27 Desember 2018

Vendredi si Teledor dan Revolusi di Pulau Harapan


Judul : Kehidupan Liar
Penulis: Michel Tournier
Penerjemah: Ida Sundari Husen
Penerbit: Gramedia Pustaka
Edisi: Pertama,  November 2016
Tebal: VII+ 135 halaman
ISBN: 978-602-424-142-1

REVOLUSI di sini hanya berarti kiasan. Yang terjadi sebenarnya adalah rontoknya bertahun-tahun kehidupan yang telah dibangun Robinson Crusoe di pulau tempatnya terdampar. Dinding gua-gua, kebun-kebun, peternakan, sejumlah alat rumah tangga dan harta karun yang disimpannya di dalam ceruk-ceruk gua luluh lantak akibat ledakan dahsyat.

Ledakan itu berawal dari simpanan mesiu yang disembunyikan Robinson di bawah dinding gua. Tanpa sengaja Vendredi si Indian, pembantu Robinson yang diselamatkannya dari upaya ritual pembunuhan, melempar pipa rokok secara asal-asalan.

Tanpa mereka duga, pipa itu malah jatuh di atas gentong-gentong bubuk mesiu. Dan seperti sudah diceritakan di atas, kejadian sepele itu menimbulkan ledakan maha dahsyat memakan hampir seperdua pulau itu. Apa boleh buat ternyata peristiwa itu akan berdampak serius bagi keberlanjutan kehidupan mereka di pulau asing yang tidak tercetak peta itu.

Awal mula cerita

Kisah Robinson Crusoe yang dikarang Michel Tournier, dibuka dari karamnya kapal La Virginie di sekitar perairan Chili, Amerika Selatan. Saat itu abad 18, masa ketika kapal-kapal dari benua Eropa mulai menarik jangkar dan berlayar menuju negeri-negeri jauh di sebelah Selatan dan Timur Eropa. La Virginie –kapal yang ditumpangi Robinson Cruose—diceritakan akan menuju Chili dalam rangka perdagangan.

Tapi apa daya, di tengah lautan badai menyergap. Kapal LaVirginie karam setelah menghantam gugusan batu karang. Dari kejadian itu hanya Robinson Crusoe yang selamat. Ia kemudian terdampar di suatu pulau tak berpenghuni yang tak diketahui siapa pun.

Seketika siuman dan berbulan-bulan membuat perahu penyelamatan dan kemudian gagal, Robinson menyadari bakal hidup lama dan jauh dari kehidupannya semula. Dengan kata lain, ia satu-satunya manusia di pulau itu, dan tak ada satupun alat yang mampu menghubungkannya dengan dunia luar. Seolah-olah yang namanya kehidupan harus dimulai lagi dari titik nol. Dan satu-satunya manusia yang diberikan tugas untuk memulainya adalah Robinson sendiri.

Dengan bekal apa adanya setelah lolos dari depresi dan halusinasi Robinson mulai  terbuka dengan kehidupan pulau itu. Pertama-tama ia membangun tempat tinggal di dalam gua, membangun benteng pertahanan, menetapkan sumber-sumber makanan, beternak, bercocok tanam, dan membuat peraturan-peraturan dan mengangkat dirinya sebagai gubernur di pulau itu dan berbagai hewan liar dan tumbuhan sebagai penduduknya.

Setelah merasa mantap Robinson kemudian  menamai pulau itu Speranza yang berarti harapan.

Vendredi si teledor pencetus revolusi

Vendredi mulanya datang tanpa sengaja bersama sekelompok suku Indian yang dipimpin seorang dukun. Mereka singgah di pulau tempat Robinson tinggal untuk melakasanakan ritual penebusan. Tanpa diduga, setelah  melalukan jampi-jampi, sang dukun menunjuk Vendredi sebagai tersangka baru dan juga harus segera dibunuh ke dalam api unggun. Dengan kaget Vendredi tidak terima dan berusaha kabur ke dalam hutan pulau. Di dalam hutan, tanpa sepengatuan mereka peristiwa itu diintip Robinson di balik semak-semak.

Dengan sekali tembakan Robinson menyelamatkan Vendredi dari kejaran orang Indian di belakangnya. Sontak melihat ada yang mati karena letusan tembakan membuat orang Indian tersisa  kabur meninggalkan pulau. Vendredi selamat dan berhutang budi kepada Robinson.

Peristiwa itu membuat keduanya seperti menemukan oase di padang pasir. Robinson setelah bertahun-tahun hidup sendiri akhirnya menemukan seseorang yang bisa diajaknya berbicara. Bagi Vendredi, Robinson adalah juru selamat yang menyelamatkan nyawanya dan oleh karena itu ia rela dipertuan Robinson.

Maka untuk pertama kalinya pulau itu diisi dua sosok manusia. Sebagai gubernur pulau Speranza, Robinson banyak mengajari tata krama dan aturan main selama hidup di pulau kepada Vendredi. Memberinya tugas memerah susu kambing, bercocok tanam hingga membuka ladang baru dan memetik buah-buahan. Selama hidup di pulau tak sedikit pun Vendredi menunjukkan gelagat perlawanan. Ia patuh dan taat kepada Robinson. Bahkan hanya untuk menunjukkan sikap orisinilnya sebagai suku Indian pun tidak.
Sampai akhirnya terjadi peristiwa  yang sudah diceritakan di awal. Suatu ledakan mengubah segalanya. Mirip-mirip ledakan revolusi, ledakan di pulau Speranza  membalikkan keadaan 180 derajat dan mengaturnya kembali.

Tidak ada lagi hunian yang pernah didirikan Robinson, peternakan dan ladang-ladang hangus terbakar. Kambing-kambing lepas menjadi liar kembali. Dan gua-gua tempat penyimpanan harta benda yang disembunyikan Robinson raib ditelan reruntuhan dinding gua. Singkatnya, semuanya  di pulau itu dimulai dari nol kembali.

Perubahan drastis ini juga berdampak dari bebasnya Vendredi terhadap tuntutan-tuntutan yang semula dibebankan kepadanya. Ia tidak lagi bekerja rutin seperti biasanya lantaran tidak ada lagi yang patut dikerjakan.


Robinson juga sudah legowo menerima keadaan yang baru ini. Dan Vendredi untuk pertama kalinya bebas melakukan apa saja sesuai keinginannya.
Ledakan itu dengan kata lain telah membebaskan Vendredi dari aturan main yang dibuat Robinson.  Tidak ada lagi siapa tuan siapa hamba. Tidak ada lagi Robinson yang superior menentukan gerak gerik Vendredi. Begitu pula Vendredi bukan lagi objek tindakan yang inferior.  Berkat ledakan itu Vendredi dan Robinson mengawali suatu hubungan yang cenderung aneh untuk ukuran saat itu: mereka setara secara kemanusiaan.

Dialog peradaban

Hidup bebas yang diterima Vendredi membuat Robinson banyak belajar dari dirinya. Jika sebelum ledakan Vendredi cenderung pasif menerima belajar apa saja dari Robinson, kali ini malah Robinson-lah yang banyak belajar dari Vendredi.

Seolah olah dalam interaksi Robinson dan Vendredi sama-sama mewaliki dua pengalaman kebudayaan yang saling belajar satu sama lain. Semula Venderi diajarkan bahasa inggris agar bisa berkomunikasi dengan Robinson. Dia diajarkan cara memerah susu, bercocok tanam, dan lain sebagainya agar dapat hidup harmonis di dalam pulau. Tapi itu saja tak cukup, di luar pemahaman Robinson, Vendredi malah memiliki segudang pengalaman yang bersumber dari pengalaman kolektifnya selama hidup sebagai seorang Indian.

Misalkan saja, Vedredi mengajarkan pengetahuan kuliner kepada Robinson, sesuatu yang tidak ia temukan dalam hidup orang-orang Eropa. Bagaimana membuat burung bakar tanpa repot-repot mencabuti bulunya dengan membakarnya setelah digulung menggunakan lumpur basah. Bagaimana memanfaatkan getah tanaman manis untuk membuat gula cair dan karamel. Bagaimana membuat makanan kaya rasa dengan mencampur buah-buahan yang berlainan rasa…

Robinson juga ditunjukkan cara membuat panah unik dari batang pohon yang menjadi mainan bagi Vendredi. Cara membuat busurnya, dengan apa ekornya dibuat, dan menggunakan bahan apa untuk membuat mata anak panah agar memiliki laju yang baik ketika di udara…

Di lain waktu dengan memanfaatkan tulang-tulang kambing, Vendredi berhasil membuat takjub Robinson ketika menciptakan alat musik menyerupai harpa. Dan yang tak kalah uniknya berkat kulit kambing yang dikeringkan, Vendredi membuat layang-layang yang dapat diterbangkan untuk memancing ikan.

Semua hal itu adalah hal-hal baru yang dilihat Robinson. Selama ini melalui peradaban Eropa-nya ia mengira telah menjadi satu-satunya wakil kebudayaan. Tidak diduga, di luar dari jangkauan pengetahuan Eropanya, masih banyak jenis pengetahuan yang berasal dari kebudayaan-kebudayaan yang beraneka ragam.

Kritik modernisme

Setelah lebih 30 tahun—Robinsont tidak mengetahui hal ini karena tidak ada kalender dan alat hitung waktu semacamnya—untuk pertama kalinya sebuah kapal singgah di pulau Speranza. Peristiwa langka itu juga menunjukkan untuk pertama kalinya Robinson melakukan kontak dengan orang-orang luar.

Pertemuan itu serasa ganjil dan aneh di mata Robinson. Setelah hidup bertahun-tahun oleh alam liar, hati Robinson sangat peka terhadap perilaku yang tidak menunjukkan rasa hormat dan  sopan santun. Hal ini dirasakannya dari sifat awak kapal yang semaunya mengobrak-abrik isi pulau karena dianggap masih liar; mengambil air semena-mena, memotong pohon tanpa sikap hormat, dan menyembelih kambing tanpa rasa kasihan.

Semua itu membuat Robinson merasa sanksi terhadap peradaban yang melahirkan orang-orang semacam itu. Dalam hatinya ia mempertanyakan kehidupan macam apa yang telah membuat orang-orang menjadi beringas dan tak bersopan santun.  Ia lebih baik hidup di alam liar dan jauh dari peradaban jika itu satu-satunya model kehidupan yang lebih manusiawi.

Itulah sebabnya,  di akhir cerita Robinson memilih untuk tinggal di Speranza selama-lamanya. Peradaban di luar sudah tidak cocok dengan jiwanya. Ia lebih merasa manusiawi hidup di alam liar dari pada harus dituntut ini-itu oleh perabadan yang ia nilai penuh keangkuhan.

Bagaimana dengan Vendredi? Setelah tercengang oleh arsitektur kapal yang baru pertama kali dilihatnya, ia melarikan diri di malam hari dan ikut berlayar bersama kapal di pagi hari yang masih kental. Ia kali kedua berbuat teledor. Itu artinya Vendredi akan ikut bergabung ke dalam kehidupan peradaban yang makin saklek, imperatif, dan tidak manusiawi. Setidaknya dari mata seorang Robinson.

21 Desember 2018

Agama dan Toleransi

TOLERANSI. Waktu masih domisilika di Kupang, NTT, sebelum meletuski kerusuhan 98 dan kasus Tim-Tim, yang namanya perbedaan atas keyakinan belum menjadi masalah kayak begini. Tetangga-tetanggaku tidak pernah pusing kalo di lingkungan mereka hidup keluarga-keluarga muslim.

Bahkan, yang namanya urusan ibadah setiap tetangga bebas melakukan tanpa ada beban moral merasa tertekan dan was-was. Kami, yang hari itu memang minoritas muslim, begitu juga. Tidak ada itu dibilang ada unsur masyarakat yang kajili-kajili menegur kalo mereka merasa terganggu. Semua baik-baikji.

Waktuka SD ketua kelasku muslim. Dan perempuanki juga --yang mungkin hari ini sulitmi didapat karena biar masalah agama dibawa-bawa juga sampai di lingkungan sekolah. Uniknya di kelasku mayoritas murid-murid Kristen. Ibu wali kelasku juga Kristen. Kepala sekolah juga Kristen, dan memang rata-rata guru-guruku mayoritas Kristen. Tapi biar mamo Kristen, mereka semua baik-baik. Tidak pernahji bawa-bawa agama ketika mengajar. Cara memperlakukan murid juga begitu.

Yang unik kalo pelajaran agama, digabungki kelasku menjadi satu kelas dari kelas A dan kelas B. Jadi ceritanya murid-murid muslim digabung menjadi satu, dan yang Kristen digabungki juga. Karena bersampinganji kelaska saat itu, biasaka sayup-sayup dengarki pelajaran agama Kristen di kelas sebelah. Sementara di kelasku nama Muhammad sering disebut-sebut, oleh ibu Bene --wali kelasku yang merangkap guru agama Kristen--sering kudengar nama Yesus disebut-sebut. Yang beginian biasaji bagi kami. Tidak ada yang mesti ditanggapi bagaimana. Alhamdulillah tidak tonja pindah agama.

Pernah tong dulu kakakku, Ima, seringka na ejek-ejek sama teman perempuanku. Jadi dulu ada temanku namanya Elizabeth, dia hitam, rambutnya sering diikat pake gelang tangan, dan ditaumi kalo masih SD, masih belumpi ada cantik-cantikna. Intinya ini Elizabeth lucu-lucuki mukanya --untuk tidak mengatakan jelek--lebih seperti kalo muka mengantuk diliat.

Nah, seringka biasa naganggu-ganggu kalo macewe-ceweka sama itu Elizbeth. Caranya mengejek napanggilka dengan nama Elizabeth dengan nada tertentu yang didayu-dayukan. Kalo begitumi, biasaka jengkel, dan anehnya kalo marahka bukan karena dia Kristen. Tapi hanya karena itu jelekki kulihat.

Di sini seandainya sensitifki karena agama, pasti dasar penolakanku --walaupun masih kecilka--sudah mengatasnamakan agama. Tapi, kenyataannya ndak begituji. Semata-mata memang tidak kusukaki.

Di Kupang tidak banyakji masjid. Tapi tidak bagus tong dibilang kalau jarang ditemukan. Yang sering banyak ditemukan di Kupang adalah Gereja. Kalo ke sekolahka dan memang dekat sekolahku ada gereja besar bercat putih. Bangunanya jammaki bilang, besar dan tinggi-tinggi. Kalo nontonki film-film bersetting abad 19, mirip-miripki bangunannya.

Waktu masih tinggal di sekitar jalan Lalamentik, Oebofu, setiap hari minggu ada tetanggaku yang adakan sekolah minggu. Di situ, di terasnya, selalu banyak kulihat anak-anak berkumpul kayak tong pengajian. Kegiatannya kalo tidak salahkan diisi dengan ceramah keagamaan. Kadang tong tentang kisah-kisah murid-muridnya Yesus.

Biasa tong kalo akhir pekan, tetangga-tetanggaku bersembahyang dengan menyanyi-nyanyi berisi puja pujian. Kalo dekat dari gereja, enak tong kudengar kalo suara puji-pujiannya dinyanyikan secara bersama-sama. Samar-samar ada yang bergerak dalam hatiku. Mungkin itumi dibilang iman. Tapi, bukanki iman yang adami labelnya. Ini imannya iman. Yang dimiliki tong semua agama. Kalo bulan Desember begini bulan paling bahagia. Waktunya libur sekolah. Banyak tommi film-film kartun bisa dinonton. Kalo di rumah datangmi itu teman-temannya mamakku bikin kue dan buras menyambut idul fitri --dulu ndak tau kenapa selalu berdekatan dengan hari Natal.

Kalo maumi masuk minggu-minggu akhir barusannya itu rumah-rumahnya tetanggaku banyak dipasangi lampu-lampu hiasan. Ada tong lengkap dengan pohon natal dan patung-patung Yesus. Karena maumi natal, banyak teman-temanku sibuk semuaki ke gereja.

Yang kusuka kalo natalmi waktunyami pergi siarah di tetangga-tetanggaku. Biasa penuh kantongku dengan kue. Kalo beruntung biasa banyak kubawa pulang coca cola, sprite, atau fanta. Semua senang semua bahagia sama-sama merayakan hari natal. Tidak ada yang saling mawas apalagi berprasangka buruk.

Di Kupang itu mayoritas Kristen Katolik. Ada tong tetanggaku Kristen Adven. Kalo yang ini berpantang tidak makan daging. Ada juga orang Hindu yang di depan rumahnya lengkap didirikan tiang-tiang tempatnya nasimpan benda-benda peribadatannya. Masih kuingat di depannyami rumahnya tetangga Hinduku seringka ambil lempar asam. Kalo hari raya Nyepi, tidak pernah keluar-keluar tetanggaku seharian. Tetanggaku yang Kristen juga supaham, tidak ada yang bikin aktivitas-aktivitas mencolok.

Di Kupang juga banyak anjing. Ada beberapa tetanggaku pelihara anjing. Kadang kalo sore-sore main bolaka, ada tommi anjing ikut-ikut berkeliaran kemana tuannya pergi. Jinakki anjingnya. Cuman biasa takutka dekat-dekat karena haram kena air liurnya. Walaupun begitu tidak pernahka risih kalo adaki itu tetanggaku datang dengan anjingnya.

Satu contoh toleransinya tetanggaku yang nonmuslim, kalo ada mau nakasihki makanan bukan makanan jadi, tapi makanan kemasan. Bahkan kalo nakasihki ayam, ayam hidup nakasihki karena nataumemammi beda carata potong ayam. Mereka paham kalo orang Islam mau makan ayam jika napotong pasti ada dibacai.

Satu hal yang tidak bisa kulupa. Ketika kerusuhan 98 dan merebak kasus Tim-Tim ke kota Kupang --tidak lama dari kasus Ambon-- saat banyak rumah-rumah orang Islam dirusak dan ada yang dibakar, tetangga-tetanggaku yang Kristen yang bersedia tampungka sekeluarga di rumahnya. Saat takut sekaliki tinggal di rumah karena jangan sampai ikut jadi korbanki juga. Makanya dengan ikutki di rumahnya tetanggaku mereka yang pasang badan kalo ada apa-apa.

Saat itu memang mencekam. Sering mati lampu. Kalau malam sering didengar tiang listrik dipukul-pukul. Banyak rumah jadi korban. Sekolah-sekolah diliburkan. Bahkan hampir satu kota Kupang mendadak sunyi dan tidak ada aktifitas. Tidak lama didengarmi banyak orang Islam dicari-cari.

Tapi itu hanya dipermukaan. Di lingkunganku yang belum termakan provokasi malah tetangga Kristenku yang bantuki. Mereka yang amankan kami-kami di rumah-rumahnya. Dengan begitu kami sekeluarga cukup merasa aman.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...