26 Februari 2016

kala bunker harus impor beras

Kali ini mau bilang apa lagi? Musim paceklik datang. Bunker diserang kelaparan. Lumbung beras kosong. Melompong.

Sudah dua hari tandatanda itu tercium. Kantung plastik tempat beras disimpan jauh lebih kresek bunyinya. Kalau tong kosong nyaring bunyinya, bunyi kresekkresek tanda beras menipis.

Seperti Indonesia, bunker kurang tanggap menghadapi keadaan. Tidak ada langkah taktis diambil untuk mengantisipasi. Orangorang dì bunker sibuk urusan masingmasing. Soal perut jadi terbengkalai. Kalau ini situasi perang, tak perlu kongkalikong dengan sekutu, bunker dengan mudah ditaklukkan.

Dua hari belakangan, bunker dikunjungi mantan penghuni lama. Pertama, Andank. Dia sudah anumerta. Sudah pindah medan juang. Dia datang di bunker karena urus keluarganya yang sakit. Di bunker dia menginap dua malam. Urusan perut Andank yang tanggung. Penghuni bunker selamat.

Andank tibatiba harus pulang. Sepupu yang dirujuknya di rumah sakit, di waktu shubuh meninggal dunia. Pagipagi buta dia ditelpon. Dia harus segera ke rumah sakit. Pagi itu juga dia kembali ke Majene. Mengantar sepupunya pulang.

Kami sebenarnya masih rindu. Tapi boleh buat apa? Keadaan mengharuskan Andank segera pulang. Padahal kami lama tak berkoloni bersama. Dulu dia salah satu teman koloni. Hidup susah versi kaum miskin mahasiswa. Punya duit makan bersama. Krisis datang utang bersamasama.

Setelahnya di hari berikutnya, Ilman datang. Dia juga bagian koloni. Sekarang sudah bukan. Dia sudah punya bene. Juga sudah punya anak. Tidak mungkin bertahan hidup di bunker. Pagipagi dia datang. Tak disangkasangka.

Yang bikin senang, dia mentraktir seluruh penghuni bunker sebungkus nasi kuning. Ini kebiasaannya dari dulu kalau punya fulus lebih. Barangkali dia kasihan dengan penghuni bunker. Maklum dia juga pernah mengalami keadaan yang sama. Karena itulah dia menyelamatkan kami semenjak pagi dengan nasi kuning. Untuk sementara aman. Kami kenyang.

Ilman tak lama di bunker. Siangnya dia pulang menjemput istrinya. Kami tenang saja, lagian itu sudah jadi tugasnya. Karena kenyang kami sulit bergerak. Ilman pulang dengan pahala yang besar. Membahagiakan orangorang yang paceklik.

Tak tahu bintang apa yang jatuh. Selama dua hari bunker bisa bertahan. Selalu saja ada yang bisa dikunyah bikin perut penuh.

Cuman malang, perut yang kenyang bikin akal jadi pendek. Kami kurang responsif menangkal musim paceklik. Baru tadi siang kami sadar, lumbung beras ternyata hampa tanpa sebiji pun beras. Celaka tiga belas, kami sedikit panik. Ke mana bunker harus mengimpor beras. Negaranegara yang kami target disinyalir sudah memboikot bunker. Toh kalau ada, negara yang bersangkutan juga paceklik.

Saya tak tahu tadi siang apakah beberapa penghuni bunker sudah makan. Saya dan Ridho keluar lebih awal. Sementara yang lain memilih tinggal seperti cacing di bunker. Malamnya saya langsung ke daerah Tamalanrea mau dengar diskusi soal pemikiran Simone de Beauvoir. Sebelum jam duabelas saya memilih pulang. Di perjalanan pikiran saya melayanglayang ke bunker, pasti saat tiba penanak nasi masih kosong.

Saking paceklik, di FB, Muhajir sudah posting foto penanak nasi dengan buku Nietzsche karangan St Sunardi. Katanya kalau belum terisi beras, besok dia punya tulisan soal penanak nasi yang kosong dan juga Nietzsche dalam satu esai. Logika apa yang mau dia pakai, Nietzsche dan penanak nasi dalam satu tema. Saya tak tahu. Entahlah. Kita tunggu saja apa besok tulisannya nongol di lini masa FB.

Tapi sejak sampai di bunker, Ujhe tibatiba datang. Entah negara mana dia kunjungi. Di tangannya ada sekantung beras. Saya taksir tak cukup satu liter. Yang lain bilang, bisa ditaktisi dengan memperbanyak gorengan untuk menutupi keterbatasan nasi yang masak. Jahir yang sibuk lapakan dengan gesit langsung menanaknya. Kami senang, bisa bertahan satu malam.

Sekarang kami sedang menunggu nasi masak. Ada rapat dadakan sempat terjadi. Agendanya soal impor beras. Bunker harus menggalakkan kerja sama dengan negaranegara tetangga. Ini penting. Juga genting.

Saat kami menunggu nasi, di kepala masingmasing sudah menyusun rute kerja sama. Negara apa saja yang akan kami kunjungi. Besok pagi, agenda pertama di bunker, sebelum lapakan dibuka, semua harus bergerak ke negara kaya beras. Kalau perlu kita perang demi keberlangsungan dapur bunker. Biar bagaimana pun penanak nasi tak boleh kosong. Sangat tidak mungkin nanti kami menanak bukubuku. Kami masih waras, buku itu makanan rohani. Kalau beras makanan biologis.

Tapi, tunggu dulu, kampret!! Omongomong ternyata penanak nasi tidak dalam kondisi on. Jahir lupa menekannya. Puki mak!!!


24 Februari 2016

Subjek Sinis

Kalau percaya terhadap pikiran Marx, di bawah kekuasaan kaum pemodal tersemat ideologi yang menipu. Di balik ideologi, suatu rekayasa dibuat demi meraup kewenangan penuh. Ideologi ditaruh untuk mengelabui. Realitas yang terang jadi abuabu. Orangorang yang hidup di bawahnya tak banyak tahu, kalau mereka bekerja hanya untuk menopang satu kekuasaan tetap bertahan.

Ideologi sudah dirumuskan Marx dengan defenisi yang terang: kesadaran palsu. Dalam kalimat yang lain, ideologi adalah sesuatu yang kita ketahui adalah sesuatu yang menipu namun tetap melakukannya. Lakilaki tahu kalau rokok berbahaya secara medik, tapi kesadaran atas mode bilang lain. Lakilaki akan macho sembari menghisap rokok. Perempuan muda sadar kalau mau dapat tubuh indah, salah satu caranya lewat operasi plastik. Operasi plastik butuh banyak uang, tapi atas keindahan semuanya rela dilakukan. Ideologi disebut ideologi karena punya selimut kepalsuan. Atas nama mode dan keindahan, rokok dan operasi plastik diakui sebagai cara hidup yang normal.

Marx bilang, ideologi bekerja di dalam masyarakat. Lewat analisisnya masyarakat tersubordinasi atas kepemilikan dibidang ekonomi. Melalui jejaring hubungan produksi, masyarakat diesklusikan sampai ke titik alienatif. Namun, sejauh Marx menempatkan perhatiannya kepada masyarakat, analisisnya mengalami jalan buntu untuk mengeksplisitkan cara bekerja ideologi di tingkat individu. Apalagi soal bagaimanakah ideologi mempengaruhi kesadaran individu dalam waktu relatif lama.

Dititik itulah Zlavoj Zizek mengisi kekosongan analisis Marx. Bahkan memberikan pengertian lebih maju tentang ideologi. Bagi Zizek, yang ilutif dari ideologi bukan dari aspek “kesadaran,” melainkan “tindakan.” Karena itulah seorang lakilaki tetap merokok walaupun tahu dampak rokok terhadap kesehatan. Juga perempuanperempuan yang tetap menyiksa diri dengan program diet ketat, walaupun itu menyakitkan. Ideologi menjadi begitu kokoh akibat bekerja sampai kepada tindakan untuk berbuat, bukan sekedar pengetahuan tentang tindakan. Analisis Zizek ini dimungkinkan mengetahuinya melalui unit analisis yang dia ambil dari teori subjek yang dimiliki Lacan.

Ada tiga bentuk tatanan untuk memasuki pemahaman Lacanaian, yang menyituasikan posisi individu ditingkatan mental dan perilaku. Pertama, tatanan imajiner, kedua simbolik dan ketiga The Real. Di tahapan imajiner, perkembangan kesadaran manusia dilalui dengan cara yang salah. Terutama di tahap ini, sang aku mengalami fase cermin yang memberikan citra distorsi yang bukan aku. Melalui gambaran dalam cermin, sang aku mengira apa yang di dalam cermin adalah pantulan diri yang sebenarnya, padahal itu hanyalah pantulan yang tidak mewakili sang aku. Di tahap inilah, sang aku mengalami pembentukan diri dari aku yang salah.

Disorientasi yang dialami "sang aku" kala fase cermin, juga dialami saat "aku" mengalami fase simbolik. Fase simbolik berupa tatanan bahasa, logika, simbol, sosial maupun budaya merupakan tatanan yang dibentuk atas dasar diferensiasi. “Ibu” hanya bisa dipahami sebagai lawan dari “Ayah,” sementara “Ibu” sebagai tatanan makna yang lain tidak dimungkinkan sejauh itu tidak diperlawankan dari “Ayah.” Tatanan simbolik sama halnya fase cermin, adalah situasi perkembangan yang mengarahkan keterputusan terhadap “aku” yang sejati. Lantas di manakah “aku” yang sejati? Apakah mungkin memiliki “aku” yang murni jika semenjak awal,  kesadaran bermula dari “aku” yang terdistorsi?

Agak sulit mau bilang kalau “aku” sejati sudah dimiliki dari awal, tapi selalu ada keterasingan primordial akibat dari fase cermin. Keterasingan yang primordial ini selalu menyangkal pembingkaian yang diberikan tatanan simbolik sebagai modus dari pengertianpengertian yang diterima. Kecenderungan untuk mengelak inilah yang dimaksud The Real, suatu mekanisme penolakan dalam diri agar tidak takluk atas defenisidefenisi disekitar sang diri. Di celah inilah, The Real selalu melakukan perlawanan terhadap segala upaya pendisiplinan yang diberikan tatanan simbolik.

Namun sayang, kemungkinan melakukan perlawanan tak pernah diajukan di dalam situasi yang disebut nonideologis. Padahal Zizek bilang melalui penolakanpenolakan yang dimiliki The Real-lah suatu perlawanan dimungkinkan. Kaum pekerja bisa melakukan perlawanan hanya dengan keluar dari stigma simbolik yang inklud di dalamnya kekuasaan, dengan cara mencarinya dari kemungkinankemungkinan yang diberikan The Real. Kaum perempuan hanya bisa melawan dominasi tatanan patriarki hanya karena penolakan yang diberikan The Real agar tidak disituasikan ke dalam posisi yang subordinat.

Kemungkinan yang tidak ditemukan itulah yang disebut Zizek sebagai subjek sinisme. Subjek sinis diandaikan sebagai subjek yang berada dalam relasi ideologis yang mengetahui jejaring kekuasaan tengah berlangsung, namun malah terlibat dan ikut dengan wacana yang diberikan oleh kekuasaan.  Boleh dikata dari pengertian inilah pengertian dasar ideologi yang diwacanakan Marx yakni “mengetahui namun tetap dilakukan.” Terangnya, subjek sinis itu orang yang mengetahui realitas yang terdistorsi, tapi tetap berpegang pada situasi yang salah dan tidak menolaknya.

Subjek sinis banyak ditemui diberbagai bidang kehidupan. Di bidang politik, dia bisa disematkan kepada politisi yang tahu betul situasi perpolitikan yang salah, namun tidak menolak untuk memperbaiki, atau malah ikut terlibat di dalamnya. Seorang guru yang tahu kalau di sekolahnya ada penggelapan uang, namun ikut mendiamkan karena tahu uang yang dimaksud sudah terlebih dahulu dinikmatinya. Bisa juga mahasiswa yang punya kesadaran kritis untuk melawan ketidakadilan, namun sering berbuat tidak senonoh terhadap adikadik yuniornya. Atau seorang agamawan yang sadar banyak terjadi kemaksiatan, namun diam saja tanpa pernah mengajukan kritik terhadap kezaliman yang terjadi.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...