08 April 2016

Agama Puitik Bukan Politik

Siapa sangka, agama tidak datang dari hati raja-raja bermahkota, atau orang-orang berkuasa. 

Siapa mengira agama, atau dengan kata lain wahyu, datang bukan di kalbu orang-orang yang mudah gusar.

Agama, begitu di dalam sejarah, mulai di hati orang-orang yang suka tercenung. Orang-orang yang suka tercenung mudah menerima di atas langit masih ada langit. Di atas kekuasaan masih ada kekuasaan. Kala siang menghampar diri di sabana luas dan saat malam memandang gemintang nun jauh di atas membuat orang tercenung punya hati yang mudah basah, juga air mata yang mudah jatuh.

Cuman, agama kiwari bukan agama yang kerap basah. Sekarang, agama malah bermunculan dari raut muka yang mudah gusar.

Agama, di situasi yang serba akumulatif; modal, citra, gengsi, kekuasaan— turut andil jadi kekuatan pendorong paling ampuh menyediakan dasar teologis penunjang semua bentuk akumulasi bekerja.

Max Weber, seorang sosiolog Jerman menyatakan, kapitalisme satu-satunya kiblat sejarah kemajuan saat ini, ditopang oleh iman eskatologis sebagai basis etikanya. Dengan kata lain, orang-orang boleh mengakumulasi modal sebanyak-banyaknya sebab itu terhubung langsung dengan kebahagiaan agama itu sendiri. Bahkan sampai di akhirat kelak.

Itulah sebabnya tak ada hati yang sering mudah tangis jika orang-orang berlebihan barang-barang. Agama di tengah membludaknya segala macam barang-barang, bertambahnya kendi-kendi harta, mengerasnya kekuasaan di satu pusat, juga mudahnya orang-orang ditekuk di dalam suatu simbol, datang bersamaan dengan makna agama yang lain, agama yang keras.

Agama yang keras barangkali agama yang kerap dibingkai di dalam suatu layar kaca. Di situ, Agama jadi suatu drama mencekam, suatu kekuatan dengan bahasa yang provokatif. Agama dengan nuansa provokatif malah jadi seperti suatu massa aktif yang diistilahkan sebagai crowd.

Crowd, atau lebih dikenal sebagai gerombolan, merupakan elemen abu-abu dalam suatu lapis masyarakat. Crowd bukan komunitas, bukan kelompok masyarakat, atau perhimpunan kesamaan dari tradisi dan nilai-nilai bersama, melainkan orang-orang yang tercerabut dari suatu pemahaman etis tentang kehidupan bersama. Kumpulan orang-orang yang mengalami disorientasi makna hidup.

Gerombolan karena bersifat abu-abu, adalah “kelompok” sosial yang mudah diarak berdasarkan kekuatan dominan masyarakat. Dan, agama yang provokatif, gampang saja menemukan suatu kekuatan berbasis kerumunan sebagai kekuatan penggeraknya. Akibat tiada pegangan nilai yang diacu di dalam kerumunan, crowd menjadi kekuatan destruktif berbahaya jika diarahkan kepada beragam kepentingan tertentu.

Barangkali karena agama sudah jadi crowd, dengan sendirinya melupakan agama yang puitik. Agama puitik agama yang melintasi suatu batas-batas yang tampak. Agama puitik agama yang melihat suatu yang subtil di balik permukaan bersamaan dengan cara pandang yang tidak terjebak di dalam kotak-kotak kelompok.

Agama puitik mungkin saja sama halnya dengan agama yang turun di kalbu nabi-nabi.  Prinsip yang ditemukan di kala air mata pecah di atas tanah lapang dan di bawah pikiran yang bersih. Saat itulah barangkali agama jadi pencapaian yang mencerahkan, kala agama jadi rahmat.

Alfred North Whitehead bilang bahwa agama kerap bermula dari kesunyian.  Bahkan tanpa kesunyian agama mustahil ada. Whitehead, filsuf sekaligus matematikawan ini menyebut Sidharta Gautama, misalnya, bermenung di bawah pohon bodhi dan mendapatkan pencerahan sekaligus menjadi peristiwa besar di mana karena itu lahir seorang budhis. 

Sejarah agama Ibrahimik juga diakhiri dengan permenungan di Gua Hira, bergelut dengan inti segala subtansi di dalam kesunyian paling sublim, di mana di situ bermula suatu keyakinan yang kelak di sebut Islam rahmatan lil alamin.

Agama puitik bukanlah agama layar kaca yang disertai gemuruh dan jargonjargon penuh ambisi. Agama yang dibingkai layar kaca, karena punya kekuatan berbasis kerumunan, akhirnya menjadi agama politik. Agama politik begitu mudah ditandai akibat selalu menyasar kekuasaan melalui cara massif dan massal. Di dalam imajinasi agama politik, kekuasaan dipandang sebagai medan dakwah yang paling strategis dilakukan. Akibatnya, jika dia berbicara dakwah, maka yang dimaksud dakwah tak lebih dari suatu cara untuk menggulingkan sistem kekuasaan.

Sementara agama puitik seperti sudah dibilang dari awal, adalah agama yang datang di hati orangorang yang mudah tercenung. Di situ agama bukan suarasuara sesak di sekitar kekuasaan yang dihardik, melainkan suara titimangsa yang tergenang di sanubari paling dalam, suatu suara yang mirip semacam wahyu, suatu syair. 

Agama yang bersyair barangakali adalah agama yang tidak menempatkan kebenaran sebagai sentral dan ukuran, melainkan kebermaknaan atas suatu pengalaman dan pengamalan.

Agama puitik atau agama syair, mungkin saja mirip puisi, dia tidak bersuara lantang karena yang lantang kadang jadi banal, apalagi dangkal. Karena dia mirip puisi, dia datang dan mengendap di hati orangorang yang hanif. Seperti seorang pengembala, kala siang dan malam bertabur bintang, di hatihati orangorang yang tahu di atas langit masih ada langit.

07 April 2016

pojok bunker 2

Pojok Bunker sudah bisa dibilang jadi. Kalau tidak salah kira, akhir Maret kemarin sudah ada aktivitas diskusi di situ. Sebelumnya, bukan pertemuan semacam diskusi, tapi di tempat tidak lebih dari empat meter itu hanya tempat parkiran motor. Sekarang di situ malah sudah ada agenda diskusi tiap pekan di gelar.

Pojok Bunker hanya sebuah nama tanpa maksud apaapa. Tak ada konotasi seperti sebuah visi tersemat di situ. Pojok Bunker hanya nama asal comot. Nama yang disepakati mewakili sepojok ruang. Itu saja.

Sedangkan lambang seperti rambu jalan itu juga tidak direncanakan. Ujhe membuatnya begitu saja. Kenapa mengambil lambang seperti mirip festival belok kiri, kegiatan yang dicekal itu, hanya sematamata kebetulan belaka. Jika mau lambang itu punya arti, barangkali memang karena ruangan pojok tempat mangkal itu berada di sebelah kiri ketika masuk. Dan mengapa ada bintang di situ, mungkin hanya mau mewakili suatu cita yang tak tahu apa artinya.

Merah dan kuning juga tanpa disengaja. Tak ada maksud berlebihan ketika itu dipakai sebagai warna dasar. Saat membuatnya Ujhe barangkali mengimajinasikan makna keberanian dengan warna merah, dan kuning tentu bukan karena pernah dipakai sebagai warna dominan di masa orba. Merah kuning bisa jadi dipilih karena mencolok. Bisa langsung mencuri perhatian orangorang.

Kalau ada yang sering melihat Pojok Bunker via facebook, jangan mau ditipu. Ada beberapa orang yang mengatakan keren melihatnya dari hanya fotofoto. Padahal itu cuma teknik memainkan sudut pandang belaka. Itu terpaksa dilakukan kala mau menutup keadaan yang sebenarnya. Kenyataannya, PB begitu kawankawan sering menyebutnya, lebih mirip pos ronda. Lantainya hanya beralaskan tanah. Atapnya, jangan dibilang, hanya pakai spanduk bekas. Satusatunya yang membuatnya tampak indah karena hiasanhiasan di dinding yang memakai barangbarang bekas.

Barangkali dibilang keren bukan karena tempatnya, tapi dibuat untuk apa PB itu sendiri. Mulai minggu lalu sudah dibuka kelas perdana diskusi tematik berdasar buku karangan F.Budi Hardiman, "Pemikiran-pemikiran yang Membentuk Dunia Modern". Buku yang sudah lama cetak itu dijadikan pemantik dan salah satu sumber diskusi. Jadi, sudah digilir siapasiapa yang bakal mengisi diskusi tiap pekannya. Dan, diskusinya mengikuti alur bab di dalam buku yang dimaksud. Sehingga kalau tidak demor, tiap Kamisnya kawankawan bakal bertemu diskusi kembali.

Tadi Arhi yang memulai. Dia dapat tugas bahas bab khusus Machiavelli. Saya tak perlu menyoal siapa itu Machiavelli. Yang pasti bisa dibilang diskusi tadi lumayan ramai untuk ukuran PB. Memang saya sering bilang tidak usah mengundang banyak orang datang ke PB, selain tempatnya tidak muat, mahasiswa mana yang mau kumpul diskusi di tempat yang mirip gubuk derita. Makanya, kalau sudah ada lima sampai sepuluh orang, itu sudah lumayan.

Kala Arhi bawakan materinya, saya malah di ruang tengah Bunker sedang tidur. Awalnya saya hanya rebahan sambil menunggu diskusi dimulai. Kala itu masih jam tiga. Kawankawan belum ada yang datang. Tapi, apa boleh buat walaupun sedikit panas, kipas angin yang berputarputar bikin mata jadi berat. Tak lama akhirnya saya terlelap.

Ketika bangun sudah pukul lima. Di luar suara diskusi masih berlangsung. Saya terbangun akibat Pabe yang sebelumnya membangunkan sembari memperlihatkan sekop baru yang berkilatkilat. Dia sumringah, sekop baru di tangannya berarti ada tugas yang mau dilakukan; menyekop tanah. Tanpa lama pikir, timbunan tanah setengah truk di depan PB akhirnya diratakan.

Kembali ke PB. Selama ada Pojok Bunker, aktivitas anakanak PB lebih banyak di situ. Baca buku, dengar musik, mengetik, bahkan makan berjamaah sering dilakukan di PB. Nilai positif keberadaan PB, anakanak penghuni Bunker jadi lebih giat berdiskusi, walaupun kadang sampai baku gea'. Kalau yang terakhir diskusi bukan mau cari titik temu, atau nilai kebenaran di tiap argumen, melainkan yang ada justru hanya mau membuat lawan diskusi kesal. Dan, kalau akhirnya kesal sudah pasti lawannya cekikikan ketawa mengejek.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...