20 Juni 2009

Surat untuk Sahabat; Mengenang

Sejarah pastilah sekumpulan kisah yang terajut ikatan waktu dan barangkali abstrak dalam kepala. Setidaknya itu, Duhai sobat yang dengan kata engkau menafsirkan rasa lewat imajimu. Tak disadari kita menjadi Sang Alkhemis, manusia dengan imaji masing-masing. Tentunya engkau masih mengingat buku yang lapuk oleh tangan kita; yang bergantian mengejanya. Buku yang bertutur tentang Santiago, anak yang menggembala dengan domba-dombanya mencari hakiki hidup. Berbaring dengan tebal buku diselimuti alam, dimana gemintang adalah syair-syair yang selalu ia senangi. Pernahkah engkau ingat itu Sobat? Kita mungkin berjalan dengan Al Khemis masing-masing, cuman bedanya kita tak memiliki domba untuk digembalakan, kita adalah imaji dengan domba yang abstrak.

Setidaknya engkau masih menyimpan memori. Ingatan memori yang terperangkap jauh dari kepala kita. Dimana dalam sudut kamar-kamarmu yang laksana kapal pecah, disanalah kita menghabiskan waktu dan kata untuk bertukar rasa. Menjerat diri dalam hiruk pikuk yang entah kita pahami. Dengan satu lembaran tebal Sang pemimpi, kita menjejalkan batu-batu untuk naik di langit kepala masing-masing. Mulailah kita memiliki endapan masa depan untuk melabrak zaman yang edan. Dari buku itu pun kita selalu menjalani hari dimana kue-kue perasaan menjadi perayaan. Alangkah indahnya kenangan itu?

Tibalah engkau memiliki impian dengan belahan yang jiwa. Merangkai nasib untuk masa yang bergelimangan air mata. Mulailah kita memiliki bumi yang berbeda. Tetapi aku hargai pilihanmu, pilihan yang bagimu adalah hidup yang konsekuen, hidup yang olehnya aku belajar. Wahai sobat ingatlah kita setidaknya pernah satu senyuman, satu kemarahan dan satu atap. Sedianya engakau jangan sisihkan pada hari tuamu kelak..Bicarakan tentang kami, satu yang revolusi baginya jalan dan satu yang olehnya revolusi bukanlah letupan. Duhai kawan, kita adalah luapan dari kisah yang belum usai.

Tulisan tahun 2009; berdasarkan ingatan


19 Mei 2009

Kaum Muda Menentang Kapitalisme Global

(Tulisan ini merupakan tulisan di sekitar tahun 2006/2007, dengan telah mengalami editan sana sini)

Hati nurani pasti terketuk
pada titik ketertindasan dari hak-hak yang ada
Maka Kaum muda adalah hati nurani
Yang selalu berteriak dengan semangat perlawanan terhadap
Penindasan apapun

Sistem ekonomi kapitalisme memiliki mekanisme kerja  berdasarkan  tiga komponen utama yakni kaum pemodal, tenaga kerja, dan pasar melalui corak hubungan produksi. Keuntungan kapital kaum pemodal, telah melahirkan banyak implikasi terhadap kondisi masyarakat yang dijadikan sebagai lahan komoditinya. Proses kerja dari tiga komponen basis struktur kemudian mengarahkan kita pada arena pasar bebas, di mana di dalamnya terjadi pembantaian secara massal akan nasib berjuta-juta manusia.

Lahirnya kesenjangan kelas, bertambahnya masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan, banyaknya anak-anak didik yang putus sekolah, berdiri dan bertambahnya gedung-gedung pencakar langit hingga sampai menyituasikan kondisi masyarakat yang berwatak konsumerisme adalah beberapa fenomena yang lahir akibat permainan apik dari sistem kapitalisme itu sendiri.  Kapitalisme dengan perangkat hegemonik melalui mekanisme penghisapan dan penindasan, telah melahirkan penjajahan bergaya baru dengan cara konsep depedensi ekonomi. Dampaknya cukup luar biasa terhadap segala sendi kehidupan umat manusia. 

Hadirnya negara-negara kapitalis pasca perang dunia kedua pada sepanjang abad ke-20 telah menggerakkan modalnya berupa uang, aset, dan sumber-sumber dayanya dari lingkup negaranya untuk ditanamkan terhadap lokasi yang memiliki potensi besar untuk menanamkan investasinya. Dengan cara itu mereka mendapatkan laba yang besar dari berkurangnya biaya-biaya produksi dengan adanya pengangkutan barang-barang melalui udara, berkembangya infrastruktur komunikasi dan teknologi informasi untuk melakukan kontrak-kontrak produksi sampai kebelahan dunia manapun.

Corak baru hubungan produksi seperti demikianlah yang kemudian melahirkan  sistem kapitalisme global. Sistem yang pada akhirnya berujung pada imperialisme pasar. Sistem kapitalisme global yang telah melahirkan penghapusan-penghapusan akan batas-batas lokal sebuah kawasan yang nantinya akan membuka peluang bagi pihak-pihak pemodal untuk membentuk perusahaan yang berskala transnasional agar bersatu dalam satu korporasi internasional.

Korporasi-korporasi inilah yang akan memainkan arah pasar, tarif harga yang dipakai sampai bentuk dan corak dari suatu barang yang diperdagangkan. Berbicara mengenai “pasar” yang merupakan tempat perdagangan bebas bagi pihak kapitalisme adalah bagaimana agar mereka dapat mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan cara apapun.  Sesuai dengan logika mereka yaitu logika akumulasi modal. Untuk memenangkan kompetisisi di pasar maka biaya produksi harus lebih kecil daripada saingannya atau memperkecil jumlah pesaing dengan cara peleburan.  Dengan cara ini maka beberapa pelaku pasar akan berkurang sehingga akan berdampak pada pembentukan sistem monopoli pasar yang dikemudikan oleh segelintir perusahaan.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...