28 Maret 2020

Pandemi, Sampar, dan Kepandiran Abad 21



Sampar (La Peste)
Karangan Albert Camus
dialihbahasakan NH. Dini

BARU kali ini saya dibuat deg-degan atas suatu penyakit. Tidak seperti virus SARS dan MERS dua nama penyakit yang serba mengapung di telinga, corona nampak berbeda akibat gembar-gembor pemberitaan media, dan penanganan pemerintah yang seolah-olah sedang menghadapi wabah Tuberkulosis .

Sekarang jenis penyakit jadi aneh-aneh setelah manusia dibuat kaget. Kok, ada penyakit imporan hewan yang bikin keder.

Bukankah manusia lebih sering mengekspor segala capaiannya ke luar wilayah kehidupannya? Lah, ini malah kita kayak dijajah binatang. Kali ini hewan tertentu memberikan serangan balik setelah tubuh mereka jadi olahan kuliner dengan menyebarkan virus ke umat manusia.

Sejak tiga hari lalu, tubuh saya seperti mengalami kelainan terutama di sekitar kerongkongan. Ini gejala saat Anda akan mengalami flu yang membuat wilayah antara hidung dan tenggorokan seperti ditumbuhi selaput lendir.

Tidak ingin menerima keadaan ini begitu saja, semenjak ada sinyal tubuh bakal mendera suatu penyakit, tanpa perlu menunggu lama saya rajin mengkonsumsi suplemen vitamin c.

Tidak tanggung-tanggung dalam sehari saya bisa menghabiskan tiga butir kapsul. Corona membuat kewaspadaan saya meningkat, seolah-olah penyakit ini sudah mengantre di depan pintu rumah, dan hanya tinggal menunggu waktu kapan ia bakal mengetuk pintu.

Apalagi tiga hari belakangan ini, selaput lendir yang saya miliki membuat saya cukup khawatir. Jangan-jangan covid 19 dimulai dari tanda-tanda semacam ini.

Pertama ia mulai dulu bersemayam di dalam leher, semacam prakondisi untuk menyusun strategi saat bakal menginvasi tubuh korbannya.

Kedua dia bakal melipatgandakan dirinya dan mulai memberikan signal kepada tubuh yang merangsang otak menaikkan sistem imunnya.

Di saat ini, seperti dua pihak yang terlibat sengketa, keduanya bakal saling tarik ulur menegoisasikan kedua kepentingannya. Dalam keadaan ini demam merupakan tanda peperangan ini.

Jika tubuh Anda menang, maka Anda berhak mengusirnya dari dalam, tapi jika tubuh Anda kalah bersaing, covid bakal menguasai Anda dan menyebar memeriahkan kemenangannya.

Sialnya, sambil berpikir positif, selama tiga hari ini daya ingat saya tidak sama sekali membantu untuk melacak di mana dan siapa-siapa yang sudah saya ajak bertemu belakangan ini. Ingatan saya seperti hilang meluber seiring bekas air sisa cuci piring ke dalam lubang saluran pipa, pekerjaan yang sudah mulai malas saya lakukan dua hari ini.

Makanya, saya kerap berpikir mulai saat ini, siapa pun dalam keadaan seperti sekarang mulailah menyisihkan waktu seperti saat seorang penulis menuliskan catatan-catatan kerjanya di buku harian.

Anda tidak akan saya minta menjadi seperti seorang gadis  malang, yang tiap malam mengisi buku diari sambil menangis hanya karena gagal meyakinkan orang tua menerima lamaran sang pacar. Anda cukup duduk di meja makan, atau di atas tempat tidur sampai mulai mencatat apa-apa saja yang sudah Anda lakukan, dan yang paling penting, kemana dan dengan siapa Anda bertemu hari ini.

Tidak perlu saya jelaskan apa kegunaan catatan ”rekam jejak” Anda di atas, terutama bagi keadaan seperti saat ini. Setidaknya dengan cara itu, Anda akan dibuat seperti seorang pengarang yang betah menghabiskan 1576 kata dalam semalam sekali menulis.

Berabad-abad lamanya umat manusia melawan berbagai macam jenis penyakit, di samping selama itu pula umat manusia mengembangkan pengetahuannya mengenai dunia obat-obatan.

Kadang, umat manusia kalah dari virus sederhana hanya karena pengetahuan yang kurang memadai atasnya, sekaligus kalah lagi karena perkembangan teknologi medis yang masih sederhana. Penyakit dan teknologi dunia medis ciptaan peradan manusia adalah dua sisi yang saling berlomba dalam rangka mengisi rekam jejak capaian umat manusia.

Flu Spanyol ((1918-1919), 500 juta korban), Cacar ((10.000 SM-1979), 300 juta korban), Campak ((abad 7 SM-1963), 200 juta orang), Black death ((1340-1771), 75 juta orang), merupakan tonggak-tonggak sejarah penyakit mematikan bagaimana tubuh manusia bersisian hidup sangat dekat dengan marabahaya.

Kiwari semakin canggih gaya hidup peradaban semakin canggih pula jenis penyakit menyertainya, walaupun itu tidak menjamin kecanggihan cara berpikir manusia.

Yoval Noah Harari dalam literasi seri Sapiensnya menulis bakal memanasnya perseteruan ilmuwan dengan para ahli agama menghadapi ujian-ujian peradaban.  Dua kubu ini akan sengit mencari solusi-solusi teknis dan praktis ketika memecahkan soal-soal semisal kemiskinan, seksualitas, genetika, krisis peradaban, dan penyakit.

Saya akui geram melihat ketololan kelompok jemaah agama yang bersikap enteng menghadapi covid 19 ini. Di video Whatsapp beredar sekelompok jemaah agama di Gowa, Sul- Sel yang mengaku kebal corona.

Mereka seperti yakin hidup di masa Firaun, dan menganggap pandemi saat ini merupakan sihir ciptaan konco-konco Firaun, dan mendaku hanya dengan iman yang kuatlah jalan keluar atas penyakit ini.

Itu artinya, covid 19 bukan tentara Allah seperti diyakini selama ini setelah mereka meneriakkan takbir berkali-kali untuk menegaskan merekalah tentara Allah yang sebenarnya. Corona tidak usah dikhawatirkan oleh sebab dari namanya tidak sama sekali berbau Arab. Sesuatu yang bukan Arab mesti dilawan segesit-gesitnya, dan dengan atas nama Tuhan semua itu mesti dilakukan.

Kelompok ini kurang lebih sama perhitungannya dengan perwatakan dalam kisah La Peste karya Albert Camus, kisah mengenai wabah pes di Kota Oran, Prancis, yang awalnya tenang-tenang saja kemudianbermunculan tikus-tikus yang linglung kemudian mati dan diikuti angin panas dan hadirlah sampar.

Novel ini sedikit banyak menggugat dalil-dalil di belakang keyakinan bahwa dunia telah diciptakan dalam tujuan spesifik oleh Tuhan, atau sebaliknya, tidak ada tujuan spesifik atas penciptaan alam semesta ini.

Dalam Sampar hasil terjemahan N.H Dini ini, kelompok agamawan dinarasikan melalui sosok seorang pendeta yang memilih tinggal di kota Oran bermodal keyakinan bahwa apa yang dihadapi Oran merupakan bagian dari ujian Tuhan.

Itu mengapa, hanya bermodal keyakinannya semata, ia memilih membantu kota Oran menghadapi wabah pes, walaupun ia akhirnya mati tanpa diketahui oleh sebab yang pasti.

Dua sosok lain dalam Sampar adalah sang Ilmuwan dan sang Pemikir yang meski berbeda titik tolak dari sang agamawan, memiliki motivasi berbeda dalam melihat wabah Pes yang dikenal dalam sejarah Eropa sebagai ”Kematian Gelap” itu.

Narasi Sampar, jika dikalkulasikan untuk masa sekarang akan tetap relevan, mengingat perseteruan antara kelompok-kelompok umat manusia yang diperwatakkan di dalamnya.

Pengetahuan adalah kunci, meski pernyataan ini meski dilengkapi dengan pertanyaan lanjutan pengetahuan macam apa?

Ada jenis pengetahuan ketika manusia sangat percaya bahwa sejak tahun 60-an dunia tempat kita hidup saat ini juga ditempati oleh para alien yang datang dari galaksi lain.

Ada juga ragam pengetahuan yang mendaku dunia tempat kita tinggali ini hanyalah sebuah lempengan tanah panjang, dan di tempat-tempat tertentu terdapat puncak gunung tertinggi tempat para dewa-dewi tinggal sehari-hari.

Meski memang tidak sedikit ada pula ragam pengetahuan yang menolak dua perspektif di atas dengan cara benar dan salahnya keyakinan itu mesti diuji secara akal sehat dan ilmiah.

Abad modern, rasa-rasanya hanya merupakan narasi kebudayaan dari belahan bumi lain yangtidak berlaku di sini. Bagaimana tidak, ketika zaman menuntut untuk berpikir terbuka, memiliki empati, kerja kolaboratif, dan hidup cerdas,  kita justru sebaliknya, menjadi kelompok masyarakat yang bebal dan denial.

Bukan saja pandemi global seperti covid 19, saat ini pandemi kepandiran juga mesti menjadi perhatian kita semua. Semoga semuanya cepat teratasi.

---
Sudah tayang di Kalaliterasi.com


21 Maret 2020

Memanggil MPO


HMI MPO dalam Kemelut Modernisasi
Politik di Indonesia


Hmi-Mpo yang Mulai Tercemar dan Tersusupi. Esai kritik Alto Makmuralto ini—jika tidak pantas disebut pledoi—betul-betul mewakili unek-unek saya mengenai perjalanan HMI MPO yang seret satu dekade belakangan.

Saya orang yang kerap ogah menulis latar belakang ke-MPO-an di riwayat organisasi curriculum vitae jika sesekali mengisi forum diskusi. Label MPO di belakang singkatan HMI itulah sebabnya. Saya merasa takut lebih-lebih tidak pantas menuliskannya karena dimensi moralitas MPO sudah bikin keder sejak awal.

Suatu waktu melalui diskusi via chatting whatsapp, dengan nada bercanda saya mengajukan pertanyaan jebakan kepada salah seorang senior MPO: kanda, tahu apa kutukan MPO pasca Basic Training?

Senior yang saya tanyai bingung. Tidak mengerti arah pertanyaan saya.

”Siapapun ia, apapun latar belakangnya, sekalipun memang seorang preman mahasiswa, jika dinyatakan lulus dari Bastra, dia seketika itu langsung ”dibaptis” menjadi ustaz. Itu kutukannya, kanda.”

Tentu saja  saat itu saya tidak memberikan jawaban persis seperti kalimat barusan, yang memang terjadi beberapa tahun lalu.

Yang pasti saat itu, saya langsung diingatkan bahwa panggilan yang menjadi tradisi di MPO itu merupakan ciri khas dan perbedaan fundamental dengan organ lain.

Namun, kenyataannya, saat saya lulus Bastra sematan sepihak itu membuat saya tidak nyaman. Coba bayangkan, saya yang belum lama menjadi mahasiswa baru saat itu sudah dipanggil ustaz oleh senior-senior di Komisariat.

Sepertinya saya akan terlalu cepat sadar saat itu juga. Masa muda saya kok akan cepat berlalu sebelum saya benar-benar menikmatinya. Apakah ber-MPO demikian serius sehingga sejak saat itu seluruh tindak tanduk saya mesti berperilaku seolah-seolah saya adalah ustaz sebenarnya.

Bukankah saya juga layak seperti teman-teman lain yang berperilaku enteng-enteng saja dan bisa berbuat apa saja, tanpa beban moral organisasi.

Sematan ustaz ala MPO secara moral demikian imperatif.   Saya dibuat kikuk menempatkan diri saat berperilaku. Jangankan mendekati perempuan non muhrim, merokok, dan  mengenakan celana sobek di lutut saja beratnya bukan main.

Itulah sebabnya, pasca Bastra saya dan beberapa teman main kucing-kucingan berlari memutari gedung, jika dari jauh akan bertemu salah satu senior Komisariat yang dikenal alim.

Ia senior yang paling sering membangunkan kami salat malam saat Bastra, dan mengawal kultum saat salat subuh berjemaah. Pengakuannya, MPO-lah yang mengubah nasibnya dari ”alam kegelapan” menuju ”kehidupan terang benderang”.

Ia dikenal seantero fakultas sebagai preman kampus, dan jika musim ospek tiba banyak mahasiswa baru pasti digasak dan akan diinjak-injaknya.

Pasca Bastra seperti diceritakannya, ia mendapatkan titik kesadaran baru. Hidupnya seolah-olah seperti mesin komputer yang di-restart ulang. Candu rokok ia tinggalkan, kebiasaan meminum anggur ia tobati, menjauhi perempuan ia lakukan.

Praktis, perubahan ini membuat kawan-kawan pergaulannya bingung. Ibunya sendiri dibikin heran atas ulah anaknya yang pulang kampung menangis bertobat meminum air cucian kakinya.

”Itu semua karena MPO.” Ucapnya seolah-olah kata-kata itu telah ia siapkan dari awal.

Cerita titik balik itu bikin kami terpana dan menyadari betapa angkernya itu yang namanya Bastra.

”Saya kerap dikira teroris jika pergi membeli buku di MP.”

MP yang ia maksud adalah Mal Panakukang, dan kata teroris yang ia ucapkan menunjuk kepada cara ia berpenampilan sehari-hari yang mirip pasukan Taliban Afghanistan.

Begitulah MPO, dan kelak cita-cita ideal MPO membentuk masyarakat Tamaduni saya tahu dari mulut senior mirip teroris ini.

Sematan ustaz di masa lalu saat ini saya sadari sebagai strategi perkaderan. Pelabelan itu saya amini sebagai cara terbaik senior-senior saat itu untuk menghormati kami yang masih lugu dan butuh bimbingan pasca Bastra.

Dengan  kata lain, term ustaz itu menjadi semacam doa. Syukur-syukur kalau panggilan itu tidak membuat malu saat kita sedang bergaul bebas. Tiba-tiba saja di tengah keramaian antum dipanggil ustaz.

Sebenarnya takdir ke-MPO-an saya diawali dengan peristiwa remeh-temeh. Bisa dikatakan tidak ada sama sekali niat baik menuntut ilmu dengan bermaksud mengikuti Bastra.

Kejadian saat itu sambil tertawa sering kami sebut kecelakaan sejarah. Kami berdua (teman saya ini sudah berkarier sebagai komisioner KPU) —yang saat Isya nongkrong bermain gitar di kosan—tiba-tiba diajak seorang senior jalan-jalan keluar.

”Ada acara makan-makan di dalam kampus,” katanya sambil mengeluarkan motor bebek Astrea dari parkiran. Betapa semangatnya kami mendengar ucapannya hanya karena saat itu keadaan kantung sedang kere-kerenya. Tanpa berpikir panjang kami menyahuti panggilan menyenangkan itu.

Pergilah kami berbonceng tiga masuk ke area kampus Pascasarjana UNM dan berhenti di gedung paling belakang dengan penerangan remang-remang.

Tidak ada tanda-tanda keramaian apalagi pesta makan. Bau nasi pun tidak tercium sama sekali, di mana hanya ada beberapa laki-laki yang tidak kami kenali berdiri tidak berjauhan seperti sedang menunggu sesuatu.

”Kanda, mana acara makan-makannya?”

”Tunggu saja sebentar lagi. Sedang dipersiapkan.”

Betis kami dibuat pegal berjongkok menunggu acara dimaksud. Rokok batangan yang kami beli patungan juga sudah mulai ngos-ngosan. Orang-orang mulai berdatangan. Satu dua orang di antaranya saya kenali sebagai Maba.

Sepertinya mereka juga dalam keadaan lapar mengharapkan acara segera dimulai saja.

Tidak lama datang senior-senior yang saya kenali di tingkat fakultas berboncengan membawa papan whiteboard, karpet, dan tas seperti sedang mengungsi. Rasanya ada yang salah saat itu. Senior yang mengajak kami hanya senyum cengar-cengir seperti memohon sesuatu saat saya meliriknya.

Tidak usah saya teruskan cerita ini. Kail umpan berhasil memancing kami.

Anda sudah bisa menebak bagaimana kelanjutan ceritanya. Kami berdua ternyata digiring mengikuti Bastra tanpa ada perlawanan berarti. Apa boleh buat, nasi telah menjadi bubur. Sejak saat itu genaplah saya menjadi peserta Bastra.

Diam-diam saya bersyukur atas kejadian itu. MPO-lah jalan pembuka bagi saya merasakan dinamika aktivisme kampus. Berkat MPO pulalah saya bagai ”singa podium” di kelas perkuliahan. Keberanian saya mengeluarkan gagasan di forum-forum datang setelah saya lulus Bastra.

Walaupun begitu, Anda jangan tanya saat itu betapa ”belepotannya” kata-kata saya saat menyatakan sesuatu. Yang penting berani dulu, meski terkadang saya menyesal tidak ada satupun gagasan saat itu yang saya pikirkan terlebih dahulu. Semuanya keluar begitu saja. Saya berpendapat dengan berpikir setelah saya menyatakannya.

Ketika saya mulai menikmati aktivitas berlembaga di Intra kampus, saat itu juga saya diamanahi jabatan sebagai sekretaris komisariat hanya karena kondisi anggota komisariat ya, itu-itu saja. Jabatan struktural pertama saya ini lumayan bikin repot. Masih semester tiga sudah diserahkan mengurusi surat menyurat ala HMI yang ketat aturan itu.

Saat inilah kali pertama saya menggunakan perangkat komputer yang bagi saya masih asing. Dalam keadaan gaptek itu mengetik surat yang mesti memperhatikan garis lurus antara ”Kepada Yth” dengan ”Yang bertanda tangan” di bawahnya begitu menyiksa. Urusannya bisa berjam-jam hanya karena urusan surat selembar.

Hubungan saya dengan MPO bagaikan cinta dan benci, atau lebih cocok dibilang ”Kehadiran Anda tidak membuat MPO beruntung, apalagi ketiadaan Anda dari MPO tidak sama sekali membuat Himpunan rugi.”

Bayangkan, dari hubungan yang tidak signifikan itu kami-kami yang mengikuti materi ”konstitusi” dibikin tidak berarti apa-apa. Ada tidak ada kehadiran kami, tidak ada pengaruhnya sama sekali bagi Himpunan. Coba pikirkan betapa digdayanya Himpunan diucapkan saat itu.

Sekarang, ketika MPO  dilihat dari jauh, ia bagai anak pengidap stunting. Umurnya melesat jauh tidak diimbangi dengan perkembangan tubuhnya. Ia menjadi anak cebol yang terhambat pertumbuhannya.

Tidak terlalu berlebihan jika saya katakan anak cebol ini jadi semakin parah oleh sebagian orang yang mengeksploitasinya sampai kurus kering. Tubuh MPO diisap saripatinya sampai tulang sum-sum paling dalam.

Di esai Alto Makmuralto, sangat lugas apa masalah mendasar saat ini di Himpunan. MPO jadi jalan pintas mendekati kehidupan elit politik Tanah Air. MPO jadi wahana saling jegal menjegal sampai di tingkatan Bastra. MPO jadi sarana mencapai tujuan pragmatis sebagian kader-kadernya.

MPO jadi nilai tukar demi mendapatkan proyek-proyek pemerintahan. MPO jadi tumbal sesat menyesatkan. MPO jadi tempat membajak kader-kader potensial. MPO jadi bumper suksesi politik.  MPO jadi organisasi…, duh!

MPO dari hari ke hari seperti organisasi jadi-jadian!

Ini tulisan pertama saya tentang MPO lantaran merasa terpanggil –cieh—untuk menyambut kritik keras dari mantan Ketua Umum PB, Alto Makmuralto.

Antum, jika MPO yang ulul albab, sudah mesti singsingkan lengan baju! Mesti insaf diri!

MPO hanya bisa diselamatkan mulai dari lapisan grass root nya. Di Komisariat UNM—termasuk juga FEIS—saya mendengar suara sayup perbaikan.

MPO memanggil, ustaz!

---
Telah tayang di Kalaliterasi.com

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...