31 Desember 2014

Memugar Waktu; Tetiba Januari

Tulisan ini diniatkan sebagai penanda atas peralihan. Niat yang lain sebagai semacam menciptakan jembatan bagi dua tepi masa; jembatan selalu berarti menyambungkan, menghubungkan dua  bebukit yang dipisah jarak yang landai, di sini dan di sana; sekarang dan esok, membangun hubungan. Atau tulisan ini saya maksudkan semisal taut jangkar, yang ditambat di bawah lambung kapal agar kemudi tak guyah.

Di luar,  letus api berkembang …juga mendung.

Di jalanjalan raya gempita menyambut  tahun yang baru sudah mulai hiruk dan juga ribut. Tahun yang baru sudah siap disongsong, tetapi apa yang baru? Maka saya lebih suka menyebutnya peralihan, bukan baru. Sebab yang namanya baru berarti meninggalkan yang lama, juga tahun. Di luar keramaian jamak membunuh kesan yang dibangun berharihari yang lalu, berbulanbulan yang lalu hingga tahun yang sebentar lagi dikemas dalam kelampauan, dan pada akhirnya membunuhnya. Dan apa yang tersisa dari tahun yang kita namai baru.


Sebab itulah saya menyebutnya peralihan; seperti jembatan atau jangkar yang tak ingin guyah. Peralihan membutuhkan ketetapan, kesamaan dari keadaan yang sebenarnya sama. Di sinilah arti dari menyambungkan apa yang tak digapai dari daratan  di belakang. Ini persis kembara yang melihat waktu sebagai yang utuh, yang tak putus, di depan hanyalah daratan yang sama. Maka dari itulah kita membutuhkan jembatan untuk mengingat atau perlu jika sekalikali kita ingin kembali, maka itu dapat dimungkinkan. Melihat apa yang tertinggal dan tak sempat kita jadikan bekal.

Di gedunggedung yang ramai, berkumpul dalam waktu yang ditetak…

Sebagai penanda atau juga jembatan, tulisan ini saya artikan sebagai perayaan terhadap waktu senggang.  Ketika di luar, di keramaian, waktu senggang diartikan sebagai pemujaan terhadap yang banal, diekspresikan melalui tonton kapital yang berpindah tangan dengan seketika, saya lebih memilih menulis hal yang sahaja; membangun-sekali lagi jembatan. 

Tetiba hujan pecah, entah dengan ritme yang masih saja sama…yang ada bunyi yang titik

Merayakan yang baru sudah menjadi karakter. Untuk tahun yang baru, barangkali di sana ada yang harus ditebak dalam keburaman, sesuatu yang tak bisa begitu saja dikenali. Barangkali karena inilah yang baru, yang dengan sendirinya melahirkan sentimen yang mengharu biru. Banyak cara yang ditunjukkan untuk itu, dimulai dari doa dan perayaan. Dengan itu, yang baru, yang sebentar lagi menjadi harihari sebenarnya tidak berbeda disambut.

Tetapi tulisan saya bukan ingin menjadi tanda bagi yang baru. Justru ingin merujuk pada peristiwa yang dikandung mitos. Dalam mitos ada yang tak selamanya mampu diukur, tak mampu dijangkau pertimbangan rasional, tetapi “menerangkan”  bagi penganutnya. Waktu dalam mitos adalah ihwal yang bulat penuh, total dan menyeluruh, sehingga bukan garis linear yang menandakan adanya keterputusan. Di dalam mitos, waktu sesungguhnya bukanlah entitas yang dapat dipilah, yang dapat dipecahpecah, melainkan totalitas keseluruhan masa.

Lantas dari manakah yang baru itu datang? inilah soalnya, sebab waktu di jaman sekarang adalah masa yang ditekuk rasio. Yang di sana waktu akhirnya pecah dikepingkepangkan, menjadi bagianbagian dari rangkaian yang sesungguhnya satu. Dari sinilah waktu akhirnya dipandang sebagai garis yang putusputus; masa yang perlu kita bagi menjadi baru dan lama. Dan inilah arti modern; waktu harus dirayakan kepergiannya, sementara dalam kebaruan ada masa yang tak jelas seluruh.

Tidak seperti perayaan yang menandai pada tahun yang baru yang sesungguhnya adalah hari yang sebenarnya masih sulit ditekuk. Dalam mitos walaupun ditandai sebagai pengetahuan yang menyelisih dari rasio, saya lebih menyukainya karena terangnya adalah sesuatu yang bukan rasio, melainkan mental. Kehadiran waktu adalah entitas yang seluruh bukan garisgaris yang dipilah; disinilah waktu berarti penghayatan akan keseluruhan tentang masa dan seluruhnya.

Karena inilah kebaruan tak selamanya baik, sebab tak menyertakan mental daripada rasio. Dalam mitoslah saya membayangkan orangorang yang beralih dari peristiwa satu ke peristiwa yang lain dengan gelora yang bertarung pada nasib didaratan seberang, sebab sesungguhnya orangorang ini tahu tak ada perang yang kedua kalinya. Yang namanya perang hanya sekali, selamanya. Dalam waktu yang dihayati, yang baru dan lama sesungguhnya ilusif, menipu dan juga berbohong.

Maka dari itu, tulisan ini menjadi rangkai yang menjembatani sebuah sikap atas peristiwa yang tak banyak berubah. Hari esok yang juga masih saja sama, sebuah peralihan masa, tentang bukit seberang yang landai dari pijak sini.


Di sana, di pusatpusat keramaian talutalu kembang api menyulap mendung…
Letus hingga berjauhjauh, sungguh tak ada sauh yang jadi teduh
Tetiba ramai dalam gagap yang sepertinya tegap, walau jua kalap
Di luar yang jamak, jalanjalan yang padat jadi ruang yang pekat
Tetiba hujan ditingkap dalam kurung gemerlap yang angkuh, juga ringkih


Michel Foucault dan Kelahiran Klinik

Biografi dan Konteks Intelektual

Foucault lahir di Poitiers, Prancis pada 15 Oktober 1926. Ia berasal dari keluarga yang berlatar pendidikan medis, hingga bagi orang tuanya, Foucault diharapkan untuk memilih profesi yang sama. Tetapi studi filsafat, sejarah, dan psikologi menjadi pilihan utamanya, walaupun kelak pemikiran-pemikirannya banyak berkaitan dengan bidang medis, khususnya psikopatologi.

Dalam mendalami Studi filsafat dan psikologi di Ecole Normale Superiure, ia bertemu dengan Louis Althusser yang sekaligus memperkenalkannya kepada pemikiran marxisme strukturalis; kemudian mendalami filsafat Hegel di bawah bimbingan Jean Hyppolite; dari Georges Canguilhem tentang sejarah ide; dan Georges Dumezil membuat Foucault tertarik dengan sejarah mitos-mitos, seni dan agama. Pada 1946 ia menyelesaikan pendidikannya dan menerima lisensi filsafat pada 1948 dari Sorbone dan dua tahun kemudian memperoleh lisensi dalam bidang psikologi. Ia juga mendapat diploma dalam psikopatologi.

Karir akademisnya diawali dengan menjadi staf pengajar di Universitas Uppsala, Swedia untuk bidang sastra dan kebudayaan Prancis (1955-1958), juga menjadi dosen di berbagai universitas di Prancis. Sempat juga terjun ke dunia politik dan bergabung dengan Parai Komunis Prancis hingga 1951. Selama periode ini, Ia kemudian menerbitkan karya monumentalnya “Historie de la Folie al’age Classique” yang lebih dikenal dengan “Madness and Civilization” (Peradaban dan Kegilaan).

Melalui konteks karyanya kelak, alam pemikiran Foucault menunjukkan bermacam-macam minat pengetahuan yang menjadikan dirinya sebagai salah satu pemikir yang provokativ dan sulit dipahami (Ritzer, 2008). Tetapi selain dari Ide-ide Marxian melalui alur pemikirannya, ia banyak bersentuhan dengan teori rasionalisasi Weber yang ia sebutkan hanya ditemukan pada “tempat-tempat kunci (key sites); pendekatan hermeneutika dalam melihat fenomena sosial yang menurutnya problematis; pengaruh fenomenologi dengan cara penolakannya terhadap ide-ide otonomi subjek; dan yang paling penting adalah pemikirannya yang kuat terhadap beberapa minat Nietzsche terhadap kekuasaan dan pengetahuan. Input teoritis yang beragam ini akhirnya menempatkan ia sebagai seorang poststrukturalis (Ritzer, 2008).

Melalui Madness and Civilization, Foucault persis seperti menara yang menjulang akibat ketenaran dari tulisannya. Sejak penerbitan buku itu, perhatian terhadap gejala penyimpangan, yang juga sejarah psikiatri, ilmu kedokteran, psikopatologi, kriminologi dan seksualitas telah menjadi kajian yang kompleks saat diperhadapkan kepada tahap masyarakat dan tahap pemikiran. Begitu juga sebagaimana deskripsinya tentang perilaku aneh dengan kaitannya terhadap siksaan sadis melalui cara-cara yang ekstrem, dimulailah sebuah tahap ilmiah yang menghubungkan gejala inhumanitas dan humanitas sebagai bagian dari pengamatan sosial (Kurzweil, 2010)

Cara Kerja Foucault

Tindak baca Foucault atas sejarah peradaban barat terutama pada tema-tema perilaku menyimpang dan sejarah klinik, dilakukan berdasarkan metodelogi genealogidan arkheologi pengetahuan yang terungkap melalui kategori yang ia cetuskan. Dalam Madness and Civilization, Foucault mengujicobakan pendekatannya melalui pembacaan kondisi sejarah yang memungkinkan terjadinya kelompok-kelompok masyarakat terpusat melalui kategori kekuasaan selama masa abad pertengahan hingga pencerahan.

Dari tindak pembacaannya, Ia menemukan bagaimana kekuasaan menormalisasi kelompok marginal; orang berpenyakit lepra, orang gila, kaum miskin dan pengangguran melalui modus yang memperantai bagaimana cara kerja kekuasaan diberlakukan dalam skema pengetahuan dan kedokteran melalui diskursus.

Unit analisis diskursif sekitar kekuasaan dan pegetahuan dinyatakannya melalui bentuk-bentuk pengetahuan yang menyertakan kualitas moral dari kekuasaan itu sendiri. Melalui cara ini, kekuasaan mengkondisikan fungsi otoritasnya dalam mengatur praktik-praktik, aturan-aturan, pernyataan-pernyataan yang berhak beroperasi di dalam lingkungan dominasi kekuasaan.  Dari tema ini diskursus dapat diartikan sebagai “kelompok pernyataan yang memililiki sistem formasi tunggal” (Ritzer, 2008).

Diskursus dalam beberapa pengertiannya dipadankan dengan arti ideology. Penggunaan ini seperti ungkapan Eagleton adalah usaha Foucault untuk menghindari pemakanaan ideologi yang bias dari sebelumnya. Tetapi dari yang diberikan Eagleton, diskursus yang diperantai antara relasi kekuasaan sebenarnya selalu dimediasi melalui bahasa dan dibentuk oleh bahasa. Sehingga penggunaan diskursus lebih tepat digunakan dalam menjelaskan relasi struktural bahasa dalam mediasi kekuasaan (Bagus Takwin, 1999)

Ada empat artikulasi Foucault yang prinsipal dari arkeologi pengetahuan dengan membedakannya dengan sejarah ide untuk memahami diskursus;

Pertama. Arkeologi tidak mengupas “pemikiran, representasi, pencitraan yang terimplisit dalam diskursus, melainkan melihat kembali diskursus dibentuk dari kekuasaan yang menyertainya. Dengan kata lain arkeologi pengetahuan membantu kita untuk melihat diskursus itu sendiri.

Kedua. Dari dimungkinkannya diskursus yang disertai dari kekuasaan maka ia dilihat sebagai perkembangan yang memiliki kekhasannya sendiri. Ini sejalan dengan maksud Foucault untuk memahmi diskursus secara tidak langsung akan memposisikan kebenaran bukan hal yang prinsipal, melainkan adanya kecenderungan berbeda dari the other.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...