21 Maret 2020

Memanggil MPO


HMI MPO dalam Kemelut Modernisasi
Politik di Indonesia


Hmi-Mpo yang Mulai Tercemar dan Tersusupi. Esai kritik Alto Makmuralto ini—jika tidak pantas disebut pledoi—betul-betul mewakili unek-unek saya mengenai perjalanan HMI MPO yang seret satu dekade belakangan.

Saya orang yang kerap ogah menulis latar belakang ke-MPO-an di riwayat organisasi curriculum vitae jika sesekali mengisi forum diskusi. Label MPO di belakang singkatan HMI itulah sebabnya. Saya merasa takut lebih-lebih tidak pantas menuliskannya karena dimensi moralitas MPO sudah bikin keder sejak awal.

Suatu waktu melalui diskusi via chatting whatsapp, dengan nada bercanda saya mengajukan pertanyaan jebakan kepada salah seorang senior MPO: kanda, tahu apa kutukan MPO pasca Basic Training?

Senior yang saya tanyai bingung. Tidak mengerti arah pertanyaan saya.

”Siapapun ia, apapun latar belakangnya, sekalipun memang seorang preman mahasiswa, jika dinyatakan lulus dari Bastra, dia seketika itu langsung ”dibaptis” menjadi ustaz. Itu kutukannya, kanda.”

Tentu saja  saat itu saya tidak memberikan jawaban persis seperti kalimat barusan, yang memang terjadi beberapa tahun lalu.

Yang pasti saat itu, saya langsung diingatkan bahwa panggilan yang menjadi tradisi di MPO itu merupakan ciri khas dan perbedaan fundamental dengan organ lain.

Namun, kenyataannya, saat saya lulus Bastra sematan sepihak itu membuat saya tidak nyaman. Coba bayangkan, saya yang belum lama menjadi mahasiswa baru saat itu sudah dipanggil ustaz oleh senior-senior di Komisariat.

Sepertinya saya akan terlalu cepat sadar saat itu juga. Masa muda saya kok akan cepat berlalu sebelum saya benar-benar menikmatinya. Apakah ber-MPO demikian serius sehingga sejak saat itu seluruh tindak tanduk saya mesti berperilaku seolah-seolah saya adalah ustaz sebenarnya.

Bukankah saya juga layak seperti teman-teman lain yang berperilaku enteng-enteng saja dan bisa berbuat apa saja, tanpa beban moral organisasi.

Sematan ustaz ala MPO secara moral demikian imperatif.   Saya dibuat kikuk menempatkan diri saat berperilaku. Jangankan mendekati perempuan non muhrim, merokok, dan  mengenakan celana sobek di lutut saja beratnya bukan main.

Itulah sebabnya, pasca Bastra saya dan beberapa teman main kucing-kucingan berlari memutari gedung, jika dari jauh akan bertemu salah satu senior Komisariat yang dikenal alim.

Ia senior yang paling sering membangunkan kami salat malam saat Bastra, dan mengawal kultum saat salat subuh berjemaah. Pengakuannya, MPO-lah yang mengubah nasibnya dari ”alam kegelapan” menuju ”kehidupan terang benderang”.

Ia dikenal seantero fakultas sebagai preman kampus, dan jika musim ospek tiba banyak mahasiswa baru pasti digasak dan akan diinjak-injaknya.

Pasca Bastra seperti diceritakannya, ia mendapatkan titik kesadaran baru. Hidupnya seolah-olah seperti mesin komputer yang di-restart ulang. Candu rokok ia tinggalkan, kebiasaan meminum anggur ia tobati, menjauhi perempuan ia lakukan.

Praktis, perubahan ini membuat kawan-kawan pergaulannya bingung. Ibunya sendiri dibikin heran atas ulah anaknya yang pulang kampung menangis bertobat meminum air cucian kakinya.

”Itu semua karena MPO.” Ucapnya seolah-olah kata-kata itu telah ia siapkan dari awal.

Cerita titik balik itu bikin kami terpana dan menyadari betapa angkernya itu yang namanya Bastra.

”Saya kerap dikira teroris jika pergi membeli buku di MP.”

MP yang ia maksud adalah Mal Panakukang, dan kata teroris yang ia ucapkan menunjuk kepada cara ia berpenampilan sehari-hari yang mirip pasukan Taliban Afghanistan.

Begitulah MPO, dan kelak cita-cita ideal MPO membentuk masyarakat Tamaduni saya tahu dari mulut senior mirip teroris ini.

Sematan ustaz di masa lalu saat ini saya sadari sebagai strategi perkaderan. Pelabelan itu saya amini sebagai cara terbaik senior-senior saat itu untuk menghormati kami yang masih lugu dan butuh bimbingan pasca Bastra.

Dengan  kata lain, term ustaz itu menjadi semacam doa. Syukur-syukur kalau panggilan itu tidak membuat malu saat kita sedang bergaul bebas. Tiba-tiba saja di tengah keramaian antum dipanggil ustaz.

Sebenarnya takdir ke-MPO-an saya diawali dengan peristiwa remeh-temeh. Bisa dikatakan tidak ada sama sekali niat baik menuntut ilmu dengan bermaksud mengikuti Bastra.

Kejadian saat itu sambil tertawa sering kami sebut kecelakaan sejarah. Kami berdua (teman saya ini sudah berkarier sebagai komisioner KPU) —yang saat Isya nongkrong bermain gitar di kosan—tiba-tiba diajak seorang senior jalan-jalan keluar.

”Ada acara makan-makan di dalam kampus,” katanya sambil mengeluarkan motor bebek Astrea dari parkiran. Betapa semangatnya kami mendengar ucapannya hanya karena saat itu keadaan kantung sedang kere-kerenya. Tanpa berpikir panjang kami menyahuti panggilan menyenangkan itu.

Pergilah kami berbonceng tiga masuk ke area kampus Pascasarjana UNM dan berhenti di gedung paling belakang dengan penerangan remang-remang.

Tidak ada tanda-tanda keramaian apalagi pesta makan. Bau nasi pun tidak tercium sama sekali, di mana hanya ada beberapa laki-laki yang tidak kami kenali berdiri tidak berjauhan seperti sedang menunggu sesuatu.

”Kanda, mana acara makan-makannya?”

”Tunggu saja sebentar lagi. Sedang dipersiapkan.”

Betis kami dibuat pegal berjongkok menunggu acara dimaksud. Rokok batangan yang kami beli patungan juga sudah mulai ngos-ngosan. Orang-orang mulai berdatangan. Satu dua orang di antaranya saya kenali sebagai Maba.

Sepertinya mereka juga dalam keadaan lapar mengharapkan acara segera dimulai saja.

Tidak lama datang senior-senior yang saya kenali di tingkat fakultas berboncengan membawa papan whiteboard, karpet, dan tas seperti sedang mengungsi. Rasanya ada yang salah saat itu. Senior yang mengajak kami hanya senyum cengar-cengir seperti memohon sesuatu saat saya meliriknya.

Tidak usah saya teruskan cerita ini. Kail umpan berhasil memancing kami.

Anda sudah bisa menebak bagaimana kelanjutan ceritanya. Kami berdua ternyata digiring mengikuti Bastra tanpa ada perlawanan berarti. Apa boleh buat, nasi telah menjadi bubur. Sejak saat itu genaplah saya menjadi peserta Bastra.

Diam-diam saya bersyukur atas kejadian itu. MPO-lah jalan pembuka bagi saya merasakan dinamika aktivisme kampus. Berkat MPO pulalah saya bagai ”singa podium” di kelas perkuliahan. Keberanian saya mengeluarkan gagasan di forum-forum datang setelah saya lulus Bastra.

Walaupun begitu, Anda jangan tanya saat itu betapa ”belepotannya” kata-kata saya saat menyatakan sesuatu. Yang penting berani dulu, meski terkadang saya menyesal tidak ada satupun gagasan saat itu yang saya pikirkan terlebih dahulu. Semuanya keluar begitu saja. Saya berpendapat dengan berpikir setelah saya menyatakannya.

Ketika saya mulai menikmati aktivitas berlembaga di Intra kampus, saat itu juga saya diamanahi jabatan sebagai sekretaris komisariat hanya karena kondisi anggota komisariat ya, itu-itu saja. Jabatan struktural pertama saya ini lumayan bikin repot. Masih semester tiga sudah diserahkan mengurusi surat menyurat ala HMI yang ketat aturan itu.

Saat inilah kali pertama saya menggunakan perangkat komputer yang bagi saya masih asing. Dalam keadaan gaptek itu mengetik surat yang mesti memperhatikan garis lurus antara ”Kepada Yth” dengan ”Yang bertanda tangan” di bawahnya begitu menyiksa. Urusannya bisa berjam-jam hanya karena urusan surat selembar.

Hubungan saya dengan MPO bagaikan cinta dan benci, atau lebih cocok dibilang ”Kehadiran Anda tidak membuat MPO beruntung, apalagi ketiadaan Anda dari MPO tidak sama sekali membuat Himpunan rugi.”

Bayangkan, dari hubungan yang tidak signifikan itu kami-kami yang mengikuti materi ”konstitusi” dibikin tidak berarti apa-apa. Ada tidak ada kehadiran kami, tidak ada pengaruhnya sama sekali bagi Himpunan. Coba pikirkan betapa digdayanya Himpunan diucapkan saat itu.

Sekarang, ketika MPO  dilihat dari jauh, ia bagai anak pengidap stunting. Umurnya melesat jauh tidak diimbangi dengan perkembangan tubuhnya. Ia menjadi anak cebol yang terhambat pertumbuhannya.

Tidak terlalu berlebihan jika saya katakan anak cebol ini jadi semakin parah oleh sebagian orang yang mengeksploitasinya sampai kurus kering. Tubuh MPO diisap saripatinya sampai tulang sum-sum paling dalam.

Di esai Alto Makmuralto, sangat lugas apa masalah mendasar saat ini di Himpunan. MPO jadi jalan pintas mendekati kehidupan elit politik Tanah Air. MPO jadi wahana saling jegal menjegal sampai di tingkatan Bastra. MPO jadi sarana mencapai tujuan pragmatis sebagian kader-kadernya.

MPO jadi nilai tukar demi mendapatkan proyek-proyek pemerintahan. MPO jadi tumbal sesat menyesatkan. MPO jadi tempat membajak kader-kader potensial. MPO jadi bumper suksesi politik.  MPO jadi organisasi…, duh!

MPO dari hari ke hari seperti organisasi jadi-jadian!

Ini tulisan pertama saya tentang MPO lantaran merasa terpanggil –cieh—untuk menyambut kritik keras dari mantan Ketua Umum PB, Alto Makmuralto.

Antum, jika MPO yang ulul albab, sudah mesti singsingkan lengan baju! Mesti insaf diri!

MPO hanya bisa diselamatkan mulai dari lapisan grass root nya. Di Komisariat UNM—termasuk juga FEIS—saya mendengar suara sayup perbaikan.

MPO memanggil, ustaz!

---
Telah tayang di Kalaliterasi.com

13 Maret 2020

Dorong Elite Membaca Buku


Muhidin M. Dahlan
Penulis "Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur"


---Tanggapan atas esai Muhidin M. Dahlan


ESAI Muhidin M. Dahlan bertitel Jangan Paksa Masyarakat Membaca Buku di kolom Apresiasi Fajar (15/02) demikian memukul. Kritik keras Gus Muh, sapaan akrab Muhidin, ini mesti ditanggapi serius, terutama bagi elemen penggerak literasi.

Inti sari esai Gus Muh itu menurut saya merupakan pisau bedah atas tradisi literasi yang coba dikembangkan elemen penggerak literasi, yang diyakini Gus Muh salah sasaran.


Selama ini, literasi menjadi trend wacana yang jika perlu apa pun tema perbincangannya perlu dikait-kaitkan dengan literasi.

Mendadak buku menjadi penting dan setiap masyarakat mesti didekatkan dengan dunia buku. Menyanggupi ”panggilan peradaban” itu, hampir semua elemen perubahan, terutama di Makassar, mengubah kiblat perhatiannya ke dalam satu isu bersama: literasi.


Di dunia aktivisme, perkubuan penggerak literasi, sejauh pengamatan saya, setidaknya bertransformasi menjadi dua model pendekatan. Pertama, komunitas yang bergerak masuk ke dalam dunia kaum terpelajar dengan melaksanakan pelatihan-pelatihan menulis.

Kedua, perkumpulan yang melangkahkan ”kaki-kaki perubahannya” ke publik lebih luas, bahkan sampai di pelosok pedesaan dengan menyebarkan buku sebanyak-banyaknya. Kritik Gus Muh melalui esai itu dengan gamblang dia tujukan ke dua model perkubuan literasi ini.


Program utama dua perkubuan literasi di atas sama-sama dimotivasi agar semua golongan masyarakat dapat membaca buku. Kategori Gus Muh dalam esainya memilahnya menjadi tiga simpul utama: petani, buruh, dan nelayan. Tiga simpul ini kelas mayoritas di Indonesia, yang artinya mereka-merekalah yang menjadi sasaran program perkubuan buku di atas.


Mengikuti logika esai Gus Muh, tidak bisa dibayangkan jika seorang petani, atau nelayan membaca buku sementara prasyarat-prasyaratnya, yakni waktu luang, ketahanan fisik, konsentrasi, dan perangkat pengetahuan, tidak mereka miliki. Kata Gus Muh, petani lebih membutuhkan penyuluh pertanian daripada membaca buku, karena hal itu akan banyak menyita waktu dan tenaga mereka yang sudah habis terpakai  bekerja di sawah.


Jadi jelas siapa yang mesti merespon buku sedimikian rupa kalau bukan para pekerja itu? Kaum elite, lebih tepatnya, calon kelas elite tulis Gus Muh, yang mesti diberikan porsi besar untuk didekatkan dengan dunia buku.


Itu artinya, perkubuan literasi selama ini memamah mentah-mentah data-data menyangkut peringkat literasi yang dikeluarkan lembaga-lembaga yang sering dikutip-kutip itu, sehingga lupa membaca keadaan di lapangan. 

Memang benar negeri ini peringkat literasinya masih jauh dari harapan, tapi apa yang sebenarnya ditawarkan Gus Muh adalah suatu model sekaligus metode, alih-alih menjauhkan masyarakat dari buku, melainkan sebaliknya, kiat jitu yang bertolak dari kebudayaan tua masyarakat Indonesia.


Kebudayaan Bugis Makassar, mendudukkan kemampuan mendengarkan sebagai kegiatan membaca. Tradisi membaca lontara di tanah Sulawesi menggunakan metode lisan (suara) sebagai medium transformasi pengetahuan bagi masyarakat. 

Kebudayaan Jawa, dalam fase perkembangan tertentu, memperkuat tradisi lisan melalui tradisi menonton melalui pertunjukkan wayang. Di antara proses transfer ilmu itu, dibutuhkan para expert—Gus Muh menyebutnya para elite—yang berperan ”membunyikan” teks-teks kitab kepada publik saat upacara-upacara khusus.


Kedudukan para ahli ini sangat signifikan dalam kegiatan membaca kitab. Dalam tradisi lontara atau kitab sansekerta para bissu atau kaum brahmana menjadi ”figur intelektual” yang berperan membunyikan, menerjemahkan, menjelaskan, dan mentransmisikan bahasa teks ke dalam konteks para pembacanya (pendengar). Kelompok elite ini yang disebutkan Gus Muh memiliki prasyarat-prasyarat otoritatif dalam mencandra teks daripada masyarakat selainnya.


Bisa dipahami alasan kegelisahan Gus Muh terhadap penggerak literasi. Di lapangan, selain salah sasaran, kenyataannya tidak ada perkubuan literasi yang mengambil posisi ”tukang” transmisi teks ke dalam masyarakat. Sebagian besar dari mereka malah bersikap ambivalen. 

Di kampus-kampus, mahasiswa yang calon para elite, merupakan kelompok yang paling malas membaca buku. Perkubuan literasi boleh jadi ruyak di kampus-kampus, tapi para penggeraknya sendiri tidak disiplin membangun tradisi baca tulis. 


Perkubuan literasi selama ini hanya direspon sebagai trend semata dibanding sebagai etos hidup, apalagi berbuah sistem kerja. Belum disebut pegiat literasi jika tidak membuat perpustakaan keliling, kelas menulis, atau lapakan buku. 

Para penggerak ini lupa bahwa mereka calon ahli, kelas elite yang bakal menengahi publik dari teks-teks ilmu pengetahuan yang demikian abstrak itu. Mereka lupa berbenah diri demi menjadi teladan, agen, figur, dan sosok yang mesti paling sering bersentuhan dengan semesta perbukuan.


Esai Gus Muh, singkatnya, sedang ”menyubit” pihak yang paling bertanggung jawab mengenai urusan dunia perbukuan. Mereka adalah kelompok elite tidak insaf diri yang sedang ”menembak” menggunakan peluru kosong sekaligus salah sasaran.

Pegiat ini tajam ke luar, tapi tumpul ke dalam. Mengkampanyekan agar masyarakat gemar membaca, tapi jarang sekali terlihat intens membaca buku. Merindukan dunia publik sadar literasi, tapi pegiatnya sendiri ogah-ogahan terhadap buku. Yang dibutuhkan sekarang bukan buku sebanyak-banyaknya, melainkan  waktu membaca buku sebanyak-banyaknya, dan itu pekerjaan khusus calon ”kelas elite”, bukan masyarakat.


--

Pernah tayang di Kolongkata.id

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...