28 November 2016

Kota dan Orang-Orang yang Datang dan Pergi dan Makassar

Di mana-mana kota pasti adalah pusat yang ramai. Orang-orang datang-pergi demi menuntut kebutuhan ekonomi, mengejar pendidikan, mencari pergaulan kekinian, dan menghabiskan waktu luang.

Di kota, segala kebutuhan akan segera dipenuhi. Asalkan kita mau mencarinya, dan tentu tercukupinya kepemilikan modal untuk menunjang daya tukar dan transaksi.

Akibatnya, kota jadi lubang yang menyedot banyak orang. Kota akhirnya menjadi lokasi yang menjadi titik tolak bagi orang-orang yang melakukan perjalanan lintas spasial.

Demi pekerjaan, demi pendidikan, dan demi segala hal lainnya, jarak spasial antara kota sebagai pusat dan kawasan pinggiran hingga daerah-daerah di sekeliling kota beranjak menjadi semesta kesibukan yang penuh sesak dengan beribu-ribu kendaraan yang lalu-lalang.

Saya sendiri merasakan pengalaman baru, betapa menjadi penduduk pinggiran kota adalah hal tak terelakkan yang turut membuat arus mobilitas kota-pinggiran kota menjadi begitu sesak. Walaupun sekarang, kodifikasi kota-pinggiran kota menjadi tidak relevan, tetap saja kota kiwari adalah pesona yang mendorong orang-orang bergerak pulang-pergi memperbaiki nasibnya.

Perlu saya katakan, daerah Sudiang-Biringkanaya, lintasan perjalanan yang harus saya lalui belakangan ini menuju pusat kota Makassar, merupakan kawasan yang tak bisa ditolak menjadi daerah padat kendaraan akibat bergeraknya kawasan pinggiran perkotaan menjadi kawasan padat pemukiman.

Tidak bisa dipungkiri mobil adalah kendaraan yang banyak berperan mengubah daerah pinggiran perkotaan menjadi daerah kawasan padat penduduk. Makassar sendiri, dari hari ke hari, semakin banyak ditemukan daerah perumahan kelas menengah atas  dengan mobil sebagai penghubung kawasan-kawasan baru sebagai tempat pemukiman.

Mobil dengan fungsinya yang mampu membelah ruang geografis menjadi lebih efisien, tak terelakkan menjadi alat transportasi yang mudah berpindah-pindah seiring aktivitas masyarakat perkotaan. Bagi masyarakat kelas pekerja kerah biru, mobil sudah menjadi alat mukim kedua selain rumah-rumah yang mereka diami secara permanen.

Dengan mobil –dan juga motor—bagi masyarakat kelas menengah atas, menjadi lebih mudah mengakses pemukiman yang terletak di pinggiran kota dengan pusat kerja yang identik di daerah perkotaan. Dengan semakin baiknya infrastruktur jalan raya, jarak geografis yang jauh antara pemukiman masyarakat kelas menengah atas dengan pusat-pusat aktivitas, mobil sangat signifikan membuat pergeseran kota menjadi lebih luas sekaligus kecil.

Kebutuhan masyarakat perkotaan terhadap daerah pemukiman bersih, tenang, dan jauh dari keramaian, merupakan kebutuhan mendesak akibat wilayah perkotaan yang semakin padat dihujam perencanaan pembangunan.

Perkotaan yang semakin hari tidak menjamin warganya menemukan kehidupan yang sejahtera mau tak mau turut mendesak cara berpikir masyarakat agar keluar mencari daerah alternatif yang mampu memenuhi aspek-aspek kemanan dan ketenangan.

Itulah sebabnya, selain minimnya daerah mukim akibat pembangunan perkotaan tanpa ampun, membuat daerah pinggiran perkotaan menjadi sasaran baru daerah-daerah alternatif.

Namun, malangnya, semakin mendesaknya kebutuhan pemukiman yang bebas keramaian, daerah yang semula alternatif berubah fungsi menjadi daerah utama pemukiman masyarakat kelas menengah atas.

Berdirinya pusat-pusat pendidikan di daerah pinggiran kota, juga ikut mempengaruhi beralihfungsinya kawasan sepi penduduk menjadi padat keramaian.

Di Makassar sendiri, sekira tahun 80-an ketika Universitas Hasanuddin dipindahkan ke daerah Tamalanrea, ikut mengubah kawasan yang semula penuh rawa-rawa menjadi salah satu kawasan yang paling sibuk di Makassar.

Hal ini bersamaan dengan ketika kota-kota berkembang di tahun 80-an mengalami proses urbanisasi yang berdampak terhadap tingkat pembangunan pemukiman penduduk.

Contoh mutakhir adalah berubahnya kawasan Samata menjadi daerah pemukiman baru ditenggarai perencanaan jalur Maminasata.  Dipindahkannya Universitas Islam Negeri Makassar di daerah Samata selain karena tidak mencukupinya ruang interaksi di kampus sebelumnya, juga akibat kebutuhan daerah yang nyaman untuk menunjang proses belajar-mengajar.

Akhirnya dengan sendirinya, dengan semakin baiknya akses menuju kawasan yang dahulu dianggap terpencil,  daerah itu pelan-pelan secara pesat menyerap banyaknya penduduk seiring juga berputarnya modal sosial yang serta merta mempercepat perubahan kawasan terpencil Samata menjadi kawasan perkotaan baru.

Jelas sekali hubungannya antara dibukanya kawasan pemukiman baru dan kawasan pendidikan, turut mempercepat proses urbanisasi yang mana akan juga berimplikasi terhadap berubahnya aktivitas warga di sekitarnya.

Berkat aktifitas kota-pinggiran kota, mau tidak mau mengubah pengalaman warga perkotaan/pinggiran tentang memahami jarak. Secara lokasional antara daerah Sudiang, misalnya, dengan daerah Karebosi tidak sulit untuk dikatakan jauh. Namun, dari akivitas sosial-antropologiknya, jarak antara kedua daerah tersebut menjadi dekat karena hubungannya dalam pengertian ruang relatif (relative space) dan ruang relasional (relasional space).

Karena itulah, saya misalnya –beserta penduduk pekerja daerah pinggiran, rela menempuh jarak kurang lebih dua puluh hingga tiga puluh kilometer, menuju kawasan perkotaan, untuk melakukan aktivitas pekerjaan di tiap harinya. Dan, yang membuat semua itu tampak normal adalah jarak relasional yang memberikan pengertian baru soal jarak itu sendiri.

Maka, sulit disangsikan hampir setiap jam-jam sibuk, daerah yang menghubungkan kawasan kerja dengan kawasan pemukiman di pinggiran kota, menjadi penuh sesak dengan kendaraan yang merayap padat. Yang paradoks dari semua ini, walaupun dibantu dengan kendaraan, yang menganggap setiap tempat mudah diakses dan dianggap dekat secara relasional, membuat semakin hari sulit menemukan jalan raya yang lenggang dari kendaraan.   

Makassar yang sedang bergerak menuju kota dunia, bukan berarti suatu arah yang selamanya bermakna baik. Antara Makassar yang berarti bagian dari kota yang berkembang dengan Makassar sebagai kota dunia yang identik sebagai kota global, akan banyak menyisakan persoalan semisal lonjakan kepadatan penduduk, kemacetan,  hilangnya ruang hijau terbuka, kriminalitas, pengangguran, polusi udara, merebaknya pusat ekonomi baru, dan perampasan tanah atas warga miskin kota.

Pada akhirnya pergeseran Makassar menjadi kota dunia, mau tidak mau harus disertai perubahan persepsi warganya tentang bagaimana menjadi warga kota yang ideal. Hal ini tentu akan menyertakan beragam cara untuk mengubah pola-pola interaksi sosial, intelektual, ekonomi maupun kebudayaan demi memaksimalkan warga kota sebagaimana warga kota.

Satu hal yang paling mendesak bagi kota Makassar untuk saat ini, yakni menyediakan akses jalan raya yang mencukupi seiring dengan menekan penggunaan kendaraan pribadi yang semakin hari semakin bertambah padat. Bertambah banyaknya warga kelas atas baru, harus diikuti dengan perangkat pemahaman yang baik soal penggunaan hak-hak publik ketika di jalan raya.

Maka akan mustahil bisa berjalan maksimal ketika di satu sisi penyediaan sarana transportasi publik  mampu mengatasi kebutuhan transportasi warga, tanpa disertai pengawasan yang ketat terhadap penggunaan kendaraan pribadi yang setamak-tamaknya.

Syahdan, dari semua itu, salah satu indikator bagaimana Makassar
disebut kota dunia adalah mencukupinya transportasi publik dan teratasinya kepadatan jalan raya di waktu-waktu jam kerja.  Tentu ini berkaitan dengan seperti apa warga kota mampu mengindentifikasi dirinya sebagai citizen yang baik ketika menggunakan ruang publik seperti jalan raya. Seperti bagaimanakah sikap seorang pengguna jalan raya ketika menggunakan hak-hak publiknya di atas kendaraannya.

25 November 2016

Totto-chan Murid Cilik di Jendela dan Sesosok Kecil Teman Imajiner

Baru-baru ini saya menemukan kembali novel karangan Tetsuko Kuroyanagi; Totto-chan Gadis Cilik di Jendela, ketika memberesi buku-buku istri saya. Dulu buku ini tak sempat saya baca. Saya hanya sering mendengarnya dari mulut orang-orang. Pernah juga beberapa kali novel ini disebut-sebut ketika saya mengikuti forum kajian kala di kampus. Buku ini sering kali dikait-kaitkan dengan menyindir-nyindir dunia pendidikan dengan nada yang sedikit sarkas.

Sekarang saya berusaha membaca buku ini dengan hati-hati. Juga dengan semangat yang telaten. Maklum akhir-akhir ini saya begitu jarang membaca buku. Gadget begitu banyak mengambil perhatian saya.  Namun, sebenarnya motif membaca buku ini yang penting: menghidupkan kembali kenangan ketika sekolah dulu.

Hari ini hampir semua orang memperingati Hari Guru Nasional, dan banyak cara memperingatinya. Kebetulan saya diingatkan oleh timeline Facebook.  Ini adalah cara instan masyarakat cyberspace menjalani hari-harinya: ingatannya dikendalikan mesin canggih smartphone. Dan, semenjak pagi ini mesin itu mengingatkan saya lewat layar gadget. Hari ini—sekali lagi- Hari Guru Nasional.

Mengingat itu saya hanya mengirimkan ucapan sederhana di group WA  kepada orang-orang yang berjasa bagi diri saya selama ini. Kepada sebagian mereka, yang saya artikan sebagai guru dengan ucapan terima kasih atas bimbingannya selama ini.

Orang tua saya juga seorang guru, terutama ibu saya. Pertama kali saya mengetahui ibu saya seorang guru ketika menyadari pernah dibawa ke sekolah pertama tempat ia mengajar. Ketika itu saya sering berlari-lari di koridor panjang dengan tangan terbentang lebar bersamaan dengan orang-orang yang berlalu lalang mondar-mandir.

Kebanyakan kala itu mereka menggunakan baju putih abu-abu dengan muka yang terheran-heran melihat saya berlari ke sana kemari. Koridor panjang yang beralas semen itu memang membuat saya senang bukan main. Sungguh panjang dan luas.

Ingatan ini pula yang membuat saya menyadari kala membaca Totto-chan, dunia anak-anak sebenarnya adalah dunia yang membahagiakan. Dan, kebahagaiaan anak-anak tentu harus diartikan sebagai keriangan mereka ketika bermain-main.

Dan malang, guru Totto-chan memandang aktivitas bermain Si Gadis Cilik di Jendela di kelas sebagai perilaku yang ganjil bagi pengalaman belajar-mengajar. Tentu sang guru punya alasan kuat belajar harus disertai keseriusan yang betul-betul serius. Dia mungkin punya teknik mengajar yang telah dipakainya bertahun-tahun, atau kurikulum yang mengacu kepada standar paten, tapi, ayolah, bukankan ini anak-anak?

Saya banyak mengenal orang yang sehari-hari mengajar anak-anak yang saya taksir seumuran dengan Totto-chan di novel penulis Jepang itu. Kemudian saya juga tahu mereka lebih banyak memporsir bermain sebagai sarana anak-anak belajar. Apalagi seringkali mereka lebih banyak bertanya kepada anak-anak didiknya mau memilih belajar apa. Kemudian hari saya tahu metode bertanya ini berusaha melatih anak-anak bisa mandiri memilih pilihannya sendiri. Mereka bebas memilih mau belajar apa yang sesungguhnya mau bermain apa.

Istri saya berlatarbelakang ilmu psikologi yang kemudian melanjutkan studinya mengambil konsentrasi psikologi pendidikan.  Suatu hari dia sering mengatakan anak-anak kisaran umur tiga sampai lima tahun (kalau saya benar-benar ingat), memiliki teman imajiner yang sering kali diajak berkomunikasi. Teman ini hanya figur imajinatif yang hanya dikenali anak balita. Teman kecil mereka inilah yang sering kali mereka ajak “bercakap-cakap” dan membantu balita manapun memaksimalkan syaraf-syaraf sensoriknya ketika tumbuh berkomunikasi.

Itulah barangkali sebabnya anak-anak lebih cenderung memiliki cerita yang aneh-aneh. Seperti keponakan saya beberapa tahun lalu yang seringkali mengajak saya bermain buaya-buayaan, dan kami bertindak sebagai penguasa lautan yang harus menyelematkan diri menuju sebuah pulau yang ketika itu adalah sofa.

Di permainan itu kami harus bisa menghindari buaya-buaya ganas yang siap memangsa dan berenang setangkas mungkin menuju sebuah pulau. Saya hanya menyangka, figur-figur yang ia maksudkan adalah sosok-sosok imajiner yang membantunya berimajinasi. Melalui sosok-sosok inajinatif itulah saya yakin dapat membantu anak-anak berpikir.

Makanya saya tak heran ketika Totto-chan berniat menjadi penjual karcis kelak ketika dewasa. Totto-chan membayangkan betapa bahagianya memiliki sekotak celengan yang penuh sobekan karcis. Betapa senangnya memiliki semua itu dengan menggunakan seragam selayaknya penjual karcis di terminal kereta api. “Tapi bukankan kamu ingin menjadi seorang mata-mata Totto-chan?” sergap ibunya. “Bukankah aku bisa jadi penjual karcis yang sebenarnya adalah mata-mata,” balas Totto-chan. Bayangkan betapa kreatifnya jawaban gadis ini.

Aspek semacam itulah yang membuat guru Totto-chan kelimpungan. Kreatifitas yang menjadi daya dorong segala perilakunya. Betapa malangnya jika pendidikan malah memangkas daya kreatif anak-anak ketika berpikir.

Dalam ilmu logika, dimensi kreatif sinonim dengan apa yang dikatakan ilmu khayali. Di dimensi ini, sesuatu yang dipikirkan bisa saja dibuat-buat. Atau bahkan dua hal dapat dipikirkan secara bersamaan dalam satu wujud.

Misalnya “tubuh” Anda dengan “kepala” Donal Trump yang digabung menjadi Anda yang berkepala Donald Trump. Di dalam imajinasi, wujud-wujud pikiran dapat digabung-gabung seperti lego yang bersusun-susun, bebas sebebas bebasnya.

Namun, malang bagi orang-orang dewasa. Bagi kita dunia khayali tidak jauh lebih penting dibanding dunia rasio. Itulah sebabnya, orang-orang dewasa lebih sering miskin imajinasi. Minim kreatifitas.

Akibatnya, berbeda dengan anak-anak kecil, orang-orang dewasa tidak mampu memiliki teman imajinatifnya. Sosok imajiner semacam itu sudah lama hilang akibat betapa seriusnya orang-orang dewasa memandang dunia. Itulah sebabnya orang-orang dewasa lebih senang berpikir daripada berimajinasi. Mereka lebih senang kepada hal-hal yang sudah dipastikan dari awal, bukan sesuatu yang memiliki banyak cabang-cabang kemungkinan.

Akhirnya, membaca Totto-chan di waktu sekarang, setidaknya membantu menemukan kembali ingatan saya kala dibawa pergi ibu ketika mengajar di sekolahnya. Dan tentu mencari kembali teman imajinatif yang telah lama saya lupakan.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...