28 April 2015

madah limapuluhdua


Tak saya duga sebelumnya, di Soho, pusat perbelanjaan di tengah London yang terkenal itu, ada dua tempat yang secara historis mengingatkan kita pada komunisme. Di pusat perbelanjaan itu, yang banyak menjual produk merekmerek terkenal dunia, terdapat sebuah gedung yang pernah ditinggali Marx semasa di Inggris. Juga sebuah restoran Cina yang menggantung perkataan pimpinan revolusi negeri Tiongkok, Mao, di depan pintu masuknya sebagai semboyan barangkali, "barang siapa tak kuat memakan cabe, maka dia bukanlah seorang yang revolusioner". Ini suatu yang unik, juga sesuatu yang sesungguhnya kontras.

Soho di kota London, dari masa lalu adalah tempat dengan sejarah yang panjang. Tapi ringkasnya, di sana dulunya adalah tempat tinggal kaum pekerja. Di Inggris ketika revolusi industri pecah dan bergaung besar, saya kira tempat itu adalah tempat yang tak berpenanda kemakmuran. Seperti tempat kumuh umumnya, Soho pastinya adalah tempat yang tak terawat, tempat yang kotor dan tak terurus.

Di tempat itulah Marx tinggal selama di Inggris. Melarat dan kemudian mati. Dan di situlah kontrasnya, di mana Soho yang dulunya adalah tempat kumuh kelas pekerja, kelas yang dibela komunisme, kini adalah tempat pusat perbelanjaan yang glamour,  tempat di mana kiblat suatu gaya hidup kelas atas.

Di tempat yang glamour itu, nampaknya kehidupan tak pernah berhenti. Seperti tempat hiburan lainnya, di Soho, orangorang datang dan berkumpul untuk menghimpun sekaligus melepas hasrat untuk mengkonsumsi. Mengisi bangunanbangunan tinggi dan pulang dengan hati yang tak sungsang.

Saya tak pernah ke Soho, tapi dari fotofoto yang saya lihat melalui jejaring internet, saya bisa tahu bagaimana suatu ruang yang muram dapat dengan cepat berubah total menjadi tempat yang tak pernah berhenti menyedot kapital.

Mungkin penjelasan tentang ihwal itu adalah bagaimana betapa kuatnya pertukaran modal dapat menjadi sumbu suatu perubahan. Ruang biar bagaimanapun, seperti yang dibilangkan Levebre adalah keberadaan yang termuati kepentingan di dalamnya. Ruang biar bagaimanapun, di saat kapital begitu gesit berputar, adalah media yang sungguhsungguh dahsyat menggerakkan urbanisasi.

Ruang, di dalam pandangan Levebre sebenarnya adalah realitas yang sesungguhnya tak suci dari perbuatan manusia. Ini artinya ruang adalah realitas yang diproduksi manusia secara sosial. Di dalam pengertian ini, ruang berarti realitas yang secara kontinyu terbentuk atas dasar modalitas yang terus menerus dipertukarkan.Di saat itulah ruang akhirnya menjadi entitas yang sarat kepentingan. Di saat itulah ruang terus diproduksi berdasarkan imajinasi yang menyertainya.

Sebab itulah Levebre menyebutnya ruang yang telah dipolitisasi. Dalam istilah sosiolog Prancis itu, ruang yang telah diberlakukan demikian disebutnya sebagai ruang abstrak. Sebagaimana di dalam konteks masyarakat kapitalisme lanjutan, ruang abstrak disituasikan menjadi pengetahuan yang berciri ideologis sehingga mengaburkan kondisi alienatif yang terjadi pada level praktik. Di sanalah ruang akhirnya disituasikan dalam alam imaji sebelum menjadi peta kognisi bagi ruang kongkrit.

Barangkali itulah yang terjadi di sana. Di soho ruang yang berwajah muram, tempat kumuh kelas pekerja tinggal, berubah menjadi ruang pusat kapital berputar. Juga, di Soho, urbanisasi begitu gencar mengubah pusat menjadi betulbetul "pusat". Dan di Soho, pusat itu adalah kiblat suatu gaya glamour ditegakkan.

Syahdan, apa yang terjadi di Soho juga menjadi tren pembangunan di manamana. Terutama di dunia berkembang yang pesat membangun sentralsentral perubahan dengan menyulap daerahdaerah menjadi ramai. Di mana dengan satu rumus yakni keramaian yang bisa menjalankan roda pertukaran sehingga kapital terus diakumulasi. Melalui cara itu maka infrastruktur dibangun, jalanjalan diperbaiki, gedunggedung ditambah dan simsalabim suatu tempat menjadi ruang yang dikapitalkan.

20 April 2015

Malaikat Buku-Buku


Lukisan Jibril (Arab)/Gabriel (Inggris) dari Abad 12

FILSUF muslim menyebutkan segala yang ada memiliki malaikatnya masingmasing. Misalnya, untuk urusan wahyu ada malaikat Jibril, urusan rezeki ada malaikat Mikail, untuk soal nasib ada Mungkar dan Nakir. Di Islam, sepuluh malaikat dan tugastugasnya wajib diketahui, walaupun disebutkan oleh beberapa literatur bahwa jumlah malaikat sebanyak bintangbintang di langit.

Jika demikian, saya berandaiandai ada juga malaikat buku. Namanya adalah malaikat Al Alim. Tugas utamanya adalah menjaga bukubuku agar dapat terawat dengan baik. Tujuannya agar bukubuku tak punah hingga akhir zaman. Selain itu, tugasnya adalah mencatat seluruh nama dan jenis buku yang ada di muka bumi. Seharihari, tugas lainnya adalah mengatur peredaran bukubuku di dunia. 

Tugas malaikat buku tak kalah berat dari malaikat Mikail yang mengatur setiap rezeki seluruh mahluk di setiap sudut mayapada. Berbeda dari itu, malaikat Al Alim mengatur dan mencatat siapasiapa yang menggunakan buku setiap detiknya. Di saat demikianlah ia harus terus mengawasi peredaran dan penggunaan buku di tiap tangan manusia.

Karena ia malaikat buku, ia sering kali mengunjungi tempat bukubuku disimpan. Dan tempat yang paling pertama ia kunj
ungi sejak ayam berkokok di awal pagi adalah rakrak buku. Di situ, dijelaskan dari tutur lisan ahliahli makrifat, ia akan mencatat bukubuku apa saja yang sudah dibaca, yang akan, dan yang belum dibaca. Untuk buku yang sudah dibaca, konon akan dicantumkannya satu bintang di buku catatannya yang bernama Al Kitabul Al Akbar. Bila belum, maka akan dibiarkannya kosong. Begitu  seterusnya dari amanah yang menjadi tugasnya.

Tempat yang paling disenangi malaikat Al Alim selain tokotoko buku adalah perpustakaan. Di sanalah waktu terbanyak ia habiskan. Sebab, di tempat inilah banyak bukubuku tersimpan dan beredar sehingga ia harus segera mencatatnya. Dari kitabkitab kuna malaikat Al Alim punya kolom khusus untuk bukubuku perpustakaan. Terutama untuk kolom bukubuku yang tak pernah sehari pun keluar beredar. Untuk bukubuku ini ia berikan tanda khusus. Dalam kitab itu disebutkan tanda itu berupa tanda seru. Konon tanda seru ini akan ia perlihatkan kepada Tuhan pemilik bukubuku, bahwa betapa malasnya umat manusia membacanya.

Di perpustakaan, selain mencatat peredaran buku, ia juga mencatat orangorang yang berada di dalam perpustakaan berdasarkan aktivitasnya terhadap buku. Secara umum aktivitas orang di perpustakaan ia bagi menjadi tiga golongan. Pertama, orangorang yang duduk tenang membaca buku. Kedua adalah golongan yang menggunakan perpustakaan hanya untuk dudukduduk bersenda gurau, dan yang ketiga adalah mereka yang meminjam dan datang untuk mengembalikan buku. Dari tiga kelompok ini, golongan ke dua adalah  jenis manusia yang dibenci malaikat  Al Alim.

Selain di perpustakaan, ada tempat lain yang sering dikunjungi malaikat buku. Tempat itu adalah rumahrumah yang memiliki perpustakaan pribadi. Di rumah yang memiliki rakrak buku itu, disebutkan dalam hadishadis agama terdahulu bahwa di tempat itulah Al Alim senang berlamalama, sebab ia sangat suka dengan bebauan rumahrumah yang menyimpan bukubuku. 

Bahkan dari salah satu kitab yang mengulas malaikat Al Alim beserta kemuliaannya, diselasela kunjungannya di rumahrumah demikian, ia sering kali membuka bukubuku yang ia senangi untuk dibaca. Dalam suatu riwayat, jika sang pemilik buku tibatiba tidak sengaja akan memergokinya, malaikat buku dengan sekejap cahaya akan segera mengubah wujudnya menjadi capung atau kupukupu.

Dari seluruh tugas Al Alim dengan bukubuku, tugas terberatnya adalah menjaga agar ilmu dapat terus abadi di muka bumi. Sebab itulah malaikat buku sangat mencintai orangorang yang berilmu, apalagi orangorang yang sangat menghargai buku. Pasalnya, malaikat yang sangat disenangi Jibril ini, melihat korelasi ilmu ditentukan dari sikap perlakuan orang terhadap buku. 

Menurut sahibul riwayat, dari seluruh manusia yang dikutuk Al Alim adalah orangorang yang tak menghargai ilmu. Dan orangorang seperti itu, dari pertama diciptakannya manusia, malaikat buku sudah tahu bahwa orang yang demikian adalah orang yang tak mencintai buku. Itulah mengapa di akhir dunia nanti, Al Alim akan banyak melaporkan orangorang dengan jenis ini.

Tetapi ada suatu riwayat lain yang mengulas tentang orangorang yang dihinakan oleh Malaikat Al Alim. Disebutkan di sana adalah orangorang munafikun yang berilmu dan memiliki buku berjubel tapi tak pernah dirawatnya dan dibacanya. Juga orangorang yang senang membuang bukubuku apalagi membakarnya. Apalagi jika ada pemerintahan tertentu yang menggunakan kekuasaannya untuk melarang peredaran bukubuku bagi masyarakat. Kepada merekalah malaikat Al Alim akan langsung mencatatnya di kitab al akbarnya dengan label: terhina.

Syahdan, disebutkan oleh riwayat itu pula, malaikat buku seringkali dapat ditemui bagi orangorang yang membawa buku ke manamanapun ia pergi. Di situ ditulis, syarat utamanya hanyalah satu: cintailah buku. Dengan begitu, kita dapat menjumpainya jika beruntung. Sudahkah anda bertemu dengannya?

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...