21 Juli 2019

Dialogi Pesona Sari Diri


Judul: Pesona Sari
Penulis: Sulhan Yusuf
Penerbit: Liblitera
Edisi: Pertama, 2019
Tebal: 530 hal
ISBN: 978-602-646-23-1

--Apresiasi buku Pesona Sari Diri karangan Sulhan Yusuf

ALKISAH, seorang pria tampan terpesona melihat cerminan parasnya di permukaan air. Ia lama termangu seolah-olah paras yang ia lihat tiada bandingan sebelumnya. Dalam kisah sastra Yunani klasik, cerita ini diabadikan dalam Methamorposes karangan Ovid. Diceritakan lebih jauh, Narcissus, nama pria rupawan ini, dikutuk dewa karena angkuh terhadap Echo. Ia menolak cinta Echo dan lebih memilih mencintai sosok yang ia lihat di atas permukaan air, yang tiada lain adalah dirinya sendiri.

Narsisme, nama penyimpangan mental dalam psikologi diambil dari kisah Narcissus di atas. Barang siapa yang terpesona dengan dirinya sendiri, memuja-muja secara berlebihan dirinya, dikatakan mengidap narsisme. Kiwari, narsisme sangat gampang ditemui. Fenomena selfie berlebihan adalah contoh mutakhir betapa masyarakat sekarang sadar tidak sadar banyak mengidap mental disorder berupa narsisme.

Buku Pesona Sari Diri karangan Sulhan Yusuf ini, bukan bicara gejala narsisme. Walaupun berpangkal kepada ”diri” sebagai dasar semua karya tulisnya, di buku ini malah secara impilisit mengejek orang-orang pengidap narsisme. Banyak orang terpukau dengan ”diri” fisiknya: paras rupawan, gaya hidup, jabatan, harta dlsb., tapi lupa mengingat ”diri” nonfisiknya: jiwa, ruh, dan akalnya. ”Diri” yang belakangan disebut ini, alih-alih diberikan perhatian lebih, malah dilupakan oleh masyarakat mutakhir belakangan.

Problem mendasar tak kalah dahsyatnya di masa sekarang  adalah masalah otentisitas diri. Banyak masalah di negeri ini yang disinyalemen karena kegagalam masyarakat mengenal dirinya. Pemahaman atas “diri” kian runyam karena kuatnya “otoritas kebanyakan” dalam menentukan pilihan-pilihan pribadi individu. Orang-orang hanya akan berarti jika ia bersama “massa” dominan dari pada menemukan makna dari perenungan dirinya sendiri.

Dalam esai ketiga di buku ini, Sulhan Yusuf menggunakan istilah unik mengenai  diri, yakni sari diri. Seringkali dalam percakapan kita mengenal istilah jati diri. Istilah ini menunjuk kepada inti kepribadian manusia yang terbentuk dalam waktu panjang. Sebagaimana pohon jati, inti kepribadian inilah yang sejati, kuat, dan asli, karena membawa karakter dasar manusia. Seringkali ada pertanyaan “siapakah engkau?”, atau ungkapan permenungan “siapakah aku?”, yang keduanya sama-sama mencari tahu “jati” diri otentik seseorang.

Esai dengan judul Memberilah Dengan Sari Diri, lebih metafor lagi dari istilah jati diri. “Sari diri” jika membaca esai ini disimpulkan sebagai kemampuan manusia memberikan pemberian terbaik kepada calon penerima. Dalam praktik beri-memberi, Sulhan menganjurkan berilah pemberian kepada orang lain sebagaimana itu adalah dirimu sendiri. Posisikanlah orang lain adalah dirimu yang layak mendapatkan hal terbaik. Sesungguhnya pemberian yang layak, sama halnya bagaimana madu lebah menghasilkan rasa manis bagi lidah pengecapnya.

Anjuran moral demikian banyak ditemukan di hampir semua esai buku ini. Yang tidak kalah menarik adalah esai berjudul Generasi Sofa dan Kentang. Esai ini tanpa tedeng aling-aling mengkritik perilaku individual generasi milenial. Mayoritas generasi sekarang adalah generasi digital native yang dibesarkan di tengah teknologi digital berupa smartphone. Melalui smartphone, generasi milenial dapat ”berkeliling” dunia walau tanpa kemana-mana. Sangat gamblang perilaku demikian dinyatakan Sulhan sebagai generasi yang tinggal duduk di atas sofa sambil mengemil keripik kentang dan telah merasa melakukan banyak hal melalui smartphonenya.  

Generasi sofa dan kentang jika bukan satire, malah dapat disebut ironi. Bagaimana mungkin dari segi usia produktif, generasi milenial lebih banyak berdiam diri menekuri gawainya berjam-jam tanpa henti. Ironi ini justru semakin terasa gaungnya jika generasi sofa dan kentang diidentikkan dengan generasi yang emoh keluar dari zona nyamannya. Saking nyamannya, generasi milenial justru menjadi generasi tanpa tanggung jawab sosial.

Fenomena hijrah dialami hampir di semua lapisan sosial belakangan ini, juga tidak luput dari nukilan buku ini. Menariknya, konsep hijrah tidak semata-mata diartikan sebagai peristiwa perubahan keimanan seseorang menjadi lebih religius belaka. Dalam salah satu esainya, Sulhan Yusuf memberikan konsep lain dari hijrah berupa tonggak perubahan yang terkait dengan perubahan tatanan sosial secara fundamental. Tujuan hijrah sebagaimana Rasulullah melakukannya adalah pembangunan masyarakat egaliter dan setara. Artinya, puncak hijrah seseorang seperti bagaimana nabi melakukannya adalah revolusi sosial.

Nuansa kritis yang ditemukan dalam esai bertemakan hijrah di atas dapat pula dijumpai pada esai lainnya.  Dalam Sepak Bola, Religiusitas, dan Spiritualitas, penulis mengangkat fenomena cara masyarakat beragama dari tilikan religiusitas dan spiritualitas. Menurut penulis, dua hal ini berbeda untuk mengatakan tidak saling memunggungi. Religiusitas adalah doktrin agama yang diwarisi dari para nabi atau padri agama, sementara spiritualitas adalah penghayatan doktrin agama yang dialami pelaku agama itu sendiri. Religiusitas umumnya menampakkan dirinya dari ciri-ciri fisik agama, sedangkan spiritualitas seringkali diukur dari akhlak penganutnya.

Syahdan, Pesona Sari Diri memang bukan bermaksud berkhotbah. Ia malah ditulis seperti orang yang sedang mengobrol. Ringan, jenaka, satire dan kadang-kadang ironi. Karena gaya bahasanya demikian, tidak ada kesan otoritatif dari teks buku ini untuk memaksakan suatu pemahaman kepada pembacanya. Malah buku ini, diam-diam mengajak pembacanya untuk melakukan satu hal yang luput dilakukan selama ini: “Siapakah Aku ini?”

*Telah terbit di Harian Fajar, Minggu 21 Juli 2019


13 Juli 2019

Petualangan Si Lugu dan Voltaire


Judul Buku: Candide
Penulis: Voltaire
Penerjemah: Ida Sundari Husen
Penerbit: KPG
Tahun Terbit: 2016
Cetakan ke: Pertama 
ISBN: 978-602-424-160-5

”Untuk apa dunia ini diciptakan?” tanya Candide.

”Untuk menjengkelkan kita,” jawab Martin.


CANDIDE diam-diam adalah novel yang jenaka, tapi juga dibubuhi ironi. Voltaire, penulis buku ini tentu punya maksud tertentu mengapa ia menulis dengan banyak satire di dalamnya.

Cek per cek, ternyata buku ini adalah wujud lain dari pandangan filsafatnya. Dicek lagi lebih dalam, buku ini bukan menceritakan sembarang kisah. Selain menyiratkan kritikan terhadap Leibniz, Voltaire dengan gaya menulis tempo cepat tengah mendedahkan suatu pemahaman berkaitan dengan kosmologi bahwa dunia tidak seperti yang kerap diharapkan. Antara idealitas dan realitas kadang saling memunggungi, bahkan meniadakan.

Candide dilihat dari satu sisi seperti kisah petualangan Don Quixote karya Miguel Cervantes. Bahkan keluguan karakter Candide—namanya saja sudah berarti lugu, mengingatkan saya kepada Schweik, si tentara polos dan tolol ciptaan Jaroslav Hasek. Petualangan dan keluguaan inilah yang banyak mewarnai kisah Candide. Uniknya, keluguan ini bukan keluguan kacang-kacangan. Voltaire mendudukkannya dalam kaitannya dengan filsafat.

Filsafat seringkali dianggap sebagai ilmunya orang-orang yang besar rasa ingin tahunya. Dalam fenomenologi, barang siapa ingin berfilsafat ria, seseorang mesti berperilaku seperti anak-anak kali pertama menyaksikan sesuatu. Polos plus takjub dengan fenomena yang belum pernah disaksikan tiada duanya. Lantaran ketakjuban inilah filsafat baru dapat dimulai dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang sesuatu.

Candide—sesuai namanya adalah murid lugu dari Pangloss, si jenius filsafat yang hidup di dalam istana. Ia bahkan disebut sebagai filosof paling hebat di seantero Imperium Suci Romawi. Mereka berdua diibaratkan Socrates dengan muridnya, Platon, yang kerap berdiskusi mengenai apa saja. Hanya saja, Candide dan Pangloss versi satire a la Voltaire. Belakangan ketika jalan cerita semakin panjang, akan semakin tampak mengapa Voltaire terkesan mengejek filsafat rasionalis melalui dua figur yang secara ironi mempelajari filsafat.

Kisah petualangan Candide didorong peristiwa yang sebenarnya tidak terduga. Ia ditemukan berciuman dengan Cunegonde, putri seorang baron bernama Thunder-ten-tronch setelah tanpa sengaja berpapasan di balik sebuah ruangan. Malang nasib mereka berdua. Pasca kejadian mesum itu, Candide diusir dari istana tempatnya hidup, dan Cunegonde, yang digambarkan cantik, rupawan, dan bertubuh montok, jadi korban amarah ibunya.

Pasca Candide terusir dari istana, petualangannya tidak akan pernah dapat ia tebak. Semula ia menjadi tentara yang membawanya ke dalam perang yang ia tak pahami seluk beluknya. Ia ditangkap dan kemudian dibebaskan dari hukuman 2000 resimen karena dipandang raja sebagai orang dengan kemampuan ahli metafisika. Kemudian ia melarikan diri dan sampai di Portugis dengan sebelumnya berjuang dengan kapal yang karam. Di perjalanan itu ia bertemu kembali Pangloss, guru filsafatnya yang ternyata menjadi gelandangan.  Di Lisabon mereka dihukum otoritas setempat. Pangloss mati digantung sedangkan Candide masih beruntung diselamatkan seorang nenek dengan kisah pilu tentang sejarah hidupnya.

Paris, Peru, Portugal, Venezia, Konstantinopel adalah garis panjang petualangan Candide. Ia digambarkan Voltaire persis sebagai bidak catur yang bergerak tanpa kendali sama sekali. Kemana mata angin nasib berembus ke sanalah Candide berada.

Tampaknya, ini bukan seperti petualangan sungguhan yang digerakkan keinginan kuat mengembara. Alih-alih Candide adalah ejekan jika dikaitkan dengan kehendak rasional manusia, sebab petualangannya banyak didorong oleh faktor x di luar dari kenginannya.  

Petualangan Candide yang diombang-ambing peristiwa yang tak dikehendakinya merupakan antinomi bagi filsafat yang menyakini segalanya telah diatur secara presisi. Tidak ada yang melenceng sama sekali. Apa pun kejadiannya, entah keburukan atau sebaliknya, semuanya adalah panorama takdir yang sudah diatur sebaik-baiknya.

Dengan kata lain, optimisme, jantung dari filsafat yang melihat jagad raya sepenuhnya adalah kebaikan, hanyalah secercah kilatan yang tidak menggambarkan kenyataan sesungguhnya. Justru, Candide si naif, banyak menemukan pengalaman yang bersebarangan tidak seperti diajarkan guru filsafatnya.

Petualangannya yang sesungguhnya merupakan kisah pelarian dari satu marabahaya ke marabahaya lainnya, malah membuka cangkang pemahamannya: pembunuhan, peperangan, pemerkosaan, eksekusi mati, perbudakan, adalah satu sisi dunia yang tidak selamanya dapat dinafikan begitu saja.

Dalam salah satu adegan perjalanannya, Candide bertemu Martin, seorang penganut manicheisme, filsafat tua Persia yang melihat alam semesta dikuasai dua kekuatan yang saling bertentangan. Mereka berdiskusi mengenai kebaikan dan keburukan sampai limabelas hari berturut-turut di atas kapal dengan kesimpulan seperti hari pertama. Di sini dengan penggambaran macam demikian, filsafat bagi Voltaire bukan usaha percakapan yang bertele-tele, tapi lebih mengedepankan tindakan nyata.

Bagaimana mungkin tanpa putus limabelas hari, diskusi hanya membawa kesimpulan yang tidak berkembang sama sekali. Sia-sia belaka.

Candide, walau bagaimanapun secara tidak langsung menarasikan betapa manusia terlampau lugu jika tidak menarik pemahamannya di dalam kenyataan itu sendiri. Ibarat seseorang yang berdiri di atas menara tanpa pernah tahu dengan pasti bentuk dan rupa pasir pantai sesungguhnya.

Manusia mesti bergerak melalui tindakannya, tanpa mesti terlarut dalam eksplanasi filosofis yang kelewat panjang.

Setelah tiba di Istanbul dan melewati duka lara di sepanjang perjalanan mereka, Candide, Martin, dan si guru filsafat yang ternyata tidak mati, Pangloss, akhirnya menghentikan diskusi-diskusi filsafat mereka.

”Mari kita bekerja tanpa banyak berdiskusi…. Itulah satu-satunya cara agar hidup kita ini lebih tertanggungkan.”

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...