18 Juni 2019

Eka Tak Ada Mati


Judul: Cinta Tak Ada Mati
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: Gramedia Pustaka
Edisi: Kedua, 2018
Tebal: 153 halaman
ISBN: 978-602-03-8635-5

PAMUNGKAS Cinta Tak Ada Mati adalah Cinta Tak Ada Mati. Cerpen ketiga sekaligus judul keseluruhan 13 cerpen Eka ini.

Kisah CTAM bercerita tentang kesetiaan seorang lelaki kepada perempuan yang dicintainya bertahun-tahun lamanya.  Mardio, nama lelaki itu, rela menghabiskan usianya hanya karena cintanya kepada Melatie, perempuan yang dicintainya sejak dari masa kanak-kanak. Hingga ia berusia tua, dan juga Melatie yang lebih memilih seorang dokter dan hidup damai dengan cucu-cucunya yang lucu-lucu, tidak membuat cinta Mardio kadaluwarsa. Cinta Mardio bahkan dalam ukuran tertentu sudah menyerupai cinta Platonik.

Kisah CTAM merupakan cerpen terpanjang dalam kumcer ini. CTAM juga ditutup dengan ending yang memukau sekaligus di luar imajinasi pembaca—terutama saya.

Satu hal yang membuat cerita ini menjadi menarik adalah penceritaan kisah yang mampu mengulur endingnya hingga di waktu yang paling tidak diduga. Dalam hal ini Eka alih-alih menyudahi ceritanya di bagian ketika Melatie diketahui meninggal dan membuat Mardio berhenti mencintainya, melainkan Eka masih meneruskan dan memperdalam penceritaannya dengan membuka kemungkinan-kemungkinan alur baru dan endingnya.

Dalam hal ini walaupun kisah CTAM hanya berpusat kepada ide mengenai jalan kisah Mardio yang mati-matian mencintai Melatie, nyatanya Eka tidak kehabisan “gagasan tambahan” dalam mengembangkan ceritanya. Dengan kata lain, jika saja Eka tidak bersetia pada gagasan utama cerita ini, mungkin saja cerita ini bakal berkembang menjadi novelet atau bahkan, novel.

Nampak sekali bagaimana Eka bukan sekadar menggunakan judul ”cinta tak ada mati” sebagai penandaan atas cinta Mardio yang tidak lekang walaupun Melatie sendiri sudah terlebih dahulu mati.

Cinta tak ada mati dengan kata lain, juga sebagai metafora bagaimana yang namanya cinta sejati memiliki konsekuensi melampaui tubuh kekasihnya. Ia merupakan sekelumit prinsip yang bahkan tidak jelas batas akhirnya.

Bahkan, cinta sejati kalau dapat dikatakan buta, adalah kekuatan yang memiliki kemampuan menghilangkan batas-batas dan embel-embel.

Salah satu isyarat bagaimana cinta itu menjadi rumit untuk tidak dikatakan buta, dialami Mardio khusus pada ending cerita ini. Jawaban atas ini dimaksudkan Eka ketika Mardio ”mencari” sisa-sisa cintanya pada tubuh mantan suami Melatie. Mardio rela bergumul dengan tubuh pria demi merasakan cinta Melatie.

”’Paling tidak izinkanlah aku memperoleh yang tersisa dari perempuan itu.’ Air matanya bercucuran deras, dan di tengah kesedihan penuh nostalgia ia mencium bibir si dokter, mencari jejak-jejak Melatie di sana, melepaskan yang tertahan sepanjang enam puluh tahun.” (hal.59)

Dalam kehidupan nyata apakah ada orang seperti Mardio yang dengan setia tergila-gila memendam hasrat cinta dan cita-cita kepada satu perempuan? Hingga umur memakan tubuhnya sampai ringkih?

Secara tersirat, CTAM mendudukkan perempuan sebagai figur penting dalam relasinya dengan tokoh utama ceritanya. Satu hal yang juga sama-sama berlaku dalam Kutukan Dapur, cerita pembuka dari kumcer yang dicetak ulang ini.

Dalam Kutukan Dapur bahkan memuat sisi kekuasaan perempuan walaupun ia mesti bekerja dari wilayah yang tidak pernah diduga banyak orang: dapur.

Kutukan Dapur adalah cerita yang mendialogkan dua perempuan dari dua generasi yang jauh. Tokoh kisah ini bisa dikatakan diisi oleh dua perempuan sekaligus, yakni Maharani dan Diah Ayu.

Maharani adalah sosok perempuan modern dengan segala keterbatasannya jika berada di dalam dapur. Ia selama bertahun-tahun hanya mampu membuat anak, menyiapkan sarapan pagi, makan siang, dan malam. Namun, hal itu tidak membuatnya dapat mahir memanfaatkan bahan-bahan dapur demi menghasilkan makanan yang berkesan di lidah.

Itulah sebabnya di awal cerita ini, Maharani dikisahkan sudah berada di perpustakaan untuk mencari resep-resep masakan, yang tanpa ia sadari dalam pencariannya itu terseret dalam khazanah sejarah yang menceritakan seorang sosok perempuan di masa lalu, yang melalukan pemberontakan kepada orang-orang Belanda dari belakang sepetak dapur.

Namanya Diah Ayu, yang dalam pencarian Maharani adalah perempuan pemasak yang dipekerjakan tuan Belandanya, yang ulung memanfaatkan bumbu-bumbu masakan. Ia bahkan mampu meracik makanan dengan menyamarkan racun di dalamnya. Suatu hal yang ia lakukan secara serempak setelah ia mengajarkan pembantu-pembantu juru masak suatu resep rahasia yang mampu membunuh orang.

Hingga terjadilah kejadian yang aneh. Di hari Kamis ditemukan banyak orang Belanda mati tanpa diketahui sebab musababnya.

Dalam cerita, kematian misterius itu sudah direncanakan dari dapur-dapur juru masak pribumi melalui makanan yang diajarkan Diah Ayu.

Catatan sejarah ini, akhirnya memberikan kesadaran baru bagi Maharani. Ia menyadari perlawanan perempuan jika mendapatkan perlakuan tidak adil, dapat dibangun dari dapur sekalipun.

Sadar tidak sadar, Kutukan Dapur dan nantinya bakal pula ditemui dalam cerita Lesung Pipit, menjadi pembanding bagi kepenulisan Eka yang tidak sedikit yang menuduhnya penulis misoginis. Suatu hal yang ditemui dari Cantik itu Luka,  ataupun Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas.

Alhasil Kutukan Dapur dan Lesung Pipit adalah dua cerita yang mengusung semangat perlawanan perempuan kepada tirani budaya patriarki. Uniknya, ketimbang memanfaatkan embel-embel atau penandaan modernisme, Eka malah memulainya dari wilayah dan hal yang sering dianggap musuh feminisme: dapur dan keperawanan.  

Dapur dan Keperawanan dalam dua cerita Eka ini dengan kata lain bukan seperti imajinasi feminisme Barat yang kerap dijadikan biang keladi dari kemunduran kaum perempuan, justru dalam ceritanya, dua penandaan perempuan ini diradikalisasi sedemikian rupa yang menjadi modus dari perlawanan perempuan.

Kelihaian Eka dalam menghidupkan suasana psikis tokoh ceritanya ditemukan dalam cerita berjudul Surau.

Inti cerita Surau sebenarnya berisi pergolakan iman si Aku ketika berhadapan dengan Surau, tempat ibadah yang jarang dikunjunginya. Dalam perjalanan pulang, si Aku tak dinyana mesti berteduh di teras Surau yang tidak jauh dari rumahnya lantaran terjebak hujan.

Di sinilah bermula ”percakapan” si Aku dengan hatinya. Ia dilema apakah harus salat atau tidak mengingat kebetulan tak ada yang bisa diperbuatnya selain menunggu hujan reda.

Surau adalah cerpen Eka tanpa dialog. Ibarat pantomim, si Aku adalah satu-satunya pusat perhatian pembaca dalam rangka apa yang bakal terjadi di akhir cerita nanti.

Surau dalam artian tertentu malah bernada ”main-main” karena memperagakan ilustrasi iman yang dinamis bergerak di antara ketaatan terhadap agama dengan rasa enggan mentaatinya.

Dalam CTAM, menurut saya ada dua cerita yang sulit dipisahkan dari orde baru, satu hal yang sudah tampak dari awal-awal kepenulisan Eka. Dua cerpen ini, secara olok-olok menjadikan orba sebagai permainan penceritaan Eka. Dua cerpen itu adalah Mata Gelap dan Pengakoean Seorang Pemadat Indis.

Dalam Mata Gelap, tanpa mesti disebutkan, jelas terasa bagaimana Eka mengambil orba sebagai basis ceritanya. Barang siapa yang membacanya bakal mudah menangkap tanda-tandanya dari semisal kata-kata ”si Jin Berkepala Tujuh”, “skandal politik”, “sejuta orang dibunuh dalam huru-hara politik”, “bukti-bukti otentik”, “mati tanpa kuburan”, dlsb.

Walaupun tafsirnya bisa kemana-mana, tapi jelas dari jalan ceritanya, kisah ini nyaris menceritakan secara gamblang perilaku orba ketika berhadapan dengan sejarah kelam peristiwa 65.

Sementara melalui Pengakoean Seorang Pemadat Indis, gaya penulisan yang menggunakan ejaan Soewandi ketimbang menggunakan ejaan resmi negara, diduga bukan semata-mata seolah ditulis langsung oleh si penutur kisah cerita ini. Berdasarkan analisis Benedict Anderson, bisa jadi mengapa Eka menggunakan gaya penulisan demikian—yang diubah dari versi terbitan pertamanya—merupakan politik bahasa Eka terhadap warisan orba.

Sudah diketahui, normalisasi ejaan oleh orba yang mengganti ejaan Soewandi menjadi EYD, adalah politik bahasa orba demi menyingkirkan warganya dari khazanah literatur orde lama. Secara khusus, tujuan itu dimaksudkan agar anak-anak bangsa ogah membaca buku-buku sejarah masa lalu selain versi bikinan sejarah orba yang ditulis dengan ejaan berbeda.   

Satu hal yang berkesan dari kumcer Eka ini adalah cerita Jimat Sero. Cerita yang mengangkat praktik klenik di kehidupan modern. Cerita ini pertama kali saya baca via online dalam salah satu situs yang mengoleksi cerpen-cerpen yang pernah diterbitkan Kompas. Membacanya dalam versi bukunya membuat sensasi yang berbeda mengingat ketika pertama kali membaca cerita ini via dumay, terbersit dalam hati saat itu untuk mencari versi cetaknya—yang saat itu sulit ditemukan.

Michel Foucault melalui pembacaannya terhadap sejarah peradaban Barat, menemukan seksualitas dan kegilaan adalah wacana yang kuat kaitannya dengan episteme. Episteme adalah pengetahuan khas yang melatarbelakangi praktik berpengetahuan dan kebudayaan masyarakat suatu zaman. Menurut Foucault episteme setiap zaman berbeda-beda tergantung seberapa dominan kekuasaan berperan di dalamnya. Bahkan bagi Foucault episteme adalah produk kekuasaan itu sendiri.

Dalam CTAM, tema kegilaan dan seksualitas diracik Eka melalui judul Tak Ada Yang Gila di Kota Ini. Ibarat merefleksikan pendakuan Foucault mengenai seksualitas dan kegilaan, dalam Tak Ada Yang Gila di Kota ini menceritakan bagaimana kegilaan dan seksualitas tidak lepas dari kontrol kekuasaan. Demi menjaga normalisasi masyarakat, orang-orang gila dan seksualitas menjadi korban pendisiplinan kekuasaan.

Dengan kata lain, kegilaan dan seksualitas, seperti pendakuan Foucault adalah wacana yang senantiasa dibicarakan melalui normatifitas pengetahuan kekuasaan. Itu artinya apa yang pantas dan layak disebut kegilaan dan seksualitas hanyalah sejauh dari apa yang ditafsirkan kekuasaan.  

Dikisahkan dari Tak Ada Yang Gila di Kota Ini setiap orang gila diberlakukan seperti binatang liar dan tidak layak mendapatkan perhatian. Di masa-masa tertentu, mereka dicari, dikejar, dan ditangkap dan kemudian dibuang jauh ke dalam hutan. Perlakuan ini dilakukan demi menjaga ”kebersihan” dan ”kesalehan” kota dari praktik perzinahan yang menjadikan orang-orang gila sebagai sasarannya.

Paradoksnya, di kota itu, jauh dari amatan warganya, seksualitas justru dipraktekkan secara diam-diam nirip pertunjukkan bawah tanah seperti pertunjukkan duel antara dua gladiator. Uniknya pertunjukan seksualitas itu menggunakan orang gila sebagai ”aktrisnya”.

Pertunjukkan seksualitas dengan memanfaatkan orang gila ini justru adalah sarana kritik dalam cerita Eka ini. Siapa yang sebenarnya lantas dikatakan gila? Orang-orang gila yang dibuang dan dikucilkan atau orang-orang yang terlibat dalam pertunjukkan gila itu sebenarnya? 

Cinta Tak Ada Mati walaupun bukan merupakan kumcer terbaru Eka dan merupakan cetakan ulang, menandakan karya-karyanya selalu ditunggu para pembacanya. Dengan ilustrasi sampul depan dari tangan dingin seniman sekaliber Eko Nugroho semakin mempertebal efek imajinatif dari kumcer Eka kali ini.

Syahdan Cinta Tak Ada Mati semakin membuktikan posisi Eka di jagad kesusastraan Tanah Air sebagai pengarang nomor wahid saat ini. Memang Eka Tak Ada Mati.

10 Juni 2019

Kooong dan Eksistensialisme Iwan Simatupang


Judul: Kooong
Penulis: Iwan Simatupang
Penerbit: Pustaka Jaya
Edisi: Kedua, 2013
Tebal: 100 hal
ISBN: 978-979-419-386-0

”Kalau kami boleh bertanya, kau sendiri mau kemana seterusnya Pak Sastro?”
”Aku mau terus begini dulu. Katakanlah, mengembara. Katakanlah aku dipesona secara dahsyat oleh alam kebebasan dan kemerdekaan.”

KOOONG seluruhnya berbicara tentang kebebasan manusia. Namun uniknya, kebebasan itu diceritakan Iwan Simatupang melalui dua tokoh yang saling melepas-tangkap: Pak Sastro dan burung perkututnya. Masing-masing dua tokoh ini akan kelihatan kontrasnya ketika memaknai kebebasan, inti dari karangan Simatupang ini.

Kooong dibuka dengan adegan Pak Sastro yang kehilangan burung perkututnya. Ia membeli burung itu  pasca anak semata wayangnya mati. Tanpa sadar sepulang dari TKP tempat anaknya tergilas kereta api, ia melewati suatu pasar penjaja bermacam-macam burung. Singkat cerita lantaran daya rayu si penjual, Pak Sastro mau tidak mau terperdaya membawa pulang seekor burung perkutut.

Burung perkutut yang dibeli Pak Sastro berbeda dari burung sejenisnya. Tidak sekali pun ia mengeluarkan bunyi. Ia hanya diam membisu dengan gerak-gerik selayaknya burung perkutut. Di titik ini tahulah Pak Sastro bahwa ia ditipu si penjual burung.

Awalnya burung ini dikatakan mahal lantaran memiliki bunyi yang khas dan unik sebagai burung perkutut. Tapi semenjak ia berpindah tangan tidak sekalipun ia mengeluarkan suaranya.

Walaupun demikian, kehadiran burung sangat biasa ini sudah lebih dari cukup bagi Pak Sastro untuk mengisi lubang kekosongan jiwanya. Pak Sastro adalah satu-satunya penduduk di desanya yang selamat pasca peristiwa banjir bah. Istrinya mati hanyut entah ke mana. Ia seorang diri berhasil membangun kembali kehidupannya di atas puing-puing reruntuhan desanya. Pelan-pelan desanya menjadi ramai kembali. Ia menjadi tokoh di kampung itu.

Sampai akhirnya, suatu waktu datang kabar dari Jakarta. Anak semata wayangnya yang merantau di Ibu Kota mati digilas kaki-kaki besi kereta api. Sekali lagi Pak Sastro merasakan kehilangan yang sangat. Kesekian kalinya ia menjadi orang kesepian.

Itulah sebabnya, semenjak memiliki burung perkutut jiwa Pak Sastro berangsur-angsur pulih. Burung itu seolah-olah memiliki efek terapi bagi jiwa Pak Sastro. Burung itu pelan-pelan menyedot perhatian Pak Sastro. Ia seperti mendapatkan kawan berbagi isi hati. Meski burung itu biasa-biasa saja. Tidak berbunyi sama sekali.

Sampai datang suatu waktu tidak biasa. Entah apa sebab kandang burung pekutut Pak Sastro terbuka begitu saja. Sang burung akhirnya raib. Ia terbang menyongsong cakrawala. Untuk kesekian kalinya Pak Sastro kehilangan burung berharganya. Lebih tepatnya, ia kehilangan yang sangat untuk ketiga kalinya.

Maka, dari sinilah kisahnya bercerita: Pak Sastro mengembara mengikuti isi hatinya mencari burung peliharaannya. Perilakunya ini membuat geger seisi kampung. Apa pentingnya seekor burung? Jika hilang bisa beli lagi. Apa lagi Pak Sastro adalah orang kaya di kampungnya.

Namun, burung perkutut peliharaan adalah satu hal, dan ketentraman yang datang darinya adalah hal lain. Pak Sastro mencari yang kedua. Itulah sebabnya, ia memerlukan burung perkutut biasa itu. Ia bisa membeli burung lain. Tapi, ini soal ”ikatan” dengan burung yang berhari-hari ia ”alami”: Seekor burung yang terikat secara emosional, bahkan kejiwaan bagi Pak Sastro.

Demi mencari perkututnya Pak Sastro meninggalkan kampungnya sambil menitipkan seluruh harta bendanya kepada pak lurah—yang nanti membuat masalah di desanya karena tanah dan harta Pak Sastro disalahgunakan penduduk saat mengelolanya—dan pergi menyusuri langit-langit cakrawala berharap menemukan burung perkututnya.

Pencarian Pak Sastro sesungguhnya adalah pencarian kebebasan. Hal ini akan ditemukannya setelah ia menemukan insight dalam pencariannya. Sesungguhnya burung perkutut dicarinya hanyalah objek. Sedangkan, jauh di lubuk hatinya, kesejatian yang dicarinya bukanlah entitas yang bisa diobjektifkan seperti benda-benda.

Pemahaman ini tidak datang begitu saja dalam kesadaran Pak Sastro. Melainkan setelah ia lama bergelut dalam pencariannya. Dalam karangan Simatupang ini, burung perkutut yang dicari Pak Sastro hanyalah metafora berkenaan dengan kebebasan. Burung secara alegoris menandai suatu subjek yang menyadari tidak ada dinding apa pun di bawah kolong langit ini. Selama cakrawala masih terbentang jauh, maka sejauh itulah kebebasan mesti ditemukan.

Kesadaran Pak Sastro yang akhirnya menyadari bahwa otentisitas manusia bukanlah ditentutakan oleh benda-benda—dalam hal ini adalah burung perkututnya—menandakan kebebasan manusia adalah sesuatu yang melampaui objek-objek.

Di beberapa bagian akhir, cerita berganti sudut pandang kepada si burung perkutut. Menariknya, di bagian-bagian inilah pandangan eksistensialisme Simatupang dinarasikan.

Di bagian tertentu dinarasikan bagaimana si perkutut ketika bebas terbang dari satu pohon ke pohon lainnya, dan kemudian menjauh dari rumah Pak Sastro, secara langsung menyadari efek kebebasan yang baru saja ia alami. Walaupun ia sempat berpikir akan kembali di dalam kandang dengan jaminan makanan teratur, namun kebebasan yang dia rasakan begitu menantang menariknya lebih jauh.

Langit biru terbentang luas seolah-olah menawarkan sejumlah pengalaman tak terpemanai ketimbang hidup nyaman di dalam kandang.

Kebebasan dan Kemerdekaan

Baik Pak Sastro maupun burung perkutut peliharaannya sama-sama mencari dan menemukan kebebasan. Namun, keduanya berbeda dari segi esensi kebebasan. Bagi perkutut yang terbang karena menerima begitu sangkarnya terbuka, adalah kebebasan. Sementara bagi Pak Sastro, kebebasan dicapainya setelah ia menyadari batas-batas eksistensinya dan berusaha mencari dan menemukannya merupakan kemerdekaan bagi dirinya.

Di sinilah menariknya Simatupang menggunakan dua perangkat cerita dalam mengilustrasikan kebebasan. Binatang dapat saja dikatakan hidup bebas, tapi sudah pasti tidak akan merdeka karena kebebasan dia miliki sudah dari awal disediakan alam. Sementara manusia makhluk unik. Kebebasannya tidak paralel dengan kemerdekaannya. Kebebasan adalah prasyarat kemerdekaan, walaupun kemerdekaan adalah entitas yang mesti dicari dan diperjuangkan.



BUKU ini awalnya adalah naskah dengan nama samaran Kebo Kenanga—sesuatu yang disengaja dan menjadi prasyarat dari Sayembara Mengarang Roman Bacaan Remaja yang diselenggarakan IKAPI atas anjuran UNESCO pada tahun 1969. Naskah buku ini menurut pengakuan orang yang merekomendasikan atas permintaan Yayasan Pustaka Taruna, adalah naskah sisa yang tidak mendapatkan juara apa-apa dari sayembara yang dilaksanakan sebelumnya.

Naskah ini sempat tekatung-katung tanpa penerbit hingga tahun 1973 barulah Ajip Rosidi—orang yang semula merekomendasikannya agar diterbitkan—yang saat itu mengetuai IKAPI yang mengusahakan kembali agar diterbitkan. Belakangan ketika ditelusuri, penulis naskah ini yang diduga terpengaruh Iwan Simatupang adalah Iwan Simatupang Sendiri.

Iwan Simatupang adalah salah satu pencetus gaya baru dalam perkembangan prosa di Tanah Air. Namanya melejit setelah Ziarah, novelnya yang legendaris itu banyak memengaruhi perkembangan sastra Indonesia.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...