di titik ini pulalah, toh jika menulis itu indah, maka tidak ada makna apapun yang sama tentang kata indah itu sendiri. Kemungkinan besar, itu semua akibat setiap penulis lahir dari kesendiriannya masing-masing.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...