24 Desember 2014

Gong Mea

Abad 21 adalah masa yang tak pernah terbayang sebelumnya. Penanda khas dari zaman ini adalah hilangnya batas-batas kultural antar bangsa dalam dimensi budaya, ekonomi maupun politik. Globalisasi adalah peristiwa mutakhir di mana tak ada lagi bangsa yang otonom dari keberadaan bangsa lain. Sudah merupakan “kewajiban” antara bangsa untuk melakukan kesalingterhubungan demi membangun keberlangsungan kehidupan bernegara yang layak.

Tahun 2015 nanti, gaung globalisasi tidak sekedar wacana dari negeri seberang.  Melalui masyarakat ekonomi Asean (AFTA), kita dituntut untuk mengadaptasikan seluruh kemampuan sumber daya potensial untuk menghadapi era keterbukaan pasar global. Ini berarti secara ekonomi, kita harus mampu bersaing dengan pasar dari “negeri seberang” dengan memproduksi dan memanfaatkan "kelebihan” yang kita miliki. Pertanyaannya yakni, seberapa mampukah daya saing sumber daya yang kita miliki untuk “bertarung” di dalam era keterbukaan AFTA?

Modal Kebudayaan

Keresahan yang paling mengkhawatirkan di era pasar bebas adalah hilangnya penanda kebudayaan yang menjadi ciri khas masyarakat kita. Keresahan ini sudah diwanti-wanti oleh Ritzer, seorang ahli sosiologi dengan istilah yang ia sebut McDonaldisasi kebudayaan. Keresahan Ritzer merujuk pada fenomena kebudayaan yang secara homogen dikooptasi oleh “rejim kebudayaan pasar”. Miskinnya pemaknaan masyarakat terhadap kearifan lokal adalah salah satu contoh dari kooptasi rejim kebudayaan yang mengartikan nilai kehidupan berdasarkan nilai-nilai asing.

Lantas apa kaitannya dengan AFTA? Pasar bebas sebagai medan pertemuan produk-produk diperjualbelikan, merupakan garda paling depan dalam “mempromosikan” selera bahkan nilai kebudayaan “negeri seberang”.  Produk adalah “duta” paling efisien untuk “mengakali” apa yang mejadi kebutuhan masyarakat kita. Bila hal ini terjadi, tidak tertutup kemungkinan akan berdampak secara kultural yang mengubah selera, praktik dan cara hidup berkebudayaan masyarakat Indonesia.

Bagi Makassar sebagai gerbang  timur perekonomian, mau tidak mau harus mempersiapkan strategi kebudayaan yang memungkinkan terjadinya penguatan nilai-nilai lokal saat menghadapi era pasar bebas. Hal ini dapat dilakukan melalui jalur edukasi yang kembali mengingatkan masyarakat untuk terus menghidupkan kehidupan berbasiskan kebudayaan. Menyangkut ini apa yang sempat diprakarsai oleh pemerintah kota Makassar melalui film Bombe’ adalah salah satu contoh seperti apa kebudayaan lokal diterjemahkan dalam kemodernan masa kini. Bila hal demikian tidak diantisipasi, maka budaya lokal yang kita miliki akan tersapu bersih oleh bentuk-bentuk kebudayaan baru seiring banyaknya produk luar negeri yang masuk.


07 Desember 2014

Sentimentalisme Filsafat; Prasangka dan Anti Sains

Louis Althuser, filsuf marxis Prancis, punya buku; Filsafat Sebagai Senjata Revolusi. Saya membayangkan -dari judulnya- bagaimana filsafat, ilmu yang abstrak dan spekulatif itu memiliki keterpautan terhadap revolusi, situasi puncak gerakan sosial yang radikal dan total. Dan sulit dibayangkan, dalam arti apa filsafat harus kita terima sebagai senjata. Barangkali di sinilah tipikal pemikiran yang berhaluan marxis; filsafat bukan ilmu yang sekadar menafsir dunia, justru masuk dan mengubahnya.

Titik tolak dari buku yang ditulis Althuser itu bisa kita terima dalam beberapa pengertian. Pertama, perselisihan filsafat materialisme historis Marx terhadap filsafat Hegel yang bersifat spekulatif. Dalam konteks ini, pemikiran Althuser sulit menyelisih dari pertentangan yang sudah dimulai Marx. 

Kedua, Filsafat Sebagai Senjata Revolusi, jawaban atas spekulasi-spekulasi filosofis di luar halaun pemikiran marxis yang dinilai tak memiliki sumbangan praktis terhadap kompleksitas dunia. Ketiga, filsafat materialisme dialektik historis, seperti pandangan-pandangan pemikir marxis, satu-satunya alternatif pemikiran yang masih membawa harapan terhadap tatanan totalitarian kapitalisme.

Namun biar bagaimanapun, filsafat itu sebagai indung ilmu pengetahuan adalah medan yang masih sangat sulit dikenali. Persitegangan antara filsafat materialisme dan idealisme adalah panorama yang khas dalam pemikiran filsafat. Pelecehan terhadap filsafat Hegelian oleh Marx dengan menyebut filsafatnya berjalan dengan kepala, adalah ekspresi ideologis betapa kentalnya sentimen-sentimen antara filsuf di abad 19.

Jauh sebelumnya, sentimen yang lebih antagonistik ditunjukkan saat Eropa masih dikuasai eksternalitas gereja. Melalui kuasa hegemonik dan totaliter, hampir semua dimensi kultural dan keagamaan dipenuhi nuansa dogmatis doktrin-doktrin padri agama. Dari situasi demikian, tradisi kitab suci merupakan satu-satunya ilmu pengetahuan yang diakui melalui studi-studi kitab di dalam gereja. Pengetahuan dalam arti kritis yang bertumpu melalui telaah argumentatif rasional dan penyelidikan empiris, wacana pinggiran yang dibid’ahkan.

Tetapi Alison Brown, misalnya, dalam Sejarah Renaisans Eropa, menggambarkan bagaimana mesin cetak menjadi penanda kebaruan perkembangan Eropa. Keberadaan mesin cetak juga digambarkan Francis Bacon sebagai tiga penemuan yang mengubah wajah dunia. Pusat-pusat percetakan di Paris, Basel, Roma dan Antwerb dengan cepat menjadi pusat-pusat baru ilmu pengetahuan menggantikan dominasi gereja. Dengan bergesernya pusat ilmu, bersamaan dengan liberalisasi ilmu mesin cetak, akhirnya Eropa mulai memasuki era pencerahan.

Eropa yang tercerahkan adalah Eropa yang mulai meninggalkan anggapan-anggapan teologis. Eksternalitas gereja menjadi residu yang harus disapu bersih. Peristiwa demikian juga membersihkan presuposisi terhadap ilmu pengetahuan yang dianggap bid’ah dan menyesatkan. Dengan demikian ilmu yang awalnya dianggap menyimpang menjadi penanda otoritas manusia atas penguasaan hidupnya.

Zaman Keemasan: Bangkitnya Ilmu Pengetahuan

Abad pencerahan menjadi keadaan yang memungkinkan berkembangnya ilmu pengetahuan. Penemuan-penemuan metodelogi keilmuan, sampai perselisihan filosofis adalah ilustrasi epistemologi dari berkembangnya ilmu pengetahuan renaisans. Melalui Sejarah Filsafat Barat misalnya, Betrand Russell menuliskan serbuan sains pertama kali datang saat publikasi teori Copernican tahun 1543, kemudian diperkuat dan dikembangkan oleh Kepler dan Galileo pada dua abad selanjutnya.

Pudarnya kekuasaan iman gereja ditandai lahirnya semangat humanisme. Kharisma gereja akhirnya berganti pesona kekuatan primordial manusia sebagai mahluk otonom. Otonomi manusia berarti manusia sebagai subjek yang berpengetahuan tidak lagi menyandarkan kekuasaannya terhadap institusi gereja. Di zaman keemasan ini, manusia dilahirkan menjadi mahluk paripurna meninggalkan kesan purba abad kegelapan.

Kesan manusia sebagai pusat ilmu mencapai puncaknya dalam pembatinan Rene Descartes; cogito ergo sum. Mahluk purba dalam pembatinan Descartes menjadi subjek yang lahir dari peristiwa otonomisasi semangat pencerahan. Cogito ergo sum adalah tiang pancang kekuatan rasio atas keberadaan manusia. Rasio Descartes merupakan pemurnian kekuatan primordial manusia yang sudah tercemari praanggapan common sense. Rasio dalam pengertian cartesian adalah rasio yang menolak eksternalitas sebagai dasar pijak kebenaran.

Zaman keemasan juga digambarkan Kant sebagai era yang sama sekali berbeda dari abad pertengahan. Abad pencerahan disebutnya sebagai keadaan kemandirian berpikir. Di suatu waktu ia menulis:

Pencerahan adalah keluarnya manusia dari ketidakdewasaan yang dibuatnya sendiri. Ketidakdewasaan adalah ketidakmampuan untuk menggunakan pemahaman sendiri, tanpa bantuan dari orang lain. Ketidakdewasaan yang dibuat sendiri ini tidak terjadi karena kurangnya pemahaman, melainkan karena tidak adanya keberanian, yakni ketidakberanian untuk menggunakan pemahaman tanpa arahan dari orang lain. Sapere Aude! Beranilah untuk menggunakan pemahamanmu sendiri! Itulah semboyan Pencerahan.

Era pencerahan juga memberikan kesan yang kuat terhadap individuasi manusia. “Beranilah untuk menggunakan pemahamanmu sendiri!” merupakan keinginan kuat dari manusia otonom. Dalam hal ini Kant, juga seperti Descartes, memiliki iman yang sama terhadap manusia merdeka. Dalam hal ini kolektivitas yang menjadi dasar common sense diradikalkan atas rasio yang independen. Dalam situasi demikianlah manusia yang independen atas rasio menjadi pusat alam semesta.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...