20 Maret 2016

Soal Puisi

Puisi saya kira memang perkara intuisi. Orangorang bilang soal rasa. Makanya tidak semua bisa bikin puisi. Karena itu puisi juga menjadi pekerjaan elitis. Soal ini, hanya disebabkan puisi punya cara lain kala menggunakan bahasa.

Pernah ada soal, apakah bahasa dalam puisi menjadi objek keindahan atau media keindahan. Yang pertama berarti di dalam puisi sudah mengandung keindahan, dan yang terakhir bahwa bahasa dalam puisi hanya mengantar orang kepada keindahan.

Kalau dicanggihcanggihkan, problem pertama dianut perspektif lirisme-ekspresivisme, sementara yang lain diacu oleh perspektif realisme. Problem ini juga semakin ribet akibat unsur politik begitu dominan menentukan perkembangan sastra.

Ini sempat terjadi di kisaran era 60-an, kala sastra mencatutcatit dimensi ideologis suatu pemikiran. Di era itu, sastra, termasuk puisi menjadi medan perseteruan kubukubu sastrawan dan pemikir intelektual. Akibatnya, perkembangan sastra terbelah jadi dua perspektif; humanisme universal dan sastra politik sebagai panglima. Pertama ditemui kubu Manifesto Kebudayaan (Manikebu), yang kedua adalah pandangan orangorang Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra).

Pernah juga ada trend di lingkungan sastrawan soal puisi gelap. Terutama juga seperti dalam aliran seni rupa; abstraksionisme. Saya kira, tulisan  Martin Suryajaya di website Indoprogress menulis jauh lebih lengkap ihwal abstraksionisme sebagai mazhab seni rupa, juga puisi.

Puisi gelap, seperti yang diidamkan beberapa penyair adalah pendirian keindahan kala makna sulit dipahami. Makna yang tersembunyi jauh di balik bahasa adalah keindahan itu sendiri. Begitu juga bahasa yang sulit dimengerti dianggap sepadan dengan keindahan sebagai nilai estetisnya.

Kecenderungan ini nampak benderang kalau ditemui pada puisi jenis lirisme. Bahasa tiada lain adalah perasaan itu sendiri. Prinsip ini, jiwa penyair belum nampak ketika belum berbahasa. Akibatnya, bahasa yang dipakai dalam puisi adalah jiwa yang tampak. Bahasa, bagi puisi lirisme hanya sematamata cermin perasaan penyair. Suatu pengganti perasaan yang tak tampak dalam jiwa.

Saya tak tahu apakah soal itu yang benar. Sebab, puisi juga bisa jadi mirip pamflet. Bahasa di puisi macam itu sarat muatan ideologis. Bahasa, bukan lagi sebagai media ekspresi jiwa, melainkan suara anjuran perubahan. Bahkan, puisi dalam koridor ini harus mampu menempatkan diri di dalam suatu jejaring sosial politik suatu masyarakat.  Puisi harus masuk meninggalkan “angkasa abstrak” yang sulit dipahami, menjadi bahasa yang dimengerti banyak orang.

Akhirnya, ini hanya soal pilihan. Saya kira satu hal yang samasama diperjuangkan dalam puisi; kebebasan. Entah dia mau menggunakan bahasa langit, ataupun bahasa suara orangorang kebanyakan. Puisi adalah puisi. Dia memang perkara intuisi, yang bergerak masuk keluar antara kenyataan yang diadapinya.


18 Maret 2016

Hannah Arendt dan Obrolan yang Tersisa

Muhajir mengungkap banyak hal soal pemikiran Hannah Arendt. Pertama, dia bilang, yang subtil dari Hannah Arendt adalah pemikiran politiknya. Pemikiran politik Hannah Arendt dibilang antitesa dari konsep politik kontemporer. Secara tidak langsung itu juga memberikan makna baru tentang politik. Soalnya, bilang Muhajir, politik di mata Arendt adalah "tindakan".

Antitesa politik Hannah Arendt, bilang Muhajir harus dimulai dari bagaimana Arendt melihat manusia. Manusia harus dilihat sebagai "siapa dia", bukan "apa dia". Hajir, begitu sering dipanggil, bilang pembedaan ini penting sebagai jalan masuk dalam memahami konsep politik Arendt.

"Siapa dia" sebagai suatu horison pengertian dengan sendirinya akan memberikan arti kekhasan atas manusia yang memang berbeda. Defenisi macam ini dengan sendirinya menempatkan perbedaan sebagai entitas yang tak tertolak. Manusia bukan "apa dia" yang mengaburkan pengertian manusia sebagai mahluk unik. Universalisme-esensialis yang jadi "common sense" bahwa manusia adalah mahluk rasional, ditolak karena menundukkan manusia sebagai entitas yang seragam.

Politik, daku Hajir harus dimulai dari pandangan atas manusia sebagai "siapa dia", karena hanya itulah jalan memahami politik. Politik, kalau mau dibilang, berarti berusaha memahami manusia yang berlainan, yang berbeda. Politik bukan apaapa selain afirmasi atas keberagaman.

Makanya, atas Arendt, Hajir menyebut dua antinomi; politik dan antipolitik. Upaya distingtif ini, disebut untuk menakar apa itu politik sesungguhnya. Dari titik tolak "perbedaan dan keberagaman" politik diartikan usaha manusia mengelola kehidupannya tanpa sikap diskrimintatif dan intimidatif. Politik sejauh Hajir sebut adalah medan tak ada "perintah dan yang memerintah". Narasinya yang lain, politik merupakan ruang terbuka bagi semua mengajukan kesetaraannya.

Sementara antipolitik ungkap Hajir, Arendt mengajukan dua kecenderungan yang mesti diwaspadai; tirani dan totalitarianisme. Dua wajah kekuasaan ini diwantiwanti Hajir dengan mengajukan ciriciri negara yang represif, monolit, dan menyukai penyeragaman. Sejauh ini, antipolitik dibilangkan sebagai usaha kekuasaan yang menghendaki penyamaan melalui penyeragaman cara pandang juga pemikiran.

***

Tidak banyak yang terlibat. Awalnya hanya lima orang. Bincangbincang, sesuai rencana dimulai pukul empat. Saya tiba sekitar pukul empat lebih. Agak telat. Kedatangan saya bersama Muhajir yang kali ini jadi penyerta. Juga, Pabe, yang ikut dari awal di Bunker.

Tapi, orang paling pertama di lokasi adalah Jusna. Dia sudah memesan kopi dari awal. Barangkali sudah sedari tadi tiba. Dia bilang sekira duapuluh menit lalu sampai. Itu disebut tepat waktu. Disiplin.

Akhirnya kami mengambil lokasi yang pas buat diskusi. Saya memilih di bagian depan warkop; dua meja setinggi lutut. Di situ kami duduk sembari ngobrolngobrol ringan. Tak lama Hajra datang.

Saya agak ragu banyak bakal datang. Langit mendung. Gelap dibubungan jauh. Namun itu bukan soal. Berapapun datang, diskusi harus tetap berlangsung.

Agak lama kami menunggu kedatangan kawankawan lain. Tibatiba Kanda Sulhan Yusuf menelpon. Dia sampaikan kalau tidak bisa datang, dia sedang menulis. Saya maklum. Apalagi, prinsipnya, diskusi ini hanya obrol santai. Bagi saya, jangan sampai merepotkan guru kolektif kami jauhjauh menyetel motornya hanya mau datang mendengar obrolan yang tidak pentingpenting amat. Maqamnya sudah jauh melampaui obrolan kami. Yang kayak begini, wacana yang sudah dilumatnya bepuluh tahun lalu.

Tapi, bagi kami itu sebentuk apresiasi, dukungan. Walaupun tidak bisa datang dia sempatkan menelpon. Yang lain tak ada kabar. Entah kemana.

Di atas, langit belum berubah; hitam. Seperti ada yang menumpahkan tinta hitam di situ. Lama berselang pelanpelan berubah kelabu. Biarpun begitu, tetap saja, kami masih berlima. Akhirnya diskusi dimulai. Saya membuka "forum". Hajir menarik napas, rokoknya dihisap dalamdalam, dia akhirnya berbicara.

***

Ada soal dari Hajrah; apa itu politik dari kaca mata Arendt? Hajir bilang, politik di mata Arendt berkebalikan dengan arti politik konvensional. Politik menurut Arendt, ucap Hajir diinspirasikan dari Polis Yunani Antik. Di situ, ada pemilahan tentang ruang; "yang privat" (oikos) dan "yang publik" (polis). Mengacu Arendt, politik hanya dimungkinkan di ruang publik.


"Yang publik" atau ruang publik, disebutkan mengacu kepada Polis Yunani Antik. Saat itu, di Polis, masyarakat digerakkan atas situasi yang setara. Polis, merupakan medan yang memberikan kebebasan diekspresikan. Akibatnya, tak ada semacam "kekuasaan" yang berhak menguasai perbedaan. Polis adalah ruang bersama. Polis merupakan tempat pemikiran bebas dikampanyekan.

Sedangkan, "yang privat" daku Hajir adalah tempat hirarki bermula. Karena bersifat privat, segala yang ada hanya dimiliki oleh satu orang. Privat dengan arti yang demikian bermakna penguasaan atas seseorang tanpa ada keterlibatan yang lain. Dengan sendirinya, privatisasi akhirnya menolak kolektivisme. Makanya, kata Hajir, privatisasi harus ditolak.

Pemilahan ini digambarkan Arendt sebagaimana yang tampak pada tatanan masyarakat Yunani antik. Oikos merujuk kepada lingkungan sosial rumah tangga yang di dalamnya bekerja atas logika tuan-budak. Manusia di oikos, bergerak atas kesadaran dan perilaku kepentingan pribadi atau keluarga. Sehingga di dalamnya, rumah tangga menjadi medan subordinasi dan eksploitatif terjadi.

Polis, tatanan yang mengharuskan adanya ikatan kerja sama antara sesama warga akhirnya adalah tatanan yang ideal. Asumsi ini didasarkan hanya di Polislah kepentingan bersama diperjuangkan. Di dalam polis, semua orang setara. Di polislah ikatanikatan privat seperti dalam rumah tangga ditanggalkan. Akibatnya, hanya di polis, politik itu dimungkinkan.

Dengan sendirinya, politik artinya ruang publik. Politik berarti terlibat di antara keseragaman. Soal ini, Hajir sebelumnya membagi tiga istilah kunci: kerja (labour), karya (work), dan tindakan (action). Kerja dan karya, di pemikiran Arendt, disebut bukan aktivitas politik. Sebabnya dua hal itu hanya suatu usaha soliter. Kerja maupun karya, hanya menyiratkan suatu sikap menyendiri mirip filsuf. Arendt, menampik sikap moralis dari kerja dan karya yang berdimensi individual. Bagi perempuan kekasih Heidegger ini, politik berarti tindakan.

Tindakan adalah sikap di ruang publik. Lain urusannya kerja dan karya yang ditemui di "ruang privat". Hanya "tindakanlah" perilaku manusia yang disebut politik. Ruang publik, tempattempat umum yang sering kita temui, yang difasilitasi negara, adalah tempat tindakan berlangsung.

Kalau bisa diringkas, politik berarti perilaku manusia menghadapi ruang sosial yang jamak. Perilaku, dalam cakrawala berpikir Arendt adalah tindakan yang mengandaikan kehadiran "yang lain", suatu sikap terbuka yang bebas dari penjarapenjara totalitarianisme dan tiaranis. Politik, sebut Arendt, adalah kebebasan itu sendiri.

***

Magrib datang dengan mendung yang masih bergerak lelet. Udara berubah dingin bersamaan tiangtiang lampu jalan menyala terang, kekuningan. Lenggang jalan berubah ramai. Kudakuda besi membelah puluhan sesak mobil. Suarasuara klakson memekik satu dua kali. Sekali menyapu udara, suara azan mendayudayu. Orangorang, hirau tak hirau, tak urus surau masjid penuh. Dan, kenyataannya memang begitu. Mesjid mungkin terisi setengah, dan negara, atau apalah namanya, punya banya soal.

Barangkali, di situlah medan pikiran Hannah Arendt seharusnya dibentang. Negara, institusi yang banyak masalah itu harus diteropong dengan mata kecut seorang Arendt. Dari mata perempuan pemikir politik abada 20 ini, kita bisa tahu, negara memang banyak soal.

Belakangan, atau juga separuh umur bangsa ini penuh dengan sejarah penyingkiran. Kiwari, itu banyak terjadi. Politik malah diselenggarakan sebagai "institusi privat". Akibatnya, negara menjadi wadah diskriminatif. Selain kasuskasus kebebasan beragama, penyingkiran kaum papa akibat perampasan tanah, barubaru ini pelarangan berupa festival dan pemutaran film menyeruak di lini masa dunia maya. Tanpa melupakan kasuskasus yang tidak disebutkan, negara dalam hal ini persis seperti yang dibilang Arendt; tiranis dan totaliter.

Horison pemikiran politik yang diajukan Arendt setidaknya suatu alternatif buat bangsa yang banyak "membunuh" aktivisme warganya yang membutuhkan ruang untuk bertindak. Indonesia masa kini adalah negara dengan penyelenggaraan politik yang masih bergerak atas sentimensentimen agama atau kepentingan ekonomi. Di situ, selama politik diartikan sebagai laku saling jegal dan penyingkiran kelompok, maka Indonesia dengan sendirinya mematikan "denyut" perkembangannya sendiri.

Saya kira, di suasana itulah pemikiran politik Hannah Arendt menemukan konteksnya. Di saat itulah kita butuh yang otentik, suatu politik yang lebih manusiawi.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...