09 Desember 2018

Robinson Crusoe dan Kehidupan Liar di Pulau Harapan


Judul : Kehidupan Liar
Penulis: Michel Tournier
Penerjemah: Ida Sundari Husen
Penerbit: Gramedia Pustaka
Edisi: Pertama,  November 2016
Tebal: VII+ 135 halaman
ISBN: 978-602-424-142-1

KEHIDUPAN LIAR. Semalam, dengan terengah-engah, saya baru saja menyelesaikan novel klasik karangan Michael Tournier: Kehidupan Liar. Pasca itu saya berusaha menuliskan apa saja yang bisa saya ungkap dari novel yang mengasyikkan ini. Walaupun begitu, tulisan yang saya bikin belum rampung juga. Karena diserang kantuk, draf yang baru dua halaman itu saya simpan belaka untuk nanti dilanjutkan kembali.

Kehidupan Liar becerita tentang Robinson Crusoe, seorang pria yang terdampar di pulau tak berpenghuni akibat kapal yang ditumpanginya karam dihantam gugusan batu karang di sekitar perairan Chili.

Selama tiga puluh tahun --sesuatu yang tidak diketahuinya-- ia bersama Vendredi, pria keturunan suku Indian yang diselamatkan Robinson dari upacara pengorbanan kematian, menjalani cara hidup yang demikian asing dari peradaban manusia ---saat itu abad 18.

Robinson awal mula menghadapi banyak masalah di hari-hari pertama di pulau itu. Hal paling pertama dipikirkannya adalah bagaimana cara meninggalkan pulau yang tak dikenalinya itu.

Setelah gagal menurunkan perahu di perairan yang dibuatnya (ia membuatnya jauh dari bibir pantai --sesuatu yang tidak pernah dilakukan pelaut mana pun), ia mengalami depresi berat lantaran berpikir akan terkurung sendirian tanpa bekal apa-apa dalam waktu yang lama.

Di titik ini Tournier dengan piawainya menggambarkan keadaan jiwa Robinson yang kalah dengan nasibnya itu (bayangkan jika Anda adalah Robinson terjebak dan mengetahui tidak akan mampu keluar lagi dari pulau asing itu).

Pertama-tama Robinson cukup yakin dengan keputusannya dapat membuatnya keluar dari pulau itu dengan membuat perahu. Berhari-hari dengan keyakinan yang sama, dengan peralatan sederhana, ia menghabiskan seluruh energi dan upayanya agar perahu itu dapat rampung.

Namun, setelah perahu itu jadi, betapa kagetnya ia ketika menyadari perahu yang dibuatnya dibikin jauh dari bibir pantai (ini semua karena Robinson mengikuti kisah Nabi Nuh yang ia baca di dalam injil yang ditemukannya di dalam bangkai kapal La Virginie kapal yang ditumpanginya sebelumnya --Nabi Nuh tidak perlu membawa perahunya sampai ke pantai. Cukup ia menunggu banjir bandang seperti dijanjikan Tuhan kepadanya).

Dengan mengandalkan sisa-sisa semangat yang masih ada, Robinson mengganjal kayu gelondongan di bawah perut perahu dan berusaha mendorongnya sampai ke pinggir pantai. Walaupun begitu apa daya, perahu yang beratnya 500 kg itu tidak bergeser sama sekali.

Tak habis akal Robinson membuat parit dari bibir pantai hingga ke lokasi perahu itu berada. Ia menggali dan menggali. Setelah mengkalkulasi lamanya waktu untuk pekerjaan itu, ia akan menghabiskan waktu puluhan tahun hanya untuk sebuah parit. Suatu pekerjaan yang sia-sia belaka.

Setelah semua usaha itu hancur total Robinson diserang keputusasaan. Robinson yang semula bersemangat pada akhirnya mengalami gangguan jiwa --gangguan jiwa dalam arti kehilangan pegangan, kekecewaan yang sangat sehingga menerima hidup dengan apa adanya tanpa ada usaha sedikit pun untuk memperjuangkannya (mati enggan hidup pun segan).

Sampai akhirnya di suatu waktu setelah lama bermalas-malasan berendam di dalam kubangan lumpur seperti babi-babi yang dilihatnya dan terserang halusinasi, Robinson mengalami kesadaran baru: ia enggan mati di pulau itu, tapi tidak mungkin juga dapat pergi dari pulau itu. Dengan kata lain ia mesti bekerja, bangkit dan menentukan nasibnya sendiri.

Perkembangan jiwa yang merekah ibarat kuncup bunga di pagi hari membuat Robinson berusaha berdamai dengan pulau itu. Kehidupan liar nan asing yang awalnya ingin ditinggalkannya ia terima apa adanya. Seolah-olah ia diciptakan untuk pulau ini dan Robinson-lah yang diamanahkan untuk merawatnya.

Maka mulai lah Robinson membangun benteng pertahanan, menetapkan lokasi-lokasi sumber makanan, bercocok tanam dan beternak kambing-kambing hutan yang banyak ditemukan di pulau itu.

Dengan cara itu semua Robinson mengangkat dirinya sebagai gubernur pulau itu dan menjadikan setiap tumbuhan adalah penduduknya yang setiap hari diajaknya berbicara. Ia kemudian menetapkan aturan semacam undang-undang bagi seluruh pulau itu. Dan, membuat seragam khusus gubernur untuk dikenakan saat ia berkeliling mengecek pulau itu.

Dengan aktivitasnya itu pulau itu ia beri nama Speranza, yang berarti harapan.

Lumayan lama Robinson hidup seorang diri di Pulau Speranza. Sampai ketika ia menyelamatkan Vendredi, pria suku Indian yang kabur dari upaya upacara pengorbanan.

Saat itu Vendredi datang bersama beberapa anggota sukunya beserta seorang dukun. Pulau itu ternyata disinggahi untuk melakukan ritual pembunuhan bagi tersangka yang dianggap sebagai sumber masalah di sukunya. Dipimpin oleh dukun Vendredi ditunjuk tiba-tiba sebagai salah satu tersangka yang baru diketahui setelah sang dukun membaca mantra. Mengetahui hal itu Vendredi berusaha kabur masuk di hutan.

Ternyata kejadian itu diintai Robinson di balik semak-semak. Ia bersembunyi agar mereka tak tahu bahwa pulau yang mereka singgahi ditinggali Robinson. Tak dinyana Vendredi berlari menuju tempat Robinson bersembunyi. Agar tidak sampai ketahuan Robinson menembak dua Indian yang mengejar Vendredi. Vendredi selamat, dan orang Indian yang tersisa memilih kabur lantaran takut.

Sejak itu karena hutang budi --ini benar-benar berhutang karena "budi" kemanusiaan-- Robinson yang telah menyelamatkan nyawanya membuat Vendredi menjadi pembantu Robinson di pulau itu.

Yang menarik bagi saya adalah --selain karakter Vendredi yang menonjol-- semenjak Vendredi diajarkan bahasa Inggris oleh Robinson untuk berkomunikasi, banyak terjadi perubahan bukan saja di dalam diri Vendredi, tapi juga Robinson sendiri.
Cukup unik melihat tarik-menarik antara Robinson dan Vendredi ketika ditinjau dari kebudayaan. Awalnya Vendredi diajarkan banyak hal mengenai aturan hidup yang dibuat Robinson selama tinggal di Speranza. Vendredi menjadi pribadi penurut lantaran nyawanya pernah diselamatkan Robinson.

Sehari-hari Vendredi berkomunikasi dengan bahasa tuannya, yakni Robinson itu sendiri. Bekerja atas inisiatif Robinson. Dan diupah Robinson dengan emas-emas yang sebelumnya berhasil diselamatkan Robinson dari La Virginie. Singkatnya apa pun yang dilakukan Vendredi tidak otentik menunjukkan kemauannya sendiri. Semuanya atas perintah Robinson.

Dengan kata lain, di pulau itu seperti apa pun terasingnya mereka berdua dari peradaban di luarnya, tetap saja ada hubungan kuasa di antaranya. Dalam hal ini Robinson dengan sisa-sisa kebudayaan kulit putihnya, yang menentukan cara hidup Vendredi, dengan Vendredi itu sendiri sebagai bagian dari penduduk kulit berwarna.

Yang tak jauh kala menarik adalah pembalikan relasi di antara keduanya. Momen ini ditandai saat Vendredi tanpa sengaja meluluhlantakkan pulau Speranza berkat pipa rokok yang menyulut nyala mesiu hingga meledak. Ledakan itu menghancurkan seluruh kehidupan yang sudah dibangun Robinson. Seluruhnya rata dengan tanah, termasuk harta simpanan yang Robinson simpan di ceruk gua-gua.

Peristiwa itu ibarat revolusi sosial --saya beranggapan ini sisipan Tournier tentang konsep revolusi yang memformat ulang seluruh sendi-sendi kehidupan-- yang memperbaharui hubungan Robinson dan Vendredi termasuk konsekuensi-konsekuensinya dari itu semua.

Semenjak itu keadaan berubah total. Tidak ada lagi siapa tuan siap pelayan. Ledakan itu merelatifkan dominasi Robinson sehingga hubungannya terhadap Vendredi jauh lebih setara. Ledakan itu juga mengubah cara mereka berdua mengelola pulau itu. Tidak ada lagi pekerjaan-pekerjaan yang perlu dikerjakan Vendredi karena disuruh Robinson.

Dengan kata lain, keadaan pasca ledakan itu membuat keduanya hidup bebas menentukan apa pun yang mereka sukai.

Vendredi, setelah ledakan menjadi orang bebas. Bahkan dalam keadaan itu identitas kesukuannya banyak memberikan pemahaman baru kepada Robinson. Dalam keadaan ini justru sebaliknya, banyak hal-hal baru diajarkan Vendredi kepada Robinson dari pengalaman hidupnya selama menjadi bagian dari suku Indian.

Misalkan saja, Vendredi mengajarkan pengetahuan kuliner kepada Robinson, sesuatu yang tidak ia temukan dalam hidup orang-orang Eropa. Bagaimana membuat burung bakar tanpa repot-repot mencabuti bulunya dengan membakarnya setelah digulung menggunakan lumpur basah. Bagaimana memanfaatkan getah tanaman manis untuk membuat gula cair dan karamel. Bagaimana membuat makanan kaya rasa dengan mencampur buah-buahan yang berlainan rasa...

Robinson juga ditunjukkan cara membuat panah unik dari batang pohon yang menjadi mainan bagi Vendredi. Cara membuat busurnya, dengan apa ekornya dibuat, dan menggunakan bahan apa untuk membuat mata anak panah agar memiliki laju yang baik ketika di udara...

Di lain waktu dengan memanfaatkan tulang-tulang kambing, Vendredi berhasil membuat takjub Robinson ketika menciptakan alat musik menyerupai harpa. Dan yang tak kalah uniknya berkat kulit kambing yang dikeringkan, Vendredi membuat layang-layang yang dapat diterbangkan untuk memancing ikan.

Singkatnya, Vendredi yang hidup bebas banyak memberikan pengaruh balikan kepada Robinson. Awalnya, Vendredi banyak melakukan hal-hal tetek bengek dari kacamata Robinson, seorang Eropa kulit putih. Namun setelah sederajat, Vendredi-lah yang banyak memberikan hal-hal baru kepada Robinson.

Di titik itu, seolah-olah Tournier sedang mengemukakan suatu keadaan sejati manusia ketika sama-sama menjunjung kesetaraan. Sama-sama hidup bebas tanpa kekangan yang memberikan peluang satu sama lain dapat belajar dan bertukar pemahaman demi mengangakat kehidupan masing-masing.

Tournier dengan kata lain, menurut saya sedang berbicara tentang dialog kebudayaan. Sesuatu yang harus banyak dilakukan di kiwari ini.

Sesungguhnya Kehidupan Liar adalah versi lain dari karangan yang pernah ditulis Daniel Defoe dengan tokoh yang sama (kisah Robinson Crusoe juga pernah diangkat menjadi film). Hanya saja versi Tournier tidak seperti karangan Defoe yang menitikberatkan kisahnya kepada penemuan-penemuan unik Robinson Crusoe selama hidup terasing di dalam pulau.

Melalui sosok Vendredi, Tournier mengambil sisi kejiwaan Robinson selama menghadapi kehidupan asing yang terputus dari dunia luar. Tournier juga menonjolkan sosok Vendredi sendiri sebagai tokoh yang demikian menonjol berkat pengetahuan-pengetahuan yang tidak pernah diketahui Robinson.

Kehidupan Liar versi Tournier juga memiliki ending berbeda dari kisah yang sama. Dikisahkan Robinson bukannya malah memilih keluar meninggalkan Speranza setelah tanpa sengaja sebuah kapal Inggris singgah di pulau itu ---setelah tiga puluh tahun.

Setelah untuk pertama kalinya berinteraksi dengan orang-orang yang diwakili awak-awak kapal yang berperingai buruk selama singgah di Speranza, Robinson meyakini peradaban masyarakatnya bukanlah tipe kehidupan yang diidealkannya. Ia lebih memilih hidup dengan jiwa yang bebas di pulau itu.

Bagaimana dengan Vendredi? Vendredi berkebalikan dengan Robinson. Ia memilih ikut pulang ke dalam kapal meninggalkan Robinson dengan cara melarikan diri di malam hari ketika Robinson sedang tertidur pulas.

06 Desember 2018

Imajinasi dan Nasionalisme


Benedict Anderson. Indonesianis. 
Penulis buku Di Bawah Tiga Bendera

IMAJINASI. "Tetapi dalam kenyataan, semua komunitas, asalkan lebih besar dari dusun-dusun primordial di mana para anggotanya bisa saling bertatap muka langsung setiap hari (bahkan mungkin komunitas semacam ini pun), adalah komunitas terbayang."

Petikan di atas adalah ungkapan Benedict Anderson, Indonesianis terkemuka ketika memperkenalkan konsep imagined communities. Konsep ini begitu fundamental menerangkan masih rentannya konsep nasionalisme sebagai gagasan kebangsaan yang lahir bukan sebagai komunitas politik belaka.

Imagined communities sering kali disalahartikan karena betapa barunya gagasan ini ketika pertama kali diungkapkan Benedict Anderson.

Hal ini dinyatakan dalam kata pengantar melalui buku yang sama yang ditulis Daniel Dhakidae bahwa nasionalisme sebagai gagasan kebangsaan walaupun sifatnya yang masih baru ---muncul di abad 19--- juga karena dipahami sebagai konsep yang sudah ajeg dan fix dari awalnya.

Salah satu alasannya yakni nasionalisme sebagai paham kebangsaan sudah dari awal dimengerti dengan "N" besar yang menutup ruang diskursif untuk dipersoalkan.

Nasionalisme ketika dipahami dengan cara itu dinyatakan Anderson hanya akan didudukkan ibarat "impian" yang kebal terhadap perubahan dan kritik. Bukannya dengan cara itu, Anderson malah memberikan perspektif baru bahwa sebenarnya nasionalisme adalah "bangunan" gagasan yang menimbulkan "bayang-bayang" yang segera menerbitkan aksi.

Dengan kata lain, nasionalisme tidaklah merupakan gagasan yang sudah sempurna sehingga tidak perlu lagi dijangkau pemikiran anggota-anggotanya. Melainkan gagasan berupa nasionalisme dengan "n" kecil yang berarti betapa pun ia masih baru, tapi sebenarnya di situlah ia mesti didudukkan sebagai gagasan yang mudah kendor atau sebaliknya ketat.

Dalam arti inilah, nasionalisme sebenarnya adalah proyek bersama sejauh bagi orang-orang masih mau hidup dengan mempertahankan dan memperjuangkannya terus-menerus.

"Maka dengan gaya pikir antropologis, saya usulkan defenisi berikut ini tentang bangsa atau nasion: ia adalah komunitas politis dan dibayangkan sebagai sesuatu yang bersifat terbatas secara inheren sekaligus berkedaulatan.

Di sini "terbayang" adalah kata kunci yang menerangkan betapa sebenarnya bangsa pada awalnya dimulai dan timbul dari aktifitas yang mendahului praktik-praktik interaksi sesama anak bangsa.

Kata Anderson, "terbayang" karena secara geografis tidak ada hubungan material-sosiologis apa pun yang mempertemukan kelompok-kelompok yang saling berjauhan bahkan tidak saling bertatap muka dan mendengarkan.

Lalu dari mana datangnya ikatan imajiner yang timbul di antara orang-orang yang tidak saling bertatap muka? Kata Anderson, itu lahir dari bayangan kebersamaan di tiap-tiap benak setiap orang yang menjadi bagian dari bangsa yang dimaksud.

Tidak ada bangsa yang universal. Sebagai realitas politik atau komunitas politik, ia sangatlah terbatas. Betapa pun ketika setiap anggotanya berjuta hingga bermiliar-miliar, tetap saja konsep kebangsaan itu sendiri mengandung keterbatasan di dalamnya.


Seperti yang dijelaskan Anderson, tak satu bangsa pun membayangkan dirinya meliputi seluruh umat manusia di bumi. Walaupun jumlahnya kian besar atau sebaliknya, tetap saja memiliki garis batas yang disebut Anderson meski sifatnya elastis.

Dalam pengertian dua yang terakhir ini, maka dapat dipahami bahwa kebangsaan dapat saja kian berubah seiring lemah-kuatnya "bayangan" untuk mau hidup bersama. Dia dapat meluas atau menyempit secara jumlah dari anggota-anggotanya atau pun secara letak geografis yang ditentukan oleh rasa kedaulatan yang lahir dari keinginan untuk membebaskan diri dari tekanan jajahan.

Berdaulat dalam pengertian ini dinyatakan Anderson lahir dari suatu proses pencerahan yang panjang ketika masyarakat berkeinginan membebaskan dirinya dari belenggu yang mengikatnya. Anderson menyebutnya ketika suatu revolusi memporak-porandakan keabsahan hirarki kekuasaan yang berasal dari Tuhan sekalipun.

Melalui proses ini kedaulatan hanya berarti ketika masing-masing klaim kekuasaan menyadari dirinya memiliki keterbatasan secara pengklaiman ontologisnya. Sederhananya, setiap kekuasaan sadar diri bahwa berkat pencerahan, semakin terbuka kemungkinan bagi setiap individu menyadari kedaulatannya masing-masing.

•••

Bagaimana jadinya jika manusia tidak mempunyai kemampuan imajinatif? Apa yang akan terjadi kelak jika manusia tidak mampu berimajinasi tentang dirinya dan kehidupannya? Lalu apa pula jika kebudayaan manusia tidak meninggikan imajinasi sebagai alas pijak sejarahnya? Lantas apakah imajinasi masih relevan didudukkan di dalam peradaban yang serba teknis sekarang ini?

Imajinasi menurut KBBI disebut sebagai daya pikir untuk membayangkan atau menciptakan gambar (lukisan, karangan, dsb) kejadian berdasarkan kenyataan atau pengalaman seseorang. Dalam arti yang lain KBBI juga menyebut imajinasi sebagai khayalan.

Terlepas dari benar salahnya, imajinasi berkedudukan penting dalam kebudayaan manusia. Bahkan, imajinasi adalah sumber pengetahuan bagi kebudayaan manusia untuk menguji kemungkinan-kemungkinan, peluang-peluang, kesempatan, dan kemampuan ketika merumuskan kehidupannya di samping mengelola sumber daya yang dimilikinya.

Dalam tradisi kesusastraan, imajinasi menjadi daya dorong bagi sastrawan untuk menimbulkan suatu pengertian baru mengenai dunia.

Melalui imajinasi, dunia faktual dibongkar dan dirumuskan ulang di luar dari ukuran-ukurannya yang sudah ada. Dengan begitu lahirlah dunia baru yang lebih segar dan fresh yang mampu menghasilkan suatu pengertian dan pengalaman baru yang tak biasa.

Berkat imajinasi dunia akhirnya jauh lebih terbuka untuk dimaknai ulang.

Novel Eka Kurniawan misalnya, melalui rumusan "bagaimana jika" berhasil menciptakan suatu cerita imajinatif yang lahir dari sejarah Indonesia dalam Cantik Itu Luka.

Novel ini tidak saja terletak pada alur dan penokohannya yang kuat, namun mampu mengaduk sejarah faktual ke tingkat imajinatif untuk menghasilkan suatu dunia yang sama sekali baru. Dari itu lahirlah suatu tempat yang bernama Halimunda lengkap dengan sejarahnya, kebudayaannha, dan kehidupan orang-orangnya.

Dalam konteks puisi, imajinasi membantu penyair dapat merumuskan suatu bentuk bahasa baru. Lantas dengan bahasa itu sang penyair berpeluang menampilkan susunan kalimat yang tidak ditemukan di dalam kaidah kalimat sehari-hari.

Bahkan bukan saja bahasa, sang penyair dengan kemampuan imajinatif yang matang dapat menciptakan bunyi-bunyian baru yang bernilai estetis dan puitik dalam rangka menyusun syair-syairnya.

Dalam khazanah sains, adalah C. Wrigh Mills seorang sosiolog Amerika yang menggunakan imajinasi dalam disiplin ilmu sosiologi yang disebutnya imajinasi sosiologis.

Imajinasi sosiologis menurut Mills adalah suatu pendekatan atau perspektif yang melibatkan unsur-unsur biografis dan sejarah dalam melihat hubungan-hubungan yang terjadi dalam suatu komunitas. Pendekatan ini bertujuan untuk melihat sejauh apa isu-isu yang bersifat personal dan publik saling memengaruhi di antara keduanya.

Singkatnya imajinasi sosiologis tidak saja berusaha membaca gejala-gejala besar di tingkat institusi dan sistem, tapi juga sampai ke level individu dengan membaca gejala-gejala psikologis dan melihatnya dalam konteks perubahan sejarah dari waku ke waktu.

Dengan kata lain, imajinasi sosiologis dapat digunakan bagi seseorang untuk mengembangkan pemahamannya secara dinamis yang bertolak dari subjek dirinya sendiri dengan memanfaatkan perubahan-perubahan besar secara historik demi memahami dirinya dan komunitasnya.

Berdasarkan uraian sederhana ini, nampaknya imajinasi tidak dapat dinilai sepele. Ia ---yag sering dituduh khalayan dan tidak faktual--- mampu mengarahkan benak masyarakat untuk membayangkan hal-hal yang semula dianggap tidak biasa. Kalau bukan lantaran imajinasi, lalu apa yang menjadi pemantik awal bagi kebudayaan ketika menyusun kisah, legenda, dan mitos yang terjadi hanya di dalam dunia imajinatif.

Bahkan melalui itu semua, ilmu pengetahuan mendapatkan dorongannya. Tanpa imajinasi dan kemampuan imajinatif, mana mungkin akan mampu memberikan dasar pemaknaan bagi manusia untuk merawat jiwanya.

Belakangan, di tingkatan publik nyaris percakapan yang datang silih berganti didasarkan kepada jenis logika biner. Jika bukan A pasti B, atau kalau bukan B sudah tentu A. Pola pikir seperti ini banyak ditemukan ketika kita berbicara tentang agama, budaya, politik, dan yang paling genit penentuan capras-capres.

Justifikasi dan prasangka karena hanya mengenal cara berpikir biner pada akhirnya kehilangan kemampuan berpikir kreatifnya. Kehilangan kemampuan imajinatifnya.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...