13 Juli 2019

Petualangan Si Lugu dan Voltaire


Judul Buku: Candide
Penulis: Voltaire
Penerjemah: Ida Sundari Husen
Penerbit: KPG
Tahun Terbit: 2016
Cetakan ke: Pertama 
ISBN: 978-602-424-160-5

”Untuk apa dunia ini diciptakan?” tanya Candide.

”Untuk menjengkelkan kita,” jawab Martin.


CANDIDE diam-diam adalah novel yang jenaka, tapi juga dibubuhi ironi. Voltaire, penulis buku ini tentu punya maksud tertentu mengapa ia menulis dengan banyak satire di dalamnya.

Cek per cek, ternyata buku ini adalah wujud lain dari pandangan filsafatnya. Dicek lagi lebih dalam, buku ini bukan menceritakan sembarang kisah. Selain menyiratkan kritikan terhadap Leibniz, Voltaire dengan gaya menulis tempo cepat tengah mendedahkan suatu pemahaman berkaitan dengan kosmologi bahwa dunia tidak seperti yang kerap diharapkan. Antara idealitas dan realitas kadang saling memunggungi, bahkan meniadakan.

Candide dilihat dari satu sisi seperti kisah petualangan Don Quixote karya Miguel Cervantes. Bahkan keluguan karakter Candide—namanya saja sudah berarti lugu, mengingatkan saya kepada Schweik, si tentara polos dan tolol ciptaan Jaroslav Hasek. Petualangan dan keluguaan inilah yang banyak mewarnai kisah Candide. Uniknya, keluguan ini bukan keluguan kacang-kacangan. Voltaire mendudukkannya dalam kaitannya dengan filsafat.

Filsafat seringkali dianggap sebagai ilmunya orang-orang yang besar rasa ingin tahunya. Dalam fenomenologi, barang siapa ingin berfilsafat ria, seseorang mesti berperilaku seperti anak-anak kali pertama menyaksikan sesuatu. Polos plus takjub dengan fenomena yang belum pernah disaksikan tiada duanya. Lantaran ketakjuban inilah filsafat baru dapat dimulai dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang sesuatu.

Candide—sesuai namanya adalah murid lugu dari Pangloss, si jenius filsafat yang hidup di dalam istana. Ia bahkan disebut sebagai filosof paling hebat di seantero Imperium Suci Romawi. Mereka berdua diibaratkan Socrates dengan muridnya, Platon, yang kerap berdiskusi mengenai apa saja. Hanya saja, Candide dan Pangloss versi satire a la Voltaire. Belakangan ketika jalan cerita semakin panjang, akan semakin tampak mengapa Voltaire terkesan mengejek filsafat rasionalis melalui dua figur yang secara ironi mempelajari filsafat.

Kisah petualangan Candide didorong peristiwa yang sebenarnya tidak terduga. Ia ditemukan berciuman dengan Cunegonde, putri seorang baron bernama Thunder-ten-tronch setelah tanpa sengaja berpapasan di balik sebuah ruangan. Malang nasib mereka berdua. Pasca kejadian mesum itu, Candide diusir dari istana tempatnya hidup, dan Cunegonde, yang digambarkan cantik, rupawan, dan bertubuh montok, jadi korban amarah ibunya.

Pasca Candide terusir dari istana, petualangannya tidak akan pernah dapat ia tebak. Semula ia menjadi tentara yang membawanya ke dalam perang yang ia tak pahami seluk beluknya. Ia ditangkap dan kemudian dibebaskan dari hukuman 2000 resimen karena dipandang raja sebagai orang dengan kemampuan ahli metafisika. Kemudian ia melarikan diri dan sampai di Portugis dengan sebelumnya berjuang dengan kapal yang karam. Di perjalanan itu ia bertemu kembali Pangloss, guru filsafatnya yang ternyata menjadi gelandangan.  Di Lisabon mereka dihukum otoritas setempat. Pangloss mati digantung sedangkan Candide masih beruntung diselamatkan seorang nenek dengan kisah pilu tentang sejarah hidupnya.

Paris, Peru, Portugal, Venezia, Konstantinopel adalah garis panjang petualangan Candide. Ia digambarkan Voltaire persis sebagai bidak catur yang bergerak tanpa kendali sama sekali. Kemana mata angin nasib berembus ke sanalah Candide berada.

Tampaknya, ini bukan seperti petualangan sungguhan yang digerakkan keinginan kuat mengembara. Alih-alih Candide adalah ejekan jika dikaitkan dengan kehendak rasional manusia, sebab petualangannya banyak didorong oleh faktor x di luar dari kenginannya.  

Petualangan Candide yang diombang-ambing peristiwa yang tak dikehendakinya merupakan antinomi bagi filsafat yang menyakini segalanya telah diatur secara presisi. Tidak ada yang melenceng sama sekali. Apa pun kejadiannya, entah keburukan atau sebaliknya, semuanya adalah panorama takdir yang sudah diatur sebaik-baiknya.

Dengan kata lain, optimisme, jantung dari filsafat yang melihat jagad raya sepenuhnya adalah kebaikan, hanyalah secercah kilatan yang tidak menggambarkan kenyataan sesungguhnya. Justru, Candide si naif, banyak menemukan pengalaman yang bersebarangan tidak seperti diajarkan guru filsafatnya.

Petualangannya yang sesungguhnya merupakan kisah pelarian dari satu marabahaya ke marabahaya lainnya, malah membuka cangkang pemahamannya: pembunuhan, peperangan, pemerkosaan, eksekusi mati, perbudakan, adalah satu sisi dunia yang tidak selamanya dapat dinafikan begitu saja.

Dalam salah satu adegan perjalanannya, Candide bertemu Martin, seorang penganut manicheisme, filsafat tua Persia yang melihat alam semesta dikuasai dua kekuatan yang saling bertentangan. Mereka berdiskusi mengenai kebaikan dan keburukan sampai limabelas hari berturut-turut di atas kapal dengan kesimpulan seperti hari pertama. Di sini dengan penggambaran macam demikian, filsafat bagi Voltaire bukan usaha percakapan yang bertele-tele, tapi lebih mengedepankan tindakan nyata.

Bagaimana mungkin tanpa putus limabelas hari, diskusi hanya membawa kesimpulan yang tidak berkembang sama sekali. Sia-sia belaka.

Candide, walau bagaimanapun secara tidak langsung menarasikan betapa manusia terlampau lugu jika tidak menarik pemahamannya di dalam kenyataan itu sendiri. Ibarat seseorang yang berdiri di atas menara tanpa pernah tahu dengan pasti bentuk dan rupa pasir pantai sesungguhnya.

Manusia mesti bergerak melalui tindakannya, tanpa mesti terlarut dalam eksplanasi filosofis yang kelewat panjang.

Setelah tiba di Istanbul dan melewati duka lara di sepanjang perjalanan mereka, Candide, Martin, dan si guru filsafat yang ternyata tidak mati, Pangloss, akhirnya menghentikan diskusi-diskusi filsafat mereka.

”Mari kita bekerja tanpa banyak berdiskusi…. Itulah satu-satunya cara agar hidup kita ini lebih tertanggungkan.”

02 Juli 2019

Merasakan Kibasan Bertarung Dalam Sarung


Judul Buku: Bertarung Dalam Sarung
Penulis: Alfian Dippahatang
Penerbit: KPG
Tahun Terbit: 2019
Cetakan ke: Pertama  
ISBN: 978-602-481-100-6

PENDEKATAN saya dengan buku ini tidak seperti buku-buku lain. Di toko buku, saya cenderung memilih buku karena tema utamanya. Terkadang juga mencari unsur kebaruan dari buku-buku yang lebih belakangan terbit. Atau mengejar karangan-karangan dari penulis-penulis yang saya favoritkan—tapi seringkali semua itu gugur selama persediaan kantong terbatas :).

Bertarung Dalam Sarung saya pilih—dari sekian banyak pilihan—bukan karena alasan-alasan di atas, walaupun ia tergolong judul baru dalam khazanah kesusastraan Tanah Air (Dari segi ini bayangkan berapa banyak judul buku baru dicetak setiap harinya?).

Bertarung Dalam Sarung ditulis oleh orang yang berasal dari daerah yang sama dengan saya: Bulukumba. Walaupun nama Alfian Dippahatang sudah lebih dulu santer dikenal di jagad kepenulisan Makassar maupun nasional.

Bulukumba, biar bagaimanapun adalah semesta yang lain bagi saya. Saya lahir di tanah para expert pembuat Pinisi, tapi merasa jauh dengan adat istiadatnya, budayanya, orang-orangnya. Saya dibesarkan jauh di tanah rantauan. Sejak kanak-kanak Bulukumba hanyalah titik kecil yang sering saya dengar dari percakapan orang tua. Di Kupang, Bulukumba hanyalah nama asing .

Didorong motif kedaerahan itulah, saya memutuskan berhak mengoleksi buku kumcer pertama Alfian ini. Barangkali saja, sedikit banyak ada tradisi mayarakat Bulukumba diceritakan dalam kumcer ini.

Akan menarik bagaimana melihat hubungan penulis dalam melihat daerahnya sendiri melalui karya sastra. Terlebih lagi, bagi saya, kebudayaan masyarakat Bulukumba merupakan dunia khas dengan adat lokalitasnya. Dua hal ini, yakni sastra dan lokalitas, akan lebih menarik jika dipertautkan.

Walaupun mesti diakui, dua buku sebelumnya, Semangkuk Lidah dan Dapur Ajaib, adalah dua karangan awal Alfian, namun tetap saja, Bertarung Dalam Sarung-lah yang lebih menarik perhatian saya. Faedahnya bagi saya, langsung tidak langsung melalui sastra dapat membuka sudut baru mengenai Bulukumba (dan atau Sulawesi Selatan) dari segi-segi fiksi yang ditawarkan buku ini.

Sampai saya menulis ulasan ini, belum semua kumcer BDS saya tuntaskan. Awalnya saya hanya melihat-lihat judul-judul yang terpampang melalui daftar isi. Sembari dengan bebas berusaha menerka-nerka bagaimana jalan ceritanya kelak. Nama penulisnya menjadi taruhannya di sini, mengingat ada beberapa catatan penghargaan penulisan yang diraih pemuda asli Bulukumba ini.

Akhirnya saya hanya sampai menuntaskan 6 karangan pertama dan 1 judul yang saya pilih secara acak.  Berturut dimulai dari karangan bertitel Ustaz To Balo, Nenek Menerawang dan Ibu Memburu, Jangan Keluar Rumah Saat Magrib, Kelong Paluserang dan Kebohongan Masa Kecil, Bukan Sayid, Mayat Hidup dan Bertobat Tak Seperti Mengedipkan Mata, dan pilihan acak tadi: Mayat yang Menceritakan Kematiannya (dan dua cerita lain yang saya baca kemudian).

Sampai di sini mafhum akan segera dipahami. Ulasan ini tidak akan keluar dari konteks cerita yang sudah saya baca di atas. Artinya, jika disebut resensi, catatan ini bukanlah ulasan lengkap mengenai keseluruhan isi buku ini. Biarlah tugas itu diambil alih peresensi-peresensi lainnya. Toh ini hanya dilatarbelakangi kesukaan menulis apa saja yang bisa saya tulis tentang buku-buku yang saya baca—walaupun tidak semua buku, tentunya.

Mungkin ada pengaruh ekspektasi awal saya mengenai buku ini. Sebab, saat membaca cerita Mayat Hidup dan Bertobat Tak Seperti Mengedipkan Mata, seketika rasa bosan menghinggapi. Sontak pengalaman membaca saya tidak berkesan seperti saat membaca karangan-karangan pengarang lainnya.

Cerita Mayat Hidup dan Bertobat Tak Seperti Mengedipkan Mata dituliskan Alfian melalui dua kisah yang terpisah tapi masih dalam satu cerita. Ketika dibelah cerpen ini menceritakan Rungka, seorang anak hasil hubungan gelap ibunya, yang ingin menggali dan mengambil kembali tubuh ibunya dari kuburan.

Diceritakan semenjak kepergian ibunya, Rungka  menjadi bulan-bulanan Puto, ayahnya. Hampir semua pertengahan cerpen ini diisi ”dialog” Rungka dengan Ibunya, yang diceritakan hanyalah tanya jawab tanpa saling terhubung lantaran perbedaan dunia antara keduanya. Rungka sering datang ke makam ibunya, dan di saat-saat itulah ia sering ”bercakap-cakap” dengan ibunya melalui sebilah bambu yang ditancapkan di tanah kuburannya.

Kisah kedua, Alfian mengisahkan latar belakang kelahiran Rungka. Ibu Rungka diceritakan berkeputusan bersetubuh berkali-kali dengan Tamrin, saudara Puto secara diam-diam. Tindak gila ini bermaksud agar Ibu Rungka dapat mempersembahkan seorang anak dari hubungannya dengan Puto. Puto dikisahkan mandul, dan Ibu Rungka ingin memiliki momongan dengan atas nama Puto tapi dengan mengambil benih dari Tamrin saudaranya.

Cerita Mayat Hidup dan Bertobat Tak Seperti Mengedipkan Mata terlalu betele-tele dari segi dialog, dan terkesan tidak alami seakan-akan betul-betul terjadi—ini yang membuat saya sebagai pembaca merasa bosan. Dari segi ini, saya bertanya-tanya apakah ada seorang anak yang bakal menggali kuburan ibunya setelah merasa tidak bahagia hidup bersama ayahnya? Perbuatan tidak lazim ini, apa pun alasannya belum ada presedennya dalam kehidupan nyata.

Cerita ini ditutup dengan ending yang aneh untuk tidak mengatakan biasa-biasa saja apalagi jelek. Ukurannya dapat dilihat dari Rungka yang begitu saja menginggalkan mayat ibunya ketika ia mendengar suara Puto dari jauh yang memaki-maki entah untuk siapa. Jika menimbang-nimbang dimensi psikis Rungka yang diceritakan sangat ingin membawa pulang ibunya setelah menggali kembali kuburnya, seharusnya apa pun yang terjadi ia tidak begitu saja meninggalkan mayat ibunya. Dalam cerita ia malah mengabaikan perasaan cintanya kepada ibunya sendiri.

Keanehan kedua ditunjukkan dari perlakuan Puto atas mayat Ibu Rungka yang ditinggal lari begitu saja oleh anaknya. Puto tiba-tiba malah menendang  mayat Ibu Rungka, dan dinyatakan telah membunuh Tamrin. Dari sisi ini, saya merasa janggal apa dasar utama perlakuan Puto atas pembunuhan Tamrin (di sini saya tahu Alfian ingin menggiring imajinasi pembaca bahwa tindakan kasar Puto karena mengetahui hubungan gelap Tamrin bersama Istrinya) dan sikap kasarnya kepada mayat istrinya, mengingat disepanjang cerita ia bukanlah figur utamanya. Apa hubungannya dari jalan cerita yang berkisah tentang harapan Rungka untuk menemui mayat ibunya dengan sikap Puto yang kasar itu, yang malah menjadi bagian ending ceritanya.

Yang juga mengganjal dari cerita ini adalah tidak dinarasikannya sebab kematian Ibu Rungka. Ia dari awal sudah diceritakan meninggal tapi tidak sama sekali ada petunjuk mengapa ia mati. Kekosongan sebab ini malangnya bukan menjadi jalan cerita yang saya yakini akan lebih menarik untuk dikisahkan oleh karena pembaca dari awal sudah disuguhi tokoh yang terlebih dahulu mati. Alfian justru bercerita mengenai dialog-dialog antara Rungka dan Ibunya, serta Ibu Rungka dan Tamrin—yang dalam dialog ini justru masih menggantung tentang apa alasan Ibu Rungka enggan bertobat, sesuatu yang dikehendaki mati-matian oleh Tamrin dengan cara mendesaknya?

Satu hal yang juga tidak prinsipil mesti dinarasikan secara langsung adalah adegan seksual Ibu Rungka dan Tamrin. Bahkan di bagian mereka bersetubuh terkesan diceritakan vulgar dan merendahkan perempuan. Alfian mungkin lupa, cerita dengan menyebut langsung suatu detail peristiwa bakal mengurangi efek imajinatif pembacanya. Justru, saat Alfian menceritakan adegan persetubuhan Ibu Rungka bersama Tamrin dengan spesifik tertentu, alih-alih membuatnya menarik, malah sebaliknya, cenderung mesum setingkat dengan cerita-cerita seksual di situs-situs cerita seks orang dewasa.

Hal lain lagi yang mesti diperhatikan dari cerita ini adalah hubungan judul dengan isi dalamnya. Sepanjang saya membaca kembali cerpen ini, saya malah tidak menemukan isyarat satu pun mengapa Ibu Rungka enggan bertobat, padahal disebutkan dalam judulnya, bertobat tak seperti mengedipkan mata. Lantas jika sebuat cerpen seringkali menerangkan motif-motif para tokoh ceritanya, malah di cerita ini tidak ada sama sekali satu pun motif yang menjelaskan seperti yang menjadi judul cerpen ini.

Sebagaimana Faisal Oddang, Alfian juga nampak memiliki obsesi memanfaatkan kekayaan budaya sebagai elemen penting dalam setiap ceritanya. Beberapa nampak terasa semisal dalam cerita Kelong Paluserang dan Kebohongan Masa kecil. Dalam cerita ini tradisi nyanyian pengantar tidur anak yang sering dilakukan ibu-ibu Bugis- Makassar menjadi salah satu adegan dalam cerita yang diangkat. Dengan kata lain, elemen lokalitas dalam cerita ini bukan sekadar embel-embel yang menjadi ornamen dalam cerita.

Berbeda misalnya dari beberapa cerita yang saya baca di atas, unsur lokalitas malah hanya diberlakukan sebagai tempelan belaka, alih-alih menjadi kekuatan ceritanya. Hal ini dapat dibuktikan dari cara Alfian menyusupkan warna lokalitas hanya dari segi penggunaan diksi belaka. Dengan kata lain, jika diksi lokal itu diubah dengan bahasa Indonesia atau dihilangkan tidak akan mempengaruhi jalan isi cerita bersangkutan. Berbeda misalnya,  jika unsur lokalitas itu dinarasikan menjadi bagian atau inti cerita, maka jika ia dihilangkan maka akan dengan sendirinya mengubah dan atau merusak isi cerita itu sendiri.

Dalam hal ini jika nuansa lokalitas menjadi jualan Alfian, menurut saya itu belum sepenuhnya disanggupi. Walalupun akan kita temukan juga dimensi lokalitas di satu dua ceritanya, semisal Bertarung Dalam Sarung yang memang tradisi sigajang laleng lipa’ menjadi tulang utama ceritanya.

Hal yang sama juga ditemui dalam cerita Bissu Muda. Malah bisa dikatakan cerita ini lumayan berhasil mengangkat tradisi sebagai bagian penting narasinya. Dengan kata lain tradisi yang mewakili unsur lokalitas dalam cerita ini hadir sebagai unsur intristik yang menjadi batang tubuh ceritanya.

Hal menarik dari Bissu Muda adalah konflik yang terjadi di dalamnya. Dalam hal ini tegangan itu diwakili dari konflik Suhdi sebagai bissu muda yang mesti mengemban amanah nilai-nilai bissu dengan dorongan perasaannya yang menyukai seorang pria yang sebenarnya adalah pantangan bagi seorang bissu. Dari sisi ini timbul pertanyaan, bagaimanakah adat tradisi mendudukkan unsur intristik manusia berupa hasrat seksualiatasnya yang sebenarnya manusiawi? Apakah ia mesti dikorbankan demi tegaknya kemapanan adat atau sebaliknya?

Seperti pada umumnya karangan yang mengedepankan nuansa lokalitas, hanya ada dua pilihan ketika ia diangkat dalam karya sastra: mengafirmasinya atau justru menolaknya dengan cara melayangkan kritik terhadapanya. Unsur lokalitas, baik adat istiadat, kearifan lokal, dan tradisi, biar bagaimanapun adalah seperangkat ajaran yang bakal berhadap-hadapan dengan kehidupan modern yang cenderung melihat tradisi sebagai dunia lama yang mesti ditanggalkan di kehidupan kini dan  masa depan.

Kalau melihat beberapa pertimbangan di atas, cerpen Bertarung Dalam Sarung adalah cerita yang sedikit banyak berhasil memberlakukan tradisi sebagai sesuatu yang layak dikritik. Dengan kata lain, cerita ini telah menjadi medium wacana  dalam mendudukkan tradisi di hadapan kaca mata orang-orang modern melihat masa lalu.

Inti cerita Bertarung Dalam Sarung adalah adegan pertarungan dua orang lelaki Bugis yang berusaha mempertahankan harga dirinya melalui tradisi sigajang laleng lipa’. Tindakan ini didorong kisah percintaan antara Cenning  dengan dua lelaki Bugis bernama Tarung dan Bombang. Kisah yang juga mengangkat tradisi perjodohan ini berakhir dengan kematian dua lelaki Bugis.

Yang unik, gaya penuturan kisah ini diutarakan melalui sudut pandang tokohnya yang berupa selembar sarung Bugis. Sepanjang kisahnya, penceritaan sarung banyak mengutarakan keluh kesahnya terhadap pilihan orang tua Cenning menjodohkan anaknya. Malangnya pilihan itu harus diputuskan melalui adat sigajang laleng lipa’ untuk memutuskan siapa yang layak mendapatkan anaknya. Dari perspektif ini, Alfian secara tidak langsung mengajukan kritik terhadap tradisi yang dinilai tidak beradab ini.

Dengan kata lain, keluhan tokoh sarung mempertanyakan cara Ibu Cenning menggunakan sigajang laleng lipa’ demi memutuskan suatu keputusan, adalah juga mewakili perspektif yang lebih manusiawi ketika menghadapi persoalan yang sama. Akhir cerita ketika dua lelaki Bugis yang tewas saling tikam adalah kesimpulan bagaimana tradisi macam demikian hanya menyisakan kekalahan bagi semua pihak. Dalam hal ini Cenning tidak dapat menikahi pemuda pilihannya, begitu pula Ibu Cenning tidak dapat mengawinkan anaknya dengan pemuda dikehendakinya, lantaran keduanya sama-sama tewas mempertahankan harga diri.

Tradisi demikian ibarat kata pepatah menang jadi arang kalah jadi abu. Begitulah intinya.

Kumcer Alfian Dippahatang ditulis dalam jarak tahun yang tidak berjauhan (2017-2018) dengan tema tidak jauh dari kebudayaan Sulawesi Selatan, yang karenanya memiliki sisi negatif berupa minimnya ruang refleksi atas tema besar yang sering diangkatnya—yang belakangan jadi tren bagi penulis-penulis yang memiliki latar kebudayaan unik (satu hal penting jika ingin dilirik oleh dunia luar/internasional).

Walaupun demikian, sebagian besar cerpen yang mendapatkan penghargaan dalam kumcer ini,  minimal sudah bisa menjadi salah satu alasan mengapa buku ini layak dibaca. Meskipun itu bukan jaminan kumcer ini mendatangkan kepuasan bagi pembacanya.

***

Tayang sebelumnya di Kalaliterasi.com


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...