15 Februari 2016

pentingnya kesadaran berbahasa

Elemen penting hidup itu bahasa. Tanpa bahasa tidak ada kesalingpengertian. Tidak ada makna yang bisa dipertukartangkapkan. Bahasa kalau mau dibilang adalah elemen sosial yang mengikat identitas menjadi satu kesatuan.

Bangsa Indonesia sudah membuktikan itu. Anakanak muda yang sadar bahasa saat itu melihat bahwa perjuangan tidak saja membangun tujuan dan citacita yang sama, tapi harus dimulai dari cara pengungkapan yang sama melalui bahasa. Karena saat itu hampir semua komunikasi dipertemukan oleh bahasa Melayu, maka bahasa itu dipilih sebagai bahasa pemersatu.

Akan sulit membayangkan Bangsa Indonesia bisa merasai kemerdekaan tanpa kesadaran bahasa. Kala itu kalau saja kelompokk elompok daerah masih berpendirian dengan bahasa lokalnya, mustahil kemerdekaan dapat ditempuh. Kemerdekaan akan sulit diucapkan dalam ikatan bahasa yang sama. Karena itulah bahasa bisa dipakai sebagai kait pemersatu. Bahkan sebagai alat perjuangan.

Pekerja bahasa orang yang paling sering pakai bahasa untuk berjuang. Berbeda dari profesi lain, pekerja bahasa punya semacam kesadaran yang mampu menyulap bahasa jadi lain. Sebut saja misalnya Pramoedya Ananta Toer, yang punya kemampuan membangun sejarah Indonesia dari bahasa yang ditulisnya jadi novel.

Tidak sekedar menulis, lewat bahasa, Pramoedya ingin menunjukkan bahwa betapapun perjuangan telah berlalu, di dalam bahasa tak ada kata selesai. Di dalam bahasa tersemat kesadaran yang bisa terus ditarik jauh ke kedepan selama orang masih ingin membaca. Karena itulah muncul frase yang banyak dikutip orang, menulis itu bekerja untuk keabadian.

Harusnya bukan sekedar tulisan yang jadi perhatian. Orang sering salah kaprah ketika menulis berarti sudah berkerja dalam keabadian. Tapi, makna, pesan apa yang ditulis. Pram bukan mau bilang menulislah, perbanyak hurufmu sepanjangpanjangnya, karena itu kau akan abadi! Bukan, sesunguhnya bukan itu, melainkan makna apa yang bisa kau pertahankan di dalam sanubari orangorang. Pesan apa yang bisa membangun kesadaran orangorang. Bukan panjang tulisan yang mudah hilang.

14 Februari 2016

athaya

Ini foto tiga tahun lalu. Yang saya pangku ini ponakan saya. Athaya namanya. Saat gambar ini diambil pas waktu idhul fitri. Saat itu dia masih berumur sekira tiga empat bulan.

Punya ponakan itu sama dengan memiliki anak sendiri. Bedanya belum punya bini saja. Seperti anak sendiri, saya suka mengendongnya. Menciumnya sambil menggodanya agar tertawa. Menciumnya lagi, menggodanya lagi. Menciumnya lagi menggodanya lagi. Membuatnya tertawa. Gemas.

Entah mengapa saya jadi suka dengar bayi tertawa. Padahal seumurumur saya seperti kebal dari bayi. Kadang saya heran, kalau kebanyakan orang suka anak kecil, saya malah menganggapnya biasa saja. Tapi semenjak Athaya lahir, tumbuh dan mulai menggerakkan mulutnya, malah saya mulai berubah. Suka mendengarnya tertawa.

Saat Athaya lahir dia sontak jadi pusat perhatian. Maklum di rumah dia cucu sekaligus ponakan pertama. Sedikitsedikit tak ada yang lepas dari dia. Athaya langsung jadi magnet. Banyak orang berdatangan melihatnya. Memberikannya bingkisan. Mulai dari perlengkapan bayi sampai biskuitbiskuit ringan. Saya ikut senang. Biskuitnya bisa saya makan.

Kehadiran Faeyza Athaya juga langsung mengingatkan saya kala bayi. Diamdiam berusaha mengingat masa lalu saat masih bulanan. Apa yang dilakukan saat tidur. Kalau bangun. Saat pipis tibatiba. Juga saat menangis tanpa sebab. Apakah saya juga begitu. Soalnya waktu cepat berlalu. Momenmomen semacam itu agak susah mengetahuinya.

Makanya selain bertanya ke mamak, saya langsung bukabuka album foto. Cari tahu kala masih jabang bayi. Di situ masih ada beberapa gambar saya masih kecil. Ada satu gambar saat saya telungkup sambil menatap ke arah kamera. Saat duduk sambil memegang bola. Saat berpose seragam TK. Berdiri berseragam SD. Dan juga kala SMP. Sampai di sini tak ada sekalipun foto saya seperti Athaya yang masih seumur minggu. Yang ada hanya saat sekira empat sampai lima bulan.

Rasa ingin tahu saya gagal karena tak punya gambar yang merekam saat masih sebayibayinya. Makanya anakanak sekarang bisa bahagia akibat kemajuan teknologi. Dulu kamera jadi barang langka. Makanya tidak semua momen bisa langsung diabadikan. Sekarang sedikitsedikit jika mau bisa langsung dijepret. Cukup dengan smartphone gambar sudah bisa diambil.

Sekarang umur Thaya, begitu kami memanggilnya, sudah berumur tiga tahun jalan empat. Dia jadi anak yang suka bermain. Lari ke sana kemari. Lompat sana jungkir sini. Kalau saya datang dia suka mengajak main putri duyung. Saya heran dari mana dia lihat. Curiga, saya kira dari film yang sering dia tonton. Kalau sudah begitu kursi sofa berubah jadi markas tempat persembunyian. Saya ikut saja sebagai lumbalumbanya.

Athaya sangat suka bersepeda. Di umurnya yang sekarang dia begitu aktif. Kalau bukan sepeda, dia pergi di bawah meja setrika mengambil tumpukan mainannya. Menghamburnya di lantai dan mulai mengambil mainan yang disukanya. Kalau yang ini masih untung dibanding dia menemukan bulpen atau pensil mencoret seluruh tembok rumah. Mamak biasa hanya geleng gemas ditaruhnya. Kami melihatnya sebagai pertumbuhan kreativitasnya.

Akibatnya, Thaya sudah pandai mewarnai gambargambar. Karena itu, ayah dan bundanya sering menghadiahkannya buku gambar plus pensil warna. Selain untuk mengalihkannya dari tembok yang sudah penuh, dia bisa mulai mengenali bentukbentuk gambar yang bisa diwarnainya. Sekarang kalau dihitunghitung, sudah banyak gambar diwarnainya.

Thaya sekarang juga sudah diikutkan PAUD. Selain sepupunya, Thaya sudah banyak bertemu anakanak seusianya. Bermain dan belajar. Mewarnai dan menggambar. Pergi jam sembilan pulang ketika duhur datang. Dengan tas kecilnya penuh makanan ringan plus buku gambar, Thaya sering pergi diantar ance'nya.

Sudah hampir dua bulan saya tak melihatnya. Saya dengar dari mamak, Thaya sering bertanya tentang dua omnya, saya dan Fajar. Kalau malam begini dia pasti sudah berlari sanasini, bongkar apa saja yang bisa dijadikan mainan. Kadang berlari ke dapur membuka almari mengambil makanan ringannya. Biasanya wafer coklat atau minuman susu kotak. Kalau dia begitu pasti memberikan satu kepada saya, kadang sambil bermain dia duduk sembari mengunyah dengan ceritanya tentang Jarwo dan motor bututnya. Dan, saya senyamsenyum sendiri memakan habis semua makanannya tanpa sadar.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...