04 Januari 2017

Neurosis dan Praktik Berbahasa


F. Budi Hardiman. 
Penulis buku Seni Memahami. 
Pengajar Filsafat

Setelah membaca sedikit tulisan Menuju Masyarakat Komunikatif-nya F. Budi Hardiman, terbersit dalam benak saya, tanpa dihubungkan kekuatan di luar kesadaran manusia, semua apa yang kita omongkan, ataupun yang sering dituliskan (juga yang sering diperbuat) bisa jadi merupakan hasil dari “sensor diri”. Maksudnya, jangan-jangan hampir semua praktik berbahasa dan tindakan kita merupakan imbas dari penyakit yang tidak kita duga-duga: neurosis.

Pengertian ini memang agak melenceng dari yang dibilangkan F. Budi Hardiman mengenai konsep “sensor”, dan di mana konsep itu diberlakukan. Konsep sensor itu sendiri sebenarnya diambil dari pemikiran Sigmund Freud dalam menerangkan pengalaman mimpi yang dialami pengidap neurosis.

Budi Hardiman menjelaskan, mimpi yang kerap menjadi “dunia pelarian” bagi harapan-harapan yang tidak terealisasi di alam praksis, selalu terbentuk dan terdistorsi oleh mekanisme “sensor” dan “resistensi.” Imbasnya, mimpi tidak akan sepenuhnya dapat terpahami dengan baik akibat dua mekanisme sebelumnya.

Distorsi mimpi akibat sensor diri menghendaki agar “sesuatu” tetap dapat tersimpan tanpa bisa disampaikan. Prinsip sensor ini bekerja dengan mengikutkan “resistensi” sebagai mekanisme lain yang sama-sama hadir saat bahasa itu diutarakan. Sehingga jika dorongan diri begitu kuat ingin menyampaikan sesuatu, justru yang disampaikan hanya berupa kepingan-kepingan bahasa yang samar dan gelap 

Cara yang ditempuh dua mekanisme di atas menggunakan bahasa berupa simbol, metafor, alegori, dlsb., untuk menyembunyikan maksud sebenarnya dari pengalaman mimpi. Dengan kata lain, melalui bahasa simbolik, metafor, dan alegoris, “sensor” dan “resistensi” menjalankan kerja-kerjanya menyembunyikan maksud sebenarnya di balik mimpi yang dialami.


Yang menarik dari konsep ini, seperti yang dituliskan Budi F. Hardiman, sensor dan resistensi merupakan gejala yang dialami tanpa pernah diketahui pelakunya. Ini mirip dengan “kesadaran palsu” Marx yang menandai hilangnya kesadaran kritis akibat tatanan kekuasaan ideologis yang menipu. Hanya saja dalam kasus ini, situasi yang dialami pelaku bukan terjadi akibat kekuatan eksternalitas yang mempengaruhi dan menentukan kesadaran dari luar. Bagi pengidap neurosis, keadaan alienatif terjadi akibat pelaku itu sendiri sebagai penyebab tunggalnya. Budi F. Hardiman menyebut peristiwa ini sebagai “penipuan diri”.

  
Karakter "penipuan diri" dan kesadaran palsu-nya Marx berbeda dilihat dari tingkat ilutif dan halusinatifnya. Penipuan diri jauh lebih mengerikan tinimbang kesadaran palsu. Perbedaan itu akibat sebab musabab dari mana sumber penipuan itu terjadi. Jika kesadaran palsu-nya Marx berasal dari tatanan borjuis yang mengintrodusir pemahaman keliru tentang realitas dari luar kesadaran, maka dalam "penipuan diri," yang menjadi sumber pemahaman keliru tiada lain --seperti yang disebutkan--berasal dari  dalam "kesadaran" itu sendiri. 

Sehingga, metode pembebasan dalam kasus kesadaran palsunya-nya Marx "cukup" dengan merubuhkan tatanan borjuis yang eksis dan bekerja di luar kesadaran. Artinya, itu dapat dimungkinkan karena "agen pembebas" mengalami penjarakan langsung dengan asal-usul penindasannya. Akibat adanya jarak inilah yang membuka ruang lahirnya kesadaran baru untuk keluar dari situasinya yang alienatif. 


Sementara untuk kasus penipuan diri jauh lebih sulit akibat tingkatan ilutifnya. Bagaimana metode pembebasan itu mungkin jika "penipuan diri" justru berasal dari internal kesadarannya? Dengan kata lain, nihilnya jarak di antaranya menyebabkan ilusi itu sendiri menjadi satu-satunya situasi yang dianggap normal.   

Melalu konteks pengertian di atas, apa hubunganya dengan paragraf pembuka sebelumnya? Apakah kita sebenarnya mengidap semacam neurosis sehingga tanpa disadari mengalami “penipuan diri”? Persoalan ini akan jauh lebih menarik jika kita tiba-tiba menyadari ada sebagian (atau hampir semuanya) perkataan dan tindakan kita yang dilakukan tanpa disertai kesadaran di dalamnya. Dengan kalimat yang lain, ada tindakan-tindakan kita yang sebenarnya merupakan imbas sensor dan resistensi diri.

Namun perlu diterangkan di sini sebelumnya pengertian neurosis berdasarkan yang saya temui. Neurosis merupakan penyakit yang mendorong pasien menyembunyikan penipuan dirinya. Artinya, pengidap neurosis memiliki pembawaan secara tidak sadar menyembunyikan “penipuan dirinya” dengan cara memanipulasi bahasa, tindakan, atau ekspresi mimik dan tubuh.


Lantas bagaimanakah gejala neurosis dapat diidentifikasi? Salah satu caranya yakni dengan mengetahui simtomnya, gejala-gejalanya. Menurut Sigmund Freud gejala neurosis muncul tanpa disadari melalui histeria, keseleo lidah, atau tindakan-tindakan spontan. Gejala ini menjadi benderang melalui mekanisme sensor dan resistensi diri yang ingin menyembunyikan sesuatu, tapi justru “meledak” melalui simtom di atas.


Saya agak terburu-buru mengatakan jika hampir semua yang kita lakukan terhadap bahasa dan tindakan akibat gejala neurosis. Apalagi jika konsep neurosis diperluas sampai ke tingkat masyarakat. Neurosis bukan sekadar “penipuan diri” yang dialami per individu, tapi juga secara kolektif, massal. Bagaimana itu mungkin? Pertanyaan ini hanya bisa dipahami jika “sensor” dan “resistensi” bukan saja mekanisme internal yang beroperasi dalam diri manusia, namun juga di dalam masyarakat?

Sebagaimana kesadaran palsu yang diafirmasi Karl Marx dalam masyarakat kapitalistik, “neurosis kolektif” juga dapat disematkan dalam masyarakat komunikatif yang mengalami hambatan-hambatan berbahasa. Hambatan-hambatan yang dimaksud merupakan praktik kekuasaan tertentu melalui pembodohan dan sensor pemerintah terhadap lalu lintas pengetahuan dalam interaksi masyarakat.

Asumsi ini dijelaskan Jurgen Habermas (dalam masyarakat komunikatif-nya F. Budi Hardiman) bahwa makna sensor bukan saja berarti secara simbolik, tapi juga sekaligus harfiah. Artinya, secara kongkrit praktik sensor dapat ditemui terang benderang di sekitar kita.


Saya ambil contoh temuan Benedict Anderson tentang perubahan EYD yang dilakukan pemerintah adalah suatu cara sensor bahasa agar masyarakat dijauhkan dari khazanah pengetahuan yang berkembang di era sebelum masa orde baru. Dengan model ejaan yang “disempurnakan,” pengetahuan-pengetahuan yang diliterasikan melalui praktik berbahasa ejaan lama, akhirnya tidak dapat lagi dikonsumsi. Praktik berbahasa demikian, disebut Anderson sebagai tindakan orde baru untuk menghapus ingatan masyarakat atas sejarahnya sendiri.

Keadaan demikian mengingatkan kita ihwal relasi pengetahuan dan kekuasaannya Foucault ketika kekuasaan mengambil alih kesadaran masyarakat lewat praktik-praktik normalisasinya. Artinya, apa yang selama ini disebut "pengetahuan" sudah lebih dahulu dikontrol dan "dimanipulasi" demi kepentingan tersembunyi kekuasaan.


Praktik berbahasa orde baru itu akhirnya menyisakan dampak traumatis berkepanjangan dan sulit disembuhkan. Mengingat selama 32 tahun lebih praktik-praktik politik bahasa orde baru secara ideologis membangun relasi hegemonik hingga sekarang.


Imbasnya sekarang, gejala neurosis secara kolektif dapat disimak melalui praktik berbahasa masyarakat hari ini. Banyak betebaran simptom yang mengacu kepada “meledaknya” dorongan neurosis berupa bahasa-bahasa histerik dan sentimentalistik. Fenomena ini hanya mengacu kepada dua hal: pertama, terdapatnya hasrat terpendam yang tak mampu dikontrol akibat sensor dan resistensi diri, dan kedua, yakni berlakunya situasi yang pertama di dalam level komunitas dan bernegara.

Tapi sampai di sini leher saya pegal. Cukup sampai di sini dulu.

01 Januari 2017

Asrul Sani dan Keharusan untuk Berkhotbah


Asrul Sani
Seorang sastrawan dan sutradara film ternama asal Indonesia. 
Tahun 2000 Asrul Sani menerima penghargaan Bintang Mahaputra dari Pemerintah RI.

Saya percaya ide menulis bisa ditemukan dari membaca kembali tulisan-tulisan yang telah lama tersimpan. Jika Anda memiliki kebiasan menulis, sesungguhnya itu jauh lebih mengasyikkan jika membiarkan pikiranmu dijerat rencana-rencana ambisius seperti saat orang-orang menantikan pergantian awal tahun. Tapi, jika menulis adalah suatu keharusan, itu malah jauh lebih menyesakkan. Anda seperti mendapatkan kutukan. Anda harus melakukannya.

Saya menjadi ingat artikel AS Laksana dengan judul yang justru samar-samar di dalam benak saya. Kalau tidak salah tulisan itu dibuat untuk membahas sepak terjang kepenyairan seorang Asrul Sani. Salah satu problem dilematis dalam artikel itu dikemukakan AS Laksana mengenai apakah keharusan penyair atau penulis ikut berkewajiban menanggung beban situasi sosial yang melingkupinya. Atau dengan kata lain, mungkinkah seorang penyair mengharuskan tulisan-tulisannya mengandung unsur-unsur tanggung jawab sosial? Samakah seorang penyair dengan ideolog?

Pertanyaan ini pula yang mendasari apakah ada “keharusan” bagi siapa pun untuk menulis? Jika memang harus, apa yang melatarbelakanginya? Suatu tanggung jawab sejarahkah?

Barangkali karena itu banyak cerpen-cerpen Asrul Sani disebut sebagai sastra gigantis. AS Laksana bahkan banyak menelusuri kepenulisan Asrul Sani, terutama di dalam cerpen-cerpennya, tokoh-tokoh yang kaku dan sok-sok filosofis. Hampir semua dialog dalam cerpen-cerpen Asrul Sani, di dorong, direnungkan, dan difilosofiskan tokoh-tokohnya. Imbasnya, tokoh macam demikian menjadi orang yang berkarakter dingin dan datar, sekaligus pengkhotbah.

Menurut saya, tokoh yang diidealkan sebagai pengkotbah bukanlah tipe karakter yang lentur dan mencerahkan. Terkadang, tokoh yang berpotensi menjadi pengkotbah malah menutup segi-segi sudut pandang yang dimungkinkan dalam setiap penokohannya. Dalam dialog, misalnya, lawan bicara didudukkan seperti pesakitan yang harus lebih banyak mendengar dan dinasehati. Akhirnya, dialog menjadi semacam ceramah keagamaan tinimbang perbincangan manusiawi selayaknya keadaan sehari-hari.

Begitulah, dalam tulisan itu pula AS Laksana menuliskan kesulitan setiap penulis cerpen ketika membangun dialog dalam ceritanya. Pertanyaannya, apakah mungkin dialog hanya bagian cerpen yang sengaja diadakan hanya untuk menjadi saluran nilai tertentu, ataukah seperti kejadian sehari-hari, suatu peristiwa organik yang tidak diarahkan dan dibuat-buat?

Tentu ini bukan perbandingan antara cerita-cerita yang bermuatan nilai luhur dengan cerita yang berserakan nilai lumpur. Tapi, di artikel itu AS Laksana mengatakan hampir semua cerpen-cerpen yang ditulis Asrul Sani tidak jauh berbeda seperti buku diktat filsafat. Bahkan disebutkan AS Laksana, Asrul Sani hanya meminjam mulut tokoh-tokoh cerpennya sebagai corong aspirasi pribadinya.

Kecenderungan ini dibilangkan AS Laksana sebagai kecenderungan kenabian. Kecenderungan kenabian kadang membuat orang melihat medan ekspresi seni seperti medan dakwah. Hampir segala medan harus diimbuhi pesan-pesan bermoral. Semuanya harus tunduk di dalam kriteria moral tertentu.

Kecenderungan kenabian saya kira banyak dialami di dalam tulisan-tulisan yang mirip pamflet. Bisa dibilang, entah itu esai ataupun cerpen, misalnya, hanyalah tubuh tumpangan niatan moralis yang kadung tidak menemukan jalan solutif di alam kenyataan. Sehingga di dalam pengertian tertentu, karya tulis yang dibentuk dengan cara demikian akan jatuh di dalam karya tulis yang terdorong motif heroisme.

Akan sulit ditemukan indikatornya apakah karangan macam demikian hanyalah eskapisme dari realitas sebenarnya. Sehingga, imbasnya, idealitas hampir akan banyak menyesaki seluruh ide-ide tulisan di dalamnya. Dengan kata lain, hampir semua idealitas ditumpahkan begitu saja tanpa tersisa dalam karya tulis sampai tidak menyisakan ruang kosong untuk permenungan sang pembaca.

Namun, nilai intristik karya tulis kadang dipengaruhi situasi sosial-budaya yang melingkupinya. Itu juga yang menyebabkan mengapa karangan-karangan Asrul Sani sarat dengan beban ide. Situasi di luar tulisan-tulisan Asrul Sani-lah yang membuatnya memiliki keharusan untuk berurusan dengan nilai-nilai ideal.

Situasi inilah yang saya kira juga banyak dialami oleh penulis-penulis di masa revolusi Indonesia.  Zaman bergerak sekuat tenaga di atas tanah pertiwi menentang penjajahan. Jika militer saat itu mengangkat tinggi-tinggi senjata demi mempertahankan tanah airnya, situasi yang hampir sama dialami pula penulis-penulis era revolusi, pasca revolusi, dan era setelahnya untuk merumuskan paras Ibu Pertiwi yang seharusnya.

“Ibu Pertiwi yang seharusnya” inilah yang menurut saya menjadi lapisan alam bawah sadar siapa pun saat itu ketika berkeinginan dan membayangkan alam indonesia yang ideal.  Itu berarti di bawah bayang-bayang “ibu pertiwi yang seharusnya” setiap keadaan diukur dan dirinci sedemikian rupa agar Indonesia kala itu menjadi bangsa yang bermartabat.

Di situlah menurut saya aras pemikiran ideologis kadang tak memiliki batasan tegas antara sastra ataupun seni. Dimensi pemikiran yang menghendaki suatu pernyaatan harus didirikan dalam bangun-pikir yang logis dan sistemik, berjalinkelindan dengan semangat kebebasan imajinatif dan ekspresif yang dipompa dari jantung sastra dan seni.

Di antara tegangan keharusan keketatan ide-ide dengan kebebasan imajinatif dan ekspresif itulah, saya kira yang membuat Asrul Sani dan penulis di masanya mengambil pijakan salah satu di antaranya. Dan, saya kira itulah sebabnya mengapa tulisan-tulisan Asrul Sani ketat dengan muatan ide-ide. Bahkan, puisi-puisi gigantisnya.

Sampai di sini, mestikah suatu tulisan diimbuhi ide-ide besar? Semacam tulisan yang mengusung agenda-agenda tertentu?

Saya berpikir alangkah menyenangkan jika pilihan-pilihan pekerjaan seseorang ditengarai perasaan suka cita. Riang gembira dan bebas tanpa beban. Bukan soal amanah apa yang mensituasikannya, melainkan kebahagiaan apa yang ada di baliknya.

Begitu pula ketika suatu karya tulis mesti bergerak di antara kebebasan dan kesenangan berkespresi. Bukan sebagai karya yang didorong semacam “rasa bertanggung jawab” terhadap sesuatu di luar karya tulis itu sendiri. Artinya, seperti yang disebutkan Eka Kurniawan, tanggungg jawab seorang penulis yang paling utama adalah melahirkan karya-karya yang baik. Tapi, bagaimanakah karya tulis yang baik itu? Saya kira ini inti soal lain yang segera harus dijawab dari karya setiap penulis.

Barangkali kebahagiaan belakangan ini adalah hal paling berharga yang mudah tercuri dari jiwa kita. Banyak di antara kita menjadi tokoh-tokoh cerpen yang sarat khotbah ketika mengungkapkan sesuatu. Menjadi orang yang berkarakter serius dan menegangkan. Ibarat seperti ahli agama yang mendefenisikan dunia hanya dari dua sisi ekstrim surga dan neraka.

Dan, ibarat ilustrasi George Orwell dalam 1984, suasana kehidupan saat ini seperti diawasi semacam The Big Father yang banyak dan paling berhak menentukan pilihan-pilihan manusiawi kita. Hidup seolah-olah bagaikan di dalam istana cermin. Nampak indah dari dalam, tapi sangat rapuh dan begitu gampang ditembusi pengawasan dari entah siapa. Seperti misalnya, soal haram-halal, sudah banyak menyosor mengontrol dan menyasar hal ihwal yang sebetulnya sepele. Era kiwari, haram-halal, boleh-tidak boleh, harus-tidak harus bukan sekadar imbas pertimbangan yang panjang dan hati-hati, malah lebih mirip obral barang-barang bekas yang mudah ditemukan.

Inti dari soal ini, dunia lain hal dan kehidupan kita lain soal. Walaupun keduanya memiliki ikatan di bagian-bagian tertentu, saya merasa hal yang paling memerdekakan adalah menjaga apa yang kita punyai dengan semangat bergembira. Seperti misalnya menulis bukan karena didorong dengan imperatif tertentu, melainkan suatu upaya menakar seberapa besar jiwa kita menjadi tempat sampah atau sebalikya, menjadi wadah daur ulang.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...