29 Januari 2017

Cultural Lag dan Kehidupan Bapak Tanpa Gadget

Saya kira bukan bapak saja yang kerap mengalami kegagapan ketika menggunakan handphonenya. Saya yakin banyak orang tua seperti bapak saya. Ibarat masyarakat terbelakang, bapak menjadi orang yang tak tahu apa-apa di hadapan teknologi masa kini.

Bapak menggunakan handphone merk Samsung. Perangkat itu bukan gawai smartphone seperti dipakai kebanyakan orang. Tapi, bapak sering kali kesulitan mengoperasikan handphonenya ketika, misalnya, ingin menyetel alarm, atau ingin menggunakan fasilitas short message.

Ketidaktahuan bapak ditengarai akibat menggunakan handphone yang tidak lagi sama dengan merk sebelumnya. Sebelumnya bapak menggunakan handphone merk Nokia. Imbas fitur dan cara pakai yang berbeda, membuat bapak semakin bingung menggunakannya.

Namun soal sebenarnya bukan akibat cara pakai yang berbeda, melainkan pengetahuan yang mendasarinya. Ini jauh lebih mendasar dibanding peralihan cara pakai dari dua merek yang berbeda.    
Saya seringkali kasihan melihat bapak yang kebingungan jika menghadapi masalah di atas. Tapi, saya juga merasa beruntung, bapak tidak mesti repot-repot disibukkan dengan segala kelebihan yang dimiliki handphonenya.

Itulah sebabnya, handphone hanya digunakan bapak untuk memanggil dan menerima telepon. Kadang kala jika sempat menulis sms. Itupun dengan sedikit perjuangan.

Akan lucu membayangkan jika bapak turut ikut perkembangan teknologi gawai yang serba baru itu. Bersama-sama jutaan pengguna lain beralih menggunakan smartphone berbasis layar sentuh. Dan kemudian, pengalaman baru yang dialami bersamaan dengan segala fitur dan aplikasi dari smartphone turut mengubah kebiasaan bapak.

Barangkali seperti praktik kebudayaan masyarakat kekinian, bapak ikut membuat akun media sosial, nimbrung berkomentar ria dalam puluhan grup whastup, atau berkali-kali selfie jika menemui kolega-koleganya di saat ada pertemuan. Namun semua itu tidak satu pun bapak alami, termasuk harus berkali-kali update status di media sosial semisal facebook.

Saya membayangkan betapa jauhnya jarak kemajuan antara pemahaman bapak dengan kecanggihan teknologi saat ini. Hal ini menjadi lebih rumit jika bapak diperhadapkan dengan kecanggihan smartphone era kekinian.

Di kasus ini bapak seperti orang yang disebut sebagai kelompok masyarakat yang mengalami cultural lag. Istilah ini mengacu kepada kesenjangan pengetahuan yang diakibatkan kemajuan unsur-unsur kebudayaan.

Melalui konteks pemikiran William F. Ogburn, cultural lag diakibatkan karena adanya hambatan yang dialami salah satu unsur kebudayaan dibanding kemajuan unsur kebudayaan yang lain. Dalam kasus ini kemajuan teknologi informasi tidak diiringi kemajuan sumber daya pemikiran yang menyertainya.

Kegagalan memahami teknologi, barangkali ditentukan sejauh mana pengalaman itu sendiri tumbuh di antara kemajuan teknologi. Kita akan sulit menemukan orang-orang pedalaman Kajang yang memahami cara menggunakan gadget dengan baik akibat pengalaman mereka yang tidak pernah menjumpai gadget itu sendiri, misalnya.

Itu sebabnya, betapa mudah menemukan anak-anak usia dini sudah mahir mengoperasikan gadget akibat betapa gampang pengalamannya bersentuhan dengan alat-alat canggih semacam itu.

25 Januari 2017

Menemukan Kembali Bahasa Indonesia

Mari memahami praktik berbahasa era kiwari tidak serta merta representasi kesadaran atas persatuan. Justru sebaliknya akibat cermin ketidaksadaran. Atau lebih berbahaya akibat false consciousness (pemahaman palsu). Atau mungkin trauma kelam masa lalu. Atau juga didorong rasa dendam, bahkan mungkin sentimentalisme sempit.

Artinya, bahasa selama ini bukan cermin ilmu pengetahuan. Malah bahasa percakapan yang dipraktikkan sehari-hari hanya cara manusia memanipulasi dirinya yang mengalami hambatan perkembangan kejiwaan.

Ibarat teori allegory of the cave-nya Platon, filsuf Yunani purba, kiwari hampir semua bahasa percakapan ditengarai gelapnya perangkap gua, bukan karena “cahaya” di luar gua. Imbasnya, bukan manusia yang “menyarangkan” bahasa lewat praktik pemaknaan, tapi manusialah yang ditawan bahasanya sendiri, bahasa samar dan gelap.

Itu sebabnya, manusia terhambat mengetahui kenyataan lewat bahasa temaram yang digunakannya. Kenyataan, hanyalah realitas palsu akibat tak terjamah terang bahasa.

Masih dalam ilustrasi allegory of the cave-nya Platon, manusia hanya bisa bebas jika dia keluar dari gelapnya gua. Meninggalkan bayangan palsu di tembok gua akibat tipuan api di belakangnya. Hanya berjalan ke luar dan mencandra matahari di luar gualah manusia mampu mengalami pencerahan bebas dari tipuan yang dialaminya selama ini.

Itu artinya, manusia harus meninggalkan seluruh praktik kehidupannya di dalam gua, termasuk bahasa. Manusia harus menggunakan bahasa percakapan yang tidak terdistorsi kegelapan sebagaimana ketika di dalam gua. Sang manusia harus menciptakan “bahasa baru”, bahasa yang lahir di bawah terang “mentari”. Hanya dengan itu manusia “dewasa”.

Tapi, “manusia dewasa” harus dahulu menyadari situasi dirinya ketika benar-benar ingin dewasa. Praktik berbahasa “manusia dewasa” harus bersih dari gangguan traumatik masa lalunya ketika masih berada di dalam kegelapan gua.

Psikoanalisa Sigmund Freud menyatakan, orang-orang yang ketika dewasa mengalami hambatan mental, dapat diterangkan dengan dua cara. Pertama, akibat tidak berkembang normalnya struktur kepribadian di masa kanak-kanak, dan yang kedua, disebabkan oleh trauma-trauma masa lalu.

Yang menarik menurut Freud, pengalaman traumatik masa lalu, dapat mendorong lahirnya sikap agresif ketika dewasa. Fenomena ini juga menerangkan, sikap agresif yang muncul dari praktik berbahasa ataupun tindakan, merupakan relasi langsung dari libido berupa insting kematian.

Insting kematian berbeda dari insting kehidupan. Menurut Freud, keberlangsungan interaksi manusia hanya bisa bertahan lama akibat insting kehidupan yang beroperasi melalui regenerasi dan reproduksi. Sementara insting kematian ditampakkan manusia melalui tindakan-tindakan agresif dan brutal yang mengancam kehidupan itu sendiri.

Keluar dari mulut gua

Ibarat mahluk gua, praktik berbahasa bangsa Indonesia sudah lama keluar dari gua kegelapan. Sumpah pemuda, misalnya, merupakan penanda perjuangan bangsa Indonesia merumuskan bahasa persatuannya. Ketika itu pemuda-pemudi merumuskan “bahasa baru” yang harus dipakai selain “bahasa gua penjajahan.” Dengan bahasa yang diterangi “matahari” kemerdekaan, bangsa Indonesia tumbuh menjadi bangsa yang dewasa, bangsa bermartabat.

Bahasa kemerdekaan dipakai pasca keluar dari mulut gua penjajahan, bukan saja keinginan kuat keluar dari gua kegelapan penjajahan, melainkan meminjam istilah indonesais Benedict Anderson, karena suatu harapan yang dibayangkan bersama. Dengan harapan yang dibayangkan inilah bangsa Indonesia merumuskan dirinya sebagai komunitas merdeka melalui bahasa yang mencerminkan persatuan dan rasa persaudaraan sesama penduduk bangsa.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...