12 Juni 2016

Puasa Abad 21


Sigmund Freud
Bapak Psikoanalisa

KIWARI, ramadan bukan lagi paras yang santun. Wajah ramadan abad 21 adalah paras yang agresif.  Hampir setiap momen ramadan menjelma kekuatan yang akumulatif: hasrat, modal, rasa sentimen, dan juga tentu ibadah.

Akibatnya, mendadak ramadan menjadi panggung perlombaan. Banyak orangorang berubah peran. Bermain drama.

Yang unik, kekuatan spiritualitas yang dikandung ramadan berjalan paralel dengan semangat instingtif manusia. Jika agama pada dasarnya adalah daya dorong kemanusiaan, saat ramadan malah bergerak ambivalen.  Di balik spiritualitas puasa, bergerak pula daya naluriah yang destruktif.

Patut dipersoalkan sejauh mana semangat ramadan menyesap memengaruhi sikap libidinal manusia. Jika meneropong keadaan sehariari, sikap manusia yang berganti peran hanya sampai kepada tataran normatif belaka. Orangorang boleh saja berpuasa, tapi itu bukan perjuangan mengelola sisi terdalam manusia.

Apalagi di abad kontemporer, hampir semua dimensi kebudayaan adalah penjelmaan tatanan yang digerakkan modal. Mari menyimak bagaimana di awal bulan ramadan, produkproduk kebudayaan yang bernuansa agamais digelar secara seremonial. Mulai dari etika berpenampilan sampai etika beribadah tak lepas dari spirit konsumerisme.

Akibatnya ramadan yang harusnya santun jadi semarak perayaan produkproduk jual beli. Tak bisa ditolak, kenyataan ramadan hanyalah media tukar antara semangat beragama dengan suka cita pencitraan.

Juga mesti disesalkan, ramadan seperti daya ungkit tekanantekanan sosial yang selama ini sulit diatur. Masyarakat yang hiperkonsumtif, malah bukan mengurangi daya beli sebagai bagian dari amal berpuasa. Puasa akhirnya hanya berfungsi sebagai katup sementara dari naluri rendah yang meledak pasca ditekan selama seharian penuh.

Dari aspek etis, ketaqwaan yang menjadi tujuan berpuasa hanyalah suara cempreng di atas mimbarmimbar mesjid. Taqwa yang berarti memelihara, menjaga, dan melindungi tak memiliki sumbangsih sosiologis apaapa jika melihat fenomena kekinian. Nampaknya, taqwa yang dipahami sebagian orang bukanlah semangat keagamaan yang menjaga sesama, bukanlah sikap yang mau melindungi sesama, malah bertindak dengan perilaku kekerasan.

Syahdan, taqwa yang agresif adalah kecemasan yang menjadi bagian dari mekanisme pertahanan ego. Akibat kecemasan yang sulit dibendung, selain agresif, ego menjadi represif menggantikan gangguangangguan yang dialaminya. Maka jangan heran, ego yang represif berubah wujud menjadi cara penyaluran yang tidak sehat berupa tindakan merusak.

Ramadan yang disikapi demikian janganjangan adalah gejala infantil. Suatu sikap kekanakkanakan. Yakni suatu pola etika yang digerakkan oleh tatanan yang mudah guyah. Bukan iman yang seharusnya mengayomi. Malah adalah ketakutan yang menjadijadi jika suatau permintaan tidak dapat terpenuhi.

Maka bisa jadi itu memang betul. Apalagi jika gejala ini ditautkan dalam pemahaman yang dibangun Sigmund Freud. Manusia, jika dia beragama hanyalah mekanisme  diri yang ingin selalu dipuaskan. Seperti anak kecil yang ingin dipenuhi seluruh kemauannya. Agama hanyalah saluran hasrat yang dialihfungsikan untuk menormalisasi dorongandorongan instingtifnya.

Menariknya, bagi Freud , manusia memiliki dua kekuatan yang dominan. Pertama adalah insting kehidupan yang mendorong manusia mencari cara agar tetap bertahan dalam tekanantekanan yang dihadapinya. Kedua adalaha insting kematian yang termanifestasi dari perilaku merusak akibat tekanan Id yang sulit dibendung.

Ramadan jika dibilang sebagai jalan ruhani seharusnya mampu mengkoordinasikan dua insting bawaan manusia di bawah terang kesadaran ilahiah. Jika tidak demikian, barangkali ada yang salah selama ini dari cara orangorang berpuasa. Janganjangan puasa hanya diartikan dalam pengertian lahiriah saja. Puasa hanyalah cara orangorang menahan lapar dan haus belaka.

Singkat cerita, apabila ramadan hanya menangkal naluri instingtif manusia, dan tidak mampu mengubahnya menjadi energi positif yang insani, maka bisa ditebak pasca sebulan penuh berpuasa, kita hanyamendapatkan kesiasiaan.

10 Juni 2016

bakso

Bakso. Itu makanan kesukaan saya. Ini jarang diketahui. Hanya orangorang tertentu yang tahu. Juga sangat sedikit dari mereka sering saya ajak makan bersama. Traktir.

Kala masih sekolah menengah, kala sore biasanya saya sudah standby di lorong belakang rumah. Biasa, menunggu tukang bakso langganan lewat.

Kebiasaan ini juga dilakukan temanteman sepermainan. Lengkap dengan mangkuk masingmasing.

Kalau makan bakso, kala itu harus dicampur mie instan. Namanya mie Sakura. Sekarang mie ini sudah punah. Dulu harganya lima ratus rupiah. Murah.

Entah mengapa bakso gerobakan mas langganan nikmat dicampur mie Sakura. Keyakinan kami saat itu karena mie Sakura punya bumbu yang khas. Minyak sayurnya yang maknyos. Kuning kental.

Bakso semakin nikmat bukan saja karena bumbu mie Sakura. Tapi bumbu rahasia yang dibikin mas seperti adonan kue itu. Warnanya cokelat menyerupai tai sapi kering. Jika dicampur bumbu ini saya bisa bertahan siang malam menghabiskan satu gerobak.

Yang saya sukai dari bakso sebenarnya adalah kuahnya. Saya tak peduli daging apa yang dipakai bikin pentol bakso. Entah kanji atau daging tikus saya tak peduli. Kalau sudah berbentuk bulat rasarasanya semuanya sama saja. Hanya kuahnyalah yang sebenarnya menentukan.

Makanya jika saya mendapati warung bakso di manapun, kuahnyalah yang saya nilai pertama kali. Itu juga yang jadi nilai plus bakso gerobakan langganan. Selain harganya murah. Kuahnya yang bikin ketagihan.

Kebiasaan menunggu tukang bakso juga sering dilakukan siang hari. Jadi bisa dibilang hampir duakali saya membeli bakso dalam sehari. Itu jika ada cukup duit.

Seperti obat sakit kepala kebiasaan saya ini hampir rutin. Tapi, kalau sore sepulang main sepak bola saya tidak membeli bakso, maka saya sudah tunaikan di siang bolong sepulang sekolah.

Bila saya ingin naik level dari bakso gerobakan menjadi bakso warungan, itu gampang. Di depan rumah berdiri gagah warung bakso. Kebetulan mbak penjual bakso ini tetangga saya. Nah, di warung inilah saya menaikkan derajat kelas dari pembeli bakso jalanan menjadi pembeli berduit.

Walaupun agak mahal dibanding gerobakan, bakso tetangga saya ini juga sedap rasanya. Tentu kuahnya yang bikin demikian. Ini bukan macammacam. Saya serius!

Dari saya SMP sampai sekarang, tetangga saya ini sudah hapal kuah bagaimana yang cocok dengan lidah pembelinya. Soal bakso jangan bilang, tetangga saya ini salah satu masternya. Buktinya sampai sekarang masih bertahan.

Soal pentol bakso, tetangga saya lebih terjamin. Kalau bakso gerobakan sering dominan dicampur kanji, mbak saya ini memang menggunakan daging. Barangsiapa doyan makan bakso pasti tahu perbedaan teksture mana bakso daging mana tepung kanji belaka.

Kalau mas gerobakan punya bumbu ulegkan khas, bakso tetangga saya punya sambalnya yang aduhai. Ini yang menambah rasanya jadi spesial. Saya yang menyukai makanan pedaspedis jadi doyan.

Biasanya jika di rumah makanan habis, bakso tetangga saya ini pilihannya. Dengan modal sembilan ribu semangkuk bakso gurih sudah bisa dibungkus pulang.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...