31 Maret 2020

Modernitas, Masyarakat Berisiko, dan Subpolitik




Orang-orang Jerman saat meruntuhkan Tembok Berlin
Tembok ini sebelumnya membagi
dua wilayah Jerman menjadi Jerman Timur dan Jerman Barat




ERA modernitas berbeda dari masa masyarakat pra pencerahan yang ditandai dari kemampuan masyarakat melakukan refleksi.



Semenjak identitas individu menguat, manusia menemukan suatu pendasaran dalam dirinya untuk mememungkinkannya melakukan tindakan-tindakan antara proyeksi dan refleksi.



Dalam keadaan itu manusia sebagai agen atas kehidupannya, tidak lagi sepenuhnya menempatkan penemuan kesadarannya kepada institusi-institusi di luar darinya, melainkan dilakukan dengan cara dialektis antara kemampuan berpikirnya dengan himpunan-himpunan struktur di lingkungannya.


Itu artinya, konsep mengenai diri merupakan korpus terbuka yang bisa berubah, dibentuk, dan dinegoisasikan ke dalam tegangan tarik menarik antara diri dengan lingkungan sosialnya.

Kata Anthony Giddens, seorang sosiolog Inggris, refleksi modernitas ini disebutnya sebagai sebuah ”proyek refleksi”, yang berarti betapa meluasnya dampak modernisasi itu sebenarnya, sampai-sampai perubahan ke arah pembaruan tidak saja mencakup wilayah material kehidupan berupa pembangunan infrastruktur, sistem ekonomi, dan tatanan sosial politik, melainkan merasuk sampai ke tingkat pengalaman hidup seseorang.

Kesimpulan atas pernyataan di atas berarti tidak ada pakem fix berkaitan dengan identitas seseorang, seperti sudah disebutkan sebelumnya. Diri atau personalitas seseorang yang disebut identitasnya merupakan hasil eksplorasi dan produk dari perkembangan hubungan sosial yang intim.

Ini seperti proses individuasi ketika seseorang menyerap unsur-unsur perubahan berupa pandangan dunia, gaya hidup, filsafat nilai, dan keyakinan agama, menjadi sikap pribadinya.

Proses bagaimana masyarakat menentukan refleksifitasnya bukan berarti tanpa masalah oleh sebab faktor-faktor tak terduga dari perubahan itu sendiri.

Dunia modern dikatakan Giddens bakal dihadang ”sequestrasion of exprerience”, yakni semacam tercerabutnya pengalaman eksistensial manusia ke dalam sistem-sistem abstrak ciptaannya sendiri.

Kapitalisme, demokrasi, agama, atau ideologi merupakan sistem abstrak yang membuat manusia hidup di dalam keterpisahan terhadap kenyataan konkretnya.

Karl Marx di dalam kritiknya terhadap kelas borjuis melayangkan suatu ide yang dia sebut alienasi. Konsep ini selain merupakan hasil dari sistem kerja kapitalisme yang mencuri nilai lebih dari tenaga kelas pekerja, sebenarnya secara tidak langsung menciptakan demarkasi antara kerja konkret buruh dengan sistem kapitalisme yang nyatanya begitu jauh dari pengalaman kerja para buruh.

Kapitalisme sebagai suatu ideologi, mengapa demikian kebal kritik karena merupakan jaringan , hubungan, dan sistem ekonomi yang secara ontologis memisahkan dirinya dari suatu mata rantai panjang agar tidak berhubungan langsung dengan tenaga kerja yang merupakan hal konkret dalam aktivitas produksi. 

Di era modern, pola-pola seperti ini dinyatakan Giddens yang dapat menyebabkan  masyarakat terjebak kepada sistem-sistem besar yang cukup imperatif mengambil peran langsung masyarakat itu sendiri.

Itu artinya, mengapa keterasingan masyarakat sangat mungkin terjadi oleh karena semakin besar dan meningkatnya peran sistem abstrak bagi kehidupan masyarakat.

Masyarakat, dengan kata lain, akan kehilangan kendali atas dirinya selama ia menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada sistem abstrak yang berada di luar dari dirinya.

Uniknya, menurut Giddens, keterasingan masyarakat di dalam sistem abstrak bakal menciptakan dan meningkatkan rasa aman yang semakin besar pula.

Kepercayaan masyarakat kapitalis menanam investasi, pajak negara, iuran BPJS, jaminan sosial, atau bahkan keimanan kepada komunitas jemaah tertentu, merupakan bentuk-bentuk hubungan masyarakat yang percaya kepada sistem abstrak sebagai jaminan keselamatannya. 

Semakin abstrak dan berperannya sistem itu, semakin besar pula rasa aman yang tertanam dalam diri seseorang.

Tapi, meski demikian, menurut Giddens rasa aman ini di waktu bersamaan bakal melenyapkan probelm eksistensial masyarakat. Masyarakat, dalam hal ini, akan menjadi entitas yang sepenuhnya bagai hidup di dalam surga lantaran semua problem dihadapinya sudah sepenuhnya diambil alih sistem abstrak.

Keadaan inilah yang membedakan modernitas klasik dengan era kiwari dari segi orientasinya. Masyarakat dalam modernitas klasik senantiasa mencari persamaan (hak, identitas, kelas, upah) sebagai orientasinya yang berbeda dengan orientasi masyarakat sekarang yang lebih mengutamakan keselamatan.

Ulrich Beck, seorang sosiolog Jerman melihat mengapa solidaritas masyarakat kontempporer senantiasa menciptakan peluang kerja sama demi keselamatan dan bukan persamaan semata sebagai cita-citanya, sebagai konsekuensi dari apa yang ia sebut risk society.

Risk society atau masyarakat berisiko merupakan keadaan masyarakat yang hidup di dalam risiko-risiko pembangunan. Keadaan ini disebut Beck sebagai tahap perkembangan lanjutan dari era kehidupan modern yang bergerak dan digerakkan industrialisasi.

Masyarakat berisiko bukan diskontuinitas seperti dibayangkan sosiolog seperti Lyotard atau tokoh posmodernisme lainnya, melainkan suatu keadaan masyarakat modern yang mengalami lonjakan secara massif kualitatif dari segi semakin tidak pastinya kepastian-kepastian yang ditawarkan zaman itu sendiri.

Mengapa ini dapat terjadi, oleh sebab karena pudarnya paksaan-paksaan struktural seperti dialami dalam masyarakat modern sebelumnya. 

Terpisahnya paksaan struktural atas individu, menimbulkan ruang refleksi yang besar agar individu dapat bertindak bebas. Kebebasan bertindak yang disebut Beck semakin reflektif inilah yang membuat sulitnya prediksi-prediksi atas arah perkembangan masyarakat.

Itu artinya, di tengah ketidakpastian itu, masyarakat yang mengalami individuasi mesti menanggung sendiri risiko-risiko yang dialaminya. Tanggung jawab individu mau tidak mau menjadi satu-satunya pilihan ketika seluruh jaminan sosial yang dahulu ditanggung negara hilang dan beralih ke tingkat individu.

Kehancuran alam, kemiskinan, pengangguran massal, kelangkaan barang, kepunahan, pandemi penyakit, dan kelainan genetika, merupakan beberapa risiko atas modernitas, yang kian hari menjadi risiko individu tanpa ada jaminan masa depan negara.

Beck bahkan mengatakan risiko merupakan hal fundamental di dalam masyarakat industri lanjutan, meski itu tidak akan merata akibat kelas sosial yang berbeda dan bertingkat.

Artinya, dalam taraf tertentu risiko bisa terakumulasi di tingkat grass root tanpa sama sekali naik menyentuh kelas atas, disebabkan kemampuan kelas atas yang memiliki sumber daya melimpah.

Risiko bukan berarti tidak akan dirasakan bagi kelas atas, akan tetapi jika mereka mendayagunakan kekuatan modal, jaringan, teknologi, dan pendidikan, risiko-risiko berupa penyakit, kemiskinan, pencemaran alam, dan kelangkaan barang, misalnya, dapat segera diselesaikan.

Dalam bidang politik, risiko modernitas Beck disebutnya sebagai ”subpolitik”, yang berarti munculnya kekuatan baru yang lebih reflektif dari pemerintahan pusat. Itu artinya pemerintah mengalami desakralisasi atas kekuasaannya bersamaan dengan meguatnya kekuasaan dari elemen lain, berupa kelompok ilmuwan, medis, atau kelompok agama.

Beck mengatakan kemunculan subpolitik ini juga berarti hilangnya kemampuan pemerintah pusat dalam menangani problem-problem modernitas itu sendiri. Ini disebabkan karena semakin mawas dirinya kelompok subpolitik dalam menanggapi serta menanggulangi persoalan yang dihadapi.

Dampak lanjutan dari hal ini menurut Beck akan menimbulkan ”unbinding of politics” , yang berdampak atas berpindahnya kekuasaan pusat ke kelompok-kelompok subpolitik di bawahnya.

Di tanah air, risiko-risiko modernitas gampang ditemukan di kenyataan sehari-hari. Penggusuran akibat kapitalisasi ruang, kehancuran hutan dan sumber air bersih, banjir, konflik kelas, pandemi virus mematikan, serta kemunculan subpolitik yang semakin mendesentralisasi pusat, adalah beberapa contoh bagaimana risiko modernitas tidak dapat dihindarkan.

28 Maret 2020

Pandemi, Sampar, dan Kepandiran Abad 21



Sampar (La Peste)
Karangan Albert Camus
dialihbahasakan NH. Dini

BARU kali ini saya dibuat deg-degan atas suatu penyakit. Tidak seperti virus SARS dan MERS dua nama penyakit yang serba mengapung di telinga, corona nampak berbeda akibat gembar-gembor pemberitaan media, dan penanganan pemerintah yang seolah-olah sedang menghadapi wabah Tuberkulosis .

Sekarang jenis penyakit jadi aneh-aneh setelah manusia dibuat kaget. Kok, ada penyakit imporan hewan yang bikin keder.

Bukankah manusia lebih sering mengekspor segala capaiannya ke luar wilayah kehidupannya? Lah, ini malah kita kayak dijajah binatang. Kali ini hewan tertentu memberikan serangan balik setelah tubuh mereka jadi olahan kuliner dengan menyebarkan virus ke umat manusia.

Sejak tiga hari lalu, tubuh saya seperti mengalami kelainan terutama di sekitar kerongkongan. Ini gejala saat Anda akan mengalami flu yang membuat wilayah antara hidung dan tenggorokan seperti ditumbuhi selaput lendir.

Tidak ingin menerima keadaan ini begitu saja, semenjak ada sinyal tubuh bakal mendera suatu penyakit, tanpa perlu menunggu lama saya rajin mengkonsumsi suplemen vitamin c.

Tidak tanggung-tanggung dalam sehari saya bisa menghabiskan tiga butir kapsul. Corona membuat kewaspadaan saya meningkat, seolah-olah penyakit ini sudah mengantre di depan pintu rumah, dan hanya tinggal menunggu waktu kapan ia bakal mengetuk pintu.

Apalagi tiga hari belakangan ini, selaput lendir yang saya miliki membuat saya cukup khawatir. Jangan-jangan covid 19 dimulai dari tanda-tanda semacam ini.

Pertama ia mulai dulu bersemayam di dalam leher, semacam prakondisi untuk menyusun strategi saat bakal menginvasi tubuh korbannya.

Kedua dia bakal melipatgandakan dirinya dan mulai memberikan signal kepada tubuh yang merangsang otak menaikkan sistem imunnya.

Di saat ini, seperti dua pihak yang terlibat sengketa, keduanya bakal saling tarik ulur menegoisasikan kedua kepentingannya. Dalam keadaan ini demam merupakan tanda peperangan ini.

Jika tubuh Anda menang, maka Anda berhak mengusirnya dari dalam, tapi jika tubuh Anda kalah bersaing, covid bakal menguasai Anda dan menyebar memeriahkan kemenangannya.

Sialnya, sambil berpikir positif, selama tiga hari ini daya ingat saya tidak sama sekali membantu untuk melacak di mana dan siapa-siapa yang sudah saya ajak bertemu belakangan ini. Ingatan saya seperti hilang meluber seiring bekas air sisa cuci piring ke dalam lubang saluran pipa, pekerjaan yang sudah mulai malas saya lakukan dua hari ini.

Makanya, saya kerap berpikir mulai saat ini, siapa pun dalam keadaan seperti sekarang mulailah menyisihkan waktu seperti saat seorang penulis menuliskan catatan-catatan kerjanya di buku harian.

Anda tidak akan saya minta menjadi seperti seorang gadis  malang, yang tiap malam mengisi buku diari sambil menangis hanya karena gagal meyakinkan orang tua menerima lamaran sang pacar. Anda cukup duduk di meja makan, atau di atas tempat tidur sampai mulai mencatat apa-apa saja yang sudah Anda lakukan, dan yang paling penting, kemana dan dengan siapa Anda bertemu hari ini.

Tidak perlu saya jelaskan apa kegunaan catatan ”rekam jejak” Anda di atas, terutama bagi keadaan seperti saat ini. Setidaknya dengan cara itu, Anda akan dibuat seperti seorang pengarang yang betah menghabiskan 1576 kata dalam semalam sekali menulis.

Berabad-abad lamanya umat manusia melawan berbagai macam jenis penyakit, di samping selama itu pula umat manusia mengembangkan pengetahuannya mengenai dunia obat-obatan.

Kadang, umat manusia kalah dari virus sederhana hanya karena pengetahuan yang kurang memadai atasnya, sekaligus kalah lagi karena perkembangan teknologi medis yang masih sederhana. Penyakit dan teknologi dunia medis ciptaan peradan manusia adalah dua sisi yang saling berlomba dalam rangka mengisi rekam jejak capaian umat manusia.

Flu Spanyol ((1918-1919), 500 juta korban), Cacar ((10.000 SM-1979), 300 juta korban), Campak ((abad 7 SM-1963), 200 juta orang), Black death ((1340-1771), 75 juta orang), merupakan tonggak-tonggak sejarah penyakit mematikan bagaimana tubuh manusia bersisian hidup sangat dekat dengan marabahaya.

Kiwari semakin canggih gaya hidup peradaban semakin canggih pula jenis penyakit menyertainya, walaupun itu tidak menjamin kecanggihan cara berpikir manusia.

Yoval Noah Harari dalam literasi seri Sapiensnya menulis bakal memanasnya perseteruan ilmuwan dengan para ahli agama menghadapi ujian-ujian peradaban.  Dua kubu ini akan sengit mencari solusi-solusi teknis dan praktis ketika memecahkan soal-soal semisal kemiskinan, seksualitas, genetika, krisis peradaban, dan penyakit.

Saya akui geram melihat ketololan kelompok jemaah agama yang bersikap enteng menghadapi covid 19 ini. Di video Whatsapp beredar sekelompok jemaah agama di Gowa, Sul- Sel yang mengaku kebal corona.

Mereka seperti yakin hidup di masa Firaun, dan menganggap pandemi saat ini merupakan sihir ciptaan konco-konco Firaun, dan mendaku hanya dengan iman yang kuatlah jalan keluar atas penyakit ini.

Itu artinya, covid 19 bukan tentara Allah seperti diyakini selama ini setelah mereka meneriakkan takbir berkali-kali untuk menegaskan merekalah tentara Allah yang sebenarnya. Corona tidak usah dikhawatirkan oleh sebab dari namanya tidak sama sekali berbau Arab. Sesuatu yang bukan Arab mesti dilawan segesit-gesitnya, dan dengan atas nama Tuhan semua itu mesti dilakukan.

Kelompok ini kurang lebih sama perhitungannya dengan perwatakan dalam kisah La Peste karya Albert Camus, kisah mengenai wabah pes di Kota Oran, Prancis, yang awalnya tenang-tenang saja kemudianbermunculan tikus-tikus yang linglung kemudian mati dan diikuti angin panas dan hadirlah sampar.

Novel ini sedikit banyak menggugat dalil-dalil di belakang keyakinan bahwa dunia telah diciptakan dalam tujuan spesifik oleh Tuhan, atau sebaliknya, tidak ada tujuan spesifik atas penciptaan alam semesta ini.

Dalam Sampar hasil terjemahan N.H Dini ini, kelompok agamawan dinarasikan melalui sosok seorang pendeta yang memilih tinggal di kota Oran bermodal keyakinan bahwa apa yang dihadapi Oran merupakan bagian dari ujian Tuhan.

Itu mengapa, hanya bermodal keyakinannya semata, ia memilih membantu kota Oran menghadapi wabah pes, walaupun ia akhirnya mati tanpa diketahui oleh sebab yang pasti.

Dua sosok lain dalam Sampar adalah sang Ilmuwan dan sang Pemikir yang meski berbeda titik tolak dari sang agamawan, memiliki motivasi berbeda dalam melihat wabah Pes yang dikenal dalam sejarah Eropa sebagai ”Kematian Gelap” itu.

Narasi Sampar, jika dikalkulasikan untuk masa sekarang akan tetap relevan, mengingat perseteruan antara kelompok-kelompok umat manusia yang diperwatakkan di dalamnya.

Pengetahuan adalah kunci, meski pernyataan ini meski dilengkapi dengan pertanyaan lanjutan pengetahuan macam apa?

Ada jenis pengetahuan ketika manusia sangat percaya bahwa sejak tahun 60-an dunia tempat kita hidup saat ini juga ditempati oleh para alien yang datang dari galaksi lain.

Ada juga ragam pengetahuan yang mendaku dunia tempat kita tinggali ini hanyalah sebuah lempengan tanah panjang, dan di tempat-tempat tertentu terdapat puncak gunung tertinggi tempat para dewa-dewi tinggal sehari-hari.

Meski memang tidak sedikit ada pula ragam pengetahuan yang menolak dua perspektif di atas dengan cara benar dan salahnya keyakinan itu mesti diuji secara akal sehat dan ilmiah.

Abad modern, rasa-rasanya hanya merupakan narasi kebudayaan dari belahan bumi lain yangtidak berlaku di sini. Bagaimana tidak, ketika zaman menuntut untuk berpikir terbuka, memiliki empati, kerja kolaboratif, dan hidup cerdas,  kita justru sebaliknya, menjadi kelompok masyarakat yang bebal dan denial.

Bukan saja pandemi global seperti covid 19, saat ini pandemi kepandiran juga mesti menjadi perhatian kita semua. Semoga semuanya cepat teratasi.

---
Sudah tayang di Kalaliterasi.com


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...