02 Februari 2015

madah empatbelas

Sering kali kita ditimpa masalah; gunung meletus, pertengkaran dan keangkuhan, naiknya harga bbm, banjir bandang, terlilit hutang, pesawat jatuh, naiknya harga barangbarang, air bah, terorisme, perang etnis, pemerintahan korup, pemimpin yang tak adil, pembunuhan, perkosaan, penculikan, kelaparan, pembantaian massal, huruhara politik, penggusuran, pengkianatan, sunami, angin ribut, kebakaran. Juga kemiskinan, tipu muslihat, penyakit menular, kebohongan, kecelakaan beruntun, kelaparan.

Barangkali hampir semua hidup kita sudah bagian dari semua itu.  Dan juga bisa jadi kita yang hidup di suatu sore dengan kopi secangkir, malah menjadi sumber semua masalah di pagi yang dirundung kesibukan. Hidup memang seperti jejaring labalaba di mana semuanya menjadi sistemik dan berangsurangsur. Tak ada yang terpisah dan mandiri dari tempat kita berpijak. Kata pepatah cina; kepakan kelelawar di sini, membahana angin beliung di sana.

Ada juga ungkapan, hidup itu seperti suara gema, ketika engkau teriak, pantulannya lambat laun kembali juga. Takdirkah itu? Sepertinya ini yang jadi soal. Takdir itu kejadian setelah pengamatan. Atau keadaan yang jelas setelah kejadian. Gema, yang bakal mendatangi sumber suara itu bukan takdir. Gema sebagai suara yang bakal datang itu sudah bisa kita ketahui. Ini artinya, gema, sebenarnya persis hukum kausal. Apa menyebabkan apa, siapa mengakibatkan siapa.

Lalu masihkah yang disebut masalah harus kita sebut sebagai “keputusan yang sudah diputuskan?” Takdir sebagai keadaan yang terputuskan sejak awal disebut fatalistik, sementara takdir sebagai kemungkinankemungkinan yang sulit kita duga adalah  seperti gema; sesuatu yang dari kita dan akan datang masanya ia kembali. Ini berarti takdir tak selamanya sudah digariskan, melainkan diluruskan. Dalam arti luruslah, apa yang menjadi masalah dibenarkan. Ini berarti apaapa yang nampak bermasalah dapat diubah.

Namun rasarasanya itu sulit, ternyata ada banyak jejaring yang juga kusut. Sepertinya masalah bukan saja soal individual tetapi juga sosial. Itulah mengapa masalah mesti ditangkal sejak awal. Sebab garis lurus sulit dibentang jika dari awal tak ada semisal penggaris yang dipedomani. Maka wajarlah jika masalah sosial sudah terlalu banyak karena garis lurus tak pernah dibentangkan. Toh jika ada garis yang ingin ditarik, justru penggarisnya malah tak lurus.

01 Februari 2015

madah tigabelas

Sepertinya ada yang diamdiam terus membayangi di balik tegaknya intitusi masyarakat. Terus mengendus dari dalam dan merusak dengan cara yang tak kasat mata. Pelanpelan menjangkiti seperti hasrat yang tak pernah lengkap dan puas. Lamatlamat yang tak pernah puas itu membangun sebuah hirarki. Yang tak pernah puas itu biasa dieja  dalam arti yang sama dengan satu hal; kekuasaan.

Dan kekuasaan yang diamdiam bekerja itu punya dua  sikap yang jadi watak dalam setiap yang berbau birokrasi; Firaun dan Bal'am. Firaun, seperti yang diulangulang dalam sejarah adalah penguasa yang menilap tuhan. Atau nyaris menghabisi tuhan, sebab dalam quran diceritakan ia justru berkoar: aku adalah tuhan yang dapat  mencabut nafas dan mampu menghilangkan nyawa. Sementara Bal'am kita tahu, ia orang yang menyokong Firaun, dengan dalilnya, dengan argumentasi ilmunya. Diceritakan melalui sejarah, dengan dalildalil ilmunyalah, Firaun membangun kerajaannya.

Tetapi adakah itu sudah cukup? Nampaknya sejarah selalu menyisakan tempat untuk yang lain; Qarun. Dalam islam, terutama yang digambarkan Ali Syariati, Qarun adalah simbol antagonisme kelas ekonomi atas, golongan pemilik modal yang kehilangan sentimennya terhadap masyarakat tertindas.

Ali Syariati juga menyebut nama yang lain. Dari telusur filsafat sejarahnya, Ali Syariati menyebut satu nama; Qabil, yakni simbol masyarakat dominan yang mengagungkan hak kepemilikan pribadi atas penguasaan yang publik. Qabil, digambarkannya sebagai simpul yang merangkul dari apa yang ia sebut trinitarianisme sosial; Firaun, Bal'am dan Qarun.

Sebuah narasikah ini? Nampaknya ini tidak sekedar sejarah yang berasal dari negerinegeri seribu satu malam. Apalagi deskripsi dari teksteks yang sering dikutipkutip. Syariati tidak hendak membangun pemahaman yang teologis atas masyarakat, melainkan sebuah pandangan yang sosiologis. Ia rasarasanya resah bahwa dalam kehidupan masyarakat, yang disebut watak, sifat yang mendasari sebuah peran, bisa menjadi sebuah kangker dalam  tubuh masyarakat; ganas dan merusak.

Ini berarti tabiat maupun watak bukan keberadaan yang sui generis. Bukan hakikat yang ahistoris dan di luar sejarah. Tidak seperti subtansi yang sudah dimaktub dalam lauh mahfus. Seperti sesuatu zat yang ada dengan sendirinya. Ia justru dibentuk dan dicipta dalam sejarah. Ditempa dalam lingkungan, diciptakan dari pergulatan dan pengalaman atas kenyataan. Ia -dalam prosesnya- terus mengalami perubahan yang tiada hujung.

Dalam arti inilah tabiat watak tidak sepenuhnya perihal yang sudah jadi. Untuk itulah kita seharusnya tak harus percaya betul terhadap masyarakat di luar sana. Sebab nampaknya memang tabiat selalu mengikuti keadaan sosial; baik buruknya sudah seperti lempung lumpur yang dibentuk. Atau janganjangan memang betul bahwa manusia sebenarnya adalah mahuk antisosial.

Di sini kita boleh saja mengiyakan Hobbes dengan pandangan etisnya bahwa manusia disebut etis bila sejauhjauhnya ia bisa memenuhi keinginan individualnya. Tindak etis ini disebut pemeliharaan diri. Tindak etis ini disebut egoisme. Dari sinilah yang antisosial itu muncul dan meraup segala yang ada. Tapi Hobbes tahu jika yang individual dipertemukan ke dalam yang sosial; bellum omnes contra omnia. Maka yang ada adalah perang yang semua melawan yang semua; homo homini lupus.

Memang sepertinya itulah yang terjadi di sekitar kita. Situasi yang timpang sana timpang sini. Yang punya kuasa justru nampak seperti serigala; menindas, menghambat dan memaksamaksa. Sementara di bawahnya justru seperti dibilang Pram, menjilat, mengembik atau malah penghambaan. Jadi bukannya kita harus mafhum terhadap alur masyarakat yang mencipta “kangker” yang tak pernah sembuhsembuh, melainkan kenapa seluruh watak yang pernah ada dalam sejarah masih tetap bertahan hingga kini. Adakah ini memang seperti hilir sungai yang baik hilir dan muaranya sudah tercemari.  Apakah memang yang individual sudah seperti yang sosial; bellum omnes contra omnia. Perang di sana sini. Meraup segala hal selagi sempat dan mampu.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...