15 Januari 2015

catatan tiga

Apakah memang sosiologi sebagai disiplin ilmu sesungguhnya mengandung problema? Setidaknya hingga kini, ilmu sosiologi masih memperlihatkan pertentanganpertentangan di dalamnya. Ini maklum, sebab memang dari awal, sosiologi ditandai dengan kritisme diantara tokohtokoh pelopornya. 

Ilmu yang dipelopori Auguste Comte semenjak dalam perkembangannya memang tidak berjalan mulus. Pasca dirinya, disiplin yang ia tujukan untuk meramalkan perkembangan masyarakat, justru dilanjutkan dengan perdebatan subjek ilmu yang seharusnya menjadi kajian sosiologi. Hingga akhirnya secara umum untuk menengahi perdebatan itu, Ritzer mengelompokkan pendekatan teori dalam sosiologi dengan pendekatan paradigmatiknya. Walaupun sebenarnya dalam sudut tertentu, pengelompokan ini juga bermasalah dari sisi alasan-alasan yang digunakan Ritzer dalam kategorisasinya. Sebab dalam pendekatan yang lain, disamping berkembangnya teori sosiologi, banyak pendekatan yang justru berbeda dari yang dilakukan Ritzer.

Yang aneh adalah, problema semacam ini tak pernah dipersoalkan secara akademis di perguruan tinggi. Mahasiswa sosiologi, sejauh pengamatan saya tak pernah diberikan alasanalasan  memadai dengan pemetaan yang diterapkan pengelompokkan semacam pendekatan Ritzer. Alhasil yang ada adalah teoriteori yang ada dilihat sebagai sejarah perkembangan pemikiran yang tanpa masalah. Hasilnya jelas, sosiologi menjadi disiplin yang tanpa cacat dan sudah fix; minim dialog.

14 Januari 2015

catatan dua

Bagaimana saya harus memulai tulisan ini? Sebab kebiasan ini adalah hal yang baru bagi saya. Ini adalah hari kedua di mana kemarin dengan tibatiba saya berniat untuk menyisihkan waktu demi catatan atas apa yang saya alami seharian. Barangkali akan terdengar klise bagaimana aktifitas semacam ini akan saya pertahankan sampai seterusnya. Tetapi ada satu hal yang membuat saya terdorong untuk melakukannya, yakni dengan aktifitas ini, saya dapat terus menulis. Selain itu, dengan melalui catatan seperti ini saya dapat merangkum dan menjaga ingatan saya.

Tak banyak yang dapat saya tuliskan di sini, barangkali hanya menyangkut situasi intelektualisme mahasiswa yang menjadi hal dalam catatan kedua ini.

Banyak hal yang harus dibenahi untuk menemukan situasi ideal kemahasiswaan saat ini. Setidaknya forum diskusi yang aktif dengan pokokpokok bicara yang memungkinkan lahirnya perspektif yang jernih. Atau dinamika keilmuan yang terpancar dari semangat intelektual mahasiswa. Tetapi itu hal yang langka untuk saat sekarang, sebab kebanyakan mahasiswa sekarang tidak dididik untuk dapat berpikir dan berjiwa besar. Juga tidak didukung dengan sistem akademik yang menumbuhkan semangat pencaharian atas ilmu yang maha dahsyat. Dan yang utama adalah tenaga pengajar yang minim perkembangan.

Atas itulah saya berpikir butuh banyak perubahan yang mesti dilakukan, salah satunya adalah hasrat untuk belajar bagi mahasiswa sekarang.

Saya sudahi dulu catatan saya. Saya terlalu lelah untuk meneruskan tulisan ini.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...