03 Maret 2019

Sastra, Filsafat, dan Seperti Politik, Akal Sehat Harus Dibayar Tuntas


Judul : Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: Gramedia Pustaka
Edisi: Pertama,  2014
Tebal: 243 halaman
ISBN: 9786020303932

IGNAS Kleden menyebutkan sastra di tingkatan tertentu melukiskan kecenderungan-kecenderungan utama dalam masyarakat. Dalam arti sadar-tidak sadar, sengaja-tidak sengaja, teks bisa saja mengungkapkan atau menutupi kecenderungan yang sedang marak di masyarakat.

Bahkan, sebuah cerita disebutkan Ignas Kleden, bisa saja menggambarkan situasi kejiwaan seorang individu, yang sekaligus menjadi metafor bagi keadaan masyarakat secara luas.

Ajo Kawir dalam novel Seperti Dendam Rindu Harus dibayar Tuntas karangan Eka Kurniawan, misalnya, adalah personifikasi ketakutan masyarakat yang mengalami ”impotensi” terhadap rezim pemerintahan yang totaliter.

Lenyapnya ”akal sehat” masyarakat di hadapan negara, ditandai dari ”mati-rasanya” kemaluan Ajo Kawir pascamenyaksikan pemerkosaan dua orang polisi terhadap seorang perempuan gila.

Secara olok-olok, jika bukan metafor, tokoh polisi memerkosa perempuan gila bernama Rona Merah di awal-awal novel itu, mengandaikan suatu pemaknaan yang kurang lebih sama dengan kecenderungan umum negara memberlakukan warganya sebagai the other.

Bisa disinyalir pula nama Rona Merah dalam novel ini merupakan kata ganti yang dipakai Eka demi melukiskan sikap negara terhadap komunisme: ambivalen, intimidatif, semena-mena, dan mengolok-olok.

Sebagai perempuan, Rona Merah juga memperagakan posisi perempuan dan laki-laki dalam struktur kekuasaan masyarakat patriarkis. Dari sini, melalui perempuan gila, Eka seolah-olah mendengungkan kembali analisis Michel Foucault tentang kecenderungan negara dalam memberlalukan warganya berdasarkan tilikan episteme yang disepakati negara.

Ihwal ini pula yang menjadi dasar mengapa dalam novel ini, Rona Merah menjadi warga asing dan diasingkan dari lingkungan sehari-hari, persis seperti Foucault menerangkan relasi pengetahuan dengan disiplin atas tubuh dalam jaringan kekuasaan negara.

Bila mengikuti keseluruhan cerita Seperti Dendam-nya Eka, yang paling terang ditemukan adalah usaha Ajo Kawir dalam ”membangkitkan” kembali burungnya.

Beragam cara sudah ia lakukan, mulai dari memajang poster perempuan seksi di kamar mandi, terapi lebah, mendatangi pelacur, hingga menggosokkan cabai rawit di kemaluannya. Namun, nahas, burung Ajo Kawir tetap saja sulit ngaceng. Mati suri.

Maka, menarik mencermati tingkah jenaka Ajo Kawir yang lama kelamaan mengambil jarak dari burungnya. Penjarakan ini sekaligus memberi peluang Ajo Kawir memberlakukan burungnya sebagai subjek mandiri.

Itulah sebabnya, Ajo Kawir menganggap burungnya sebagai kawan yang layak diajak berbicara. Dalam beberapa kesempatan, walaupun ia sudah tahu tidak akan bersuara, Ajo Kawir sering mengajak burungnya berdialog.

Tapi, tanpa disadari, proses itu menjadi cara Ajo Kawir mengatasi inhibisi yang dialami dirinya. Tak dinyana, burungnya yang impoten menyebabkan dirinya mengalami lonjakan spiritualitas sampai ia menjadi orang laiknya sufi.

Sulit menolak untuk dikatakan bahwa novel Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas masih relevan untuk membicarakan konteks masyarakat kiwari. Suasana yang terbangun dalam novel ini seolah-olah berserdawa di tengah alam politik kebangsaan belakangan ini.

Suasana teks dengan para pembaca, dengan berhasil menjadi otonom bercerita, tanpa sekadar menjadi inskripsi pengarang, seolah-olah itu menjadi corong tempat mengasalkan suaranya.

Itulah sebabnya, teks yang telah berubah menjadi suasana dapat dilekatkan kepada keadaan kekinian, terutama bagaimana politik ibarat keadaan psikologis Ajo Kawir yang mengalami berbagai kendala akibat kemaluan yang impoten.

Selama 32 tahun alam demokrasi mengalami mati suri. Persis seperti burung Ajo Kawir. Secara alegoris itu menunjukkan hilangnya ”akal sehat” dalam kehidupan yang serba tenang dan damai. Anehnya, kehilangan akal sehat ini, justru ambivalen ketika direfleksikan kepada keadaan sekarang yang berbeda jauh dari 32 tahun silam.

Reformasi, bagi bangsa ini adalah penanda bangkitnya impotensi ”akal sehat” selama lebih tiga dekade. Sekonyong-konyong, seluruh saluran lubang diciptakan demi menyalurkan hasrat bersuara. Praktis, terbebasnya kekangan berekspresi dan bersuara—terutama dipengaruhi kemajuan teknologi media sosial— di sisi lain malah menurunkan derajat ”akal sehat”.

Singkatnya, secara kualitatif kualitas rasional ”akal sehat” kalah dari serbuan kuantitatif suara maya netizen.

Menjelang Pilpres, politik mendadak menjadi narasi banyak orang. Sampai-sampai keriuhan politik ikut menyeret filsafat dan sastra di tengah gelanggang perdebatan. Itu semua dilakukan atas nama ”akal sehat”.

Namun sayang, lantaran terlampau riuhnya alam demokrasi, kejernihan ”akal sehat” hanya menghasilkan noise dari pada voice. Habitat ”akal sehat” yang diperjuangkan filsafat dan sastra selama ini dilecehkan melalui retorika dan puisi seolah-olah banting harga.

Kedalaman ”akal sehat” dalam filsafat karena dipoles dengan cara retoris, hanya bisa mengajak orang-orang membuat suara gaduh (noise) dari pada keugaharian berpendapat (voice).

”Akal sehat” yang mempersyaratkan dialog terbuka, tidak ditemukan lantaran senantiasa menggunakan cara massifikasi yang diletupkan demi mendapatkan pengikut-pengikut—sisi negatif demokrasi.

Cara itu persis dilakukan para kaum Sophis pada masa Sokrates dulu. Ia menggunakan kata-kata bersayap agar terkesan sophisticated, tapi sebaliknya tidak mencerahkan sama sekali.

Sementara puisi dan doa—seperti dilakukan Fadli Zon dan Neno Warisman—belakangan ini hanyalah gimmick, tinimbang suara hati yang bisa menggugah ”akal sehat”.

Puisi-doa elit partai ini sama halnya kaum Sophis, menipu dan berkepentingan. Ia tidak lahir dari permenungan panjang seperti sastrawan mengalaminya, melainkan datang dari kepraksisan politik yang penuh saling sikut.

Pseudo-filsafat dan pseudo-sastra yang diperagakan belakangan ini sudah pasti bukanlah asal dari mana voice itu bakal datang. Sebab mereka tidak sama sekali mewakili siapa-siapa.

Di dalam suara gaduh yang mereka ciptakan, malah sebaliknya mengimpotensi peluang masyarakat menemukan ”akal sehatnya” kembali. Ibarat Ajo Kawir, nyatanya ”akal sehat” bangsa ini belum benar-benar merdeka.

Syahdan, jika politik bukan wadah ”akal sehat” merekah, lalu di mana dan siapakah yang bakal membayar tuntas ”akal sehat”, hingga pungkas?

--

Telah tayang di Lontar.id

28 Februari 2019

Bulan Turun: Sastra Perang ala John Steinbeck


Judul: Bulan Turun
Penulis: John Steinbeck
Penerbit: Basabasi
Edisi: Pertama,  November 2018
Tebal: 204 halaman
ISBN: 9786025783548


BANYAK contoh antara sastra dan kemerdekaan begitu lekat. Di tanah air, sosok Pramoedya Ananta Toer merupakan tonggak kepenulisan yang mendudukkan karangannya sebagai medium kemerdekaan. Bahkan hampir semua cerita yang ditulisnya adalah usaha terus-menerus demi meraih kemerdekaan yang direnggut negara dari dirinya.


Di negara tetangga, Filipina, kita mengenal José Rizal yang menerbitkan novel provokatif berjudul Noli Me Tangere. Novel ini lahir setelah José Rizal berkeliling Eropa Utara dan diterbitkan di Berlin. Novel ini berisikan kritikan kepada penjajahan Spanyol di Filipina. Berkat novelnya ini pula menyebabkan dirinya mati. Dalam suatu tulisan, Benedict Anderson menyebutkan kematiannya sebagai mati syahid. Mati demi mencari kemerdekaan.

Sastra terlepas dari bagaimana ia dituliskan akan selalu menjadi corong suara kemanusiaan. Merdeka tidak merdeka, dijajah tidak dijajah, sastra di mana pun akan berkembang seiring semangat kebebasan manusia.

Novel berjudul Bulan Turun yang ditulis John Steinbeck ini salah satu contoh lainnya. Ia ditulis kurang lebih sama dengan semangat dua contoh di atas. Bedanya, novel ini ditulis dalam masa Perang Dunia II. Masa ketika Hitler “kesetanan” ingin menduduki Eropa melalui ideologi fasismenya.

Dari sudut pandang ini wajar jika karangan Steinbeck ini beraroma anti Nazi –pandangan yang mewakili kubu demokrasi pada PD II. Bahkan, seperti dijelaskan Donald v. Coers dalam halaman-halaman depan buku ini, Steinbeck sudah sebelumnya berdiskusi dengan Donovan –kepala organisasi cikal bakal CIA di Amerika—untuk menuliskan suatu karya bernada propaganda demi mengangkat moral sekutu dari pendudukan Jerman di Eropa.

Syahdan, terlepas dari kontestasi politik PD II, dan kepentingan ideologis ke-Amerika-an dalam Bulan Turun, Steinbeck –seperti sastrawan ulung lainnya—lebih mengedepankan nilai-nilai kebebasan anti penindasan sebagai moral utama yang dikandung dalam karangannya ini.

Kota tenang menjelma teror

Bulan Turun bercerita tentang sebatalion pasukan tentarayang menyerbu suatu kota kecil penghasil batu bara di suatu pagi yang lenggang. Kedatangan pasukan penyerbu ini datang begitu cepat sambil menembaki pasukan kota beranggotakan pemuda-pemuda tanggung. Berkat caranya itu, pasukan penyerbu ini dengan mudah dapat menduduki kota, dan tanpa ba bi bu segera membentuk pemerintahan a la militer pasca mendatangi rumah walikota bernama Orden.

Kedatangan pasukan penyerbu ini terkait sumber daya alam yang dimiliki kota ini. Karena perang masih panjang, kedatangan mereka ingin merebut  tambang-tambang batu bara untuk dijadikan sumber energi tambahan bagi negara induk mereka.

Batalion yang diketahui dipimpin Kolonel Lanser itu digambarkan sebagai tentara yang ramah tapi juga sekaligus intimidatif. Sikap yang pertama ini sungguh menjengkelkan, terutama ketika dalam keadaan pendudukan dan dalam masa perang. Sikap demikian ibarat topeng yang memberi kesan kebaikan tapi membuat orang justru khawatir tentang gerangan apa wajah yang bersembunyi di belakangnya.

Keramahan tentara-tentara ini mengingatkan kepada tesis Hannah Arendt seorang filsuf perempuan, berkaitan dengan banalitas kekerasan. Tesis ini dikatakannya bahwa kejahatan yang sering kali kejam akan dianggap biasa lantaran dinilai sebagai panggilan suci demi mengemban suatu amanah. Hal ini karena kejahatan yang bersangkutan lahir dan dilegitimasi oleh tatanan isme-isme berupa misalnya nasionalisme negara. 

Kota pimpinan walikota Orden ini adalah kota dengan sejarah yang tak pernah sekalipun dijajah.  Karena itu, serangan secara mendadak  membuat warga kota ini menjadi lemah dan tak sigap. Tiadanya sejarah perlawanan adalah sebab utama kenapa kota ini begitu mudah ditaklukkan. Mereka hanya pasrah dan menyerahkan seluruh urusannya kepada pucuk pimpinan, siapa lagi kalau bukan Walikota Orden.

Walikota Orden tidak sendiri. Diceritakan ia memiliki rekan sejawat bernama Winter. Winter adalah seorang dokter kota. Berbeda dari Walikota Orden yang berkeperawakan gemuk dan berkumis, Dokter Winter lebih menyerupai Sherlock Holmes, berbadan tinggi sedikit kurus dengan pandangan mawas ketika berbicara. Ia dokter yang cemerlang dan seringkali memiliki pandangan-pandangan yang dibutuhkan sang walikota.

Lantaran warga kota mengalami demoralisasi setelah pendudukan, kepada dua figur inilah nasib kota dipertaruhkan. Walaupun mereka berdua mengalami ketakutan yang sangat, tapi tetap saja sebagai pejabat publik mereka memiliki amanah yang lumayan berat untuk dilakukan saat-saat ini: mempertahankan kota dari pendudukan.


Kepiawaian Steinbeck dalam hal ini, dengan cemerlang menghidupkan tokoh-tokohnya melalui dialog sebagai cermin psikologis terutama ketika menghadapi suasana teror. Sebagai misal Walikota Orden yang secara pribadi merasakan ketakutan, namun dengan elegan mampu memperlihatkan keberanian kepada  Kolonel Lanser di saat terjadi negoisasi pembentukan pemerintahan boneka. Sebagai pemerintah, ia enggan melakukan kerja sama mengingat kepercayaan publik kepada dirinya.

“Pak, saya bagian dari masyarakat ini…ada masyarakat yang menerima pemimpin yang ditunjuk, dan mematuhinya. Tetapi rakyat saya telah memilih saya. Mereka menjadikan saya dan bisa memberhentikan saya. Mungkin itu yang akan mereka lakukan bila mereka pikir saya telah berpihak kepada Anda.” (hal. 52)

Keberanian Walikota Orden sangat penting karena ia adalah tembok terakhir kotanya. Di titik ini, Steinbeck mengisyaratkan bagaimana karakter seorang pemimpin menjadi faktor fundamen yang bisa memengaruhi psikologi bawahannya. Ia adalah sumber atas berani tidaknya warga ketika menghadapi situasi genting dan runyam.

Mengingat kota yang dipimpinnya sama sekali tidak memiliki riwayat pendudukan dan otomatis tidak ada sejarah perlawanan warga terhadap penjajah, Walikota Orden betul-betul menyadari bahwa dirinya-lah yang menjadi faktor yang dapat membangkitkan perlawanan warganya.

Di sisi ini, sejarah mesti memberikan ruang besar bagi kekuatan individu. Dengan kata lain, bagi keadaan seperti kota ini, warga tidak bisa mengharapkan spirit kebangkitan dari referensi sejarah perlawanan yang memang belum mereka punyai. Mereka sadar bukan warga yang tinggal di kota yang penuh cerita-cerita kepahlawanan, yang bisa menjadi narasi bersama untuk memupuk keberanian.

Itulah sebabnya perlu memulai dan menciptakan sejarah perlawanannya sendiri. Ini penting untuk masa depan agar tidak terjadi kali keduanya. Dan, mereka memulainya dari diri sendiri, menjadi pahlawan itu sendiri, tanpa bersandar kepada kekuatan sejarah yang tidak sama sekali memberi faedah.

Selanjutnya, seperti pada peristiwa pendudukan lainnya, kota menjadi ladang teror. Perasaan mereka seketika berubah seratus delapan puluh derajat. Terutama bagi pasukan penyerbu yang kian lama tinggal mulai merasa galau. Pendudukan yang entah sampai kapan membuat mereka menjadi rindu kampung halaman, makanan rumah,  dan pacar-pacar mereka di negeri seberang. Moral mereka ciut.

Sebaliknya, bagi warga kota semakin lama mereka mengumpulkan keberanian yang dikoordinir Walikota Orden dan Dokter Winter.  Di bawah kepemimpinan mereka berdua, diam-diam warga kota menyusun serangan balasan. Dengan kata lain mereka tengah menciptakan sejarah perlawanan bagi kota mereka sendiri.

Menuai kritik

Ciri kepenulisan Steinbeck yang sering mengusung kaum proletar tidak kelihatan dalam Bulan Turun. Alasan ini salah satu kritikan terhadap karangannya ini. Apalagi banyak yang meragukan unsur kesastraannya lantaran Bulan Turun dinilai tidak lebih dari tulisan propaganda.

Walaupun tidak dituliskan di kota mana ia menaruh konteks ceritanya, sudah jelas setiap latar belakang yang Steinbeck suguhkan dalam ceritanya adalah versi halus yang memperhadapkan Amerika vis a vis Jerman saat itu.

Terkait dirinya pernah bekerja dalam Office of Strategic Service (OSS) yang jadi cikal bakal organisasi mata-mata Central Intelligence Agency (CIA), dan dalam suasana PD II semakin memperkuat dugaan itu.

Terlepas dari kritikan yang diberikan kepada buku ini, novel ini tidak salah untuk dikatakan sebagai bacaan yang mampu menerbitkan nasionalisme kebangsaan. Logika buku ini yang menaruh simpati kepada warga kota yang diduduki sebatalion tentara, dapat ditarik ke alam kenyataan seperti dialami bangsa-bangsa (atau kawasan-kawasan) yang sampai saat ini mengalami penjajahan.

Secara psikologis, moralitas pembaca akan mudah berempati kepada seperti yang dialami warga kota ini. Bahkan, perubahan sikap warga kota yang mendapatkan keberaniannya dari Walikot Orden untuk melakukan perlawanan adalah ajakan yang sangat terang bahwa di mana pun penjajahan mau tidak mau mesti dilawan. 

Terbukti hal demikian terjadi di Eropa Barat: Norwegia, Denmark, Belanda dan Prancis, Bulan Turun diterbitkan dan dibaca secara sembunyi-sembunyi. Ia dijilid seadanya beredar dari satu pos ke pos pihak sekutu, bersembunyi dari intaian pasukan Nazi. Menjadi bacaan perlawanan dan menerbitkan asa kemerdekaan. 


Telah tayang di Nyimpang.com

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...